Jurnal Kesehatan Komunitas
Not a member yet
548 research outputs found
Sort by
Hubungan Pengetahuan Ibu, Lingkungan dan Status Gizi dengan Kejadian ISPA pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Rawat Inap Sidomulyo Pekanbaru ahun 2021
Acute respiratory infections are infections that are possible to relate with upper respiratory dan lower respiratory infections that can cause various diseases from mild to severe infections. This study aimed to know the association between a mother’s knowledge, ventilation, occupancy density, smoke, and nutritional status with an acute respiratory infection. This study was quantitative research with a cross-sectional study. Data collected in Sidomulyo Inpatient’s Public Health Centre working area from Juli-September 2021. Populations were a mother who has a toddler. Samples were collected as proportional simple random sampling for 163 respondents using a questionnaire. Statistic analysis used the chi-square test to know the association between knowledge, ventilation, occupancy density, smoke, and nutritional status with an acute respiratory infection. The results showed that mother’s knowledge, ventilation, occupancy density, smoke, and nutritional status (p-value = 0,022; 0,024; 0,029; 0,027; and 0,029) with acute respiratory infection in Sidomulyo Inpatient’s Public Health Centre. The Suggestion is to educate people for improving the health of the community.
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah infeksi yang melibatkan organ saluran pernapasan bagian atas dan bagian bawah yang dapat menyebabkan berbagai macam penyakit dari infeksi ringan sampai berat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan, ventilasi, kepadatan hunian, asap rokok dan status gizi dengan kejadian infeksi saluran pernapasan akut. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Lokasi penelitian ini dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Rawat inap Sidomulyo pada bulam Juli-September 2020 dengan jumlah sampel sebanyak 163 responden secara Proportional simple random sampling. Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Analisis penelitian ini adalah univariat dan bivariat. Hasil peneltian dengan p-value < α = 0,05 menunjukkan bahwa adanya hubungan dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dengan pengetahuan (p-value = 0,022, OR = 0,464), ventilasi (p-value = 0,024, OR = 0,461), kepadatan hunian (p-value = 0,029, OR = 0,480), asap rokok (p-value = 0,027, OR = 2,114), status gizi (p-value = 0,028, OR = 2,167). Maka dapat disimpulkan bahwa pengetahuan ibu kurang baik berpeluang 0,4 kali balitanya mengalami ISPA, ventilasi tidak memenuhi syarat berpeluang 0,4 kali balitanya mengalami ISPA, kepadatan hunian tidak memenuhi syarat berpeluang 0,4 kali balitanya mengalami ISPA, balita yang terpapar asap rokok berpeluang 2,1 kali mengalami ISPA, balita gizi kurang berpeluang 2,1 kali mengalami ISPA. Untuk itu perlu diberikan edukasi kepada masyarakat bertujuan untuk meningkatkan derajar kesehatan masyarakat
Penggunaan Gadget dan Keluhan Kelelahan Mata Pada Mahasiswa di Masa Pandemi COVID-19
The increasing intensity of gadget use in online learning during the COVID-19 pandemic impacts increasing eye fatigue complaints in students. This study analyzes the relationship between gadget use and eye fatigue complaints in college students during the COVID-19 pandemic. This study is a quantitative study using a cross-sectional design involving a sample of 171 students of the Public Health Study Program of the University of Prima Indonesia. The sampling technique used purposive sampling with inclusion criteria, namely, students in semester 2 to semester 8. The data were analyzed using the Chi-Square test and multiple logistic regression tests. The results of statistical tests using the Chi-Square test showed that a history of eye disease (0.000), the type of gadget used (0.000), the position of using the gadget (0.020), the distance of using the gadget (0.000), and the duration of using the gadget (0.000) were associated with complaints of fatigue. eye. Age (0.325) and gender (0.973) had no significant effect. This study concludes that a history of eye disease, more than 1 type of gadget use, long-term use of gadgets, poor body position, and too close a distance are triggers for eye fatigue complaints. The most dominant factor in this study was the use of more than 1 type of gadget (p= 0.001; PR= 0.098, 95%CI = 0.025 – 0.381). To reduce the negative effects of using gadgets for a long time, students are expected to rest regularly and adjust the position and distance of the gadget screen.Meningkatnya intensitas penggunaan gadget pada pembelajaran online selama pandemi COVID-19 berdampak pada peningkatan keluhan kelelahan mata pada mahasiswa. Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan penggunaan gadget dengan keluhan kelelahan mata pada mahasiswa selama pandemi COVID-19. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain cross-sectional yang melibatkan sampel sebanyak 171 mahasiswa Program Studi S-1 Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan kriteria inklusi yaitu mahasiswa semester 2 sampai semester 8. Data dianalisis dengan menggunakan uji Chi-Square dan uji regresi logistik berganda. Hasil uji statistik dengan mengunakan uji Chi-Square menunjukkan posisi penggunaan gadget (0,020), jarak penggunaan gadget (0,000), dan lama penggunaan gadget (0,000) berhubungan dengan keluhan kelelahan mata. Dapat disimpulkan penggunaan gadget dalam jangka waktu yang lama, posisi tubuh yang kurang baik, dan jarak yang terlalu dekat menjadi pemicu keluhan kelelahan mata. Lama penggunaan gadget menjadi faktor risiko paling dominan dengan prediksi risiko berupa penggunaan gadget lebih dari 2 jam akan beresiko 11 kali mengalami keluhan kelelahan mata. Untuk mengurangi efek negatif dari penggunaan gadget dalam jangka waktu yang lama diharapkan mahasiswa beristirahat secara teratur dan mengatur posisi dan jarak layar gadget
Ketersediaan Pangan Dan Gizi Merupakan Faktor Pemungkin Lingkungan terhadap Penurunan Stunting di Kawasan Asia Terpilih: Analisis Data Neraca Bahan Makanan Badan Pangan Dunia (FAO Food Balance Sheets)
Introduction, stunting interventions have not touched the basic determinant, namely the food system, which starts from the formation of food availability patterns at the national level. This study aims to find patterns of food availability and macronutrients that determine the prevalence of stunting in 23 Asian countries in 3 regions.
Methods, Ecological study research design using secondary data from the Food Balances Sheet from the FAO Food Agency downloaded via the internet.
Results, Availability of energy, protein, and fat in Southeast Asia and South Asia is lower than West Asia which has a stunting prevalence of <15%. The lower the availability of macronutrients, the higher the prevalence of stunting.
In conclusion, the availability of food and macronutrients that are close to the proportion of healthy consumption patterns is an environmental enabler for stunting reduction.Pendahuluan, Intervensi stunting belum menyentuh determinan mendasar yaitu sistem pangan yang dimulai dari pembentukan pola ketersediaan pangan pada tingkat nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mencari pola ketersediaan pangan dan gizi makro yang menentukan prevalensi stunting di 23 negara Asia dalam 3 kawasan.
Metode, Desain penelitian studi ekologi dengan menggunakan data sekunder dari Food Balances Sheet dari Badan Pangan FAO yang diunduh melalui internet.
Hasil, Ketersediaan energi, protein, dan lemak di Asia Tenggara dan Asia Selatan lebih rendah dibandingkan Asia Barat yang mempunyai prevalensi stunting <15%. Semakin rendah ketersediaan gizi makro semakin tinggi prevalensi stunting.
Kesimpulan, Ketersediaan pangan dan gizi makro yang mendekati proporsi pola konsumsi sehat merupakan pemungkin lingkungan bagi penurunan stunting.
Hubungan Faktor Manusia dan Lingkungan Rumah Terhadap Kejadian Tuberkulosis di Wilayah Kerja Puskesmas Rejosari Kota Pekanbaru
Background: Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by tuberculosis mycobacterium. Rejosari health center found the highest TB frequency among all health centers in Pekanbaru municipality. The research objective was to find the relationship between Human Factors and the Home Environment on the Occurrence of Tuberculosis in the Working Area of Rejosari Health Center, Pekanbaru municipality. Method: The design type is a case-control study. The case and control population were taken from January 2018 to June 2020. The case sample (223) was taken from its population (255) and the control sample (223) was taken from its population (566) by systematic random sampling. Data collection through structured interviews using a questionnaire containing the closed-ended question, and using univariate, bivariate, and multiple logistic regression analysis. Results: there are 8 independent variables related starting from the most dominant, namely age OR=2.8 (95% CI: 1.58-5.00), BCG immunization OR=2.2 (95% CI:1.35-3.63), space humidity OR = 2.2 (95% CI: 1,42-3,31), ventilation area OR = 1.7 (95% CI: 1,12-2,64), gender OR = 1.7 (95% CI: 1,12-2,64), asset ownership OR = 2.9 (95% CI: 1.45-6.03), history of household contacts OR = 2.7 (95% CI: 1.73-4.22) and occupancy density OR = 2 (95% CI: 1.31-3.10). The OR value on the interaction variable (sex with age) indicates that productive-age men are 4.32 times riskier in suffering TB than productive-age women. Recommendation: TB prevention should be conducted through intervention by increasing BCG vaccination coverage, fulfilling space humidity, ventilation area, and occupancy density, and isolating household contact, especially for productive age, men, and low logistic ownership families. Suggestions are formulated based on recommendations.Latar Belakang: Tuberculosis (TB) adalah penyakit menular disebabkan kuman mycobacterium tuberculosis. Puskesmas Rejosari menemukan kasus TB tertinggi diantara semua Puskesmas di Kota Pekanbaru. Tujuan penelitian: Diketahuinya Hubungan Faktor Manusia dan Lingkungan Rumah Terhadap Kejadian Tuberkulosis di Wilayah Kerja Puskesmas Rejosari Kota Pekanbaru Tahun 2020. Metode: Jenis desain penelitian ialah studi kasus kontrol. Populasi kasus dan kontrol diambil dari bulan Januari 2018 sampai bulan Juni tahun 2020. Sampel kasus (223) diambil dari populasi kasus (255), dan sampel kontrol (223) diambil dari populasi kontrol (566) dengan systematic random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terstruktur menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan tertutup. Dilakukan analisa univariat, bivariat dan multiple logistic regression analysis. Hasil Penelitian: terdapat 8 variabel indepeden yang berhubungan sebab akibat dengan kejadian tuerkulosis yaitu dimulai dari yang paling dominan ialah variabel umur dengan OR=2,8(CI 95%:OR=1,58-5,00), Imunisasi BCG OR=2,2(CI 95%:OR=1,35-3,62), kelembaban ruangan OR=2,2(CI 95%:1,42-3,31), luas ventilasi OR=1,7(CI 95%:OR=1,12-2,64), jenis kelamin OR=1,7(CI 95%: OR=1,12-2,64), kepemilikan aset OR=2,9(CI 95%: 1,45-6,03), riwayat kontak serumah OR=2,7(CI 95%: 1,73-4,22) dan kepadatan hunian OR=2,00(CI 95%:1,31-3,10). Nilai OR pada variabel yang berinteraksi (jenis kelamin dengan umur) usia produktif pria lebih beresiko 4,32 kali terkena TB dibandingkan perempuan. Rekomendasi: Untuk mencegah TB perlu dilakukan intervensi dengan meningkatkan cakupan vaksinasi BCG, memenuhi persyaratan untuk kelembaban ruangan, luas ventilasi, dan kepadatan hunian, serta mengisolasi kontak TB serumah, terutama untuk mereka dengan usia produktif, laki-laki, dan keluarga dengan aset keluarga yang rendah. Saran-saran dirumuskan atas dasar rekomendasi
Determinan Pencapaian Indikator Kapitasi Berbasis Kinerja pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama: Tinjauan Sistematik
The implementation of Capitation Based Performance payments has been carried out since 2016 but until now there are still many First Level Healthcare that have not been able to reach all the performance indicators. This study aims to analyze the determinants of the achievement of the Contact Number indicator, the Non-Specialized Case Referral Ratio, and the Controlled Prolanis Participant Ratio so that it is expected to know the effectiveness of the KBK implementation policy. This study uses a systematic review method using the PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta Analysis) guidelines. Literature searches were carried out using search engines: Research Gate, DOAJ, Google Scholar, and ScienceDirect so as to obtain 15 articles that were eligible for review. Overall, the main factors that influence the achievement of KBK are the availability of human resources, infrastructure, also knowledge of JKN participants. However, other factors such as the availability of funds, the existence of supporting policies and information systems and a commitment to fulfill the KBK indicators also affect the achievement of the KBK. In this case, the FKTP must carry out a workload analysis to count the number of human resources, fulfill infrastructure and routinely provide education to Prolanis participants.Implementasi pembayaran Kapitasi Berbasis Kinerja telah dilaksanakan sejak tahun 2016 namun hingga saat ini masih banyak ditemukan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama yang belum dapat memenuhi seluruh indikator kinerja yang ditetapkan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis terkait determinan pencapaian indikator Angka Kontak, Rasio Rujukan Kasus Non Spesialistik, dan Rasio Peserta Prolanis Terkendali sehingga diharapkan dapat mengetahui efektifitas dari kebijakan implementasi KBK. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan sistematis dengan menggunakan pedoman PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta Analysis). Pencarian literature dilakukan dengan menggunakan search engine: Research Gate, DOAJ, Google Scholar, dan ScienceDirect sehingga didapatkan 15 artikel yang memenuhi syarat untuk direview. Secara keseluruhan, faktor utama yang mempengaruhi pencapaian KBK adalah ketersediaan SDM, sarana prasarana serta tingkat pengetahuan peserta JKN. Meskipun demikian, faktor lain seperti ketersediaan dana, adanya kebijakan dan sistem informasi yang mendukung serta komitmen untuk memenuhi indiktor KBK juga mempengaruhi pencapaian KBK. Dalam hal ini, FKTP harus melakukan analisis beban kerja untuk mencukupi jumlah SDM, pemenuhan sarana prasarana dan rutin memberikan edukasi kepada peserta Prolanis
Studi Tingkat Pengetahuan Diabetes Antara Penderita Diabetes dan Non-Diabetes di Puskesmas Brondong, Lamongan
Diabetes mellitus is a disease with hyperglycemia in the body. Various complications arising from diabetes mellitus can interfere with the quality of life of sufferers. Knowledge about diabetes is very necessary for diabetics. It is hoped that this will raise awareness for diabetics to adopt a healthy lifestyle so diabetics can carry out therapy properly to prevent and reduce the impact of complications caused by diabetes mellitus. This study aims to see the level of knowledge about diabetes among diabetics at Puskesmas Brondong, Lamongan. The research method used a case-control study which was divided into the diabetic group and the non-diabetic group. The sample size in each group was 50 people and was carried out by purposive sampling. The results showed that there was a significant difference in the knowledge level of diabetes between the second group (p = 0.000) and had a strong association (r = 0.578). This study concluded that the diabetic group has a knowledge level of diabetes better than the non-diabetic group at Puskesmas Brondong, Lamongan.
Diabetes melitus merupakan penyakit dengan kondisi hiperglikemia dalam tubuh. Berbagai komplikasi yang ditimbulkan dari diabetes melitus dapat mengganggu kualitas hidup penderita. Pengetahuan mengenai penyakit diabetes sangat diperlukan bagi penderita diabetes. Hal ini diharapkan akan menimbulkan kesadaran bagi penderita diabetes untuk menerapkan pola hidup sehat dan menjalani terapi pengobatan secara teratur, sehingga dapat mencegah dan mengurangi dampak komplikasi yang ditimbulkan oleh diabetes melitus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan diabetes pada pederita diabetes di Puskesmas Brondong, Lamongan. Pada penelitian menggunakan studi case control yang membagi menjadi kelompok diabetes dan kelompok non diabetes. Besar sampel pada setiap kelompok adalah 50 orang dan dilakukan dengan cara purposive sampling. Data yang telah terkumpul akan dilakukan uji korelasi spearman umtuk mengetahui hubungan kedua variabel. Hasil penelitian memperlihatkan adanya perbedaan yang signifikan pada tingkat pengetahuan diabetes antara kedua kelompok (p=0,000) serta memiliki hubungan yang kuat (r=0,578). Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kelompok diabetes memiliki tingkat pengetahuan yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok non diabetes di Puskesmas Brondong, Lamongan. Sehingga diharapkan pemberian penyuluhan dapat dilakukan dalam meningkatkan kesadaran terhadap diabetes di masyarakat
Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Diare pada Balita di Wilayah Indonesia Tengah (IFLS 2014)
Diarrhea is the second leading cause of death in children under five in the world. Every year at least 1.7 million cases of diarrhea in children occur. This study was conducted to determine the factors associated with the incidence of diarrhea in toddlers in the Central Indonesia region. This study uses data from IFLS 5 in 2014. The sample of this study was toddlers aged 6-59 months in the provinces of Bali, West Nusa Tenggara, South Kalimantan, and South Sulawesi. The research design used was cross-sectional with a sample size of 1079 toddlers. It is known that 16.8% of children under five in Central Indonesia experience diarrhea, with the largest percentage being 17.75% in West Nusa Tenggara. Based on the results of the multivariate test, it was found that age (p-value: <0.001), gender (p-value: <0.003), and household waste management (p-value: <0.017) were associated with diarrhea. Age is the dominant factor in the incidence of diarrhea in toddlers in Central Indonesia (OR: 2.421, 95% CI = 1.739-3.370), meaning that children aged 6-23 months have a 2.4 times risk of suffering from diarrhea. This is due to the reduced immunity of the child obtained from the mother, increased growth and development of the child, and the start of weaning at that age. Strengthening understanding and commitment to implementing PIS-PK is needed to provide health information related to the prevention and treatment of diarrhea conveyed by an approach to families of children under five, thereby raising health awareness starting from the family.Diare merupakan penyebab kematian kedua tertinggi pada balita di dunia. Setiap tahunnya setidaknya 1,7 juta kasus diare pada anak terjadi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di wilayah Indonesia Tengah. Penelitian ini menggunakan data Indonesia Family Life Survey (IFLS) 5 tahun 2014. Sampel penelitian ini adalah balita usia 6-59 bulan di Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan jumlah sample 1079 balita. Diketahui sebanyak 16,8% balita di wilayah Indonesia Tengah mengalami diare, dengan persentase terbesar 17,75% di Nusa Tenggara Barat. Berdasarkan hasil uji multivariat didapatkan variabel usia (p-value <0,001), jenis kelamin (p-value <0,003), dan penanganan sampah rumah tangga (p-value <0,017) berhubungan dengan diare. Usia merupakan faktor dominan kejadian diare pada balita 6-59 bulan di wilayah Indonesia Tengah (OR: 2,421, CI 95%= 1,739-3,370), artinya balita usia 6-23 bulan beriko 2,4 kali menderita diare. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya kekebalan tubuh anak yang didapat dari ibu, masa tumbuh kembang anak yang pesat dan dimulainya penyapihan pada usia tersebut. Penguatan pemahaman dan komitmen pengimplementasian Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) diperlukan untuk memberikan informasi kesehatan terkait pencegahan dan pengobatan diare tersampaikan dengan pendekatan kepada keluarga balita, sehingga memunculkan kesadaran kesehatan mulai dari lingkungan keluarga.
Dampak Pemenuhan Cakupan Imunisasi di Masa Pandemi Covid-19
Introduction: Indonesia reported the first case of COVID-19, the coverage of routine immunization to prevent diseases in children such as measles, rubella, and diphtheria is decreasing. For example, diphtheria, pertussis and tetanus (DPT3) and measles and rubella (MR1) immunization coverage rates were reduced by more than 35% in May 2020 compared to the same time period in the previous year. Objective: To analyze the fulfillment of immunization coverage during the Covid-19 pandemic. Method: The method used is a systematic review taken from various sources from several online databases at the University of Indonesia library, including Pro quest, Science Direct, Scopus, and Emerald Insight, literature searches using keywords by determining inclusion and exclusion criteria. Results: From the online database search results obtained, 10 journals were taken for analysis, the results of information about the impact of immunization coverage on children during the COVID-19 pandemic, and conducted an analysis of the published literature so that the impact of decreasing immunization coverage during the COVID-19 pandemic occurred thoroughly in various countries. This is due to national-scale restrictions in each affected country. Conclusion: Based on a systematic review of articles containing information about the impact of immunization coverage on children during the COVID-19 pandemic, and synthesizing the published literature so that the impact of decreasing immunization coverage during the COVID-19 pandemic occurred in various countries.Pendahuluan: Indonesia melaporkan kasus COVID-19 pertama kalinya, cakupan imunisasi rutin untuk mencegah penyakit-penyakit pada anak-anak seperti campak, rubella, dan difteri semakin menurun. Misalnya, angka cakupan imunisasi difteri, pertussis dan tetanus (DPT3) dan campak dan rubella (MR1) berkurang lebih dari 35% pada bulan Mei 2020 dibandingkan periode waktu yang sama pada tahun sebelumnya. Tujuan : Untuk menganalisis pemenuhan cakupan imunisasi dimasa pandemi Covid-19 Metode : Menggunakan telaah jurnal dari online database : Proquest, ScienceDirect, Scopus, dan Emerald Insight dengan kata kunci Immunization, Impact Covid-19 . Hasil : Dari hasil pencarian online yang didapatkan maka diambil 10 jurnal untuk ditelaah, hasil dari informasi tentang dampak cakupan imunisasi pada anak di masa pandemi COVID-19, dan melakukan sintesis dari literatur yang diterbitkan sehingga didapatkan dampak penurunan cakupan imunisasi dimasa pandemi COVID-19 terjadi menyeluruh di berbagai negara. Hal ini terjadi diakibatkan adanya pembatasan berskala nasional di tiap negara yang terdampak. Kesimpulan : Berdasarkan tinjauan sistematis dari artikel yang berisi informasi tentang dampak cakupan imunisasi pada anak di masa pandemi COVID-19, dan melakukan sintesis dari literatur yang diterbitkan sehingga didapatkan dampak penurunan cakupan imunisasi dimasa pandemi COVID-19 terjadi menyeluruh di berbagai negara
Jumlah Bakteri pada Udara Ruang Tunggu Puskemas
Air quality in the public health center waiting room as one of the facilities of public places is influenced by several factors including; room condition, humidity, temperature, lighting, and microbiological content. Nosocomial infectious diseases are often sourced from health facilities where healthy people can become sick and sick people can gain additional burden from the spread of pathogenic microbes in the air. The purpose of this study is to find out the amount of airborne bacteria in the waiting room of puskesmas in Mamuju subdistrict. This study is an observational study with a descriptive approach through measurement and laboratory examination. The air bacteriological sampling method uses the volumetric air sampling method. The tool used in the capture of airborne bacteria in this study was Microbio MB2. The tool used to measure temperature and humidity is Humidity Alert II Extech 445815 and the tool for measuring lighting is Digital Light Meter TASI-8720 Sampling is done in the morning for 3 (three) days in a row. The results of the study: The average temperature in the waiting room of the public health center of Binanga is 29.80C, while the public health center of Bambu is 28.90C. The average humidity in the waiting room of the public health center of Bambu is 70.3% while the public health center of Binanga 65%.. The average lighting in the waiting eoom of public health center of Binanga is 215.9 lux and the public health center of Bambu is 139.5 lux. The total number of germs in the waiting room of the public health center of Bambu is on average 258 CFU / m3 while the public health center of Binanga is 513 CFU / m3. Conclusion: the number of bacteria in the waiting room of public health center of Binanga is more than Bambu. Suggestion: health workers and the community to use personal protective equipment (masks) if they are around the public health center
Kualitas udara pada ruang tunggu puskesmas sebagai salah satu fasilitas tempat umum dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah; kondisi ruangan, kelembaban, suhu, pencahayaan, dan kandungan mikrobiologi. Penyakit infeksi nosokomial sering bersumber dari fasilitas kesehatan dimana orang sehat bisa menjadi sakit dan orang sakit bisa mendapatkan tambahan beban dari penyebaran mikroba yang bersifat pathogen di udara. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jumlah bakteri udara pada ruang tunggu Puskesmas di Kecamatan Mamuju. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan deskriptif yang melalui pengukuran dan pemeriksaan laboratorium. Metode Pengambilan Sampel bakteriologis udara menggunakan metode volumetric air sampling. Alat yang digunakan dalam penangkapan bakteri di udara pada penelitian ini adalah Microbio MB2. Alat yang digunakan untuk mengukur suhu dan kelembaban adalah Humidity Alert II Extech 445815 dan alat untuk mengukur pencahayaan adalah Digital Light Meter TASI-8720 Pengambilan sampel dilakukan pada pagi hari selama 3 (tiga) hari berturut-turut. Hasil penelitian: Rata-rata suhu pada ruang tunggu Puskesmas Binanga 29,80C, sedangkan Puskesmas Bambu 28,90C. Rata-rata kelembaban pada ruang tunggu Puskesmas Bambu 70,3% sedangkan Puskesmas Binanga 65%. Rata-rata pencahayaan di ruang Puskesmas Binanga sebesar 215,9 lux dan Puskesmas Bambu sebesar 139,5 lux. Angka Kuman Total udara pada ruang tunggu Puskesmas Bambu Kecamatan Mamuju rata-ratanya adalah 258 CFU/m3 sedangkan Puskesmas Binanga adalah 513 CFU/m3. Kesimpulan: jumlah bakteri pada Puskesmas Binanga lebih banyak dari Puskesmas Bambu
Pencegahan Keluarga Pasien Kanker Terhadap Paparan Obat Kemoterapi
Cytotoxic drugs not only affected cancer patients receiving chemotherapy but also family members who come into close contact with the patient either during treatment or after the patient is at home. The aim of this study was to identify prevention taken by the patient's family to avoid exposure to chemotherapy drugs after the patient arrived home. This study was descriptive with a sample of 84 families of cancer patients undergoing chemotherapy, who were taken by consecutive sampling technique. Data collection using a questionnaire and processing was carried out univariately using a frequency distribution. The results showed that 58.3% of patients did not live in one house with children, pregnant women, and the elderly; 39.3% of families used different toilets from patients; 85.7% of families flushed the toilet using toilet cleaning fluid after being used by the patient; 78.6% of families replaced mattress pads at least once in 3 days, 70.2% of families used disposable gloves to handle contaminated clothing by patient excretions and 84.5% of families provide a special vomitus place. It is hoped that the nurses will educate patients and their families on how to prevent exposure to chemotherapy drugs at home.Obat sitotoksik tidak hanya berpengaruh terhadap pasien kanker yang menerima kemoterapi, namun juga terhadap anggota keluarga yang melakukan kontak erat dengan pasien baik selama perawatan ataupun setelah pasien di rumah. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi tindakan pencegahan yang dilakukan keluarga pasien untuk menghindari paparan terhadap obat kemoterapi setelah pasien sampai di rumah. Penelitian deskriptif dilakukan dengan sampel 84 orang keluarga pasien yang menjalani kemoterapi yang diambil dengan teknik consecutive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan diolah menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian ditemukan 58,3% pasien tidak tinggal serumah dan atau menghindari kontak dengan anak-anak, ibu hamil dan lansia; 39,3% keluarga menggunakan toilet yang berbeda dengan pasien; 85,7% keluarga menyiram toilet menggunakan cairan pembersih toilet setelah digunakan pasien; 78,6% keluarga melakukan penggantian alas kasur minimal sekali 3 hari; 70,2% keluarga menggunakan sarung tangan sekali pakai saat mencuci pakaian pasien dan sebanyak 84,5% keluarga menyediakan tempat muntahan khusus. Diharapkan perawat mengedukasi pasien dan keluarganya mengenai pencegahan pajanan terhadap obat kemoterapi di rumah