Jurnal Kesehatan Komunitas
Not a member yet
    548 research outputs found

    Analisis Strategi Penanganan Stunting di Desa Bangun Sari Kabupaten Kampar Provinsi Riau

    Get PDF
    Stunting is a condition of a child's growth disorder, namely the child's height is shorter (dwarf) than the standard age, which is <-2 SD. Kampar Regency is one of the highest-ranked stunting rates in Riau Province in 2018 which is 31.99% and increased in 2019 to 32.05%. The purpose of this study was to analyze the stunting management strategy in Bangun Sari Village, Kampar Regency, Riau Province. The study used qualitative methods through in-depth interviews, observation, and document review with 8 research informants. The results obtained are that there is still a lack of allocation of village funds budgeted by village officials. The health promotion provided has not been well received by the community. The inter-sectoral support that has been established has been running quite well. Food security has been provided and distributed, but in reality, the food aid is not consumed well by the community due to poor parenting by parents. Monitoring and evaluation have been carried out quite well. The conclusion of this study is that the commitment, vision, mission, health promotion, cross-sectoral support, food security, and monitoring of stunting have been sufficient and distributed by the UPTD of the Kampar Kiri Hilir Health Center.Stunting merupakan suatu keadaan gangguan pertumbuhan anak, yakni tinggi badan anak lebih pendek (kerdil) dari standar usianya yaitu <-2 SD. Kabupaten Kampar merupakan salah satu peringkat tertinggi angka stunting di Provinsi Riau tahun 2018 yaitu 31,99% dan meningkat tahun 2019 yaitu 32,05%. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis strategi penanganan stunting di Desa Bangun Sari Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Penelitian menggunakan metode kualitatif melalui wawancara mendalam, observasi dan telaah dokumen dengan informan penelitian 8 orang. Hasil yang diperoleh adalah masih kurangnya alokasi dana desa yang dianggarkan oleh perangkat desa. Promosi kesehatan yang diberikan belum diterima dengan baik oleh masyarakat. Dukungan lintas sektoral yang terjalin sudah berjalan cukup baik. Ketahanan pangan sudah diberikan dan disalurkan, namun kenyataannya bantuan pangan tersebut tidak dikonsumsi baik oleh masyarakat karena pola asuh yang tidak baik oleh orang tua. Pemantauan dan evaluasi sudah dilakukan cukup baik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah komitmen, visi, misi, promosi kesehatan, dukungan lintas sektoral, ketahanan pangan dan pemantauan terhadap stunting sudah cukup dilakukan dan disalurkan oleh UPTD Puskesmas Kampar Kiri Hilir

    Efek Cycling Pada Endothelial Progenitor Cell (EPC) Terhadap Risiko Cardiovascular Desease Pada Lanjut Usia : Systematic Review

    Get PDF
    This systematic review aims to review published articles on the effects of physical activity (PA) cycling on biomarkers of endothelial cell function on the risk of cardiovascular disease. Studies involving angiogenic factors were searched in the Medline and Cochrane libraries. Native human studies over 2 weeks of PA intervention were included. Study quality was assessed according to the GRADE evidence system. Results: five complete articles according to the inclusion criteria. Cycling increases angiogenic, endothelial progenitor cells (EPC) and decreased VEGF. The effect of PA on this factor appears to depend on the type and duration of exercise intervention and patient factors, such as the presence of ischemia. As presented in this review, there is strong evidence that cycling physical activity positively affects endothelial cell function and determines the risk of carciovascular disease.Peroses Penuaan menyebabkan penurunan fungsi endotel pada vascular sehingga menimbulkan  resiko penyakit cardiovasculer. Aktifitas fisik telah terbukti dapat meningkatkan fungsi endotel. Tinjauan sistematis ini bertujuan untuk mereview artikel yang diterbitkan tentang efek aktivitas fisik (PA) cycling  terhadap biomarker fungsi sel endotel pada resiko penyakit kardiovaskuler. Studi yang melibatkan   faktor angiogenik dicari di perpustakaan Medline dan Cochrane. Studi manusia asli lebih dari 2 minggu intervensi PA disertakan. Kualitas studi dinilai menurut sistem bukti GRADE. Hasil lima artikel lengkap sesuai kriteria inklusi. Cycling  meningkatkan angiogenik, sel progenitor endotel (EPC) dan VEGF menurun. Pengaruh PA pada faktor ini tampaknya bergantung pada jenis dan durasi intervensi latihan dan faktor pasien, seperti adanya iskemia. Seperti yang disajikan dalam ulasan ini, terdapat bukti yang kuat bahwa aktivitas fisik cycling secara positif memengaruhi fungsi sel endotel dan menentukan resiko sakit karciovaskule

    Analisis Penggunaan Antibiotik pada Pasien Covid -19 Di Ruang Isolasi Rumah Sakit X Tipe D Kabupaten Malang

    Get PDF
    COVID-19 cases by the end of 2019 have raised the number of respiratory tract infections; in addition, coinfection during COVID-19 pandemic is associated with disease severity, consequently,causes the number of deaths to surge. The use of antibiotics during the pandemic has evidently improved in a significant way, similar to the increased number of broad-spectrum prescriptions. This phenomenon potentially elevates the number of Antimicrobial Resistance (AMR); therefore, it is necessary to fortify supervision over the use of antibiotics during COVID-19 pandemic. Referring to this, the objective of the study is to evaluate the use of antibiotic during COVID-19 pandemic. This is an observational study conducted on adult subjects with confirmed COVID-19, with moderate to severe level of disease, whose data was collected retrospectively during the period of April 2020 – March 2021. The result confirmed 146 patients were treated as sample of the study, most of whomwere male (53.4%),and female was 46.6%.  The highest age group was 56 – 65 years old by 28.8%. The increase in leukocyte level > 1.000 was 31.5%. 8 (eight) types of antibiotics were used in high frequency, such as, injection levofloxacin antibiotics (50%),while frequently used combination antibioticswere ceftriaxone and levofloxacin (5.5%). Based on quantitative analysis, the total value was 60,54 DDD/100 patient-days, and the value of antibiotic with the highest DDD was levofloxacin 26.51 DDD/100 patient-days. Additionally, the result of analysis on the quality of antibiotics using Gyssens flowchart suggested 36.3% of the given antibiotic were considered as rational (category 0) and 46.6% of the given antibiotics had no indication of usage (category V). Prospective research is needed regarding the use of antibiotics.Kasus COVID-19 diakhir tahun 2019 telah menyebakan kejadian infeksi saluran pernafasan n meningkat serta kejadian koinfeksi pada masa pandemik COVID-19 dikaitkan dengan keparahan penyakit serta meningkatkan jumlah kematian. Penggunaan antibiotik semasa pandemi terbukti secara signifikan mengalami peningkatan serta peresepan antibiotik spektrum luas mengalami peningkatan. Fenomena ini dapat menyebabkan peningkatan kejadian Antimikroba Resisten (AMR) sehingga pengawasan penggunaan antibiotik perlu diperkuat selama pandemi COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik dimasa pandemik COVID-19. Penelitian ini merupakan penelitian observasional pada subyek dewasa yang terkonfirmasi COVID-19 derajat penyakit sedang hingga berat dengan pengambilan data penelitian secara retrospektif selama periode April 2020 – Maret 2021. Hasil menunjukkan terdapat sampel penelitian sebanyak 146 pasien yang terbanyak laki-laki sebesar 53,4% dan jenis kelamin perempuan 46,6%. Rentang usia tertinggi pada usia 56 – 65 tahun sebesar 28,8%. Peningkatan kadar leukosit > 10000 sebanyak 31,5%. Terdapat 8 jenis antibotik yang digunakan frekuesi tinggi adalah antibiotik levofloxacin injeksi ( 50 % ) dan antibiotik kombinasi yang sering digunakan adalah ceftriaxone dan levofloxacin (5.5 %). Analida Kuantitatif antibiotik dengan total nilai 60,54 DDD/100 patient-day, nilai antibiotik dengan DDD tertinggi adalah levofloxacin 26,51 DDD/100 patient-day. Hasil analisis kualitas antibiotik dengan alur Gyssens menunjukan 36,3 % antibiotik yang diberikan tergolong rasional (kategori 0) dan 46,6% antibiotik yang diberikan  tidak ada indikasi penggunaan (kategori V)

    The Pengaruh Modifikasi Buah dan Sayur Terhadap Konsumsi Buah dan Sayur Pada Anak Sekolah Dasar Pangkalan Kerinci

    No full text
    Efforts to increase fruit and vegetable consumption in school-age children are carried out by providing training to parents and providing video tutorials on fruit and vegetable modification on social media (WA Group) through the intermediary of teachers. The low coverage of Clean and Healthy Lifestyle Behavior (PHBS) on fruit and vegetable consumption indicators in Pelalawan Regency and the results of the initial survey which showed the low frequency of bringing fruit and vegetable supplies to school children were the reasons behind this research. This study aims to determine the effect of the amount of fruit and vegetable consumption in elementary school children in Pangkalan Kerinci. This study uses a quasi-experimental research design with pre test-post test non-equivalent control group design. The study was conducted in July – August 2022 with a sample of 100 students (50 in the treatment group and 50 in the control group). Data analysis was carried out univariate and bivariate using the Wilcoxon test and 1 sample T-test. The results found the highest significant average of fruit and vegetable consumption after the intervention was 63.1 grams and 134.1 grams in the treatment group and 63.9 grams and 128.8 grams in the control group. The conclusion of this study shows that there is a difference between the frequency of consumption of fruits and vegetables before and after the intervention. Suggestions in this study is that it is recommended for schools to make an appeal letter related to the fruit and vegetable consumption program once a week and expected to the Health office for increasing teachers education related to fruit and vegetable consumption in primary school children.   Keywords : Fruits and Vegetabels, Elementary School, Modification.  Upaya peningkatan konsumsi buah dan sayur pada anak usia sekolah dilakukan dengan cara memberikan pelatihan terhadap orang tua dan memberikan video tutorial tentang modifikasi buah dan sayur pada media sosial (WA Group) melalui perantara para guru. Rendahnya cakupan Perilaku Hidup Bersih Dan sehat (PHBS) pada indikator konsumsi buah dan sayur di Kabupaten Pelalawan dan hasil survey awal yang menunjukkan rendahnya  frekuensi membawa bekal buah dan sayur pada anak sekolah melatar belakangi peneliti melakukan penelitian ini. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah konsumsi buah dan sayur pada anak sekolah dasar di Pangkalan Kerinci. Penelitian ini menggunakan Quasi Exprimental dengan rancangan penelitian pre test-post test non-Equivalent control Group Design. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli – Agustus 2022 dengan sampel sebanyak 100 siswa (50 pada kelompok perlakuan dan 50 pada kelompok kontrol). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Wilcoxon dan 1 sampel T-test. Hasil penelitian menemukan rata-rata signifikan tertingi dari konsumsi buah dan sayur setelah intervensi yaitu 63,1 gram dan 134,1 gram pada kelompok perlakuan dan 63,9 gram dan 128,8 gram pada kelompok kontrol. Kesimpulan pada penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan antara frekuensi konsumsi buah dan sayur sebelum dan sesudah intervensi. Saran pada penelitian ini ialah disarankan kepada sekolah untuk membuat surat himbauan terkait program konsumsi buah dan sayur dalam satu kali seminggu, serta diharapkan kepada dinas kesehatan untuk meningkatkan edukasi kepada guru terkait konsumsi buah dan sayur di sekolah pada anak sekolah dasar.   Kata Kunci : Buah dan Sayur, Sekolah Dasar, Modifikasi

    Uji Daya Terima Aneka Frozen Food Berbahan Dasar Tempe sebagai Alternative PMT Balita

    Get PDF
    Indonesia is the world's largest producer of tempeh and the largest soybean market in Asia. As much as 50% of Indonesia's soybean consumption is in the form of tempeh. The proteins found in tempeh are relatively easy to digest. Frozen food can be a solution in extending the shelf life and durability of a product and causing food to become durable and not easily decompose. The purpose of this study is to find out the receiving power of frozen food tempeh as an alternative to toddler supplements in an effort to prevent stunting. This study was an experimental study using RAL (Complete Randomized Design) with one control and 3 treatments, 30%, 50%, and 70%. Furthermore, hedonic tests are conducted on each frozen food and proximal tests on frozen foods are most preferred to find out carbohydrate levels, protein levels, fat content, water content, and ash levels. The results showed that the most preferred treatment in terms of color, aroma, taste, and texture of frozen food meatballs was with the addition of 50% tempeh (P2), while for the nugget and ball groups, the most preferred panelists were the addition of 70% tempeh (P3). Kruskall Wallis test results showed the addition of tempeh gives a noticeable influence on the level of fondness for the color, aroma, taste, and texture of tempeh meatballs, nuggets of tempeh, and tempeh balls.Indonesia merupakan negara produsen tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar kedelai terbesar di Asia, sebanyak 50% dari konsumsi kedelai Indonesia dalam bentuk tempe. Protein yang terdapat dalam tempe tergolong mudah dicerna. Frozen Food dapat menjadi solusi dalam memperpanjang umur simpan dan daya tahan suatu produk dan menyebabkan makanan menjadi awet dan tidak mudah membusuk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui daya terima frozen food tempe sebagai alternatif makanan tambahan balita dalam upaya pencegahan stunting. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental  menggunakan RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan satu kontrol dan 3 perlakuan,  30%, 50% dan 70%. Selanjutnya dilakukan uji hedonik pada masing masing frozen food dan uji proksimat pada frozen food yang paling disukai untuk mengetahui kadar karbohidrat,kadar protein, kadar lemak, kadar air dan kadar abu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan yang paling disukai dari segi warna, aroma, rasa, dan tekstur frozen food bakso adalah  dengan penambahan 50% tempe (P2), sedangkan untuk kelompok nugget dan bola-bola, yang paling banyak disukai panelis adalah penambahan 70% tempe (P3). Hasil uji Kruskall Wallis menunjukkan penambahan tempe memberikan pengaruh nyata pada tingkat kesukaan terhadap warna, aroma, rasa, dan tekstur bakso tempe, nugget tempe maupun bola-bola tempe. Kandungan zat gizi (Karbohidrat, protein, lemak, kadar air dan kadar abu) bakso tempe yang dihasilkan telah memenuhi SNI 01-3818- 1995, dan kandungan zat gizi (Karbohidrat, protein, lemak, kadar air dan kadar abu) pada nugget tempe yang dihasilkan telah memenuhi SNI 01-6683-2002

    Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Anak Balita

    Get PDF
    Stunting is a condition in which a child experiences growth disorders, resulting in a height that exceeds his age due to long-term dietary deficiencies. In 2021 Pekanbaru City was designated as a stunting focus location, totaling 15 urban villages with 303 stunting toddlers. This study aimed to determine the factors associated with stunting in children under five in Pekanbaru City in 2022. This type of research is quantitative analytic observational with a case-control design. The sample in the case group was stunted children under five, while the sample for the control group was children under five who were not stunted. The sample size for the case and control groups was 73 children under five, so the overall sample size was 146 children under five. The sampling technique used stratified random sampling at the integrated service center level. Data analysis was univariate and bivariate with a chi-square test. The results showed that exclusive breastfeeding (OR = 10,247), quality of complementary feeding (OR = 9,362), Infectious Diseases (OR = 4,1940, Mother's Knowledge (OR = 9,4410, and parenting patterns (OR = 10,065) associated with stunting. This study concludes that not exclusively breastfeeding, poor quality complementary feeding, presence of infectious diseases, low maternal knowledge, and suboptimal parenting have more risk for stunting in children under five. Public health center in order to provide information and education to the public regarding the risk factors for stunting.Stunting merupakan suatu kondisi seorang anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga tinggi badan anak tidak sesuai dengan usianya sebagai akibat dari masalah gizi kronis yaitu kekurangan asupan gizi dalam waktu yang lama dan infeksi berulang. Pada tahun 2021 Kota Pekanbaru ditetapkan sebagai lokasi fokus stunting berjumlah 15 kelurahan dengan balita stunting sebanyak 303 balita. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak balita di Kota Pekanbaru tahun 2022. Jenis penelitian ini kuantitatif analitik observasional dengan desain case control. Sampel pada kelompok kasus adalah anak balita yang menderita stunting sedangkan sampel untuk kelompok kontrol adalah anak balita yang tidak menderita stunting. Besar sampel untuk kelompok kasus dan kontrol, masing-masing adalah 73 anak balita, sehingga besar sampel keseluruhan adalah 146 anak balita. Teknik sampling menggunakan stratified random sampling di strata posyandu. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan chi-square test. Hasil penelitian menunjukan bahwa ASI eksklusif (OR = 10,247), kualitas MP-ASI (OR = 9,362), penyakit infeksi (OR = 4,194), pengetahuan ibu (OR = 9,441), dan Pola Asuh (OR = 10,065) berhubungan dengan kejadian Stunting. Kesimpulan penelitian ini adalah tidak diberi ASI eksklusif, Kualitas MP-ASI yang kurang baik, adanya penyakit infeksi, pengetahuan ibu yang rendah dan pola asuh yang kurang baik lebih berisiko untuk terjadinya stunting pada anak balita. Untuk itu diharapkan kepada Puskesmas agar dapat memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat terkait faktor risiko stunting

    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kelengkapan Imunisasi Dasar Pada Bayi Usia 12 Bulan di Masa Pandemi Covid-19

    Get PDF
    Complete basic immunization consists of 1 dose of hepatitis B, 1 dose of BCG, 3 doses of DPT-HB-Hib, 4 doses of polio drop, and 1 dose of measles. The target for complete basic immunization in 2019 is 93% with a complete basic immunization achievement of 57.9%. The impact of not getting complete immunization is the incidence of morbidity and mortality due to tuberculosis, poliomyelitis, measles, hepatitis B, diphtheria pertussis, and tetanus neonatorum. This study aims to find out factors that affect the completeness of basic immunization for infants aged 12 months old during the COVID-19 pandemic in the Gunung Sari Health Center Work Area, Way Khilau District in 2022. This research is quantitative with a cross-sectional design. The population in this study were all mothers who had infants aged 12 months old in the working area of ​​the Gunung Sari Health Center. The sample in this study were 81 peoples. The sampling technique was purposive sampling. Data analysis was analyzed using univariate, bivariate, and multivariate analysis. The results of this study indicate that there was a relationship between maternal age (p = 0.000), education (p = 0.000), knowledge (p = 0.001), family support (p = 0.003), and support from health workers (p = 0.042) with the completeness of basic immunization for infants aged 12 months old during the Covid-19 pandemic. The most dominant factor in influencing the completeness of basic immunization in infants aged 12 months old was the knowledge variable. Suggested for mothers can be more active in seeking information about basic immunizations that should be given to children so that no more children have incomplete immunization status.Imunisasi dasar lengkap terdiri dari 1 dosis hepatitis B, 1 dosis BCG, 3 dosis DPT-HB-Hib, 4 dosis polio tetes dan 1 dosis campak. Target imunisasi dasar lengkap pada tahun 2019 adalah 93% dengan capaian imunisasi dasar lengkap 57,9%. Dampak jika tidak mendapatkan imunisasi lengkap adalah timbulnya angka kesakitan dan kematian akibat terserang tuberkulosis, poliomelitis, campak, hepatitis b, difteri pertussis dan tetanus neonatorum. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kelengkapan imunisasi dasar pada bayi usia 12 bulan di masa pandemi covid-19 di Wilayah Kerja Puskesmas Gunung Sari Kecamatan Way Khilau Tahun 2022. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki bayi usia 12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Gunung Sari berjumlah 518 orang. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 81 orang. Teknik sampel yang digunakan yaitu purposive sampling. Analisis data dalam penelitain ini menggunakan analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan umur ibu (p=0,000; OR=7,519), pendidikan (p=0,000; OR=2,667), pengetahuan (p=0,001; OR=5,417), dukungan keluarga (p=0,003; OR=4,381), dan dukungan tenaga kesehatan (p=0,042; OR=2,813) dengan kelengkapan imunisasi dasar pada bayi usia 12 bulan di masa pandemi Covid-19. Faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi kelengkapan imunisasi dasar pada bayi usia 12 bulan adalah variabel pengetahuan dengan OR=20,072. Diharapkan ibu dapat lebih aktif dalam mencari informasi tentang imunisasi dasar yang seharusnya diberikan kepada anak sehingga kebutuhan imunisasi dasar pada anak terpenuhi

    Health Technology Assessment untuk Alat Kesehatan: Scoping Review

    Get PDF
    Prior to the implementation of health technology, the proposed system or device needs to be assessed in various aspects. This assessment is known as the Health Technology Assessment (HTA). HTA is a systematic evaluation on effect, and/or impact of health technology which aims to provide information to policy makers regarding health technology. This information is needed to minimize costs and prevent the adoption of questionable technologies. The health technology in question can be in the form of drugs, therapy, medical procedures, and medical devices. The HTA process and methodology for medicines has been widely used, while for medical devices it is still scarce. From several literature reviews, the use of HTA criteria is different even though the nature of the object under reviews was in the same category of medical device. Hence, we conducted a study to determine what criteria that are often used in HTA for medical devices. The method in this research was a scoping review on previous HTA publications (n=392) available on PubMed and ScienceDirect databases. Based on the results of a literature search using PRISMA, there were only 7 articles according to the inclusion criteria related to HTA for medical devices with different subjects, namely: medical devices and hospital based HTA. Conclusion from these findings, it can be learned that the criteria often used in HTA for medical devices were namely economy, safety, effectiveness, and organization.Banyaknya teknologi kesehatan yang tersedia saat ini, menyebabkan adanya kebutuhan terkait penilaian pada berbagai aspek. Penilaian tersebut biasa disebut dengan Health Technology Assessment (HTA). HTA adalah evaluasi secara sistematis, efek, dan/atau dampak dari teknologi kesehatan yang bertujuan untuk memberikan informasi kepada pembuat kebijakan yang berhubungan dengan teknologi kesehatan, dengan demikian dapat meminimalkan biaya dan mencegah penggunaan teknologi yang diragukan. HTA telah banyak digunakan dalam melakukan penilaian terhadap teknologi kesehatan. Teknologi kesehatan yang dimaksud dapat berupa obat-obatan, terapi, prosedur tindakan medis, maupun alat kesehatan. Proses dan metodologi HTA untuk obat-obatan telah banyak dilakukan  sedangkan untuk alat kesehatan masih jarang. Dari beberapa literatur review yang dilakukan sebelumnya, penggunaan kriteria HTA berbeda-beda meskipun objeknya alat kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengenai kriteria apa saja yang sering digunakan pada HTA untuk alat kesehatan medis. Metode penelitian scoping review pada publikasi HTA sebelumnya (n=392) dilakukan untuk membahas tujuan tersebut dengan menggunakan database Pubmed dan Science Direct. Berdasarkan hasil pencarian literatur dengan menggunakan PRISMA, didapatkan 7 artikel sesuai dengan kriteria inklusi yang berhubungan dengan HTA untuk alat kesehatan dengan subjek yang berbeda, yaitu: alat kesehatan dan HTA berbasis rumah sakit. Kesimpulan dari hasil temuan tersebut, diketahui bahwa kriteria yang sering digunakan dalam HTA untuk alat kesehatan yaitu, ekonomi, keamanan, efektivitas, dan organisasi. Saran penelitian ini adalah hasil kriteria yang didapatkan divalidasi terlebih dahulu oleh ahlinya atau stakeholder

    Sistem Kesehatan Tangguh Menghadapi Pandemi COVID-19: Kajian Ketahanan RSUD Haji Abdoel Madjid Batoe Batang Hari Jambi

    Get PDF
    The COVID-19 outbreak is a global public health emergency of international concern. Cases of COVID-19 spread in many countries across the continent and were marked as a pandemic. COVID-19 is growing rapidly, requiring hospitals to prepare preparedness measures related to managing the pandemic while continuing to provide essential services to other patients who need treatment. This study aims to assess the resiliency capacity of RSUD Haji Abdoel Madjid Batoe Batang Hari Jambi against the COVID-19 pandemic. This research is a descriptive approach. Assessment using the N-COV Hospital Readiness Checklist. The results show that the readiness to respond to the COVID-19 pandemic shows an achievement of 95.6%, which means that HAMBA Hospital is ready to face the COVID-19 pandemic disaster. HAMBA Hospital has taken preparedness steps according to the guidelines from the World Health Organization (WHO) in handling.Wabah COVID-19 adalah darurat kesehatan masyarakat global yang menjadi perhatian internasional. Kasus COVID-19 menyebar di banyak negara di seluruh benua dan ditandai sebagai pandemi. COVID-19 berkembang pesat, mengharuskan rumah sakit untuk mempersiapkan langkah-langkah kesiapsiagaan terkait penanganan pandemi sambil terus memberikan layanan penting kepada pasien lain yang membutuhkan perawatan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai daya tahan RSUD Haji Abdoel Madjid Batoe Batang Hari Jambi terhadap pandemi COVID-19. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Penilaian menggunakan Daftar Periksa Kesiapan Rumah Sakit N-COV. Hasil menunjukkan bahwa kesiapan dalam menghadapi pandemi COVID-19 menunjukkan capaian sebesar 95,6% yang berarti RS HAMBA siap menghadapi bencana pandemi COVID-19. RS HAMBA telah mengambil langkah kesiapsiagaan sesuai dengan pedoman dari World Health Organization (WHO) dalam penanganannya

    Kandungan Gizi serta Sensori Nugget Ikan Patin dengan Penambahan Tempe Sebagai Alternatif Makanan Tambahan Balita dalam Upaya Pencegahan Stunting

    Get PDF
    Malnutrition in toddlers can result in growth disturbances, development, and low-quality human resources. Indonesia ranks fifth in the prevalence of stunting in the world. SSGI data for 2021 the prevalence of stunting in the city of Pekanbaru is 11.4%. The highest prevalence of stunting under five cases was found in the Lima Puluh District at 7.29%. The Supplemental Feeding Program (PMT) is one of the efforts to overcome and prevent stunting, the type of food ingredients used as PMT can be local food ingredients, namely catfish, in Riau the commodity of catfish is higher than other fish. Indonesia is the largest soybean market in Asia with the largest tempe production in the world. The study aimed to determine the nutritional and sensory content of catfish meat nuggets added with tempeh, which can be used as a solution for providing additional food for toddlers to prevent stunting. the research used in this study was experimental with a completely randomized design (CRD). The stages of this research consisted of, 2 namely the preliminary research stage to analyze the addition of the amount of tempeh in each treatment and further research namely the implementation of sensory tests and proximate analysis. The results of the study found that the most preferred treatment was the addition of 70% tempeh both from the attributes of color, aroma, taste, and texture. The ingredients contained in the nuggets are carbohydrates at 22.2%, protein at 4.9%, fat at 10.7%, fiber at 5.5%, ash content 0.1%, and water content 52.8%. Fish nuggets based on SNI contain 5.0% protein, 15.0% fat, 2.5% ash content, and 60% moisture content.Kekurangan gizi pada balita dapat mengakibatkan terganggunya pertumbuhan, perkembangan serta  rendahnya kualitas sumber daya manusia. Peringkat kelima prevalensi stunting di dunia ditempati Indonesia. Data SSGI Tahun 2021 prevalensi stunting kota Pekanbaru adalah 11,4 %. Prevalensi kasus balita stunting tertinggi terdapat di Kecamatan  Lima Puluh  sebesar 7,29%. Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT)  salah satu upaya dalam penanggulangan maupun pencegahan stunting , jenis bahan makanan yang dijadikan PMT dapat berupa bahan makanan local yaitu ikan Patin,  di Riau komoditas ikan patin  lebih tinggi dibandingkan ikan lainnya. Indonesia adalah pasar kedelai terbesar di Asia dengan produksi tempe terbesar di dunia.  Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kandungan gizi dan sensori nugget daging ikan patin yang ditambahkan tempe dapat dijadikan salah satu solusi pemberian makanan tambahan balita sebagai usaha  pencegahan stunting. Jenis penelitian eksperimental dengan  desain Rancangan Acak Lengkap (RAL) adalah jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini. Tahapan penelitian ini adalah 2 yaitu tahap penelitian pendahuluan untuk menganalisa penambahan jumlah tempe pada setiap perlakuan dan penelitian lanjutan yaitu pelaksanaan  uji sensoris dan analisa proksimat. Hasil penelitian ditemukan bahwa perlakukan paling yang paling disukai adalah penambahan 70% tempe baik dari atribut  warna, aroma, rasa, dan tekstur. Kandungan yang terdapat pada nugget  yaitu Karbohidrat sebesar  22,2 %, Protein 4,9%, Lemak10,7 %, serat 5,5 %, kadar abu  0,1 % dan  Kadar Air 52,8 %.    Nugget ikan  berdasarkan SNI mengandung protein sebesar  5,0 %, Lemak 15,0% Kadar abu 2,5 % dan Kadar air  60%

    444

    full texts

    548

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Komunitas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇