Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
Not a member yet
1439 research outputs found
Sort by
Uji Kelaikan Fungsi Jalan pada Jalan Nasional Nomor Ruas 097 (Jalan Raya Purwosari, Kabupaten Pasuruan) - Nomor Ruas 099 (Jalan Raya Karanglo, Kabupaten Malang)
Keselamatan jalan adalah mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas dengan pemenuhan fisik elemen jalan terhadap persyaratan teknis jalan dan kondisi lingkungan jalan. Berdasarkan data kecelakaan Polres Kabupaten Pasuruan dan Polres Malang, dalam 5 tahun terakhir jumlah total kecelakaan lalu lintas di ruas jalan Nasional Purwosari - Karanglo adalah 797 kejadian dengan rata - rata per tahunnya sebanyak 159,4 kejadian. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi jumlah kecelakaan yang semakin meningkat adalah dengan melakukan evaluasi kondisi jalan menggunakan Pedoman Laik Fungsi Jalan sebagai acuan. Dalam penelitian ini, dilakukan uji kelaikan fungsi jalan yang terdapat pada provinsi Jawa Timur, yaitu pada Jalan Nasional Nomor Ruas 097 (Jalan Raya Purwosari, Kabupaten Pasuruan) – Nomor Ruas 099 (Jalan Raya Karanglo, Kabupaten Malang). Dengan tujuan untuk mengetahui kondisi kelaikan fungsi jalan dan mengetahui rekomendasi teknis yang perlu dilakukan pada Jalan Nasional tersebut. Metode yang digunakan mengacu pada peraturan terbaru yaitu Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2023 Tentang Pedoman Laik Fungsi Jalan dan Pedoman Bidang Lingkungan dan Keselamatan Jalan Nomor 11/P/BM/2023 tentang Petunjuk Teknis Uji Laik Fungsi Jalan dengan Pemeringkatan Bintang. Hasil dari uji kelaikan fungsi jalan ini adalah berupa pemeringkatan bintang dan rekomendasi teknis, diantaranya Ruas Jalan Nasional Purwosari - Purwodadi Nomor Ruas 097 sepanjang 4.046 meter mendapatkan bintang 3 dengan skor 10,04, Ruas Jalan Nasional Purwodadi – Bts. Kab. Malang Nomor Ruas 098 sepanjang 3.215 meter mendapatkan bintang 3 dengan skor 10,25, dan Ruas Jalan Nasional Bts. Kab. Pasuruan – Karanglo Nomor Ruas 099 sepanjang 13.551 meter mendapatkan bintang 3 dengan skor 11,68. Rekomendasi teknis diberikan pada segmen yang memiliki hasil pemeringkatan bintang rendah, seperti contoh disebabkan karena terdapat fasilitas penyebrangan (zebra cross) yang kurang layak, sehingga perlu dilakukan perawatan secara berkala seperti rambu penyebrangan dan pengecatan ulang, serta penambahan fasilitas penyebrangan (zebra cross) pada area yang tidak memiliki penyebrang (zebra cross). Dengan adanya rekomendasi teknis, diharapkan dapat dilakukan perbaikan jalan sesuai yang direkomendasikan, sehingga jalan akan lebih berkeselamatan (Safer Road).
Kata kunci: Uji Laik Fungsi Jalan, Kecelakaan Lalu Lintas, Jalan Nasional, Pemeringkatan Bintang, Rekomendasi Tekni
Pengaruh Penggunaan Bakteri Ureolitik dengan Penambahan Variasi Kadar Glukosa terhadap Peningkatan Mutu Recycle Coarse Aggregate
Salah satu industri yang berkembang pesat di dunia adalah konstruksi, terutama di Indonesia, yang sedang giat membangun infrastruktur. Namun, kemajuan ini juga berdampak negatif pada jumlah terbatas energi dan sumber daya. Mengganti agregat kasar alami dengan agregat kasar daur ulang, yang diperoleh dari limbah konstruksi, adalah salah satu solusi untuk mengatasi masalah ini. RCA memerlukan perbaikan untuk meningkatkan kualitasnya karena memiliki kualitas yang lebih rendah dibandingkan dengan agregat kasar alami. Sebagai metode perbaikan RCA, penggunaan bakteri pengendap kalsium karbonat dianggap lebih ramah lingkungan. Dalam penelitian ini, variasi bakteri ureolitik dari isolat Micrococcus luteus (S17) dengan 105 sel/ml digunakan sebagai pengendap kalsium karbonat. Selain itu, sebagai kontrol, media nutrisi dan akuades digunakan. Selama 14 hari, RCA diinkubasi dalam campuran bakteri. Sebelum dan sesudah inkubasi, berat isi, berat jenis, dan penyerapan diuji pada kondisi RCA. Setelah pengujian agregat, pengujian mikrosturktur SEM dan EDS dilakukan untuk mengetahui lapisan permukaan RCA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bakteri pengendap CaCO3 dapat mengurangi persentase penyerapan pada agregat kasar daur ulang dan meningkatkan berat isinya. Hal ini disebabkan oleh presipitasi CaCO3 oleh bakteri ureolitik isolat S17, yang mengisi pori-pori atau rongga pada agregat kasar daur ulang sehingga membuatnya lebih padat.Kata kunci: agregat kasar daur ulang, bakteri ureolitik, presipitasi kalsium karbona
Pengaruh Konsentrasi Larutan dan Voltase terhadap Potensi Pengembangan dan Kuat Geser pada Proses Perbaikan Tanah Ekspansif dengan Metode Injeksi Larutan Kalsium Klorida (CaCl2)
Pembangunan infrastruktur di Indonesia baru-baru ini sedang mengalami peningkatan yang pesat. Para kontraktor kadang terpaksa harus melakukan proyek konstruksi diatas tanah dengan kualitas yang kurang baik. Salah satunya ialah tanah ekspansif, yaitu tanah yang cenderung mengalami pembengkakan ketika terpapar air dan penyusutan ketika kehilangan air. Cassagrande (1939) membuktikan bahwa elektrokinetik dapat diterapkan pada tanah yang memiliki butir halus dengan kadar air tinggi. Penerapan elektrokinetik mampu meningkatkan tegangan efektif dengan menurunkan tekanan air pori pada tanah. Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki tanah ekspansif dan mengetahui pengaruh konsentrasi larutan dan voltase terhadap nilai kuat geser dan potensi pengembangan pada perbaikan tanah ekspansif menggunakan metode injeksi elektrokimia. Pada penelitian ini, dilakukan injeksi larutan kimia kalsium klorida (CaCl2) dengan variasi konsentrasi larutan sebesar 5%, 10%, 15% dan variasi voltase sebesar 15 volt,18 volt, dan 24 volt. Proses injeksi dilakukan selama 6 hari. Setelah itu, dilanjutkan dengan masa pemeraman selama 10 hari. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh dari variasi konsentrasi larutan dan voltase. Nilai kuat geser tertinggi terjadi pada sampel dengan variasi konsentrasi larutan kalsium klorida (CaCl2) sebesar 15% dan variasi voltase sebesar 24 volt, dengan nilai kuat geser sebelumnya sebesar 3.07 kN/m2 menjadi 10.2 kN/m2. Sedangkan nilai penurunan potensi pengembangan terbesar terjadi pada sampel dengan variasi konsentrasi larutan kalsium klorida (CaCl2) sebesar 15% dan variasi voltase sebesar 18 volt, dengan nilai potensi pengembangan sebelumnya 6.48% menjadi 0.01%.
Kata Kunci: injeksi elektrokimia, larutan CaCl2, lempung ekspansif, kuat geser, potensi pengembanga
Analisis Karakteristik Marshall pada Campuran AC-WC Menggunakan Asbuton B 50/30 dan Limbah Plastik LDPE
Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui pengaruh plastik LDPE sebagai bahan tambah terhadap campuran AC-WC Asbuton. Metode yang digunakan adalah eksperimen laboratorium dengan pengujian Marshall dan analisis statistik ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan plastik LDPE meningkatkan nilai stabilitas, flow, dan marshall quotient (MQ), namun menurunkan nilai VIM dan meningkatkan VMA. Kadar LDPE optimum sebesar 6,7875% memenuhi seluruh parameter Marshall Spesifikasi Umum Bina Marga 2018. Analisis forecast menunjukkan bahwa penggunaan plastik LDPE dapat dilakukan hingga 15,5%.
Kata kunci: AC-WC Asb, Asbuton, Plastik LDPE, Marshall, ANOV
Pengaruh Molaritas NaOH pada Penggunaan Geopolimer sebagai Coating Agregat Kasar Daur Ulang terhadap Kuat Tekan dan Cepat Rambat Gelombang Beton
Konstruksi menyumbang andil sebesar 30% sampai 40% dari total limbah dunia. Salah satu alternatif nya adalah menggunakan limbah tersebut kembali. Akan tetapi, Recycle Coase Aggregate (RCA) dapat mengurangi nilai kuat tekan beton. Oleh karena itu, pengunaan geopolimer sebagai coating pada RCA dengan berbahan dasar fly ash merupakan salah satu yang paling banyak digunakan untuk berekasi dengan alkali aktivator dalam pembauatn geopolimer. Penggunaan geopolimer sebagai pelapis RCA harus dibuktikan sehingga diperlukan penelitian mengenai pengaruh penggunaan geopolimer terhadap kuat tekan dan cepat rambat gelombang beton. Penelitian ini memvariasikan molaritas NaOH 8 mol, 10 mol, 12 mol, dan 14 mol. Nantinya benda uji berupa silinder dengan diimensi 30 x 15 cm akan dilakukan curing selama 28 hari lalu dilakukan pengujian kuat tekan dan cepat rambat gelombang beton. Hasil penelitian metode compression menunjukkan bahwa kuat tekan beton dengan variasi molaritas NaOH 8 mol, 10 mol, 12 mol, dan 14 mol berturut-turut adalah 19,86 Mpa; 15,43 Mpa; 18,81 Mpa; dan 17,64 MPa. Akan tetapi jika menggunakan analisis SONREB hasil kuat tekan yang dihasilkan adalah 22,41 MPa; 14,59 MPa; 17,96 MPa; dan 15,68 MPa. Sedangkan untuk RCA sendiri hanya memiliki kuat tekan 9,54 MPa dan 8,62 MPa yang berarti kuat tekan yang dimiliki oleh beton geopolimer lebih tinggi dibandingkan dengan beton RCA murni.
Kata kunci: Geopolimer, agregat kasar daur ulang, kuat tekan beton, cepat rambat gelombang beto
Pengaruh Solid-Liquid Ratio pada Penggunaan Geopolimer sebagai Coating Agregat Kasar Daur Ulang terhadap Kuat Tekan dan Cepat Rambat Gelombang Beton
Indonesia saat ini sedang terus mengembangkan infrastrukturnya yang menyebabkan meningkatnya kebutuhan bahan konstruksi seperti agregat kasar. Sebagai alternatif, recycled coarse aggregate (RCA) dapat digunakan sebagai pengganti agregat kasar alami, namun RCA memiliki kualitas yang rendah dibandingkan dengan agregat kasar alami dikarenakan mortar yang masih melekat pada permukaannya. Kualitas RCA yang rendah menyebabkan terjadinya penurunan kualitas beton jika RCA digunakan sebagai bahan pernyusunnya, oleh karena itu penggunaan geopolimer dengan bahan dasar fly ash dengan alkali aktivator Na2SiO3 dan NaOH sebagai coating dapat menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki kualitas RCA. Dalam penelitian ini, digunakan variasi solid-liquid ratio 1,67; 2; dan 2,5 pada geopolimer. Hasil penelitian menunjukan bahwa terjadi peningkatan kualitas RCA setelah dilapisi geopolimer, selain itu beton dengan RCA geopolimer sebagai bahan penyusunnya memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan beton dengan RCA.
Kata Kunci: Geopolimer, agregat kasar daur ulang, kuat tekan beton, cepat rambat gelombang beto
Analisis Stabilitas Timbunan Sampah di Lahan Miring dengan Menggunakan Finite Element Method
Meningkatnya jumlah penduduk membuat konsumsi masyarakat juga meningkat. Peningkatan konsumsi itu membuat semakin banyak sampah yang dihasilkan dan membuat penumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menjadi semakin tinggi bahkan bisa sampai kelebihan kapasitas. Salah satu penyebab terjadinya longsoran sampah adalah curah hujan yang tinggi. Untuk mencegah kelongsoran dan untuk memaksimalkan kapasitas TPA, pada penelitian ini peneliti menggunakan analisis stabilitas timbunan sampah guna memeriksa keamanan dari lereng akibat tumpukan sampah tersebut. Lereng dikatakan stabil jika gaya penahan lebih besar dari gaya penggerak, jika terjadi sebaliknya maka akan terjadi kelongsoran.
Dalam penelitian ini, peneliti ingin mengidentifikasi stabilitas timbunan sampah pada saat kondisi kering maupun kondisi basah dan pada ketinggian berapa timbunan sampah akan longsor. Lokasi penelitian yang digunakan yaitu TPA Mrican Kabupaten Ponorogo pada bulan Maret 2022. Data yang digunakan bersumber dari Data Primer berdasarkan penelitian terdahulu sebagai data parameter sampah, total gaya, momen yang bekerja dan Data Sekunder berdasarkan pengumpulan data atau informasi pada jurnal-jurnal terkait.
Pada penelitian ini, peneliti akan menganalisis stabilitas lereng sampah pada potongan melintang B-B’ dan potongan melintang C-C’ dengan menggunakan program plaxis. Pemodelan ketinggian awal timbunan sampah potongan B-B’ 10 meter dengan kemiringan lereng 40o dan ketinggian awal potongan C-C’ 10 meter dengan kemiringan lereng 35o. Muka air tanah akan ditambahkan pada perhitungan analisis stabilitas pada saat kondisi basah.
Dari penelitian yang telah dilakukan, pada ketinggian awal nilai faktor keamanan lereng timbunan sampah potongan melintang B-B’ saat kondisi kering sebesar 2,344 dan saat kondisi basah 2,160. Dengan kenaikan setiap 4 meter, hingga ketinggian 44 meter saat kondisi kering dan saat kondisi basah tidak mengalami kelongsoran dengan nilai faktor kemanan 1,152 pada kondisi kering dan 1,128 pada kondisi basah. Sedang nilai faktor keamanan potongan melintang C-C’ saat ketinggian awal sebesar 2,280 saat kondisi kering dan 2,005 saat kondisi basah. Dengan kenaikan setiap 4 meter, hingga ketinggian 30 meter saat kondisi kering dan saat kondisi basah tidak mengalami kelongsoran dengan nilai faktor kemanan 1,421 pada kondisi kering dan 1,306 pada kondisi basah.. Berdasarkan hasil analisis, ketinggian timbunan sampah yang disarankan pada potongan melintang B-B’ 34 meter dan potongan melintang C-C’ 30 meter dikarenakan lereng timbunan sampah berada pada kondisi aman.
Kata kunci : analisis stabilitas lereng, faktor keamanan, timbunan sampah dalam kondisi kering dan basah, longsor
KAJIAN ARUS JENUH PADA SIMPANG BERSINYAL DI KOTA MALANG BAGIAN UTARA
ABSTRAK
Arus jenuh merupakan arus maksimum pada mulut persimpangan jika lampu lalu lintas terus menyala hijau. Itu disebabkan karena jumlah kendaraan pribadi yang lebih banyak pada saat-saat tertentu khususnya pada jam puncak sering mengakibatkan kemacetan di beberapa simpang di Kota Malang. Maka perlu dilakukan kajian arus jenuh, hal inilah yang melatar belakangi penulis mengadakan penelitian dengan tujuan agar dapat mengetahui apakah keadaan Sistem transportasi di Kota Malang ini masih sesuai dengan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) atau tidak.
Data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari data primer dan data sekunder. Data primer terdiri dari Data Geometrik, Data Volume Lalu Lintas, Data waktu siklus, dan Data hambatan samping. Sedangkan data sekunder terdiri dari data jumlah penduduk Kota Malang, dan Peta Kota Malang. Pengumpulan data ini dimaksudkan untuk melakukan observasi lapangan wilayah studi agar memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai keadaan wilayah yang akan di studi.
Survei perhitungan lalu lintas dilakukan dengan cara merekam menggunakan Handycam/digital camera yang melintasi titik pengamatan pada suatu simpang jalan yang telah ditentukan. Kemudian data hasil rekaman tersebut diputar kembali yang selanjutnya dihitung menggunakan counter. Selanjutnya hasil perhitungan dimasukkan ke dalam form survei untuk memudahkan dalam pengolahan data.
Perhitungan arus jenuh dilakukan dengan menggunakan metode time slice. Metode ini pada dasarnya adalah membagi waktu hijau menjadi suatu periode waktu yang lebih kecil sehingga dapat diketahui kondisi lalu lintas tersebut dalam kondisi jenuh. Dalam penelitian ini, periode waktu timeslice yang digunakan adalah 6 detik. Hal ini karena lama waktu hijau kaki simpang yang ditinjau adalah berbeda-beda, maka diambil periode waktu timeslice yang umum.
Analisis arus jenuh yang dilakukan adalah menghitung arus jenuh pada setiap pendekat, nilai arus jenuh yang disesuaikan, menghitung arus jenuh dasar (S0), kemudian setelah didapatkan keseluruhan hasil, maka dengan cara regresi diambil hubungan antara We keluar, Wemasuk, Lebar bahu jalan masuk, lebar bahu jalan keluar terhadap Arus Jenuh Dasar (S0) per meter. Setelah dilakukan analisa terhadap pengaruhnya, di dapatkan bahwa faktor-faktor penyesuaian tersebut tidak mempengaruhi Arus Jenuh Dasar (S0)/m. Maka dibuatkanlah nilai faktor penyesuaian untuk hambatan samping yang baru, dikarenakan dari faktor-faktor itu hal yang paling mempengaruhi adalah hambatan samping.
Untuk Faktor penyesuaian hambatan samping kota Malang Bagian Utara di bagi menjadi tiga bagian, yaitu faktor hambatan samping rendah sebesar 1,263 , faktor hambatan samping sedang sebesar 0,9695 , untuk faktor hambatan samping tinggi sebesar 0,7593 dan untuk faktor hambatan samping sangat tinggi sebesar 0,481 bila dikaitkan dengan MKJI 1997 nilai untuk faktor hambatan samping dalam penelitian di Kota Malang pada bagian utara kurang sesuai dengan MKJI 1997
Kata kunci : arus jenuh, timeslice, arus jenuh dasar, hambatan sampin
Penjadwalan Tenaga Kerja dengan Metode Pemerataan Sumber Daya (Resource Levelling) Menggunakan Microsoft Project Pada Proyek Pembangunan Terminal Pariwisata Terpadu Banyuwangi
Sumber daya adalah salah satu masalah yang sering dijumpai dalam suatu proyek. Terjadi masalah berikut dikarenakan adanya perencanaan sebaran jumlah sumber daya pada setiap pekerjaan yang kurang efisien dan menyebabkan adanya fluktuasi pada sebaran sumber daya. Sehingga terjadi peak yang timpang. Dibutuhkannya pemerataan sumber daya agar tidak adanya perbedaan yang cukup signifikan dari kebutuhan sumber daya per satuan waktu. Guna memudahkan analisis digunakan aplikasi Microsoft Project sebagai alat bantu penjadwalan. Digunakan metode resource levelling. Namun pelaksanaan pemerataan tenaga kerja ini menghasilkan penjadwalan baru, dimana alokasi tenaga kerja selama pelaksanaan konstruksi menjadi lebih merata. Sehingga alokasi sumber daya tenaga kerja yang tersedia dapat digunakan seoptimal mungkin. Berdasarkan analisis dari hasil pemerataan yang dilakukan, didapatkan penurunan jumlah maksimum terhadap jumlah kebutuhan pekerja tiap harinya. Semula jumlah maksimum yang dibutuhkan sebanyak 69 orang pekerja, namun setelah dilakukan leveling jumlah maksimum pekerja turun menjadi 63 orang pekerja
Pengaruh Faktor Air Semen terhadap Kuat Lentur Balok Beton dengan Ground Granulated Blast Furnace Slag 20%
Berkembangnya suatu konstruksi pastinya memerlukan pembangunan gedung dengan waktu yang relatif singkat. Maka, dibutuhkan bahan komponen struktural yang memiliki kekuatan beton mutu tinggi. Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS) merupakan green concrete atau pengganti semen. Pada penelitian ini dilakukan perbandingan mengenai pengaruh FAS 0,3 dan FAS 0,4 terhadap kuat lentur balok beton dengan mengganti 20% semen Gresik menjadi semen GGBFS. Penelitian ini menggunakan benda uji balok dengan ukuran 100 cm x 15 cm x 20 cm dengan tambahan tulangan didalamnya. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa FAS dapat berpengaruh terhadap kuat lentur yang terjadi pada beton. Nilai kuat lentur yang terjadi antara beton yang menggunakan GGBFS dengan beton yang tidak menggunakan GGBFS tidak memiliki nilai perbedaan yang signifikan. Balok dengan campuran GGBFS 20% dan FAS 0,3 pada hari ke 45 memiliki nilai kuat lentur 14,46% lebih tinggi dibandingkan dengan balok dengan FAS 0,4. Sedangkan untuk balok dengan FAS 0,3 tetapi tidak menggunakan GGBFS pada hari ke 45 memiliki nilai 9,42% lebih tinggi dibandingkan balok dengan FAS 0,4. Semakin rendah nilai FAS, maka nilai kuat lentur yang didapat akan semakin tinggi.
Kata Kunci: Balok beton bertulang, Semen GGBFS, Faktor air semen, Uji lentur, Beton mutu tinggi