JURNAL KEDOKTERAN KOMUNITAS DAN TROPIK
Not a member yet
    198 research outputs found

    GAMBARAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT PADA PEGAWAI DI KANTOR DINAS KESEHATAN KOTA MANADO

    Get PDF
    Penerapan PHBS di lingkungan tempat kerja merupakan salah satu upaya strategis untuk menggerakkan dan memberdayakan para karyawan/pegawai untuk hidup bersih dan sehat dalam hal ini di Kantor Dinas Kesehatan. Tujuan Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana gambaran perilaku hidup bersih dan sehat pada pegawai di Kantor Dinas Kesehatan Kota Manado. Metode penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dengan metode survei. Populasi dalam penelitian ini adalah pegawai yang bekerja di Kantor Dinas Kesehatan Kota Manado yang berjumlah 73 orang dan sampel dari penelitian ini adalah keseluruhan dari jumlah populasi.  Data yang diperoleh melalui wawancara dengan menggunakan  kuesioner  yang  telah  disiapkan.  Hasil  penelitian  yang diperoleh sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik tentang PHBS di lingkungan kerja, yaitu 52 responden (71,2%), sedangkan 21 responden (28,8%) yang memiliki pengetahuan kurang baik. Sebagian besar responden memiliki sikap baik tentang PHBS di lingkungan kerja, yaitu 40 responden (54,8%), sedangkan 33 responden (45,2%) yang memiliki sikap kurang baik. Sebagian besar tindakan responden tentang PHBS di lingkungan kerja termasuk dalam kategori baik, yaitu 43 responden (58,9%), sedangkan 30 responden (41,1%) yang memiliki tindakan kurang baik. Kesimpulan dari hasil penelitian ini disimpulkan Perilaku yang mencakup pengetahuan, sikap dan tindakan pegawai di Kantor Dinas Kesehatan Kota Manado mengenai  Perilaku Hidup Bersih Sehat di kategorikan baik dengan persentasi responden memiliki pengetahuan baik tentang PHBS di lingkungan kerjaKata Kunci: Perilaku PHBS, Pegawai

    PANDANGAN REMAJA PUTRI TERHADAP ABORTUS

    Get PDF
    Remaja merupakan kelompok penduduk yang cukup besar. Secara global, sekitar seperempat penduduk dunia adalah remaja, sedangkan kelompok usia remaja (10-25 tahun) berjumlah hampir separuh dari penduduk Indonesia. Remaja memiliki potensi yang besar namun bila tidak cukup perhatian potensi tersebut dapat berdampak buruk. Di Indonesia ada 2.5 juta abortus, dimana 1.5 juta diantaranya adalah abortus yang dilakukan remaja. Menurut BKKBN, berdasarkan survei, 63% remaja SMP dan SMA di Indonesia pernah berhubungan seks. Sebanyak 21% diantaranya melakukan abortus. Kondisi ini ada kaitan dengan kurang memadainya pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi sehingga berpengaruh terhadap sikap remaja dalam menghadapi kasus abortus. Peneitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan dan sikap remaja putri terhadap abortus. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan sampel berjumlah 200 orang yang merupakan siswi dari 3 SMA di kota Manado. Hasil dari penelitian didapatkan pengetahuan remaja putri terhadap abortus yaitu baik 39%, sedang 18%, dan kurang 43% diikuti dengan sikap negatif 43,5%, netral 55%, dan positif terhadap aborsi 1,5%.   Kata Kunci: Abortus, Remaja Putri, Pengetahuan, Sika

    RESIKO MATERNAL DAN LUARAN PERINATAL DENGAN OLIGOHIDRAMNION DI BLU RSU PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO

    Get PDF
    Penurunan volume cairan ketuban atau oligohidramnion pada kehamilan dibandingkan dengan volume cairan ketuban yang normal berhubungan dengan meningkatnya deselerasi pada denyut jantung janin, cairan ketuban mekonium, persalinan seksio sesarea, skor Apgar rendah pada menit pertama, berat badan lahir < 2500 gram, dan perawatan bayi di NICU. Deteksi awal pada oligohidramnion dan penanganan yang tepat dapat menurunkan perinatal morbiditas dan mortalitas serts menurunkan jumlah persalinan seksio sesarea. Tujuan yang akan dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan oligohidramnion pada luaran perintal dengan gawat janin, NST non-reaktif, cairan ketuban mekonium, serta hubungannya dengan persalinan seksio sesarea dengan persalinan spontan. Rata-rata umur maternal 30,05 tahun. Pada penelitian ini, insiden oligohidramanion paling banyak ditemukan pada kelompok primigravida sebesar 55% dan morbiditas operatif  juga ditemukan pada primigravida. Penyebab terbanyak oligohidramnion adalah idiopatik sebesar 42%. Kedua terbanyak didapatkan pada kelompok dengan hipertensi dalam kehamilan yaitu sebesar 35%. Adanya hubungan peningkatan seksio sesarea pada oligohidramnion dengan NST non-reaktif sebesar 36% dan oligohidramnion berhubungan dengan peningkatan perawatan bayi di NICU.Kata Kunci: Oligohidramnion, Maternal, Luaran Perinatal, Seksio Sesare

    POLA PENYAKIT PENDERITA RAWAT INAP di SMF THT-KL RSU PROF. DR. R. D. KANDOU PERIODE JANUARI 2011 – DESEMBER 2011

    Get PDF
    Meningkatnya penyakit tidak menular turutama diakibatkan oleh perubahan pada pola makan dan gaya hidup. Pola makan telah bergeser dari pola makan yang mengandung banyak karbohidrat dan serat sayuran menjadi pola makan di mana komposisi makanan menjadi terlalu banyak mengandung protein, lemak, gula, garam dan mengandung sedikit serat. Oleh karena itu sistem kesehatan di Indonesia juga harus meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan. Dimana, kualitas yang buruk dan inefisiensi masih merupakan masalah utama. Inefisiensi dan buruknya kualitas dalam sektor kesehatan ini telah mengakibatkan rendahnya tingkat fasilitas sektor publik dan sektor swasta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penyakit penderita rawat inap di SMF THT-KL RSU PROF KANDOU Periode Januari 2011 – Desember 2011 dan penelitian ini tergolong jenis penelitian deskriptif retrospektif. Sampel penelitian ini adalah seluruh penderita rawat inap di SMP THT-KL RSU PROF KANDOU. Data ini dikumpulkan melalui catatan medik rumah sakit. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat jumlah pasien rawat inap 251 orang yang terdiri dari jenis kelamin laki-laki 154 orang dan perempuan 97 orang. Pasien rawt inap terbesar pada kelompok  usia 1-9 tahun dengan persentasi 21,51% yang terdiri dari laki-laki 11,55% dan perempuan 9,96%. Sedangkan pasien rawat inap terendah terdapat pada kelompok umur ≥70 tahun yaitu 1,19% yang terdiri dari laki-laki dan perempuan 0,39%. Sepuluh penyakit terbanyak yaitu faringitis akut, epistaksis, tonsillitis, karsinoma nasofaring, tonsilofaringitis, disfagia, sinusitis, rhinofaringitis, korpus alienum esophagus, dan polip nasi.   Kata Kunci: Pola Penyakit, Layanan Kesehatan, Penderita Rawat Ina

    KARAKTERISTIK PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS TUMINTING MANADO

    Get PDF
    Tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit infeksi yang terjadi di seluruh dunia. World Health Organization (WHO) memperkirakan sepertiga penduduk dunia terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis.Berdasarkan laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013, prevalensi TB paru di Indonesia yang terdiagnosis yaitu sebesar 0,4%. Di Sulawesi Utara, prevalensi TB paru yang terdiagnosis ialah sebesar 0,3%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien TB paru di Puskesmas Tuminting Manado dengan menggunakan metode deskriptif.Data dikumpulkan menggunakan rekam medis dengan jumlah sampel sebanyak 196. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien TB paru terbanyak terdiri dari 39,8% kelompok umur 26-45 tahun, 55,1% jenis kelamin laki-laki, 54,1% BTA sputum 3+, danseluruh pasien merupakan tipe kasus baru serta menggunakan pengobatan Kategori I. Sebanyak 99% pasien telah berobat teratur, seluruh pasien mencapai pengobatan tahap awal dengan hasil BTA (-) dan 95,4% hasil akhir pengobatan ialah sembuh

    DISFUNGSI EREKSI SECARA DINI

    Get PDF
    Disfungsi ereksi (DE) adalah ketidak mampuan organ reproduksi pria untuk melakukan hubungan seksual akibat tidak terjadinya ereksi pada penis. DE merupakan masalah yang signifikan dan umum dibidang medis, merupakan kondisi medis yagn tidak berhubungan dengan proses penuaan walaupun prevalensinya meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. Pria dengan diabetes, penyakit jantung iskemik dan penyakit vaskuler perifer lebih banyak menderita DE. Dengan mengetahui penyebab DE secara dini, pengobatan data diberikan secara dini, dan kemungkinan fungsi tubuh reversibel, fungsi seksual menjadi lebih baik dan kualitas hidup dapat ditingkatkan. Metode penulisan ini adalah merangkum dari berbagai referensi dan mengkaji bahan-bahan kepustakaan kemudian dianalisis untuk mendapatkan kesimpulan. Hasil penelusuran kepustakaan ditemukan bahwa gangguan disfungsi ereksi paling umum terjadi pada pria di segala usia, etnis dan latar belakang budaya dan diperkirakan mempengaruhi 322 juta pada 2025. Kondisi DE meningkat dengan umur. DE merupakan tanda awal dari beberapa penyakit tertentu, adanya kondisi medis yang mendasari disfungsi efeksi yang dapat menggangu berbagai aspek hidup pasien, termasuk kualitas hidup dan hubungan interpersonal. Penanganan DE pertama kali dilakukan dengan cara pemberian Sildenafil (Viagra), jika tidak berhasil dilakukan pembedahan. Kesimpulannya adalah DE adalah ketidakmampuan organ reproduksi pria untuk melakukan hubungan seksual akibat tidak terjadinya ereksi enis. Penanganan DE secara dini perlu ditindak lanjuti terutama penyakit sistemik. Sildenafil siltrat (Viagra) merupakan terapi vasoaktif yang dapat menangani DE secara dini.  Kata Kunci: Pria, Disfungsi Ereksi, Penanganan Din

    GAMBARAN KONTRAINDIKASI PENCABUTAN GIGI DI RSGM UNSRAT TAHUN 2014

    Get PDF
    Pencabutan gigi terkadang tidak bisa dilakukan karena adanya kontraindikasi, seperti kelainan sistemik dan kondisi tertentu. Kontraindikasi ini bisa bersifat mutlak atau relatif tergantung pada kondisi umum pasien. Pengetahuan atau keterampilan dokter gigi yang tidak cukup untuk menangani komplikasi yang mungkin terjadi, maka dokter gigi akan membatalkan atau menunda pencabutan gigi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran kontraindikasi pencabutan gigi di RSGM Unsrat tahun 2014. Jenis penelitian yang digunakan yaitu deskriptif retrospektif. Populasi yang digunakan yaitu seluruh kartu rekam medik pasien yang datang untuk pencabutan gigi dengan kontraindikasi di RSGM Unsrat tahun 2014. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling. Besar sampel pada penelitian ini setelah melihat kriteria inklusi dan ekslusi menjadi 136 kartu rekam medik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan pencabutan gigi yang tercatat pada kartu rekam medik umum dan bagian bedah mulut di RSGM Unsrat pada tahun 2014 berjumlah 576 pasien. Pasien yang datang tanpa adanya kontraindikasi berjumlah 440 orang (76,39%), sedangkan yang datang dengan adanya kontraindikasi berjumlah 136 orang (23,61%). Kontraindikasi hipertensi dengan persentase tertinggi pada laki-laki sebesar 10,56%,  dan perempuan sebesar24,22%. Persentase kontraindikasi asma tertinggi pada kelompok umur 0-11 sebesar 3,11%, dan 12-25 tahun sebesar 7,45%. Persentase kontraindikasi hipertensi tertinggi pada kelompok umur 26-45 tahun sebesar 8,07%, dan 46-65 tahun sebesar 14,29%. Kontraindikasi fisiologis tertinggi yaitu usia lanjut dengan persentase 10,56%. Kontraindikasi pencabutan gigi tertinggi di RSGM Unsrat tahun 2014 yaitu hipertensi (34,78%), kemudian diikuti oleh asma (19,88%), diabetes mellitus (10,56%), usia lanjut (10,56%), dan penyakit jantung (7,45%).   Kata Kunci: Pencabutan Gigi, Kontraindikas

    HUBUNGAN FAKTOR RISIKO UMUR, JENIS KELAMIN DAN KEPADATAN HUNIAN DENGAN KEJADIAN PENYAKIT TB PARU DI DESA WORI KECAMATAN WORI

    Get PDF
    Tuberkulosis (TB) ialah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Determinan penyakit TB paru adalah kependudukan dan faktor lingkungan. Kependudukan meliputi jenis kelamin, umur. Sedangkan faktor lingkungan meliputi kepadatan hunian. Di Kecamatan Wori kasus TB terbanyak pada terdapat di Desa Wori selama tahun 2012 dan 2014 sebanyak 12 kasus di tahun 2012 dan 5 kasus (Januari - Agustus) di tahun 2014. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan faktor risiko umur, jenis kelamin dan kepadatan hunian dengan kejadian penyakit TB di Desa Wori Kecamatan Wori. Jenis Penelitian ini menggunakan studi deskriptif analitik dengan metode cross sectional. Sampel Penelitian sebanyak 97 responden. Analisis Data dilakukan dengan uji chi square untuk mengetahui deskripsi dan hubungan faktor resiko dengan kejadian tuberculosis paru. Hasil analisis bivariat yang terbukti berhubungan dengan kejadian tuberkulosis paru adalah; umur (p = 0,012) dan jenis kelamin  (p = 0,000). Dari keseluruhan hasil penelitian bahwa faktor resiko yang di teliti yang berhubungan dengan kejadian tuberkulosis paru adalah umur dan jenis kelamin Kata Kunci: Faktor resiko, TB paru, umur, jenis kelamin

    GAMBARAN PENGETAHUAN TENAGA KESEHATAN TENTANG DIABETES MELITUS DI PUSKESMAS KOTA MANADO

    Get PDF
    Diabetes melitus memberikan dampak terhadap kualitas hidup manusia, semua pihak terutama tenaga kesehatan wajib memiliki pengetahuan dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umur, jenis kelamin, pengetahuan tenaga kesehatan tentang kadar normal glukosa darah puasa, 2 tipe diabetes melitus, penyebab, faktor resiko, gejala-gejala, dan pencegahan diabetes melitus. Penelitian ini bersifat deskriptif. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 75 orang tenaga kesehatan. Data di kumpulkan melalui kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan umur responden sebagian besar 25-36 tahun sebanyak 42 responden (54,7%), jenis kelamin sebagian besar perempuan sebanyak 67 responden (89,3%), sebanyak 100% responden mengetahui tentang kadar normal pemeriksaan glukosa darah puasa, sebanyak 96% responden mengetahui tentang 2 tipe diabetes melitus, sebanyak 97,3% responden mengetahui tentang penyebab diabetes melitus, sebanyak 97,3% responden mengetahui tentang faktor resiko diabetes melitus, sebanyak 98,7% responden mengetahui tentang gejala-gejala diabetes melitus, sebanyak 97,3% responden mengetahui tentang pencegahan diabetes melitus. Tenaga kesehatan diharapkan dapat mencegah dan mengurangi kejadian diabetes melitus di masyarakat. Kata Kunci: tenaga kesehatan, diabetes melitus, pengetahuan

    Hubungan Kontak Serumah, Luas Ventilasi, dan Suhu Ruangan dengan Kejadian Tuberkulosis Paru di Desa Wori

    Get PDF
    Sampai saat ini tuberkulosis (TB) paru masih merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Upaya –upaya dalam mengeliminasi  kasus tuberkulosis paru di Indonesia masih mengalami banyak kendala. Faktor lingkungan sangat mempengaruhi tingginya prevalensi tuberkulosis paru. Dari 33 propinsi di Indonesia prevalensi tuberkulosis paru tertinggi berasal dari 3 propinsi yaitu DKI Jakarta, Banten, dan Sulawesi Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan  antara kontak serumah dan faktor lingkungan fisik rumah dengan kejadian tuberkulosis paru di wilayah kerja puskesmas Wori. Penelitian ini merupakan penelitian  cross sectional dengan variabel bebas yang diteliti ialah kontak serumah, luas ventilasi, dan suhu ruangan. Analisis dengan mengunakan uji chi square menunjukan bahwa ada hubungan kontak serumah dengan kejadian tuberkulosis paru dengan nilai p=0,016, sedangkan variabel luas ventilasi p=0,278 dan suhu ruangan  p=0,677 menunjukan tidak ada hubungan dengan kejadian tuberkulosis paru di desa Wori

    0

    full texts

    0

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JURNAL KEDOKTERAN KOMUNITAS DAN TROPIK
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇