JURNAL KEDOKTERAN KOMUNITAS DAN TROPIK
Not a member yet
198 research outputs found
Sort by
Hubungan antara ketepatan waktu pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur
Background: Inadequate nutritional status in toddlers is one of the serious challenges in the effort to achieve sustainable development goals in many countries, including Indonesia. Data from Riskesdas revealed the prevalence of toddlers aged 0-59 months based on the BB/U index in 2018 in North Sulawesi Province, there were 4.21% cases of malnutrition and 11.23% cases of undernutrition. In addition, based on the TB/U index, 9.77% of toddlers experience significant growth delays and 15.69% have short height. Based on the BB/TB index, 2.86% of toddlers are categorized as very thin and 6.67% are underweight.
Aim: To determine the relationship between complementary feeding (MP-ASI) and the nutritional status of toddlers in East Bolaaang Mongondow District.
Methods: This study is an analytical survey research using secondary data from the 2021 Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI) data.
Results: Analysis using chi-square statistical test based on BB/U value p=0.758, TB/U value p=1.00, and BB/TB value p=1.00.
Conclusion: There is no relationship between MP-ASI and nutritional status based on BB/U, TB/U, and BB/TB.
Keywords: complementary feeding, nutritional status, toddler.Latar belakang: Status gizi yang tidak memadai pada balita merupakan salah satu tantangan serius dalam upaya mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan di banyak negara, termasuk Indonesia. Data dari Riskesdas mengungkapkan prevalensi balita usia 0-59 bulan berdasarkan indeks BB/U tahun 2018 di Provinsi Sulawesi Utara, terdapat 4,21% kasus gizi buruk dan 11,23% kasus gizi kurang. Selain itu, berdasarkan indeks TB/U, 9,77% balita mengalami keterlambatan pertumbuhan yang signifikan dan 15,69% balita memiliki tinggi badan pendek. Berdasarkan indeks BB/TB, 2,86% balita dikategorikan sebagai sangat kurus dan 6,67% mengalami kondisi kurus.
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara makanan pendamping ASI (MP-ASI) dengan status gizi balita di Kabupatan Bolaaang Mongondow Timur.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian survei analitik dengan menggunakan data sekunder dari data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021.
Hasil: Analisis dengan menggunakan uji statistik chi-square berdasarkan BB/U nilai p=0,758, TB/U nilai p=1,00, dan BB/TB nilai p=1,00.
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara makanan pendamping ASI dengan status gizi berdasarkan BB/U, TB/U, dan BB/TB.
Kata kunci: makanan pendamping asi, status gizi, balita
Hubungan antara loneliness dengan durasi penggunaan media sosial pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi angkatan 2021
Background: The occurrence of loneliness is very prominent for adolescents as their desire to feel socially accepted and belonged is very strong during the process of growth and development. Loneliness itself is a prominent aspect of the life course principle of interconnectedness. This relates to how adolescents perceive the quality of their relationships, i.e. how their lives are connected to others and how this affects mental and physical well-being. Research results on mood elevation claim that people with negative emotional states tend to seek solace online through social media. Over a span of 6 years, the number of teens with smartphone use grew from 4 in 10 teens to 9 in 10 teens. In the same time span, the percentage of teens using social media doubled from 34% to 70%.
Methods: This study is an observational analytic with a cross-sectional approach, applying the total sampling method. The sample was drawn through the distribution of questionnaires using Google form links during September-October 2023. Analysis of the correlation used the Spearman Rank test.
Results: This study involved 276 student participations. There is a correlation between loneliness and the duration of social media use among 2021 students of the Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University. The results show that the relationship between the two variables has a sufficient level of strength, a coefficient value of 0.354 and a positive correlation direction (p <0.001).
Conclusion: The level of loneliness has a positive relationship with the duration of social media use in students of the Faculty of Medicine Sam Ratulangi University, class of 2021.
Keywords: loneliness, duration of social media use, medical studentsLatar Belakang: Terjadinya kesepian sangat menonjol bagi remaja karena keinginan mereka untuk merasa diterima secara sosial dan menjadi bagian yang sangat kuat selama proses pertumbuhan dan perkembangan. Kesepian itu sendiri merupakan aspek yang menonjol dari prinsip jalan hidup dari kehidupan yang saling terhubung. Hal ini berkaitan dengan cara pandang remaja terhadap kualitas hubungan mereka, yaitu bagaimana hidup mereka terhubung dengan orang lain dan tentunya ini mempengaruhi kesejahteraan mental dan fisik. Hasil penelitian tentang peningkatan suasana hati mengklaim bahwa orang-orang dengan keadaan emosi negatif cenderung mencari hiburan di dunia maya melalui media sosial. Selama rentang waktu 6 tahun, jumlah remaja dengan penggunaan smartphone tumbuh dari 4 dari 10 remaja menjadi 9 dari 10 remaja. Dalam rentang waktu yang sama, persentase remaja yang menggunakan media sosial meningkat dua kali lipat dari 34% menjadi 70%.
Metode: Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional, menerapkan metode total sampling. Penarikan sampel melalui distribusi kuesioner menggunakan tautan formulir Google selama bulan September-Oktober 2023. Analisis korelasi menggunakan uji Rank Spearman.
Hasil: Penelitian ini melibatkan 276 mahasiswa sebagai peserta. Penelitian. Terdapat korelasi antara loneliness dengan durasi penggunaan media sosial pada mahasiswa angkatan 2021 di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa hubungan antara kedua variabel tersebut memiliki tingkat kekuatan yang cukup, nilai koefisien sebesar 0,354 dan arah korelasi yang positif (p<0,001).
Kesimpulan: Tingkat loneliness (kesepian) memiliki hubungan positif dengan durasi penggunaan media sosial pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi angkatan 2021.
Kata Kunci: loneliness, durasi penggunaan media sosial, mahasiswa kedoktera
Hubungan antara pengetahuan sikap dan tindakan dengan kesadaran bencana pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi
Background: Indonesia is one of the most disaster-prone countries in the world. Indonesia has a high potential for disasters so it is important that people have the right knowledge, attitudes and actions in dealing with disaster awareness that can occur at any time which has a serious impact, especially in public health issues, for example the number of fatalities, serious injuries, psychiatric trauma, increased risk of infectious diseases.
Aim: To determine the relationship between knowledge, attitudes, and actions with disaster awareness in students of the Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University.
Methods: The type of research used is quantitative with an observational analytic approach with a cross-sectional design. The sampling technique used simple random sampling and the research instrument used was a questionnaire.
Results: This study included as many as 206 respondents. The results showed that most students of the Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University had moderate knowledge with disaster awareness as much as 58.7%, high attitudes with disaster awareness as much as 67.0%, and moderate actions with disaster awareness as much as 52.4%.
Conclusion: There is no relationship between knowledge and action and disaster awareness in the Faculty of Medicine of Sam Ratulangi University students, and there is a relationship between attitude and disaster awareness in the students.
Keywords: disaster awareness, knowledge, attitude, actionsLatar belakang: Indonesia merupakan salah satu negara yang paling rawan bencana di dunia. Indonesia memiliki potensi yang tinggi terhadap bencana sehingga pentingnya masyarakat memiliki pengetahuan, sikap, dan tindakan yang tepat dalam menghadapi kesadaran bencana yang bisa terjadi kapan saja yang memiliki dampak serius terutama dalam masalah kesehatan masyarakat Contohnya banyaknya korban jiwa, luka berat, trauma kejiwaan, meningkatnya risiko penyakit menular.
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan, sikap, dan tindakan dengan kesadaran bencana pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi.
Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan analitik observasional dengan desain potong lintang. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling dan Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner.
Hasil: Penelitian ini yang ikut berpartisipasi sebanyak 206 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi sebagian besar mahasiswa memiliki pengetahuan sedang dengan kesadaran bencana sebanyak 58,7%, sikap yang tinggi dengan kesadaran bencana sebanyak 67,0%, dan tindakan sedang dengan kesadaran bencana sebanyak 52,4%.
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dan tindakan dengan kesadaran bencana pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, sedangkan antara sikap dengan kesadaran bencana pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi terdapat hubungan.
Kata kunci: kesadaran bencana, pengetahuan, sikap, tindakan
Identifikasi genus nyamuk dewasa yang ditangkap pada malam hari di Kelurahan Bailang Kecamatan Bunaken Kota Manado
Background: Three mosquito genera commonly encountered are Anopheles, Aedes, and Culex. Each plays a role as vectors for malaria, dengue fever, and lymphatic filariasis, respectively. Data from the North Sulawesi Health Office report Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) cases in the Kelurahan Bailang in 2022 amounted to 13 cases, and in 2023, there were 11 cases. Meanwhile, malaria cases recorded in the Kelurahan Bailang in 2022 totaled 6 cases.
Aim: to determine the population and identify the genera of adult mosquitoes captured during the night in Kelurahan Bailang Kecamatan Bunaken Kota Manado.
Methods: This research employs descriptive survey and sweeping as its catching methods, using nets and aspirators to catch mosquitoes. The catching takes place at night, between 19:00 until 01:00 Central Indonesia Time (WITA), conducted in six environments. It is carried out at two points within each environment, both indoors and outdoors. The mosquitoes that were caught then were identified under microscope and using an identification key from the Departemen Kesehatan Republik Indonesia at the Parasitology Laboratory, Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University.
Result: There were 103 adult mosquitoes identified in this study. The most predominant genus was Culex spp, comprising 102 mosquitoes (99%), followed by Aedes mosquitoes with only 1 specimen (1%). Meanwhile, Anopheles spp was unknown. Male mosquitoes were predominantly, and the most genus of adult mosquitoes found outdoors are 52 mosquitoes with the most found in environments 2 and the majority of adult mosquitoes of different genera were found outdoors.
Conclusion: The most dominant mosquitoes caught were Culex spp mosquitoes, while Anopheles spp was unknown.
Keywords: genus, adult mosquito, vector, Bailang of Manado CityLatar Belakang: Tiga genus nyamuk yang paling sering dijumpai antara lain nyamuk Anopheles, Aedes, dan Culex masing-masing berperan sebagai vektor nyamuk penyakit malaria, demam berdarah, dan filiriasis limfatik. Data dari Dinas Kesehatan Sulawesi Utara melaporkan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Bailang pada tahun 2022 sebanyak 13 kasus DBD dan pada tahun 2023 sebanyak 11 kasus, sedangkan kasus malaria yang tercatat di Kelurahan Bailang tahun 2022 sebanyak 6 kasus malaria.
Tujuan: Untuk mengetahui populasi dan mengidentifikasi genus nyamuk dewasa yang ditangkap pada malam hari di Kelurahan Bailang Kecamatan Bunaken Kota Manado.
Metode: Penelitian ini menggunakan survei deskriptif dan sweeping sebagai metode penangkapannya dengan menggunakan jaring serta aspirator untuk menangkap nyamuk. Waktu penangkapan adalah malam hari pada rentang waktu 19.00-01.00 WITA dan dilaksanakan pada enam lingkungan, dilakukan di dua titik pada masing-masing lingkungan, baik di dalam maupun di luar ruangan.
Hasil: Hasil penelitian menunujukkan nyamuk yang berhasil ditangkap kemudian diidentifikasi di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Nyamuk dewasa yang tertangkap sebanyak 103 nyamuk kemudian diidentifikasi. Genus terbanyak adalah nyamuk Culex spp dengan jumlah 102 nyamuk (99%) dan nyamuk Aedes dengan jumlah 1 nyamuk (1%), sedangkan nyamuk Anopheles spp tidak ditemukan. Nyamuk yang tertangkap didominasi nyamuk jenis kelamin jantan dan genus nyamuk dewasa terbanyak didapati di luar ruangan sebanyak 52 nyamuk dengan terbanyak ditemukan di lingkungan 2.
Kesimpulan: Nyamuk yang paling dominan tertangkap adalah nyamuk Culex spp sedangkan nyamuk Anopheles spp tidak ditemukan.
Kata Kunci: genus, nyamuk dewasa, vektor, Kelurahan Bailang Kota Manad
Hubungan skor controlled attenuation parameter, nilai transient elastography, dan skor fibrosis-4 dengan nilai estimasi laju filtrasi glomerulus pada pasien non alcoholic fatty liver disease
Background: Non-Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD) is one of the most common chronic liver diseases and has become a health burden throughout the world over the last two decades. Hypertension, dyslipidemia, obesity, and insulin resistance are considered risk factors for PGK that overlap with the metabolic comorbidity of NAFLD. Several studies reported that the prevalence and risk of PGK events increased significantly in NAFLD patients compared with patients without NAFLD.
Aim: To determine the relationship between controlled attenuation parameter scores, transient elastography, and FIB-4 scores with eGFR values in NAFLD patients.
Methods: This was an analytical study with a retrospective approach and used a cross-sectional design. The subjects were taken using consecutive sampling technique. Data collection on CAP scores, TE scores, FIB-4 scores, and eGFR was carried out by looking at the patients' medical records. In this study, the Pearson correlation statistical test was used.
Result: Correlation test results between CAP scores and eGFR showed a significant positive correlation (r=0.296; p=0.031), between TE scores and eGFR showed a non-significant positive correlation (r=-0.093; p=0.509), and FIB-4 score with eGFR showed a significant negative correlation (r=-0.281; p=0.042).
Conclusion: There is a significant positive correlation between the CAP score and eLFG, a non-significant positive correlation between the TE score and eGFR, and a significant negative correlation between the FIB-4 score and eGFR.
Keywords: CAP score, TE score, FIB-4 score, eGFRLatar Belakang: Non Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD) adalah salah satu penyakit hati kronik yang paling umum dan telah menjadi beban kesehatan di seluruh dunia selama dua dekade terakhir. Hipertensi, dislipidemia, obesitas, dan resistensi insulin dianggap sebagai faktor risiko PGK yang tumpang tindih dengan komorbiditas metabolik NAFLD. Beberapa penelitian melaporkan bahwa prevalensi dan risiko kejadian PGK meningkat secara signifikan pada pasien NAFLD dibandingkan dengan pasien tanpa NAFLD.
Tujuan: untuk untuk mengetahui untuk mengetahui hubungan antara skor controlled attenuation parameter, transient elastography, dan skor FIB-4 dengan nilai eLFG pada pasien NAFLD.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan retrospektif serta menggunakan desain potong lintang. Subjek penelitian ini sebesar 53 responden yang diambil dengan teknik consecutive sampling. Pengambilan data skor CAP, skor TE, skor FIB-4, dan eLFG dilakukan dengan melihat rekam medik pasien. Pada penelitian ini menggunakan uji statistik korelasi Pearson.
Hasil: Hasil uji korelasi antara skor CAP dengan eLFG menunjukkan korelasi positif bermakna (r=0,296; p=0,031), hasil uji korelasi skor TE dengan eLFG menunjukkan korelasi positif tidak bermakna (r=-0,093; p=0,509), dan hasil uji korelasi skor FIB-4 dengan eLFG menunjukkan korelasi negatif bermakna (r=-0,281; p=0,042).
Kesimpulan: Terdapat korelasi positif yang bermakna antara skor CAP dengan eLFG, korelasi positif tidak bermakna antara skor TE dengan eLFG, dan korelasi negatif yang bermakna antara skor FIB-4 dengan eLFG.
Kata Kunci: skor CAP, skor TE, skor FIB-4, eLF
Gambaran pasien mola hidatidosa di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou periode Januari 2020 sampai Desember 2022
Background: Hydatidiform mole is a pathological pregnancy characterised by abnormal trophoblastic development, hindering foetal growth. This condition requires a better understanding of enhancing healthcare quality.
Aim: To describe the profile of hydatidiform mole patients at Prof. Dr. R.D Kandou General Hospital, Manado, from January 2020 to December 2022.
Methods: A quantitative descriptive study with a cross-sectional design was conducted, analysing data from 71 patients.
Results: The most common age range was 20-35 years. In terms of parity, 42 patients were multiparous. Of the patients’ highest education level, 40 people had a senior high school level of education. There were 46 patients with haemoglobin levels of more than 11 g/dL. Vaginal bleeding was the most common symptom, which occurred in 48 patients.
Conclusion: This study indicates hydatidiform mole predominantly affects women aged 20-35, multiparous, and with senior high school education, furthermore, vaginal bleeding is the most common symptom. These findings can improve awareness and healthcare quality for hydatidiform mole patients.
Keywords: hydatidiform moleLatar Belakang: Mola hidatidosa adalah kehamilan patologis yang ditandai dengan perkembangan trofoblas tidak normal, menghambat perkembangan janin. Penyakit ini memerlukan pemahaman yang lebih baik untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
Tujuan: Untuk menggambarkan profil pasien mola hidatidosa di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado periode Januari 2020-Desember 2022.
Metode: Ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional dan menggunakan data dari 71 ibu pasien mola hidatidosa di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado.
Hasil: Usia pasien terbanyak: 20-35 tahun (mayoritas). Paritas: 42 ibu dengan paritas multipara. Pendidikan terakhir: 40 orang (SMA). Kadar Hb: 46 ibu (>11 g/dl). Gejala terbanyak: perdarahan pervaginam (48 orang).
Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa mola hidatidosa banyak terjadi pada ibu berusia 20-35 tahun dengan paritas multipara dan pendidikan SMA, sedangkan perdarahan pervaginam adalah gejala yang paling umum. Hasil ini dapat membantu meningkatkan kesadaran dan kualitas pelayanan kesehatan bagi pasien mola hidatidosa.
Kata Kunci: mola hidatidos
Uji validitas dan reliabilitas instrumen penelitian: Kuesioner pola makan pada penderita gout arthritis
Background: Globally, the prevalence of gouty arthritis has doubled from 1990 to 2020, with the total of number cases 55,8 million in 2020. There is no Indonesian national data, yet, studies in some regions noted the cases, in North Sulawesi, in Depok, and in Bali. Prevention of gouty arthritis involves a healthy diet and lifestyle. Knowing the knowledge, attitudes, and practice about diet in people with gouty arthritis can help health institutions plan more appropriate interventions to prevent an increase in cases. To assess this, a valid and reliable instrument to measurement is needed.
Aim: To test validity and reliability of a questionnaire of knowledge, attitudes, and practice towards to diet in people with gouty arthritis.
Methods: This study is a descriptive study with a quantitative approach involving 13 respondents, patients in Manado City Health Center selected using purposive sampling method. Validity was assessed using r-count obtained through bivariate Pearson which was compared with r-table. Reliability was assessed through Cronbach's alpha coefficient.
Results: The validity test using bivariate Pearson was valid for 9 statement in knowledge and attitudes section, and 8 statement in practice section of the questionnaire, with r-count>r-table, and the reliability test using Cronbach's alpha with values on knowledge, attitudes, and actions of 0.906, 0.924, and 0.864, ≥0.7, respectively.
Conclusion: 26 out of 30 valid and reliable questions can be used to measure the level of knowledge, attitudes, and practice in people with gouty arthritis.
Keywords: gouty arthritis, questionnaire, validity, reliabilityLatar belakang: Secara global, prevalensi gout arthritis meningkat dua kali lipat dari 1990 hingga 2020, dengan jumlah kasus mencapai 55,8 juta pada 2020. Data nasional Indonesia belum tersedia, namun penelitian di beberapa wilayah mencatat kasus gout arthritis, seperti di Sulawesi Utara, di Depok, dan di Bali. Pencegahan gout arthritis melibatkan pola makan dan gaya hidup sehat. Mengetahui gambaran pengetahuan, sikap, dan tindakan terkait pola makan pada penderita gout arthritis dapat membantu lembaga kesehatan merencanakan intervensi lebih tepat guna mencegah peningkatan kasus. Untuk menilainya, diperlukan alat ukur yang valid dan reliabel.
Tujuan: Menguji validitas dan reliabilitas kuesioner terkait pengetahuan, sikap, dan tindakan mengenai pola makan pada penderita gout arthritis.
Metode: Penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif yang melibatkan 13 pasien di Puskesmas Kota Manado yang dipilih menggunakan metode purposive sampling. Validitas dinilai menggunakan rhitung yang didapat melalui bivariate Pearson yang dibandingkan dengan rtabel. Reliabilitas dinilai melalui koefisien Cronbach’s alpha.
Hasil: Uji validitas menggunakan Bivariate Pearson dinyatakan valid untuk semua item pernyataan pada semua bagian kuesioner, dengan rhitung > rtabel, dan uji reliabilitas menggunakan Cronbach’s alpha dengan nilai pada pengetahuan, sikap, dan tindakan berturut-turut 0,906, 0,924, dan 0,864 ³ 0,7.
Kesimpulan: 26 dari 30 pertanyaan yang valid dan reliabel dapat digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan pada terutama penderita gout arthritis.
Kata kunci: gout arthritis, kuesioner, validitas, reliabilita
Prevalensi skabies pada santri laki-laki Pondok Pesantren Darul Istiqamah Manado tahun 2023
Background: Scabies is a dermatological issue caused by the parasitic mite Sarcoptes scabiei var. hominis. The occurrence of scabies tends to easily spread, both directly through skin-to-skin contact and indirectly through shared objects. Scabies infections commonly occur in individuals residing in communal settings, such as dormitories and boarding schools.
Aim: The aim of this research is to depict the magnitude and prevalence rate among male students at Pondok Pesantren Darul Istiqamah.
Methods: Conducted as a descriptive survey employing the cross-sectional method, this research quantifies the prevalence of scabies among male students at Pondok Pesantren Darul Istiqamah during the period from October to November 2023. The diagnostic process is based on four cardinal signs, with confirmation through laboratory tests.
Results: All male students (75 students) were selected as research subjects based on inclusion criteria. The research findings indicate that 56% or 42 out of 75 sampled students had scabies infections.
Conclusion: The conclusion drawn from this study is that the prevalence of scabies among students at Pondok Pesantren Darul Istiqamah is notably high.
Keywords: prevalence of scabies, scabies, Sarcoptes scabiei, Islamic boarding schoolLatar Belakang: Skabies merupakan permasalahan kulit yang disebabkan oleh parasit Sarcoptes scabiei var. hominis. Kejadian skabies cenderung mudah menyebar, baik secara langsung melalui kontak kulit-ke-kulit maupun tidak langsung melalui benda-benda yang digunakan bersama. Infeksi skabies umumnya terjadi pada individu yang tinggal dalam kelompok, seperti asrama dan pesantren.
Tujuan: Untuk menggambarkan besaran angka dan tingkat prevalensi pada santri laki-laki Pondok Pesantren Darul Istiqamah.
Metode: Merupakan survei deskriptif menggunakan metode cross-sectional, penelitian ini mengukur tingkat prevalensi skabies pada santri laki-laki di Pondok Pesantren Darul Istiqamah dari Bulan Oktober-November 2023. Proses diagnosis didasarkan pada empat tanda kardinal, dan konfirmasi dilakukan melalui uji laboratorium yang menunjukkan keberadaan S. scabiei.
Hasil: Terdapat 75 santri yang menjadi sebagai subjek penelitian sesuai dengan kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 56% atau 42 dari 75 santri yang menjadi sampel mengalami infeksi skabies.
Kesimpulan: prevalensi skabies pada santri di Pondok Pesantren Darul Istiqamah tergolong tinggi.
Kata Kunci: prevalensi skabies, skabies, Sarcoptes scabiei, pesantre
Gambaran tingkat kecemasan orang tua dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan penanganannya di UPTD PSBK Provinsi Sulawesi Tenggara
According to 2021 data, the number of Indonesia children with autism has increased to 2.4 million. Government established the UPTD Autism Service Centre (PLA) which handle early age autism therapy, which later changed to UPTD for Handling Children with Special Needs (PSBK) which broaden to early age children with special needs. However, the long therapy period (6 months to 5 years), limited therapist staff, and limited equipment creating a long queue therapy service, has caused anxiety among parents of Children with Special Needs (ABK).
This was a descriptive quantitative method research with univariate data analysis techniques, with univariable: "anxiety". We used observation, interview and documentation techniques to collect data. The primary subjects were parents of ABK at UPTD PSBK Southeast Sulawesi Province. Secondary data is obtained from library materials, literature, previous research, books, journals, and so on. We described the processed data by using tabulation..
The research showed that the anxiety of the parents was predominantly at a moderate level of anxiety, namely 47%. Moderate levels of anxiety tend to make individuals selective and alert. From the results of this research, researchers provide suggestions for parents to manage their stress so that it does not cause anxiety which can have a negative impact on parents, children and family/relatives around them. The UPTD institution for Handling Special Needs Students (PSBK) of Southeast Sulawesi Province may consider to increase the number and the quality of the therapists. This may help in shortening the duration of queuing, having more hours of therapy and making better performance institution.
Keywords: anxiety, parents, children with special deeds, UPTD PSBKMenurut data pada tahun 2021, jumlah penderita anak autisme di Indonesia naik drastis hingga mencapai 2,4 juta. Maka Pemerintah mendirikan lembaga UPTD Pusat Layanan Autis (PLA) untuk penanganan terapi Autis sejak usia dini yang kemudian berubah menjadi UPTD Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus (PSBK) yang bertugas penanganan Anak Berkebutuhan Khusus sejak usia dini. Namun, masa terapi yang lama ( 6 bulan sampai 5 tahun), tenaga terapis yang terbatas, peralatan yang terbatas menimbulkan panjangnya antrian dalam pelayanan terapi telah mengakibatkan kecemasan pada orang tua Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan teknik analisis data univariat dengan satu variabel yaitu “kecemasan”. Pengumpulan data dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian primer adalah orang tua Anak Berkebutuhan Khusus di UPTD PSBK Provinsi Sulawesi Tenggara. Data sekunder diperoleh dari bahan pustaka, literatur, penelitian terdahulu, buku, jurnal dan lain sebagainya. Data yang telah diolah kemudian dideskripsikan dengan gambaran melalui tabulasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecemasan orang tua ABK di UPTD PSBK Provinsi Sulawesi Tenggara dominan berada pada tingkat kecemasan sedang yaitu sebsar 47%. Tingkat kecemasan sedang cenderung membuat individu menjadi selektif dan waspada. Dari hasil penelitian tersebut peneliti memberikan saran agar orang tua dapat mengelola stress yang dimiliki sehingga tidak menimbulkan kecemasan yang dapat memberikan dampak buruk bagi orang tua, anak, maupun keluarga/kerabat disekitarnya. Lembaga UPTD PSBK Provinsi Sulawesi Tenggara dapat mempertimbangkan peningkatan jumlah dan kualitas terapis. Hal ini dapat membantu orang tua mendapat durasi antrian lebih singkat, anak mendapatkan jumlah jam terapi yang lebih banyak, dan lembaga memiliki kinerja yang lebih baik.
Kata Kunci: kecemasan, orang tua, anak berkebutuhan khusus, UPTD PSBK
Dokter lima bintang untuk kesehatan mental remaja: Peran dokter keluarga
Adolescence, from 10 years to 24 years, is the transitional stage when a child becomes an adult. This is a critical stage that affects the quality of life and adulthood. Family doctors, the first point of contact for healthcare services, play an important role in ensuring the growth and development of adolescents' lives. Family doctors have an advantage in supporting adolescent mental health, because of their comprehensive knowledge regarding patients and their families as well as their relationship with society or the community. The role of family doctors is discussed in the five star doctor concept.Remaja, dari 10 tahun hingga 24 tahun, adalah tahap peralihan ketika seorang anak menjadi seorang dewasa. Ini adalah tahap kritis yang mempengaruhi kualitas hidup dan kehidupan masa dewasa. Dokter keluarga, kontak pertama layanan kesehatan, berperan penting untuk memastikan tumbuh kembang kehidupan remaja. Dokter keluarga memiliki keunggulan untuk mendukung kesehatan mental remaja dikarenakan pengetahuan mereka yang menyeluruh berhubungan dengan pasien dan keluarganya serta hubungannya dengan masyarakat atau komunitas. Peranan dokter keluarga didiskusikan dalam konsep dokter bintang lima