Jurnal Akuakultur Indonesia
Not a member yet
582 research outputs found
Sort by
Vannamei shrimp Litopenaeus vannamei mortality correlation with water quality dynamics and blue-green algae in earthen pond
Mortality represents a significant challenge in enhancing productivity in intensive vannamei shrimp (Litopenaeus vannamei) farming systems. In ponds with soil bottoms, shrimp mortality is often caused by poor water quality, influenced by fluctuations in physicochemical parameters and changes in phytoplankton communities. This study aims to analyze the correlation between water quality, phytoplankton succession, and shrimp mortality. Pond water samples (E9, E10, F9, F10, and F11) were collected periodically to measure key physicochemical parameters, such as temperature, pH, dissolved oxygen (DO), ammonia (NH3), total ammonia nitrogen (TAN), and nitrite (NO2), as well as the abundance and dominance of phytoplankton. The results showed that shrimp mortality positively correlated with plankton abundance (0.57) and the presence of Blue-green Algae (0.43) in the water. Further, descriptively, shrimp mortality followed a similar pattern across several observation ponds, with deaths occurring after the decline or disappearance of Blue-green algae from previous observations. The water quality parameters that correlated with plankton abundance and blue-green algae dominance included TAN, BOD, and turbidity. The transformation in phytoplankton dominance to Blue-green algae can increase BOD levels and produce toxic compounds upon lysis, which may disrupt physiology and lead to shrimp mortality. These results underscore the importance of water quality management and phytoplankton monitoring to reduce vannamei shrimp mortality.
Keywords: Blue-green algae, correlation, earthen pond, Vaname shrimp, water quality
Abstrak
Kematian merupakan tantangan dalam meningkatkan produktivitas pada kegiatan budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei) dengan sistem intensif. Pada kolam budidaya dengan dasar kolam tanah sering kali kematian udang disebabkan oleh kualitas air yang buruk, yang dipengaruhi oleh fluktuasi parameter fisikokimia dan perubahan komunitas fitoplankton. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara kualitas air, suksesi fitoplankton, dan mortalitas Litopenaeus vannamei. Sampel air kolam budidaya (E9, E10, F9, F10 dan F11) diambil secara berkala untuk mengukur parameter fisikokimia utama, seperti suhu, pH, DO, amonia (NH3), TAN dan nitrit (NO2), serta kelimpahan dan dominansi fitoplankton. Hasil penelitian menunjukkan mortalitas udang memiliki nilai korelasi positif dengan kelimpahan pankton (0,57) dan Blue-green Algae (0,43) yang ada pada perairan. Selain itu secara deskriptif kematian udang memiliki pola yang sama pada beberapa kolam pengamatan dimana kematian terjadi setelah terjadinya kematian atau berkurangnya kelimpahan Blue-green Algae dari pengamatan sebelumnya. parameter kualitas air yang memiliki nilai korelasi terhadap kelimpahan plankton dan dominasi Blue-green Algae yaitu TAN, BOD dan Kecerahan. Pergeseran dominansi fitoplankton ke Blue-green algae dapat meningkatkan BOD dan menghasilkan senyawa toksik ketika lisis yang dapat mengganggu fisiologi hingga menyebabkan kematian udang. Temuan ini menekankan pentingnya pengelolaan kualitas air dan pemantauan fitoplankton untuk mengurangi mortalitas udang vaname.
Kata kunci: blue-green algae, korelasi, kolam tanah, kualitas air, udang vanam
Maggot and probiotic feed supplementation on growth performance and intestinal microbiota in Anguilla bicolor bicolor
The purpose of this study was to determine the effectiveness of probiotic and maggot flour supplementation on production performance, water quality, and eel gut microbiota. There were five treatment groups of maggot flour doses (0, 25, 50, 75, and 100%) each with three replications. The eel seeds used were three months old (average weight 6.11 ± 4.28 g, average length 14.3 ± 3.22 cm) as many as 15 fish/aquarium which were fed until full twice a day for 60 days. Growth performance measurements were carried out every two weeks and at the end of the study, survival rate, feed digestibility, water quality, and the abundance of water and eel gut bacteria. The growth rate of group P1 (0% maggot flour) of 1.222 ± 0.662 g/day was significantly higher (P≤0.05) than group P5 (100% maggot flour) of 0.223 ± 0.094 g/day. The best FCR value was shown by treatment P1 of 2.576 ± 0.598. The highest protein digestibility was shown by group P5 at 75.90%, while the lowest protein digestibility was shown by group P1 at 62.41%. Low digestible protein and high fecal protein were shown by group P5 of 15.15% and 28.77%, respectively. The abundance of bacteria in the Bacillus sp. and Lactobacillus sp. groups dominated in groups P2 and P5. Based on the research results, it can be concluded that the use of commercial probiotics and 100% dose of maggot flour is not yet effective in improving growth performance, but can increase the abundance of good bacteria in the intestines of eels.
Keywords: Anguilla bicolor, growth parameters, gut microbiota, maggot flour, probiotic
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas suplementasi probiotik dan tepung maggot terhadap performa produksi, kualitas air, dan mikrobiota usus sidat. Terdapat lima kelompok perlakuan dosis tepung maggot (0, 25, 50, 75, dan 100%) masing-masing dengan tiga kali ulangan. Benih sidat yang digunakan berumur tiga bulan (berat rata-rata 6.11 ± 4.28 g, panjang rata-rata 14.3 ± 3.22 cm) sebanyak 15 ekor/akuarium yang diberi pakan sampai kenyang sebanyak dua kali sehari selama 60 hari. Pengukuran performa pertumbuhan dilakukan setiap dua minggu sekali dan akhir penelitian, tingkat kelangsungan hidup, daya cerna pakan, kualitas air, serta kelimpahan air dan bakteri usus belut. Laju pertumbuhan kelompok P1 (0% tepung maggot) sebesar 1,222 ± 0,662 g/hari lebih tinggi secara signifikan (P≤0,05) dibandingkan kelompok P5 (100% tepung maggot) sebesar 0,223 ± 0,094 g/hari. Nilai FCR terbaik ditunjukkan oleh perlakuan P1 sebesar 2,576 ± 0,598. Daya cerna protein tertinggi ditunjukkan oleh kelompok P5 sebesar 75,90%, sedangkan daya cerna protein terendah ditunjukkan oleh kelompok P1 sebesar 62,41%. Protein cerna rendah dan protein feses tinggi ditunjukkan oleh kelompok P5 masing-masing sebesar 15,15% dan 28,77%. Kelimpahan bakteri pada kelompok Bacillus sp. dan Lactobacillus sp. mendominasi pada kelompok P2 dan P5. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan probiotik komersial dan tepung maggot dosis 100% belum efektif dalam meningkatkan kinerja pertumbuhan, tetapi mampu meningkatkan kelimpahan bakteri baik dalam usus dari ikan sidat.
Kata kunci: Anguilla bicolor, mikrobiota usus, parameter pertumbuhan, probiotik, tepung maggo
The effectiveness of Solanum ferox and Zingiber zerumbet extracts on the survival of Penaeus monodon in different salinity levels of the cultivation media
Decreasing the salinity of the water in the cultivation shrimp disease outbreaks, sluggish development, and mortality. Rainfall, water pollution, and climate change lower salinity. Thus, efforts to enhance tiger shrimp that can survive high salinity changes must be anticipated. This study will examine the effect of adding Solanum ferox and Zingiber zerumbet extracts to diet to improve tiger shrimp adaption at 10, 15, and 20‰ salinities. Penaeus monodon (0.017 ± 0.005 g) were randomly dispersed into nine boxes (1×0.5×0.8 m3) with 200 shrimp per container and three replicates per group. The shrimp were fed 1:1 extract, S. ferox (400 ppm), and Z. zerumbet (200 ppm) for 40 days. The study found that adding 5 mL of extract to the feed significantly increases shrimp body weight, weight gain, and specific growth rate at different salinities (P<0.05). The difference in salinity remained 100% in all treatments on the 40th day of culture (P>0.05). At salinities of 10 and 15‰, the total bacteria and Vibrio bacteria in culture media and shrimp were lower than at 20‰ (P<0.05). Administration of the extract enhances P. monodon adaption at difference salinities. Research suggests that adding 5 mL of a S. ferox and Z. zerumbet extract to shrimp feed improves growth, survival, and reduces bacteria and Vibrio in media and shrimp bodies at salinities of 10-20‰.
Keywords: tiger shrimp, adaptation, salinities, S. ferox, Z. zerumbet
Abstrak
Penurunan salinitas air media budidaya memicu terjadinya penyakit, perkembangan yang lambat, dan kematian pada udang budidaya. Curah hujan, polusi air, dan perubahan iklim menurunkan salinitas. Oleh karena itu, upaya untuk memperkuat ketahanan udang windu yang dapat hidup dari perubahan salinitas tinggi perlu diantisipasi. Studi ini akan menguji pengaruh penambahan ekstrak Solanum ferox dan Zingiber zerumbet ke dalam pakan untuk meningkatkan adaptasi udang windu pada salinitas 10, 15, dan 20‰. Penaeus monodon (0.017 ± 0.005 g) didistribusikan secara acak ke dalam sembilan kotak container (1×0,5×0.8 m3) dengan 200 udang per wadah dan tiga ulangan per kelompok. Udang diberi makan ekstrak gabungan S. ferox (400 ppm), dan Z. zerumbet (200 ppm) perbandingan 1:1, selama 40 hari. Studi ini menghasilkan data, bahwa penambahan 5 mL ekstrak ke pakan secara signifikan meningkatkan berat badan udang, pertambahan berat badan, dan laju pertumbuhan spesifik udang yang dipelihara pada salinitas yang berbeda (P<0.05). Perbedaan salinitas tetap menghasilkan kelangsungan hidup 100% pada semua perlakuan pada hari ke-40 budidaya (P>0.05). Pada salinitas 10 dan 15‰, jumlah bakteri total dan bakteri Vibrio dalam media kultur dan tubuh udang lebih rendah dibandingkan pada salinitas 20‰ (P<0.05). Pemberian ekstrak meningkatkan adaptasi P. monodon pada berbagai salinitas. Penelitian menunjukkan bahwa penambahan 5 mL ekstrak gabungan S. ferox dan Z. zerumbet ke pakan udang meningkatkan pertumbuhan, kelangsungan hidup, dan mengurangi total bakteri serta bakteri Vibrio dalam media dan tubuh udang yang dipelihara pada salinitas 10-20‰.
Kata kunci: udang windu, adaptasi, salinitas, S. ferox, Z. zerumbe
Evaluation of food digestibility in Nile tilapia fish Oreochromis niloticus given NSP enzymes and organic chromiium
Feed is a crucial factor in tilapia farming because it contributes 92% of the total production cost. This study aims to evaluate the digestibility and utilization of carbohydrates in low-protein feed supplemented with NSP enzymes and organic chromium. The research method employed a factorial completely randomized design with treatments of organic chromium (0, 1, 2) and NSP enzymes (0, 1). The study used 18 aquariums, each measuring 50×40×35 cm. The fish used were tilapia with an average weight of 33.09 ± 0.06 g per fish. The feed used was commercial feed supplemented with organic chromium and NSP enzymes. The study focused on digestibility performance, digestive enzyme activity, growth performance, and antioxidant status. The results showed that the treatments E1C1 and E0C2 resulted in better total digestibility, energy digestibility, and protein digestibility compared to the control and other treatments. Lipase, protease, and amylase enzymes in tilapia fed with the E1C1 treatment showed significantly higher results (P<0.05) compared to the control. Growth performance in tilapia fed with NSP enzymes and organic chromium did not show significant differences from the control (P>0.05). However, antioxidant status, specifically SOD and GPx, was significantly higher in the E0C1 treatment compared to the control (P<0.05). The conclusion of this study is that the addition of NSP enzymes and organic chromium to low-protein feed can improve digestibility and optimize carbohydrate utilization, with the best results achieved with the E1C1 treatment.
Keywords: antioxidant, digestive enzymes, Nile tilapia, nutrient digestibility
ABSTRAK
Pakan menjadi factor krusial dalam usaha budidaya ikan nila karena memiliki kontribusi sebesar 92% dari total biaya produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kecernaan dan kemampuanpemanfaatan karbohidrat pada pakan protein rendah yang diberienzim NSP dan kromium organik. Metode penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan perlakuan kromium organic (0,1,2) dan enzim NSP (0,1). Wadah yang digunakan merupakan aquarium yang berukuran 50×40×35 cm sebanyak 18 unit. Ikan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan nila dengan bobot rata-rata 33,09 ± 0,06 g/ekor. Pakan yang digunakan merupakan pakan komersial yang diberi penambahan kromium organik dan enzim NSP. Penelitian ini difokuskan pada kinerja kecernaan, aktivitas enzim pencernaan, kinerja Pertumbuhan serta status Antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan E1C1 dan E0C2 menghasilkan nilai kecernaan total, kecernaan energi dan kecernaan protein yang lebih baik dibanding perlakuan kontrol dan perlakuan lainnya. Enzim lipase, protease dan amilase pada ikan nila yang diberipakan perlakuan E1C1 menunjukkan hasil yang lebih tinggi secarasignifikan (P<0,05) terhadap kontrol. Kinerja pertumbuhan pada ikan nila yang diberienzim NSP dan kromium organik menghasilkan nilai yang tidak signifikan dengan kontrol (P>0,05). Walaupun demikian, status antioksidan yang dihasilkan yaitu SOD dan GPx pada perlakuan E0C1 menghasilkan nilai yang lebih tinggi secara signifikan terhadap kontrol (P<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah penambahan enzim NSP dan kromium organik pada pakan rendah protein mampu meningkatkan kinerja kecernaan dan memanfaatkan karbohidrat dengan optimal. Hasil terbaik pada perlakuan E1C1.
Kata kunci: antioksidan, enzim pencernaan, kecernaan nutrient, ikan nil
Growth and health performance of pacific white shrimp fed diets with varying protein levels and citral supplementation
Citral is known for its antimicrobial, antioxidant, and anti-diabetic properties. This study evaluates the effects of dietary citral supplementation on glucose absorption, growth, feed utilization, and health of Pacific white leg shrimp (Litopenaeus vannamei) fed different protein levels. A 2×3 factorial experiment was conducted with two variables: protein content (30% and 35%) and citral concentrations (0, 50, and 75 mg/kg). Shrimp (3.22 ± 0.01 g) were reared in 180 L tanks (30 shrimp/tank) for 60 days. Citral supplementation increased blood glucose levels in the first two hours post-feeding, with a faster return to basal levels. Growth and feed efficiency also improved with citral diets. After stress testing, citral and dietary protein showed a synergistic effect on superoxide dismutase (SOD), with the highest level in the 75 mg/kg citral, 35% protein diet, correlating with higher post-challenge survival. Total haemocyte count (THC), phenoloxidase (PO) activity, respiratory burst (RB), and blood clotting time improved with citral supplementation, while protein level only affected RB. After Vibrio challenge, higher protein increased THC and reduced clotting time, while citral enhanced THC, PO, and RB. The highest post-challenge survival was observed in shrimp fed 75 mg/kg citral with 35% protein (p<0.05). These findings suggest dietary citral supplementation may enhance shrimp health and resilience against stress and Vibrio infection.
Keywords: Citral, Cymbopogon citratus, post-prandial glucose, Litopenaeus vannamei, V. parahaemolyticus
ABSTRAK
Citral dikenal memiliki sifat antimikroba, antioksidan, dan anti-diabetes. Studi ini mengevaluasi efek suplementasi citral dalam pakan terhadap absorpsi glukosa, pertumbuhan, pemanfaatan pakan, dan kesehatan udang vaname (Litopenaeus vannamei) yang diberi pakan dengan kadar protein berbeda. Percobaan faktorial 2×3 dilakukan dengan dua variabel: kadar protein (30% dan 35%) serta konsentrasi citral (0, 50, dan 75 mg/kg). Udang (3,22 ± 0,01 g) dipelihara dalam tangki 180 L (30 ekor/tangki) selama 60 hari. Suplementasi citral meningkatkan kadar glukosa darah dalam dua jam pertama setelah makan, dengan penurunan lebih cepat ke tingkat basal. Pertumbuhan dan efisiensi pakan juga meningkat dengan pakan yang mengandung citral. Setelah uji stres, citral dan protein menunjukkan efek sinergis terhadap kadar superoksida dismutase (SOD), dengan kadar tertinggi pada perlakuan 75 mg/kg citral dalam diet protein 35%, yang berkorelasi dengan tingkat kelangsungan hidup pasca tantangan yang lebih tinggi. Jumlah hemosit total (THC), aktivitas fenoloksidase (PO), respiratory burst (RB), dan waktu pembekuan darah meningkat dengan suplementasi citral, sementara kadar protein hanya berpengaruh pada RB. Setelah tantangan Vibrio, kadar protein yang lebih tinggi meningkatkan THC dan mempercepat pembekuan darah, sedangkan citral meningkatkan THC, PO dan RB. Kelangsungan hidup pasca tantangan tertinggi ditemukan pada udang yang diberi 75 mg/kg citral dengan protein 35% (p<0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa suplementasi citral dalam pakan dapat meningkatkan kesehatan dan ketahanan udang terhadap stres dan infeksi Vibrio.
Kata kunci: Citral, Cymbopogon citratus, glukosa pasca makan, Litopenaeus vannamei, V. parahaemolyticu
Mini-review: the utility of macroalgae in abalone diets and their role in heat resilience
Abalone aquaculture production is predicted to continue to increase. Nutrition and health aspect are becoming two major issues that can impede the development and economic sustainability of abalone aquaculture industries. Feeding fresh macroalgae to abalone has supply inconsistency and biosecurity issues in the culture system. The utilization of commercially formulated diets could improve abalone growth rates. However, in general, the health condition of abalone which has been fed commercially formulated feeds was lower than abalone fed fresh macroalgae diets. An abalone diet should not only need to sustain a high growth rate but also promote optimal health. The use of dried macroalgae meal as a dietary ingredient in formulated diets for abalone could potentially increase growth rate, reduce feed costs and gain the health and immunity benefits of macroalgae. This review aims to improve understanding of the potential benefits of using fresh and dried marine macroalgae as feed ingredients to provide nutritional and health improvements for abalone.
Keywords: abalone, aquaculture, health, macroalgae, nutritional requirement
ABSTRAK
Produksi budidaya abalon diperkirakan terus meningkat. Aspek gizi dan kesehatan menjadi dua isu besar yang dapat menghambat perkembangan dan keberlanjutan ekonomi industri budidaya abalon. Pemberian pakan makroalga segar ke abalon memiliki permasalahan pada ketersediaan pasokan yang tidak konsisten dan biosekuriti dalam sistem budidaya. Pemanfaatan pakan komersial dapat meningkatkan laju pertumbuhan abalon. Namun secara umum, kondisi kesehatan abalon yang diberikan pakan formula komersial lebih rendah dibandingkan dengan abalone yang diberikan pakan makroalga segar. Pakan abalon sebaiknya tidak hanya perlu meningkatkan pertumbuhan tetapi juga meningkatkan kesehatan yang optimal. Penggunaan tepung makroalga kering sebagai bahan makanan dalam formulasi pakan abalon berpotensi meningkatkan laju pertumbuhan, mengurangi biaya pakan dan mendapatkan manfaat kesehatan dan kekebalan dari makroalga. Kajian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang potensi manfaat penggunaan makroalga laut segar dan kering sebagai bahan pakan untuk memberikan peningkatan nutrisi dan kesehatan abalon.
Kata kunci: abalon, budidaya, kebutuhan nutrisi, kesehatan, makroalg
Selection of potential probiotic candidate bacteria from seawater and shrimp pond sediments for controlling the pathogenic Vibrio parahaemolyticus
Vibrio parahaemolyticus is one of the pathogenic bacteria that cause vibriosis. V. parahaemolyticus strain that expresses the PirA and PirB toxins is the main causative agent of Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease which causes necrosis (cell death) suddenly in the hepatopancreatic organs of shrimp. The environmentally friendly approach to prevent bacterial infections in shrimp is through the application of probiotics. Probiotic isolates originated from the same environment as the host and pathogen were expected to have a better adaptation and competition capability. Probiotic selection begins with the process of searching for and screening the potential probiotic candidates. This study aims to obtain isolates and characterize the potential probiotic bacteria isolated from seawater and pond sediments as an inhibition effort V. parahaemolyticus. The research was conducted experimentally using a completely randomized design with 3 treatments and 2 replicates in the in vitro antagonistic test as well as the in vivo non-pathogenicity test. The results of the study successfully obtained 37 probiotic candidate isolates with 10 isolates having the greatest enzyme activity. LAZ-2 (Acinetobacter radioresistens) isolated from seawater and SAZ-22 (Fusobacterium varium) isolated from pond sediment have been selected as probiotic candidate bacteria that have beneficial enzymatic activities. Both isolates were capable of inhibiting the growth of the pathogenic V. parahaemolyticus cells population and both were not pathogenic to vannamei shrimp.
Keywords: probiotic, screening, vannamei shrimp, Vibrio parahaemolyticus
ABSTRAK
Vibrio parahaemolyticus merupakan salah satu bakteri patogen penyebab penyakit vibriosis. V. parahaemolyticus strain tertentu yang mengekspresikan toksin PirA dan PirB merupakan agen penyebab utama Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease yang menyebabkan nekrosis (kematian sel) secara tiba-tiba pada organ hepatopankreas udang. Pendekatan yang ramah lingkungan untuk mencegah penyakit infeksi bakterial pada udang adalah melalui aplikasi probiotik. Isolat-isolat probiotik yang berasal dari lingkungan yang sama dengan inang dan patogen akan memiliki suatu kemampuan adaptasi dan kompetisi yang lebih baik dari yang lainnya. Seleksi probiotik diawali dengan proses pencarian dan skrining kandidat probiotik yang potensial. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolat dan mengkarakterisasi bakteri probiotik potensial yang diisolasi dari air laut dan sedimen tambak sebagai upaya penghambatan V. parahaemolyticus. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 2 kali ulangan pada uji antagonistik in vitro dan uji non-patogenisitas. Hasil penelitian berhasil mendapatkan 37 isolat kandidat probiotik dengan 10 isolat yang memiliki aktivitas enzim terbesar. LAZ-2 (Acinetobacter radioresistens) yang diisolasi dari air laut dan SAZ-22 (Fusobacterium varium) yang diisolasi dari sedimen tambak terpilih sebagai bakteri kandidat probiotik yang memiliki aktivitas enzim yang menguntungkan. Kedua isolat tersebut mampu menghambat pertumbuhan populasi sel patogen V. parahaemolyticus dan keduanya tidak bersifat patogenik terhadap udang vaname.
Kata kunci: probiotik, seleksi, udang vaname, Vibrio parahaemolyticu
Evaluation of protein and lipid on feed of Tilapia Oreochromis niloticus
The goal of this study was to discover the optimal protein and lipid levels for increasing the growth performance of Nile tilapia Oreochromis niloticus. A 2×2 randomized factorial design was used for this research, and two treatment factors were used: the protein level (28% and 32%) and the lipid level (6% and 8%). So, there were four test treatments and carried out with three replications. Nile tilapia with an average body weight of 5.60 ± 0.06 g were grown in a 900×45×35 cm3 aquarium at a density of 20 fish/aquarium. The experimental fish were grown for 60 days and fed three times daily until they appeared to be satisfied. Parameters evaluated in this study were growth performance and blood chemistry. The fish fed with diet 32;8 showed significantly higher growth than other treatments. Plasma protein in the fish fed with 32;6 diets were higher than those of plasma triglycerides, high density lipoprotein, and low density lipoprotein content were the same among the treatments. The result shows that feed 28;8 has the best protein efficiency ratio and protein retention.
Keywords: Oreochromis niloticus, protein sparing effect, lipid, feed
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar protein dan lipid yang optimum dalam meningkatkan kinerja pertumbuhan ikan nila Oreochromis niloticus. Penelitian ini menggunakan rancangan acak faktorial 2×2 dengan dua faktor perlakuan yaitu kadar protein (28% dan 32%) dan kadar lipid (6% dan 8%). Jadi terdapat empat perlakuan uji dan dilakukan dengan tiga kali ulangan. Ikan nila dengan rata-rata bobot badan 5,60 ± 0,06 g dipelihara dalam akuarium berukuran 900×45×35 cm3 dengan kepadatan 20 ekor/akuarium. Ikan dipelihara selama 60 hari dan diberi makan tiga kali sehari secara at satiation. Parameter yang dievaluasi dalam penelitian ini adalah kinerja pertumbuhan dan kimia darah. Ikan yang diberi perlakuan dengan pakan 32;8 menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Protein plasma pada ikan yang diberi pakan 32;6 lebih tinggi dibandingkan dengan trigliserida plasma, HDL dan LDL rendah yang sama antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan 28;8 mempunyai nilai protein efesiensi rasio dan retensi protein terbaik.
Kata Kunci: Oreochromis niloticus, protein sparing effect, lemak, paka
Induction of maturation gonads the Asian swamp eel Monopterus albus at different sizes with the hormones PMSG + antidopamine and hCG
Monopterus albus is a protogynous hermaphrodite species that undergoes a unidirectional sex change from female to male. Asian swamp eel cultivation activities face constraints in seeding due to limited mature gonad broodstock. This study aims to evaluate the effect of administering a combination of PMSG + Antidopamine (OodevⓇ) and hCG on the induction of gonad maturation of Asian swamp eels at various body sizes. The research design used was a factorial design consisting of control treatment (without hormone injection), P1 = hCG (dose 20 IU/kg), P2 = OodevⓇ (dose 0.5 ml/kg), and P3 = hCG+OodevⓇ (dose 20 IU+0.5 ml/kg) with body length groups, namely K1 (15–25 cm), K2 (30–40 cm), and K3 (45–55 cm). The results showed that eels in group K1 had the highest body length growth (3.63 ± 0.96 cm), while the highest body weight gain (5.30 ± 1.30 grams) in K3 (P<0.05). Administration of oodevⓇ showed the highest values for GSI = 8.13 ± 0.72% and HSI = 4.36±0.80% in K1 compared to K2 (GSI = 6.95 ± 2.86%; HSI = 3.26 ± 0.68%) with female sex. In contrast, group K3 experienced a decrease in GSI = 0.81 ± 0.11% and HSI = 2.48 ± 1.06% accompanied by masculinization. Administration of oodevⓇ also increased the concentration of estradiol-17β in K1 and K2, while testosterone increased in K3. The conclusion of this study is that administering oodevⓇ to 15-40 cm sized Asian swamp eels can accelerate gonad maturity with female sex status, while at sizes >45 cm it can accelerate masculinization and maturation of male gonads.
Keywords: body length size, gonad maturation, masculinization, Monopterus albus, oodevⓇ
ABSTRAK
Monopterus albus adalah spesies hermaprodit protogini yang mengalami perubahan jenis kelamin dari betina ke jantan secara searah. Kegiatan budidaya belut sawah menghadapi kendala dalam pembenihan karena keterbatasan induk matang gonad. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian kombinasi PMSG + Antidopamine (OodevⓇ) dan hCG terhadap induksi pematangan gonad belut sawah pada berbagai ukuran tubuh. Desain penelitian yang digunakan adalah rancangan faktorial yang terdiri dari perlakuan kontrol (tanpa injeksi hormon), P1 = hCG (dosis 20 IU/kg), P2 = OodevⓇ (dosis 0,5 ml/kg), dan P3 = hCG+OodevⓇ (dosis 20 IU+0,5 ml/kg) dengan kelompok ukuran panjang tubuh yaitu K1 (15–25 cm), K2 (30–40 cm), dan K3 (45–55 cm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa belut kelompok K1 memiliki pertumbuhan panjang tubuh tertinggi (3,63 ± 0,96 cm), sementara pertambahan bobot tubuh tertinggi (5,30±1,30 gram) pada K3 (P<0,05). Pemberian oodevⓇ menunjukkan nilai tertinggi untuk GSI = 8,13±0,72% dan HSI = 4,36±0,80% pada K1 dibandingkan dengan K2 (GSI = 6,95±2,86%; HSI = 3,26±0,68%) dengan jenis kelamin betina. Sebaliknya, kelompok K3 mengalami penurunan nilai GSI = 0,81±0,11% dan HSI = 2,48±1,06% disertai dengan maskulinisasi. Pemberian oodevⓇ juga meningkatkan konsentrasi estradiol-17β pada K1 dan K2, sedangkan testosterone meningkat pada K3. Kesimpulan penelitian ini adalah pemberian oodevⓇ pada belut sawah ukuran 15-40 cm dapat mempercepat kematangan gonad dengan status kelamin betina sedangkan pada ukuran >45 cm dapat mempercepat maskulinisasi dan pematangan gonad jantan.
Kata kunci: maskulinisasi, Monopterus albus, oodevⓇ, pematangan gonad, ukuran panjang tubu
The effectiveness of calcium silicate in preventing ice-ice disease and production performance of Kappaphycus alvarezii
The cultivation of Kappaphycus alvarezii faces serious challenges due to ice-ice disease outbreaks. This disease is caused by fluctuating environmental conditions that induce stress in the seaweed. Ice-ice disease is characterized by thallus whitening, softening, and fragility, which can lead to a reduction in yield and directly impact the economic returns for seaweed farmers. This study aims to evaluate the effectiveness of calcium silicate (CaSiO3) dosing as a mineral source for the prevention of ice-ice disease and the growth of K. alvarezii seaweed. The experimental design used was a completely randomized design with three replications across four treatments: CaSiO3 doses of 0, 1.6, 1.8, and 2 g/L. The study used an initial weight of K. alvarezii of 100 g per tie. The experiment was conducted through a field trial in seawater using an off-bottom cultivation method. The results indicated that the group with the highest dose of CaSiO3 (2 g/L) produced the best ice-ice resistance, with treatment D showing 17.77 ± 5.09% at the population level and 0.25 ± 0.015 at the individual level, which was statistically significant (P<0.05). Optimal CaSiO3 dosing can be a potential cultivation strategy to improve resistance to ice-ice disease and increase the productivity of K. alvarezii.
Keywords: ice-ice, Kappaphycus alvarezii, mineral, nutrient enrichment, seaweed
ABSTRAK
Budidaya rumput laut K. alvarezii menghadapi tantangan serius akibat serangan penyakit ice-ice. Penyakit ini disebabkan karena kondisi lingkungan yang berfluktuatif sehingga menyebabkan rumput laut menjadi stres. Penyakit ice-ice ditandai dengan pemutihan talus, talus menjadi lunak, dan mudah patah. Penyakit ini dapat mengurangi hasil panen yang berdampak langsung pada keuntungan ekonomi bagi pembudidaya rumput laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pemberian dosis kalsium silikat (CaSiO3) sebagai sumber mineral terhadap pencegahan penyakit ice-ice dan pertumbuhan rumput laut K. alvarezii. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan tiga kali ulangan pada empat perlakuan yaitu dosis CaSiO3 0, 1,6, 1,8, dan 2 g/L. Penelitian ini menggunakan berat awal K. alvarezii sebesar 100 g per ikatan. Pengujian dilakukan dengan percobaan lapangan di perairan laut dengan metode lepas dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok dengan dosis CaSiO3 tertinggi (2 g/L) secara signifikan (p<0,05) menghasilkan persentase ice-ice terbaik yaitu pada perlakuan D sebesar 17,77 ± 5,09% pada level populasi dan sebesar 0,25 ± 0,01% pada level individu. Pemberian CaSiO3 pada dosis optimal dapat menjadi strategi budidaya yang potensial untuk meningkatkan ketahanan dari penyakit ice-ice dan produktivitas K. alvarezii.
Kata kunci: ice-ice, Kappaphycus alvarezii, mineral, pengayaan nutrisi, rumput lau