Jurnal Akuakultur Indonesia
Not a member yet
    582 research outputs found

    Analyze of production performance of vaname shrimp Litopenaeus vannamei culture and water quality on earthen pond and HDPE-lined pond

    Full text link
    Litopenaeus vannamei is a leading aquaculture commodity with high economic value. Efforts to enhance the production of L. vannamei shrimp can be achieved by selecting the type of pond. Culture ponds are crucial in controlling water quality and managing culture waste. Based on these conditions, selecting the appropriate type of pond is essential to improve the production performance of L. vannamei shrimp. This study aimed to analyze the effects of earthen ponds and high density polyethylene (HDPE)-lined ponds on production performance and water quality factors, identify key water quality parameters influencing shrimp yield, and conduct an economic analysis. This study was conducted with two types of ponds, earthen ponds and HDPE-lined ponds. Water quality factors were analyzed weekly using a composite sampling method. Meanwhile, shrimp weight sampling was conducted weekly after 35 days of culture using 30 shrimp for each pond. The results showed that shrimp production performance in HDPE-lined ponds was significantly higher than in earthen ponds. This enhanced production performance was attributed to the more optimal water quality parameters in HDPE-lined ponds, particularly the lower abundance of Cyanophyta. Furthermore, the soil quality in earthen ponds also reduces shrimp survival rates, leading to decreased pond productivity. Although the production costs for HDPE-lined ponds were 17.54% higher than earthen ponds, this investment increases farmers\u27 total revenue by 57.20%. HDPE ponds produce high production performance and healthier water quality, thereby increasing farmers\u27 income and proving economically viable. Keywords: economic, growth, pond type, soil   Abstrak Litopenaeus vannamei merupakan salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Upaya untuk meningkatkan produksi udang L. vannamei dapat dilakukan dengan memilih jenis tambak. Tambak budidaya sangat penting dalam mengontrol kualitas air dan mengelola limbah budidaya. Berdasarkan kondisi tersebut, pemilihan jenis tambak yang tepat sangat penting untuk meningkatkan performa produksi udang L. vannamei. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tambak tanah dan tambak berlapis high density polyethylene (HDPE) terhadap kinerja produksi dan faktor kualitas air, mengidentifikasi parameter kualitas air utama yang mempengaruhi hasil panen udang, dan melakukan analisis ekonomi. Penelitian ini dilakukan dengan dua jenis tambak, yaitu tambak tanah dan tambak berlapis HDPE. Faktor kualitas air dianalisis setiap minggu dengan menggunakan metode pengambilan sampel komposit. Sementara itu, pengambilan sampel berat udang dilakukan setiap minggu setelah 35 hari budidaya dengan menggunakan 30 ekor udang untuk setiap tambak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja produksi udang ditambak HDPE lebih tinggi dibandingkan tambak tanah. Tingginya kinerja produksi udang ini dikarenakan tambak HDPE memiliki parameter kualitas air yang lebih optimal dibandingkan dengan tambak tanah, terutama pada kelimpahan Cyanophyta yang lebih rendah. Selain itu, kualitas tanah di tambak tanah juga menurunkan tingkat kelangsungan hidup udang sehingga mengakibatkan rendahnya produktivitas tambak tanah. Meskipun biaya produksi untuk tambak yang dilapisi HDPE 17.54% lebih tinggi dibandingkan tambak tanah, namun biaya investasi ini dapat meningkatkan total pendapatan petambak sebesar 57.20%. Tambak HDPE menghasilkan kinerja produksi yang tinggi dan kualitas air yang lebih optimal, sehingga meningkatkan pendapatan petani dan terbukti layak secara ekonomi. Kata kunci: ekonomi, pertumbuhan, tanah, tipe tamba

    Utilization of mung bean sprout waste Vigna radiata hydrolyzed cellulase enzyme in feed on the digestibility of Nile tilapia Oreochromis sp.

    Full text link
    This study evaluated the utilization of mung bean sprout waste flour hydrolyzed by cellulase enzyme (LTe) as the feed ingredient of red Nile tilapia weighing 10.00 ± 0.01 g/seed and 7.00 ± 0.15 in length. This study used two stages, each consisting of four treatments and four replications. The first step was performed by evaluating LTe flour added with cellulase enzyme of 0 g/kg (control), 0.4 g/kg, 0.8 g/kg, and 1.2 g/kg. The second step was the digestibility test of LTe and growth performance on red Nile tilapia seeds. The results showed that the addition of cellulase enzyme at a 1.2 g/kg was significantly able to reduce the crude fiber of LTe with 78.19% %, hemicellulose at 19.22%, neutral detergent fiber at 41.69%, acid detergent fiber at 61.85%, lignin 64.06%, cellulose 62.47% besides having the best value of ingredient, protein, and energy digestibility. The test results on the growth performance of red Nile tilapia seeds fed with LTe feed with a dose of 1.2 g/kg cellulase enzyme have the highest value significantly different from the control feed based on the value of daily growth rate (SGR), ratio efficiency protein (REP), protein retention (PR), and improvement of feed conversion ratio (RKP).   Keywords: cellulase enzyme, digestibility, growth performance, mung bean sprout waste, tilapia   Abstrak Penelitian ini mengevaluasi pemanfaatan tepung limbah kecambah kacang hijau yang dihidrolisis enzim selulase (LTe) sebagai bahan baku pakan pada benih ikan nila merah dengan bobot 10,00 ± 0,01 g/ekor dan panjang 7,00 ± 0,15 cm. Penelitian ini menggunakan dua tahap dan masing-masing tahap terdiri dari empat perlakuan dan empat ulangan. Tahap pertama dilakukan evaluasi tepung LTe sebesar 0 g/kg (kontrol), 0,4 g/kg, 0,8 g/kg, dan 1,2 g/kg. Tahap kedua dilakukan uji kecernaan bahan LTe dan kinerja pertumbuhan benih ikan nila merah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan enzim selulase pada dosis 1,2 g/kg signifikan mampu menurunkan serat kasar LTe sebesar 78,19 %, hemiselulosa 19,22%, neutral detergent fiber 41,69%, acid detergent fiber 61,85%, lignin 64,06%, selulosa 62,47% dan memberikan nilai tertinggi terhadap kecernaan bahan, kecernaan protein, dan kecernaan energi. Hasil uji terhadap kinerja pertumbuhan benih ikan nila merah yang diberi pakan LTe dengan enzim selulase dosis 1,2 g/kg memiliki nilai tertinggi berbeda nyata terhadap pakan kontrol berdasarkan nilai laju pertumbuhan harian (SGR), retensi protein (PR), rasio efisiensi protein (REP) dan perbaikan nilai rasio konversi pakan (RKP). Kata kunci: enzim selulase, ikan nila merah, kecernaan, kinerja pertumbuhan, limbah kecambah kacang hija

    Production and business performance of tilapia Oreochromis niloticus rearing in recirculation system with different stocking densities

    No full text
    The increase in Nile tilapia (Oreochromis niloticus) production reflects a rise in fish consumption among the community. The provision of sufficient fry for ongrowing must accompany such a production boost. One way to achieve this is through intensification by increasing the stocking density of tilapia larvae during the nursery phase. This study aimed to analyze production performance and the economics of tilapia larva nursery in a recirculation system under different stocking densities. The experiment was carried out over 42 days using a completely randomized design with stocking density treatments of 5, 10, and 15 larvae per liter, each with five replicates. Differences in stocking density had a significant effect on absolute length growth rate (AGRL), specific length growth rate (SGRL), feed conversion ratio (FCR), and productivity. The 15 fish/L treatment yielded higher LPMP, SGR, and productivity than the other treatments, while showing the lowest FCR. It was concluded that the best production performance and economic return in a recirculating tilapia larva nursery system were achieved at 15 fish/L, delivering an annual productivity of 106,112 fish/m³, a revenue-to-cost ratio of 1.54, and a payback period of 0.65 years. Keywords: business analysis, fish tilapia, nursery, recirculation system, stocking density   Abstrak Peningkatan produksi ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan gambaran peningkatan konsumsi ikan di masyarakat. Peningkatan produksi perlu diikuti dengan penyediaan benih yang mencukupi untuk pembesaran. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan intensifikasi melalui peningkatan padat tebar larva nila pada tahap pendederan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kinerja produksi dan usaha pendederan larva ikan nila pada sistem resirkulasi dengan padat tebar berbeda. Penelitian dilakukan selama 42 hari menggunakan rancangan acak lengkap dengan perlakuan padat tebar larva ikan nila, yaitu 5, 10, dan 15 ekor/L dengan lima ulangan. Perlakuan perbedaan padat tebar berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan mutlak panjang (LPMP), laju pertumbuhan spesifik panjang (LPSP), rasio konversi pakan (RKP), dan produktivitas. Perlakuan padat tebar 15 ekor/L menghasilkan LPMP, LPSP, dan produktivitas yang lebih tinggi daripada perlakuan lain, sedangkan nilai RKP menunjukkan nilai terendah. Penelitian menghasilkan kesimpulan bahwa kinerja produksi dan usaha terbaik pada pendederan ikan nila bersistem resirkulasi dihasilkan pada padat tebar 15 ekor/L dengan memberikan produktivitas sebesar 106.112 ekor/m3 per tahun, revenue/cost ratio senilai 1.54, dan payback period yaitu 0.65 tahun. Kata kunci: analisis usaha, ikan nila, padat tebar, pendederan, sistem resirkulas

    The effectiveness of giving silkworms Tubifex sp. enriched with curcumin on the growth and survival of jelawat fish larvae Leptobarbus hoevenii

    Full text link
    Curcumin is a secondary metabolite that enhances fish immunity and functions as an antibacterial and antimicrobial agent. Curcumin acts as a supplement to increase the larvae\u27s appetite. The aim of this study was to evaluate the effect of curcumin-enriched silkworms (Tubifex sp.) on the growth and survival of jelawat fish larvae. This research was carried out in June–July 2023 at the Fish Hatchery and Breeding Laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Riau University. This study applied an experimental method using a completely randomized design (CRD) with three replications. The treatment in this study was P0 (silkworms without curcumin enrichment), P1 (silkworms enriched with curcumin 0.2 mg/kg silkworms), P2 (silkworms enriched with curcumin 0.3 mg/kg silkworms), P3 (silkworms enriched with 0.4 mg/kg curcumin), and P4 (silkworms enriched with curcumin 0.5 mg/kg silkworms). The results showed that the treatment of silkworms enriched with curcumin had a significant effect on the growth and survival of jelawat fish larvae (P<0.05). The best treatment is P3 (silkworms enriched with curcumin 0.4 mg/kg silkworms) with absolute weight growth of 2.26 ± 0.04 g, absolute length 5.25 ± 0.03 cm, SGR 11.84 ± 0.04% and survival 100 ± 0.00% respectively. The water quality parameters during the research period were temperature 27.2-29.5℃, pH 6.3-7.5, and dissolved oxygen 4.5-5.8 mg/L still in good condition for jelawat fish. Keywords: curcumin, jelawat fish larvae, silkworms   Abstrak Kurkumin merupakan salah satu senyawa metabolit sekunder yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh ikan dan memiliki manfaat sebagai zat anti bakteri atau mikroba. Kurkumin berperan sebagai suplemen untuk menambah nafsu makan larva. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian cacing sutera (Tubifex sp.) yang diperkaya kurkumin terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan larva ikan jelawat. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni–Juli 2023 di Laboratorium Pembenihan dan Pembibitan Ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap faktor dan tiga kali ulangan. Perlakuan pada penelitian ini adalah P0 (cacing sutera tanpa diperkaya kurkumin), P1 (cacing sutera yang diperkaya dengan kurkumin 0,2 mg/kg cacing sutera), P2 (cacing sutera yang diperkaya dengan kurkumin 0,3 mg/kg cacing sutera), P3 (cacing sutera yang diperkaya dengan kurkumin 0,4 mg/kg cacing sutera), dan P4 (cacing sutera yang diperkaya dengan kurkumin 0,5 mg/kg cacing sutera). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian cacing sutera diperkaya kurkumin berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva ikan jelawat (P<0,05). Perlakuan terbaik adalah P3 (cacing sutera yang diperkaya dengan kurkumin 0,4 mg/kg cacing sutera) dengan pertumbuhan bobot mutlak 2,26 ± 0,04 g, panjang mutlak 5,25 ± 0,03 cm, SGR 11,84 ± 0,04% dan kelangsungan hidup 100 ± 0,00%. Parameter kualitas air selama penelitian yaitu suhu 27,2-29,5℃, pH 6,3-7,5, dan oksigen terlarut 4,5-5,8 mg/L, masih dalam kondisi baik untuk ikan jelawat. Kata kunci: cacing sutera, kurkumin, larva ikan jelawa

    Common carp aquaculture Cyprinus carpio in Iraq: history, challenges, and opportunities

    Full text link
    Common carp (Cyprinus carpio) is a cornerstone of freshwater aquaculture in Iraq, playing a vital role in food security, rural livelihood, and economic development. This article provides a comprehensive overview of the historical introduction and evolution of carp farming in Iraq, highlighting its adaptability to diverse environmental conditions and its integration into various aquaculture systems, such as pond and cage culture. The study examines the economic significance of carp production, particularly in rural areas, where it serves as a primary source of income and animal protein. It also explores the challenges faced by the sector, such as water scarcity, disease outbreaks, and environmental impacts, while emphasizing the importance of sustainable practices and technological advancements. The article underscores the potential for future growth through genetic improvement, integrated farming systems, and government support in line with global sustainability goals. By addressing these challenges and leveraging opportunities, Iraq’s carp aquaculture sector can enhance productivity, ensure food security, and contribute to the nation’s economic resilience. Keywords: carp production, food security, polyculture systems   Abstrak Ikan mas (Cyprinus carpio) merupakan komponen utama dalam akuakultur air tawar di Irak, memainkan peran penting dalam ketahanan pangan, mata pencaharian pedesaan, dan pembangunan ekonomi. Artikel ini memberikan gambaran komprehensif mengenai pengenalan sejarah dan perkembangan budidaya ikan mas di Irak, menyoroti adaptabilitasnya terhadap berbagai kondisi lingkungan, serta integrasinya ke dalam berbagai sistem akuakultur seperti budidaya di kolam dan keramba. Penelitian ini juga mengkaji signifikansi ekonomi produksi ikan mas, khususnya di daerah pedesaan, di mana ikan mas berfungsi sebagai sumber utama pendapatan dan protein hewani. Selain itu, artikel ini mengeksplorasi tantangan yang dihadapi sektor ini, seperti kekurangan air, wabah penyakit, dan dampak lingkungan, sembari menekankan pentingnya praktik berkelanjutan dan kemajuan teknologi. Artikel ini juga menyoroti potensi pertumbuhan di masa depan melalui perbaikan genetik, sistem pertanian terintegrasi, dan dukungan pemerintah sesuai dengan tujuan keberlanjutan global. Dengan mengatasi tantangan ini dan memanfaatkan peluang yang ada, sektor akuakultur ikan mas di Irak dapat meningkatkan produktivitas, memastikan ketahanan pangan, dan berkontribusi pada ketahanan ekonomi negara. Kata Kunci: ketahanan pangan, produksi ikan mas, sistem polikultu

    Evaluation of dietary vitamin C supplementation on growth performance and oxidative responses of pacific whiteleg shrimp juvenile Litopenaeus vannamei Boone

    Full text link
    Vitamin C cannot be synthesized by shrimp and must be obtained from dietary sources; however, its supply through feed is often insufficient. This study aimed to evaluate the growth performance and oxidative response of juvenile whiteleg shrimp (Litopenaeus vannamei) supplemented with dietary vitamin C. Juvenile shrimp at the PL-25 stage, acclimated to a salinity of 20 ppt, were stocked into 16 rearing containers, each filled with 40 L of seawater from a total 250 L fiberglass tank. Each container contained 20 juveniles with an initial average body weight of 0.001 g per individual. The rearing period lasted 60 days, during which shrimp were fed three times daily. The feeding rate (FR) was initially set at 11% of body weight for the first 30 days and then reduced to 7% thereafter. The experimental design followed a completely randomized design (CRD) consisting of four treatments and four replicates: A (0 mg/kg), B (150 mg/kg), C (300 mg/kg), and D (450 mg/kg) of dietary vitamin C supplementation. The results showed that supplementation of vitamin C at 300 mg/kg diet produced the best growth performance (RGR, PER, FCR) and survival rate, which were positively correlated with SOD enzyme activity. The oxidative response parameters (HSI and MDA) showed the lowest values in this optimal treatment. The highest growth performance was obtained from the treatment with 300 mg vitamin C/kg diet, achieving a relative growth rate of 4,358.6%, the lowest MDA concentration of 3.58 ± 0.37 nmol/L, and the highest SOD activity of 88.35 ± 2.22 U/mL enzyme. Keywords:  growth, oxidative responses, shrimp, vitamin C   Abstrak Vitamin C tidak dapat disintesis oleh udang, zat ini dapat diperoleh dari pakan namun pasokannya masih belum mencukupi. Tujuan dari penelitian ini untuk menguji kinerja pertumbuhan dan respon oksidatif juvenil udang vaname dengan suplementasi vitamin C dalam pakan. Juvenil udang vaname PL 25, yang telah diadaptasikan di salinitas 20 ppt ditebar pada 16 wadah pemeliharaan yang diisi dengan air laut volume 40 L dari volume total bak fiber 250 L dengan jumlah total juvenil 20 ekor dan rata-rata berat awal juvenile 0,001 g/ekor; waktu pemeliharaan udang;selama 60 hari dengan pemberian pakan tiga kali perhari dan jumlah pakan ditentukan dengan FR 11% dan setelah pemeliharaan 30 hari FR diturunkan menjadi 7%. Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat taraf perlakuan dan empat ulangan dengan komposisi perlakuan; A (dosis 0 mg/kg), B (dosis 150 mg/kg). C (dosis 300 mg/kg) D (dosis 450 mg/kg). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi vitamin C dosis 300 mg/kg pakan menghasilkan kinerja pertumbuhan (LPR, REP, RKP) dan TKH terbaik dan berkorelasi dengan aktivitas enzim SOD.  Hasil uji respons oksidatif (IHS dan MDA) menunjukan hasil terendah pada perlakuan terbaik di penelitian ini. Kinerja pertumbuhan optimal diperoleh dari trreatment 300 mg vitamin C/kg sebesar 4.358.6% dengan nilai MDA terendah 3,58 ± 0,37 nmol/L dan aktivitas SOD tertinggi 88,35 ± 2,22 Unit/mL enzim. Kata kunci:  pertumbuhan, respons oksidatif, udang vaname, vitamin

    Hematology profile of kissing gourami Helostoma temminckii infected with Aeromonas hydrophila bacteria

    Full text link
    The kissing gourami (Helostoma temminckii) is an important commodity in aquaculture, but its susceptibility to bacterial infections such as Aeromonas hydrophila can hinder production. This study aims to investigate the hematological profile of kissing gourami (Helostoma temminckii) with an average length of 8.00 ± 1.00 cm and weight of 10.00 ± 1.00 g, following intramuscular injection of Aeromonas hydrophila at a dose of 10⁶ CFU/mL.Evaluations were conducted on survival rate, hematological parameters such as total erythrocytes, total leukocytes, hemoglobin levels, and hematocrit, as well as phagocytic activity, respiratory burst, and lysozyme activity. Infection with A. hydrophila caused a decrease in erythrocytes and hemoglobin, and an increase in leukocytes, phagocytic activity, respiratory burst, and lysozyme activity. The survival rate dropped to 47.5% in the treatment group, while the control group showed 100% survival. The conclusion is, infection of Aeromonas hydrophila significantly affects the immune response of kissing gourami, characterized by an decrease in erythrocyte count and hemoglobin levels in the treatment group. However, phagocytic activity, respiratory burst, and lysozyme levels consistently decreased in infected fish. Keywords: Aeromonas hydrophila, hematology, kissing gourami, pathogenicity   Abstrak Ikan tambakan (Helostoma temminckii) merupakan komoditas penting dalam budidaya perikanan, namun kerentanannya terhadap infeksi bakteri seperti Aeromonas hydrophila dapat menghambat produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji profil hematologi ikan tambakan (Helostoma temminckii) dengan panjang rata-rata 8,00 ± 1,00 cm dan bobot 10,00 ± 1,00 g setelah disuntik intramuskular Aeromonas hydrophila dengan dosis 10⁶ CFU/mL. Evaluasi dilakukan terhadap tingkat kelangsungan hidup, parameter hematologi seperti jumlah eritrosit total, leukosit total, kadar hemoglobin, dan hematokrit, serta aktivitas fagositosis, respiratory burst, dan aktivitas lisozim. Infeksi A. hydrophila menyebabkan penurunan jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin, serta peningkatan jumlah leukosit, aktivitas fagositosis, respiratory burst, dan aktivitas lisozim. Tingkat kelangsungan hidup menurun menjadi 47,5% pada kelompok perlakuan, sedangkan kelompok kontrol menunjukkan kelangsungan hidup 100%. Kesimpulannya, infeksi Aeromonas hydrophila secara signifikan memengaruhi respons imun ikan kissing gourami, yang ditandai dengan penurunan jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin, serta peningkatan aktivitas fagositosis, respiratory burst, dan kadar lisozim pada ikan yang terinfeksi. Kata kunci: Aeromonas hydrophila, hematologi, ikan tambakan, patogenisita

    The effectiveness on addition of vitamins as an antioxidant in sperm cryopreservation of catfish Clarias gariepinus

    Full text link
    One of the problems faced in catfish hatcheries is that the reproductive cycle does not occur throughout the year, so that available male broodstocks with mature gonads are rare. Cryopreservation is a method of storing spermatozoa with the help of diluents and cryoprotectants in frozen conditions to maintain the quality of spermatozoa. Cryopreservation has a negative effect due to the influence of reactive oxygen species (ROS) which causes a decrease in the quality of spermatozoa. An alternative that can be done is using antioxidants in the form of vitamin C and cryoprotectants such as vitamin E. This research aims to test the effectiveness of adding vitamin E and vitamin C to catfish (Clarias gariepinus) sperm on post-cryopreservation sperm quality. The test fish were catfish that had mature gonads and were injected with the ovaprim hormone for final approval. This study consisted of eight treatments and three replications, namely control (fresh sperm), DMSO 10%, DC1 (vitamin C dose 1 mg/mL), DC2 (vitamin C dose 2.5 mg/mL), and DC3 (vitamin C dose 4 mg/mL), DMSO 10%, DE 1 (vitamin E 2 mg/mL), DE2 (vitamin E 4 mg/mL), DE3 (vitamin E 6 mg/mL). The parameters observed include sperm motility, sperm viability, degree of egg fertilization, and degree of egg hatching. Sperm cryopreservation is carried out for one hour. The results showed that the motility, viability, and degree of egg fertilization in the vitamin C and vitamin E treatments were lower (P<0.05) than the control and 10% DMSO as the basic control. Keywords: Clarias gariepinus, cryopreservation, vitamin C, vitamin E   Abstrak Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam pembenihan ikan lele adalah siklus reproduksi tidak terjadi sepanjang tahun sehingga ketersediaan induk jantan dengan gonad matang menjadi langka. Kriopreservasi merupakan salah satu metode penyimpanan spermatozoa dengan bantuan bahan pengencer dan krioprotektan dalam kondisi beku untuk mempertahankan kualitas spermatozoa. Kriopreservasi memiliki dampak negatif akibat adanya pengaruh reactive oxygen species (ROS) yang menyebabkan penurunan kualitas spermatozoa. Alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan antioksidan berupa vitamin C dan krioprotektan seperti vitamin E. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas penambahan vitamin E dan vitamin C pada sperma ikan lele (Clarias gariepinus) terhadap kualitas sperma pascakriopreservasi. Ikan uji adalah ikan lele yang telah memiliki gonad matang dan disuntik hormon ovaprim untuk persetujuan akhir. Penelitian ini terdiri dari delapan perlakuan dan tiga kali ulangan, yaitu kontrol (sperma segar), DMSO 10%, DC1 (dosis vitamin C 1 mg/mL), DC2 (dosis vitamin C 2,5 mg/mL), dan DC3 (dosis vitamin C 4 mg/mL), DMSO 10%, DE 1 (vitamin E 2 mg/mL), DE2 (vitamin E 4 mg/mL), DE3 (vitamin E 6 mg/mL). Parameter yang diamati meliputi motilitas sperma, viabilitas sperma, derajat fertilisasi sel telur dan derajat penetasan sel telur. Kriopreservasi sperma dilakukan selama satu jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motilitas, viabilitas dan derajat fertilisasi sel telur pada perlakuan vitamin C dan vitamin E lebih rendah (P<0,05) dibandingkan kontrol dan DMSO 10% sebagai kontrol dasar. Kata kunci: Clarias gariepinus, kriopreservasi, vitamin C, vitamin

    Replacing silkworms Tubifex sp. with fermented paste feed enriched with curcumin on Asian redtail catfish Hemibagrus nemurus larvae growth

    Full text link
    To maintain growth and survival, Asian redtail catfish postlarvae require silkworms as live food. However, due to their extreme sensitivity to natural conditions, silkworms will be exceedingly scarce during the rainy season. This study aimed to evaluate fermented commercial feed enriched with curcuminas replacement of silkworms for the growth and survival of redtail catfish postlarvae. This study employed a complete design experiment consisting of six treatments: P1 (non-fermented commercial feed), P2 (no curcumin-enriched fermented commercial feed), P3 (curcumin-enriched fermented commercial feed at 0.35 g/kg), P4 (curcumin-enriched fermented commercial feed at 0.70 g/kg), P5 (curcumin-enriched fermented commercial feed at 1.05 g/kg), and P6 (silkworms). Each treatment was replicated four times. The Asian red tail catfish postlarvae, measuring 0.63 ± 0.05 mm in length, were cultivated at a density of 5 fish/L. Fish were raised for a period of thirty days. Growth in total weight, total length, specific weight rate, specific length rate, and survival rate of postlarvae were the parameters measured. The growth evaluation results indicate that substituting silkworm feed with fermented feed supplemented with curcumin at a concentration of 1.05 g/kg resulted in growth of 6.66% (length) and 14.29% (weight) lower than the silkworm treatment (P<0.01). Despite this decline, it represents the most effective outcome in this study, highlighting the potential of fermented feed where enrichment with curcumin as an alternative to silkworms for Asian redtail catfish larvae nutrition. In conclusion, curcumin-enriched fermented feed can promote the growth of Asian redtail catfish postlarvae. Keywords: curcumin, fermented feed, growth, silkworm   Abstrak Untuk mempertahankan pertumbuhan dan kelangsungan hidup, postlarva ikan baung membutuhkan cacing sutra sebagai makanan hidup. Namun, cacing sutera sangat sensitivitas terhadap kondisi alam, cacing sutra akan sangat langka selama musim penghujan. Untuk mengganti cacing sutra, penelitian ini mengevaluasi pakan alternatif (pakan komersial terfermentasi yang diperkaya dengan kurkumin). Penelitian ini merupakan eksperimen dengan acak lengkap satu faktor yang terdiri dari enam perlakuan: yaitu P1 (Pakan komersial non-fermentasi), P2 (pakan komersial fermentasi yang diperkaya kurkumin), P3 (pakan komersial fermentasi yang diperkaya kurkumin pada 0,35 g/kg), P4 (pakan komersial fermentasi yang diperkaya kurkumin pada 0,70 g/kg), P5 (pakan komersial fermentasi yang diperkaya kurkumin pada 1,05 g/kg), dan F (cacing sutra). Setiap perlakuan diulang empat kali. Postlarva ikan baung, berukuran panjang 0,63 ± 0,05 mm, dibudidayakan pada kepadatan 5 ekor/L. Ikan dipelihara selama tiga puluh hari. Parameter yang diukur dalam penelitian ini adalah pertumbuhan berat total, panjang total, rata-rata pertumbuhan bobot, dan panjang spesifik serta kelulushidupan. Berdasarkan hasil evaluasi pertumbuhan menunjukkan pergantian pakan cacing sutera dengan pakan fermentasi yang diperkaya kurkumin 1,05 g/kg pakan menghasilkan pertumbuhan 6,66 % (panjang) dan 14,29% (berat) lebih rendah dari perlakuan cacing sutra (P<0,01), dan ini melrupakan hasil terbaik dari penelitian ini dalam upaya mencari pengganti pakan alternatif cacing sutera untuk postlarva ikan baung. Sebagai kesimpulan, pakan pasta terfermentasi yang diperkaya kurkumin dapat meningkatkan perkembangan postlarva ikan baung. Kata kunci: cacing sutera, kurkumin, pakan terfermentasi, pertumbuha

    Cannibalism control of Asian seabass Lates calcarifer fry by melatonin hormone administration

    Full text link
    Cannibalism is one of the causes low survival rate white snapper fry due to its aggressiveness. Melatonin is a hormone that can modulate aggressive interactions in fish. This study aims to evaluate effect of melatonin hormone on the level cannibalism sea bass. This study used completely randomized design (CRD) consisting of four treatments and three replications, namely control (without melatonin hormone administration), melatonin doses of 5, 10, and 15 µg/g fish. Hormone administration was done orally through feed supplementation. Sea bass fry used were 2.82 ± 0.41 cm average length and 0.53 ± 0.08 g average weight. Stocking density was 2 fish/L. Sea bass were reared for 30 days with flow through system and fed three times a day in restricted manner (Feeding rate 15%). The results showed the administration of melatonin hormone can reduce level cannibalism, increase melatonin hormone levels, increase estradiol 17β hormone, and have no effect on body glucose levels sea bass. Melatonin dose 10 µg/g fish can reduce level cannibalism by 40.67% (P<0.05). The highest total cannibalism was found in the control treatment with a value of 58.67% (P <0.05). The administration of melatonin hormone did not affect the growth body weight and length of sea bass (P>0.05). Increasing dose melatonin beyond 10 µg/g fish tends to increase cannibalism. These results indicate the administration of melatonin hormone at a dose of 10 µg/g fish is the optimal dose to reduce cannibalism and increase fry survival, which is expected to increase the productivity of sea bass hatcheries. Keywords: aggressiveness, Asian seabass, cannibalism, melatonin   Abstrak Kanibalisme merupakan salah satu penyebab rendahnya tingkat kelangsungan hidup benih kakap putih akibat sifat agresivitasnya. Hormon melatonin merupakan hormon yang dapat memodulasi interaksi agresif pada ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh hormon melatonin terhadap tingkat kanibalisme ikan kakap putih. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, yaitu kontrol (tanpa pemberian hormon melatonin), melatonin dosis 5, 10, dan 15 µg/g ikan. Pemberian hormon dilakukan secara oral melalui suplementasi pakan. Benih kakap putih yang digunakan berukuran panjang rata-rata 2,82 ± 0,41 cm dan berat rata-rata 0,53± 0,08 g. Padat tebar yaitu 2 ekor/L. Benih kakap putih dipelihara selama 30 hari dengan sistem flow through dan pemberian pakan sebanyak tiga kali sehari secara restricted (Feeding rate 15%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian hormon melatonin dapat menurunkan tingkat kanibalisme, meningkatkan kadar hormon melatonin, cenderung meningkatkan hormon estradiol 17β, dan tidak berpengaruh terhadap kadar glukosa tubuh benih kakap putih. Melatonin dosis 10 µg/g ikan dapat mengurangi tingkat kanibalisme sebesar 40,67% (P<0,05). Total kanibalisme tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol dengan nilai sebesar 58,67% (P<0,05). Pemberian hormon melatonin tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan bobot dan panjang tubuh benih kakap putih (P>0,05). Peningkatan dosis melatonin melebihi 10 µg/g ikan cendrung meningkatkan kanibalisme. Hasil ini menunjukkan bahwa pemberian hormon melatonin dosis 10 µg/g ikan merupakan dosis optimal untuk mengurangi kanibalisme dan meningkatkan kelangsungan hidup benih, sehingga diharapkan  dapat meningkatkan produktivitas pembenihan kakap putih. Kata kunci: agresivitas, kakap putih, kanibalisme, melatoni

    554

    full texts

    582

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Akuakultur Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇