388 research outputs found

    Moderasi Beragama: Konsep dan Implementasi di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri

    Full text link
    This research aims to analyze the concept and implementation of religious moderation at two State Islamic Religious Universities (PTKIN), namely IAIN Manado and IAIN Sultan Amai Gorontalo. In qualitative research with a sociological approach, the research results show that the two PTKINs have succeeded in implementing the concept of religious moderation by prioritizing moderate attitudes, tolerance, and dialogue between religious believers in the campus environment. However, challenges such as skepticism and negative perceptions of religious moderation remain obstacles. The role of lecturers and education staff has a significant impact in supporting the implementation of religious moderation. Training programs and special initiatives have proven effective in increasing understanding and awareness of religious moderation among the academic community.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep dan implementasi moderasi beragama di dua Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), yaitu IAIN Manado dan IAIN Sultan Amai Gorontalo. Dalam penelitian kualitatif dengan pendekatan sosiologis, hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua PTKIN telah berhasil mengimplementasikan konsep moderasi beragama dengan mengedepankan sikap moderat, toleransi, dan dialog antarumat beragama di lingkungan kampus. Meskipun demikian, tantangan seperti skeptisisme dan persepsi negatif terhadap moderasi beragama masih menjadi hambatan. Peran dosen dan tenaga kependidikan memiliki dampak yang signifikan dalam mendukung implementasi moderasi beragama. Program pelatihan dan inisiatif khusus terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran moderasi beragama di kalangan civitas akademika

    Traditional Islamic Religious Practice Arguments: Criticism of The Concept of Bid\u27ah of Islam Salafi-Wahabi

    Full text link
    This paper discusses traditional Islamic criticism of the concept of heresy in Salafi Islam, categorizing every new act in religion as iconoclastic heresy. Based on this concept of heresy, ritual ceremonies and practices of traditional Islamic religious traditions are classified as acts of heresy. Through literature research based on literary document sources using abstractive inductive logic methods and content analysis, this study found that ritual ceremonies and practices of traditional Islamic religious traditions are not acts of heresy because they are based on theorem (al-Quran, hadith and allegiance) it is new. New actions (mutants) are categorized as bid\u27ah if they conflict with the Quran, hadith, and a tsar. Traditional Islam criticizes the concept of heresy in Salafi-Wahhabi Islam for being ahistorical because several traditions show that the innovation of a friend, tâbi\u27u tâbi\u27uttab\u27în, while this innovation was not ordered and practiced by the Prophet; instead, was carried out by the generation of the Salaf

    Analisis Fatwa Majelis Ulama Indonesia Provinsi Jawa Barat terhadap Produk Pemasaran Eco Racing

    Full text link
    This study emerged from the concern of the Muslim community regarding the circulation of businesses that use a multi-level marketing system in the form of multi-level marketing for Eco Racing products. Due to this concern, the Indonesian Ulema Council (Majelis Ulama Indonesia=MUI) issued a fatwa to respond to this product. This research aims to analyze the istinbat method by the MUI to reduce disputes among the people in their worship and muamalah. This qualitative research uses a literature approach: examining the MUI fatwa decision using several fiqh literature and scientific articles related to the MUI istinbat method. The research results show that the decision of MUI in West Java Province needs a complete review of the Eco Racing marketing system and the Islamic concept of muamalah. It is due to two things, including the imperfect explanation from PT BEST management to the MUI fatwa commission in West Java Province regarding the mechanism for regulating the Eco Racing product sales and bonus system and the limited number of experts in the MUI fatwa commission by existing knowledge. It is needed to respond to the dynamic development of sharia economics in Indonesia, especially in West Java.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya keresahan masyarakat muslim atas beredarnya bisnis yang menggunakan sistem pemasaran berjenjang yang berupa multilevel marketing produk Eco Racing. Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis cara istinbat hukum yang dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia sehingga bisa mengurangi perselisihan umat dalam menjalankan ibadah dan muamalahnya. Penelitian ini bersifat kualitatif, dengan pendekatan kepustakaan, yakni menganalisis keputusan fatwa MUI itu dengan sejumlah literatur kitab-kitab fikih dan artikel-artikel ilmiah yang berkaitan dengan metode istinbat hukum MUI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Keputusan MUI Provinsi Jawa Barat perlu ditinjau kembali agar ada kesesuaian antara sistem pemasaran Eco Racing dengan konsep muamalah secara syar’i. hal ini karena dua hal, yakni penjelasan yang belum sempurna dari pihak manajemen PT BEST kepada komisi fatwa MUI Provinsi Jawa Barat tentang mekanisme pengaturan sistem penjualan dan bonus produk Eco Racing dan terbatasnya para ahli yang ada di komisi fatwa MUI Provinsi Jawa Barat sesuai dengan keilmuan yang dibutuhkan untuk merespons dinamisnya perkembangan ekonomi syariah di Indonesia khususnya di Jawa Barat

    Dinamika Interpretasi Al-Qur’an dalam Pemikiran Kontemporer (Studi Kasus Tafsir Al-Manar)

    Full text link
    Tulisan ini bertujuan menemukan paradigma tafsir al-Manar dalam beberapa pandangan ulama yang memuji dan mengkritik serta dalam menginterpretasikan Al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif, penelitian ini menghasilkan data deskripsi. Temuan dalam tulisan ini adalah Rasyid Muhammad Ridha menggunakan metode tahlili (analisis) yang bercorak adabi wa ijtima\u27iy (sastra dan kemasyarakatan). dua hal penting yang menjadi pijakan dalam penulisan al-Manar, yaitu pandangan penulis al-Manar tentang hakikat tafsir dan pandangannya tentang al-Qur`an. Dua pandangan tersebut bisa disebut sebagai paradigma penafsiran yang mendasari kerja interpretasi al-Qur`an yang dilakukan oleh penulis al-Manar. Bahkan dalam konteks penafsiran al-Qur`an Muhammad ‘Abduh berpandangan bahwa apabila terjadi pertentangan antara teks dengan akal, maka posisi akal diprioritaskan, dengan cara menempuh metode takwil. Kirik atas tafsir al-Manar; Syaikh Muhammad Rasyid Ridha adalah mufassir yang terlalu berani dalam menggunakan teori-teori seorang mendukung untuk ilmiah penafsirannya. Sehingga terkadang dirasakan adanya usaha membenar-benarkan teori ilmiah, sekalipun yang belum mapan dengan ayat-ayat al-Qur\u27anTulisan ini bertujuan menemukan paradigma tafsir al-Manar dalam beberapa pandangan ulama yang memuji dan mengkritik serta dalam menginterpretasikan Al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif, penelitian ini menghasilkan data deskripsi. Temuan dalam tulisan ini adalah Rasyid Muhammad Ridha menggunakan metode tahlili (analisis) yang bercorak adabi wa ijtima\u27iy (sastra dan kemasyarakatan). dua hal penting yang menjadi pijakan dalam penulisan al-Manar, yaitu pandangan penulis al-Manar tentang hakikat tafsir dan pandangannya tentang al-Qur`an. Dua pandangan tersebut bisa disebut sebagai paradigma penafsiran yang mendasari kerja interpretasi al-Qur`an yang dilakukan oleh penulis al-Manar. Bahkan dalam konteks penafsiran al-Qur`an Muhammad ‘Abduh berpandangan bahwa apabila terjadi pertentangan antara teks dengan akal, maka posisi akal diprioritaskan, dengan cara menempuh metode takwil. Kirik atas tafsir al-Manar; Syaikh Muhammad Rasyid Ridha adalah mufassir yang terlalu berani dalam menggunakan teori-teori seorang mendukung untuk ilmiah penafsirannya. Sehingga terkadang dirasakan adanya usaha membenar-benarkan teori ilmiah, sekalipun yang belum mapan dengan ayat-ayat al-Qur\u27a

    Konsep Hurriyah Al-Insan dan Implikasinya Terhadap Perkembangan Kehidupan Sosial

    Full text link
    This article seeks to discuss the crisis faced by the Islamic community and its inclination towards fatalism. Various factors, such as Western hegemony and a conservative mindset among certain Muslims, have contributed to the decline of Islam. The concept of unrestricted freedom, known as free will, is being advocated as a solution. The researcher employed a mixed method approach, combining quantitative and qualitative data, to obtain a comprehensive understanding of the subject. The research findings demonstrate a positive aspect, wherein individuals possess a dynamic and optimistic outlook towards the future. Humans are expected to adapt to the evolving environment, which necessitates change. To prevent fatalism, the concept of human freedom, referred to as hurriyah al-insan, is proposed as a viable option for the Muslim community.This article seeks to discuss the crisis faced by the Islamic community and its inclination towards fatalism. Various factors, such as Western hegemony and a conservative mindset among certain Muslims, have contributed to the decline of Islam. The concept of unrestricted freedom, known as free will, is being advocated as a solution. The researcher employed a mixed method approach, combining quantitative and qualitative data, to obtain a comprehensive understanding of the subject. The research findings demonstrate a positive aspect, wherein individuals possess a dynamic and optimistic outlook towards the future. Humans are expected to adapt to the evolving environment, which necessitates change. To prevent fatalism, the concept of human freedom, referred to as hurriyah al-insan, is proposed as a viable option for the Muslim community

    Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang Isu Strategis Nasional 2006-2018 dalam Perspektif Maqashid al-Syariah

    Full text link
    This study discusses the Fatwa issued by the Indonesian Ulema Council on National Strategic Issues 2006-2018. The discussion is important because MUI\u27s authority in issuing fatwas is still directly proportional to the diversity of the Muslim community in Indonesia. Knowing the MUI\u27s considerations in issuing a fatwa will certainly influence the appreciation of implementing the fatwa. However, studies on MUI fatwas are still limited to the study of faith and worship, although nationality is also a priority for MUI in giving fatwas. In constructing the results of the study, the authors use the normative law method, so the legal source obtained becomes the secondary data. The results of the study concluded that MUI\u27s consideration in issuing fatwa on National Strategic Issues is hifz al-ummah. Hifz al-ummah is an aspect of al-daruriyah in maqashid al-shariah, namely maintaining the principles of "togetherness" or "national integrity" as a nation, and seeking the benefit of being present in that life.Kajian ini membahas tentang Fatwa yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia tentang Isu Strategis Nasional 2006-2018. Pembahasan ini penting karena kewenangan MUI dalam mengeluarkan fatwa masih berbanding lurus dengan keragaman umat Islam di Indonesia. Mengetahui pertimbangan MUI dalam mengeluarkan fatwa tentunya akan mempengaruhi apresiasi penerapan fatwa tersebut. Namun kajian fatwa MUI masih sebatas kajian iman dan ibadah, meskipun kewarganegaraan juga menjadi prioritas MUI dalam memberikan fatwa. Dalam menyusun hasil penelitian, penulis menggunakan metode hukum normatif, sehingga sumber hukum yang diperoleh menjadi data sekunder. Hasil kajian menyimpulkan bahwa pertimbangan MUI dalam mengeluarkan fatwa Isu Strategis Nasional adalah hifz al-ummah. Hifz al-ummah merupakan aspek al-daruriyah dalam maqashid al-syariah, yaitu menjaga prinsip “kebersamaan” atau “keutuhan bangsa” sebagai sebuah bangsa, dan mencari kemaslahatan yang hadir dalam kehidupan tersebut

    Pentingnya Prinsip Komunikasi Kenabian (Kajian Kritis Terhadap Hadis Komunikasi)

    Full text link
    This article describes the principle of prophetic communication in the Hadith. This type of research is qualitative. The primary data source is Kitab Shahih al-Bukhari. in comparison, the secondary data comes from related references. The research instrument uses the HadisSoft application. We discuss ten hadiths on prophetic communication, categorized into three points. Content analysis explicitly and implicitly extracts the principles of prophetic communication in Hadith to conclude. The analysis results show that the focus of prophetic communication is honesty. Honesty is a prophetic identity that must be attached to every form of communication. The implication is that violating honesty as a principle of communication is equivalent to breaking human interests. This article\u27s main contribution is to enrich Hadith\u27s study from the perspective of communication, which is still lacking. Research on the principles of prophetic communication in Hadith can be developed, for example, the ethics of communication between cultures.Artikel ini menjelaskan pentinya prinsip komunikasi kenabian dalam hadis. Jenis penelitian adalah kualitatif. Sumber data primer adalah Kitab Shahih al-Bukhari. Sedangkan data sekunder berasal dari referensi yang terkait. Instrumen penelitian menggunakan aplikasi HadisSoft. Kami membahas sepuluh hadith tentang prinsip komunikasi kenabian yang dikategorisasi menjadi tiga poin. Analisis konten secara eksplisit dan implisit untuk mengekstrak prinsip komunikasi kenabian dalam hadith untuk menarik kesimpulan. Hasil analisis menunjukkan bahwa prinsip komunikasi kenabian adalah kejujuran. Kejujuran merupakan identitas kenabin yang harus melekat pada setiap bentuk komunikasi. Implikasinya bahwa melanggar kejujuran sebagai prinsip komunikasi sama dengan melanggar kepentingan manusia. Kontribusi utama artikel ini adalah untuk memperkaya kajian hadis dalam perspektif komunikasi yang masih kurang. Penelitian terhadap prinsip komunikasi kenabian dapat dikembangkan misalnya bagaimana etika komunikasi antar budaya dan sebagainya

    Analisis Praktek Hibah Pengganti Warisan di Kalangan Umat Islam Indonesia

    Full text link
    This study aims to explore the patterns of Hibah practice as a substitute for inheritance in Indonesian society and the reasons they do so. The research locations include Gayo, Aceh, North Sumatra, Jambi, Madiun, Kediri and Surabaya. In this qualitative study, data were collected through interviews. The participants consisted of ulama, academics, and the community who practice Hibah as a substitute for inheritance. Interviews were transcribed and analyzed through content analysis. This study indicates three patterns of Hibah practice as a substitute for inheritance. First, the Hibah is given at the beginning with a portion of 2:1, which is also considered an inheritance when the parent dies. Second, the Hibah is divided equally as well as the surviving parent gets a share. When someone dies, the assets owned by the parents are divided equally. Third, the Hibah is divided unequally, and after the parent dies, the property becomes a portion of the inheritance calculation. This study concludes that the practice of Hibah is becoming more popular among the people in distributing the inheritance, while Islamic inheritance is increasingly insignificant. The position of religious law which is so important in Indonesian Muslim society is critical.Penelitian ini bertujuan untuk menggali pola praktik hibah sebagai pengganti warisan dalam masyarakat Indonesia dan alasan mereka melakukannya. Lokasi penelitian meliputi Gayo, Aceh, Sumatera Utara, Jambi, Madiun, Kediri dan Surabaya. Dalam penelitian kualitatif ini, data dikumpulkan melalui wawancara. Peserta terdiri dari ulama, akademisi, dan masyarakat yang mempraktekkan hibah sebagai pengganti harta warisan. Wawancara ditranskrip dan dianalisis melalui analisis isi. Kajian ini menunjukkan tiga pola praktik hibah sebagai pengganti warisan. Pertama, hibah diberikan di awal dengan porsi 2:1, yang juga dianggap sebagai warisan ketika orang tua meninggal. Kedua, Hibah dibagi rata dan orang tua yang masih hidup mendapat bagian. Ketika seseorang meninggal, harta yang dimiliki oleh orang tua dibagi rata. Ketiga, Hibah dibagi secara tidak merata, dan setelah orang tua meninggal, harta tersebut menjadi bagian dari perhitungan warisan. Kajian ini menyimpulkan bahwa praktik Hibah semakin populer di kalangan masyarakat dalam pembagian warisan, sedangkan warisan Islam semakin tidak signifikan. Kedudukan hukum Agama yang begitu penting dalam masyarakat Muslim Indonesia menjadi terancam

    Constructing Trust in Media Through Islamic Values: Countering Hoaxes and Disinformation

    Full text link
    The purpose of this study is to find out more about the role and credibility of the media in the midst of the rise of hoaxes, fake news, and disinformation in recent years. The research method used is qualitative, using literature methods. To conduct this research, extensive literature reviews are conducted through journals, books, and other literature. The results showed that Islamic values such as honesty and accountability can be used to counter deception and disinformation, as well as promote trustworthy communication. By upholding these values, media outlets can ensure accurate news reporting and regain public trust.Kajian dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui lebih jauh peran dan kredibilitas media di tengah maraknya hoaks, berita palsu, dan disinformasi dalam beberapa tahun belakangan ini. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode literatur. Untuk melakukan penelitian ini, tinjauan literatur ekstensif dilakukan melalui jurnal, buku, dan literatur lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam seperti kejujuran dan akuntabilitas dapat digunakan untuk melawan tipuan dan disinformasi, juga bisa mempromosikan komunikasi yang dapat dipercaya. Dengan menjunjung tinggi nilai-nilai ini, outlet media dapat memastikan pelaporan berita yang akurat dan mendapatkan kembali kepercayaan publik

    Peace Efforts in the Divorce Cases: An Analysis on Verstek\u27s Decision at the Religious Courts

    Full text link
    Indonesian  national  legal  regulations  requires  judges  to  seek  reconciliation  between  the parties effectively and optimally in each trial to prevent a divorce. However, in reality practice, these efforts have not been carried out optimally, so that some divorce cases increased from time to time in particular of verstek decisions, especially verstek decisions. This study aims to determine the implementation of peace efforts in divorce cases at the Parepare Religious Court, and to uncover the causes of non-achievement peace efforts so that a panel of judges decides in a verstek manner. This research applied empirical juridical method. The results of the study shows that the implementation of peace efforts at the Parepare Religious Court has not been effective and optimal in preventing divorce cases, especially in verstek case due to the judge\u27s performance has not been maximized in seeking peace for every trial. In addition, the absence of one party with the intention to facilitate the divorce process as well as the desire of the parties to divorce has conducted a peace more difficult to achieve, in the end the judge set a verstek divorce decision. Peraturan   hukum   nasional   Indonesia mewajibkan  hakim  mengupayakan  perdamaian kepada para pihak pada setiap persidangan secara efektif dan optimal untuk mencegah terjadinya perceraian. Namun pada praktiknya, upaya tersebut masih belum dilakukan secara maksimal sehingga perkara perceraian terus menerus meningkat terutama putusan verstek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan dari upaya damai dalam perkara cerai di Pengadilan Agama Parepare serta untuk mengungkap penyebab tidak tercapainya upaya damai sehingga diputuskan secara verstek oleh majelis hakim. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis empiris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan upaya damai di Pengadilan Agama Parepare belum efektif dan optimal untuk mencegah terjadinya perceraian terutama dalam perkara verstek. Hal ini disebabkan kinerja hakim belum maksimal dalam mengupayakan perdamaian pada setiap persidangan. Selain itu, ketidakhadiran salah satu pihak dengan maksud untuk mempermudah proses perceraian serta telah adanya keinginan dari para pihak untuk bercerai menjadi penyebab perdamaian semakin sulit dicapai, sehingga pada akhirnya hakim menjatuhkan putusan perceraian secara verstek

    342

    full texts

    388

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Ulum
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇