388 research outputs found

    Terapi Zikir Jama’ati di Desa Luwoo dan Tenggela Kabupaten Gorontalo

    Get PDF
    Jama’ati Muslim group of Luwoo and Tenggela villages in Gorontalo regency is one of the groups that routinely remembrance activities in their environment. By using psychological, this paper will attempt to explore the existence and the implementation of remembrance "Jama\u27ati" performed occasionally in which the congregation can help in reducing symptoms of anxiety psychosis, so the remembrance that there has been a therapeutic means for the congregation whom face depressive problem . Recitation (zikir) is done routinely will greatly assist in the process of forming the character of their souls. Recitation is one way to obtain spiritual concentration. For those who follow this zikir routinely can implement it in a variety of methods.Kelompok zikir “Jama’ati†desa Luwoo dan desa Tenggela Kabupaten Gorontalo adalah salah satu kelompok zikir yang secara rutin melakukan aktivitas zikir dalam lingkungannya. Dengan menggunakan psikologis, tulisan ini akan berusaha mengupas eksistensi pelaksanaan zikir “jama’ati†yang dilakukan secara rutin, di mana mampu membantu jama’ah dalam menekan gejala kecemasan kejiwaan, sehingga zikir yang ada telah menjadi sarana terapeutik depresif bagi jama’ah yang mengikutinya. Zikir yang dilakukan secara rutin tersebut akan sangat membantu dalam proses pembentukan karakter jiwa mereka. Zikir sebagai cara untuk mencapai konsentrasi spiritual. Bagi mereka zikir juga bersifat implementatif dalam berbagai variasi yang aktif dan kreatif

    Konflik Sosial Keagamaan Islam Non-Mainstream dalam Masyarakat Majemuk di Indonesia

    Get PDF
    This paper discusses how Islamic religious movements in relation to social conflict in the lives of people in Indonesia khsususnya Makassar, with menggacu in the case of the non-Islamist movements such as the Ahmadiyah congregation maisntream and An-Nadzir. A group of local religious activity can trigger social conflict which considered deviant religious teachings of the dominant religion. Of social conflict, can lead to violence on the grounds of blasphemy, which is triggered by the presence of the social activities of religious communities or followers of certain religious ideas are somewhat different or perceived menyempal (non-mainstream) of the religion practiced in general (mainstream) in the life of Indonesian society. Conflict is often the case in Indonesia in recent years often contain a complex load. Arguably, political charged presumably still dominant influence, in addition to the problems and feelings suppressed disappointment so far.Tulisan ini mendiskusikan bagaimana gerakan keagamaan Islam dalam kaitannya dengan konflik sosial dalam kehidupan masyarakat di Indonesia khsususnya di wilayah Makassar, dengan  menggacu pada kasus kelompok gerakan Islam non-maisntream seperti jamaah Ahmadiyah dan An-Nadzir. Di mana aktivitas keagamaan sekelompok masyarakat ini dapat memicu munculnya konflik sosial keagamaan yang dianggap menyimpang dari ajaran agama yang dominan. Dari konflik sosial tersebut, dapat menimbulkan aksi-aksi kekerasan dengan alasan penodaan agama, yang dipicu oleh adanya aktivitas sosial keagamaan komunitas atau penganut paham keagamaan tertentu yang agak berbeda atau dianggap menyempal (non-mainstream) dari ajaran agama yang dipraktikkan secara umum (mainstream) dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Konflik yang sering terjadi di Indonesia akhir-akhir ini sering mengandung muatan yang kompleks. Boleh dikatakan, muatan politis agaknya masih dominan mempengaruhi, di samping masalah kekecewaan dan perasaan ditekan selama ini

    Unsur Estetika Islam pada Seni Hias Istana Raja Bugis

    Get PDF
    Continuity in the development of art, especially Hindu art Indonesia reached a new tradition at the time of the power of the king who converted to Islam, in which the development of Islamic art in Indonesia based on the palace of the king. In this cultural arts center arts fostered and developed based on a long artistic tradition with new values ​​that Islam breath. Symbolic and aesthetic elements in the building of Islam in Indonesia, is a reflection of culture in a region of breath. Big or small the role of local culture, weighing whether or not the work of pre-Islamic art, that\u27s what color the Islamic art forms including architecture realization. The concept of Islam, i.e. every creature possessed of art values ​​have to be connected with a wealth of beauty and greatness of Allah Swt. Thus, in Islamic art has a legal status (syar\u27i) are governed by certain religious teachings of Islam, both contained in the Qur\u27an, Hadith, and the opinions of the ulama.Kesinambungan dalam perkembangan seni, khususnya seni rupa Indonesia-Hindu mencapai tradisi baru pada zaman kekuasaan para raja yang memeluk agama Islam, di mana perkembangan seni rupa Islam di Indonesia berpusat di istana para raja. Di pusat seni budaya inilah kesenian dibina dan dikembangkan berdasarkan tradisi kesenian lama dengan nilai-nilai baru yang bernafaskan Islam. Unsur simbolik dan estetika dalam bangunan Islam di Indonesia, merupakan pencerminan dari nafas kebudayaan di suatu daerah. Besar atau kecilnya peranan budaya lokal, berbobot atau tidaknya karya seni rupa pra-Islam, itulah yang mewarnai bentuk kesenian Islam termasuk perwujudan arsitekturnya. Dalam konsepsi Islam, segala ciptaan seni yang memi­liki nilai-nilai keindahan harus dihubungkan dengan kekayaan dan kebesaran Allah Swt. Dengan demikian, seni dalam Islam mempunyai kedudukan hukum (syar’i) tertentu yang diatur oleh ajaran-ajaran agama Islam, baik yang terdapat dalam Al Qur’an, Hadist, maupun pendapat-pendapat para ulama dari berbagai mazhab dalam Islam.&nbsp

    Arung, Topanrita dan Anregurutta dalam Masyarakat Bugis Abad XX

    Get PDF
    This article attempts to review some understanding of key concepts related to political and religious authority in the Bugis people of South Sulawesi, particularly since the 20th century, such as arung (nobility), topanrita (scholar) and anregurutta (Islamic scholar). After analyzing the shift in the meaning of these concepts, this article seeks to trace the relationship between traditional authorities (white) with topanrita figure that, in the traditional sense, synonymous with the concept of intellectuals in modern society. After pointing out the meaning of the concept of transition topanrita so much represents the traditional ulama in Bugis society, the article concluded, among other factors of golden era of kingdoms Bugis-Makassar in the past is because of the critical relationship between political authority and symbiotic (arung) and socio-religious (anregurutta or topanrita) in these kingdoms.Artikel ini berupaya mengulas pengertian beberapa konsep kunci berkaitan dengan otoritas politik dan agama dalam masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan, khususnya sejak abad ke-20, seperti arung (bangsawan), topanrita (cendekiawan) dan anregurutta (kiyai). Setelah menganalisis pergeseran makna dari konsep-konsep tersebut, artikel ini berupaya merunut relasi antara otoritas tradisional (arung) dengan sosok topanrita yang, dalam makna tradisionalnya, identik dengan konsep cendekiawan dalam masyarakat modern. Setelah menunjukkan peralihan makna dari konsep topanrita sehingga lebih merepresentasikan sosok ulama tradisional dalam masyarakat Bugis, artikel ini menyimpukan, salah satu faktor penencapaian masa keemasan kerajaan-kerajaan Bugis-Makassar di masa lalu adalah karena adanya relasi yang bersifat kritis dan simbiotik antara otoritas politik (arung) dan sosial-agama (topanrita atau anregurutta) dalam kerajaan-kerajaan tersebut

    Konsepsi Dakwah Islamiyah dalam Konteks Konservasi Alam dan Lingkungan

    Get PDF
    Currently, Islamic preaching seems mostly dealing with the problems of Muslims’ prays and rituals. Whereas, the problem faced by most Muslims today are more complicated if this fact is explored farther. Therefore, the need for an alternative preaching (dakwah) to tackle the environmental degaradation is crutial. Based on this fact, Islamic reaching is expected to be able to be an alternative medium to alert Muslim about how important the natural conservation and environmental preservation are. It becomes a manifestation of the human leadership (khalifah) and a quarantee of human’s life in this world.Masalah dakwah Islamiyah dewasa ini dalam kenyataannya lebih banyak bersentuhan dengan berbagai persoalan umat yang berkaitan dengan masalah ubudiyah atau ritual semata-mata. Padahal kalau ditelusuri lebih jauh, permasalahan hidup yang dihadapioleh umat Islam dewasa ini begitu kompleks. Karena itu dirasa perlu adanya pendekatan dakwah alternativ untuk memberi solusi atas berbagai masalah kontemporer di antaranya adalah masalah degradasi kualitas lingkungan. Atas dasar inilah, maka dakwah Islamiyah bisa menjadi wahana alternatif untuk memberi pencerahan kepada masyarakat tentang perlunya upaya konservasi alam dan lingkungan hidup. Hal ini sebagai perwujudan kekhalifahan manusia di bumi ini dan untuk menjamin keberlangsungan hidup manusia di atas dunia ini

    Karl Marx’s Criticism on Religion

    Get PDF
    This article discusses about the uniqueness of religion among other academic disciplines. Religion is almost exclusively approached as an object of study. This paper presents a descriptive criticism of Islam in Marx\u27s critique of religion. The study then found that Islam and Marxism is essentially a contradiction particularly striking in view of the unity-an. Marx, based on the philosophy of Marxism; man- made ​​religion and religion does not make the man. However, Muslims believe in the spiritual concept of the infinite in which Islam describes the man as the ground; land; ground, or it can be said that religion, in this case, God created man, not vice versa.Artikel ini membahas tentang keunikan agama di antara disiplin akademis lainnya. Agama hampir secara eksklusif didekati sebagai objek studi. Studi agama menjadi studi tentang agama. Makalah ini menyajikan secara deskriptif kritik Islam di kritik Marx tentang agama. Penelitian ini kemudian menemukan bahwa Islam dan Marxisme pada dasarnya memiliki kontradiksi mencolok terutama dalam pandangan ke-tauhid-an. Marx berdasar pada filosofi Marxisme; manusia membuat agama, dan agama tidak membuat manusia. Namun, Islam meyakini konsep spiritual yang tak terbatas di mana Islam menggambarkan manusia sebagai tanah; lahan; tanah, atau dapat dikatakan bahwa agama, dalam hal ini, Allah menciptakan manusia, bukan sebaliknya

    Ahmadiyah di Era Reformasi

    Get PDF
    This article examines the complexities surrounding violence by Muslims towards the Ahmadiyya community in Indonesia in its new era of democracy. Violence emerged in 1998 in the post-Suharto era when some Muslim groups, such as Front Pembela Islam (FPI), claimed that Ahmadiyya is a deviant group (aliran sesat) according to Islamic orthodoxy. This article works to understand why and how Ahmadiyya became a target of violent attacks by some Muslim groups in the post-Suharto era by considering the rise of Islamic fundamentalist groups during this time of new-found religious freedom.  In doing so, I ask how politics, economy and Islamic theology emerged as significant factors that contributed to the attack. Through identifying particular case studies of attacks in cities across Java and Lombok, I also explore how government creates the policy to find the best solution and how far the effectiveness of this policy to solve the problem. Artikel ini menguji kompleksitas seputar kekerasan yang dilakukan oleh Muslim terhadap komunitas Ahmadiyah di Indonesia di era baru demokrasi reformasi. Kekerasan muncul sejak 1998 pasca Suharto ketika beberapa kelompok Muslim seperti Front Pembela Islam (FPI), yang mengklaim bahwa Ahmadiyah adalah kelompok yang sesat menurut ortodoksi Islam. Artikel ini mencoba memahami mengapa dan bagaimana Ahmadiyah menjadi target serangan kekerasan oleh beberapa kelompok Muslim di era pasca Suharto dengan meningkatnya kelompok fundametalis Islam setelah menemukan kebebasan baru beragama. Dengan demikian, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana faktor politik, ekonomi dan teologi Islam muncul sebagai faktor penting yang mengkontribusi atas serangan kekerasan. Melalui identifikasi studi kasus tertentu penyerangan di kota-kota lintas pulau Jawa dan Lombok, saya juga akan mengeksplorasi bagaimana pemerintah membuat kebijakan untuk menemukan solusi yang terbaik dan sejauhmana efektifitas kebijakan tersebut untuk menyelesaikan masalah

    Penulisan Kitab Al-Jami’ Al-Azhar fi Hadits An-Nabi Al-Anwar Karya Al-Manawi

    Get PDF
    The history of writing and science of hadith have passed a series of very long phase. This paper examines one of the hadith books, i.e. Hadith al-Jami \u27al-Azhar Hadith an-Nabi by the Imam Anwar al-Manawi. This paper shows that al-Manawi is an eminent scholar who collected the prophet Muhammad’s tradition in his book al-Jami \u27fi al-Azhar al-Hadith al-Nabi al-Anwar and wrote by using various methods and systematical arrangement of traditions based on alphabetical arrangement. This can be seen in indexes (fuhras) book chapters from each book al-Jami fi al-al-hadits al-Anwar of the Prophet. The theme also varied, such as monotheism, worship, morals and law. In this book al Manawi also mentioned about quality of the Prophet’s traditions, both valid hadith, good (hasan) hadith, or false traditions (dhaif).Sejarah penulisan hadis dan ilmu hadis telah melewati serangkaian fase historis yang sangat panjang. Tulisan ini mengkaji secara khusus alah satu kitab Hadis yaitu kitab hadis al-Jamî’ al-Azhâr fî Hadîts an-Nabi al-Anwâr Karya Imam al-Manawi. Tulisan ini menunjukkan bahwa Imam al-Manawi sebagai seorang ulama terkemuka mengumpulkan hadis-hadis nabi dalam hadis al-Jamî’ al-Azhâr fî Hadîts an-Nabi al-Anwâr dan menulisnya dengan menggunakan metode dan sistematika susunan hadis berdasarkan susunan abjad hijaiyah. Hal ini bisa dilihat pada fuhras/indeks kitab setiap juz dari kitab hadis al-Jamî’ al-Azhâr fî Hadîts an-Nabi al-Anwâr. Temanya pun beragam, seperti tauhid, ibadah, akhlak dan hukum. Dalam kitab ini pula al-Imam al-Manawi memuat semua jenis kualitas hadis, baik hadis shahih, hadis hasan, maupun hadis dhaif

    Analisis Historis Sebagai Instrumen Kritik Matan Hadis

    Get PDF
    The main function of haditz critic is to ensure originality and validity of the haditz. Its objective is the core content (matan) a haditz. Historical analysis is used to examine validity. Historical analysis therefore is so vipotal. This is because it is associated with recognition of the authenticity and validity of honor haditzs. It is because human social-interaction associated with its environment and history. Consequently, if a hadith contradicts with historical facts, then a haditz does not meet the rules of validity; as result, the haditz can be classiefied weak (daif). Thus, historical analysis is useful to show the weakness and falsehood of a haditz.Salah satu fungsi kritik matan adalah untuk memastikan otensititas dan kevalidan hadis. Sasaran kritik matan adalah kandungan atau isi sebuah hadis. Analisis historis digunakan untuk menguji kebenaran isi hadis. Analisis historis dalam kaitannya dengan penelitian matan hadis adalah sesuatu yang urgen. Hal ini karena terkait dengan pengakuan otentisitas dan validitas matan hadis. Sebab, gejala sosial kemanusiaan terkait dengan lingkungan dan sejarahnya. Konsekuensinya apabila suatu hadis bertentangan dengan fakta historis, maka matan hadis tersebut tidak memenuhi kaidah kesahihan matan, sehingga hadis tersebut dapat dinyatakan lemah (daif). Dengan demikian, analisis sejarah berguna untuk menunjukkan kelemahan dan kepalsuan hadis

    Tarekat

    Get PDF
    Sufism as an organized institution service provider presents a practical and structured to guide the stages of mystical journey that centers on student-teacher relationships; authority of the teacher who had climbed the stages of mystical must be completely accepted by a student. This is necessary in order to move students to meet with God can be completely successful. Congregations have been known in the Islamic world, especially in the second century AD 12/13 (6/7 H) with the presence of the congregation Qadiriyah under the founder Abd al-Qadir al-Jailani (1077-1166 AD). After passing through the stages in the congregation, a member will receive a diploma of teaching; one can conduct a congregation and teach others. Genealogically, most congregations linking their lineages to the Prophet Muhammad through Ali ibn Abi Talib, except of the Naqshbandi who through Abu Bakr Siddiq.Tarekat sebagai organized sufism hadir sebagai institusi penyedia layanan praktis dan terstruktur untuk memandu tahapan-tahapan perjalanan mistik yang berpusat pada relasi guru murid; otoritas sang guru yang telah mendaki tahapan-tahapan mistik harus harus diterima secara keseluruhan oleh sang murid. Ini diperlukan agar langkah murid untuk bertemu dengan Tuhan dapat terlaksana dengan sukses. Tarekat telah dikenal di dunia Islam terutama di abad ke 12/13 M (6/7 H) dengan hadirnya tarekat Qadiriyah yang didasarkan pada sang pendiri Abd Qadir al-Jailani (1077-1166 M). Setelah melewati tahapan-tahapan dalam tarekat, seorang anggota akan mendapat ijazah dari guru untuk dapat mengajarkan ajaran tarekat kepada orang lain. Adapun aspek silsilah, kebanyakan tarekat mengaitkan silsilah mereka kepada Rasulullah SAW melalui sahabat Ali bin Abi Thalib, kecuali Naqsyabandi  yang melalui Abu Bakar Siddiq

    342

    full texts

    388

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Ulum
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇