388 research outputs found

    Konstruksi Keilmuan Muhammadiyah dan NU

    Get PDF
    To understand Islamic body of knowledge in Indonesia is inseparable from the two biggest Islamic organizations, Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama. Both organizations have their unique scientific structure; thus, in any case are different. On the one hand, there are similarities in resources, references, and teachers of the founder of both organizations. Yet, because of ideological factors in understanding Islam and also socio-cultural factors make the body of knowledge of Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama so different. On the other hand, there have been distinguished aspects, if they are critically analyzed, that is, the difference on methodology, not on the primer resources.Untuk memahami pengetahuan Islam di Indonesia tidak terlepas dari dua organisasi Islam terbesar, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Kedua organisasi ini memiliki struktur keilmuan yang unik, yang masing-masing berbeda dalam keunikannya. Di satu sisi, ada kesamaan dalam sumber, referensi, dan guru dari pendiri kedua organisasi. Namun, karena faktor ideologis dalam memahami Islam dan juga faktor sosial-budaya membuat tubuh pengetahuan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama begitu berbeda. Di sisi lain, ada aspek dibedakan, jika keduanya dianalisa secara kritis maka didapatkan bahwa perbedaan kedua struktur keilmuan dua organisasi ini terletak pada metodologi, bukan pada sumber primer

    The Shadow of Islamic Ortodoxy and Syncretism in Contemporary Indonesian

    Get PDF
    The mapping of political affiliation is important to capture the power direction and its characteristics in the future. Generally, the mass political orientation in Indonesia is not much different than what was outlined by Clifford Geertz in his master piece entitled The Religion of Java. The concept of \u27trikotomi\u27 consisting of the Santri, Abangan, and Priyayi, which over the past five decades has been the fundamentally critiqued by various parties. Numerous weak points and fallacy of conceptual framwork then become the entrance to reconceptualize the Indonesian people political orientation. However, the work of Geertz\u27s initial approach should be appreciated as a brilliant in understanding the Indonesian political behavior. With the critical approaches, the Geertz\u27s approaches will again be utilized to mapthe direction of community in the contemporary Indonesian political orientation.Pemetaan a filiasi politik masyarakat adalah penting untuk memahami arah dan karakter kekuasaan di masa mendatang. Orientasi politik massa di Indonesia secara general tidak jauh berbeda dengan apa yang digariskan oleh Clifford Geertz dalam karya master piece-nya bertajuk The Religion of Java. Konsep trikotomi yang terdiri atas Santri, Abangan dan Priyayi itu, selama lima dekade terakhir ini telah menjadi arena pembantaian tesis Geertz. Beragam titik lemah dan kekeliruan konseptual karya ini menjadi pintu masuk untuk kembali merekonstruksikan konsep orientasi politik masyarakat Indonesia. Kendati demikian, karya Geertz ini patut diapresiasi sebagai pendekatan awal yang brilian dalam memahami perilaku politik bangsa Indonesia. Dengan pendekatan kritis, napak tilas inteletual Geertz ini akan kembali dimanfaatkan untuk memetakan arah afiliasi politik masyarakat Indonesia kontemporer

    Corak dan Metode Interpretasi Aisyah Abdurrahman Bint Al-Syâthi’

    Get PDF
    This article examines the method of interpretation of Bint al-sya-i  by studying his book Tafsir al-Tafsir al-Bayâniy li al-Qur\u27an al-Karim. It has been found that the method applied by al-sya-i\u27 was patterned literature i.e. literary exegesis which is designed to be inter-interpretation of the Quranic text which methodologically, can be considered modern. The method used a thematic approach (maudu\u27i) in interpreting the Koran and stressed the need for interpretation of philology, based on the chronological text and the use of Arabic semantics. This thematic approach was a response to the classical method of interpretation of the Qur\u27an by contemporary experts. It is then applied by al-Syathi in his commentary that contains fourteen chapters started Makkiyah entitled “al-Tafsi r  li al-Bayan al-Qur\u27an al-Karim.â€Artikel ini menyoal corak dan metode interpretasi Bint al-Syâthi’, dengan menelaah  kitab tafsirnya al-Tafsîr al-Bayâni  li al-Qur’ân al-Karîm, penulis menemukan bahwa metode yang diterapkan oleh Bint al-Syâ¯i’ bercorak sastra yang didesain menjadi interpretasi inter-teks Alquran yang secara metodologis, dapat dikategori-kan modern. Metode tersebut menggunakan pendekatan tematik (maudu‘i) dalam menafsirkan Al-Qur’an dan menekankan perlunya interpretasi filologi berdasar pada kronologis teks dan penggunaan semantik bahasa Arab. Pendekatan tematik ini lahir sebagai respon terhadap metode penafsiran klasik yang oleh pakar Al-Qur’an kontemporer dinilai parsial dan atomistik. Metode ini selanjutnya diaplikasikan oleh Bint al-Syathi’ dalam tafsirnya yang memuat empat belas surah Makkiyah awal yang berjudul al-Tafs³r al-Bayân³ li al-Qur’an al-Karim

    Kebangkitan Agama di Tengah Peradaban Global

    Get PDF
    Islam revealed to the world has a universal mission as the liberator of mankind from ignorance and powerlessness to build the happiness. To face the challenge of globalization, religion should be interpreted into five programs: first, the need to develop more than a social structural interpretation of individual interpretation as to understand the specific provisions in the Qur\u27an. Second is to change the way from subjective into objective way of thinking. Third is to shift the normative Islam to theoretical. Fourth, make the ideas evolved historically. Fifth, make specific formulations and empirical formulation of general revelation.Agama (Islam) diturunkan ke dunia memiliki misi universal yaitu sebagai pembebas manusia dari belenggu ketidaktahuan dan ketidak berdayaan untuk ditempatkan pada media membangun proses kebahagiaan. Untuk mengatasi tantangan agar agama tetap bangkit ditengah peradaban global, ada lima program interpretasi yaitu: pertama, perlunya dikembangkan penafsiran sosial struktural lebih daripada penafsiran individual ketika memahami ketentuan-ketentuan tertentu dalam Al-Qur’an. Program yang kedua adalah mengubah cara berfikir subjektif ke cara berfikir objektif. Ketiga adalah mengubah Islam yang normatif menjadi teoritis. Keempat, menjadikan pemikiran yang berkembang secara historis. Kelima, menja-dikan formulasi yang spesifik dan empiris dari formulasi wahyu yang bersifat umum

    Perang Salib dalam Bingkai Sejarah

    Get PDF
    Crusade represents the war that happened between Muslims and Cristians in the past. This fight  is called Crusade, which is by Cristian people  referred as holy  war,  because the expedition of Christian military hence the Cross sign as unifier attribute and  as holy war symbol in attacking to Islamic world. According to writer analysis, the magnifier of Cristian people is understood thouroghly as religious emotion of the Cristian people. With the the Cross sign symbol, they would easily inspired the religious emotion of Cristian people. Provenly, in three period of attacks, some Cristians took a great participation in the the war. In a period of that war, winning and fail was coming exchangeably between the legion of Islam and Cristian people.Perang Salib merupakan peperangan yang pernah terjadi antara orang-orang Muslim dan Kristen pada masa lalu. Perang tersebut disebut “Perang Salibâ€, yang diklaim orang Kristen sebagai perang suci karena ekspedisi militer Kristen maka tanda Salib sebagi atribut pemersatu dan sebagai symbol perang suci dalam menyerang dunia Islam. Menurut analisa penulis, penanda besar yang dipakai orang Kristen sepenuhnya dipahami sebagai emosi keagamaan masyarakat Kristen. Dengan simbol Salib, orang Kristen akan memahami sesama orang Kristen. Terbukti selama tiga periode peperangan itu, orang-orang Kristen dan orang-orang Islam menagn dan kalah silih berganti di antara dua kelompok tersebut

    Islam dan Logika Menurut Pemikiran Abu Hamid Al-Ghazali

    Get PDF
    This article aims to describe the Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali’s Logic that includes: (1) to describe objectively the Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali’s Logic of science essense, science classification, and urgency of logic in science development; (2) to describe the Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali’s logic as a tool to get valid knowledge. (3) to describe philosophical thingking af Al-Ghazali in logical aspect. It includes many forms of thingking such as deduction, induction and analogy. It is also in connection with inference process (the final process in logic); (4) to study critically and heuristically relevance of Al-Ghazali’s logic to science development especially in Islamic science.Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan Logika Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali yang mencakup: (1) untuk mendeskripsikan secara obyektif Logika Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali ilmu essense, klasifikasi ilmu pengetahuan, dan urgensi logika dalam pengembangan ilmu pengetahuan, (2) untuk menggambarkan Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali logika sebagai alat untuk mendapatkan pengetahuan yang valid. (3) untuk menggambarkan bentuk pemikiran af filosofis Al-Ghazali dalam aspek logis. Ini mencakup banyak bentuk berfikir seperti deduksi, induksi, dan analogi. Hal ini juga terkait dengan proses inferensi (proses terakhir dalam logika), (4) untuk mempelajari relevansi kritis dan heuristik logika Al-Ghazali untuk pengembangan ilmu pengetahuan terutama dalam ilmu Islam

    After God, After Islam

    Get PDF
    This article aimed to examine the Cupitt’s conception in the light of Islamic paradigm. It is done by identifying negative impacts of postmodernism toward the existence of religion. Religion, in Don Cuppit view is alive in the term of “valueâ€, “private realmâ€, “personal faith†and “countercultureâ€. Although Islam came from hundreds centuries ago, it does not mean that authentic Islam is Islam in the past. Islam in the past, Islam in the present and Islam in the future are different. Islam is not timeless doctrine, but changeable expression. Time is running; and Islam demanded to contextualize itself dynamically.Tulisan ini bertujuan mendiskusikan agama di era postmodern, dengan fokus pertanyaan bagaimana menjadi muslim dan memahami Qur’an di era post-modern. Memakai pemikiran Don Cupitt, dalam beberapa karyanya, tulisan ini berargumen bahwa mengandaikan Tuhan telah mati merupakan jalan alternatif memahami Qur’an agar lebih kontekstual diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat muslim di era postmodern. Signifikansi utama tulisan ini adalah memberikan kontribusi alternatif dalam dimensi filosofis kerangka berpikir kontekstualisasi Qur’an

    Konsep Al-Islam dalam Al-Qur’an

    Get PDF
    As a religion of revelation, Islam has a set of teachings contained the teachings of monotheism or the oneness of God. It also has systems and provisions that govern all human life. Allah states that Islam is a blessed religion. People who believe it will get salvation in the hereafter. And anyone denies it would be classified as the losers. Literally, Islam has several meanings, among others:“Al istislam†(surrender), “As Salamah†(safety), “As Salam†(safe and prosperous), “As Silmu†(peace), and “Sullam†(saved). The Koran firmly stated that all religions revealed to the Prophets and Messengers before Muhammad was essentially Islam. Diverse manifestations, but the core of all the previous religions was the devotion to the One Being, namely God.Sebagai agama wahyu, Islam memiliki seperangkat ajaran yang terkandung didalamnya berupa ajaran tauhid atau keesaan Tuhan, sistem keyakinan lainnya dan ketentuan-ketentuan yang mengatur semua kehidupan manusia. Allah SWT menyatakan bahwa Islam merupakan agama yang diridhai-Nya, orang-orang yang meyakininya akan mendapatkan keselamatan di akhirat kelak dan sebaliknya yang mengingkarinya akan tergolong orang yang merugi. Secara bahasa makna-makna Islam antara lain: Al istislam (berserah diri), As salamah (suci bersih), As Salam (selamat dan sejahtera), As Silmu (perdamaian), dan Sullam (tangga, bertahap, atau taddaruj). Al-Quran menyatakan semua agama yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul sebelum Muhammad pun pada hakikatnya adalah agama Islam. Manifestasinya yang beraneka ragam, namun inti dari semua itu adalah pengabdian kepada Wujud Yang Satu, yaitu Tuhan

    Islamic Fundamentalism as A Signifier of The Sixth Phase of Globalization

    Get PDF
    This article examines Islamic fundamentalism through a historical perspective on globalization offered by Roland Robertson, the theory of Islamic fundamentalism and its relation to the involvement of youth in Indonesia. In theory, Islamic fundamentalism is divided into two classifications. First is the "continuity and change", the development of fundamentalism in Islam is both continuity and change in Islamic history. The second theory is the "challenges and opportunities". The basic assumption of this theory is that the crisis in the modern Muslim world, accumulation social, political, and cultural are consider the main factors influence Islamic fundamentalism. Advanced technology in communications, information, and the country\u27s transportation networks around the world; variety of shows, events, and the phenomenon will spread rapidly from one country to another.Artikel ini mengkaji fundamentalisme Islam melalui perspektif historis pada globalisasi yang ditawarkan oleh Roland Robertson, teori tentang fundamentalisme Islam dan hubungannya dengan keterlibatan pemuda di Indonesia. Secara teori fundamentalisme Islam dibagi menajdi dua: Pertama adalah “kesinambungan dan perubahanâ€, perkembangan fundamentalisme dalam Islam adalah baik kontinuitas dan juga perubahan dalam sejarah Islam. Teori kedua adalah “tantangan dan kesempatanâ€. Asumsi dasar dari teori ini adalah bahwa krisis di negara muslim modern sosial, politik, dan budaya memperkuat gerakan fundamentalisme Islam. Maju teknologi dalam komunikasi, informasi, dan jaringan transportasi negara di seluruh dunia; berbagai acara, kejadian, dan fenomena akan menyebar dengan cepat dari satu negara ke negara lain

    Pluralisme Agama-Budaya dalam Perspektif Islam

    Get PDF
    The issue of religious pluralism is important to share. Even it becomes primary factor in creating climate of stress or conflict of religion which not rarely come up with cruel colour, ossify, war and murder, even the race sweeping. Along with the time, religious pluralism which initially rose in the 18th century represents a discourse and expands in Europe; yet, in the 20th century it is expanding at full speed enter into Islamic world Mulsim and it became a theme in so many provocating discussion activities. In this article, the writer emphasizes that religious pluralism has to be clearly understood because it generates pros and contra among good thinker and religion figures, including Muslim figures. This matter is important to consider because the understanding of religious pluralism shall be reckoned because it deals with religious doctrine.Isu pluralism agama merupaka hal penting untuk diketahui bersama umat beragama. Bahkan menjadi factor utama dalam menyebabkan ketegangan dan konflik agama yang sering menimbulkan kebrutalan, kekejaman, perang, dan pembunuhan bahkan pembersihan etnik. Seiring dengan waktu, pluralism agama (yang awalnya muncul pada abad ke-18) menjadi wacana dan meluas hingga di Eropa. Bahkan pada abad ke-20 telah meluas dengan cepat memasuki wilayah dunia Islam dan menjadi tema dalam begitu banyak diskusi yang memancing perdebatan sengit. Dalam artikel ini, penulis menekankan bahwa pluralism agama harus dipahami dengan jernih karena akan menciptakan pro-kontra di kalangan pemikir dan ahli agama, termasuk tokoh-tokoh Islam. Hal ini penting untuk dipertimbangkan karena dengan pemahaman tentang pluralisme agama akan bersinggungan dengan dotrin agama

    342

    full texts

    388

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Ulum
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇