388 research outputs found

    Pohutu Momulanga: Gelar Adat di Gorontalo

    No full text
    This article focuses on a traditional ceremony in Gorontalo. The so-called Pohutu Momulanga ceremony, i.e. a traditional ritual which is performed in the event of local coronation and conferral for a regent or major in Gorontalo. The study shows that there has a number of meanings and values in the Pohutu Momulanga ceremony. Among those values and meanings consist on regalia and sacred words as the symbol of tuja’i. Those symbols and the tuja’i meant as leadership examples to community. It is important to note that the Pohutu Momulanga ritual is very much influenced by Islamic values.Artikel ini menfokuskan pada suatu kegiatan upacara adat di Gorontalo. Upacara adat tersebut adalah Upacara Adat Pohutu Momulanga, yaitu suatu upacara yang dilaksanakan dalam rangka penobatkan dan penganugerahan gelar adat kepada pejabat Bupati atau Walikota di Gorontalo. Studi ini menunjukkan bahwa ada banyak makna-makna yang terkandung dalam pelaksanaan upacara adat Pohutu Momulanga tersebut. Makna-makna tersebut terdapat pada benda-benda yang merupakan simbol sebagai perlengkapan upacara dan kata-kata tuja’i (verbal) yang diucapkan pada saat penobatan dan penganugerahan gelar adat. Makna-makna yang terdapat pada simbol-simbol dan kata-kata tuja’i tersebut bermakna keteladanan seorang pemimpin dalam memimpin masyarakat. Upacara adat tersebut sangat dipengaruhi oleh unsur nilai-nilai dari agama Islam

    Penguatan Identitas Dayak Muslim Katab Kebahan

    Get PDF
    The globalization has been influential to not only those living in urban area but also those living in hinterland such as the Katab Kebahan Dayak of Melawi District in West Kalimantan. The community members, in fact, have actively engaged with the modernization to support their needs in daily life. Moreover, the Pemekaran Wilayah (the making of a new territory for a District) of Kabupaten Melawi has prompted social changes in the region and promoted social interactions among ethnic groups in the society. Politics of identity has shown to grow. In addition, many aspects of social changes including politics, education, economics and local culture have become influential to the growing of ethic awareness. The Katab Kebahan Dayak identity is a confirmation of the growing of ethnic awareness in the region.Masyarakat etnis Dayak Katab Kebahan telah terbukti merespon masuknya Globalisasi dengan tidak hanya menjadi obyek yang pasif tetapi juga berperan aktif memanfaatkan pengaruh globalisasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka dalam kehidupan modern yang semakin besar tantangannya. Pemekaran wilayah menjadi kunci dinamika baru munculnya fenomena ini. Tulisan ini menyajikan beberapa kesimpulan dari hasil analisis data yang cermat. Menguatnya identitas Dayak Katab Kebahan didorong oleh perubahan sosial yang meliputi aspek politik, ekonomi, pendidikan, dan budaya lokal. Munculnya fenomena otonomi daerah dan pemekaran wilayah sehingga terbentuknya Kabupaten Melawi pada tahun 1994 menjadi salah satu faktor yang paling penting dalam penguatan identitas lokal

    Meretas Hubungan Mayoritas-Minoritas dalam Perspektif Nilai Bugis

    Get PDF
    The raise of conflicts due to the gap between the majority and the minority in the social stratum is getting more and more progressing recently. The conflicts, of course, are a serious problem tham must overcome because they can corrupt the harmony of life. To minimize the conflicts, both the majority and the minority must be harmonized by using some efforts. One effort that can be offered is local wisdom of the buginesss that is called paseng and pangadereng. Paseng consists of ada tongeng, sipakatau sipakalebbi, dan mappesona ri dewata seuwwae. Meanwhile pangadereng consists of adek, rapang, bicara, warik, dan sarak, local wisdom of the buginesss is expected to contribute effectifely in the effort to build a harmony relationship between the majority and the minority.Kenaikan konflik karena kesenjangan antara mayoritas dan minoritas dalam strata sosial semakin berkembang baru-baru ini. Konflik, tentu saja, adalah masalah yang serius tham harus diatasi karena dapat merusak kerukunan hidup. Untuk meminimalkan konflik, baik mayoritas dan minoritas harus diselaraskan dengan menggunakan beberapa upaya. Salah satu upaya yang dapat ditawarkan adalah kearifan lokal dari buginesss yang disebut paseng dan pangadereng. Paseng terdiri dari ADA tongeng, sipakatau Sipakalebbi, Dan mappesona ri dewata seuwwae. Sementara itu pangadereng terdiri dari adek, rapang, Bicara, warik, Dan sarak, kearifan lokal buginesss ini diharapkan dapat memberikan kontribusi effectifely dalam upaya memba-ngun hubungan harmonis antara mayoritas dan minoritas

    Mengungkap Keunikan Tafsir Aceh

    Get PDF
    Aceh that well-known as “Mecca Verandah†has produced the ulemas with the great works. Aceh’s ulema considered as the first who wrote tafseer (Quranic interpretation) ini Malay language in South East Asia. The tafseer was composed by Abdurrauf al-Singkili. There were still many tafseer books written Aceh’s ulemas need to be explored. This paper will explained several of them and their unique substance. That is important to be mentioned that the ulemas wrote the tafseers in a book, part of the books, article, even mixed with other field of knowledge. The writer will also focuses on method and type of tafseer as Aceh’s ulama works. The creativity of ulemas can be traced through their books of tafseer such “Turjumunul Mustafid, an-Nur, Al-Qur’anul Karim dan Terjemah Bebas Bersajak dalam Bahasa Aceh†etc. These tafseers generally had been written based on tahlili method. Meanwhile the type of tafseer that used consisted of fiqhi, sufi and also ‘ilmi.Aceh, yang terkenal sebagai “Serambi Mekahâ€, melahirkan ulama-lama dengan karya besar. Ulama Aceh-lah yang dianggap sebagai yang pertama menulis buku Tafsir dalam bahasa Melayu di kawasan Asia Tenggara. Kitab Tafsir tersebut disusun oleh Abdur Rauf al-Singkili. Masih banyak buku-buku tafsir yang akan dieksplorasi. Makalah ini menjelaskan beberapa buku tafsir tersebut dan subtansi keunikan masing-masing. Penting disebutkan bahwa ulama-ulama yang menulis buku tafsir (baik dalam bentuk buku atau artikel) berbeda bidang keilmuannya. Penulis menfokuskan pada metode dan jenis tafsir karya ulama Aceh tersebut. Kreatifitas ulama-ulama itu dapat ditelusuri melalui buku-buku mereka, misalnya,“Turjumunul Mustafid, an-Nur, Al-Qur’anul Karim dan Terjemah Bebas Bersajak dalam Bahasa Acehâ€, dan lain-lain. Buku-buku Tafsir tersebut, umumnya, ditulis berdasarkan metode “tahliliâ€. Dalam pada itu, jenis buku tafsir yang diungkap dalam makalah ini terdiri dari ilmu fiqih, sufistik dan keilmuan yang lain

    Tradisi Molonthalo di Gorontalo

    Get PDF
    This paper explores the ritual of molonthalo, a Gorontalonese traditional ceremony.  The molonthalo is performed regarding with the seventh or eighth of pregnancy. This ritual is aimed of express thankful and an expression ‘endowment’ searching by a person or group within the community who believe that there is a Supremy Being in their lives. This study uses an ethnography which is combined with socio-cultural, fenomenology, and normative. It has been found that the molonthalo ritual classied into ‘urf shahih dan ‘urf fasid. It is indicated that there is a relation between this ritual and Islamic tradition. Also there are a number of elements within the ritual are not compatible with the Islamic values. Therefore, a contructive reconstruct-totion to this tradition should be evaluated---that is aimed to Allah centris. Too, this tradition is initiated to prevent community from irrational magic, myths and animism.Tulisan ini memaparkan realitas budaya pada masyarakat Gorontalo yang mengekspresikan rasa syukur atas kehamilan yang sementara berjalan kurang lebih tujuh atau delapan bulan dan dikenal dengan istilah molonthalo. Disamping sebagai ungkapan rasa syukur, ritual ini juga merupakan wujud pencarian “keberkahan†oleh individu ataupun kelompok di dalam masyarakat yang meyakini dan menyadari kehadiran kekuatan “Mahadahsyat†dalam setiap dimensi kehidupan mereka. Kajian ethnografi yang menggunakan sinergi pendekatan sosio kultural, fenomenologi, dan yuridis normatif ini mengklasifikasikannya tradisi molonthalo ini dalam kategori ‘urf shahih dan ‘urf fasid. Dengan klasifikasi ini maka teridentifikasi pula adanya beberapa ritual yang sejalan dengan syariat Islam dan ada pula yang bertentangan. Upaya selanjutnya adalah bagaimana mengeliminir ‘urf fasid tersebut ke dalam suatu format ritual yang perubahannya tidak menghilangkan hakekat atau makna-makna penting yang lahir dari medan budaya masyarakat. Sehingga rekonstruksi terhadap tradisi molonthalo ini tetap diarahkan kepada rasionalisasi dan konversi tradisi yang berorientasi kepada Allah-sentris, serta melepaskan paradigma masyarakat dari jebakan belenggu-belenggu tradisi yang bersifat magis, mitologis, animistis, dan budaya yang irasional

    Sipuisilam dalam Selimut Arat Sabulungan Penganut Islam Mentawai di Siberut

    Get PDF
    The Mentawai island group, due to relative remoteness, has been able to develop independently from activities on the mainland. Therefore, a large part of the population was raised on the organically developed culture and dynamic capacity of the community. This was possible due to the richly endowed environment, which includes the staple food provision in sago trees and an abundance of wildlife, including boars. The food source became an important element in the traditional believe of Arat Sabulungan, as it served as a binding agent in ritual feasts, bonding of sharing animal protein with clan members, payments to fulfil bride price requirements and traditional fines. In 1954, a compulsory introduction of state sanctioned religions was arranged. As the Mentawains acknowledge certain advanced wisdom and wealth of the sasareu or foreigners, many incentive programs made successful converts. Nevertheless, a remarkable adaptation was included; in which some layers of Mentawai identity was not lost in the conversion. In this adaptation the Islamic faith was infused with local perception.          Kelompok  etnik di Kepulauan Mentawai dapat berkembang secara mandiri dari berbagai aktifitas di tanah daratan Mentawai. Hal ini terjadi karena keterasingan dari tanah daratan. Dengan demikian, secara organic sebahagian masyarakat mengembangkan budaya dan dinamika lingkungan yang termasuk didalamnya ketersediaan sagu sebagai bahan pokok makanan dan kelimpahan alam seperti babi hutan. Sumber makanan menjadi unsur utama dalam keyakinan masyarakat, Arat Sabulungan, sebagai suatu media ritual; penyimpanan hewan bersama sesama anggota keluarga; pembayaran syarat mahar; dan tradisi denda. Pada tahun 1945, sebuah kewajiban yang diberlakukan negara yang memberi sanksi agama-agama lokal diperakarsai. Sebagaimana orang-orang Mentawai memiliki kebijakan yang maju dan kekayaan orang asing (sasareu), akibatnya, banyak program bantuan yang sukses dijalankan. Namun demikian, suatu model adaptasi yang menonjol, dimana beberapa lapisan identitas mentawai tidak hilang akibat konversi tersebut. Dalam adaptasi ini, misalnya, keyakinan Islam dimasukkan kedalam persepsi agama lokal

    Bahasa Bugis dan Penulisan Tafsir di Sulawesi Selatan

    Get PDF
    Bugis language is one of the local languages ​​in Indonesia, particularly in South Sulawesi. Bugis language has its own script called Lontarak. Lontarak is a classic text that illustrates the lives of people in the past. There are three Lontarak are found in South Sulawesi, which classic Lontarak, Attoriolong, and Pau-Pau Rikadong. All three contain different content. In the midst of the threat of extinction due to the influence of globalization, then Muslims in South Sulawesi, especially Bugis language seeks to maintain the tradition by writing the Qur\u27an in the Bugis language interpretation using Lontarak script. It is also an attempt by Bugis scholars of South Sulawesi to collaborate between Islam and the treasures of wisdom.Bahasa Bugis merupakan salah satu bahasa daerah di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan. Bahasa Bugis mempunyai aksara tersendiri yang disebut Lontarak. Lontarak adalah naskah klasik yang mengilustrasikan kehidupan manusia di masa lalu. Terdapat tiga lontarak yang dijumpai di Sulawesi Selatan, yaitu Lontarak Pasang, Attoriolong, dan Pau-Pau Rikadong. Ketiganya memuat isi yang berbeda-beda. Di tengah-tengah ancaman kepunahan akibat pengaruh arus global-isasi, maka umat Islam di Sulawesi Selatan khususnya ulama Bugis berupaya me-mpertahankan tradisi bahasa Bugis dengan menulis tafsir Alquran dalam bahasa Bugis dengan menggunakan aksara Lontarak. Hal ini juga merupakan upaya ulama Bugis di Sulawesi Selatan untuk mengkolaborasikan antara Islam dan khazanah kearifan lokal

    Dialog Adat dan Agama, Melampaui Dominasi dan Akomodasi (Muslim Hatuhaha di Pulau Haruku Maluku Tengah)

    Get PDF
    The dialog between local culture and religion cannot be separated with the history of religious communities in Indonesia. This article is aimed to describe a form of dialogue between local culture and religion among Muslims of Hatuhaha community in the Central Moluccas. It is particularly to understand forms of dialogue between local culture and religion, specifically Islam in Indonesia. This article is based on a field research in the Haruku island of Central Moluccas in 2009 by using qualitative method. It has been found that, firstly, there has a constructive dialogue between Islam as a religion and local culture since the religion was accepted as a “new ideology†within island communities in Indonesia. Secondly, there are three models of dialogue between the religion and local culture, i.e. “dominationâ€, “accommodationâ€, and “contextualâ€. Relasi dialogis antara kebudayaan lokal atau adat dengan agama tidak dapat dipisahkan dari sejarah kelompok-kelompok masyarakat beragama di Indonesia sekarang. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan bentuk dialog adat dan agama di kalangan KMH di Maluku Tengah sebagai upaya memahami pola-pola dialog adat dan agama secara khusus Islam di Indonesia. Tulisan ini dibangun dari hasil penelitian lapangan di Pulau Haruku Maluku Tengah tahun 2009, menggunakan paradikma penelitian kualitatif. Penelitian ini menemukan bahwa (1) telah terjadi relasi dialogis antara agama (Islam) dan budaya lokal (=adat) sejak Islam diterima sebagai “ideologi†baru kelompok-kelompok masyarakat di kepulauan Indonesia. (2) terdapat tiga model dialog antara adat dan agama yang dijumpai pada masyarakat Islam di Indoneisa, yakni model “dominasi†model “akomodasi†dan model “kontekstualâ€

    Kearifan Lokal Masyarakat Towani Tolotang di Kabupaten Sidenren Rappang

    Get PDF
    The aspects of local wisdom of Towani Tolotang society can be classified by three aspects, but it could be manifested in concept “Perrinyamengâ€. Relation to the God, it includes the value of loyalty to Dewata Seuwae and respect to Wa’ as the leader at once. Relation to humanity includes the value of togetherness, peace, social sensitivity, justice and others. Where as, the value of relation to nature is saving nature for human intention. The three given relations of local wisdom implicate greater for lives of Towani Tolotang society, although not all of them is able to apply that value. Studying from local wisdom of Towani Tolotang society, found alternative ideas for conflict solution in Indonesia, “Perrinyameng†to be meant is the will for serious working, highly respected to the human beings, and widely social sensitivity for human’s destiny. This given concept has relevance if it is integrated with values of Islam. “Perrinyameng†is one of the most idealistic concepts to be applicable in handling Indonesia conflicts.  Aspek-aspek kearifan lokal masyarakat Towani Tolotang dapat diklasifikasi dalam tiga hal namun dapat termanifestasikan dalam suatu konsep “Perrinyamengâ€. Hubungan kepada Tuhan mengandung nilai ketaatan kepada Dewata Seuwae sekaligus penghormatan kepada Wa’ sebagai pemimpin. Kemudian hubungan kepada sesama manusia mengandung nilai kebersamaan, kedamaian, kepekaan sosial, keadilan dan lain sebagainya. Adapun nilai hubungan kepada alam ialah melestarikan alam untuk kepentingan manusia Kearifan tersebut sangat besar implikasinya bagi kehidupan masyarakat Towani Tolotang, meskipun tidak seluruhnya mampu menerapkan nilai-nilai kearifan tersebut. Belajar dari kearifan lokal masyarakat Towani Tolotang, terdapat gagasan alternatif solusi konflik di Indonesia, yakni Perrinyameng yang dapat dimaknai sebagai kemauan untuk bekerja keras, penghargaan yang tinggi terhadap sesama manusia, serta kepekaan sosial yang tinggi terhadap nasib sesama manusia. Konsep tersebut memiliki relevansi bila diitegrasikan dengan nilai keislaman

    Relasi Islam dan Hindu Perspektif Masyarakat Bali

    Get PDF
    This article explores the problem of relations between Mulsim and Hindu community in Bali. Methodologically, it consisted of three regions: Denpasar, Karangasem and Singaraja. Basically, the relation between Islam and Hindu in Bali has been strengthened by the Bali’s local culture which still continues to develop and exist until today. Genealogical relations due to marriage among families in the past and their generation’s nowadays also contribute significantly to the living harmony among Hindus and Muslims in Bali. Too, local governments trough Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (Religion Followers Forum) and the Ministry of Religious Affairs facilitate wider medium of dialogues after the Reformasi era; therefore, relation among them remains constructive and puts forward local wisdom as the basis.Tulisan ini mengangkat masalah relasi antara komunitas Islam dan Hindu yang secara umum ada di Bali. Hanya saja dalam rangka kepentingan metodologis dibatasi pada komunitas Islam dan Hindu di tiga daerah yaitu: Denpasar, Karangasem dan Singaraja. Relasi Islam dan Hindu di Bali pada dasarnya diperkuat pada tatanan budaya Bali yang berkembang dan terus lestari hingga saat ini. Peranan geneologis yang terjadi akibat perkawinan antar keluarga di masa lalu menjadi tali penguat relasi dimaksud. Peranan raja-raja di masa lalu dan generasinya hingga saat ini juga memberikan kontribusi yang tidak sedikit terhadap kehidupan harmonis Islam dan Hindu yang ada di Bali. Pemerintah daerah lewat Forum Kerukunan Antar Umat Beragama dan Kementerian Agama memberikan media yang lebih besar setelah masa reformasi, sehingga relasi semakin baik dan menempatkan kearifan local sebagai salah satu fondasinya

    342

    full texts

    388

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Ulum
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇