388 research outputs found

    Pendidikan Karakter: Al-Qaulu Al-Qadim wa Al-Qaulu Al-Hadits

    Get PDF
    This articlediscusses about character building education, Al-Qaulu Al-Qadim Wa al-Qaulu Al-Hadits. Education, accordingly, isaimed to improve the ability of controlling emotion, have tolerant (samahah) and inclusive, that is to invest moral values, such as honesty, loyalty, integrity, trustworthy, respect, responsibility, fairness, and caring. Character building is also intended to make students as cultivating students’ practical skills, creativity, industriousness, cultivating students innovative spirit, self-confidence, andwisdom. Ultimately, all theseelements have been mentioned above will be obtained through character education.Tulisan ini membahas tentang pendidikan karakter, Al-Qaulu Al-Qadim Wa al-Qaulu Al-Hadits. Pendidikan dimaksud bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mengendalikan emosi dan bersikap samahah (toleran) dan terbuka, bagaimana menanamkan nilai nilai kejujuran (honesty), loyalitas, dan integritas (integrity), dapat dipercaya (amanah.trusworthy), memperlakukkan orang lain dengan respek (respect), bertanggung jawab (responsible), adil (fair), serta peduli dan kasih (caring), memiliki ciri manusia trampil (cultivating students’ practical skills), kreatif, kerja keras, bersemangat (cultivating students innovative spirit), mandiri, percaya diri, bijak, tekun, tegar, tertib, sadar hukum dan aturan, disiplin, damai, dan hormat, santun, suka menolong, dan baik serta rendah hati. Semua unsur yang disebut di ataslah yang ingin dicapaidalam pendidikan karakter

    Pendidikan Karakter pada Psikolinguistik Bahasa Arab

    Get PDF
    This article is going to discuss about psycholinguistics point of view in the Arabic language which is oriented to character education. When education meets some principles obstacle in putting human be a human to be better as basic orientation of education, national character education emerges with four pillar of development whichare included heart cultivation, thought cultivation, sense cultivation, and physical cultivation as the manifestation of Pancasila moral values. In psycholinguistic point of view, Arabic language lesson tends to be considered as an activity which erodes nationalism in using Indonesia language as united language. However, Arabic language can be a process to strengthen the nationalism by integrating the four pillar of national character education in learning Arabic language.Tulisan ini akan membahas tentang dimensi psikolinguistik bahasa Arab yang berorientasi pendidikan karakter. Saat pendidikan mengalami berbagai kendala prinsip dalam memanusiakan manusia menuju perubahan yang lebih baik sebagai orientasi dasar pendidikan, pendidikan karakter bangsa muncul dengan menawarkan empat pilar pengembangan yang meliputi olah hati, olah pikir, olah rasa, dan olah raga sebagai menifestasi dari nilai luhur pancasila. Dalam dimensi psikolinguistik, pembelajaran bahasa Arab yang cenderung dianggap sebagai suatu aktivitas yang mengikis nasionalisme akan kecintaan terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bisa menjadi proses yang semakin memperkokoh nasionalisme tersebut dengan melakukan integrasi keempat pilar pendidikan karakter bangsa tersebut dalam kegiatan pembelajaran bahasa Arab

    Wacana Non Dominan: Menghadirkan Fikih Alternatif yang Berkeadilan Gender

    Get PDF
    Jurisprudence has a diversity of opinions over the law interpretation. Among other is the women jurisprudence. Furthermore, the women legal opinion is subsequently not single but diverse. The diversity of women jurisprudence is actually seen as an alternative, that is, ‘gender’ perspective kind of fiqh. This paper offers a non-mainstream discourse over the fiqh by presenting and assessing ‘gender’ perspective kind of jurisprudence. This is done because it is seen that most discourse over women jurisprudence were dominated by gender inequality; and therefore it should be thoroughly criticized. With the exception of akiqah discourses, the way to bath boys’ and girls’ urine, they both treated equally the same. Any physically contacts with women subsequently do not invalidate the ablution (wudhu). Therefore, woman has equal rights with man in custody, witness and leadership. More importantly, in the non-dominant discourse of jurisprudence, woman may be a guardian and a witness to a wedding, even can be a khutbah priest and an imam of public congregational prayers.Fikih kaya atas keragaman opini hukum, termasuk fikih perempuan. Opini hukum fikih tentang perempuan tidak tunggal melainkan beragam. Keragaman fikih perempuan ini sejatinya menjadi pilihan alternatif atas fikih yang berperspektif gender. Tulisan ini menawarkan wacana non dominan sebagai fikih alternatif untuk menghadirkan fikih yang berkeadilan gender. Sebab wacana dominan tentang fikih perempuan dikritik sebagai fikih yang tidak berkeadilan gender. Sementara fikih tidak hanya menghadirkan wacana dominan, melainkan juga menyandingkan wacana non dominan. Dalam wacana non-akikah dan cara membersihkan air kencing bayi laki-laki dan perempuan disamakan. Bersentuhan dengan perempuan tidak membatalkan wudhu, dan perempuan memiliki hak yang sama dengan lelaki dalam hal perwalian, saksi dan kepemimpinan. Dalam wacana non dominan, perempuan boleh menjadi wali dan saksi pernikahan, imam salat jamaah dan pemimpin publik

    Nalar Teologis dan Hukum Islam Bias Gender

    Get PDF
    One of the core teachings of the Qur\u27an is the dignity of human beings are equal before God, regardless of differences in gender (men and women). What distinguishes the two is the quality of piety. Substancely,  gender discourse is not new in Islam. When the degrees are equal before God, then men and women should be able to establish a good working relationship without harming each other. Among the causes of the persistence of the Muslim understanding that gender bias is a false construct understanding in interpreting the word of God and the Hadith of the Prophet which then legitimized by Islamic laws. To that end, contextual reinterpretation of any gender bias arguments to be conducted. The reinterpretation considering the current situation and the principle of mutual benefit, thus giving birth to a new paradigm of meaning and gender-equitable and aligned with the universal values of Islam.Salah satu ajaran inti al-Qur’an adalah mengangkat harkat dan martabat manusia sama di hadapan Allah, tanpa mengenal perbedaan jenis kelamin (laki-laki dan perempuan). Yang membedakan keduanya hanyalah kualitas ketakwaannya. Wacana gender secara subtansi bukanlah hal yang baru dalam Islam. Bila dihadapan Allah derajat manusia sama, maka seyogyanya laki-laki dan perempuan mampu menjalin hubungan kerja sama yang baik tanpa merugikan salah satu pihak. Di antara penyebab masih adanya pemahaman umat Islam yang bias gender adalah konstruk pemahaman yang keliru dalam menafsirkan firman Allah dan Hadis Nabi yang kemudian dilegitimasi dengan produk hukum Islam. Untuk itu, reinterpretasi secara kontekstual terhadap setiap dalil yang bias gender mutlak dilakukan. Reinterpretasi tersebut mempertimbangkan kondisi kekinian dan prinsip kemaslahatan bersama, sehingga melahirkan makna dan paradigma baru yang berkeadilan gender serta selaras dengan nilai universal Islam

    Pendidikan Karakter Berbasis Sunnah Nabi

    Get PDF
    This paper elaborates about educational character based on Prophet Muhammad Saw’s traditions. Some problems are arising on our youth generation, such as narcotic distribution, free sex, students fighting, etc., make us and education practical to find a solution in order to save the generation. Finding solution for the problems have been mentioned above is not too difficult, since we are serious to study and understand Islam teaching. It is because one of the main objectives of delegating Prophet Muhammad Saw is to repair human character. The Prophet Muhammad Saw) that all his attitude and behaviour are reflection from Al Qur’an has been succeed to build one generation is known as Rabbani, namely the generation who perfect on their belief of God and their character. The qualified education theory is valid theory logically and comes from outdebating source or reference, and the theory is only met in the Quran and the traditions of the prophet Muhammad Saw which are the main theme of this journal.Tulisan ini membahas tentang pendidikan Karakter berbasisi sunnah Nabi. Munculnya berbagai persoalan yang mengepung para anak didik kita, mulai dari maraknya peredaran Narkoba, pergaulan bebas, tawuran antar pelajar, terlibat anggota geng motor, membuat kita dan praktisi pendidikan mencari solusi untuk menyelamatkan generasi ini dari persoalan tersebut. Mencari solusi terhadap persolan ini tidaklah susah jika kita ingin mengkaji dan mendalami ajaran agama Islam. Karena salah satu tujuan utama diutusnya Rasulullah adalah memperbaiki karakter manusia. Rasulullah yang semua tingkah lakunya merupakan cerminan dari Al Qur’an telah berhasil mencetak generasi yang dikenal dengan generasi Rabbani, yaitu generasi yang mapan dari segi Aqidah dan cakap dari etika/karakter. Teori pendidikan yang berkualitas adalah teori yang benar secara logika dan teori yang berasal dari sumber yang kokoh, dan teori itu hanya dapat dijumpai dalam Alquran dan Sunnah Rasululla Shallallhu ‘alaihi wa sallam yang merupakan bahasan utama dalam Jurnal ini

    Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Karya MUI Sul-Sel

    Get PDF
    Tafsir Bugis, which compiled by the Indonesian Ulema Council (MUI), existed within South Sulawesi among Bugis people to fill the lack of literature in Bugis area; therefore, the Qur\u27an can be understood by ordinary people who do not understand or know Latin language (i.e. Malay) or Arabic interpretation. This includes commentary Tafsir al-Qur\u27an Bugis completed a 30 chapters written by Bugis interpretation AG. Daud Ismail. The methodology of the tafsir is using the tahlily method through textual forms and the way its construction is not very merely affiliated schools of philosophy and its schools of fiqh.Tafsir Bugis yang disusun oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan hadir di tengah masyarakat Bugis untuk mengisi kekosongan terhadap literatur yang berbahasa daerah Bugis agar supaya al-Qur’an bisa dipahami oleh masyarakat awam yang kurang paham atau mengerti bahasa latin (Melayu) apalagi  tafsir yang berbahasa Arab. Tafsir ini termasuk tafsir al-Qur’an Bugis yang lengkap 30 juz yang kedua setelah tafsir Bugis yang ditulis oleh AG. Daud Ismail. Metodologi tafsir Bugis MUI ini yaitu analisis menggunakan bentuk tahlily yang bercorak tekstualis dan warna (lawn) pemikirannya tidak terlalu nampak afiliasinya kepada aliran-aliran kalam, demikian pula warna mazhabnya

    Jengah dan Transformasi Nilainya

    Get PDF
    Globalization with its threat that continously plaguing Bali, currently a province of Indonesia in its capacity as an island with natural and cultural uniqueness. This study aims to find out, how big a threat that plagued contemporary Bali, and the role of embarrassment (jengah) in the face. The study founds that embarrassment (jengah) with the transformation of the values they contain contribute positively in the face of threat and is able to guarantee the future sustainability of Bali with its uniqueness. By transforming the values of embarrasment (jengah), Bali provincial government managed to improve their good governance and the nationalism of its apparatus, capable of providing a positive impact in the swift efforts to deter threats to the uniqueness of Bali.Globalisasi dengan kandungan ancamannya, terus mendera Bali dalam kapasitasnya sebagai sebuah pulau dengan keunikan alam dan budaya yang dimiliki, yang saat ini menjadi salah satu provinsi dari 33 propinsi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, seberapa besar ancaman yang mendera Bali kontemporer, serta peran jengah dalam menghadapinya. Ditemukan dalam tulisan ini, jengah dengan transformasi nilai-nilai yang dikandungnya berkontribusi positif dalam menghadapi ancaman itu serta mampu memberikan jaminan kelangsungan masa depan Bali dengan keunikan yang dimilikinya. Dengan melakukan transformasi terhadap nilai-nilai jengah, Pemprov Bali berhasil meningkatkan good governance-nya serta nasionalisme aparaturnya, yang mampu memberikan dampak positif dalam upaya menangkal derasnya ancaman terhadap keunikan yang dimiliki Bali

    Religiusitas dan Kepercayaan Masyarakat Bugis- Makassar

    Get PDF
    This article explores the old beliefs of Bugis and Makassar peoples. The old beliefs which still exist and are preserved within community until nowadays. In the concept of god, for example, the terms of “Dewata SeuwwaE†(Bugis) and “Tau ri A’rana†(Makaasar) still can be heard and believed. In the daily lifes, the influence of local beliefs cover rituals such “mappangre galung†(farmer) and “maccera tasi†(fishermen) still conducted in the community. This article also evaluates the old beliefs of South Sulawesi peoples, both before and after the coming of Islam. Also these religions’ influences in the daily lives are highlighted. A dynamic dialogue between the local religions and Islam becomes the core of this paper.Artikel ini mengulas tentang kepercayaan lama orang Bugis dan Makassar. Kepercayaan yang bentuk dan manifestasinya masih bisa ditelusuri keberadaannya sampai sekarang. Dalam konsep ketuhanan, misalnya, istilah Dewata Seuwa (Bugis) dan Tau ri A’rana (Makassar) masih sering diengar dan diyakini eksistensinya. Demikian pula dalam kehidupan sehari-hari, acara-acara seperti “mappangre galung†dan “maccera tasi†masih sering dilakukan dalam masyarakat petani dan nelayan. Tulisan ini, juga, mengeksplorasi keyakinan masyarakat di Sulawesi Selatan ini, baik sebelum maupun sesudah masuknya Islam. Begitu pula pengaruh agama lokal dan agama baru (Islam) dalam kehidupan sehari-sehari. Dialog yang dinamis antara agama lokal dengan Islam manjadi instisari tulisan ini

    Islam dan Kebudayaan

    Get PDF
    Artikel ini mendiskusikan tentang Islam dan kebudayaa. Islam mempunyai dua aspek, yakni segi agama dan segi kebudayaan. Dengan demikian, ada agama Islam dan ada kebudayaan Islam. Dalam pandangan ilmiah, antara keduanya dapat dibedakan, tetapi dalam pandangan Islam sendiri tak mungkin dipisahkan. Antara yang kedua dan yang pertama membentuk integrasi. Demikian eratnya jalinan integrasinya, sehingga sering sukar mendudukkan suatu perkara, apakah agama atau kebudayaan. Misalnya nikah, talak, rujuk, dan waris. Dipandang dari kacamata kebudayaan, perkara-perkara itu masuk kebudayaan. Tetapi ketentuan-ketentuannya berasal dari Tuhan.This paper discusses about Islam and culture. Islam basically has two terms i.e. religious and cultural. There is no distinguishing gap between “religion of Islam†and “Islamic cultureâ€. In the scientific perspective, the two can be differentiated, but in view of Islam itself it cannot be separated. Both form integration. The integration is so tight. Therefore, it is often difficult to distinguish whether the religion or culture; for example, marriage, divorce, reconciliation and inheritance. In the perspective of culture, it makes matters of culture; yet, their provision comes from God

    Penaklukan Negara atas Agama Lokal Kasus Towani Tolotang di Sulawesi Selatan

    No full text
    This paper is a reflection of the local defense of the religion that had been marginalized by looking further into the state of the local religious marginalization. In its development, the country never abandoned the religion of his intervention. In fact, very close to the state religion. How and through what medium the conquest of the local religion? This question is the focus of this paper by outlining the three sub-themes. First, it is form or variety of ideas in local religious position. Second, the actors involved in local religious positioning. Third, local response, including the existence of local religious elite, associated with differences in religion and culture of the surrounding community. This paper shows that the state has put religion at the ‘manageble’ position. In fact, the position of religion as an important entity is frequently controlled. Similarly, in this paper, it can be found how local communities respond to the presence of local religious so local religion not only placed in the controlled set, but also constantly challenged by the surrounding environment.Tulisan ini merupakan refleksi pembelaan terhadap agama lokal yang selama ini termarginalkan dengan melihat lebih jauh mengenai proses marginalisasi negara terhadap agama lokal. Dalam perkembangannya, negara tidak pernah melepaskan agama dari intervensinya. Bahkan, agama sangat dekat dengan negara. Bagaimana dan melalui media apa negara melakukan penaklukan terhadap agama lokal? Pertanyaan ini menjadi fokus dalam tulisan ini dengan menguraikan tiga sub-tema. Pertama, bentuk atau variasi ide dalam memposisikan agama lokal. Kedua, aktor yang terlibat dalam pemosisian agama lokal. Ketiga, respons lokal termasuk elite terhadap keberadaan agama lokal, terkait dengan perbedaan dengan agama dan kultur masyarakat sekitar. Tulisan ini menunjukkan bahwa negara telah menem-patkan agama pada posisi yang selalu diatur. Bahkan, memposisikan agama sebagai sebuah entitas penting yang harus dikendalikan. Demikian pula, dalam tulisan ini dapat ditemukan bagaimana respons masyarakat lokal terhadap keberadaan agama lokal sehingga agama lokal tidak hanya ditempatkan pada posisi yang diatur, tetapi juga selalu digugat oleh lingkungan di sekitarnya

    342

    full texts

    388

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Ulum
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇