Al-Ulum
Not a member yet
388 research outputs found
Sort by
Pengembangan Karakter Toleran dalam Problematika Ikhtilaf Mazhab Fikih
The discourse of ikhtilaf is an undeniable reality. Consequently, to put forward opinion in the same agreement will likely to contradict with human nature which has been determined by Allah SWT. The different thoughts among the ulamas are actually good phenomena in Islamic teaching, which lead to Isla to be more variativ. Fiqh minded which are triggering into in-tolerancy dan discriminative character toward the other groups should be critically understood as an historical product which is very possible to be changed. This paper proposes tolerant character development in facing the difference among Islamic thought schools (mazhab fiqh) through four scopes of character education: that are, spiritual and emotional development, intellectual develompmet, physical and kinesthetic development, and affective and creativity development. These four characters will give per-ception to address the differences (ikhtilaf) among Muslims and eventually come to either tolerant or in-tolerant character.Wacana ikhtilaf merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat dipungkiri. Karenanya, menyamakan pendapat adalah suatu hal yang bertentangan dengan kodrat manusia yang Tuhan telah tetapkan. Perbedaan mazhab di kalangan ulama sebuah fenomena khazanah kekayaan Islam yang memberi hidup secara variatif. Fikih yang mengarah pada sikap intoleran dan diskriminatif terhadap kelompok lain sudah saatnya dibaca secara kritis sebagai sebuah produk sejarah yang sangat mungkin untuk dirubah. Tulisan ini menawarkan tentang pengembangan karakter toleran dalam menyikapi perbedaan mazhab fikih dengan melewati empat ruang lingkup pendidikan karakter, yaitu olah hati (spiritual and emotional development), olah pikir (intellectual develompmet), olah raga (physical and kinesthetic develop-ment) serta olah rasa dan karsa (affective and creativity development). Empat karakter di atas, akan memberikan persepsi kepada subjek dalam menyikapi perbedaan (ikhtilaf) yang pada akhirnya berujung pada sikap toleran ataukah intoleran
Islam Concept about Tolerance and Religious Freedom
The discourse of tolerance and religious freedom become the impossibility which cannot be escaped in our plural society life. The main problem is how the concept al-Qur’an in explaining well the case of tolerance and religious freedom. Religious freedom naturally is the foundation for creating religion harmony between religious followers. Without religious freedom, it is impossible to create religion harmony. Religious freedom is the right of every people. The right to convey God is given, and nobody can take it out. Tolerance, freedom, and religion plurality implicitly and explicitly contain in al-Qur’an. The confirmation of al-Qur’an about social group plurality and life necessity amomg groups are developed without limitationas long as have benefits. The acknowledgement of al-Qur’an about social group plurality and the human necessity life is guided without limitation as long as it has profit and benefit. In the case of aqidah and belief, al-Qur’an contains very absolute boarded and there is no bargain, because belief and faith is the case relation between human and their Creature.Wacana toleransi dan kebebasan beragama merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat dielakkan dalam kehidupan masyarakat plural.Persoalan utamanya adalah bagaimana konsep al-Qur’an dalam menjelaskan secara lebih baik ihwal toleransi dan kebebasan beragama.Kebebasan beragama pada hakekatnya adalah dasar bagi terciptanya kerukunan antar umat beragama.Tanpa kebebasan beragama tidak mungkin ada kerukunan antar umat beragama.Kebebasan beragama adalah hak setiap manusia. Hak untuk menyembah Tuhan diberikan oleh Tuhan, dan tidak ada seorangpun yang bisa mencabutnya.Toleransi, kebebasan, dan pluralitas beragama secara implisit maupun eksplisit terdapat dalam al-Qur’an. Pengakuan al-Qur’an tentang pluralitas kelompok sosial dan pemenuhan hidup antar kelompok manusia dibina tanpa ada batasnya selama mendatangkan kemaslahatan.Dalam hal aqidah dan keyakinan al-Qur’an memuat garis demarkasi yang sangat pasti dan tidak ada sikap tawar menawar karena keyakinan dan keimanan adalah masalah hubungan manusia dan Tuhannya
Religion Based-Anti-Corruption Education (An Effort to Strengthen Nation’s Character)
Agama selama ini dipahami sebagai sebuah doktrin normative-tekstual, hanya mengajarkan keimanan dan ketakwaan, tetapi kurang menyentuh realitas. Hal ini menyebabkan kurangnya kepedulian masyarakat terhadap masalah-masalah sosial, seperti masalah korupsi. Karena itu, kajian ini berupaya melihat sejauhmana realitas masyarakat religius dapat diakomodasi dalam Pendidikan Anti-Korupsi (PAK). Penelitian ini menerapkan riset pustaka murni dalam mencari sumber-sumber data primer tentang teori-teori PAK dalam perspektif agama dengan pendekatan rekonstruksi sosial. Data selanjutnya dianalisis dan dielaborasi menjadi prinsip-prinsip paradigmatis sebagai dasar filosofis PAK berbasis agama. PAK berbasis agama sangat mungkin diterapkan dalam proses pembelajaran melalui internalisasi nilai-nilai keagamaan dengan tema-tema amanah dan keadilan, serta pendekatan integratif-sintesis; pendekatan saintifik dan spiritual, dalam rangka penguatan karakter bangsa.Religion has been understood as a normative-textual doctrine, which teaches faith and devotion; but it doesn’t touch reality. This leads to a lack of people’s awareness of social issues, such as corruption. Therefore, this study attempts to see how far the reality of religious society can be accommodated in the Anti-Corruption Education. This paper is a library research to be applied in collecting data on theories of anti-corruption education in religious perspective through social reconstruction approach. The data were analyzed and elaborated into paradigmatic principles as the basis of religion based-anti-corruption education. Religion based-anti-corruption education is highly feasible to apply in the learning process through internalization of religious values with themes of trustworthiness and fairness, and integrative-synthesis approach, scientific and spiritual approachs, in order to strengthen nation\u27s character
Pembentukkan dan Pengembangan Karakter dalam Kepemimpinan
Leaders are individuals who led a social activity. They should regulate, lead, organize, manage and evaluating people. Therefore, leadership should have a legitimate acknowledgment and support from his followers. In order to have a great deal of influence from his/her followers, a leader should have good personality and good character; that is, understand and aware his/her own existences, respect to others, have good morality and also devout to Allah SWT. To develop a good and strong leadership, a leader should have spiritual and emotional intelligence and develop these intelligences continually, so his/her good character eventually will be built and it will be useful for his/her organization and community.Pemimpin merupakan individu yang memimpin melalui kegiatan sosial. Pemimpin mempunyai fungsi mengatur, mengarahkan, mengorganisir, mengawasi dan mengevaluasi orang lain. Pelaksanaan kepemimpinan tersebut memperoleh pengakuan serta dukungan dari bawahannya. Mempengaruhi bawahan seorang pemimpin diharapkan memiliki pribadi dan karakter yang baik yaitu, memahami dan menyadari eksistensi diri sendiri, menghargai orang lain, memiliki etika dan moralitas, serta senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT. Untuk mengembangkan kepemimpinan yang baik hendaknya juga memiliki kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual serta mengembangkannya secara terus menerus sehingga terbentuk menjadi suatu karakter yang bermanfaat bagi organisasi maupun masyarakat luas
Nilai-Nilai Pendidikan Karakter pada Ajaran Cinta dalam Tasawuf
Students consider that teaching of love in tasawuf consists of great values of educational character. The teaching of love itself stimulates good character as manifested in the willingness to live in peace which in turn enable to guide one to exercise good speech and deeds that could make other people feel happy,sincere, fair, and honest.On the basis of this reliance, one should realize that love could only be reached by implementing systematic character education because started from purifying self from any sinful deeds and then followed by fulfilling self with good deeds, such as love, patience, and tolerance. The benefit that can be acquired from the concept of love are empathy as well as mutual help among people, harmonious and peaceful life as member of community as well as nation.Ajaran cinta dalam tasawuf menurut mahasiswa, terdapat nilai-nilai pendidikan karaktek. Wujud cinta menjadikan seseorang berakhlakul karimah yang senantiasa menginginkan kedamaian, sehingga dalam setiap ucapan dan tingkah laku selalu menyenangkan orang, ikhlas, adil dan jujur. Terhadap cara yang ditempuh dalam mencapai cinta menunjukkan nilai-nilai pendidikan karakter secara keseluruhan, karena diawali dengan pembersihan diri dari segala bentuk dosa dan sifat-sifat buruk, kemudian pengisian diri dengan perbuatan dan sifat-sifat baik, seperti, kasih sayang, sabar dan toleransi. Manfaat yang diperoleh dari konsep cinta menunjukkan nilai-nilai pendidikan karakter karena dapat melahirkan sikap empati, tolong menolong terhadap sesama, keharmonisan dan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa
Pendidikan Untuk Pengembangan Karakter (Telaah terhadap Gagasan Thomas Lickona dalam Educating For Character)
This paper discusses about Thomas Lickona’s idea on education character. It is mainly an attempt to shape one\u27s personality through education which it results can be seen in action in the form of one\u27s good behavior, honest, responsible, respect the rights of others, hard work, and so on. The main goal of educational character is to encourage good habits; so that, learners understand, able to feel, and want to do goods. Educational character has the same mission with behavior education or moral education. Thomas Lickona assert that the basic laws of morality should be applied in the educational sectors in accordance with the principles of religious teachings in the holy scriptures. Therefore, the implications of the basic laws of morality will be universally valid.Tulisan ini akan membahas konsep pendidikan karakter dalam pemikiran Thomas Lickona sebagai upaya untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang berupa tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras dan sebagainya. Tujuan pendidikan karakter adalah menanamkan kebiasaan yang baik, sehingga peserta didik paham, mampu merasakan, dan mau melakukan yang baik. Pendidikan karakter membawa misi yang sama dengan pendidikan akhlak atau pendidikan moral. Thomas Lickona mengatakan bahwa dasar hukum moralitas yang harus diterapkan dalam dunia pendidikan sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran agama dalam kitab suci, dan implikasi dari dasar hukum moralitas ini berlaku secara universal
Inclusive Paradigm –Religion Pluralism on Al-Quran Perspective (Qs. Al-Baqarah/2: & Qs. Ali Imran/3: 64 Analysis)
This writing is discussing Alquran perspective about the attitude which should be owned by every Moslem in facing religion pluralism as something is possible and factual. By doing deep analysis on QS AlBaqarah /2: 136-137 and QS Ali Imran /3: 64, it is clear that pluralism is factual and be sunnatulah which should be exclaimed its truth. The three verses are also claim five ideal forms which should be had and implemented by all Moslem in regulating their interaction with other religion followers. As the biggest inspiration of a Moslem, then the finding meaning on Alquran verses will minimalize even erupt all exclusive paradigm on religion which for long time constraint the harmony of religion relationship. Exclusive religion bears, because there is misunderstanding and less of understanding about Alquran verses.Tulisan ini menyorot pandangan Alquran tentang sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap muslim dalam menyikapi pluralitas agama sebagai sesuatu yang niscaya dan faktual. Melalui analisis mendalam terhadap QS. al-Baqarah/2: 136-137 dan QS. Ali Imran/3: 64, tampak jelas fakta pluralitas sebagai sunnatullah yang harus diakui keberadaannya. Ketiga ayat tersebut juga menegaskan lima bentuk sikap ideal yang harus dimiliki dan diimplementasikan oleh setiap muslim dalam menata interaksinya dengan penganut agama lain. Sebagai sumber inspirasi terbesar seorang muslim, maka penyingkapan makna di balik ayat-ayat Alquran tersebut akan meminimalisir bahkan mengikis habis sikap ekslusivis beragama yang selama ini telah memasung keharmonisan hubungan antaumat beragama, sebab lahirnya sikap ekslusivis beragama tidak terlepas dari adanya miss understanding dan kedangkalan pemahaman terhadap ayat-ayat Alquran
Muhammad Iqbal’s Philosophy of Religion and Politics: The Basic Concept of Religious Freedom
The objective of this writing is to explore Iqbal’s thought about religion and politics as the basic concepts of religious freedom. This writing is done by doing research in library and running qualitative research based on philosophical approach. The study is analyzed through descriptive analysis to get accurate results from the objective of the study. The results of the research are: 1) Iqbal’s thought of religion is based on creed (belief), which reflects on rational thought. Iqbal’s effort on reconstruction of religion gives harmony between religion and politics which leads to the society too. 2) The religious freedom from Iqbal’s thought is based on the political ethics concept. His idea is started with the integration between Western thoughts and the Qur’an. Iqbal’s perspective of ego promotes self freedom, so every person can avoid his self from getting perfect spiritual (insane kamil). 3) Individual that lives in “reality as self conscious†concerns on the powers, which will create a harmony to society.Tujuan penulisan ini adalah untuk mengeksplorasi pemikiran agama dan politik Muhammad Iqbal sebagai landasan pemikirannya tentang kebebasan beragama. Tulisan ini menggunakan metode library research dengan jenis penelitian kualitatif melalui pendekatan filsafat. Hasil temuan tulisan inin adalah: 1)Pemikiran keagamaan Iqbal didasarkan pada iman kemudian direfleksikan dalam bentuk pemikiran rasional. Upaya Iqbal dalam merekonstruksi pemikiran agama adalah memberikan keharmonisan pada agama dan politik dalam mencapai kehidupan sosial yang harmoni. 2) Pemikiran Iqbal tentang politik sebagai dasar kebebasan beragama adalah didasarkan pada konsep etika politik. Dasar pemikirannya diawalidengan konsep diri dengan memadukan pemikiran Barat dengan Alquran. Ego bagi Iqbal adalah kausalitas pribadi yang bebas, sehingga setiap individu mesti mampu mengendalikan dirinya untuk mencapai kesempurnaan spiritual (InsanKamil). 3) Individu sebagai reality as self conscious adalah suatu kesadaran akan kekuatannya, dan kesadaran akan tujuan hidupnya yang besar bergabung dalam masyarakat untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang harmonis
Relation Between Pancasila and Islamic Values on Religious Freedom
The discourse of religious harmony and freedom is still a current study and much studied through various approaches, including in the perspective of history, sociology, and culture. In Indonesia, normatively, the practices of religious harmony and freedom are referred to both Islamic religion and Pancasila values. The two normative references are positioned in line. Thus, even for the people, Pancasila has a spirit of Islam, because the framers of Pancasila (and Konstitution UUD 1945) are Moslem like Muhammad Yamin and Sukarno. Consciously or not, the Islamic teaching viewed by those framers of Pancasila absorbed into the values of Pancasila. Therefore, it is fair enough that Pancasila and Islam have harmony and conformity, including the concepts of religious harmony and freedom.Wacana kerukunan dan kebebasan beragama masih menjadi kajian aktual dan banyak dikaji melalui berbagai pendekatan, diantaranya dalam perspektif sejarah, sosiologi, dan budaya. Di Indonesia, secara normatif, praktik kerukunan dan kebebasan beragama mengacu pada nilai agama Islam dan Pancasila sekaligus. Kedua acuan normative tersebut diposisikan sejalan. Bahkan bagi sebagian kalangan Pancasila memiliki ruh ajaran Islam, karena para perumus Pancasila (dan UUD 1945) adalah umat Islam, seperti Muhammad Yamin dan Soekarno. Disadari atau tidak, ajaran Islam yang dipersepsi para perumus Pancasila tersebut meresap kedalam Pancasila. Oleh karena itu, wajar apabila antara Pancasila dan Islam memiliki keselarasan dan kesesuaian, termasuk dalam hal konsep kerukunan dan kebebasan beragama
Nilai –Nilai Kearifan Lokal Pulanga untuk Pengembangan Karakter
A great nation is a nation that has a strong character derived from the values emerged from the culture of its peoples. The values of local wisdoms are not barrier to progress in the global era; they will lead to a tremendous transformational force in improving the quality of human resources as a competitive advantage and comparative capital of a nation. Therefore, acknowledgment of the values of local wisdom is a strategic step in building the national character. ‘Pulanga’ is a philosophy that contains a comprehensive dimensional character. It is always meant an effort to increase the welfare of the people and encouraging attitudes and behavior of individuals who emphasize the harmony among human beings, between human and nature, and between human and God in making life and living.Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki karakter kuat, bersumber dari nilai-nilai yang digali dari budaya masyarakatnya. Nilai-nilai kearifan lokal bukanlah penghambat kemajuan di era global, namun menjadi kekuatan transformasional yang luar biasa dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai modal keunggulan kompetetif dan komparatif suatu bangsa. Oleh karena itu, penggalian nilai-nilai kearifan lokal merupakan langkah strategis dalam upaya membangun karakter bangsa. Prosesi penobatan kepemimpinan Gorontalo ‘Pulanga’ merupakan filosofi yang mengandung dimensi karakter secara komprehensif. ‘Pulanga’ bermakna selalu mengupayakan peningkatan peran kepemimpinan lokal untuk kesejahteraan rakyat dan mendorong terciptanya sikap serta perilaku hidup individu yang menekankan keselarasan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Allah dalam melaksanakan aktivitas hidup dan kehidupan