Al-Ulum
Not a member yet
388 research outputs found
Sort by
Pendidikan Karakter Berwawasan Lingkungan di Gorontalo
Tulisan ini membahas pendidikan karakter berwawasan lingkungan di taman laut Nasional Olele Gorontalo. Realitas sosial di taman laut tersebut menunjukkan adanya pencemaran limbah tinja. Penanganan secara intelektual sudah diupayakan, namun secara moral-spiritual belum diperhatikan dan dikembangkan. Oleh sebab itu, penanggulangannya perlu dilakukan melalui pendidikan karakter, dengan cara menghimpun dan merangkai sejumlah prinsip, nilai, norma, ketentuan hukum dan ajaran agama. Kondisi ini mendorong penulis menggunakan metode survei snowbowling sample, yaitu mempelajari fenomena tentang upaya penanggulangan pencemaran limbah tinja di kawasan itu melalui pendidikan karakter berwawasan lingkungan. Terdapat tiga pilar utama pendidikan karakter yaitu; amar ma’ruf, nahi munkar dan tu’minuna bilah. Nilai-nilai inilah yang harus menjadi landasan rasionalitas moral untuk membangun kesadaran masyarakat. Manusia sebagai makhluk yang paling tinggi derajatnya, memiliki akal pikiran seharusnya menjaga laut dan tetap melestarikannya, bukan merusak atau hanya mengambil keuntungan tanpa memikirkan akibatnya di masa datang. This paper discusses about environementally-base on educational character in the National Olele Gorontalo, a national sea-park. Social reality in the seapark environment indicate that there is excrement pollution. Actually, the problem has been handling intelectually, but it was failure because not resemble with moral-spiritual care. Therefore, solution of the problem should be done through educational character by gathering and combining some principles, values, norms, law regulations and religeous teachings. This condition encourages the writer to use the method of snowbowling sample survey. That is to study the phenomena on the effort to overcome the excrement pollution in the sea park, through educational character based on environmental perspective. There are three main pillar of educational character; namely, amar ma’ruf, nahi munkar and tu’minuna bil-Allah. These three main values should become fundamental moral rationality to build society’s awareness to their environment. Human, as a the highest quality creature; who have logic and thought, should keep and preserve the sea, not to destroy it or just take advantages from it without taking potential risks into account in the future
Pendidikan dalam Platform Politik Nurcholish Madjid
The main purpose of education, according to Madjid as written in his fundamental political agenda about education, is increasing the value of the purity of human being given from God. This is related to the concept of tarbiyah and fitrah as keywords of Islamic education with the goal of fostering the whole person development through character building as well as the development of piety to Allah. This paper employs the semiotic research method and interpretive paradigm and qualitative methodology. This research was based on text analysis by reading text books as sign system. In Indonesian history, education has also raised the idea and the movement of modern nationalism. Therefore, education should be a form of the foremost strategic and productive inventory that should be put on one of the highest levels in the national development priority of Indonesia.Tujuan utama pendidikan, menurut Madjid seperti yang tertulis dalam agenda dasar politiknya tentang pendidikan, adalah peningkatan nilai kesucian manusia yang dianugerahi Tuhan. Hal ini sesuai dengan konsep tarbiyah dan fiṭ̣rah yang menjadi kata kunci pendidikan Islam dengan tujuan pembangunan manusia seutuhnya melalui pembinaan watak dan karakternya serta pengembangan ketakwaannya kepada Allah swt. Tulisan ini menggunakan metode penelitian semiotik dan berdasarkan pada paradigma interpretatif serta menggunakan metodologi kualitatif. Analisis teks di sini peneliti lakukan berdasarkan aktivitas membaca kata atau teks sebagai sistem tanda. Dalam pentas sejarah bangsa Indonesia, pendidikan juga telah membangkitkan ide dan gerakan nasionalisme modern, karena itu pendidikan seyogyanya menjadi bentuk inventaris yang bernilai paling strategis dan produktif yang harus diletakkan pada salah satu tingkat paling tinggi dalam skala prioritas pembangunan bangsa dan negara Indonesia/nation building
Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’an; Upaya Menciptakan Bangsa yang Berkarakter
This paper discusses about the issue of educational character. This issue is sounding in educational sector as a response to any forms of moral decrease of Indonesia as a nation. Al-Qur’an contains teachings to educate human in order to be a good nation. Its main example is the Prophet Muhammad Saw and his exemplary followers. The educational character which is based on the Quran basically is built through three dimensions: attitude to the Supreme Creator (Allah SWT), attitude to ourselves, and attitude to the others and our environment. Indonesians national identity which has been good character is indicated in the Qur’an with some criteria, namely: unity; that is, to have agreed noble values; work hard, means discipline and good time management, caring; moderate and open minded; ready for struggle and be brave and patient in facing some challenges. Therefore, to define address the educational character based on the Qur’an in the establishing nationhood mostly depends on the roles of: 1) society through strong faith and examples from the Prophet Muhammad Saw; 2) Educational sector through schools and mosques; and 3) the government.Tulisan ini menyorot persoalan pendidikan karakter. Persoalan ini dikumandangkan di dunia pendidikan sebagai respon atas terjadinya berbagai bentuk kemerosotan akhlak bangsa Indonesia. Al-Qur’an memiliki tuntunan yang mendidik manusia menjadi bangsa yang berakhlak. Tolok ukurnya adalah diri Nabi dan para sahabatnya. Pendidikan karakter berbasis al-Qur’an pada dasarnya dibangun melalui tiga dimensi; akhlak pada Sang Pencipta, akhlak pada diri sendiri, dan akhlak pada sesama manusia dan lingkungan. Identitas bangsa yang berkarakter diisyaratkan al-Qur’an dengan kriteria: bersatu; punya nilai luhur yang disepakati; bekerja keras, disiplin, dan menghargai waktu; peduli; moderat dan terbuka; siap berkorban; serta tegar dan teguh menghadapi berbagai tantangan. Untuk terwujudnya pendidikan karakter berbasis al-Qur’an dalam tatanan berbangsa dan bertanah air tergantung pada peran: 1) Masyarakat lewat pendalaman akidah dan akhlak Nabi, 2) Dunia pendidikan lewat sarana sekolah dan masjid, 3) Pemerintah
Calculating The Philosophical Significance of The Concept of Religious Freedom in Islam
The writing attemps to explore the philosophical meaning of the theological messages of Islam on religious freedom. The article do not study the empirical facts of religious freedom practiced by muslims today, but it scrutinizes the theological messages as written in the Qur’an and as showed by the real examples of the God’s Messenger. Through understanding some Qur’anic verses, we will find that Islam strongly encourages the life of different religious people based on the value of freedom. Freedom intended to be a base of religious life is not freedom to do whatever someone wants, but freedom to respect and to protect one another among religious people who are different in religion and faith. This value of message of religious freedom was wonderfully performed in historical practices of the Prophet Muhammad puh. From the Islamic principles of religious freedom that can be underlined, the writing finally tries to elucidate its philosophical meaning. The messages of religious freedom in Islam contain the strong and deep philosophical meaning, because the establishment of religious freedom is based on the fundamental value of human freedom and on the freedom as the nature of life itself.Tulisan ini mencoba menggali makna filosofis dari ajaran teologis Islam mengenai kebebasan beragama. Artikel ini tidak membahas fakta-fakta empiris kebebasan beragama yang diperlihatkan oleh orang-orang Islam dewasa ini, melainkan membahas ajaran-ajaran teologis seperti tertulis dalam al-Qur’an dan contoh nyata dan Rasulullah. Memahami beberapa ayat al-Qur’an, Islam tampak kuat mendorong kehidupan antar umat beda agama yang didasarkan pada nilai kebebasan. Kebebasan yang dijadikan basis hidup beragama, bukanlah kebebasan untuk melakukan apapun, melainkan kebebasan untuk saling menghargai dan saling melindungi. Nilai ajaran kebebasan beragama seperti ini dipraktekkan dalam kehidupan nyata Nabi Muhammad saw. Dari prinsip Islam mengenai kebebasan beragama yang bisa disimpulkan, tulisan ini pada akhirnya mencoba memaknainya secara filosofis. Ajaran kebebasan beragama dalam Islam sangat kuat kandungan filosofisnya, karena kebebasan beragama ditegakkan di atas prinsip nilai kebebasan manusia dan kebabasan sebagai hakikat dari kehidupan itu sendiri
Pela- Gandong and Harmonization Life of Brotherhood (Orang Basaudara) (Study Case The Relations of Islam and Christianity Post Conflict in Ambon)
In post conflict period, Moluccas people were re-echoed the desire to be a civilized society and a dignified. Moluccas Community believes that the spirit of Pela-Gandong is able to glue back the kinship that had marred. Pela is cultural friendships which have been institutionalized in every heart, mind, and behavior of the Moluccans, it’s mean that they come from the same culture, although their religion is different. Pela-Gandong is a “mental awareness “of the “orang Basudara†were so strong, so whatever the burden and responsibility of the “orang Basudara†is a shared of responsibility. This Relationship has relevance to the teaching of religion in ukhuwwah concept. Therefore, the embodiment of teaching of Pela and the values which contained it’s none other the practice of religion. Instead, the reluctance to hold of Pela tradition, it’s same as reluctant to implement the values of religion itself.Keinginan masyarakat Maluku untuk kembali menjadi masyarakat yang beradab dan bermartabat kembali dikumandangkan pascakonflik. Masyarakat meyakini bahwa spirit Pela-Gandong mampu merekatkan kembali tali persaudaraan yang sempat tercederai. Pela-Gandong adalah persahabatan kultural yangtelah melembaga dalam setiap hati, pikiran, dan perilaku masyarakat Maluku, yaitu bahwa mereka berasal dari budaya yang sama walaupun agama yang mereka anut berbeda. Pela-Gandongpanggilan jiwa orang Basudara, yang begitu kuat, sehingga apapun yang menjadi beban dan tanggung jawab orang Basudara merupakan tanggung jawab bersama.Ikatan seperti itu memiliki relevansi dengan ajaran agama dalam konsep ukhuwwah. Oleh karena itu, pengejawantahan ajaran Pela dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak lain merupakan pengamalan ajaran agama. Sebaliknya, keengganan untuk memegang tradisi Pela, sama dengan enggan melaksanakan ajaran agama itu sendiri
The Reconstruction of The Role of Islam in Indonesia as A Propethic Religion
After the end of Soeharto’s regime, in 52 districts produced 78 regulations (perda) influenced by sharia to purify Islam from secular institutions. Because of that, Islam in Indonesia now is criticized as having a tendency to be close to status quo, and resulting so many problems, such as being injustice and dehumanize. Islam as a prophetic religion, as a religion not only for faith to Allah, is also a religion that liberating people from violence and injustice, as Prophet Muhammad brought it. This academic writing , using the hermeneuticmethod fromPaul Ricoeur, analizes the situation, by proposing three ways outthrough the theory of critical ideology, and the deconstruction, and offering to accept plurality, to overcome the problems of complicated situation. Propethic religion might be the proper solution for the problems of Islam in Indonesia than priestly/institutional religion, in order to acheive the better Indonesian society, by practising tolerance, openess in mind, egaliter and democatic.Setelah berakhirnya rezim Soeharto, 52 wilayah membuat 78 perda syari’ah yang menginginkan pelaksanaan Islam secara kaffah. Oleh karena itu Islam di Indonesia dikritik sebagai agama yang cenderung berada dalam status qua, dan mengakibatkan munculnya banyak masalah, seperti masalah ketidakadilan dan dehumanisasi. Islam sebagai sebuah agama prophetis , hakikatnya tidak hanya bicara tentang keimanan kepada Tuhan, tetapi juga membahas tentang pembebasan manusia dari tindak kekerasaan dan ketidakadilan. Tulisan ini menggunakan metode hermeneutika dari Paul Ricoeur, yang berusaha menganalisis situasi di atas dengan mengajukan tiga pendekatan, yaitu kritik ideology, dekonstruksi, dan tawaran menerima prinsip pluralitas sebagai jalan keluar dari masalah yang komplek di Indonesia. Agama prophetis diharapkan dapat menjadi solusi menyeluruh bagi problem keagamaan (Islam) di Indonesia, sehingga terwujud masyarakat Indonesia yang toleran, terbuka, dan demokratis. 
Interreligious Relation and Violence on Religion in Indonesia Religion Philosophy Perspective
This writing gives description about relation among religion followers in Indonesia. The condition of tolerance and the harmony of religion followers in Indonesia is on critical condition. The effort to support multicultural understanding have been done by many sides. The conflict in Indonesia is social religion phenomenon, in whole the violence is happened either on individual level, collective, institution, or the system itself. The mapping model of religious in Indonesia become one alternative for early anticipation. The effort of transformation multicultural understanding is taken by all educators. They are graduated from university should have an ability to transfer the scientific, especially religion tolerance.Tulisan ini memberikan gambaran tentang relasi antara pemeluk agama di Indonesia. Kondisi toleransi dan kerukunan umat beragama di Indonesia mengalami situasi kritis. Upaya mendorong pemahaman multikultural telah dilaksanakan banyak pihak. Konflik di Indonesia merupakan fenomena sososial keagamaan, secara keseluruhan kekerasan terjadi pada level individual, kolektif, institusi, maupun sistem. Pemetaan model keberagamaan di Indonesia menjadi satu alternatif antisipasi sejak dini. Upaya transformasi pemahaman multikultural diemban oleh Para pendidik. Mereka yang lulus dari perguruan tinggi sebaiknya mempunyai kemampuan multidimensi dalam mentransformasi keilmuan khususnya toleransi agama
Freedom of Religion in Jannah Al-Atfal (Heaven Of Children) The Works of Najib Mahfuz
This study based on the theory of structuralism Robert Stanton, which focuses on the elements of theme in short story Jannah al -At fal (Children of Heaven) by Najib Mahfuz. The result of study was found that the etching of religious freedom to children as a religious education it’s aims to instill competency mastery of basic religious knowledge, attitude differences religious and religious tolerance, interfaith friendship, think and act freely, child relationship and God the Creator, child and the particulars of life and death as well as children and happenings in heaven and hell. This seventh aspect becomes interconnectivity and integrative unity to allow freedom of religion.Penelitian ini menggunakan teori strukturalisme Robert Stanton yang menfokuskan pada unsur tema cerita pendek Jannah al-Atfal (Surga Anak-Anak) karya Najib Mahfuz. Penelitian ini menemukan bahwa penanaman kebebasan beragama sebagai pendidikan agama di dalam diri anak-anak kecil bertujuan untuk menanamkan kompetensi penguasaan pengetahuan dasar agama, sikap perbedaan agama dan toleransi beragama, persahabatan lintas agama, berpikir dan bersikap bebas, hubungan anak dan Tuhan Maha Pencipta, anak dan ihwal hidup dan mati serta anak dan ihwal Surga Neraka. Ketujuh aspek ini menjadi kesatuan yang interkonektif dan integratif untuk memungkinkan kebebasan beragama
Campaign Socialization Religious Freedom to Tolerance Religion of Student
This research talks about correlation between campaign socialization freedoms of religion in any mass media to religious tolerance student in campus. Theoretical studies in this research uses mass media effect communication mass media especially Uses and Gratifications theories. Data analysis is quantitative surveys for 100 students in campus. Finding research explains that in cognitive level just television give impact to understanding for student’s’ religious tolerance. Beside that in conative level impact for student’s religious tolerance come from poster media. This research explains that there are no correlation between socialization campaign and students’ religious tolerance.Kebebasan beragama adalah sesuatu yang sangat pribadi dan Negara Indonesia menjunjung tinggi hak tersebut dalam konteks mengangkat martabat dan derajat bangsa. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh sosialisasi kampanye informasi kebebasan beragama di media massa terhadap sikap toleransi beragama mahasiswa. Penelitian menggunakan teori efek komunikasi media massa (Uses and gratifications). Model pengolahan data dengan kuantitatif berjenis asosiatif pengaruh dengan metode survei dan diadakan di sebuah kampus di Jakarta berjumlah 100 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam tingkat kognitif hanya media televisi yang memberikan pengaruh pada mahasiswa dengan nilai r pearson correlation 0,23. Pada tingkatan konatif diketahui media poster yang berpengaruh pada sikap bertoleransi namun nilai pearson correlation -0,298. Terlalu banyak poster berisi kebebasan beragama malah akan membuat muak mahasiswa dalam menafsirkan informasi tersebut. Jelas bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara sosialisasi kampanye kebebasan beragama dengan sikap toleransi beragama pada mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari. 
Multicultural Education and Interreligious Leaders Knowledge
Multicultural-education is meant to portray about the efforts that must be carried out by teachers and lecturers in the midst of a growing cultural diversity in today\u27s society. Teachers and lecturers are expected to contribute in revising the learning material as well as to reform the learning system with wider insight in the globalization process. The birth of various teachings or understandings which are not relevant with religious values, such as secularism and materialism, tends to make religion education to be helpless and even to make religion to be ruled out in various fields. This may also hit people when religion does no longer function effectively in multidimensional and multicultural life.Pendidikan berbasis multikultural dimaksudkan untuk menggambarkan tentang upaya-upaya yang harus dilakukan oleh guru dan dosen di tengah-tengah keanekaragaman budaya yang berkembang dalam masyarakat saat ini. Guru dan dosen diharapkan dapat berkonstribusi dalam merevisi materi pembelajaran serta melakukan reformasi dalam sistem pembelajaran dengan wawasan yang lebih luas dalam arus globalisasi. Lahirnya berbagai ajaran atau pemahaman yang tidak relevan dengan nilai-nilai agama, seperti aliran materialis dan sekuler, maka ada kecenderungan membuat pendidikan keagamaan menjadi tidak berdaya dan lebih lagi jika agama telah dikesampingkan dalam berbagai bidang. Hal ini mungkin juga menerpa umat bila agama tidak lagi berfungsi secara efektif dalam kehidupan multidimensi dan multikultural