Al-Ulum
Not a member yet
388 research outputs found
Sort by
The Rationality Prohibition of Riba (Usury)
Usury (henceforth called as riba) in fact has long been known and have been progressing in meaning. The study of riba was not only discussed seriously by Muslims but also other religions. If flashed back to more than two thousand years ago, the study of riba has been discussed by non-Muslims, such as Hindu, Buddhist, Jewish, Greek, Roman and Christian. In Islam, debate about riba and bank interest indicated that the problem of riba very closely related to the issue of muamalah especially those that occur in Banks and Non- Bank financial. Riba evolution concept toward interest cannot be separated from the development of the financial institutions. Therefore, this journal examine and analyze the substance of the issues of interest in a rational perspective, and at the end of this journal offers loss and profit sharing system as an alternative solution to the system of interest in transaction systems of bank and non- bank.Ketertarikan mengenai kajian riba senantiasa menjadi diskusi yang tidak mengalami kejenuhan, dan bahkan masih sangat hangat didiskusikan dalam ilmu ekonomi dalam Islam. Hal ini terlihat dari pembahasan mengenai riba yang senantiasa memberi warna dalam diskursus pemikiran umat Islam dan perdebatannya hampir tidak menemukan titik temu. Perdebatan pemikiran mengenai riba dan bunga bank menunjukkan bahwa persoalan riba sebenarnya sangat terkait erat dengan persoalan muamalah khususnya yang terjadi pada lembaga-lembaga keuangan Bank dan Non Bank. Evolusi konsep riba ke bunga tidak lepas dari perkembangan lembaga-lembaga keuangan tersebut. Oleh karena itu, jurnal ini mencermati dan menganalisis secara subtansi tentang persoalan riba dalam perspektif rasional, dan di akhir tulisan ini menawarkan sistem loss and profi sharing sebagai solusi alternatif pengganti sistem bunga dalam sistem transaksi pada lembaga keuangan bank dan non ban
The Gorontalo Religious Court Judges Response Toward Their Absolute Competence in Resolving Shariah Economy Disputes
Post the first amendment of Religious Courts Bill that provides wider authority toward Religious Courts in investigate and decide Islamic economics disputes has responses, whether support or pessimistic, especially among Religious Court judges themselves. This paper examines the Gorontalo Religious Courts judges response about their authority in resolve Shariah economy disputes. This paper is a qualitative descriptive research and the data was collected using observation, interviews and document reviews. The finding of this study revealed that the Gorontalo Religious Courts judges response well to trust laws in handling disputes Shariah economy. In other words, in principle, they are ready to handle disputes Islamic economics. Readiness, such as: the handling disputes Shariah economy is Religious Courts judges authorities and it is a professional responsibility as a judge; Religious Courts formed a special judge to handle falling out or cases of Shariah economy, and Religious Courts judges provides knowledge of Shariah economy without trainings or workshops.Pasca amandemen pertama undang-undang Peradilan Agama yang memberikan perluasan kewenangan penyelesaian sengketa ekonomi syari’ah telah memberikan berbagai tanggapan dari berbagai kalangan, khususnya hakim-hakim Pengadilan Agama. Tulisan ini mengkaji respon para hakim di Pengadilan Agama Gorontalo terhadap kewenangan tersebut. Penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hakim Pengadilan Agama Gorontalo merespon baik terhadap amanah undang-undang dalam menangani sengketa perekonomian syari’ah. Dengan kata lain pada prinsipnya mereka telah siap menangani sengketa ekonomi syariah. Kesiapan itu antara lain: penanganan sengketa ekonomi syariah adalah sebuah tanggung jawab profesi sebagai hakim; Pengadilan Agama membentuk majelis hakim khusus menangani sengketa atau perkara ekonomi syari’ah, dan hakim-hakim Pengadilan Agama dibekali dengan pengetahuan tentang perekonomian syari’ah melalui pelatihan-pelatihan
Sharia Banking Performance in Makassar
This study aims to analyze the performance of Islamic banking in Makassar. Data collected using questionnaires which was distributed to seven Islamic banks. Supporting data obtained from Bank Indonesia, representatives Makassar and Bank Indonesia’s website. Data then were analyzed using financial ratios, particularly Non Performing Financing (NPF) and Financing to Deposit Ratio (FDR). The results showed that NPF was 1.49% and FDR reached 201.67%. The first ratio indicates low financing problems, while the second shows a high ratio financing provided to society. Furthermore, Islamic principles applied in the system, mechanism, and products offered by the Islamic banking is such a value-added for the societies, which is not found in the conventional ones. The high financial performance of Islamic banking outperforms its counterparts shows significant potential to grow rapidly in the future.Penelitian ini bertujuan menganalisis kinerja perbankan syariah di Makassar. Teknik pengumpulan data menggunakan kuisioner yang dibagikan kepada tujuh bank syariah. Data pendukung diperoleh dari Bank Indonesia perwakilan Makassar dan website Bank Indonesia. Teknik analisis data menggunakan analisis rasio keuangan, terutama Non Performing Financing (NPF) dan Finanicng to Deposit Ratio (FDR) perbankan syariah secara agregat. Hasil penelitian menunjukkan NPFperbankan syariah di Makassar secara agregat sebesar 1,49% dan FDR sebesar 201,67%. Rasio pertama menunjukkan rendahnya pembiayaan bermasalah, sedangkan rasio kedua menunjukkan tingginya pembiayaan yang diberikan kepada masyarakat. Lebih jauh, penerapan prinsip syariah dalam sistem, mekanisme, dan produk perbankan syariah menjadi nilai tambah bagi masyarakat. Hal ini tidak ditemukan dalam perbankan konvensional. Dengan kinerja keuangan yang kompetitif, maka perbankan syariah memiliki potensi untuk berkembang pesat di masa yang akan datang
Improving Discipline and Responsibility of Student Learning Through Project Assessment
This ‘classroom action research’ aims to determine the effectiveness of the project assessment at Islamic Junior School (Madrasah Tsanawiyah) Model Makassar in the VIII/a class as subject research. The study carried out in two cycles, data collection was done by employing three ways: questionnaires, observation and test administration. The result showed that the project assessment was able to improve: 1) student discipline, shown on average 73,78% of the first cycle and the second cycle was 91,72%. 2) Responsibility for student learning, the average seen in the first cycle of 66,37% and 85,77% for the second cycle. 3) Student learning outcomes, the first cycle were 51,72% while in the second cycle there was 17,24% score below the minimum completeness criteria. On the individual test conducted at the end of the second cycle showed that there are only 4 students (13,79%) who had not reached the minimum completeness criteria.Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan penilaian proyek dalam meningkatkan disiplin dan tanggung jawab belajar siswa. Penelitian dilakukan pada Madrasah Tsanawiyah Model Makassar dengan subyek penelitian siswa kelas VIII/a. Tindakan dilakukan dalam dua siklus, pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tiga cara yaitu angket, observasi dan pemberian tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik penilaian proyek mampu meningkatkan: 1) disiplin siswa, terlihat pada rata-rata siklus pertama sebesar 73,78% dan pada siklus kedua sebesar 91,72%. 2) tanggung jawab belajar siswa, terlihat pada rata-rata siklus pertama sebesar 66,37 dan pada siklus kedua sebesar 85,77. 3) hasil belajar siswa, siklus pertama terdapat 51,72% sedangkan pada siklus kedua terdapat 17,24% skor di bawah kriteria ketuntasan minimal. Pada tes individu yang dilakukan pada akhir siklus II hanya terdapat 4 siswa (13,79%) yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal. 
Leadership Style in Character Education at The Darussalam Gontor Islamic Boarding
Pesantren (Islamic Boarding) is the oldest educational institution in Indonesia which has a role in character education. The main purpose of this study was to understand leadership style of teachers (clerics) in character education as well as the process to produce competent believers. Religio-paternalistic leadership is based on the value of total admission of religious and educational methods, with emphasis on the application of knowledge resulting believers’ faith and fear of Allah guided by the Qur\u27an and Sunnah. To obtain data, the author employed interview, observation and documenter. The Darussalam Gontor Islamic Boarding School in East Java was the field-site of this research.Pondok Pesantren merupakan lembaga pendidikan paling tua di Indonesia memegang peran penting dan strategis dalam pendidikan karakter. Artikel ini bertujuan untuk memahami gaya kepemimpinan (kyai) dalam pendidikan karakter serta prosesnya sehingga dapat menghasilkan mu’min yang kompeten. Kepemimpinan religio-paternalistic didasarkan atas nilai-nilai keagamaan dan metode pendidikan totalitas. Totalitas dalam mengutamakan pengaplikasian semua ilmu pengetahuan sehingga menghasilkan mukmin yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt. dengan berpedoman pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Penulis focus pada pendidikan karakter berbasis pesantren. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi dan documenter. Lokasi penelitian di Pondok Pesantren Darussalam Gontor, Jawa Timur Indonesi
Historicity and Contextualization to The Problems of Moslem and Non-Moslem (A Hadith Study)
Specifications of this paper are to discuss on the most traditions of the Prophet Muhammad pbuh about problematic social interactions of Moslems and Non-Moslems in the context of history and understanding which are implied inside it. The first is about greeting, congratulations for the great day. Secondly, Non-Moslems enter the mosque. The third is about eating meat of animals which are cut by Non-Moslems. All of these Specifications are often taking place with high intensity between Moslems and Non-Moslems in daily life. The problems of the relationship between Moslems and Non-Moslems are actual to be discussed. The issues are not infrequently to be in confinement the radical attitude of Moslems because of the understanding of religious texts, in this regard is the Qur\u27an, and hadith textually. The textually understandings of religious texts are combat command, killing, and dicriminating Non-Moslems. While, Non-Moslem communities do not try to learn on both the text histories from source Moslems deeply. Therefore, they have priori attitude towards certain clans. If they, especially for Moslems, are willing to learn aspects of religious texts comprehensively, so that, radical, and hostile attitude of Non-Moslem communities are nothing. Spesifikasi tulisan ini membahas sebagian hadis-hadis Nabi Muhammad saw tentang problematika interaksi sosial Muslim dengan non Muslim dalam konteks sejarah dan pemahaman yang tersirat di dalamnya yang meliputi: pertama, seputar ucapan salam dan selamat hari besar; kedua, non Muslim masuk masjid ketiga, memakan sembelihan non Muslim. Ketiga interaksi ini sering terjadi dengan intensitas yang tinggi antara Muslim dengan non Muslim dalam kehidupan sehari-hari. Problematika hubungan antara Muslim dan non Muslim menjadi fenomena yang aktual. Tak jarang muncul sikap radikal dari kaum Muslim dalam memahami al-Qur’an dan hadis tentang perintah memerangi, membunuh dan mendiskreditkan non Muslim. Sementara di kalangan komunitas non Muslim muncul sikap apriori, karena tidak berusaha menilik lebih jauh teks dalam Alquan dan hadis tersebut
Spritualisasi dan Konfigurasi Pendidikan Karakter Berparadigma Kebangsaan dalam Kurikulum 2013
Orientasi pendidikan yang menekankan IQ menjadikan manusia dilanda krisis kemanusiaan. Keadaan demikian manusia semakin membutuhkan spiritualitas sebagai solusi terhadap krisis kehidupan tersebut. Kajian ini dengan analitis kritis ingin mengungkap bagaimana kedudukan moral spiritual yang mendasari semua Kompetensi Inti (KI) Kurikulum 2013 untuk semua Mapel di semua jenjang pendidikan. Spiritualisasi sebagai upaya membangun karakter bangsa dalam Kurikulum 2013 dapat dilihat dalam KI yang saling terkait yaitu spiritual (KI 1), sosial (KI 2), pengetahuan (KI 3), dan keterampilan (KI 4). Adapun sumber nilai moral spiritual dalam pendidikan karakter adalah dari semua agama yang ada di Indonesia, yakni nilai-nilai universal yang secara eksplisit merujuk pada konsep kesatuan penciptaan.The orientation of education that over-relies on IQ makes human encountered by humanitarian crises. Such circumstance requires human to have adequate spirituality as a solution to overcome the crisis. With a critical analysis, this study aims to uncovering how the spiritual moral underlay all “Core Competencies†(Kompetensi Inti) in the 2013 Curriculum for all subjects at all levels of education. Spirituality as an effort to build the national character in the 2013 Curriculum can be seen at KI which interrelated each other including: spiritual (KI 1), social (KI 2), knowledge (KI 3), and skills (KI 4). Ultimately, the source of spiritual and moral values in education is the character from all of religions in Indonesia, which is the universal value that explicitly refers to the concept of the unity of human creation
Bahasa Positif Sebagai Sarana Pengembangan Pendidikan Moral Anak
Moral degradation is getting widerspread in Indonesia. Polite, friendly, and religious manners have been displaced as the effects of modern lifestyle. Hence, moral values is very important to be developed from the early ages. This paper is an outlook to address moral education on children based on research. The research methods used are observation, mentoring and questionnaire. Data analysis is conducted by describing the results of observation during the mentoring and calculating the results of questionnaire with spss 15.0. Mentoring is conducted by building the habit of using positive language in class through 4 skills: listening, speaking, reading and writing. The development of moral education of the students can be seen from the results of the questionnaire: pre-test conducted before mentoring and post test conducted after mentoring. The researh result shows that pre-test featured 46 % and post-test was 54%. It means that there is an increase of 8 % on mentoring. Therefore, it can be concluded that positive language that often used or listened by the students will influence their ways of thinking that finally will build the students’ character.Degradasi moral semakin marak di Indonesia. Perilaku yang sopan santun dan religius tergeser adanya gaya hidup modern. Sehingga pengembangan nilai-nilai moral sangat penting untuk dikenalkan sejak dini. Metode yang digunakan yaitu; (1) observasi (2) pendampingan dan (3) kuesioner. Analisis data dilakukan dengan mendeskripsikan hasil pengamatan selama pendampingan, juga dilakukan penghitungan kuesioner dengan spss 15.0. Pendampingan dilakukan dengan pembiasaan bahasa positif di kelas, melalui empat keterampilan yaitu; menyimak, membaca, mendengar dan berbicara. Perkembangan pendidikan moral pada anak dapat dilihat dari hasil kuesioner yang dilakukan yaitu: pre-test dilakukan sebelum dilakukan pendampingan dan post-test dilakukan setelah anak diberikan pendampingan. Hasil Pre-test 46% dan post-test 54%, artinya ada kenaikan 8%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa: bahasa Positif yang sering digunakan maupun di dengar oleh siswa akan berdampak pada pola pikir yang pada akhirnya membentuk karakter siswa
Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Syair Zuhdiyât Karya Abu Al-‘Atâhiyah
Discourse of the implementation of character values on the National Educational System is not a new agenda. The implementation has motivated by the national awareness about the importance of character building toward the young generation as the guarantees for nation strength. The aim is to improve students’ potency and build them to be piety to Allah SWT, to have good personality, to be healthy, intellectual, smart, and creative, be autonomous, and become democratic citizen, responsible, in accordance with the message on the law of National Education system. It is indicated that the first value should be implemented is universal truth without formulating the source. Literature works is one of sources which full of moral teaching and can be analyzed to find out the truth, and transferred to the students. The values of educational character on literature work can be implemented to students through emotional analysis. Abu al-‘Atâhiyah poems is one of literary works which full of moral teaching and can be analyzed and implemented on education, both formal and non-formal schools.Wacana penanaman nilai-nilai karakter bukanlah baru dalam Sistem Pendidikan Nasional. Hal itu dimotivasi oleh kesadaran nasional akan pentingnya pembinaan karakter generasi muda sebagai jaminan kekuatan bangsa. Tujuannya, untuk berkembangnya potensi pembelajar menjadi manusia beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab, sesuai amanat UU Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini mengisyaratkan bahwa yang pertama ditanamkan adalah nilai-nilai kebenaran dan kebaikan universal, tanpa formalisasi sumbernya. Karya sastra merupakan salah satu sumber yang sarat dengan pesan-pesan moral yang dapat digali untuk menemukan kebenaran yang bersifat penawaran, untuk ditransfer kepada peserta didik. Nilai-nilai pendidikan karakter dalam karya sastra dapat ditanamkan kepada peserta didik melalui penghayatan emotif tanpa harus diceramahi. Syair-syair Abu al-‘Atâhiyah merupakan salah satu karya sastra yang sarat dengan pesan-pesan moral yang dapat digali dan diimpelementasikan dalam pendidikan, baik formal maupun non-forma
Humanist Theology: Establish Ummah Toward A Tolerance
The nature of religion has been endlessly discussed by philosophers, theologians, psychologists, and sociologists. They look at different aspects of religion as their interests and their purposes differ. Therefore, they formulate variety of definition of religion. Religion is seen to be difficult to define. But it is necessary to have a clear definition of religion as a starting point for religious studies. But in the globalization era, Muslim need theology basis which is strong. Theology term is to help enrich the muslim knowleadge of Islam. In the thought of Islam theology, means knowleadge which is content in relation beetwen God and the universe. Later, The draft formulation of this, are; How is the book theology in relation of book and religion pluralims? To focus to this formulation, it will be presented many questions, namely: First, How is the theology of consept in the book perspective? The Second, as a book guideline, how is theology implication toward the pluralism religion? Then this writing shows that theology (tauhid) is human awareness on thier believer toward the one god which cover it’s one of essence, action, atribute (characteristic). The unity of god essence is a furitification towards God. Yet, The fluralism is to be still unitied with strong bound, namely bound of essence of God.Tulisan ini mengkaji konsep ketuhanan dan konsep pluralitas dalam agama Islam. Hal ini penting, karena agama tidak boleh dipahami sebagian-sebagian, tetapi harus secara menyeluruh. Oleh karena itu, masalah agama ini tidak pernah berhenti diperbincangkan oleh para ilmuwan. Dalam rangka memberikan rumusan tentang konsep agama secara benar khususnya kepada para penganutnya dan kepada masyarakat secara umum, maka dalam tulisan ini dikemukakan dua pertanyaan, yaitu: 1.Bagaimana konsep ketuhanan dalam perspektif kitab suci alquran? 2. Sebagai kitab pedoman beragama, bagaimana implikasi ketuhanan terhadap konsep pluralitas? Tulisan ini menunjukkan bahwa tauhid adalah kesadaran manusia akan keberadaan Tuhan yang satu, Tetapi, pluralism akan tetap menjadi kesatuan pijakan yang kuat, yaitu; pijakan kepada Tuhan