Al-Ulum
Not a member yet
388 research outputs found
Sort by
Economics Ethics in the Fatwa of Islamic Economics
The fatwa by the National Sharia Board (Dewan Syariah Nasional/DSN) of Indonesian Ulema Council (Majlis Ulama Indonesia/MUI) and The Sharia Advisory Council of Central Bank of Malaysia/Bank Negara Malaysia (BNM) on Islamic economics is dominated by its ethical aspects. The prohibition of riba (interest), for instance, is an Islamic ethic which is mostly set in both institutions. In this case, the Legal consideration contains more ethics than fatwa verdicts. The ethics in the legal consideration is commonly based on the basic ethical principles of The Noble Qur\u27an, the hadith and the Islamic jurisprudence. In the meantime, the ethics for the object of contract in DSN is mentioned more in the fatwa verdict than in their legal consideration while the ethics for contract performer is equally found in both areas. This thesis is discovered by reading the DSN\u27s fatwa from 2000 t0 2010 and the MPA\u27s fatwa from 1997 to 2010. Once identified, the ethics in both institutions is classified into a particular category. As the result, this research generates a great implication on the dominant aspect of Islamic ethics in its legal formal.Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Majelis Penasihat Syariah (MPS) Bank Negara Malaysia (BNM) tentang ekonomi syariah didominasi aspek etika Syariah. Larangan riba merupakan etika syariah yang paling banyak ditetapkan dalam dua fatwa tersebut. Bagian konsideran hukum lebih banyak memuat etika ketimbang bagian putusan fatwa. Etika dalam konsideran hukum umumnya menyangkut prinsip-prinsip dasar etika yang bersumber dari Alquran, hadis, dan kaidah fikih. Etika untuk objek akad dalam fatwa DSN lebih banyak disebutkan pada putusan fatwa dari pada konsideran hukumnya. Etika untuk pelaku akad dalam fatwa MPS ditemukan hampir seimbang dalam konsideran dan putusannya. Tesis tersebut ditemukan melalui pembacaan terhadap fatwa DSN tahun 2000-2010 dan fatwa MPS tahun 1997-2010. Setelah diidentifikasi, etika-etika yang terdapat dalam fatwa DSN dan MPS dikelompokkan dalam kategori tertentu. Penelitian ini berimplikasi pada kuatnya aspek etika syariah yang dominan pada sisi legal formalnya
Zakat and Tax; From the Synergy to Optimization
Dualism dilemma between zakat and tax in Indonesia can be relatively mitigated by ratification of Act No. No. 38/1999 on Management of Zakat. In the regulation, zakat has been synergized with tax by placing zakat as a deduction from taxable income element (PKP). But so far it has not been given the significant impact on the acceptance of zakat and awareness of Muslims to pay zakat. There are also some problems in practical level that contribute to that fact. This article explores the zakat and tax synergy that have been achieved through Act No. 38 of 1999, the problems found in its execution, and of course an offer for a solution to optimize the role of zakat and tax for the people welfare. By examining same practice in some countries, this paper recommends zakat as a direct tax deduction (tax credit) as a strategic step in the effort to optimize the role of zakat.Dilema dualisme zakat dan pajak di Indonesia relatif bisa diredakan melalui pengesahan Undang-undang No No 38/1999 tentang Pengelolaan Zakat. Dalam peraturan itu zakat telah disinergikan dengan pajak dengan menempatkan zakat sebagai unsur pengurang Penghasilan Kena Pajak (PKP). Namun sejauh ini ketentuan itu belum memberi pengaruh yang signifikan bagi penerimaan zakat maupun kesadaran umat Islam untuk membayar zakat. Selain itu juga terdapat problem di tingkat praktis yang turut berperan bagi kenyataan itu. Tulisan ini mencoba membahas sinergi yang telah tercapai melalui UU No 38 tahun 1999, problem-problem yang ditemukan dalam pelaksanaannya, dan tentu saja tawaran bagi solusi optimalisasi peran zakat dan pajak bagi kesejahteraan rakyat. Dengan mengkaji praktik di beberapa negara, tulisan ini merekomendasikan zakat sebagai pengurang pajak secara langsung (tax credit) sebagai langkah strategis dalam upaya optimalisasi peran zakat
The ‘Thaharah Bermakna’ Training Through The Logo Analysis Model to Build Students’ Positive Characters
This experimental study aimed to investigate the effect of the ‘thaharah bermakna’ (meaningful purification)’ through the logo analysis model to build students’ positive characters. The experiment employed the one-group pretest-posttest design involving 22 students of SMP Diponegoro Yogyakarta. The data were collected through a positive character scale (ri = 0.316-0.651, α = 0.929) and a monitoring sheet for the ‘thaharah bermakna’ independent practice. The results of the within subject test showed that the ‘thaharah bermakna’ training and the independent practice for a week were capable of significantly improving students’ positive characters with F = 0.578, p = 0.005 (p<0.010). Before the treatment, the subjects’ mean score was 186.91 and after the treatment their mean score improved to 193.91. The study concluded that the ‘thaharah bermakna’ training through the logo analysis model and an independent practice for a week significantly improved students’ positive characters. In other words, it could be said that the ‘thaharah bermakna’ training was effective to build students’ positive characters. Penelitian eksperimen ini bertujuan untuk melihat pengaruh pelatihan ’thaharah bermakna’ menggunakan model logoanalisis untuk membentuk karakter positif siswa. Eksperimen menggunakan desain tes awal-tes akhir satu kelompok eksperimen ini melibatkan 22 siswa SMP Diponegoro Yogyakarta. Data dikumpulkan dengan menggunakan skala karakter positif (ri=0,316-0,651, α=0,929) dan lembar monitor praktek mandiri ’thaharah bermakna’. Hasil uji with-in subject menunjukkan bahwa pelatihan ’thaharah bermakna’ dan praktek mandiri selama satu minggu, signifikan meningkatkan karakter positif siswa dengan t=0,578 p=0,005 (p<0,010). Sebelum diberi perlakuan, skor rerata subjek sebesar 186,91 dan setelah diberi perlakuan skor rerata subjek meningkat menjadi 193,91. Dalam kajian ini disimpulkan bahwa pelatihan ’thaharah bermakna’ dengan menggunakan model logoanalisis dan praktek mandiri selama satu minggu signifikan meningkatkan karakter positif siswa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ’thaharah bermakna’ efektif digunakan untuk membentuk karakter positif siswa.  
‘Maqashid Al-Sharia’ Perspective for Character Building among Street Children in Makassar, South Sulawesi.
Negative images to street children have raised attention for all those concerned about the street children’s character building. This article discusses three basic problems; the street children reality in Makassar city, fostering and emergence of factors of street children and ‘maqashid al-sharia’ principles on character building for the street children in Makassar, South Sulawesi. In the perspective of ‘maqashid al-sharia’, the position of street children clearly has rules and normative legal basis. Fostering children\u27s character has a fundamental meaning which is the basis of values to change the fate of children, as well as a comprehensive approach to man in spiritual education and noble character. This article meant to emphasize the role of ‘maqashid al-sharia’ perspectives in character building; therefore, street children of Makassar will struggle toward a better future.Anak jalanan sering mendapat citra negatif, sehingga menjadi fokus perhatian dari semua pihak dalam upaya pembinaan karakter mereka. Artikel ini secara fokus membahas tiga pokok masalah antara lain; realitas anak jalanan Kota Makassar, faktor munculnya dan pembinaannya serta prinsip ‘maqashid al-syariah’ dalam pembinaan karakter anak jalanan di Kota Makassar. Dalam perspektif ‘maqashid al-syariah’, kedudukan anak jalanan di Kota Makassar secara jelas memiliki aturan dan landasan hukum normatif.Pembinaan karakter anak memiliki makna yang fundamental yaitu sebagai nilai dasar untuk melakukan perubahan nasib anak, serta sebagai pendekatan komprehensif bagi manusia dalam pendidikan rohani dan kemuliaan karakter. Artikel ini menganalisis perspektif ‘maqashid al-syariah’ dalam pembinaan karakter, sehingga anak jalanan di kota Makassar dapat berubah menuju masa depan yang cerah
Al-Tarbiyah Al-Syahshiyah fi Indonesia (Diraasah min Al-Ithaar Al-Falsafi, wa Al-Qaanuun, wa Al-Tanfiidz, wa Al-Isykaaliyaat)
This article aims to describe the phenomena of character education in Indonesia. The study covers aspects of the philosophical outline about the importance of character education, the rudiments of law used as the basis, the implementation of character education at schools, and problems appeared in the field. Many cases such as corruption, juvenile delinquency, drugs miss-use, social conflict, and environmental damage occurred in Indonesia are among important factors of the implementation of character education. In this case, the government already set up the 18 character values that implanted through education, namely religiousness, honesty, tolerance, discipline, hard working, creativity, independence, democracy, curiosity, nationalism, patriotism, achievement, friendship and communication, peace-loving, reading, environmental care, social care, and accountability. Nonetheless, there are still many obstacles in the implementation of character education in the field. Those problems are analyzed comprehensively in this paper. Artikel ini dimaksudkan untuk menggambarkan fenomena pendidikan karakter di Indonesia. Kajian mencakup aspek kerangka filosofis tentang pentingnya pendidikan karakter, dasar-dasar hukum yang dijadikan landansan, implementasi pendidikan karakter di sekolah, dan problem-problem yang muncul di lapangan. Banyaknya kasus korupsi, kenakalan remaja, narkoba, konflik sosial, dan kerusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia menjadi faktor yang penting diterapkannya pendidikan karakter. Dalam hal ini, pemerintah sudah menetapkan 18 nilai-nilai karakter yang ditanamkan melalui pendidikan, yaitureligius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Namun demikian dalam realitasnya masih banyak dijumpai kendala dalam implementasinya di lapangan. Permasalahan-permasalahan inilah yang perlu dianalisis secara lebih mendalam dalam tulisan ini
Optimizing The Competitiveness of Return on Mudhârabah Time Deposit in Improving Public Interest to Invest in Islamic Bank
The aim of this study is to explain the calculation of return on mudhârabah time deposit for the depositors of Islamic banks, and the provision of a fair return to the depositors without leaving any shariah elements. These two issues have become urgent to be discussed in this study, because if their money is deposited in Islamic banks, it will increase the amount of funds available in the Islamic bank, and the amount of funds available directly influence the size of the investment return on Islamic banks. If the results of the large investment, the returns will be obtained by the depositors are also large, and vice versa. In addition, it will also create a sense of calm and peace for themselves, because the money they have deposited in Islamic bank is not only quaranteed by the gorverment but also the system is run in accordance with the shariah of Islam.Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan perhitungan return deposito mudhârabah bagi deposan di bank syariah, dan pemberian return tersebut secara adil kepada deposan tanpa meninggalkan unsur kesyariahannya. Dua permasalahan ini menjadi urgen untuk dibahas dalam tulisan ini, karena jika uang mereka didepositokan di bank syariah akan meningkatkan jumlah dana yang tersedia di bank syariah tersebut, dan jumlah dana yang tersedia tersebut berpengaruh langsung terhadap besar kecilnya hasil investasi bank syariah. Jika hasil investasi tersebut besar, maka return yang akan diperoleh para deposan juga besar, demikian pula sebaliknya. Selain itu, juga akan menciptakan rasa tenang dan tentram bagi mereka sendiri, karena keberadaan uang mereka tidak saja dijamin oleh pemerintah tetapi juga sistemnya dijalankan sesuai dengan syariat Islam
Character Education Values That Work in Islamic Senior High School Setting
The purpose of study is to discover the character education values that are integrated in lesson plan, implemented in the classroom setting, and classroom academic rules. This is a case study research that focused on describing the integration of character education program in the Model Islamic senior high school of Makassar, Indonesia. Fifty lesson plans were collected, twenty six informants were observed, and five informants were interviewed to have data on character education values that work. The data were analyzed using qualitative approach; data reduction, data display, conclusion, and verification. The result showed that (1) there are eighteen character education values written in the lesson plan; religious, honest, tolerant, discipline, hard working, creative, independent, democratic, curiosity, the spirit of nationalism, love to motherland, appreciation of achievement, friendly, peaceful, love to read, environmental and social care, responsibility, (2) the values that work in the classroom are religious, trustworthy, respectfulness, diligent, fair, care, integrity, responsible, honest, love to motherland, courage, and (3) the values that work in the academic rules are disciplines, care, tolerant, friendly, responsible.Studi ini bertujuan untuk menemukan nilai-nilai pendidikan karakter yang diintegrasikan melalui Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, diimplementasikan dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas dan aturan akademik sekolah. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus yang diarahkan pada pendeskripsian integrasi program pendidikan karakter pada Madasah Aliyah Negeri Model Makassar, Indonesia. Sebanyak 50 RPP dikumpulkan, duapuluh enam informan diamati, dan lima informan diwawancarai untuk memperoleh data tentang nilai-nilai karakter yang dijalankan. Data dianalisis dengan menggunakan pendekatan kualitiatif; reduksi data, penyajian data, verifikasi, dan pengambilan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat delapan belas karakter yang tertulis pada RPP mencakup religius, jujur, toleran, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, keingintahuan, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggungjawab, (2) nilai-nilai karakter yang diintegrasikan dalam ruang kelas adalah religius,amanah, hormat, rajin, adil, peduli, integritas, bertanggungjawab, jujur, cinta tanah air, keberanian, dan (3) nilai-nilai karakter dalam penegakkan aturan sekolah adalah disiplin, peduli, toleran, bersahabat, dan bertanggungjawab. 
Managing Islamic Education to Overcome Juvenile Delinquency
Reconstructing patterns of Islamic education to be basic values of religion provides the scope of Islamic education development. Education is an effort to preserve, transfer and transform cultural good values in all its aspects to the younger generation. Patterns of Islamic education in tackling juvenile delinquency including efforts to improve Muslim education strategies concerning the issue of how the implementation of the educational goals of the educational process by looking at the situation and condition, and also how to keep the process there are no disturbances, internally and externally, regarding institutional or social environments. The application of preventive methods (prevention), curative (treatment) and rehabilitative (quarantine) are pivotal for an educator or school organizers, to coach young people in schools can be focused well; therefore, at least it is to reduce misbehavior frequency among adolescents.Rekonstruksi pola pendidikan Islam merupakan suatu keharusan dalam menempatkan nilai-nilai dasar agama yang menyediakan lingkup pengembangan pendidikan Islam. Pendidikan adalah upaya untuk melestarikan, mentransfer dan mengubah nilai-nilai budaya dalam segala aspeknya yang baik untuk generasi muda. Pola pendidikan Islam dalam menanggulangi kenakalan remaja termasuk upaya untuk meningkatkan strategi pendidikan Islam mengenai masalah bagaimana pelaksanaan tujuan pendidikan dari proses pendidikan dengan melihat situasi dan kondisi, serta bagaimana untuk menjaga proses tersebut supaya berjalan tanpa hambatan, internal dan eksternal, dalam lingkungan kelembagaan atau sosial. Penerapan metode preventif (pencegahan), kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (karantina) sangat diperlukan untuk seorang pendidik atau sekolah penyelenggara untuk pembinaan generasi muda di sekolah-sekolah dapat difokuskan baik sehingga setidaknya mengurangi frekuensi perilaku negatif yang terjadi pada remaja
Syariah Obligation: Prospects and its Challenges in Indonesia
This writing is designed to investigate prospects and challenges facing Syariah Obligation (sukuk) in Indonesia. In this study, we found Syariah obligation (sukuk) development have good prospect. There are factors supporting Syariah obligation (sukuk) in Indonesia, some of which are significant population, government support, and domestic economic stability over percent per year, flow of fresh fund by Middle East, and making complete regulatory framework, as well as the rise of global Syariah market. Notwithstanding sukuk potential, some challenges are exist, for examples, drawback of regulation, uncertainty of taxation, most of Syariah financial products are “debt-based†or “debt-likelyâ€, less investor understanding of Syariah obligation instrument, and not quite conducive investment climate and complicated bureaucracy.Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji prospek dan tantangan obligasi syariah (sukuk) di Indonesia. Pada penelitian ini, ditemukan bahwa prospek pengembangan obligasi syariah (sukuk) di Indonesia cukup baik. Terdapat beberapa faktor yang mendukung keberadaan obligasi syariah (sukuk) di Indonesia, antara lain: jumlah penduduk yang banyak, dukungan dari pemerintah, Stabilitas perekonomian dalam negeri, di atas persen pertahun, mengalirnya dana segar dari timur tengah, dan regulatory farmework yang cukup memadai, serta bangkitnya pasar global syariah. Meskipun potensi sukuk cukup baik, tetapi tetap saja memiliki sejumlah tantangan, antara lain: adanya kelemahan dari aspek regulasi, ketidakpastian dari segi perpajakan, kebanyakan produk keuangan syariah bersifat†debt-basedâ€atau “debt-likely, kurangnya pemahaman oleh investor terhadap instrumen obligasi syariah, dan iklim investasi yang kurang kodusif serta birokrasi yang berbeli-belit
Principles of Economic Ibn Taymiyyah (Moral Analysis)
This paper discusses the economic principles of Ibn Taymiyyah with moral analysis. The purpose of this paper is to reveal the position of morality in economic principles of Ibn Taymiyyah. There are two issues to be answered in this paper are: how is the economic principles of Ibn Taymiyyah, and how is the moral position in the economic principles of Ibn Taymiyyah. This research was found: principles of Ibn Taymiyyah\u27s economy include: the principle of balance, fairness, sharia, cooperation, consultation and the prohibition of usury. Moral position in the economic principles of Ibn Taymiyyah is the basis and foundation of the economy which is essentially based on justice as a moral parent intended to protect the public from a variety of exploitative actions.Tulisan ini membahas tentang prinsip-prinsip ekonomi Ibnu Taimiyah dengan analisis moral. Tujuannya adalah untuk mengungkap posisi moralitas dalam prinsip-prinsip ekonomi Ibnu Taimiyah. Terdapat dua masalah yang ingin dijawab dalam tulisan ini yaitu: 1. Bagaimana prinsip-prinsip ekonomi Ibnu Taimiyah? 2. Bagaimana posisi moral dalam prinsip-prinsip ekonomi Ibnu Taimiyah? Berdasarkan penelusuran yang dilakukan ditemukan bahwa: Prinsip-prinsip ekonomi Ibnu Taimiyah meliputi: Prinsip keseimbangan, keadilan, syariah, kerja sama, musyawarah dan larangan riba. Posisi moral dalam prinsip ekonomi Ibnu Taimiyah menjadi dasar dan pondasi ekonomi yang pada hakekatnya bertumpu pada penegakan keadilan sebagai induk moral yang bertujuan melindungi masyarakat dari berbagai tindakan eksploitatif