Al-Ulum
Not a member yet
388 research outputs found
Sort by
Pandangan dan Pengalaman Dosen UIN Alauddin Makassar dalam Upaya Mengantisipasi Gerakan Islam Radikal di Kalangan Mahasiswa
This article is intended to fill the gap scholarly studies about radical movements in the university environment. This study is a qualitative research with phenomenological approach involving six (6) lecturers of UIN Alauddin Makassar as a research subject. From the interviews, it has been found out that the lecturers had the same view of radicalism in terms of positive and negative. Apparently, radicalism is growing because it begins with less understanding of religious thoughts among students which is triggered by their immature pattern of thinking as well as their great curiosity. Basically, all respondents consider this issue is a serious and often discussed with their students. Universities and lecturers, therefore, are encouraged to direct and guide the students to avoid the development of radical ideologies.Artikel ini dimaksudkan untuk mengisi kesenjangan keilmiahan tentang gerakan radikal di lingkungan kampus. Studi ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi melibatkan enam (6) orang dosen UIN Alauddin Makassar sebagai subjek penelitian. Dari hasil wawancara, ditemukan bahwa dosen memiliki pandangan yang sama tentang radikalisme dari segi positif dan negatifnya. Paham radikalisme ini berkembang karena diawali dengan pemahaman agama yang tidak mendalam dan di kalagan mahasiswa, perkembangannya difasilitasi oleh masih belum matangnya pola berfikir mahasiswa serta adanya keingintahuan yang besar. Pada dasarnya, seluruh responden menganggap isu ini adalah hal yang serius dan sering dibahas bersama mahasiswa. Perguruan tinggi dan para dosen juga didorong untuk mengarahkan dan membimbing mahasiswa agar terhindar dari perkembangan paham-paham radikal
Studi Terorisme di Sulawesi Tengah
Poso the center of conflict in Central Sulawesi has been symbiotic to terrorism, so that the critical points of the outside reached at least three border areas. Such as South Sulawesi, Southest Sulawesi, and West Sulawesi. Eventhough, the right answer have not been obtained that weather conflict presents the terrorism or terrorism creates the conflict in Poso, but what appears is that terrorism has formed in Poso. This article focuses on three studies (1) the spirit of ideology, (2) struggle obsession, and (3) network system. The ideological spirit moves the spirit of terrorist in Poso, it is fundamental and radical, the struggle obsession is to transform the established order through delegitimation of goverment power that has causes many anger local terrorist in Poso is not independent because they are realted to extra-local and national terrorist and they even connected to global terrorism network.Poso sebagai titik pusat konflik di Sulawesi Tengah telah bersimbiosis dengan terorisme, sehingga titik rawan luarnya telah meluas menjangkau paling tidak tiga wilayah perbatasan, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat. Meskipun belum diperoleh jawaban yang tepat, apakah konflik yang menghadirkan terorisme atau terorisme yang menciptakan konflik di Poso, tetapi yang tampak bahwa habitat terorisme telah terbentuk di Poso. Artikel ini membahas tiga fokus kajian yaitu (1) spirit ideologis, (2) obsesi perjuangan, dan (3) sistem jaringan. Spirit ideologis yang menggerakkan semangat teroris di Poso adalah bersifat fundamental-radikal, dengan obsesi perjuangan adalah untuk mengubah tatanan mapan menggunakan celah delegitimasi kekuasaan pemerintah yang dinilai telah menyebabkan banyaknya kemungkaran. Teroris lokal Poso tidak berdiri sendiri sebab terkait dengan teroris ekstra lokal dan nasional, bahkan menjangkau jejaring terorisme global
Dakwah Kontemporer dan Radikalisme Agama di Bulukumba
The article aims to understand the application of contemporary dakwah in Bulukumba as an effort to tackle religious radicalism. This highlighted from a characteristic contemporary priests, contemporary dakwah materials and media of contemporary dakwah and the role of dakwah in counteracting religious radicalism in Bulukumba district of South Sulawesi. The result of this research shows that in general dai (priests) including contemporary dai. At this point, it can be said that one of the characters contemporary dakwah is contemporary priests themselves. The priests, mostly still focused on the traditional ways in presenting Islam when they give presentations. Meanwhile, matters such as contemporary medium had not been fully employed well. Ultimately, the priests play important roles in order to counter and prevent religious radicalism, and they have the role to explain proportional religious thoughts.Artikel ini bertujuan untuk mengetahui penerapan dakwah kontemporer di Bulukumba sebagai upaya untuk menangkal radikalisme agama. Hal ini disorot dari sudut karakteristik dai kontemporer, materi dakwah kontemporer dan media dakwah kontemporer serta peran dakwah dalam menangkal radikalisme agama di Kabupaten Bulukumba.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada umumnya dai termasuk dai kontemporer. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa salah satu karakter dakwah kontemporer adalah dai yang kontemporer. Dai dalam menyampaikan materi dakwah kontemporer pada umumnya masih berfokus pada materi sistem tradisional. Sedangkan kaitannya dengan media kontemporer, para dai belum sepenuhnya menggunakannya dengan baik. Kaitannya dengan peran dakwah dalam menangkal radikalisme agama adalah pada umumnya dai sangat berperan dan berupaya untuk menjelaskan agama secara proporsional.  
Counter-radicalism and Moderate Muslim in Jember
This paper marks an attempt to understand and explain the cultural movement of the Nahdlatul Ulama (NU) and Muhammadiyah -two moderate Islamic organization with the largest mass in Indonesia - in countering the penetration of religious radicalism in Jember --one district in East Java. Despite using a different platform and approach, namely Islam of Archipelago and Islam Progressive, but the two organizations have the same prophetic political mission to fight all forms of radicalism in the name of religion. This paper argues that both the organization itself, it is still as a progressive pillar of Indonesian civil Islam who are concerned in fighting the agenda of tolerance, pluralism and democracy. Both also always positioned itself as an anti-thesis and always take opposition to radicalism forces. However, religious radicalism is a serious threaten especially to fight the agenda of diversity and peaceful coexistence of religious differences. So far, this paper intends to elaborate progressive ideas among moderate Muslims -NU and Muhammadiyah-- in consolidating themselves to stem the flow of radicalism.Tulisan ini mengulas gerakan kultural kalangan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah –dua organisasi Islam moderat dengan massa terbesar di Indonesia—dalam melakukan counter terhadap penetrasi radikalisme agama di Jember –salah satu daerah kabupaten di Jawa Timur. Kendatipun menggunakan platform dan pendekatan berbeda, yakni Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan, namun kedua organisasi itu sama-sama memiliki misi politik profetis untuk melawan segala bentuk tindakan radikalisme yang mengatasnamakan agama. Tulisan ini sendiri berargumen bahwa kedua organisasi itu, masih menjadi pilar progresif bagi kekuatan civil Islam Indonesia yang concern dalam memperjuangkan agenda toleransi, pluralism dan demokrasi. Keduanya juga selalu memposisikan diri sebagai kekuatan anti-tesa yang selalu beroposisi dengan berbagai kekuatan radikalisme. Bagaianapun, radikalisme agama merupakan ancaman serius bagi, terutama agenda penciptaan koeksistensi damai bagi keragaman dan perbedaan umat beragama. Tulisan ini bermaksud untuk mengelaborasi gagasan-gagasan progresif dari kalangan muslim moderat –dalam hal ini NU dan Muhammadiyah-- dalam mengonsolidasikan diri untuk membendung laju pergerakan radikalisme
The Youth, The Sciences Students, and Religious Radicalism
This article is an endeavor to describe the tendency of religious radicalism amongst student of science at senior high schools and the students of several universities such as the faculty of medicine, pharmacy, and agriculture.. In many cases students or young people are the main target of the religious radicalism agents. The youth then receive the transmission of the religious radicalism and regenerate those values. In fact, the students of sciences, as individual with science education are more likely become member of religious radicalism group than other students such as humanities or social science. Why? This article portrays the causality of one’s joined the religious radicalism group by the micro sociological approaches divided into two main factors such the individual states of minds of their world views and the student’s relative deprivation.Artikel ini berupaya menggambarkan radikalisme agama di kalangan kaum muda yang tergolong sebagai siswa ilmu pengetahuan alam (IPA). Pada banyak kasus, golongan kaum muda merupakan sasaran utama para agen radikalisme agama. Kaum muda menerima nilai-nilai dan menjadi kader dari gerakan radikalime agama tersebut. Pada tataran empiris, para siswa rumpun IPA secara individu memiliki kecenderungan menjadi golongan radikal dibandingkan siswa-siswa yang tidak menempuh pendidikan rumpun IPA. Dengan pendekatan mikrososiologi, artikel ini memerikan 2 (dua) faktor penyebab para siswa rumpun IPA memiliki kecenderungan menjadi agen golongan radikal, yakni alam subyektif individu dan deprivasi relatif yang dialami oleh para siswa rumpun IPA
Membangun Pemahaman Multikultural dan Multiagama Guna Menangkal Radikalisme di Aceh Singkil
Multicultural education is an educational reform movement. This process is mainly aimed to change the structure of educational institutions. At this stage, students who are members of diverse racial, ethnic, and cultural groups will have an equal chance to achieve better academic values in school. Multi-religion is a situation where there is an existence of some religions in a certain area in which exists in a multi-cultural region. Conflicts which might emerge in Singkil of Aceh are caused by some factors. Among others: lack of the understanding through the existence of multicultural, lack of solidarity among the religious people (multi-religion), and the people from the outside of Aceh Singkil who wants to destroy the stability in this area. Economic disparities and live in poverty for many years is also as another factor rising this conflict, even if it is not the dominant factor.Multi-budaya adalah salah satu pergerakan reformasi pendidikan. dan proses yang tujuannya untuk mengubah struktur pendidikan agar siswa yang berasal dari suku, ras dan kelompok budaya yang berbeda bisa memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan di sekolah. Multi-agama adalah suatu keadaan di mana ada beberapa agama yang hidup dan berkembang di daerah tertentu yang keberadaannya tidak bisa ditolak.Konflik yang baru-baru ini terjadi di Aceh Singkil, yang sebenarnya ini bukan merupakan konflik yang pertama, disebabkan oleh beberapa faktor yaitu: 1. Kurangnya pemahaman tentang konsep multikultural yang ada dan hidup serta berkembang sejak lama di Aceh Singkil. 2. Kurangnya rasa solidaritas yang tinggi dalam beragama di tengah-tengah masyarakat yang juga multi agama, meskipun ada agama mayoritas di daerah tersebut. 3. Adanya usaha dari masyarakat pendatang ke Aceh Singkil yang ingin merusak stabilitas kehidupan di sana dengan tidak mematuhi aturan-aturan yang telah disepakati. 4. Kesenjangan ekonomi dan hidup dalam kemiskinan yang bertahun-tahun dialami masyarakat Aceh Singkil juga merupakan faktor terjadinya konflik tersebut, sekalipun faktor ini tidak dominan
Radikalisme pada World Wide Web dan Strategi Propaganda
Radical individual and organizations are setting strong foothold on Internet. They operate in dark network hidden from authorities view to pursuade, recruit, and coordinate radical and violent actions. The presence of radical individual and organizations onInternet sites have caused massive debate and contraversi among Internet users, law enforcement bodies,and policy makers regarding misuse of Internet. However, little is known how exactly radical individual and organizations deliver their propaganda on Internet and what radical organizations practice such activities on Internet. Through the use of content analysis approach, this study analyzed various radical websites content to provide deep insight of radical operation and propaganda on Internet. Data was collected from various popular radical organization websites and previous studies. The findings show that well-kown organized radical and terorist oragnizations in Indonesia and International have intensively used Internet for new arena to radical and terror public across the globe. They use Internet topursuade, deliver propaganda to a global audience, recruit new members, communicate with international supporters, solicit donations, and fostering public awareness. This study concludes that Internet has become a new instrument to spread radicalism and terror within community life.Dewasa ini sejumlah individu dan organisasi radikal sudah menancapkan kaki mereka di Internet. Mereka beroperasi dalam suatu jaringan yang sulit terpantau oleh pihak penguasa untuk membujuk, merekrut anggota baru dan sekaligus berkoordiansi dalam melancarkan tindakan radikal dan kekerasan. Kehadiran mereka di dunia maya telah mendatangkan berbagai kontroversi dan perdebatan dikalangan pengguna Internet, penegak hukum, dan pembuat kebijkan terkait penyalahgunaan Internet. Namun, masih sangat terbatas penelitian and informasi terkait bagaimana sebenarya oraganisasi radikal tersebut beroperasi di dunia maya dan bagaimana cara mereka menyampaikan proganda di Internet. Dengan menggunakan pendekatan analisa kontent, penelitian ini berusaha menyajikan pemahaman yang mendalam terkait gerakan dan propaganda radikal di Internet. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sejumlah organisasi radikal di Indonesia dan Internasional sudah memanfaatkan Internet secara intensif dalam gerakan mereka. Mereka memanfaatakan Internet untuk mempengaruhi, menyampaikan propaganda radikal, merekrut anggota baru, berkomunikasi denganpendukung dari berbagai negara dan menggalang dana dari publik yang simpati dengan mereka. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Internet sudah menjadi sarana baru kelompok radikal dalam menyebarkan gagasan-gagasan radikal dan teror dalam kehidupan masyarakat dewasa ini
Radikalisme Islam dalam Representasi Media di Thailand
This article intends to look at how Islamic radical (ISIS) is represented in the Thai media. The method used in this study is critical discourse analysis method proposed by Theo van Leuwen which focuses on how actors in the inclusion and exclusion in the news media. This study concluded on: first, The Bangkok Post, represents ISIS identical and just as dangerous as Muslim rebels in southern Thailand. ISIS issue be a way to marginalize the Muslim rebels in southern Thailand region of the country bordering the Malay Peninsula. Second, the Pattaya Mail purposely did not link the issue of ISIS in southern Thailand among the Muslim fighters because they would only weaken efforts to build integration and large associations vis a vis ISIS. Pattaya Mail prefers macro strategy, which attempts to include as many friends to confront a common enemy: ISISKajian ini bermaksud untuk melihat bagaimana Islam Radikal (ISIS) direpresentasikan di media Thailand. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode analisis wacana kritis Theo van Leuwen yang berfokus pada bagaimana aktor ditampilkan (inklusi dan eksklusi) di media. Kajian ini menyimpulkan bahwa: Pertama, pada The Bangkok Post, merepresentasikan ISIS identik dan sama berbahayanya dengan pemberontak Muslim di Thailand selatan. Isu ISIS menjadi jembatan media untuk memarjinalkan para pejuang Muslim di wilayah Thailand Selatan. Kedua, Berbeda dengan The Bangkok Post, Pattaya Mail terlihat tidak mengaitkan isu ISIS dengan pejuang Muslim di Thailand Selatan. Hal ini antara lain disebabkan karena media tersebut hal tersebut justru akan melemahkan upaya untuk membangun integrasi dan asosiasi besar vis a vis ISIS. Pattaya Mail terlihat mencoba memasukkan sebanyak mungkin “teman†untuk menghadapi musuh bersama, yaitu : ISIS
Warisan Pendidikan Islam Nusantara: Suatu Perubahan dan Keberlangsungan
Islamic Nusantara gives a great contribution to Indonesia by bequeathing the various of Islamic educational institutions, which until now still exist and sustainably, Islamic Nusantara has a treasury of educational institutions such a comprehensive, innovative and integrative. However, the great contribution of Islamic Nusantara with the educational institution where its educates and liberates the mankind from ignorance and the backwardness its not necessarily got appreciated for its efforts, but the existence was a "blasphemed" by people who identify themselves as a transnational movement. Islamic Nusantara is called as Islam which has a great relation between local tradition and culture, this article wish to discribing the seed of islamic Nusantara in Indonesia as well as integration of Islamic scholarship and Western.Islam Nusantara memberikan kontribusi yang begitu besar bagi bangsa Indonesia dengan mewariskan beragam lembaga pendidikan Islam, yang hingga kini masih eksis dan lestari, Islam nusantara memiliki khazanah institusi pendidikan yang demikian komprehensif, inovatif dan integratif. Namun, kontribusi besar Islam nusantara dengan institusi pendidikannnya yang mencerdaskan dan memerdekakan umat manusia dari kebodohan dan keterbelakangannya ternyata tidak serta merta diapresiasi dan dihargai jerih payahnya, melainkan “dihujat†keberadaanya oleh kalangan yang mengidentikkan diri sebagai gerakan transnasional. Islam Nusantara disebut sebagai Islam yang beraroma tradisi dan budaya lokal, artikel ini ingin mengammbarkan benih isalm nusantara di Indonesia serta integrasi keilmuan islam dan Barat
Peran Pemikiran Heuristik pada Hubungan Persepsi Sosial dengan Munculnya Sikap terhadap Ide Penegakkan Khilafah Islamiyah di Indonesia
The spread of the idea of application of Khilafah Islamiyah (Islamic Caliphate) emerges zealously over the last few years. This phenomenon occurs especially among the younger generation. Through a quantitative approach, this research examines the theoretical model of the relationship between the need to reject the uncertainty, the social perception of the reality of a society and democratic practices, bias heuristic thinking and the attitude towards the idea of the application of khilafah Islamiyah in Indonesia. Data processed by regression analysis with 245 respondents. Based on the test results of the regression analysis, theoretical models did not fit with the data. Researchers propose a new theoretical model that does not involve variable need of uncertainty avoidance. The ‘bias-heuristic variable’ thinking proves to be an alternative mediator variable in the relationship between social perception of reality of a society, and democratic emergence and attitudes toward the idea of khilafah Islamiyah. For further research, suggested using SEM analysis. Researchers recommended the need to develop and construct the critical thinking among the younger generation, so they become more critical in addressing ideas tend to be radicalPenyebaran ide tentang penerapan Khilafah Islamiyah sangat gencar dilakukan beberapa tahun terakhir, terutama pada generasi muda. Melalui pendekatan kuantitatif, penelitian ini menguji model teoritis hubungan antara kebutuhan untuk menolak ketidakpastian, persepsi sosial terhadap realitas masyarakat dan praktek demokrasi,bias heuristic thinking, dengan sikap terhadap ide penerapan Khilafah Islamiyah di Indonesia. Data diolah dengan analisis regresi dengan 245 responden. Berdasarkan hasil uji analisis regresi, model teoritik tidak fit dengan data. Peneliti mengajukan model teoritik baru yang tidak melibatkan variable kebutuhan menolak ketidakpastian. Variabel bias heuristic thinking terbukti sebagai variabel mediator dalam hubungan antara persepsi terhadap kondisi social dengan munculnya sikap terhadap ide penegakkan Khilafah Islamiyah. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan menggunakan analisis SEM. Peneliti merekomendasikan perlunya pengembangan berpikir kritis di kalangan generasi muda, agar lebih kritis dalam menyikapi ide-ide yang cenderung radikal