Al-Ulum
Not a member yet
388 research outputs found
Sort by
Kanunisasi Hukum Islam di Indonesia
This paper explores the implementation of Islamic law in Indonesia. Islamic law has been established and legally recognized in Indonesian Muslim society which certainly has the power to force the application of Islamic law to the people, especially Muslims. Canons of Islamic law derived from revelation to man; therefore, it is different with the canons of Islamic jurisprudence that there is no compulsion for the implementation involves aspects of human life, especially Muslims. In Indonesia, the canons of Islamic law had been implemented but are still limited in the scope of civil Islam. More specifically related to family law and its implementation is particularly devoted to the Muslim community.Tulisan ini mengulas tentang pelaksanaan hukum Islam di Indonesia. Hukum Islam ditegakkan dan sudah berlangsung serta diakui keberadaannya secara sah di lingkungan masyarakat Islam Indonesia yang tentunya mempunyai kekuatan memaksa dalam penerapan syariat Islam di tengah-tengah masyarakat khususnya umat Islam. Kanun hukum Islam bersumber dari wahyu untuk manusia, karenanya kanun hukum Islam berbeda dengan fikih yang tidak ada paksaan untuk pelaksanaannya meliputi aspek kehidupan manusia khususnya umat Islam. Di Indonesia, kanun hukum Islam sudah diterapkan tetapi masih terbatas dalam ruang lingkup perdata Islam. Yang lebih khusus lagi berkaitan dengan hukum keluarga dan penerapannya dikhususkan kepada masyarakat Islam
Pluralisme Berbasis Pendidikan Agama Guna Pencegahan Radikalisme Agama
Radicalism has recently become a phenomenon. Violences in some areas of Indonesia is a proof. These violences are caused by the conflict that is be partly due to a plurality. These problems have to be overcome in order to shape the unity of the nation. This study will discuss the role of schools in developing the diversity of students in response to the religious plurality in society, which will be focused on how the curriculum is constructed, teaching-learning is done, as well as how the teacher and student’s understanding on religious pluralism is, as a result of the education process. With a qualitative research, a case study in SMA Madania Bogor West Java, this study shows that school with a pluralistic based religious education, fits for internalizing the values of pluralism, in turn forming tolerances and inclusiveness.Radikalisme telah menjadi fenomena akhir-akhir ini. Sejumlah kekerasan di beberapa daerah Indonesia merupakan bukti akan hal itu. Peristiwa-peristiwa tersebut terjadi di antaranya karena konflik dikarenakan faktor pluralitas. Persoalan-persoalan ini bila tidak diatasi, akan mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa. Kajian ini akan membahas peran sekolah dalam mengembangkan keberagamaan siswa dalam merespon kenyataan pluralitas keagamaan di masyarakat, yang akan difokuskan pada bagaimana kurikulum dikonstruksi, pembelajaran dilakukan, dan kondisi. Dengan pendekatan kualitatif, studi kasus di SMA Madania Bogor Jawa Barat, studi ini menunjukkan bahwa sekolah yang menerapkan pendidikan agama berbasis pluralistik, cocok untuk menanamkan nilai-nilai pluralisme sehingga membentuk sikap toleransi dan inklusivitas siswa
Islamic Religion Value on The Liric Text of Kaili Pop Song Regional Review of Literature in Islamic Education
Lyric of the Kaili Pop song is a literary work that reflects the cultural attitudes of the Kaili society as the owner. The lyrics of the song express feelings or ideas of authors based on the author\u27s life experience. The lyrics of the Kaili\u27s songs that are unique in the theoretical perspective representing the cultural values of Kaili that implicate literature, especially on religious values of Islamic education, (1) prayer (2) repentance, and (3) firmness/resignation. The data of this qualitative research is the text of the lyrics of Kaili pop song. The data source of this research is Kaili songs obtained through audiovisuals in the form of cassettes or CDs. Data were collected through documentation study. The text of the song’s lyric was transcribed into the data card sheets and coded according to the focus of the research. The data transcription is analyzed in accordance with the steps of analysis proposed by Ricoeur consisting of (1) semantic understanding stage, (2) reflective understanding stage, and (3) existential understanding stage.Lagu lirik popular Kaili adalah karya sastra yang mencerminkan sikap budaya masyarakat Kaili sebagai pemiliknya. Lirik lagu tersebut mengekspresikan perasaan atau gagasan penulis berdasarkan pengalaman hidup penulis. Lirik lagu Kaili yang unik dalam perspektif teoretis yang mewakili nilai budaya Kailinesse yang menyinggung sastra, terutama mengenai nilai-nilai agama pendidikan Islam seperti: (1) doa (2) pertobatan, dan (3) ketegasan atau pengunduran diri. Data penelitian kualitatif ini adalah teks lirik lagu pop Kaili. Sumber data penelitian ini adalah lagu Kaili yang diperoleh melalui audiovisuals berupa kaset atau CD. Data dikumpulkan melalui studi dokumentasi. Teks lirik lagu itu ditranskripsikan ke dalam lembar data kartu dan dikodekan sesuai dengan fokus penelitian. Transkripsi data dianalisis sesuai dengan langkah-langkah analisis yang diajukan oleh Ricoeur yang terdiri atas tahap pemahaman semantik, reflektif, dan eksistensial
Measuring The Accomodation of Sharia Principles in Determining the Pricing of Consumer Financing Products of BSM (Sharia Mandiri Bank)
This study is intended to evaluate the pricing determination of consumer financing products of BSM, so that the customers can find out if BSM provides a treatment of installment payments on consumer financing products in accordance with sharia principles. In establishing the pricing on consumer financing products, BSM uses two methods, namely: the annuity method and the proportional (flat) method. The Construction of pricing on the consumer financing products in BSM is based on: (a) the total of installment payment per-month, it is based on financing platfond, percentage of margin, and period of time, (b) the principal installment payment per-month, it is based on total of principal installment payment per-month, and margin, (c) the installment payament of profit margin per-month, it is based on platfond, principal, and percentage of margin. The pricing used by BSM needs to be revitalized because (a) there is a profit return factor for customers, (b) containing a gharar element, and (c) using the paradigm of conventional bank in setting pricing.Kajian ini dimaksudkan untuk mengevaluasi penetapan pricing produk pembiayaan konsumen di BSM, agar nasabah dapat mengetahui apakah BSM memberikan perlakuan angsuran pembayaran pada produk pembiayaan konsumen sudah sesuai dengan prinsip syariah. Dalam menetapkan pricing pada produk pembiayaan konsumen, BSM menggunkan dua metode, yaitu: metode annuitas dan metode proporsional (flat). Basis konstruksi penetapan pricing pada produk pembiayaan konsumen di BSM, yaitu: (a) total angsuran per-bulan nasabah, yaitu: platfond pembiayaan, persentase marjin, dan jangka waktu, (b) angsuran pokok per-bulan nasabah, yaitu: total angsuran pokok per-bulan, dan marjin keuntungan, (c) angsuran marjin keuntungan per-bulan nasabah, yaitu: platfond, angsuran pokok, dan persentase marjin. Penetapan pricing tersebut perlu direvitalisasi karena (a) ada faktor pengembalian beban keuntungan bagi nasabah, (b) mengandung unsur gharar, dan (c) menggunakan paradigma bank konvensional dalam menetapkan pricing
Pengembangan Ekonomi Islam di Pesantren Jawa Timur
This article aims to elaborate the value of local pesantren (Islamic boarding school) in Islamic economic development. The pesantren’s Islamic economics is assessed by using the Pierre Bourdieu\u27s social practice theory of social action, namely (Habitus x Capital) + Ranah = Practice. In the theory of social practice, internalization of social values, interpreted as social capital in realizing the behaviour of Islamic economics (economic behaviour). The transformation of the value of local wisdom, believed to be able to inspire all the actions and social roles of individuals in the economic field by promoting the three basic pillars, among others: 1) ownership (al-milkiyah) according to sharia, 2) ownership use (tasharruffi al-milkiyah) and 3) distribution of community wealth (taui \u27al-tsarwah baina al-nas) through mechanisms according to the system: shari\u27a, ai-ashlu fial-afdl\u27 al-taqajyudu bi al-hukm al-syar\u27.Artikel ini tujuan untuk memaknai nilai lokal pesantren sebagai core value pengembangan ekomoni Islam. Ekonomi Islam dalam dunia pesantren tersebut diujidengan teori praktik sosialnya Pierre Bourdieu mengenai tindakan sosial, yakni (Habitus x Modal) + Ranah = Praktik. Dalam teori praktik sosial, internalisasi nilai sosial, dimaknai sebagai modal sosial dalam mewujudkan prilaku ekonomi Islam(economic behavior). Transformasi nilai kearifan lokal dimaksud, diyakini mampu menggilhami seluruh tindakan dan peran sosial individu di bidang ekonomi dengan mengedepankan tiga pilar dasar, antara lain: 1) kepemilikan (al-milkiyah) yang sesuai syariah, 2) pemanfaatan kepemilikan (tasharruffi al-milkiyah) dan 3) distribusi kekayaan masyarakat (taui’ al-tsarwah baina al-nas) melalui mekanisme sesuai dengan (syariah, ai-ashlu fial-afdl’ al-taqajyudu bi al-hukm al-syar’i)
Konsep Pernikahan dalam Al-Quran
This article describes marriage in the Koran. Marriage implies a transaction (akad) that legitimizes the relationship between a man with one woman as husband and wife. Conducting marriage in the Koran meant protecting humans from committed the wrong-doing such as adultery which considered against the nature of the human. Principally, marriage is the only legitimate way to meet the needs of the sexual instinct, the instinct of fatherhood and motherhood and other humanitarian instincts. Therefore, the Koran strictly prohibits all forms of sexual promiscuity; and facilitates freely both in the form of monogamous and polygamy marriage within reasonable reasons in terms of balance, harmony and do not mean as persecution.Artikel ini mendiskripsikan pernikahan dalam al-Quran. Pernikahan mengandung makna suatu transaksi (akad) yang melegitimasi hubungan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suami-isteri. Syariat perkawinan dalam al- Quran mengandung keutamaan menyelamatkan manusia agar tidak tergelincir pada perbuatan keji seperti perzinahan yang merusak fitrah keturunan manusia. Prinsipnya bahwa perkawinan merupakan satu-satunya jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan naluri seksual, naluri kebapakan dan keibuan serta naluri kemanusiaan lainnya. Oleh karena itu al-Quran melarang keras segala bentuk pergaulan seksual secara bebas dan sebaliknya memudahkan perkawinan baik dalam bentuk monogami maupun poligami dalam batas-batas yang wajar dalam artian menjaga keseimbangan, keharmonisan dan tidak bermaksud aniaya
Peningkatan Kinerja Karyawan Perbankan Syariah di Gorontalo (Studi atas Budaya Organisasi, Kompetensi dan Motivasi)
The purpose of this article is to analyse the influence of organizational culture and competence to motivation; organizational culture and competence directly on performance; motivation on performance; and organizational culture and competence on employee performance through employee motivation of syariah banks in Gorontalo. The result shows that organizational culture and competence have a positive and significant effect on motivation organizational culture has a positive and significant impact on employee performance. while the competence does not significantly affect the performance of employees; Motivation has a positive and significant impact on performance; And organizational culture and competence have a positive and significant effect on employee performance through motivation. This study recommends that further research on the same substance in the wider scope in the other organization level must be taken into account in order to obtain a more comprehensive picture of the development of contribution of organizational culture role and competence to motivation and performance of sharia banking employees, and leadership of sharia banking.Tujuan dari artikel ini adalah untuk menganalisis pengaruh budaya organisasi dan kompetensi terhadap motivasi; budaya organisasi dan kompetensi secara langsung pada kinerja; motivasi pada kinerja; dan budaya organisasi dan kompetensi kinerja karyawan melalui motivasi kerja bank syariah di Gorontalo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya organisasi dan kompetensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi budaya organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. Sedangkan kompetensi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja karyawan; Motivasi memiliki dampak positif dan signifikan terhadap kinerja; Dan budaya dan kompetensi organisasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan melalui motivasi. Studi ini merekomendasikan agar penelitian lebih lanjut mengenai substansi yang sama dalam lingkup yang lebih luas di tingkat organisasi lainnya harus diperhitungkan untuk mendapatkan gambaran pengembangan kontribusi budaya organisasi yang lebih komprehensif dan kompetensi terhadap motivasi dan kinerja karyawan perbankan syariah dan kepemimpinan perbankan syariah
Konsep Tuhan pada Agama Kristen dalam Prespektif Islam
This article provides a concept of God in the Christianity. The concept is based on the Islamic perspective. It briefly explains how the Christian concept of God explores descriptive and then compare and contrast these insights, the concept of God which is based on the two Abrahamic faiths, Christianity and Islam. It also looks at some of the criticism of Islam on the concept of God in Christianity. The study then found that even those two religions have the same root as the Abrahamic religions but they actually have different interpretations of the concept of God itself. Unlike the tradition of Islam, Christianity has the concept of the trinity of God.Artikel ini memberikan konsep tentang Tuhan dalam ke-Kristen-an. Konsep ini didasarkan pada perspektif Islam. Ini secara singkat menjelaskan bagaimana kekristenan mengeksplorasi konsep Tuhan deskriptif kemudian membandingkan dan kontras ini wawasan, konsep Allah yang didasarkan pada dua agama Ibrahim, Kristen dan Islam. Ini juga terlihat pada beberapa kritik Islam pada konsep Allah dalam kekristenan. Penelitian ini kemudian menemukan bahwa bahkan mereka dua agama memiliki akar yang sama seperti agama-agama Abrahamik tetapi mereka benar-benar memiliki interpretasi yang berbeda tentang konsep Tuhan itu sendiri. Tidak seperti tradisi Islam, Kristen memiliki konsep trinitas Allah
Pola Pengkaderan Ulama di Sulawesi Selatan (Studi pada Program Ma’had Aly Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang Kabupaten Wajo)
This article aims to elaborate the pattern of regeneration of Islamic scholars (ulama) in South Sulawesi by focusing on the study of Ma’had Aly As’adiyah Sengkang Wajo. In the search, a qualitative approach was used. Data collecting was done through interviews, observation, literature study and documentation. The results of the research indicate that the regeneration of Islamic scholars in South Sulawesi had been long conducted in some Pondok Pesantren (Islamic Boarding Schools). This study finds out that the regeneration of Islamic scholars was provided with a certain medium in a special program. The existence of Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang by implementing the regeneration of Islamic scholars through Ma’had Aly caused Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang to be one of 13 organizers of Ma’had Aly program that was given an operational license by the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia.Artikel bertujuan untuk mengelaborasi pola regenerasi ulama di Sulawesi Selatan dengan memusatkan perhatian pada studi Ma\u27had Aly As\u27adiyah Sengkang Wajo. Dalam pencarian, digunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, studi pustaka dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa regenerasi ulama Islam di Sulawesi Selatan telah lama dilakukan di beberapa Pondok Pesantren. Studi ini menemukan bahwa regenerasi ulama Islam diberikan dengan media tertentu dalam program khusus. Keberadaan Pondok Pesantren As\u27adiyah Sengkang dengan menerapkan regenerasi ulama Islam melalui Ma\u27had Aly menyebabkan Pondok Pesantren As\u27adiyah Sengkang menjadi salah satu dari 13 penyelenggara program Ma\u27had Aly yang diberi izin operasional oleh Menteri Agama Republik Indonesia
Multi-Disciplinary Approach in Indonesian Islamic Higher Education: A Western Perspective upon Epistemological Problem, Challenge, and Critique
The development of several Institute of Islamic Studies into Islamic Universities brings consequences to living religious disciplines vis-à -vis secular disciplines. A multi-disciplinary approach is adopted by positioning al-Quran and Hadits as the foundation of scientific development. This paper attempts to bring western perspective in examining epistemological issues in Indonesian Islamic higher education’s multi-disciplinary approach, its challenges, and critiques. Religious discipline’s domain cannot fully be examined from secular discipline’s framework, as it will result in contra-productive confrontation between the two authorities. Therefore, the challenge for this approach is defining which are autonomous areas in the two domains and which is the intersection. Pragmatically, this approach must result in new genres, which are more productive for the development of mankind civilization.Perkembangan beberapa Institut Agama Islam menjadi Universitas Islam membawa konsekuensi untuk menghidupkan disiplin keagamaan secara beriringan dengan disiplin ilmu sekuler. Pendekatan multi-disipliner diadopsi dengan menempatkan al-Quran dan Hadits sebagai fondasi pengembangan keilmuan. Tulisan ini mencoba membawa perspektif barat dalam menelaah masalah epistemologi pendekatan multidisipliner di lembaga PT Islam di Indonesia, tantangan-tantangannya, dan kritiknya. Disiplin keagamaan tidak dapat sepenuhnya ditelaah dari disiplin sekuler karena akan menimbulkan konfrontasi kontra-produktif dari kedua otoritas. Dengan demikian, tantangan pendekatan ini adalah mendefinisikan mana wilayah otonom di kedua domain dan mana wilayah irisannya. Secara pragmatis, pendekatan ini harus menghasilkan genre-genre keilmuan baru yang lebih produktif dalam kontribusinya bagi perkembangan peradaban manusia