Al-Ulum
Not a member yet
388 research outputs found
Sort by
Kepemimpinan Perempuan di Ruang Publik dalam Tafsir Al-Kasysyâf
Tulisan ini mengeksplorasi pemikiran al-Zamakhsyari tentang kepemimpinan perempuan di ruang publik dalam tafsir al-Kasysyaf. Islam tidak sampai menyuruh isteri untuk tunduk kepada suami sebagaimana wajibnya ia tunduk kepada Tuhan. Sebaliknya, dengan adanya hak-hak yang harus dipenuhi oleh suami terhadap isteri, maka sebagai timbal balik Islam memberikan hak bagi suami untuk ditaati selama tidak bertentangan dengan ajaran agama. Namun, dalam hal kepemimpinan di ruang publik, az-Zamakhsyarîy lebih cenderung menempatkan posisi kaum perempuan di bawah kaum pria. Hal ini tampak pada ungkapannya ketika menafsirkan kata بما فضل الله بعضهم علي بعض bahwa kepemimpinan itu diberikan oleh Allah kepada pria karena kelebihannya dalam beberapa hal, bahkan az-Zamakhsyarîy menganggap kaum pria mempunyai banyak keunggulan ketimbang perempuan.This paper explores al-Zamakhshari\u27s thoughts on women\u27s leadership in the public sphere in tafsir al-Kasysyaf\u27s . Islam does not require the wife to submit to her husband as he is obliged to submit to God. On the contrary, with the existence of rights that must be fulfilled by the husband towards the wife, then as reciprocity of Islam gives the right for the husband to be obeyed as long as it does not conflict with the teachings of religion. However, in terms of leadership in the public sphere, az-Zamakhsyarîy is more likely to place the position of women under men. This is evident in his expression when interpreting the word فضل الله بعضهم علي بعض that leadership is given by Allah to men because of its advantages in several respects, even az-Zamakhsyarîy considers men to have many advantages over wome
Mark Up, Bai` bi Tsaman Ajil dan Kredit menurut Manajeman Keuangan Islam
This paper is aimed to provide a clear picture of differences in interest or usury and mark-up that has sometimes lead to miss-interpretation within community in a variety of banking transactions, especially on credit. The difference in price (mark up) in a murabahah transaction by “bai `bi tsaman ajil†cannot be equated with loan transactions in conventional banks, if the mark up its credit determination based on changes in interest rates that apply to each bank and can be changed at any time based on changes in interest rates, and determination that is made unilaterally by the creditor without first bargaining with the debtor. While at “murabahan bai wa tsaman ajilâ€, setting his mark up is made in advance at the time of the transaction and does not change until the end of the agreement.Tulisan ini bertujuan menggambarkan tentang perbedaan bunga atau riba dan mark up yang selama ini terkadang menimbulkan mis-interpretasi di masyarakat dalam berbagai transaksi di perbankan khususnya pada kredit. Perbedaan harga (mark up) dalam transaksi murabahah dengan “bai` bi tsaman ajil†tidak dapat disamakan dengan transaksi kredit di bank-bank konvensional, bila dalam kredit penetapan mark up nya didasarkan pada perubahan tingkat suku bunga yang berlaku pada masing-masing bank dan bisa berubah sewaktu-waktu berdasarkan perubahan tingkat suku bunga, dan penetapan itu pun dilakukan secara sepihak oleh pihak kreditor tanpa ada tawar menawar terlebih dahulu dengan pihak debitor. Sementara pada murabahan “bai tsaman wa ajilâ€, penetapan mark up nya dilakukan di muka pada saat transaksi dilakukan dan tidak berubah hingga akhir masa perjanjian
The Relation Between Nusantara Islam and Islamic Education in Contemporary Indonesia
Relation between ‘Nusantara Islam’ and Islamic education in contemporary Indonesia is a pivotal issue. It is because of many fundamental reasons, such as, historical, social, political, cultural, religious and educational perspectives. In this context, this article focuses on the relationship and the contribution of Nusantara Islam in Indonesian Islamic educational context from time to time in all aspects. The research in this paper is qualitative with descriptive analytical approach and documentary method. The general objective of this study is to find out what and how the history of Nusantara Islam in the country? What and how the history of Islamic education in Indonesia? How is the relationship between Nusantara Islam and Islamic education in contemporary Indonesia? The results showed that, first and foremost, is the history of Nusantara Islam is a portrait of a very complex history, which extends from the Aceh to Papua and elsewhere in Indonesia. Second, the history of Indonesian Islamic education is the discussion about institution, content of materials and objectives of Islamic-based education from time to time. Third, the relationship between Nusantara Islam and Islamic education in contemporary Indonesia has a strong “bond†with each other. Ultimately, the relationship is so closely linked to the development and progress of the nationhood.Hubungan Islam nusantara dan pendidikan Islam di Indonesia kontemporer merupakan isu yang penting karena berbagai alasan sejarah, sosial, politik, budaya, agama hingga pendidikan. Tulisan ini fokus pada relasi dan kontribusi Islam nusantara dalam pendidikan Islam di Indonesia dari waktu ke waktu dalam semua aspeknya. Penelitian dalam tulisan ini bersifat kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis dan menggunakan metode dokumentatif. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui apa dan bagaimana sejarah Islam nusantara di Indonesia? Apa dan bagaimana sejarah pendidikan Islam di Indonesia? Bagaimana hubungan antara Islam Nusantara dan pendidikan Islam di Indonesia kontemporer? Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, sejarah Islam nusantara merupakan potret sejarah yang sangat kompleks tersebar dari ujung Aceh hingga Papua dan kawasan lain di Indonesia. Kedua, sejarah pendidikan Islam di Indonesia merupakan bahasan tentang institusi, materi dan tujuan pendidikan yang berbasis Islam dari masa ke masa. Ketiga, hubungan antara Islam Nusantara dan pendidikan Islam di Indonesia kontemporer memiliki keterkaitan yang erat satu sama lain. Dari era ke era, hubungannya sangat terkait erat dalam pembangunan dan kemajuan bangsa
Islamic Ethics and Abortion In The Schools of Hanafiyah and Malikyah
This study aims to discuss about abortion in Islamic ethical schools; Hanafiah and Malikiah Schools. Ethics and abortion are investigated, as well as their opinions and arguments about it. This is a library research conducted in order to find preconditions and arguments on abortion based on Islamic ethics. It sees and analyzes their different interpretation and understanding on abortion. This study then find that for Hanafiyans School, the iddah happens after 120 day or 4 months, while some of others say that it happens after 80 days there are some also state that it happens after 42 days. Otherwise, Malikiyans mention that it happens after 40 days. Abortion before iddah for most of Hanafiyah School is permitted. In contrast, most of Malikiyans totally forbid it even the fetus is still in the contraception period.Penelitian ini bertujuan untuk mendiskusikan tentang aborsi dalam mazhab-mazhab etika Islam, yakni Hanafiah dan Malikiah. Etika dan aborsi diselidiki, serta pendapat dan argumen tentang hal itu. Ini adalah penelitian kepustakaan dilakukan untuk mencari prasyarat dan argumen tentang aborsi berdasarkan etika Islam. Ia melihat dan menganalisa perbedaan interpretasi dan pemahaman tentang aborsi. Penelitian ini kemudian menemukan bahwa untuk mazhab Hanafy, masa iddah terjadi setelah 120 hari atau 4 bulan, sementara beberapa yang lain mengatakan bahwa itu terjadi setelah 80 hari ada beberapa juga menyatakan bahwa itu terjadi setelah 42 hari. Jika tidak, penganut Malikiyah menyebutkan bahwa itu terjadi setelah 40 hari. Aborsi sebelum iddah bagi sebagian besar mazhab Hanafy diperbolehkan. Sebaliknya, sebagian besar penganut Malikiyah benar-benar melarang bahkan janin masih dalam jangka kontrasepsi
Fiqh Anak di Indonesia
This article describes the concept of children fiqh in Indonesia with discussions covering status and child care. A child can legitimately be said to have a blood relationship with her/his father if she/he was born in a legitimate marriage. If the child is born illegitimately; then, she/he cannot be attributed to his/her father, except his/her mother alone. In the case of child care, most scholars have differed fiqh perspective. Many fiqh scholars stated that women has the authority to care for and educate children is more appropriate care for and educate children because their feminine nature. However, Hanafi and Maliki schools of thought argued that nurturing, caring and educating children is the right caregiver (mother or a representative). Associated Muslim scholars contended that the right of al-hadhanah is the rights of the two parents. Wahbah al-Zuhailiy argued that the rights of alhadhanah belong to association between mother, father and children. If a dispute arises among these three parties; then, the priority is focused on the rights of the cared-child.Artikel ini memaparkan konsep fiqh anak di Indonesia dengan pembahasan meliputi status dan pemeliharaan anak. Seorang anak dapat dikatakan sah memiliki hubungan nasab dengan ayahnya jika terlahir dari perkawinan yang sah. Apabila anak yang dilahirkan tidak sah, maka ia tidak dapat dihubungkan dengan bapaknya, kecuali kepada ibunya saja. Dalam hal pemeliharaan anak, maka ulama fiqh berbeda pendapat, Ulama fiqh menetapkan bahwa kewenangan merawat dan mendidik lebih tepat dimiliki kaum wanita karena naluri kewanitaan mereka. Mazhab Hanafi dan Maliki berpendapat bahwa mengasuh, merawat dan mendidik anak merupakan hak pengasuh (ibu atau yang mewakili). Jumhur ulama berpendapat bahwa hak al-Hadhanah itu menjadi hak bersama, antara kedua orangtuanya. Wahbah al-Zuhailiy berpendapat bahwa hak al-Hadhanah itu hak berserikat antara ibu, ayah dan anak. Apabila terjadi pertentangan antara ketigaorang ini, maka yang diprioritaskan adalah hak anak yang diasuh
Perjanjian Asuransi Modern dalam Hukum Islam
This paper explores some thoughts on modern insurance in the study of Islamic law. Also the commercialized insurance agreement in implementation which is classified haram according to Islamic law. And, the social-oriented insurance in order to create social welfare is acceptable of Islamic shari\u27ah. The concept of insurance is prohibited in the Islamic shari\u27ah is the concept of insurance in the treaty should be based on “aqad takafuli†or mutual help and in easing the burden or unprecedented risk, which is also called the "Kafal deed".Tulisan ini memuat tentang beberapa pemikiran tentang asuransi moderen dalam kajian hukum Islam. Pandangan perjanjian asuransi yang bersifat komersial dalam pengimplementasinya dipandang haram menurut ketentuan hukum Islam. Akan tetapi asuransi yang sifatnya sosial dengan tujuan untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat dapat diterima dalm Syari’at Islam. Konsep asuransi yang dibolehkan dalam Syari’at Islam adalah konsep asuransi di dalam perjanjiannya harus didasarkan pada aqad Takafuli atau tolong-menolong dan saling membantu dalam meringankan beban atau resiko yang tidak diperkirakan sebelumnya, yang disebut juga dengan “Perbuatan Kafalâ€
Geliat Keberagamaan Moderat Komunitas Muslim Tionghoa (Kontribusi Pengkajian Islam Intensif dalam Keberagamaan Moderat Komunitas Muslim Tionghoa Kota Makassar)
Studying of the Qur\u27an continuously, integrated and comprehensively becomes a necessity if we want to practice the teachings of Islam “kaffahâ€. At least, this is the basis of dakwah implemented by the Chinese Muslim community in Makassar. One indicator of being “kaffah†in embracing Islam is always showing moderate religious attitudes in all aspects of life, both individual and collective, at the level of faith, worship, muamalah, and morals. In understanding and practicing the teachings of Islam, the Chinese Muslim community in Makassar reflects religious moderation; therefore, their presence did not cause conflict in Makassar locally, but a blessing for the local community. Their Chinese identity is maintained by reconstructing the religious value of their traditions and culture. In this community, the belief of Islamic theology is not religiously indicated as elements of syncretism. As a result, their Chinese identity survives copes with their Islamic belief. Ultimately, moderate of Islamic teachings, as a religion of “rahmatan lil al alamiinâ€, is then reflected in their daily lives, including in their religious attitudes and behavior.Pengkajian Al-Qur’an secara berkesinambungan, terpadu dan komprehensif menjadi sebuah kemestian jika ingin mengamalkan ajaran Islam secara kaffah. Setidaknya hal ini yang mendasari dakwah yang diperankan oleh komunitas muslim Tionghoa Kota Makassar. Salah satu indikator kaffah dalam keberislaman seseorang adalah senantiasa menampilkan sikap keberagamaan moderat dalam segala aspek kehidupan. Dalam pemahaman dan pengamalan agama Islam, komunitas muslim Tionghoa Makassar dikesani merefleksikan moderasi beragama, sehingga keberadaannya di Makassar tidak menimbulkan gejolak lokal, melainkan menjadi berkah bagi masyarakat setempat. Identitas kecinaan mereka tetap dipertahankan dengan melakukan rekonstruksi nilai yang melatari tradisi dan kebudayaan mereka. Akidah Islam yang diyakini terbebas dari unsur sinkretisme. Etnisitas kecinaan mereka tetap survive dalam keislaman mereka. Ajaran Islam yang moderat sebagai agama rahmatan lil al-alamiin kemudian direfleksikan dalam kehidupan keseharian mereka, termasuk dalam sikap dan perilaku keberagamaan mereka
Urgensi Pemahaman Kontekstual Hadis (Refleksi terhadap Wacana Islam Nusantara)
This writing tries to show the importance of contextual understanding on hadith in order to response Islam Nusantara discourse. It is library research which takes contextual understanding on hadith and Islam Nusantara as its variables of research. The research result shown that contextual meaning is an approach which done, as an effort to analyze the meaning of hadith. it is done when there is inconsistency between the situation on a society or a certain time of decade. The hadith said that the leader should be taken from Quraisy tribe or the hadith about a nation will never find its prosperous when the leadership is given to woman are two examples which will get difficulties when it will be applied in Indonesia, as long as it is still understood textually. However, both do not find clashes when it is understood contextually. Therefore, all the Islam scientific are demanded to be ready in responding the actual problems on society life, especially in Indonesia archipelago, in order to reflect the elasticity of Islam teaching principle and method on mu’amalah and social relation issues.Tulisan ini berusaha mengungkap urgensi pemahaman kontekstual hadis dalam rangka merespon wacana Islam Nusantara. Jenis penelitian ini adalah Library Reseach Pariabel penelitian adalah pemahaman kontekstual hadis dan Islam Nusantara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman kontekstual adalah sebuah pendekatan yang dilakukan sebagai salah satu ijtihad dalam menelaah kandungan suatu matan hadis. Hal itu dilakukan jika ada hadis tampak ketidak sesuaiannya dengan keadaan suatu masyarakat atau kurun waktu tertentu. Hadis yang mengatakan bahwa pemimpin itu harus dari suku Quraisy atau hadis tentang tidak akan berjaya suatu kaum jika kepemimpinan itu diserahkan kepada perempuan adalah dua contoh hadis yang akan mengalami kesulitan untuk diterapkan di Indonesia jika hanya dipahami secara tekstual. Namun jika dipahami secara kontekstual kedua hadis tersebut ternyata tidak menemui benturan. Sebagai implikasi, para pengkaji Islam dituntut untuk siap mengantisipasi munculnya masalah-masalah aktual yang berkembang dalam masyarakat khususnya di nusantara, agar mencerminkan betapa elastisnya prinsip dan metode ajaran Islam dalam bidang mu’amalah dan hubungan sosial
Values of Islamic Economic System in Ritual "Mappadendang"
Cultural diversity that exists in Indonesia is one potential that must be developed and preserved throughout the cultures as long as they not incompatible with the moral values of Islam. In fact, this diversity provides vibrant colors varying as a tradition that characterizes respective tribes and ethnics. In the culture of the Bugis, one of the cultural or ritual that is routinely performed each year in agricultural activities (harvest) is mappadendang, attended by all farmers. This ritual is performed as a form of joy and gratitude on the Creator, for abundant agricultural crops. In addition to the form of joy, the mappadendang ritual also intended to preserve the cultural heritage of their ancestors. Mappadendang in Pinrang itself coins philosophical and religious values which are very high and are a means to strengthening the unity and integrity. The importance of cooperation within the traditional mappadendang ritual includes carrying values of the Islamic economic system, such as, to work earnestly for seeking halal earnings, to form solid society with solid social order, justice, income distribution, eradicating the monopoly, individual freedom in order to obtain social welfare.Keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia merupakan salah satu kembanggaan yang harus dikembangkan dan dilestarikan sepanjang budaya itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Bahkan keanekaragaman ini memberikan warna hidup yang berbeda-beda sebagai tradisi yang mencirikan suku masing-masing. Dalam budaya suku Bugis, salah satu satu budaya atau ritual yang rutin dilakukan setiap tahun dalam kegiatan pertanian (panen) yaitu Mappadendang, yang diikuti seluruh petani. Ritual ini dilakukan sebagai bentuk suka cita dan kesyukuran pada sang Khalik, untuk hasil panen pertanian yang melimpah, selain bentuk suka cita, ritual Mappadendang juga dimaksudkan untuk mempertahankan warisan budaya leluhur. Mappadendang di Kabupaten Pinrang itu sendiri menyimpan filosofi yang sangat tinggi dan merupakan sarana nenek moyang dalam memperkuat persatuan dan kesatuan. Pentingnya kerjasama dalam ritual adat mappadendang termasuk melaksanakan nilai-nilai sistem perekonomian Islam termasuk menyuarakan kerja yang bersungguh-sungguh mencari rezeki yang halal, membentuk masyarakat dengan tatanan sosial yang solid, keadilan distribusi pendapatan termasuk menghapuskan monopoli, kebebasan individu dalam kesejahteraan sosial
Corak Fikih Literalistik-Tekstualistik
This paper describes the pattern and characteristics of literal fiqh, jurisprudence that legal opinion can be deduced from the Koran and the hadith texts. Textual understanding is characterized by an emphasis on language analysis. Literal jurisprudence manifests form is evident in the school of Zhahiri with Ibn Hazm as the central scholar. Analytical description of jurisprudence in this paper is compared with substantialrationale base jurisprudence; therefore, the second mode of jurisprudence is seen between the two specifications. One who studies jurisprudence is encouraged to browse and find out where the basic norms or philosophical values, where the norms and the concrete rules that are classified as instruments.Tulisan ini mendeskripsikan corak dan karakteristik fikih literal, sebuah opini hukum fikih yang dideduksi dari al-Quran dan hadis secara tekstual. Pemahaman tekstual ditandai dengan penekanan pada analisis bahasa. Bentuk fikih literalistik mewujud nyata dalam Mazhab Zhâhirî dengan tokoh sentralnya Ibnu Hazm. Deskripsi analitik atas fikih literalistik dalam tulisan ini dikomparasikan dengan fikih subtansialistik-rasionalistik sehingga kedua corak fikih ini terlihat spesifikasi antara keduanya. Sebagai pengkaji fikih, kita perlu menelusuri dan mencari mana norma norma dasar atau nilai-nilai filosofis, mana norma-norma tengah (baik asas-asas/kaidahkadiah), dan mana peraturan kongkret yang bersifat instrumentalis