388 research outputs found

    Logika, Tujuan dan Aspek Sosiologis Hukum Islam: Restrukturisasi Fiqh untuk Perubahan Sosial

    Full text link
    Can Islamic law change the conservation paradigm into transformation? If possible, which aspects can be done for this matter? How far the linkage between conventional Islamic law and social adaptation can continue to be elaborated? Where can the linkage aspects between Islamic law, structure, and culture be found? That is among the several questions to be answered in this paper. Reflecting on conventional (Western) law, writing tries to compile the links between aspects of Islamic law, social and cultural structures. The article concludes with an emphasis on the importance of understanding the beginnings of the growing systematization of Islamic law, as well as the relative aspects of systematization and the necessity of understanding the socio-cultural settings that are constantly changing in the current period. So, it can produce transformative Islamic legal patterns. Islamic law that corresponds to social change.  Bisakah hukum Islam mengubah paradigma konservasi menjadi transformasi? Jika memungkinkan, aspek apa yang dapat dilakukan untuk masalah ini? Seberapa jauh hubungan antara hukum Islam konvensional dan adaptasi sosial dapat terus dielaborasi? Di mana aspek keterkaitan antara hukum, struktur, dan budaya Islam dapat ditemukan? Itulah beberapa pertanyaan yang harus dijawab dalam tulisan ini. Berkaca pada hukum konvensional (Barat), tulisan berusaha menyusun hubungan antara aspek-aspek hukum Islam, struktur sosial dan budaya. Artikel ini diakhiri dengan penekanan pada pentingnya memahami awal mula berkembangnya sistematisasi hukum Islam, serta aspek-aspek relatif dari sistematisasi dan perlunya memahami pengaturan sosial-budaya yang terus berubah pada periode saat ini. Jadi, itu bisa menghasilkan pola hukum Islam yang transformatif. Hukum Islam yang sesuai dengan perubahan sosial

    Strategi Pengelolaan Pendidikan Madrasah Aliyah Muhammadiyah di Gorontalo

    Full text link
    This article analyzes the application of madrasah educational management strategies in Gorontalo Municipality. This study focuses on management in Madrasah Aliyah Muhammadiyah Gorontalo City is the process of implementing curriculum management strategies and the process of applying human resource management strategies. The results showed that, the strategy of managing education in Madrasah Aliyah Muhammadiyah Gorontalo. First, the application of curriculum management strategy consists of planning, namely the implementation of curriculum planning activities always involve all elements, the madrasah head participates in overcoming difficulties, supervision and assessment shows the results of the final stage evaluation (odd semester test) is quite good. Second, the implementation of Human Resources management strategies, namely teachers and employees appear professional in terms of: time attendance discipline, return, and neatness, carrying out tasks and responsibilities properly and professionalism of teachers in managing classes and changes in student behavior. Artikel ini menganalisa penerapan strategi pengelolaan pendidikan madrasah di Kota Gorontalo. Studi ini fokus pada pengelolaan di Madrasah Aliyah Muhammadiyah Kota Gorontalo adalah proses penerapan strategi pengelolaan kurikulum dan proses penerapan strategi pengelolaan sumber daya manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, strategi pengelolaan pendidikan di Madrasah Aliyah Muhammadiyah Gorontalo. Pertama, penerapan strategi pengelolaan kurikulum terdiri atas perencanaan yakni pelaksanaan aktivitas perencanaan kurikulum selalu melibatkan semua unsur, kepala madrasah ikut mendampingi mengatasi kesulitan, pengawasan/penilaian menunjukkan hasil evaluasi tahap akhir (tes semester ganjil) cukup baik. Kedua, penerapan strategi pengelolaan Sumber Daya Manusia yaitu guru dan pegawai tampil profesional dalam hal: kedisplinan waktu kehadiran, kepulangan, dan kerapian, melaksanakan tugas dan tanggungjawab dengan baik dan profesionalisme guru dalam mengelola kelas serta perubahan perilaku peserta didik

    Studi Eksploratif Pandangan Imam Malik tentang Teori Masalahat dalam Hukum Islam

    Full text link
    This article examines the thoughts of Imam Malik on the masalahat problems in Islamic law. In using al-mashlahat al-mursalah, Imam Malik genuienly provided three limitations or conditions, namely: the existence of a match between the concerns that are considered with maqashid al-shari\u27ah; the mashlahat relates to matters which are ma\u27qulat (rational) which according to syara are based on the maintenance of the mashlahat; and the results of al-mashlahat al-mursalah are returned to the maintenance of the dzharuriy (primary) case according to syara and negate the narrowness in religion. The laws contained in Islamic law are oriented towards maintaining the benefit of the mukallaf and rejecting obedience, in order to realize a harmonious life that brings peace and happiness to humans.Artikel ini mengupas pemikiran Imam Malik teori masalahat dalam hukum Islam. Dalam mempergunakan al-mashlahat al-mursalah, Imam Malik memberikan tiga batasan atau persyaratan, yaitu: adanya kesesuaian antara mashlahat yang diperhatikan dengan maqashid al-syari’ah; mashlahat tersebut berkaitan dengan perkara-perkara yang ma’qulat (rasional) yang menurut syara didasarkan kepada pemeliharaan terhadap mashlahat; dan hasil dari al-mashlahat al-mursalah dikembalikan kepada pemeliharaan terhadap perkara yang dzharuriy (primer) menurut syara dan meniadakan kesempitan dalam agama. Hukum-hukum yang tertuang dalam syariat Islam berorientasi memelihara kemaslahatan para mukallaf dan menolak kemafsadatan, demi terwujudnya kehidupan yang harmonis yang membawa pada kedamaian dan kebahagiaan bagi manusia

    Problematika Pendidikan Islam Melayu Patani Thailand

    Full text link
    The problems of Islamic education in Patani Malay which began in the golden period, gradually decreased, when the Malay kingdom of Patani was taken over by the Thai kingdom. The research results of the study show that: First, Patani Malays who lived in parts of Southern Thailand had experienced a period of triumph so that many gave birth to clerical figures. Second, when Patani was taken over by the Siamese kingdom, the Islamic educational institutions had undergone changes consisting of three types, namely Islamic schools, madrassas, and Islamic boarding schools. Third, changes in Islamic educational institutions increasingly experienced changes when the change of Thai leaders, namely the assimilation of educational culture. Fourth, the government policy towards Patani Malay, which continues to trigger conflict, makes them set policies according to the wishes of the Patani people but the policy is experiencing a dilemma for Patani Malay.Problematika pendidikan Islam di Melayu Patani yang berawal dari masa-masa keemasan, lama kelamaan mengalami masa penurunan, ketika kerajaan Melayu Patani diambil alih oleh kerajaan Thai. Dari hasil penelitian yang dilakukan, maka hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, Melayu Patani yang tinggal di bagian Thailand Selatan pernah mengalami masa kejayaan sehingga banyak melahirkan tokoh-tokoh ulama. Kedua, Pada saat Patani diambil alih oleh kerajaan Siam, maka lembaga pendidikan Islam telah mengalami perubahan yang terdiri dari tiga tipe,  yakni sekolah Islam, madrasah dan pondok pesantren. Ketiga, perubahan lembaga pendidikan Islam semakin mengalami perubahan ketika terjadinya pergantian pemimpin Thailand, yakni terjadinya asimilasi budaya pendidikan. Keempat, Kebijakan pemerintah terhadap Melayu Patani yang terus memicu konflik, membuat mereka menetapkan kebijakan sesuai keinginan masyarakat Patani tetapi kebijakan tersebut mengalami dilema bagi Melayu Patani

    Epistemologi Ibn Taymiyah dan Sistem Ijtihadnya dalam Kitab Majmu al-Fatawa

    Full text link
     This paper examines Ibn Taymiyah\u27s epistemology in the book Majmu \u27al-Fatawa which contains a collection of his fatwas. The results of the discussion can be concluded that Ibn Taymiyah carried out three methods of ijtihad, ijtihad bayani, ijtihad qiyasi and ijtihad Istislahi although not comprehensively from various forms of each method. In general, Ibn Taymiyah\u27s theory in ijtihad offers an inductive thinking method (empirical). Empiric is not only what is done and written by people, but can be in the form of daily life or natural events, but also in the form of verses and hadith. In the present era, a new method of interpreting the Koran, interpretation of mawdu\u27iy by collecting verses about a problem, then comprehensively understood and then concluded. It seems that this method is in line with Ibn Taymiyah\u27s method of placing nas as empiric, not as a theory, while theory is generated from research.Tulisan ini mengkaji tentang epistemologi Ibnu Taymiyah dalam kitab Majmu’ al-Fatawa yang berisi kumpulan fatwa-fatwanya. Hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa Ibnu Taymiyah melakukan tiga metode ijtihad, yakni ijtihad bayani, ijtihad qiyasi dan ijtihad Ijtislahi meskipun tidak secara komprhensif dari berbagai bentuk dari setiap metode. Secara umum, teori Ibnu Taymiyah dalam ijtihad menawarkan metode berpikir induktif (empirik). Empirik bukan hanya apa yang dilakukan dan yang ditulis oleh orang, namun dapat berupa kehidupan sehari-hari atau peristiwa alam, tetapi juga berupa ayat-ayat dan hadis. Dalam era kekinian, sebuah metode baru dalam menafsirkan Alquran, tafsir mawu’iy dengan jalan pengumpulan ayat-ayat tentang suatu masalah, kemudian dipahami secara menyeluruh kemudian diambil kesimpulannya. Tampaknya metode ini sejalan dengan metode Ibnu Taymiyah yang menempatkan nas sebagai empirik, bukan sebagai teori, sedangkan teori dihasilkan dari penelitian

    Konsepsi tentang Tajdīd dalam Menjawab Tantangan Globalisasi Perspektif M. Quraish Shihab

    Full text link
    This article aims to elaborates M. Quraish Shihab\u27s thoughts on the concept of tajdīd in addressing the challenges of globalization. In conducting legal reasoning, M. Quraish Shihab distinguishes between principles and particulars (al-qat’ī min al-zannī), understanding the legal sources contextually and allegorically. M. Quraish Shihab\u27s legal response in fatwas based on the moderation paradigm, ease and far from being fanaticism. It is very frequently happening that the choice and answer to the law and the fatwa of M. Quraish Shihab opposite the mainstream, such as the ability to choose a leader who is not a religious leader congratulates Christians on the Christmas day and does not require a headscarf. For these different opinions, liberal accusations are often pinned to M. Quraish Shihab.Artikel ini ingin menjelaskan pemikiran M. Quraish Shihab konsepsi tentang tajdīd  dalam  menjawab tantangan globalisasi.  Dalam melakukan penalaran hukum, M. Quraish Shihab membedakan antara prinsip dan partikuler (al-qat’ī min al-zannī), memahami sumber hukum secara kontekstual dan alegoris. Jawaban hukum M. Quraish Shihab dalam fatwa-fatwa didasarkan atas paradigma moderasi, kemudahan dan jauh dari sikap fanatisme. Terkadang pilihan dan jawaban hukum dan fatwa M. Quraish Shihab berseberangan dengan arus utama, seperti kebolehan memilih pemimpin yang tidak seagama, mengucapkan selamat natal kepada kaum Kristiani dan tidak mewajibkan jilbab. Atas pendapat yang berbeda ini, tuduhan liberal seringkali disematkan kepada M. Quraish Shihab

    Budaya Organisasi dan Kualitas Studi Layanan di IAIN Sultan Amai Gorontalo

    Full text link
    This article mainly aims to find the right model for improving service quality and user satisfaction of State Islamic of Religious Higher Education Institutions (Pendidikan Tinggi Keaagamaan Islam Negeri - PTKIN) by involving the organizational culture of Service Quality. This study purposefully contributes to the development of the field of education management, especially those related to the causality model of organizational culture. The results showed that there was a positive direct effect on Organizational Culture and Service Quality on User Satisfaction of Islamic Higher Education Institutions IAIN Sultan Amai Gorontalo. The results of this study are in line with the theory put forward by Philip Henslowe which shows that the impression obtained from the level of knowledge and understanding of facts regarding people, products or situations) is largely determined by the culture of people producing goods and services, maintaining service quality and ensuring the fulfillment of user expectations.Artikel ini bertujuan untuk menemukan model yang tepat untuk perbaikan kualitas layanan dan kepuasan pengguna lembaga Pendidikan Tinggi Keaagamaan Islam Negeri (PTKIN) dengan melibatkan variabel-variabel Budaya organisasi Kualitas Layanan. Studi ini diharapkan memberi kontribusi nyata bagi pengembangan bidang ilmu manajemen pendidikan khususnya yang terkait dengan model kausalitas Budaya organisasi Kualitas Layanan terhadap Kepuasan Pengguna Lembaga Pendidikan tinggi agama Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh langsung positif Budaya Organisasi dan Kualitas Layanan terhadap Kepuasan Pengguna Lembaga Pendidikan Tinggi Islam IAIN Sultan amai Gorontalo. Hasil penelitian ini sejalan dengan teori yang telah dikemukakan oleh Philip Henslowe, kesan yang diperoleh dari tingkat pengetahuan dan pengertian terhadap fakta berkenaan dengan orang-orang, produk atau situasi) sangat ditentukan oleh budaya orang-orang memproduk barang dan jasa, menjaga kualitas layanan dan memastikan adanya pemenuhan harapan pengguna

    Kontekstualisasi Cerai Talak dalam Fikih dan Hukum Nasional di Indonesia

    No full text
    This paper aims to respond contextualization of divorce through in fiqh and national law in Indonesia. This study is conducted with a qualitative descriptive using normative theological, sociological, and formal juridical approaches. The study shows that;1) divorce is absolute right of a husband to his wife so that it is legitimate, the belief is actualized that divorce is spoken by husband is a legitimate fiqh perspective, because the law automatically applies who said it; 2) Divorce is done outside the Religious Court there is no legal force, wife cannot claim her rights, Islamic society must obey the legal system in Indonesia although talak is sourced from fiqh can apply automatically, but islamic society cannot ignore in law enforcement from the legal system that applies in Indonesia.Tulisan ini bertujuan untuk merespon kontekstulisasi cerai talak baik dalam fikih maupun hukum nasional di Indonesia. Studi ini dilakukan dengan deskriptif kualitatif dengan pendekatan teologis nofmatif, sosiologis, dan yuridis formal. Hasil studi menunjukkan bahwa cerai talak merupakan hak mutlak seorang suami kepada istrinya sehingga  dianggap sah jika dilakukannya, kenyakinan itu diaktualisasikan bahwa cerai talak yang diucapkan oleh suami adalah sah  perspektif fikih, sebab hukum itu secara otomatis berlaku bagi yang mengucapkannya; Cerai talak yang dilakukan di luar Pengadilan Agama tidak mempunyai kepastian hukum, istri tidak dapat menuntut hak-haknya, masyarakat Islam dapat mentaati sistem hukum yang berlaku di Indonesia meskipun cerai talak bersumber dari fikih dapat berlaku secara otomatis, namun masyarakat Islam tidak dapat mengabaikan penegakan hukum dari sistem hukum yang berlaku di Indonesia

    Relevansi Materi Pendidikan Karakter Sosial dalam Zul Ishba\u27 dengan Nilai-Nilai Islam

    No full text
    This article aims to depict the material of social character education in the will, Zul Ishba \u27al-Adwani and explain its relevance to Islamic values. The research results show that the interpretation of jahiliyah terminology, which is identical with moral decline, is not all true. Each community has a value that is a reference in social interaction. This is reflected in the will of Zul Ishba \u27al-Adwani, a figure of the jahiliyah era, who is loaded with moral values ​​in the context of social interaction. \u27Al-Adwani considers that to acquire appreciation in society, one does not have to act arrogantly, but is obtained by first anesthetizing their hearts with commendable qualities, such as tenderness, humble, generous, and always responding to their interests. Although Zul Ishba\u27 lived during the pre-Islamic era, the material in his determination has relevance to the character values ​​in Islam. The character shows that there is a universal value recognized by all societies without being limited by ideological differences.Artikel ini bertujuan mendeskripsikan materi pendidikan karakter sosial dalam wasiat yaitu Zul Ishba’al-Adwani dan menjelaskan relevansinya dengan nilai-nilai Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa penafsiran terminologi jahiliyah yang identik dekadensi moral, tidak semuanya benar. Setiap masyarakat memiliki nilai yang menjadi rujukan dalam interaksi sosial. Hal ini tercermin dalam wasiat Zul Ishba’ al-Adwani, seorang tokoh zaman jahiliyah, yang sarat dengan nilai-nilai moral dalam konteks interaksi sosial. Zul Ishba’ memandang bahwa untuk mendapat penghargaan di tengah masyarakat, tidak harus bertindak arogan, tetapi diperoleh dengan terlebih dahulu membius hati mereka dengan sifat-sifat terpuji, seperti lemah lembut, tawadhu’, dermawan, dan senantiasa respon terhadap kepentingan mereka. Meskipun Zul Ishba’ hidup pada zaman Jahiliyah, namun materi dalam wasiatnya memiliki relevansi dengan nilai-nilai karakter dalam Islam. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat nilai universal yang diakui oleh semua masyarakat tanpa dibatasi oleh perbedaan ideologi

    Desain Model Pembelajaran Reflective Moral Inquiry pada Pembelajaran PAI

    Full text link
    This article aims to explain the implementation of the model of reflective moral inquiry design in PAI learning. The reflective of the model of moral inquiry model design was developed based on reflective and self-analytical concepts with moral dilemmas approach that occur in daily life as a problem that must be solved by students through learning. This model is expected to make PAI learning more meaningful, students\u27 knowledge about religious teachings can be a source of values ​​and driving behavior for students in real life. But in fact, the implementation of PAI learning is more dominant in initiating the achievement of the knowledge aspect because the teacher\u27s mindset is still using teacher-centered in implementing learning.Artikel ini bertujuan memaparkan implementasi desain model reflective moral inquiry dalam pembelajaran PAI. desain model reflective moral inquiry dikembangkan berdasarkan konsep reflektif dan self-analitis”  dengan pendekatan dilema moral yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari sebagai suatu permasalahan yang harus diselesaikan peserta didik melalui pembelajaran. Model ini diharapkan dapat menjadikan pembelajaran PAI lebih bermakna, pengetahuan peserta didik tentang ajaran agama dapat menjadi sumber nilai dan penggerak perilaku bagi peserta didik dalam kehidupan nyata. Tetapi faktanya penyelenggaraan pembelajaran PAI selama ini masih lebih dominan memprakarsai pada pencapaian aspek pengetahuan saja, mindset guru dalam pelaksanaan pembelajaran juga masih bersifat teacher centered

    342

    full texts

    388

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Ulum
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇