Al-Ulum
Not a member yet
388 research outputs found
Sort by
Dinamika Mombolasuako di Sulawesi Tenggara: Perspektif Hukum Islam :
This article examines the dynamics of the mombolasuako that emerge in Coastal Tolaki society of Southeast Sulawesi in the perspective of Islamic law. This dinamics was triggered by actions that come out of the traditions of Coastal Tolaki community. Where this society has a strict marriage tradition by holds fast to the principle of "married close to a close family" (endogamy). Even the costs incurred are very large. Therefore, this article was used a normative and sociological approach to explain the dynamics and paradigmatics of mombolasuako marriages. This article found that the mombolasuako action arises because it is formed from the paradigmatic side of the Tolaki community which was relatively incompatible with marital customs. In fact, from the perspective of Islamic law, mombolasuako is an action that falls into the category of sadd az-zariah actions, in which are: actions that originally had benefits, but instead led to obstructions.Artikel ini menelaah dinamika mombolasuako yang muncul di masyarakat Tolaki Pesisir Sulawesi Tenggara dalam tinjauan hukum Islam. Dinamika ini pada dasarnya dipicu oleh tindakan yang hendak keluar dari adat tradisi masyarakat Tolaki Pesisir. Di mana masyarakat ini mempunyai tradisi perkawinan yang ketat dengan berpegang teguh pada prinsip “menikah dengan keluarga dekat” (endogami). Bahkan pelaksanaannya memerlukan biaya yang sangat besar pula. Oleh karenanya, artikel ini menggunakan pendekatan normatif dan sosiologi untuk menjelaskan dinamika dan paradigmatik dari perkawinan mombolasuako tersebut. Artikel ini menemukan, tindakan mombolasuako muncul karena terbentuk dari sisi paradigmatik masyarakat Tolaki yang relatif kurang sesuai dengan adat perkawinan. Bahkan, ketika dilihat dari perspektif hukum Islam, mombolasuako merupakan tindakan yang masuk dalam kategori tindakan sadd az-zari’ah, yaitu: tindakan yang awalnya mempunyai kemashlahatan, tetapi justru menuju pada kemafsadatan
Implementasi Pemikiran Afzalur Rahman tentang Produksi Berbasis Konsep Al-‘Adl dalam Meningkatkan Kepuasan Konsumen.
This research aims to determine implementation of Afzalur Rahman’s idea based the al-‘adl concept to improving consumer satisfaction. This research is a qualitative research with a phenomenology approach at CV Sinar Permai in Konawe Southeast Sulawesi. The results showed that production mechanisms in the company’s involve the process of material handling, skidding, and transferring. Implementation of production based ‘adl concept has been applied with the values of fairness in all production activities, start from the provision of raw materials, production processes, including use of manpower in production activities. The implementation of production to improving customer satisfaction is to provide assurance of security, comfort, quality of service, and ensure the production of products received by consumers.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi pemikiran Afzalur Rahman berbasis konsep al-‘adl dalam meningkatkan kepuasan konsumen. Penelitian merupakan penelitian kualitiatif dengan pendekatan fenomenologi pada CV Sinar Permai di Konawe Sulawesi Tenggara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme produksi pada perusahaan tersebut telah meliputi proses material handling, skidding, dan transferring. Implementasi produksi berbasis konsep’adl telah diterapkan dengan nilai-nilai keadilan dalam semua kegiatan produksi, mulai dari penyediaan bahan baku, proses produksi, termasuk penggunaan tenaga kerja dalam kegiatan produksi. Implementasi produksi dalam meningkatkan kepuasan konsumen adalah memberikan jaminan keamanan, kenyamanan, kualitas pelayanan, dan menjamin barang hasil produksi yang diterima konsumen
Harmonisasi Budaya dan Agama: komparasi Tradisi Baduy dan Nahdlatul Ulama
This study discussed the harmonious life of the Baduy people, a group of indigenous group who still maintain and preserve Pikukuh or traditional taboos that guide activities based on Sundanese Wiwitan teachings. Meanwhile, Nahdhatul Ulama is a religious and cultural identity embraced by most Muslims in the archipelago by preserving traditionalism. Baduy and Nahdlatul Ulama, society and group teachings, uphold the harmonious balance between humans and their gods in the context of life that preserves culture and upholds religion. Baduy preserves local traditions that are not only a reference for the behavior of community groups. However, it is also a source of inspiration for each community to live a compact, albeit different, life. Meanwhile, Nahdhatul Ulama\u27s works are influenced by the social environment in which Islam can be accepted and developed. Finally, culture and religion continue to exist in harmony because they are mutually supportive parts.Baduy merupakan sebuah kelompok masyarakat adat yang masih menjaga dan melestarikan pikukuh atau sebuah larangan adat yang menjadi pedoman bagi aktifitas berlandaskan pada ajaran Sunda Wiwitan. Sedangkan Nahdhatul Ulama merupakan sebuah identitas kultural keagamaan yang dianut oleh mayoritas umat Islam di Nusantara yang melestarikan tradisionalisme. Baduy dan Nahdhatul Ulama sebagai kelompok yang menjunjung tinggi nilai-nilai keseimbangan harmonisasi antara manusia dengan Sang Pencipta dalam konteks budaya dan agama. Baduy melestarikan tradisi lokal bukan sekedar menjadi referensi bagi tingkah laku kelompok masyarakat, melainkan juga ia menjadi sumber inspirasi bagi komunitas tertentu agar dapat menata hidup lebih beradab dan bermartabat. Sedangkan Nahdhatul Ulama yang kiprahnya dipengaruhi oleh lingkungan sosial di mana Islam dapat tumbuh dan berkembang. Akhirnya, budaya dan agama pada suatu masyarakat tidak bisa dipisahkan, melainkan keduanya merupakan bagian yang saling mendukun
Bisnis Produk Halal antara Peluang dan Tantangan, Problematika dan Solusinya
This study aims to examine the halal business opportunities, challenges and solutions in Indonesia. This research uses descriptive qualitative method by using documentation data in the form of books, reports from official institutions such as BPS, OJK, BI, Ministry of Trade, Kemenpan and scientific journals. The results of a study of several literatures found that Indonesia actually has a huge opportunity to become the center of the world\u27s halal business. This can be seen from several indicators between the high level of the Muslim population and the high level of consumption. However, the attitude of business actors who tend to be unaware, pursue more profits, lack of government attention, protect business players more than consumers, the low public response to halal products is a major obstacle. The main solution is to accelerate the application of the JPH Law as a legal umbrella, awareness of entrepreneurs and business people, by making halal certification a part of excellent service, and community support.Studi ini bertujuan untuk mengkaji peluang bisnis halal, tantangan dan solusinya di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan data dokumentasi berupa buku, laporan lembaga resmi seperti BPS, OJK, BI, Kemendag, Kemenpan dan jurnal ilmiah. Hasil kajian dari beberapa literatur didapati bahwa Indonesia sebenarnya memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi pusat bisnis halal dunia. Hal ini terlihat dari beberapa indikator diantara tingginya tingkat populasi umat Islam dan tingginya tingkat konsumsi. Namun sikap pelaku usaha yang cenderung tidak aware, lebih mengejar keuntungan, minimnya perhatian pemerintah, lebih dilindunginya pelaku usaha dari pada konsumen, rendahnya respons masyarakat terhadap produk halal merupakan hambatan besar. Solusi utamanya dengan percepatan penerapan UU JPH sebagai payung hukum, kesadaran para pengusaha dan pelaku bisnis, dengan menjadikan sertifikasi halal sebagai bagian pelayanan prima, dan dukungan masyarakat
Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Permainan Tradisional Bugis Mappadendang
This paper focuses on the traditional game of mappadendang and reveals the values of Islamic education and gender equality in the traditional Bugis mappadendang game. Method; Qualitative research with pedagogical and sociological approaches is applied using observation, interviews, and FGD (Forum Group Discussion) with selected players, audiences, government, and community leaders. Empirical data illustrates that the mappadendang game is still preserved today through folk party events and contains Islamic education values. Findings; This study found various values of Islamic education contained in the traditional mappadendang game, namely, patient (sabbara), compact (asseddi seddingeng), cooperation, hard work (reso temmangingi), and creativity (macaradde). This game is also loaded with the value of gender equality seen in women and men\u27s involvement. The preservation of this game is urgent to create a civilized and gender- just Bugis society in various life dimensions.Paper ini fokus pada permainan tradisional mappadendang dan mengungkapkan nilai-nilai pendidikan Islam dan kesetaraan gender dalam permainan tradisional Bugis mappadendang. Metode; penelitian kualitatif dengan pendekatan pedagogis dan sosiologis diterapkan dengan menggunakan observasi, wawancara dan FGD (Forum Group Discussion) terhadap pemain, penonton, pemerintah dan tokoh masyarakat yang dipilih. Data empiris menggambarkan bahwa Permainan mappadendang masih dilestarikan hingga saat ini melalui acara pesta rakyat dan mengandung nilai-nilai Pendidikan Islam. Temuan; penelitian ini menemukan berbagai nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam permainan tradisional mappadendang, yaitu; sabar (sabbara), kompak (asseddi seddingeng), kerjasama (gotong royong), kerja keras (reso temmangingi), dan kreratif (macaradde). Permainan ini juga sarat dengan nilai kesetaraan gender terlihat pada keterlibatan perempuan dan laki-laki. Pelestarian permainan ini menjadi urgen untuk mewujudkan masyarakat Bugis yang beradab dan adil gender dalam berbagai dimensi kehidupan
Ngadi Wunu Wunungo: Akulturasi Islam dan Budaya Gorontalo dalam Tadarus Al-Quran
This paper focuses on the ngadi wunu wunungo tradition as an acculturation of Islam and Gorontalonese culture in the Qur\u27anic tadarus in Bone Bolango district. This study used the qualitative method by employing the approach of living the Quran, sociology, culture, and da\u27wah. The research used interviews, observation, and documentation of the ngadi wunu wunungo tradition. The data sources were the ulama, traditional leaders, community leaders, and participants of ngadi wunu wunungo in Bone Bolango. Findings; Empirical data in the field shows Islam\u27s acculturation and Gorontalo culture in the ngadi wunu wunungo tradition. This is evident from its form, which is a combination of tadarus Al-Qur\u27an interspersed with the praise of Allah SWT, Sholawat Nabi, Gorontalo poetry, which contains advice and is voiced in a tone that screeched high and buzzed. The research empirically shows that the implementation of ngadi wunu wunungo is a da\u27wah that must be carried out in Dutch colonialism by ulama and traditional leaders, making this cultural acculturation.Paper ini fokus pada tradisi Ngadi Wunu Wunungo sebagai akulturasi Islam dan Budaya Gorontalo dalam tadarus Al Qur\u27an di Kabupaten Bone Bolango. Metode yang digunakan: Penelitian kualitatif dengan pendekatan living Qur\u27an, sosiologi dan budaya serta dakwah. Penelitian menggunakan interview, observasi dan dokumentasi terhadap tradisi Ngadi Wunu Wunungo, sumber datanya adalah para ulama, Tokoh adat, tokoh masyarakat, dan peserta Ngadi Wunu Wunungo di Bone Bolango. Temuan ; Data empiris di lapangan menunjukkan akulturasi Islam dan budaya Gorontalo pada tradisi Ngadi Wunu Wunungo, hal ini terbukti dari bentuknya yang merupakan paduan antara tadarus Al Qur\u27an yang diselingi dengan pujian kepada Allah swt, Sholawat Nabi, syair syair Gorontalo yang berisikan nasehat dan disuarakan dengan nada yang melengking tinggi serta mendengung. Bukti ini dikuatkan dengan alasan dilaksanakannya Ngadi Wunu Wunungo adalah dakwah yang harus terus di lakukan ditengah penjajahan Belanda, oleh karenanya para ulama dan tokoh adat membuat akulturasi budaya ini
Tabu dalam Budaya Banjar : (Analisis Antropologi dan Norma Qur\u27an)
This paper focuses on the wisdom of Banjar culture, namely pamali. The objectives of this research are first to understand the pamali culture of Banjar, and secondly to see it from the perspective of the Qur\u27an. The research method used is qualitative research with an anthropological approach. The research locations are in Indonesia, South Kalimantan (Banjarmasin, Martapura, and Amuntai). The findings in this study indicate that the prohibition contained in the Banjar tradition is intended to provide a gentle warning. There are several prohibitions in the Koran regarding culture: do not be disobedient to your parents, teachers, and husbands.Paper ini fokus pada kearifan budaya Banjar yaitu pamali. Tujuan dari penelitian ini adalah: untuk memahami budaya pamali dari Banjar dan melihatnya dalam perspektif Qur\u27ani. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan antropologi. Adapun lokasi penelitian adalah di Indonesia, Kalimantan Selatan (Banjarmasin, Martapura dan Amuntai). Temuan dalam penelitian ini menyatakan bahwa bentuk larangan yang terkandung dalam tradisi Banjar itu dimaksudkan untuk memberikan teguran secara halus. Ada beberapa larangan dalam Al-Quran sejalan dengan budaya, seperti: jangan durhaka dengan orang tua, guru dan suami
Al-Quran Sebagai Trauma Healer Bagi Masyarakat Korban Gempa Bumi dan Likuifkasi di Kota Palu
This article focuses on the elaboration of the Qur\u27anic phenomenon as a trauma healer for victims of the disaster such as earthquake, tsunami, and liquefaction in Palu. The research method used interviews and direct observation with victims. This article aims to elaborate on the Quran\u27s phenomenon as a trauma healer that is very effective in overcoming trauma for victims of natural disasters in Palu. The findings of this article show that when earthquake victims experience fear, sadness, and insomnia, they undergo healing trauma independently through reading (tartil), hearing (tasmi\u27), and recollecting (tadabbur) verses of the Koran. The research shows that people\u27s reception of the Quran is very dynamic. The Quran\u27s miracles are not limited to legal aspects, language, and future information, but it also on an excellent aspect (tartil), which can comfort the heart and increase the spirit of life for people affected by a disaster.Artikel ini fokus pada elaborasi fenomena alquran sebagai trauma healer pada korban gempa di Palu. Metode penelitian dengan wawancara dan pengamatan langsung dengan korban. Artikel ini bertujuan mengelaborasi fenomena Alquran sebagai trauma healer yang sangat efektif mengatasi trauma bagi masyarakat korban gempa di Kota Palu. Temuan artikel ini menunjukkan bahwa di saat korban gempa mengalamai ketakukan, kesedihan dan susah tidur, mereka melalukan trauma healer secara mandiri melalui bacaan (tartil), pendengaran (tasmi\u27) maupun perenungan (tadabbur) ayat Alquran. Hal ini menunjukkan resepsi masyarakat terhadap Alquran sangat dinamis dan kemukjizatan Alquran tidak terbatas pada aspek hukum, bahasa, informasi masa depan, tapi juga pada aspek suara (tartil) yang mampu menghibur hati dan meningkatkan semangat hidup bagi masyarakat yang tertimpa musibah
A Pemetaan Sosio Kultural Mad\u27u dan Pengembangan Dakwah Kota Gorontalo
This paper focuses on the socio-cultural mapping of the Mad\u27u in Gorontalo and the development of its da\u27wah. This study employs qualitative research with sociological, cultural, and da\u27wah approaches that were applied using interviews, observations, and documentation of the sub-district or village government, Da\u27i, religious leaders, and selected communities. Empirical data shows that da\u27wah institutions in Gorontalo City do not have da\u27wah maps. The da\u27wah that is carried out is instant, monotonous, temporary, and not based on the development plan document. Findings; This study found the socio-cultural characteristics of the people of Gorontalo Municipality, consisting of industrial and agricultural communities. The development of this preaching is focused on the ahsan al-\u27amal approach and continuing to defend the ahsan al-qaul. The form of da\u27wah is tablig, tadbir, tatwir, and irshad. The activities are in the form of ta\u27lim, taujih, mau\u27izah, nasihah, irsyad, tadbir, and tatwir.Paper ini fokus pada pemetaan sosio kultural mad\u27u Kota Gorontalo dan pengembangan dakwahnya. Metode; Penelitian kualitatif dengan pendekatan sosiologi, budaya serta dakwah diterapkan menggunakan interview, observasi, serta dokumentasi terhadap pemerintah kecamatan/desa, Da\u27i, tokoh agama dan masyarakat yang dipilih. Data empiris menggambarkan lembaga-lembaga dakwah di Kota Gorontalo tidak memiliki peta dakwah. Dakwah yang dijalankan bersifat instan, monoton, temporer dan tidak didasarkan pada dokumen rencana pengembangannya. Temuan; penelitian ini menemukan karakteristik sosio kultur masyarakat Kota Gorontalo terdiri dari masyarakat industrialis dan agraris. Pengembangan dakwahnya difokuskan pada pendekatan Ahsan al-\u27amal di samping terus mempertahankan Ahsan al-qaul. Bentuk dakwahnya adalah tablig, tadbir, tatwir, dan irsyad. Kegiatannya berupa ta\u27lim, taujih, mau\u27izah, nasihah, irsyad, tadbir, dan tatwir
Menakar Keadilan Sistem Pengupahan Go-Jek: Bukti Empiris dari Yogyakarta.
This study aims to evaluate the wage system fairness of GO-JEK, namely whether the policies and strategies of GO-JEK\u27s profit distribution have corresponded with the economic, religious and cultural standards in the operational area of Yogyakarta, and using the Index of Fairness of Wage System (I-FWS) to measure that. The evaluation results showed that the wage system fairness of GO-JEK in the operational area of Yogyakarta both partially and simultaneously were in the category of “fair”. It means that all drivers got the same opportunity and equal and transparent treatment without any discrimination from PT. GO-JEK Indonesia in the operational area of Yogyakarta in obtaining a profit sharing as the partners of GO-JEK from the partnership business it operates.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat keadilan sistem pengupahan GO-JEK, yakni apakah kebijakan dan strategi pendistribusian pendapatan GO-JEK sudah sesuai dengan standar ekonomi, agama dan budaya di wilayah operasional Yogyakarta. Dalam mengukur tingkat keadilan sistem pengupahan GO-JEK tersebut, digunakan Indeks Keadilan Sistem Pengupahan (I-KSP). Hasil evaluasi menunjukan bahwa sistem pengupahan GO-JEK di wilayah operasional Yogyakarta baik secara parsial maupun secara simultan berada pada kategori adil. Artinya, para driver mendapatkan kesempatan dan perlakuan yang sama dan transparan tanpa diskriminasi dari PT. GO-JEK Indonesia wilayah operasional Yogyakarta dalam mendapatkan bagian keuntungan sebagai mitra (driver) GO-JEK dari bisnis kemitraan yang dijalankannya