Jurnal Biodjati
Not a member yet
256 research outputs found
Sort by
Pengaruh Pupuk Hayati dan Anorganik Terhadap Populasi Azotobacter, Kandungan N, dan Hasil Pakcoy Pada Sistem Nutrient Film Technique
Sistem hidroponik NFT (Nutrient Film Technique) merupakansalah satu sistem penanaman dengan mekanisme pemberian air yang dapatmerendam akar tanaman setinggi 3 mm. Pada sistem hidroponik,kandungan pupuk anorganik yang terdapat pada media merupakan penyedia unsur hara utama bagi tanaman. Penggunaan pupuk hayati diharapkan dapat mengurangi dosis pupuk anorganik yang diaplikasikanpada sistem hidroponik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosisterbaik kombinasi pupuk hayati dan pupuk anorganik dalam meningkatkanpopulasi Azotobacter, kandungan N, dan hasil tanaman pakcoy padahidroponik sistem NFT. Penelitian telah dilaksanakan di LaboratoriumFakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Percobaan ini menggunakanRancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari kombinasi empatperlakuan yaitu pupuk anorganik (100%, 75%, dan 50%) + 100% pupukhayati (150 mL). Penelitian ini menunjukkan bahwa dengan pemberian kombinasi 100% pupuk hayati dan 50% pupukkombinasi 100% pupuk hayati dan 50% pupuk anorganik sebesar 50%,serta terdapat peningkatan populasi Azotobacter, kandungan N, dan hasiltanaman pakcoy (Brassica rapa L.).Sistem hidroponik NFT (Nutrient Film Technique) merupakansalah satu sistem penanaman dengan mekanisme pemberian air yang dapatmerendam akar tanaman setinggi 3 mm. Pada sistem hidroponik,kandungan pupuk anorganik yang terdapat pada media merupakan penyedia unsur hara utama bagi tanaman. Penggunaan pupuk hayati diharapkan dapat mengurangi dosis pupuk anorganik yang diaplikasikanpada sistem hidroponik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosisterbaik kombinasi pupuk hayati dan pupuk anorganik dalam meningkatkanpopulasi Azotobacter, kandungan N, dan hasil tanaman pakcoy padahidroponik sistem NFT. Penelitian telah dilaksanakan di LaboratoriumFakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Percobaan ini menggunakanRancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari kombinasi empatperlakuan yaitu pupuk anorganik (100%, 75%, dan 50%) + 100% pupukhayati (150 mL). Penelitian ini menunjukkan bahwadengan pemberian kombinasi 100% pupuk hayati dan 50% pupukkombinasi 100% pupuk hayati dan 50% pupuk anorganik sebesar 50%,serta terdapat peningkatan populasi Azotobacter, kandungan N, dan hasiltanaman pakcoy (Brassica rapa L.
Growth of Rice (Oryza sativa) Varieties: Mendawak, Inpari 34, Ciherang, and Bangir in Ciganjeng Village, Pangandaran District
Type of rice varieties is one of the important factors that affecting rice production. For countries, rice breeders of Indonesia can take advantage of specific environmental potential in determining the distribution policy of superior varieties. The purpose of this study was to observe the appearance of plant height and the number of tillers of four rice varieties in Ciganjeng Village, namely Mendawak, Inpari 34, Ciherang, and Bangir. The design used completely randomized block design and repeated three times. Observations were carried out eight times in the vegetative phase, started from 14 days to 63 days after planting. This research was participatory and involved farmers. Farmers roled as observers to measure and record observation. All data analyzed by ANOVA with tukey’s HSD test as post hoc test. The results showed that both Inpari 34 and Bangir variety had the highest average plant height growth while Mendawak and Bangir has the highest average number of tillers
Uji Aktivitas Bakteriofage Litik dari Limbah Rumah Tangga Terhadap Salmonella Typhi
Salmonella Typhi merupakan salah satu bakteri yang menjadi agen penyakit bawaan makanan. Bakteriofage sebagai alternatif penggunaan antibiotika telah digunakan untuk mengendalikan bakteri tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan isolat bakteriofage litik yang mampu melisis beberapa bakteri patogen yang diujikan dan mengetahui pengaruh aktivitas bakteriofage litik terhadap pertumbuhan SalmonellaTyphi. Bakteriofage diisolasi dari limbah rumah tangga. Selanjutnya penentuan host range bakteriofage terhadap bakteri patogen lain dilakukan dengan metode spot test. Uji aktivitas bakteriofage terhadap SalmonellaTyphi dilakukan menggunakan metode bacterial challenge test. Berdasarkan hasil isolasi, didapat enam isolat bakteriofage, yaitu B2-St, B3-St, S1-St, S2-St, SL1-St, dan SL3-St. Semua isolat bakteriofage mampu melisiskan sel bakteri Escherichia coli dan Salmonella Typhimurium namun tidak mampu melisiskan Bacillus cereus, Staphylococcus aureus dan Shigella disentriae.Tiga isolat bakteriofagetelah terpilih berdasarkan densitas plaque terbanyak yaitu B2-St, SL3-St dan S2-St. Kemampuan isolat bakteriofage B2-St dalam melisiskan sel Salmonella Typhi lebih tinggi (6,81 ± 0,35 log sel/mL) daripada isolat bakteriofage SL3-St (7,39 ± 0,31 log sel/mL) dan S2-St (7,60 ± 0,27 log sel/mL). Penurunan densitas sel inang terendah oleh ketiga isolat bakteriofage terjadi pada jam ke-4. Bakteriofage B2-St merupakan bakteriofage terbaik dan berpotensi sebagai agen biokontrol Salmonella  Typhi.Â
Keanekaragaman Spesies dan Status Konservasi Ikan Pari di Tempat Pelelangan Ikan Muara Angke Jakarta Utara
Indonesia merupakan salah satu dari banyak negara yang melakukan kegiatan penangkapan ikan pari dalam jumlah yang besar (101.991 ton), Hal tersebut menyebabkan terancamnya kelangsungan hidup dari spesies ikan pari serta terganggunya habitat dan ekosistem yang disebabkan oleh banyaknya perburuan ikan pari di perairan Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman spesies dan status konservasi ikan pari di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Muara Angke Jakarta Utara. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan metode survei. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling di 13 kapal nelayan yang baru berlabuh di TPI Muara Angke. Hasil menunjukkan bahwa ikan pari yang didapatkan sebanyak 713 individu yang tergolong ke dalam 2 ordo 6 famili dan 14 spesies. Keanekaragaman jenis ikan pari pada lokasi penelitian tergolong sedang, dengan nilai H’=1,136. Status konservasi ikan pari yang telah diamati selama penelitian memiliki status konservasi berdasarkan kategori IUCN, yaitu terdapat 9 spesies termasuk dalam kategori vulnerable (VU), 3 spesies termasuk kategori near threatened (NT) dan 2 spesies termasuk dalam kategori data deficient (DD). Himantura uarnacoides merupakan ikan pari yang paling banyak didapatkan pada lokasi penelitian dengan jumlah yaitu 531 individu
Purification and Characterization of Cellulase of Mold Isolated from Vermicomposting Process of Palm Oil Empty Fruit Bunches
In previous investigation of vermicomposting process of palm oil empty fruit bunches, five cellulase-producing microorganisms had been isolated. An isolated VTM1 identified as Aspergillus sp. as a cellulase producing mold, and proven produced extracellular cellulase in solid state fermentation of palm oil empty fruit bunches. The obtaining crude cellulase was purified to homogeneity by ammonium sulfate precipitation, gel filtration on Sephadex G-100 chromatography, and finally purified on ion exchange chromatography on DEAE Cellulofine A-500. The yield and purification fold were 12.89% and 107.50, respectively. The purified cellulase was easily released glucose when 5% CMC applied as substrate, as shown by TLC analysis. The purified cellulase had an optimal pH and temperature at 4.0 and 45°C, and was stable at pH 3-7 and 30-50°C, respectively
Kajian Perbandingan Luas Pekarangan dan Kearifan Lokal Jenis Tanaman Obat di Pesisir Pantai Kabupaten Tanah Laut
Minimnya informasi mengenai lahan pekarangan di pesisir pantai Kabupaten Tanah Laut serta terbatasnya pengetahuan penduduk lokal dalam mengenal berbagai jenis tanaman berkhasiat obat pada pekarangan berdampak terhadap diabaikannya peran tanaman obat di pekarangan dan tingginya biaya pemeliharaan penduduk lokal untuk kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji perbandingan luas pekarangan dan menggali informasi kearifan lokal berbagai jenis tanaman obat dari lima desa di Pesisir Pantai Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan. Metode yang digunakan adalah pengamatan jenis-jenis tanaman obat serta wawancara pengetahuan penduduk lokal dalam memanfaatkan pekarangannya. Hasil penelitian menunjukkan rerata luas pekarangan rumah tertinggi di Desa Takisung (212 m2) dan terendah di Desa Sungai Bakau (49,1 m2). Perbandingan luas ideal (2:3) antara pekarangan dengan rumah ditemukan di Desa Batakan dan Desa Sungai Rasau. Jumlah jenis tanaman obat pada pekarangan berkisar dari 30 -52 jenis dengan Indeks Nilai Penting (INP) terbanyak adalah mangga, pisang talas, singkong, karet dan kelapa. Indeks diversitas tanaman obat pada pekarangan menunjukkan nilai bervariasi, tertinggi di Desa Sungai Rasau (1,390) dan terendah di Desa Sungai Bakau (1,130). Dalam hal ini, potensi terbaik pengembangan tanaman obat pada pekarangan berada di Desa Takisung berdasarkan parameter keanekaragaman jenis tanaman obat dan tipe pekarangan rumahnya
Study of Mud Clam Polymesoda erosa (Bivalvia) Conservation Strategy Based on Landscape Character and Anthropogenic Activity
Information on landscape character and anthropogenic activity is necessary to develop conservation strategy, especially for mud clam (Polymesoda erosa) sustainability harvesting. The purpose of this study is to identify the landscape character and anthropogenic activity that influence mud clam conservation strategy in the coast of Tabanio Village, Takisung Sub-District in Tanah Laut Regency. The research discovered seven types of landscape in the coastal area of Tabanio namely human settlements, rice fields, plantations, cemetery abandoned land, offices, and other public infrastructures. Landscape, landscaping, abandoned land and settlements provide the largest contribution (96 %t) in the formation of coastal characters. Related to changes in landscape structure, environmental pollution activity in the form of waste disposal to the landscape is the most frequent activity (91.4 %) related to changes in landscape structure. Destructing collecting, cutting down and destroying plants and animals in and from the region (87.7%) are the most frequent anthropogenic activities related to the conservation of mud clam in the coast of Tabanio Village. The landscape zonation consists of four i.e : recreation zone, mangrove forest zone, economic zone and distribution zone. The position of each zone tends to clump primarily for the economic zone behind the recreation zone. The core zone of the landscape design at Tabanio Coast , Takisung District is concentrated in the recreation zone which functions as a meeting place for various communities (fishermen, traders and visitors) and the government workers (village officials and TNI-Polri). Furthermore, the recreation zone also facilitates activities that support coastal economy and tourism. Community assistance programs are required to build the capacity of fishermen and farmers as an effort to achieve a successful mud clam conservation and management in Tabanio Village, Takisung District
Pengaruh Kadar Gliserol Terhadap Kualitas Semen Domba Lokal
Pengembangan Domba Lokal melalui program Inseminasi Buatan memerlukan informasi mengenai kualitas semen, khususnya semen beku yang dalam pembuatannya memerlukan gliserol sebagai krioprotektan dengan kadar yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  kualitas semen Domba Lokal dan mengetahui level gliserol yang menghasilkan kualitas semen post-thawing yang paling optimal. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan level gliserol (4%, 5%, 6% dan 7%) dan 14 kali ulangan. Parameter yang diamati meliputi motilitas, abnormalitas dan recovery rate. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (ANAVA) dan perbedaan antar perlakuan diuji menggunakan Uji lanjut Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa level gliserol berpengaruh nyata (p<0.05) terhadap motilitas dan recovery rate namun tidak berpengaruh nyata terhadap abnormalitas sperma. Perlakuan level gliserol 5% nyata (p<0.05) menghasilkan motilitas (40,47%) dan recovery rate (46,53%) tertinggi dibanding perlakuan lainnya. Disimpulkan bahwa semen Domba Lokal memiliki kualitas yang baik dan memenuhi syarat untuk dilakukan pengolahan lebih lanjut sampai semen beku dengan level gliserol 5% menghasilkan kualitas semen post-thawing yang paling optimal
Pengaruh Pupuk Hayati dan Anorganik Terhadap Populasi Bakteri Pelarut Fosfat, Kandungan Fosfat (P) dan Hasil Tomat Hidroponik
Pada sistem hidroponik, pemberian pupuk anorganik dan pupuk hayati dilakukan untuk meningkatkan hasil tanaman karena pupuk anorganik menyediakan unsur hara dan pupuk hayati menghasilkan fitohormon yang meningkatkan pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk hayati yang dikombinasikan dengan pupuk anorganik terhadap populasi bakteri pelarut fosfat, kandungan fosfat (P) dan hasil tanaman tomat. Penelitian ini dilakukan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 7 perlakuan kombinasi pupuk anorganik (konsentrasi 100%, 75%, dan 50%), pupuk hayati (konsentrasi 100%, 75%, 50%, dan 25%) 4 ulangan. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik untuk melihat pengaruh perlakuan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kombinasi pupuk anorganik dan pupuk hayati menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata terhadap populasi bakteri pelarut fosfat, kandungan P, dan hasil tanaman tomat pada sistem hidroponik
Keragaman Jenis Burung Pada Berbagai Komunitas di Pulau Sangiang, Provinsi Banten
Burung merupakan satwa liar yang banyak ditemukan diberbagai tipe habitat. Indonesia sendiri merupakan rumah bagi 17%Â spesies burung yang ada di muka bumi. Keragaman jenis burung pada suatu komunitas juga dapat menjadi indikator lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman jenis burung pada berbagai tipe komunitas yang terdapat di Pulau Sangiang, Banten. Komunitas yang diamati yaitu komunitas hutan dataran rendah, kebun dan hutan mangrove. Metode yang digunakan adalah metode Point Count, dimana pada tiap komunitas ditentukan sebanyak enam titik hitung yang mempunyai jarak sekitar 200 m tiap titik hitungnya. Berdasarkan penelitian ini didapatkan 52 spesies burung dari 31 famili yang tersebar di masing-masing ekosistem. Dari ketiga komunitas, indeks keanekaragaman tertinggi dijumpai pada ekosistem kebun yaitu senilai 2.76, ekosistem mangrove dengan nilai 2,61 dan indeks keanekaragaman paling rendah terdapat pada ekosistem dataran rendah dengan nilai indeks keanekaragaman 2.56. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa persebaran jenis burung pada tiap komunitas merata yang ditunjukkan oleh indeks kemerataan pada masing-masing tipe komunitas yang nilainya mendekati satu