Jurnal Biodjati
Not a member yet
256 research outputs found
Sort by
Etnoekologi dan Pengelolaan Agroekosistem oleh Penduduk Desa Karangwangi Kecamatan Cidaun, Cianjur Selatan Jawa Barat
Abstrak. Sejatinya di masa silam, penduduk pedesaan di Jawa Barat, termasuk penduduk di Desa Karangwangi, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat dominan menggarap sistem ladang (sistem huma). Namun, sejalan dengan kian padatnya penduduk, makin berkurangnya kawasan hutan, dan berkembangnya ekonomi pasar di pedesaan, maka, sistem huma berubah menjadi beberapa tipe sistem agroforestri tradisional, seperti kebon kayu-kayuan (kebon kai), kebon campuran kayu-kayuan dan buah-buahan (talun) dan sistem pekarangan (buruan). Selain itu, dengan adanya program Revolusi Hijau pada sistem sawah dan introduksi albasiah/jengjen (Paraserinthes falcataria (L) I Nielsen) pada sistem tegalan dan agroforestri tradisional, seperti kebon kai. Konsekuensinya, sistem sawah dan sistem huma mengalami perubahan secara drastis. Paper ini mendisuksikan tentang perkembangan beberapa tipe agroekosistem dari sistem huma, dengan berbagai perubahannya. Metoda penelitian menggunakan kualitatif dengan pendekatan etnoekologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil studi telah memberikan berbagai informasi untuk lebih memahami perilaku penduduk pedesaan dalam mengelola berbagai tipe agroekosistem di desanya. Dalam kaitannya dengan pembangunan, seyogianya berbagai pengetahuan ekologi lokal penduduk yang positif dan kearifan ekologi penduduk tidak diabaikan atau bahkan dicoba untuk dimusnahkan, namun dapat diintegrasikan dengan pengetahuan ilmiah barat untuk dapat digunakan untuk pembangunan sistem pertanian di Indonesia yang berkelanjutan. Kata kunci: sistem huma, agroforestri tradisional, agroekosistem, revolusi hijau. Abstract. Originally in the past, village people of West Java, including people of Village of Karangwangi, Sub-district of Cidaun, District of Cianjur and Province of West Java predominated practicing the swidden farming system (sistem huma). However, due to increasing human population density, decreasing the forest area, and rapid development of market economy in the village, the huma system have changed to several types of the traditional agroforestry systems, such as the tree garden system (kebon kai), mixed-garden system of wood and fruits (talun), and home garden (buruan). In addition, because of introduction of the green revolution in the sawah systems and the introduction of albasiah/jengjen (Paraserianthes falcataria (L) I Nielsen) in the traditional agroforestry systems, such as kebon kai. As a result, those agroecosystem types have dramatically changed. This paper discusses the development of the traditional agroforestry systems which is developed from the huma system. Method used in this study qualitative with the ethnoecology approach. The resulted of study show that it has provided rich information which is very useful to more understand the village people behavior in managing various type of agroecosystem in their village. With regard to development process, we suggest various positive local knowledges and ecological wisdoms, rather than ignoring or attempting to replace them, it may be useful to be integrated with the scientific knowledge to use in supporting the sustainable agriculture in Indonesia. Keywords: swidden system, agroforestry traditional, agroecosystem, green revolutio
Aktivitas Antimikroba Ekstrak Rimpang Jeringau (Acorus calamus) Terhadap Pertumbuhan Candida albicans
Abstrak. Infertilitas adalah ketidakmampuan seorang wanita berusia lebih dari 35 tahun untuk hamil setelah mencoba kurang lebih selama 6 bulan, dengan hubungan seksual yang normal dan tanpa menggunakan kontrasepsi. WHO memperkirakan bahwa 8-12% dari pasangan di seluruh dunia memiliki masalah dalam kehamilan. Baru-baru ini, manajemen infertilitas dengan cara operasi, obat-obatan, dibantu teknologi reproduksi (fertilisasi in-vitro / IVF) selain mahal, tidak selalu berhasil. Saat ini, banyak orang menggunakan herbal dalam pengobatan berbagai penyakit. Madura dikenal sebagai salah satu etnis yang memiliki pengetahuan tentang obat tradisional atau "herbal" terutama yang berkaitan dengan keharmonisan perkawinan. Rimpang Jeringau (Acorus Calamus) adalah salah satu bahan baku "Jamu Subur Kandungan" yang mengatasi masalah infertilitas perempuan. Penelitian ini menguji aktivitas antimikroba Jeringau Rimpang (Acorus Calamus) untuk menghambat pertumbuhan Candida albicans. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi dasar untuk standardisasi dan saintification dari "Jamu Subur Kandungan". Uji aktivitas antimikroba dari ekstrak Jeringau Rimpang (Acorus Calamus) menunjukkan penghambatan pertumbuhan Candida albicans dengan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) sebesar 0,5%.Abstrak : Acorus calamus, Antimicrobial activity, Candida albicans Abstract. Infertility is the inability of a woman over 35 years to pregnant after trying for at least 6 months, with normal sexual intercourse and without use birth control. WHO estimates that 8-12% of couples worldwide have problems in pregnancy. Recently, management of infertility with surgery, medicine, assisted reproductive technology (in-vitro fertilization/IVF) in addition to expensive, not always successfully. Currently, many people use herbs in the treatment of various diseases. Madura is known as one of the ethnic that have knowledge of traditional medicine or "herbal" especially related to marital harmony. Rhizome of Jeringau (Acorus Calamus) is one of the raw materials of "Jamu Subur Kandungan" which overcome the problem of female infertility. This study examined the antimicrobial activity of Jeringau Rhizomes (Acorus Calamus) to inhibit the growth of Candida albicans. The results of this study are expected to be the basic for standardization and saintification of "Jamu Subur Kandungan". Antimicrobial activity test of Jeringau Rhizome Extract (Acorus Calamus) showed inhibition of Candida albicans growth with Minimum Inhibitory Concentration (MIC) at 0.5%.Key words : Acorus calamus, Antimicrobial activity, Candida albican
Struktur Vegetasi Hutan Mangrove dan Pemanfaatannya di Kampung Ababiaidi Distrik Supiori Selatan Kabupaten Supiori
Abstrak. Ekosistem hutan mangrove merupakan suatu vegetasi yang tumbuh di lingkungan estuaria pantai yang dapat ditemukan pada garis pantai tropika dan subtropika yang memiliki fungsi secara ekologi, biologi, ekonomi dan  sosial  budaya, namun saat ini keberadaannya telah mengalami degradasi akibat pemanfaatan yang kurang tepat, dan/atau mengalami perubahan fungsi. Penelitian tentang struktur vegetasi hutan mangrove di kampong Ababiaidi Distrik Supiori Selatan Kabupaten Supiori dilakukan pada bulan November 2015 dengan tujuan untuk mengetahui struktur vegetasi hutan mangrove dan pemanfaatannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan ekologi/biologi dan pendekatan antropologi. Dari hasil analisis vegetasi, ditemukan sebanyak 12 jenis tumbuhan mangrove.  Rhizophora apiculata merupakan jenis yang dominan pada tingkat pohon dengan nilai kerapatan 809,34 individu/Ha dengan indeks nilai penting (INP) 51,98 kemudian diikuti Rhizophora stylosa dengan nilai kerapatan 721,67 individu/Ha dengan dengan indeks nilai penting (INP) 44,01. Pada tingkat belta Rhizophora stylosa merupakan jenis yang dominan dengan nilai kerapatan 488,33 individu/Ha dengan dengan indeks nilai penting (INP) 63,26 kemudian Rhizophora apiculata dengan nilai kerapatan 416,67 individu/ Ha dengan dengan indeks nilai penting (INP) 49,32. Pada tingkat semai Rhizophora stylosa merupakan jenis dominan dengan nilai kerapatan 916,67 individu/Ha dengan dengan indeks nilai penting (INP)  33,07 dan Rhizophora apiculata dengan nilai kerapatan 800 individu/Ha dengan dengan indeks nilai penting (INP) 29,47. Berdasarkan hasil wawancara dari 12 jenis tumbuhan mangrove yang ditemukan dalam plot pengamatan 9 jenis dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, 11 sebagai sumber kayu bakar, 3 jenis sebagai obat-obatan dan 4 jenis untuk keperluan lainnya.Kata kunci: Hutan mangrove, kampung AbabiaidiAbstract. Mangrove forest is a vegetation that grows in the estuary beaches can be found on the shoreline tropical and subtropical who has the function of ecological, biological, economic and social culture, but now its existence has been degraded by the use of a less appropriate, and / or changing function. Research on the structure of mangrove forest vegetation in the village Ababiaidi Supiori District of Southern District Supiori conducted in November 2015 with the aim to determine the structure of mangrove forest vegetation and utilization. The method used in this research is the approach of ecological / biological and anthropological approach. From the analysis of vegetation, found as many as 12 species of mangrove plants. Rhizophora apiculata is the dominant species on the level of a tree with a density value of 809.34 individuals / ha with an important value index (IVI) 51.98 followed Rhizophora stylosa with a density value of 721.67 individuals / ha with the important value index (IVI) 44 01. At the level of Rhizophora belta stylosa is the dominant species with a density value of 488.33 individuals / ha with the important value index (IVI) 63.26 then Rhizophora apiculata with a density value of 416.67 individuals / ha with the important value index (IVI) 49 , 32. At the seedling stage Rhizophora stylosa a dominant species with a density value of 916.67 individuals / ha with the important value index (IVI) 33.07 and Rhizophora apiculata had density of 800 individuals / ha with the important value index (IVI) 29.47. Based on interviews of 12 mangrove species found in the observation plot 9 species used as building material, 11 species as a source of firewood, 3 species as drugs and 4 species for other purposes.Keywords: mangrove forests, Ababiaidi villages
Aktivitas Harian Lutung Jawa (Trachypithecus auratus sondacius) di Kawasan Taman Buru Masigit Kareumbi Jawa Barat
Abstrak. Lutung Jawa (Trachypithecus auratus sondaicus) merupakan salah satu bagian dari total keanekaragaman hayati Indonesia yang terdegradasi secara terus menerus disebabkan oleh kehilangan habitat dan perburuan liar. Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi merupakan salah satu kawasan yang banyak dihuni oleh primata, yang salah satunya adalah Lutung Jawa. Primata-primata yang berada di kawasan ini khususnya Lutung Jawa selalu di buru oleh pemburu liar yang diperuntukan untuk dijual belikan bahkan digunakan untuk obat-obatan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab terhadap keberadaan jenis primata ini. Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi terletak di Kabupaten Garut, Sumedang dan Bandung dengan luas 12,420,70 ha. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas harian Lutung Jawa di Kawasan Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi Jawa Barat. Metode yang digunakan dalam pengamatan ini adalah menggunakan metode Adlibitum untuk mencatat setiap perilaku yang dikerjakan atau teramati selama penelitian dan metode scan sampling yaitu pencatatan aktivitas satwa seluruh individu dalam kelompok dengan menggunakan interval waktu, Analisis data pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Hasil penelitian aktivitas harian Lutung Jawa yang berada di Taman Buru Masigit Kareumbi yang memiliki titik koordinat 06°94’36’’LS dan 107°93’95’’BT dan berada pada ketinggian 1,259 mdpl ini menunjukan bahwa aktivitas harian yang sering dilakukan adalah aktivitas lokomosi yaitu dengan persentase keseluruhan sebesar 25,20%, sedangkan untuk aktivitas terendahnya adalah aktivitas urinasi dengan persentase sebesar 1,94%. Kata Kunci : Lutung Jawa (Trachypithecus auratus sondaicus), Gunung Masigit Kareumbi Jawa Barat, metode adlibitum dan scan sampling, aktivitas. Abstract. Java langur (Trachypithecus auratus sondaicus) is one part of the total biodiversity of Indonesia is continuously degraded due to loss of habitat and poaching. Hunting Park Mount Masigit Kareumbi is one area that was inhabited by primates, one of which is a Java monkey. Primates are in the region especially Java monkey is always in hurry by poachers who intended to dijualbelikan even used for medicine by parties who are not responsible for the existence of this primate species. Hunting Park Mount Masigit Kareumbi located in Garut, Sumedang and Bandung with extensive 12.420.70 ha. The study objective was to determine the daily activities in the Java monkey Hunting Park area of Mount Masigit Kareumbi West Java. The method used in this observation is adlibitum method to record any behavior that done or observed during the study and scan sampling methods that record all activity of individual animals within a group by using a time interval, Analysis of the data in this study using descriptive methods. The results Javanese monkey daily activities that are in Hunting Park Masigit Kareumbi which has the coordinates 06°94\u2736 ‘’LS and 107°93\u2795’’BT and an altitude of 1,259 m above sea level shows that daily activity is often done with the locomotion activity overall percentage of 25.20%, while the lowest activity was urinary activity with a percentage of 1.94%.Keywords: Java monkey (Trachypithecus auratus sondaicus), Mount Masigit Kareumbi West Java, adlibitum and scan sampling methods, activities
Releksi Fungsi Lahan terhadap Biodiversitas Tumbuhan di Daerah Aliran Sungai Cilaja, Ujung Berung
Abstrak. Ketergantungan manusia terhadap lahan sangat terlihat nyata dengan adanya perubahan fungsi lahan. Perubahan fungsi lahan juga berdampak terhadap tingkat biodiversitas tumbuhan. Studi ini mempelajari tingkat biodiversitas dan kelimpahan tumbuhan di tiga lokasi yang berbeda yaitu lahan konservasi pinus/perkebunan kopi, lahan persawahan dan lahan pemukiman. Ketiga lahan tersebut berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cilaja yaitu di Desa Giri Mekar dan Desa Sindanglaya Kabupaten Bandung. Dalam penelitian ini dilakukan metode sampling struktur komunitas vegetasi untuk mengetahui komposisi, struktur dan jenis vegetasi serta perbedaan komunitas di tiga titik lokasi tersebut. Untuk analisis kuantitatif digunakan metode kuadran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan pemukiman desa lebih beragam dibandingkan dengan lahan sawah dan lahan perkebunan kopi. Dapat disimpulkan secara umum bahwa keterlibatan dalam mengelola lahan dapat merubah komunitas, tingkat keanekaragaman dan dominansi tumbuhan.Kata kunci : DAS, tingkat biodiversitas, metode sampling struktur komunitas vegetasi Abstract. Human dependence on land is very evident with the change in land use. Changes in land use also have an impact on the level of plant biodiversity. The study followed the level of biodiversity and abundance of plants in three different locations namely conservation land pine / coffee plantations, rice fields and residential land. The third land is located in the Watershed (DAS) Cilaja is in the village of Giri Mekar and Rural Sindanglaya Bandung regency. In this research, community structure vegetation sampling methods to determine the composition, structure and type of vegetation and the three-point difference in the communities that location. For quantitative analysis used kuadran method. The results showed that the rural residential land is more diverse than the wetland and coffee plantation. In general it can be concluded that involvement in land management can change the community, the level of diversity and dominance of plants.Keywords : DAS, level of biodiversity, community structure vegetation sampling method
Studi Anatomi Stomata Daun Mangga (Mangifera indica) Berdasarkan Perbedaan Lingkungan
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stomata daun mangga (Mangifera indica) di daerah dengan kondisi lingkungan yang berbeda. Penelitian bersifat deskriptif analisis. Pengambilan sampel dilakukan melalui survey secara acak di Cagar Alam Pananjung Pangandaran dan salah satu ruas jalan di Kecamatan Pangandaran Kabupaten Pangandaran. Paramater yang diamati adalah kerapatan dan kerusakan stomata. Selain itu diukur juga luas daun, berat partikel debu yang menempel di daun, serta beberapa faktor lingkungan fisik seperti intensitas cahaya, suhu, dan kelembaban udara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan dan kerusakan stomata daun mangga (Mangifera indica) yang tumbuh di pinggir jalan yang banyak dilalui kendaraan bermotor lebih besar dibanding di Cagar Alam.Kata kunci: stomata, Mangifera indica Abstract. The study aims to determine the stomata of the leaves of mango (Mangifera indica) in areas with different environmental conditions. The research is descriptive analysis. Sampling was done through a random survey in Pananjung Pangandaran Nature Reserve and one of the roads in Pangandaran Sub District, Pangandaran District. The observed parameters are the density and stomatal damage. Moreover measured the leaf area, weight of the particles of dust off the leaves, as well as some physical environmental factors such as light intensity, temperature, and humidity. The results showed that the leaf stomatal density and damage to mango (Mangifera indica), which grows in the street that many passed the motor vehicle is greater than in the Nature Reserve.Keywords: stomata, Mangifera indic