Buletin Psikologi
Not a member yet
352 research outputs found
Sort by
MERINTIS PARADIGMA PEMBELAJARAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI
Akhir-akhir ini dunia pendidikan dasar dan menengah diramaikan oleh dua isu utama. Isu pertama ialah Manajemen Berbasis Sekolah. Inti isu ini ialah idealisme agar setiap sekolah mengembangkan sendiri manajemennya dengan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan stakeholders, dan tidak lagi secara penuh bergantung pada birokrasi pemerintah. Melalui model manajemen tersebut, masing-masing sekolah diharapkan mampu membangun akuntabilitas publiknya, hingga setiap unsur yang terlibat dapat pula dilibatkan baik dalam gagasan maupun pembiayaan pendidikan. Isu kedua ialah rencana diberlakukannya Kurikulum Berbasis Kompetensi mulai tahun 2004 nanti. Pada saat ini persiapan pemberlakuan kurikulum tersebut telah sampai pada tahap piloting draft kurikulum di beberapa sekolah di tanah air
PERANAN PSIKOLOGI DALAM PEMBANGUNAN: SEBUAH BIDANG GARAPAN PSIKOLOGI YANG TERLUPAKAN
Sejak psikologi dinyatakan sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan, kiprahnya dalam ikut mensejahterakan kehidupan rakyat makin meluas. Karenanya tidak perlu disangsikan lagi bahwa Psikologi di Indonesia apabila dilibatkan dalam berbagai proses pembangunan dapat berperan serta secara aktif mengatasi persoalan bangsa dan negara. Sayangnya, di masyarakat Indonesia ada stigma peran psikologi yang mengarah bahwa job psikologi hanya itu-itu saja (Koentjoro, 1999), seperti tukang tes, konsultasi, bahkan tukang ramal. Kondisi ini diperparah dengan adanya keputusan bahwa sarjana psikologi yang lulus tahun sekian hingga tahun sekian harus melakukanujian atau pelatihan psikodiagnostika, yang notabene mengarah kepada stigma di atas
RASIONALITAS SEMU DAN ANOMALI DALAM 1 PERILAKU EKONOMI
Homo oeconomicus dalam teori-teori ekonomi neo-klasik adalah makhluk yang rasional (Lea, Tarpy & Webly, 1987), dalam arti bahwa tindakan-tindakan mereka senantiasa dilandasi oleh keinginan untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya (maximising utility). Mereka adalah pribadi-pribadi yang selfish, yang mengedepankan kepentingan diri pribadi di atas segala-galanya, bahkan pada tindakan-tindakan yang di mata orang lain terlihat altruistik. Menurut teori ekonomi neo-klasik, di balik tindakan seperti itu selalu tersembunyi niatan untuk mendapatkan manfaat langsungataupun tidak langsung dari orang yang ditolongnya, atau orang-orang yang melihat tindakannya
Infotainment, Sinetron dan Sinisme Ibu Rumah Tangga “Mengapa Ibu Rumah Tangga Menggemarinya?” (Analisis Berdasarkan Cultivation Theory)
Hiburan 1 yang murah, mudah, dan dekat menjadi pilihan bagi masyarakat.Menonton acara televisi adalah salah satu diantaranya. Cukup dengan membeli televisi masyarakat sudah dapat menikmati program-program acara yang ditawarkan. Stasiun televisi barupun marak bermunculan, mulai dari televisi yang dapat diakses melalui antena UHF/VHF atau melalui dekoder/ TV kabel berlangganan. Berdasarkan survei Nielsen Audience Measurement pada tahun 2012, bahwa 94% masyarakat Indonesia mencari informasi dan hiburan melaluitelevisi (www.tempo.co)
MENGEMBANGKAN PEMIKIRAN KRITIS MAHASISWA
Salah satu tujuan utama pendidikan tinggi adalah mengembangkan pemikiran kritis (critical thinking) mahasiswa. Dalam kenyataannya, pemberian matakuliah oleh kebanyakan dosen kepada para mahasiswa belum mampu mengembangkan pemikiran kritis mereka(Nummedal & Halpern, 1995). Laporan-laporan hasil penelitian yang dikutip oleh Halpern (1996) menggambarkan betapa miskinnya pemikiran kritis mahasiswa dan orang dewasa baikdi Amerika maupun di negara-negara lain. Situasi seperti ini mendorong lahirnya salah satu tujuan khusus pendidikan tinggi, yakni agar proporsi lulusan perguruan tinggi yangmendemonstrasikan suatu kemampuan yang lebih tinggi untuk berfikir secara kritis, berkomunikasi secara efektif, dan memecahkan problem akan meningkat secara substansial(Numedal & Halpern, 1995)
KASUS REGRESI: IKUT-IKUTAN MENGHAKIMI ASUMSI DAN MEMPERTANYAKAN UJI SIGNIFIKANSI?
Tidak semua masyarakat penggemar penelitian kuantitatif, memiliki pengetahuan sempurna mengenai matematika yang mendasari statistika. Banyak peneliti, termasuk penulis sendiri, adalah orang-orang yang tidak canggung menggunakan statistika meski hanya sebagai a true believer, yaitu penganut setia pendapat pakar-pakarstatistika. Walau begitu, kita dapat menggunakan kemampuan reading comprehension dan logika kita, untuk merunut pikiran pakar-pakar tersebut: apakah benar logikanya, dan apakah terbukti pada hasil olahan data observasi atau simulasi
Tantangan dalam Mengungkap Beban Kerja Mental
The concept of mental workload leads to attentional demands experienced during cognitive tasks. The concept is more challenging than the physical workload. The physical workload can be observed, predictable and more easily measured objectively, but it is not the case with mental workload. Workload analysis is useful in providing information about the demands of the task in accordance with the limitations of workers and to optimize its system. Mental workload arising from the interaction between the operator and the task environment. Therefore, individual differences can not be ignored. Some researchers claim that subjective measurement method is quite effective, but other researchers assume that the subjective method is less precise because the workload is not measured when a person is doing his job. Objective methods are not easy to usebecause it requires specialized equipment and must be performed by a trained person
KEHIDUPAN PERKAWINAN BAHAGIA: DAMPAK POSITIF UNTUK KESEIMBANGAN MENTAL ANAK KINI DAN NANTI
Ketidakseimbangan mental seseorang dapat disebabkan oleh tidak tercapainya proses pendewasaan sejak kecil di rumah. Akibatnya muncul gejala kekanak-kanakan, seperti: mudah menangis, mudah marah, iri hati, tergantung kepada orang lain, mudah cemas, keinginannya berubah-ubah, mudah jatuh cinta kepada orang lain, egois, dan bersikap menuntut. Selain itu orang tersebut akan kesulitan untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Gejala yang lain ialah bahwa nilai-nilai moralnya tidak berkembang secara memadai dan fungsi kontrolnya tidak berfungsi dengan baik, sehingga yang bersangkutan biasanya mudah terjerumus ke perbuatan melanggar norma-norma sosial dan hukum
ADA APA DENGAN MENOPAUSE ?
Sebagai konselor yang menaruh minat pada berbagai masalah perkawinan, kondisi psikologis isteri yang akan, sedang ataupun setelah mengalami menopause menempati prosentase yang cukup banyak memberikan kontribusi bagi timbulnya masalah dari keseluruhan masalah yang dihadapi . Rasa cemas, tidak berdaya, sedih, cemburu, marah, dan berbagai perasaan tidak nyaman muncul pada usia itu dan biasanya selalu disertai dengan berbagai keluhan fisik seperti rematik, jantung berdebar, lemas, pusing, bermasalah dengan tekanan darah, gula darah, kolesterol, asam urat dan lain-lain. Mengapa hal ini terjadi, ada apa dengan menopause
INTEGRASI PSIKOLOGI: ANTARA THE KNOWER DAN THE KNOWN
Tulisan ini ingin memberikan suatu pandangan dari perspektif yang berbeda atas pertanyaan Mengintegrasikan Psikologi: Peluang atau Mimpi. Jawaban semula yang telah diberikan tergantung dari apakah ada optimisme dan jika ada maka jawabannya adalah (ada) peluang ‐‐‐ namun jika ada pesimisme maka jawabannya adalah (hanya) mimpi (Hastjarjo, 2008). Jawaban ini tidak memberikan kepastian sebagai suatu jawaban yang diharapkan dalam ilmu. Namun bagi ilmu psikologi, sebagai ilmu yang sejarahnya masih muda namun berkembang dengan pesat pada saat ini, jawaban yang diberikan telah membuka wawasan dan kesadaran kita tentang kompleksitas ilmu psikologi itu sendiri. Hal ini tentunya patut mendapat perhatian dan kepedulian kita sepenuhnya sebagai ilmuwan dan praktisi psiko!ogi di Indonesia. Jawaban yang sifatnya tergantung keadaan itu tentunya tergantung dari persepsi manusianya yang dalam hal ini adalah the knower: bagaimana ilmuwan/ praktisi psikologi secara objektif ilmiah dapat mengamati, meneliti serta menyelidiki sesama manusia. ʹObjekʹ dan subjek di sini bukanlah sesuatu yang diam. Sejarah tentang ilmu‐ilmu manusia menunjukkan adanya keberagaman yang menurut Smith (1997) dapat dipahami secara ganda