Empathy : Jurnal Fakultas Psikologi
Not a member yet
97 research outputs found
Sort by
PELATIHAN KETERAMPILAN PENGASUHAN AUTIS UNTUK MENURUNKAN STRES PENGASUHAN PADA IBU DENGAN ANAK AUTIS
INTISARI - Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihanketerampilan pengasuhan autis untuk menurunkan stres pengasuhan pada ibudengan anak autis. Karakteristik subjek penelitian adalah ibu yang memiliki anakautis, belum pernah mengikuti pelatihan ini, berusia 25 – 45 tahun, dan hasil skorskala parenting stress index-short form (PSI-SF) tinggi dan sedang. Penelitianmenggunakan metode mixed methods dengan tipe sequential explanatory. Ujianalisis kuantitatif dilakukan dengan menggunakan program komputer SPSS forwindows 16.0. analisis kualitatif menggunakan teknik observasi dan wawancara.Penelitian dilakukan dengan menggunakan nonrandomized pretest-postest controlgroup design. Kelompok terdiri dari kelompok perlakuan dan kontrol. Subjekmendapat perlakuan pelatihan keterampilan pengasuhan autis selama dua hari.Variabel dalam penelitian ini adalah pelatihan keterampilan pengasuhan autis danvariabel tergantung adalah stres pengasuhan. Hasil analisis dengan uji MannWhitney menunjukkan hasil yang signifikan dengan nilai Z = -2,337 dengan nilaip = 0,19 (p<0,05). Hasil dari uji Friedman pada kelompok eksperimen diperolehhasil signifikan dengan nilai chi-square sebesar 8,000 dan dan p = 0,018 (p<0,05),dan pada kelompok kontrol diperoleh hasil tidak signifikan dengan nilai chisquaresebesar 5,571 dan p = 0,062 (p>0,05). Kesimpulan menunjukkan tingkatstres pengasuhan pada ibu dengan anak autis mengalami penurunan setelahdiberikan intervensi pelatihan keterampilan pengasuhan autis.Kata kunci: pelatihan keterampilan pengasuhan autis, stres pengasuhan, ibudengan anak auti
PENGARUH TERAPI PSIKOSPIRITUAL UNTUK MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS REMAJA
AbstrakMasa remaja merupakan fase peralihan dari masa kanak-kanak menuju masadewasa, memberikan kesempatan untuk tumbuh tidak hanya dimensi fisik, tetapi juga dalamotonomi, harga diri, perilaku, kompetensi kognitif & sosial, biologis, dan keintiman (Feldman,2009). Adapun batasan usia remaja menurut Back (Santrok, 2003) adalah berusia antara12 tahun sampai 21 tahun, dengan pembagian 12-15 tahun remaja awal, 15-18 tahunremaja tengah dan 18-21 tahun remaja akhir. Feldman (2009) menyebutkan bahwa masaremaja penuh dengan kesempatan untuk pertumbuhan fisik, kognitif, dan psikososial, akantetapi juga berisiko terhadap kesehatan mental seperti konsumsi alkohol, pergaulan bebasdan aktivitas seksual serta perkelahian dengan senjata api, hal ini terjadi karena cerminandari belum matangnya pemikiran remaja
Penerimaan Diri Orangtua pada Anak yang Mengalami Retardasi Mental
Parental Self-Acceptance in Children with Mental Retardatio This study aims to see a picture of self-acceptance parents of mentally retarded children. The subjects in this study were parents with mentally retarded children. This study consisted of three subjects with the sampling technique used as criterion sampling where there were criteria in it, namely the age of children 10-17 years with mentally retarded. The method used in this research is a qualitative method with a phenomenological approach. Collecting data in this study were observations and interviews and This study aims to see a picture of self-acceptance parents of mentally retarded children. The subjects in this study were parents with mentally retarded children. This study consisted of three subjects with the sampling technique used as purposive sampling where there were criteria in it, namely the age of children 10-17 years. The method used in this research is a qualitative method with a phenomenological approach. Collecting data in this study were observations and interviews and the data analysis technique used was thematic analysis. Trust in this study uses triangulation of methods. Method triangulation comes from observational data and subject interviews.. The results showed that the three subjects had attitudes a good self-acceptance of the presence of children can be seen from all aspects, such as no rejection, not being ashamed of the child's condition, accepting and making community participation an important life lesson, and the principle of life to continue raising children until the end of their life. Based on the research results it can be concluded that the third subject accepts himself well. This can be seen from the first subject who often invites his children to the market and around the housing complex, the second subject believes that his child is a provision and responsibility from God to him, and the third subject often invites his child to keep in touch with his family
AFFECTIVE BIBLIOTHERAPHY UNTUK MENINGKATKAN SELF ESTEEM PADA ANAK SLOW LEARNER DI SD INKLUSI
AbstrackSelf-esteem is an important factor affecting the success of a child for a happier life. Have a high self esteem is a difficult thing for a slow learner child in elementary inclusive. This study aims to determine the level of self-esteem slow learner children in elementary inclusion school, and improving their self esteem with affective bibliotherapy techniques.The design of this study using randomized groups pre-test post-test design. This research involves with 9 slow learner children with 4 children as the experimental group and 5 children as a control group. The experimental group was given training bibliotherapy for 10 times.The study have two hypothesis, the first is “Affective bibliotherapy to increase self esteem slow learner children in inclusive elementary schoolâ€, and the second hypothesis is “There is an increase in self esteem between experimental group with the control group after the intervention with the experimental group was affective bibliotherapy.Research results show that affective bibliotherapy is effective for improving slow learner children's self esteem in primary inclusions with z value = -1,841 with 0.033 significansi level (p <0.05). It is also found that the affective bibliotherapy more effective in improving three aspects of self-esteem is significant, virtue, and competence, but the aspects of power increase is not to high.Key word: self esteem, slow learner, affective bibliotherapy
Iklim Psikologis sebagai Prediktor Kesejahteraan Psikologis pada Karyawan Industri Farmasi di Jabodetabek
Psychological Climate as a Predictor of Psychological Well-Being for Pharmaceutical Industry Employees in JabodetabekThis study aims to analyze the relationship between psychological climate and psychological well-being of pharmaceutical industry employees in the Greater Jakarta area. Psychological well-being is defined as a state where employees of the pharmaceutical industry do not experience anxiety, anxiety, depression, and various other psychological disorders. This research was conducted using a quantitative correlational study with 176 respondents, using the Psychological Well-Being Scale (PSWBS) to measure psychological well-being and the Psychological Climate Scale (PCS) to measure psychological climate. Data analysis was performed using simple regression analysis to test the hypothesis. The results of the study found that there was a positive relationship between psychological climate and psychological well-being of pharmaceutical industry employees. With the influence of a psychological climate of 4.00% on psychological well-being, younger employees tend to have higher psychological well-being than older employees
DUKUNGAN SOSIAL DAN DAMPAK YANG DIRASAKAN OLEH IBU MENYUSUI DARI SUAMI
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bentuk dukungan sosial dan dampak yang dirasakan oleh ibu menyusui dari suami.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Jumlah responden dalam penelitian ini adalah dua orang, menggunakan teknik criterion sampling dengan kriteria ibu yang sedang menyusui dan memiliki anak yang berusia 0 sampai 6 bulan. Data yang diperoleh menggunakan metode wawancara semi terstruktur. Pendekatan analisis yang digunakan adalah analisis isi (content analysis) yang bersifat pembahasan mendalam terhadap isi suatu informasi tertulis. Pencapaian kredibilitas penelitian dilakukan dengan teknik triangulasi sumber melalui wawancara dengan significant person. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kedua responden yang sedang menyusui sama-sama mendapatkan dukungan sosial suami saat menyusui anaknya. Dukungan tersebut berupa dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental dan dukungan informasi. Dukungan emosional yang diterima oleh kedua responden yaitu mendapatkan perhatian dan motivasi dari suami. Dukungan penghargaan,yaitu suami merasa bangga karena istri dapat memberikan ASI kepada anaknya. Selanjutnya dukungan instrumental yaitu mengasuh anak pertamanya saat anak keduanya sedang menyusu, memijit pundak, membantu dalam pekerjaan rumah seperti mencuci pakaian.Serta dukungan informasi yaitu memberikan infromasi perkembangan anak. Informasi-informasi mengenai ASI, responden memanfaatkan dengan browsing internet. Dukungan sosial yang diberikan suami, berdampak positif pada kedua responden. Dampak positif yang dirasakan oleh kedua responden tersebut yaitu ASI semakin lancar, tambah bersemangat dalam memberikan ASI kepada anaknya, merasakan kenyamanan dan beban yang dihadapi berkurang.Kata Kunci : dukungan sosial, ibu menyusu
REGULASI EMOSI PADA PENDERITA HIV/AIDS
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui regulasi emosi penderita HIV/AIDS dan faktor-faktor yang mempengaruhi regulasi emosi pada penderita HIV/AIDS. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi kepada subjek penderita HIV/AIDS. Subjek penelitian terdiri dari dua orang penderita HIV/AIDS dengan dua orang significant person. Hasil penelitian menunjukkan regulasi emosi dilakukan oleh kedua subjek untuk mengatur respon emosi dari permasalahan yang muncul setelah kedua subjek terinfeksi HIV/AIDS. Subjek pertama yang merupakan seorang wanita yang telah menikah, menggunakan strategi regulasi emosi antecendent-focussed strategy (cognitive reapraissal). Melalui proses regulasi emosi yang terdiri dari situation selection, situation modification, attention deployment, cognitive change, dan modulation respon. Faktor yang mempengaruhi penggunaan regulasi emosi subjek pertama yakni harapan akan masa depan anak, keterbukaan (self disclosure) dan dukungan sosial (sosial support). Subjek kedua yang merupakan pria yang belum menikah, meregulasi emosi dengan menggunakan strategi regulasi emosi respon focused strategy (expression suppression) melalui proses regulasi emosi situation selection. Penggunaan strategi regulasi emosi ini dipengaruhi faktor ketidakmampuan membuka diri dan dukungan sosial (sosial support). Kesimpulan dari penelitian ini adalah kedua subjek meregulasi emosi dengan pemilihan strategi regulasi emosi yang berbeda. Faktor yang paling mempengaruhi penggunaan regulasi emosi penderita HIV/AIDS adalah dukungan sosial (sosial Support).Kata Kunci : Pengidap HIV/AIDS, regulasi emos
PENGARUH PELATIHAN TEAM BUILDING UNTUK MENINGKATKAN KOHESIVITAS TIM KERJA DI INNA GARUDA YOGYAKARTA
IntisariPelatihan team building adalah salah satu intervensi pelatihan untuk meningkatkan kohesivitas tim kerja yang ditandai timbulnya sikap saling percaya, mampu menemukan solusi masalah-masalah yang dihadapi dan komunikasi intensif mengenai peranan masing-masing anggota tim guna melaksanakan suatu pekerjaan yang berhubungan dengan tugas dan tantangan bekerjasama untuk membangun sebuah tim kerja dalam bentuk permainan eksperimental secara indoor maupun outdoor. Penelitian menggunakan metode kuasi eksperimen dan teknik pengumpulan datanya dengan skala kohesivitas tim kerja yang kemudian dianalis dengan program SPSS for windows 13.0 dengan menggunakan uji-t untuk mengetahui efektivitas dari pelatihan. Pengumpulan data juga dengan dokumentasi, wawancara yang mendalam dan observasi untuk mengumpulkan data dari empat belas orang subjek penelitian yang kemudian dianalisis menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan sumbangan efektif pelatihan team building dalam meningkatkan kohesivitas tim kerja marketing aspek task sebesar 16,5 % dan aspek social sebesar 56,2%; sedangkan sumbangan efektif pelatihan team building dalam meningkatkan kohesivitas tim kerja HRD aspek task sebesar 16,5% dan aspek social sebesar 17,1%. Pelatihan team building mampu meningkatkan kohesivitas tim kerja karyawan di Inna Garuda Yogyakarta departemen marketing dan HRD yang dilihat dari hasil analisis kelompok rata-rata skor kohesivitas pada tim marketing aspek task maupun aspek social diketahui bahwa terdapat perbedaan yang signifikan (p<0,05), pada aspek task amatan pretest-posttest p=0.038, amatan posttest-follow up p=0.023, amatan gain 1-gain 2 p=0.025 dan aspek social amatan pretest-posttest p=0.011, amatan posttest-followup p=0.015, amatan gain 1-gain 2 p=0.018; begitu pula pada pada tim HRD aspek task maupun social diketahui bahwa terdapat perbedaan yang signifikan (p<0,05), pada aspek task amatan pretest-posttest p=0.025, amatan posttest-follow up p=0.023, amatan gain 1-gain 2 p=0.024; aspek social amatan pretest-posttest p=0.017, amatan posttest-follow up p=0.018, amatan gain 1-gain 2 p=0.011. Dari hasil analisis tersebut diperoleh kesimpulan bahwa ada pengaruh pelatihan team building dengan kohesivitas tim kerja baik pada aspek tugas (task) dan sosial (social) pada tim marketing dan manpower (HRD) dimana tim marketing dan manpower (HRD) termasuk sebagai kelompok boundary role person (BRP). Kata Kunci : pelatihan team building, kohesivitas tim kerj
PELATIHAN REGULASI EMOSI UNTUK MENURUNKAN STRES PADA DIFABEL BUKAN BAWAAN
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan regulasi emosi untuk menurunkan stres pada difabel bukan bawaan. Hipotesis yang diajukan adalah pelatihan regulasi emosi menurunkan stres pada difabel bukan bawaan. Subjek penelitian ini adalah difabel bukan bawaan sebanyak tiga orang yaitu satu orang perempuan dan dua orang laki-laki. Rancangan penelitian ini adalah single case experimental design dengan desain A-B-A with Follow Up. Metode penelitian menggunakan metode campuran (mixed methode) sehingga analisis datanya dari hasil kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan kategori stres pada semua subjek setelah diberikan pelatihan regulasi emosi. Hasil penelitian tersebut didukung oleh hasil wawancara dan observasi yang menunjukkan subjek dapat mengelola emosi dengan baik dan mengekspresikannya dengan tepat. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pelatihan regulasi emosi dapat menurunkan stres pada difabel bukan bawaaan. Dengan demikian, hipotesis penelitian ini diterima.Kata kunci: pelatihan regulasi emosi, stres, difabel bukan bawaan
EFEKTIFITAS PELATIHAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL PADA PRAMUNIAGA KEPALA KONTER DI SWALAYAN
AbstrakKepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan yangmenitik beratkan akan hubungan antara atasan dan bawahan, yaitu gayakepemimpinan yang memiliki kekuatan mempengaruhi hubunganpemimpin dengan pengikut atau bawahan dengan cara-cara tertentu(Bass, 1985). Dibandingkan dengan kepemimpinan transaksioanl,kepemimpinan transformasional lebih efektif diterapkan di banyak bidangseperti bisnis, militer, industri, rumah sakit, dan lingkungan pendidikan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas pelatihankepemimpinan transformasional dengan peningkatan kemampuankepemimpinan transformasional pada pramuniaga kepala konter diswalayan pamella. Subyek penelitian berjumlah 15 orang dari 6 cabangswalayan pamella di Yogyakarta. Penelitian ini adalah penelitianeksperimen dengan rancangan one group pretest-posttest design. Hasilanalisis data diuji dengan menggunakan wilcoxon signed ranks test .menunjukkan ada perbedaan antara sebelum diberi pelatihan dan setelahdiberikan pelatihan, yaitu asymp sig = 0,003 dan symp sig < nilai p (0,05).Sehingga menunjukkan bahwa pelatihan kepemimpinan transformasionaldapat meningkatkan kepemimpinan transformasional, hal ini dikarenakanhasil analisis data yang menunjukkan sangat signifikan.Kata kunci: pelatihan kepemimpinan transformasiona