PHARMACON
Not a member yet
1026 research outputs found
Sort by
UJI POTENSI ANTIKANKER LEUKEMIA EKSTRAK METANOL DAUN Selaginella delicatula DAN Pteris vittata
UJI POTENSI ANTIKANKER LEUKEMIA EKSTRAK METANOL DAUN Selaginella delicatula DAN Pteris vittata Meivani Ngama1), Dingse Pandiangan1), Marhaenus j. Rumondor1) 1)Jurusan Biologi, FMIPA, UNSRAT, Manado ABSTRACT Reasearch test potential anti-cancer methanol extract of the leaves Selaginella delicatula and Pteris vittata have been done. This research aims for determine the amount of 50% inhibition growth of P388 leukemia cancer cell from methanol extract of the leaves S. delicatula and P. vittata and to know the potential of this plants as the anti-cancer. Extract method that the use is meceration with methanol solvent to get the crude extract. The crude extract  tested the potential anticancer with the MTT (microculture tetrazolium technique) methods on P388 leucemia cancer cell. The growth of cells measured by absorbance of the cange of colour MTT with respiratory enzyme of cells at a wavelengt 540 nm at a concentration of 0,1 µg/mL to 100 µg/mL sample extract. IC50 is determined by the aquation between the absorbance value of the extract concentration. Data processing using the originlab program 9.0 32-bit (Originlab Corporation USA). The result showed the methanol extract from the leaves S. delicatula has a value of inhibition is 16,76 µg/mL and methanol extract of the leaves P. vittata is 82,81 µg/mL.  Provision stating the greater the value of IC50 the compounds are less potential as anticancer. With the results of this research, the S. delicatula potential to be developed as an anticancer leukemia than P. vittata. Keyword: Selaginella delicatula, Pteris vittata, Leukemia P388, MTT assay, Citotoxic ABSTRAK Penelitian uji potensi antikanker ekstrak metanol daun Selaginella delicatula dan Pteris vittata telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan berapa besar penghambatan pertumbuhan sel kanker leukemia P388 dari ekstrak metanol daun S. delicatula dan P. vittata untuk mengetahui adanya potensi dari tumbuhan ini sebagai antikanker. Metode ekstraksi yang digunakan adalah  maserasi dengan pelarut metanol untuk mendapatkan ekstrak kasar. Kemudian ektrak kasar diuji antikankernya dengan metode MTT (microculture tetrazolium technique) pada sel kanker leukemia P388. Pertumbuhan sel ditentukan melalui absorbansi perubahan warna MTT dengan enzim respirasi sel pada panjang gelombang 540 nm pada konsentrasi ektrak dari 0,1 µg/mL sampai 100 µg/mL. IC50 ditentukan dengan persamaan logaritma antara nilai absorbansi dengan konsentrasi ekstrak. Pengolahan data menggunakan program Originlab 9.0 32-bit (Originlab Corporation USA). Hasil penelitian menunjukan ekstrak metanol daun S. delicatula memiliki nilai penghambatan pertumbuhan 50 % (IC50) sebesar 16,76 µg/mL dan ekstrak metanol daun Pterris vittata sebesar 82,81 µg/mL.  Ketentuan yang menyatakan semakin besar nilai IC50 maka senyawa tersebut semakin tidak berpotensi sebagai antikanker. Dengan hasil uji ini maka S. delicatula berpotensi untuk dikembangkan sebagai antikanker leukemia dari pada P. vittata. Kata Kunci: Selaginella delicatula, Pteris vittata, Leukemia P388, MTT assay,Sitotoksik Â
HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA SISWI SMP NEGERI 10 MANADO.
HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA SISWI SMP NEGERI 10 MANADO. Lisma La Pou1), Nova. H. Kapantow1), Maureen I. Punuh1) 1)Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi  ABSTRACT Anemia is a common nutritional problem in adolescents, nutritional problems in adolescent caused by incorrect nutrition behavior, namely the imbalance between nutritional intake with the recommended nutrition adequacy. According to WHO (2008), the prevalence of anemia in the world by 2005 as much as 24.8% of the total world population, the prevalence of anemia in adolescent girls in Southeast Asia about 25-40% suffer from mild to severe anemia. According to Riskesdas 2013 the prevalence of anemia in adolescents is 21.7%. The problem of anemia in adolescent girls will result in motor development, mental and intelligence inhibited, reduced learning achievement and fitness level, unreachable the height maximum, negative contributed during pregnancy later, which led to the birth of babies with low birth weight (LBW), pain and mortality of mother and child. The research was conducted to female students in grade VIII and IX SMP Negeri Manado with 10 cross-sectional study design. Samples and this research amounts 186 students were chosen proportionally in every classroom and taken by systematic random sampling. Hemoglobin levels were measured by tool of the brand EasyTouch GCHb, height measurement using microtoise and weight measurement using digital scales underfoot. Bivariate analysis using Spearman correlation test. The spearman analysis statistic showd the correlation between nutritional status with genesis anemia (p=0,436).There was no correlation between nutritional status and the occurrence of anemia in adolescent girls SMP Negeri 10 Manado Keywords: anemia, nutritional status, adolescent  ABSTRAK Anemia merupakan masalah gizi yang sering terjadi pada remaja, masalah gizi pada remaja dikarenakan perilaku gizi yang salah, yaitu ketidakseimbangan antara konsumsi gizi dengan kecukupan gizi yang dianjurkan. Menurut WHO (2008), prevalensi anemia di dunia dengan tahun 2005 sebanyak 24,8% dari total penduduk dunia, prevalensi anemia pada remaja putri di Asia Tenggara sekitar 25-40% menderita anemia tingkat ringan sampai berat. Menurut Riskesdas 2013 prevalensi anemia pada remaja yaitu sebesar 21,7%. Masalah anemia pada remaja putri akan mengakibatkan perkembangan motorik, mental dan kecerdasan terhambat, menurunnya prestasi belajar dan tingkat kebugaran, tidak tercapainya tinggi badan maksimal, kontribusi yang negatif pada masa kehamilan kelak, yang menyebabkan kelahiran bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), kesakitan dan kematian pada ibu dan anak. penelitian ini dilakukan pada siswi kelas VIII dan IX SMP Negeri 10 Manado dengan desain penelitian cross-sectional. Sampel dan penelitian ini sebanyak 186 siswi yang dipilih secara proporsional disetiap kelas dan diambil secara systematic random sampling. Kadar hemoglobin diukur dengan alat merk EasyTouch GCHb, pengukuran tinggi badan menggunakan microtoise dan pengukuran berat badan menggunakan timbangan injak digital. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi spearman. berdasarkan hasil analisis statistik dengan menggunakan uji korelasi spearman rank status gizi dengan anemia (p = 0,436). tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan kejadian anemia pada remaja putri SMP Negeri 10 Manado.  Kata Kunci: anemia, status gizi, remaj
HUBUNGAN ANTARA MUTU PELAYANAN PERAWAT DAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN KEPUASAN PASIEN PESERTA BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL (BPJS) KESEHATAN DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT ISLAM (RSI) SITTI MARYAM KOTA MANADO
HUBUNGAN ANTARA MUTU PELAYANAN PERAWAT DAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN KEPUASAN PASIEN PESERTA BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL (BPJS) KESEHATAN DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT ISLAM (RSI) SITTI MARYAM KOTA MANADO Azlika M. Alamri1), Adisti A. Rumayar1), Febi K. Kolibu1) 1)Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi ABSTRACT Public as health services users expect the optimal health care organized by the hospital about the performance of health workers in order to fulfill the needs of patients which is measured by patient satisfaction. The increasing of public education demand for quality health services, especially nurses service which can be seen from the erviqual dimension (responsiveness, reliability, assurance, empathy, physical evidence). Nurse service has many parts that interact with patients directly, so the quality of services performed by nurses is an indicator of good or poor quality of care in hospitals. This study aims to determine the correlation between nurses service quality and education level with BPJS patients in the inpatient unit RSI Sitti Maryam Manado. This study is an analytic survey with cross sectional study design. There are 89 samples in total based on inclusion criteria. The collection of data obtained through questionnaires. The statistical tests used to analyze the relationship between variables is chi square test, with α = 0.05 and C1 = 95%. The result of bivariate analyzation show there is a corrrelation between the quality of nursing care with patient satisfaction because p value = 0,000 <α (0.05). The bivariate test result also shows the value of OR 7733 and then to the variable level of education that there is no correlation between level of education and patient satisfaction because p value = 0.750> α (0,05) Through this study, researcher gives suggestions to the hospital in order to draw up a program of patient satisfaction surveys on a regular basis. Keywords: Quality of Care Nurse, Level of Education, Health BPJS Participants Patient Satisfaction ABSTRAK Masyarakat sebagai pengguna jasa layanan kesehatan mengharapkan pelayanan kesehatan yang optimal yang diselenggarakan oleh rumah sakit tentang kinerja tenaga-tenaga kesehatan dalam memenuhi kebutuhan pasien yang diukur dari kepuasan pasien. Meningkatnya pendidikan masyarakat menuntut adanya mutu pelayanan kesehatan terutama pelayanan perawat yang dapat dilihat dari dimensi serviqual (ketanggapan, kehandalan, jaminan, empati, bukti fisik). Pelayanan perawat mempunyai bagian yang banyak berinteraksi dengan pasien secara langsung sehingga mutu pelayanan yang dilaksanakan oleh perawat merupakan indikator baik atau buruknya mutu pelayanan di rumah sakit. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara mutu pelayanan perawat dan tingkat pendidikan dengan kepuasan pasien pesertat Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS Kesehatan) di ruang rawat inap RSI Sitti Maryam Kota Manado.Penelitian ini menggunakan survey analitik dengan rancangan cross sectional study. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 89 sampel berdasarkan kriteria inklusi. Pengumpulan data diperoleh melalui kuesioner. Uji statistik yang digunakan untuk menganalisis hubungan antar variabel menggunakan uji chi square, dengan α = 0,05 dan C1= 95%. Hasil analisis bivariate menunjukkan terdapat hubungan antara mutu pelayanan perawat dengan kepuasan pasien karena nilai p value = 0,000 < α (0,05). Hasil uji bivariat juga menunjukan nilai OR 7.733 dan kemudian untuk variabel tingkat pendidikan yaitu tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan kepuasan pasien karena nilai p value = 0,750 > α (0,05). Melalui penelitian ini peneliti memberikan saran bagi pihak rumah sakit agar dapat menyusun program survey kepuasan pasien secara berkala. Kata kunci: Mutu Pelayanan Perawat, Tingkat Pendidikan, Kepuasan Pasien Peserta BPJS Kesehatan Â
Uji efek antibakteri ekstrak daun leilem (Clerodendrum minahassae l.) terhadap bakteri streptococcus mutans
Uji efek antibakteri ekstrak daun leilem (Clerodendrum minahassae l.) terhadap bakteri streptococcus mutans Susriyani Bontjura1), Olivia Amelia Waworuntu2), Krista Veronica Siagian1) 1)Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran UNSRAT 2)Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi  ABSTRACT     Dental caries is one of the most prevalent oral health problems in Indonesia. The main bacterial cause of dental caries is Streptococcus mutans. Leilem leaves (Clerodendrum minahassae L.)  used as vegetables and often used as traditional medicine in Minahasa. Leilem leaves (Clerodendrum minahassae L.) consisted of active compounds that function as an antibacterial. They are flavonoids, phenols, steroids and terpenoids. The aim of this study to determine the antibacterial effects of Leilem leaves extract (Clerodendrum minahassae L.) against Streptococcus mutans bacteria.This experimental study used post test only control group design with Kirby-bauer modification method used paper disk. The Leilem leaves (Clerodendrum minahassae L.)  were taken from Manado City and then they were extracted with maceration method using ethanol 96% solution. Streptococcus mutans bacteria taken from a pure stock Microbiology Laboratories, Faculty of Medical Sam Ratulangi University Manado. The result showed the average diameter of inhibition zone of leilem leaves extract against Streptococcus mutans bacteria was 6,20mm and smaller than the averge diameter of inhibition zone of antibiotic erythromycin. The conclusion are leilem leaves extract has an antibacterial effect against Streptococcus mutans bacteria.  Key word: leilem leaves (Clerodendrum minahassae L.), Streptococcus mutans  ABSTRAK Karies gigi merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling menonjol di Indonesia. Bakteri utama penyebab karies gigi adalah bakteri Streptococcus mutans. Daun leilem (Clerodendrum minahassae L.) digunakan sebagai tanaman sayuran dan sering digunakan dalam pengobatan tradisional di daerah Minahasa. Daun leilem (Clerodendrum minahassae L.) mengandung senyawa aktif yang berfungsi sebagai antibakteri yaitu, flavonoid, fenol, steroid dan terpenoid. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efek antibakteri ekstrak daun leilem (Clerodendrum minahassae L.) terhadap bakteri Streptococcus mutans. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan desain post test only control group design dengan menggunakan metode modifikasi Kirby-bauer menggunakan kertas saring. Daun leilem (Clerodendrum minahassae L.) diambil dari Kota Manado dan diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Bakteri Streptococcus mutans diambil dari stok bakteri murni Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa rata-rata diameter zona hambat ekstrak daun leilem terhadap bakteri Streptococcus mutans sebesar 6,20mm dan lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata diameter zona hambat antibiotik eritromisin. Kesimpulannya ekstrak daun leilem (Clerodendrum minahassae L.) memiliki efek antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mutans.  Kata kunci: daun leilem (Clerodendrum minahassae L.), Streptococcus mutans Â
GAMBARAN LESI YANG DIDUGA LEUKOPLAKIA AKIBAT KEBIASAAN MEROKOK PADA SOPIR
GAMBARAN LESI YANG DIDUGA LEUKOPLAKIA AKIBAT KEBIASAAN MEROKOK PADA SOPIR Richard E. Wijaya1), Damajanty H.C Pangemanan2), Christy Mintjelungan1) 1) Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran, UNSRAT 2)Bagian Fisiologi Fakultas Kedokteran, UNSRAT ABSTRACT Smoking is a habit that is bad for health. Smoking can cause changes in the soft tissues of the oral cavity such as leukoplakia. This custom comes from a variety of social class, status, as well as different age groups, one of which is the driver. The aim of this study was to describe the alleged leukoplakia lesions due to smoking habits on the driver. This research method is descriptive cross-sectional study. The sample in the study were smokers among the driver, the sampling technique is total sampling with a total sample of 35 people.The results showed all respondents look for suspected lesions of leukoplakia. Incident allegedly leukoplakia lesions most often found in subjects with smoking duration > 20 years as many as 22 people (62.8%). Incident allegedly leukoplakia lesions most often found in subjects who smoked 10-20 stems per day as many as 19 people (54.2%). Keywords: Smoking, Leukoplakia  ABSTRAK Kebiasaan merokok merupakan suatu kebiasaan yang berdampak buruk bagi kesehatan. Merokok dapat menyebabkan perubahan jaringan lunak dalam rongga mulut seperti leukoplakia. Kebiasaan ini berasal dari berbagai kelas sosial, status, serta kelompok umur berbeda, salah satunya ialah sopir. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui gambaran timbulnya lesi yang diduga leukoplakia akibat kebiasaan merokok pada sopir. Metode penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan Cross-sectional study. Sampel dalam penetian ini adalah perokok dikalangan sopir, teknik pengambilan sampel secara Total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 35 orang. Hasil penelitian menunjukkan pada seluruh responden terlihat adanya lesi yang diduga leukoplakia. Kejadian lesi yang diduga leukoplakia paling banyak dijumpai pada subjek dengan lama merokok >20 tahun sebanyak 22 orang (62,8%). Kejadian lesi yang diduga leukoplakia paling banyak dijumpai pada subjek yang merokok 10-20 batang perhari sebanyak 19 orang (54,2%). Kata kunci: Kebiasaan merokok, Leukoplakia   Â
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK KARANG LUNAK Xenia sp. YANG DIPEROLEH DARI TELUK MANADO
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK KARANG LUNAK Xenia sp. YANG DIPEROLEH DARI TELUK MANADO Maria Novilia Ningsie Kantor1), Defny Silvia Wewengkang1), Adeanne Caroline Wullur2) 1)Program Studi Farmasi FMIPA UNSRAT Manado, 95115 2)POLTEKKES Manado, 95115   ABSTRAK  Karang lunak merupakan salah satu komponen biota penyusun terumbu karang yang mempunyai potensi bioaktif yang belum banyak dimanfaatkan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan daya hambat antibakteri ekstrak dan fraksi karang lunak Xenia sp. terhadap bakteri staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Sampel diekstraksi secara maserasi dan fraksinasi menggunakan pelarut etanol, fraksi heksan, fraksi kloroform dan fraksi metanol. Aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar (Kirby and Bauer). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak Xenia sp., fraksi heksan, fraksi kloroform dan fraksi metanol efektif menghambat bakteri Staphylococcus aureus dan bakteri Escherichia coli. Ekstrak dan fraksi ini dikategorikan kuat berdasarkan kriteria Davis dan Stout. Fraksi kloramfenikol dengan daya hambat antibakteri paling besar yaitu sebesar 9,66 mm untuk bakteri Staphylococcus aureus dan 9,00 mm untuk bakteri Escherichia coli dan diduga mengandung senyawa diterpenoid yang berpotensi sebagai antibakteri didukung oleh data penelitian dari Fattorusso et al (2008). .  Kata kunci. Karang Lunak Xenia sp., Aktivitas antibakteri, Staphylococcus aureus, Escherichia coli.   ABSTRACT  Soft coral is a component of a coral reef organisms that have bioactive potential has not been widely used. The aims of this study were to determine antibacterial inhibition of extracts and fractions Xenia sp . soft coral sagainst Staphylococcus aureus and Escherichia coli. Samples was extracted by maceration with and fraction ationusing hexane, chloroform, ethanol and methanol. Antibacterial activity performed by the agar diffusion method (Kirby and Bauer). The result shows that Xenia sp. extract, chloroform fraction, and methanol fraction effectively inhibit the bacterium Staphylococcus aureus and Escherichia coli. Extracts and fractions categorized strong based on the criteria of Davis and Stout. Chloroform fraction with the greatest antibacterial 9,66 mm Staphylococcus aureus and 9,00 mm Escherichia coli. allegedly contain diterpenoid that are potentially as antibacterial the result Futturusso et al (2008). Keywords. Xenia sp., soft coral, Antibacterial activity, Staphylococcus aureus, Esherichia coli. Â
HUBUNGAN ANTARA ASUPAN ENERGI DENGAN STATUS GIZI PADA WANITA USIA SUBUR DI DESA KEMA II KECAMATAN KEMA KABUPATEN MINAHASA UATARA
HUBUNGAN ANTARA ASUPAN ENERGI DENGAN STATUS GIZI PADA WANITA USIA SUBUR DI DESA KEMA II KECAMATAN KEMA KABUPATEN MINAHASA UATARA Melian palallo1), Nancy S.H Malonda1), Maureen I. Punuh1) 1)Fakultas Kesehatan Masyarakat Univeritas Sam ratulangi ABSTRACT Humans need energy to sustain life to support the growth process and perform daily activities. The imbalance of energy input to the long-term ongoing needs would cause problems (Department of Nutrition and Public Health, 2012). Basic Health Research  Data (Riskesdas 2013) about  nutrition status of the population age (≥ 18 years) shows that nationally, about 8.7% is underweight, 13.5%  is overweight and 15.4% is obese. In North Sulawesi, thin is 5.6% and 24.0% is obese. This study is conducted to determine the relationship between energy intake and nutrition status on women in fertile age  at Kema II Village, Kema District North Minahasa Regency. This research is obeservasional analytic with cross sectional design. The subjects are women in fertile age at Kema II Village, Kema District North Minahasa Regency, the number of respondents to be studied is as many as 146 women in fertile age who meet the inclusion and exclusion criteria. The data tabulation uses Spearman statistical test with ɑ = 0.05 and confidence level=95%. The results shows that the majority of women in fertile  age obtained an average yield of energy intake is equal to 1876.7 kcal for age 18-29 years old and 1884.9 kcal, for age 30-49 years old and the average BMI is 27.2 kg / m².Statistical analysis shows  a significant relationship between energy intake and nutrition status on women in fertile age  at Kema II Village, Kema District North Minahasa Regency (p = 0.000). it’s recomended for  Women at Kema II Village, Kema District North Minahasa Regency to increase their physical activity by exercising regularly and hey  need to be given a socialization of balanced nutrition for women in fertile age and family. Keywords: Nutritional status, energy intake, women of childbearing age ABSTRAK  Manusia membutuhkan energi untuk mempertahankan hidup guna menunjang proses pertumbuhan dan melakukan aktivitas harian. Ketidakseimbangan masukan energi dengan kebutuhan yang berlangsung jangka lama akan menimbulkan masalah (Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat, 2012). Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2013) tentang status gizi penduduk usia ( ≥ 18 tahun) menunjukkan bahwa secara nasional sekitar 8,7% kurus, 13,5% berat badan lebih dan 15,4% obesitas. Di Provinsi Sulawesi Utara kurus 5,6% dan 24,0% obesitas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara asupan energi dengan status gizi pada wanita usia subur di Desa Kema II Kecamatan Kema Kabupaten Minahasa Utara. Penelitian ini merupakan penelitian obeservasional analitik dengan rancangan cross sectional. Subjek penelitian adalah wanita usia subur di Desa Kema II Kecamatan Kema Kabupaten Minahasa Utara, jumlah responden yang akan diteliti adalah wanita usia subur sebanyak 146 orang wanita yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengolahan data menggunakan uji statistic Spearman dengan ɑ = 0,05 dan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar wanita usia subur didapat hasil rata-rata asupan energi yaitu sebesar 1876,7 kkal umur 18-29 tahun dan 1884,9 umur 30-49 tahun dan rata-rata IMT yakni sebesar 27,2 kg/m². Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara asupan energi dengan status gizi pada wanita usia subur di Desa Kema II Kecamatan Kema Kabupaten Minahasa Utara (p= 0,000). Bagi Wanita Usia Subur Di Desa Kema II Kecamatan Kema Kabupaten Minahasa Utara disarankan meningkatkan aktivitas fisik dengan berolahraga secara teratur serta perlu diberikan sosialisasi tentang gizi seimbang bagi wanita usia subur dan keluaraga.  Kata Kunci: Status Gizi, Asupan Energi, Wanita Usia Subur
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI EKSTRAK DAUN PRASMAN (Eupatorium triplinerve Vahl.)
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI EKSTRAK DAUN PRASMAN (Eupatorium triplinerve Vahl.) Liliyanti Munte1), Max Revolta Runtuwene2), Gayatri Citraningtyas 1) 1)Program Studi Farmasi FMIPA UNSRAT Manado, 95115 2) Jurusan Kimia FMIPA UNSRAT Manado, 95115  ABSTRACT Prasman is one of the plants located in the eastern of Indonesia, and allegedly contains antioxidant compounds. Prasman leafs is often used as a herbal medicine in the treatment of various diseases. The purpose of this study was to determine the total phenolic and determined antioxidant activity of ethanol extract of prasman leafs. Extraction of this study are using a maceration method with 96, 80 and 60% ethanol. Extract obtained are determined and tested a total phenolic antioxidant activity using DPPH method. Based on the results 96% of ethanol extract prasman leafs had the highest of total phenolic 13.47 mg/L followed by ethanol extract 80 and 60% of 11.97 mg/L and 5.45 mg/L. Based on the results of the study showed that the 96% of ethanol extract had the best antioxidant activity with activity value IC50 122.77 mg/L, followed by 80 and 60% ethanol extract of 162.56 mg/L and 293.95 mg/L. Keywords : Prasman leafs, total phenolic, antioxidant activity, DPPH. ABSTRAK Prasman merupakan salah satu tanaman yang terdapat dibagian timur Indonesia dan diduga mengandung senyawa antioksidan. Daun prasman sering digunakan sebagai obat herbal dalam penyembuhan berbagai macam penyakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan total fenolik dan menentukan aktivitas antioksidan dari ekstrak etanol daun prasman. Metode ekstraksi dalam penelitian ini menggunakan maserasi dengan pelarut etanol 60, 80 dan 96 %. Ekstrak yang diperoleh ditentukan total fenolik dan diuji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH. Berdasarkan hasil yang didapat ekstrak etanol 96% daun prasman memilki kandungan total fenolik paling tinggi sebesar 13,47 mg/L, dengan diikuti ekstrak etanol 80 dan 60% sebesar 11, 97 mg/L dan 5,45 mg/L. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 96% memiliki aktivitas antioksidan yang paling baik dengan nilai aktivitas IC50 122, 77 mg/L dengan diikuti ekstrak etanol 80 dan 60% yaitu 162, 56 mg/L dan 293, 95 mg/L.  Kata kunci : daun prasman, total fenolik, aktivitas antioksidan, DPPH Â
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL, ETIL ASETAT, DAN n-HEKSAN DARI DAUN SESEWANUA (Clerodendron squamatum Vahl.)
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL, ETIL ASETAT, DAN  n-HEKSAN DARI DAUN SESEWANUA (Clerodendron squamatum Vahl.) Yosina M. Huliselan1), Max R.J. Runtuwene2), Defny S. Wewengkang1) 1)Program Studi Farmasi Fakultas MIPA UNSRAT Manado 2)Jurusan Kimia FMIPA UNSRAT Manado  ABSTRACT Sesewanua (Clerodendron squamatum Vahl.) empirically has been used by people in several areas in North Sulawesi to treat fever, fractures ,and reducing swelling. Sesewanua leaves contains flavonoids and alkaloids that can be potentially as an antioxidant. The purpose of this study was to determine the total phenolic content and antioxidant activity of the ethanol, ethyl acetate and n-hexane extracts from the leaves of sesewanua. The extraction of sesewanua leaves is using the maceration method. Determination of total phenolic contents use the Folin Ciocalteau method and testing of antioxidant activity using the 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) method. Based on the results obtained, the highest total phenolic content ethyl acetate extract of 36.25 mg/L, followed by ethanol extract of 14.659 mg/L, and the n-hexane extract of 5.795 mg/L. Based on the calculation of the IC50, ethyl acetate extract has the highest antioxidant activity (13.084 mg/L), followed by ethanol extract (17.85 mg/L), and n-hexane extracts (23.737 mg/L).  Keywords: Leaves of Sesewanua (Clerodendron squamatum Vahl.), Total phenolic, Antioxidant, DPPH ABSTRAK Sesewanua (Clerodendron squamatum Vahl.) secara empiris telah digunakan oleh masyarakat di beberapa daerah di Sulawesi Utara untuk mengobati demam, patah tulang, dan penurun bengkak. Daun sesewanua mengandung flavonoid dan alkaloid yang dapat berpotensi sebagai antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kandungan total fenolik dan aktivitas antioksidan ekstrak etanol, etil asetat, dan n-heksan dari daun sesewanua. Ekstraksi daun sesewanua dilakukan dengan menggunakan metode maserasi. Penentuan kandungan total fenolik menggunakan metode Folin Ciocalteau dan pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH). Berdasarkan hasil yang diperoleh ekstrak etil asetat memiliki kandungan total fenolik tertinggi sebesar 36,25 mg/L, diikuti ekstrak etanol sebesar 14,659 mg/L, dan ekstrak n-heksan sebesar 5,795 mg/L. Berdasarkan hasil perhitungan IC50 ekstrak etil asetat daun sesewanua memiliki aktivitas antioksidan tertinggi dengan nilai IC50 sebesar 13,084 mg/L, diikuti ekstrak etanol sebesar 17,85 mg/L, dan ekstrak n-heksan sebesar 23,737 mg/L. Kata kunci: Sesewanua (Clerodendron squamatum Vahl.), Total Fenolik, Antioksidan, DPP
ANGKA KEJADIAN STOMATITIS YANG DIDUGA SEBAGAI DENTURE STOMATITIS PADA PENGGUNA GIGI TIRUAN DI KELURAHAN BATU KOTA MANADO
ANGKA KEJADIAN STOMATITIS YANG DIDUGA SEBAGAI DENTURE STOMATITIS PADA PENGGUNA GIGI TIRUAN DI KELURAHAN BATU KOTA MANADO Lingkan Lahama1), Vonny N.S Wowor1), Olivia Amelia Waworuntu2) 1) Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran 2Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran ABSTRACT A long and continuous usage of denture and the ignorance of oral hygiene can cause inflammation to mucosa tissues under the denture. One of the damages that can happen is denture stomatitis. Denture stomatitis is an inflammatory on the mouth mucosa caused by the usage of denture. This is a kind of descriptive study with cross-sectional design, which the population are 81 samples of Batu Kota society who are using denture. The data is gained by interview and by filling the examination form. The way of taking sample is by puposive sampling method. The result of this study shows a high Percentage that is 83.95% respondents who are expected have denture stomatitis, which 40.74% respondents have been using denture for more than 5 years, 83.5% respondents are still using the denture while sleeping at night, and 64.19% respondents have 3 clinical symptom of denture stomatitis. The conclution of this study is that stomatitis which is expected as denture stomatitis is suffered by most of the removable denture users in Batu Kota.  Keyword : insidensi, denture stomatitis  ABSTRAK Penggunaan gigi tiruan yang lama dan terus menerus serta mengabaikan kebersihan rongga mulut bisa menyebabkan terjadinya peradangan pada jaringan mukosa di bawah gigi tiruan. Salah satu dampak buruk yang dapat terjadi yakni denture stomatitis. Denture stomatitis merupakan keradangan pada mukosa mulut yang diakibatkan oleh pemakaian gigi tiruan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui angka kejadian stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis pada pengguna gigi tiruan di Kelurahan Batu Kota. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain cross-sectional study., dimana populasi penelitian yaitu masyarakat Kelurahan Batu Kota yang menggunakan gigi tiruan lepasan dengan jumlah sampel sebanyak 81 sampel. Data diperoleh melalui wawancara dan pengisian formulir pemeriksaan. Cara pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan angka kejadian yang tinggi yaitu sebesar 83,95% responden yang diduga menderita denture stomatitis, dimana 40,74% responden telah menggunakan gigi tiruan lebih dari 5 tahun, 83,95% responden yang tetap menggunakan gigi tiruannya saat tidur dimalam hari, dan 64,19% responden memiliki 3 gejala klinis denture stomatitis. Kesimpulan dari penelitian ini stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis diderita oleh sebagian besar pengguna gigi tiruan lepasan di kelurahan Batu Kota.  Kata Kunci : angka kejadian, denture stomatitis     PENDAHULUAN Gigi merupakan salah satu bagian tubuh yang tergolong penting bagi manusia. Gigi dengan bentuknya yang berbeda-beda memiliki tiga fungsi utama, yaitu mastikasi (pengunyahan), estetika dan fonetik (fungsi bicara). Hilangnya gigi dapat menimbulkan masalah atau gangguan pada fungsi tersebut. Gigi yang hilang dan tidak digantikan dapat menyebabkan seseorang tidak bisa mengunyah makanan dengan baik serta kemampuan berbicara terganggu. Kehilangan gigi juga dapat menganggu estetik atau penampilan seseorang, sehingga banyak orang merasa tidak nyaman bahkan kehilangan rasa percaya dirinya. Pada kasus kehilangan gigi baik pada rahang atas maupun rahang bawah dapat menggunakan gigi tiruan sebagai penggantinya.1,2 Data survei Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan tahun 2010 menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia yang mendapat pelayanan pencabutan gigi sebesar 79,6%. Kondisi ini menggambarkan kebutuhan akan pembuatan gigi tiruan. Gigi tiruan dibuat untuk mengatasi gigi yang hilang atau rusak. Tujuan pembuatan gigi tiruan, baik itu tiruan sebagian lepasan, gigi tiruan cekat maupun gigi tiruan lengkap pada hakekatnya untuk memperbaiki fungsi pengunyahan, pengucapan, estetis, menjaga kesehatan jaringan serta mencegah kerusakan lebih lanjut dari struktur organ mulut. 3,4 Masyarakat Indonesia pada umumnya menggunakan gigi tiruan lepasan, dan hanya sebagian kecil yang menggunakan gigi tiruan cekat. Gigi tiruan lepasan yang umum digunakan berupa gigi tiruan berbasis akrilik. Gigi tiruan ini memiliki keuntungan dari segi estetik karena basisnya memiliki warna serupa dengan mukosa mulut, tetapi di sisi lain memiliki kekurangan sebagai akibat dari bahan basisnya. Basis gigi tiruan akrilik memiliki sifat porus karena pori-porinya yang banyak dan dapat menyerap cairan mulut. Sifat porositasnya menyebabkan mudah terjadi akumulasi sisa makanan dan plak, yang dapat berdampak pada kesehatan jaringan mukosa di bawah gigi tiruan. Pada pemakaian gigi tiruan yang lama dan terus-menerus serta mengabaikan kebersihan rongga mulut bisa menyebabkan terjadinya peradangan pada jaringan mukosa di bawah gigi tiruan. 5 Denture stomatitis adalah keradangan pada mukosa mulut yang diakibatkan oleh pemakaian gigi tiruan. Tanda khasnya berupa erythema, edema dan berwarna lebih merah dari jaringan sekitarnya. Intensitas pemakaian yang terus-menerus sepanjang hari atau gigi tiruan yang tidak pernah dilepas selama bertahun-tahun antara lain menjadi penyebab terjadinya inflamasi atau denture stomatitis pada rongga mulut. Prevalensi denture stomatitis di Indonesia cukup tinggi meskipun belum ada data resmi dari pemerintah. Menurut penelitian oleh Marwati pada tahun 2003 hampir 50% penderita yang memakai gigi tiruan dilaporkan terdeteksi candida albicans sedangkan penelitian oleh Sudarmawan pada tahun 2009 dinyatakan bahwa 32,3% dari 30 pemakai gigi tiruan terdeteksi adanya candida albicans yang merupakan salah satu penyebab utama terjadinya denture stomatitis.5,6,7 Kebersihan gigi dan mulut yang kurang terjaga pada pengguna gigi tiruan lepasan berbasis akrilik memiliki potensi besar terbentuknya plak pada basis gigi tiruan yang menghadap ke mukosa mulut serta berkembangnya mikroorganisme lainnya seperti jamur candida albicans sebagai penyebab utama denture stomatitis. Berdasarkan latar belakang di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang angka kejadian stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis pada pengguna gigi tiruan lepasan berbasis akrilik, mengingat pengguna gigi tiruan jenis ini cukup banyak di masyarakat. Penulis memilih lokasi kelurahan Batu Kota kecamatan Malalayang Manado sebagai lokasi penelitian, oleh karena sudah pernah ada penelitian sebelumnya pada pengguna gigi tiruan ditempat ini tetapi bukan tentang denture stomatitis, dan memudahkan penulis dari segi waktu, biaya dan keterjangkauan.    METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross-sectional study. Penelitian ini dilakukan pada suatu waktu tertentu dan hasil penelitian yang didapatkan hanya menggambarkan atau mendeskripsikan suatu situasi, dalam hal ini angka kejadian stomatitis yang diduga denture stomatitis. Penelitian ini dilakukan dikelurahan Batu kota Kecamatan Malalayang Manado. Penelitian ini dilakukan selama bulan Juli sampai bulan September tahun 2015. Populasi dalam penelitian ini ialah pasien pengguna gigi tiruan di kelurahan Batu kota Kecamatan Malalayang yang diperoleh berdasarkan perhitungan prevalensi pengguna gigi tiruan di Sulawesi Utara sebesar 7,1% didapatkan 355 orang dari 5804 jiwa. Sampel yang digunakan pada penelitian ini berjumlah 81 sampel yang didapatkan dengan menggunakan rumus slovin : N n  = N (d)2 + 1 Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive sampling method yakni teknik pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan criteria inklusi dan ekslusi. Kriteria inklusi dalam penelitian ini yaitu menggunakan gigi tiruan minimal 1 tahun, bersedia dan sukarela untuk menjadi subjek dalam penelitian, bersifat kooperatif selama pengambilan data. Kriteria ekslusi dalam penelitian ini yaitu Sampel yang memiliki penyakit sistemik, tidak bersedia menandatangani informed consent. Variabel penelitian ini yaitu angka kejadian stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis. Angka kejadian stomatitis, yaitu banyaknya kejadian stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis pada masyarakat pengguna gigi tiruan lepasan berbasis akrilik di kelurahan Batu Kota kecamatan Malalayang Manado pada tahun 2015. Stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis, yaitu stomatitis yang terdapat pada jaringan mukosa di bawah basis gigi tiruan yang digunakan responden yang diperkirakan sebagai denture stomatitis berdasarkan tanda-tanda atau gejala klinis yang nampak berupa jaringan mukosa mulut di bawah gigi tiruan lepasan berwarna merah terang, pembesaran pada permukaan mukosa di bawah gigi tiruan, terdapat lesi berupa bintik-bintik putih yang berbatas jelas pada permukaan mukosa di bawah basis gigi tiruan, gigi tiruan lepasan berbasis akrilik, yaitu gigi tiruan lepasan yang basisnya terbuat dari bahan akrilik. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yakni formulir pemeriksaan yang dipadukan dengan wawancara. Pengumpulan data ini dibagi dari data primer diperoleh secara langsung dari reponden melalui wawancara dan menggunakan formulir pemeriksaan pada masyarakat di kelurahan Batu Kota yang langsung ditemui di rumah masing-masing, data sekunder diperoleh dari profil kelurahan Batu Kota berupa identitas , jaga dan jumlah masyarakat. Data diolah menggunakan Microsoft Excel kemudian disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. HASIL Responden dalam penelitian ini dibedakan menurut jenis kelamin, usia, lamanya pemakaian, frekuensi pembersihan gigi tiruan, waktu pembersihan gigi tiruan serta cara pemakaiannya.   Tabel 1. Distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin. Jenis kelamin Jumlah (n) Persentase (%) Laki-laki 18 22,23 Perempuan 63 77,77 Total 81 100  Data pada Tabel 1 menunjukkan bahwa terdapat jumlah terbanyak berjenis kelamin perempuan (77,77%) responden.  Tabel 2. Distribusi frekuensi responden berdasarkan usia. Usia (tahun) Jumlah (n) Persentase (%) 25-34 6 7,41 35-44 21 25,93 45-54 42 51,85 > 55 12 14,81 Total 81 100  Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa responden terbanyak berusia 45-54 tahun (51,85% ) responden. Tabel 3. Distribusi frekuensi responden berdasarkan lama pemakaian gigi tiruan. Lama pemakaian (tahun) Jumlah (n) Persentase (%) < 5 17 20,99 5-10 33 40,74 11-15 24 29,63 > 15 7 8,64 Total 81 100  Data pada Tabel 3 menunjukkan bahwa responden yang menggunakan gigi tiruan lepasan dengan jumlah terbanyak  5-10 tahun berjumlah 33 responden (40,74%)  Tabel 4. Distribusi frekuensi responden berdasarkan frekuensi pembersihan gigi tiruan dibersihkan. Frekuensi Pembersihan Gigi Tiruan Jumlah (n) Persentase (%) 1 kali (sehari) - 0 2 kali (sehari) 26 32,10 3 kali (sehari) 21 25,92 > 3 kali (sehari) 34 41,98 Total 81 100   Data pada Tabel 4 menunjukkan bahwa responden terbanyak (41,97%) membersihkan gigi tiruan sebanyak > 3 kali sehari.  Tabel 5. Distribusi frekuensi responden berdasarkan waktu pembersihan gigi tiruan. Waktu Pembersihan Gigi Tiruan Jumlah (n) Persentase (%) Sebelum makan 53 65,43 Sesudah makan 28 34,57 Total 81 100  Data pada Tabel 5 menunjukkan bahwa responden yang membersihkan gigi tiruannya sebelum makan berjumlah 53 responden (65,43%) dan yang membersihkan gigi tiruannya sesudah makan berjumlah 28 responden (34,57%).  Tabel 6. Distribusi frekuensi responden berdasarkan cara pemakaian gigi tiruan. Cara pemakaian Jumlah (n) Persentase (%) Terus menerus tanpa dilepas 68 83,95 Dilepas saat tidur 13 16,05 Total 81 100   Data pada Tabel 6 menunjukkan bahwa responden yang menggunakan gigi tiruan secara terus-menerus tanpa dilepas saat tidur berjumlah 68 responden (83,95%) dan responden yang melepas gigi tiruan saat tidur berjumlah 13 responden (16,05%). Angka kejadian stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis Tabel 7 hingga Tabel 9 menyajikan distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis gejala klinis dan jumlah gejala klinis stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis, serta distribusi frekuensi responden berdasarkan stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis.  Tabel 7. Distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis gejala klinis stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis Gejala klinis Jumlah (n) Persentase(%) Mukosa di bawah gigi tiruan berwarna merah terang 68 83,95  Pembesaran permukaan mukosa di bawah gigi tiruan 47 58,02  Terdapat lesi berupa bintik-bintik putih dan berbatas jelas di bawah gigi tiruan 48 59,25  Adanya rasa terbakar pada mukosa mulut 3 3,70  Data pada Tabel 7 menunjukkan bahwa gejala klinis terbanyak berupa jaringan dibawah gigi tiruan berwarna merah terang berjumlah 68 responden (83,95%).  Tabel 8. Distribusi frekuensi responden berdasarkan jumlah gejala klinis stomatitis yang diduga denture stomatitis Gejala klinis Jumlah (n) Persentase (%) Memiliki 4 gejala klinis 16 19,75 Memiliki 3 gejala klinis 52 64,19 Memiliki 2 gejala klinis 14 17,28 Memiliki 1 gejala klinis 4 4,93 Total 81 100  Data pada Tabel 8 menunjukkan bahwa responden terbanyak (64,19%) memiliki 3 gejala klinis.     Tabel 9. Distribusi frekuensi responden berdasarkan stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis yang diderita. Stomatitis yang diduga Denture Stomatitis Jumlah (n) Persentase (%)  Ya 68 83,95 Tidak 13 16,05 Total 81 100  Data pada Tabel 9 menunjukkan bahwa responden yang diduga menderita stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis berjumlah 68 responden (83,95%) dan yang bukan denture stomatitis berjumlah 13 responden (16,05%).  PEMBAHASAN Berdasarkan penelitian yang dilakukan tentang angka kejadian stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis pada pengguna gigi tiruan lepasan akrilik di kelurahan Batu Kota kecamatan Malalayang Manado, diperoleh responden terbanyak berjenis kelamin perempuan yaitu berjumlah 63 responden atau 77,77%, sedangkan responden berjenis kelamin laki-laki hanya berjumlah 18 responden atau 22,23% (Tabel 1). Banyaknya responden yang berjenis kelamin perempuan pada penelitian ini menunjukkan bahwa pada populasi yang diteliti ditemukan banyak perempuan yang menggunakan gigi tiruan lepasan. Penulis berpendapat bahwa responden yang berjenis kelamin perempuan ditemukan lebih banyak menggunakan gigi tiruan, oleh karena perempuan cenderung lebih memperhatikan penampilan dibandingkan laki-laki. Pemakaian gigi tiruan merupakan salah satu cara untuk memperbaiki penampilan dari segi estetik. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya oleh Baran yang menyatakan pengguna gigi tiruan lebih banyak pada perempuan karena perempuan cenderung lebih mementingkan estetis dari pada laki-laki.26 Pada penelitian ini juga diperoleh hasil yaitu responden terbanyak berada pada rentang usia 45-54 tahun yaitu berjumlah 51,85% (Tabel 2). Menurut penulis banyaknya responden pada rentang usia ini yang mengalami kehilangan gigi, karena semakin bertambah usia seseorang maka gigi geligi juga akan semakin rentan terhadap kerusakan, karena lebih banyak digunakan atau difungsikan. Pendapat ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa semakin bertambahnya usia, maka semakin banyak pula jumlah gigi yang hilang. Hal ini disebabkan oleh adanya perubahan fisiologis pada proses penuaan jaringan yang mengakibatkan penyusutan tulang alveolar serta kondisi gigi yang mudah tanggal akibat resobrsi tulang alveolar.27 Di sisi lain kelompok usia tersebut masih tergolong usia produktif yang membutuhkan kesehatan serta penampilan yang baik untuk melakukan aktivitas. Gambaran karakteristik responden berkaitan dengan lamanya pemakaian gigi tiruan, menunjukkan hasil 40,74% telah menggunakan gigi tiruan selama 5-10 tahun (Tabel 3). Penulis berpendapat bahwa lamanya pemakaian gigi tiruan merupakan salah satu faktor resiko terjadinya denture stomatitis, terlebih pada responden yang kurang memperhatikan kebersihan gigi dan mulut. Penelitian sebelumnya oleh Hardiyanti di FKG UNHAS membuktikan adanya hubungan lama penggunaan gigi tiruan terhadap terjadinya denture stomatitis.28 Hasil penelitian pada Tabel 4 memperlihatkan 41,98% responden (terbanyak) memiliki karakteristik melakukan pembersihan gigi tiruan > 3 kali sehari. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden sudah memiliki perilaku yang baik berkaitan dengan frekuensi pembersihan gigi tiruan yang digunakan. Namun hal ini belum dapat menjamin kondisi kebersihan rongga mulut sudah dalam keadaan baik, karena kebersihan rongga mulut tidak hanya ditentukan dari frekuensi pembersihan gigi dan mulut termasuk gigi tiruan yang digunakan. Kebersihan gigi dan mulut juga ditentukan oleh waktu pembersihan dan cara pembersihan yang dilakukan, dalam hal ini penyikatan gigi yang dilakukan. Pendapat ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Barbosa, yang menyatakan bahwa cara (kualitas) pembersihan gigi tiruan lebih penting dari pada frekuensi pembersihan gigi tiruannya.29 Hasil penelitian tentang karakteristik responden berdasarkan waktu pembersihan, menunjukkan 65,43% responden membersihkan gigi tiruan sebelum makan dan 34,57% responden membersihkan gigi tiruan sesudah makan (Tabel 5). Penulis berpendapat bahwa sebagian besar responden belum membersihkan gigi tiruan pada waktu yang tepat, di mana hal ini dapat meningkatkan resiko terjadinya denture stomatitis. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya oleh Sipayung yang menyatakan bahwa waktu yang baik untuk membersihkan gigi tiruan seharusnya sesudah makan. Tujuan pembersihan gigi tiruan sebenarnya untuk membersihkan gigi tiruan dari sisa makanan yang dapat menyebabkan penumpukan plak pada basis gigi tiruan yang berpengaruh pada peningkatan resiko terjadinya denture stomatitis.30 Berdasarkan data pada Tabel 6 diperoleh gambaran karakteristik responden tentang cara pemakaian gigi tiruan. Sebanyak 83,95% responden memakai gigi tiruan secara terus menerus tanpa dilepas, sedangkan hanya 16,05% responden melepas gigi tiruan saat tidur. Penulis berpendapat bahwa sebagian besar responden belum mengetahui cara pemakaian gigi tiruan yang baik, di mana hal ini juga turut memengaruhi resiko terjadinya denture stomatitis. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa kebersihan rongga mulut yang kurang baik serta pemakaian gigi tiruan secara terus menerus tanpa dilepas dapat menjadi tempat yang sangat rentan bagi pertumbuhan mikroorganisme. Pemakaian gigi tiruan secara terus menerus sepanjang hari tanpa dilepas merupakan pemicu terjadinya stomatitis yang seringkali merupakan kandidiasis atrofik kronis. Penyebab stomatitis ini adalah jamur candida.31 Menurut penelitian Elizabeth ditemukan penyebab terbesar terjadinya denture stomatitis adalah jamur candida albicans. Penggunaan gigi tiruan lepasan berbasis akrilik merupakan salah satu faktor resiko peningkatan jumlah candida albicans dalam rongga mulut, terlebih pada pengguna gigi tiruan yang kurang memperhatikan kebersihan rongga mulut. Jamur ini merupakan flora normal dalam rongga mulut, namun pada kondisi tertentu dapat mengalami peningkatan dan bersifat patogen.15,16,17 Pada Tabel 7 tentang gejala klinis stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis, diperoleh tanda-tanda klinis yang paling banyak terlihat (83,95%), yaitu berupa jaringan mulut di bawah gigi tiruan responden berwarna merah terang. Tanda ini merupakan salah satu ciri yang menggambarkan adanya radang (inflamasi) pada mukosa di bawah gigi tiruan. Tanda-tanda utama radang berupa rubor (kemerahan), calor (panas), dolor (rasa sakit), tumor (pembengkakan) dan function laesa (perubahan fungsi). Umumnya rubor (kemerahan) merupakan hal pertama yang terlihat pada daerah yang mengalami peradangan, oleh karena terjadinya peningkatan suplai darah ke daerah yang mengalami peradangan.32 Pada keadaan saat terjadi peradangan terjadi juga pembesaran mukosa (tumor) yang juga merupakan salah satu ciri adanya radang. Pada penelitian ini 58,02% responden juga mengalami pembesaran pada mukosa di bawah basis gigi tiruan. Pembesaran ini merupakan salah satu ciri adanya radang pada lokasi tersebut. Salah satu penyebabnya adalah pengiriman cairan dan sel-sel sirkulasi darah ke jaringan-jaringan interstitial dan oleh adanya hiperemi.32,33 Pada penelitian ini ditemukan juga sebanyak 59,25% responden  memiliki lesi berupa bintik-bintik putih pada permukaan mukosa yang tertutup gigi tiruan dan berbatas jelas. Menurut penulis, hal ini dapat dikaitkan dengan kondisi kebersihan mulut yang buruk. Saat penelitian ditemukan gambaran klinis rongga mulut responden umumnya kurang baik. Kondisi kebersihan rongga mulut yang kurang baik bisa berdampak pada terjadinya infeksi candida albicans. Munculnya lesi berupa bintik-bintik atau bercak putih berbatas jelas pada mukosa mulut yang tidak dapat dihapus atau diangkat, menurut penulis merupakan tanda adanya infeksi jamur. Pendapat ini juga sesuai dengan penelitian sebelumnya oleh Gimon di PSPDG UNSRAT yang menyatakan bahwa adanya lesi putih yang berbatas jelas di bawah gigi tiruan merupakan tanda klinis terjadinya denture stomatitis.34 Candida albicans sebagai flora normal dalam rongga mulut dapat menyebabkan infeksi jika ada faktor predisposisi. Faktor prediposisinya adalah daya tahan jaringan setempat yang mengalami iritasi kronis karena pemakaian gigi tiruan lepasan. Permukaan gigi tiruan lepasan berbasis akrilik yang kasar, serta adanya porositas pada permukaannya mendukung terjadinya iritasi kronis pada muoksa di bawah basis gigi tiruan. Keadaan ini dapat diperparah dengan kebersihan mulut yang kurang baik akibat penumpukan plak sehingga menyebabkan inflamasi yang sifatnya kronis.6,12,35 Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 64,19% responden memiliki 3 (tiga) gejala klinis denture