PHARMACON
Not a member yet
1026 research outputs found
Sort by
PELEPASAN ION NIKEL DAN KROMIUM BRAKET ORTODONTIK STAINLESS STEEL YANG DIRENDAM DALAM OBAT KUMUR
PELEPASAN ION NIKEL DAN KROMIUM BRAKET ORTODONTIK STAINLESS STEEL YANG DIRENDAM DALAM OBAT KUMUR Miranti Arruan Minanga1), P.S. Anindita1), Juliatri1) 1) Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran UNSRAT  ABSTRACT Use of the orthodontic appliance in the mouth can be divided into two kinds of removable orthodontic appliances and fixed orthodontic appliance. Bracket is one of the basic components of fixed orthodontic appliance. Brackets are used most often made of metal or stainless steel consisting of iron, chromium, and nickel. In the process of corrosion of stainless steel bracket in the oral cavity, the release of metal ions can enter the body and cause effects like karsiogenik, allergenic, mutagenic and cytotoxic. This study aims to determine the major nickel and chromium ions are separated in the bracket soaked in mouthwash. This type of research is research laboratory eksprimental to draft a post-test only control design. The sample size determined in accordance with formula samples of numerical data. The sample used is stainless steel bracket solution that is soaked in mouthwash for 12 hours in an incubator at 37°C then be measured using a UV-Vis spectrophotometer. The results showed the average amount of nickel ion release in the control group of 1,693 ppm and the average value in the treatment group mouthwash brands A is 3,955 ppm, brands B is 3,938 ppm, brands C is 5,107 ppm. The average amount of chromium ion release in the control group of 1,000 ppm and the average value in the treatment group mouthwash brands A is 1,517 ppm, brands B is 1,193 ppm, brands C is 0,872 ppm. . Key words: Ion nickel and chromium, stainless steel orthodontic bracket, mouthwash ABSTRAK Pemakaian alat ortodontik di dalam mulut dibedakan menjadi dua macam yaitu alat ortodontik lepasan dan alat ortodontik cekat. Braket merupakan salah satu komponen dasar alat ortodontik cekat. Braket yang paling sering digunakan terbuat dari bahan logam atau stainless steel yang terdiri dari besi, kromium, dan nikel. Pada proses korosi braket stainless steel di dalam rongga mulut, terjadi pelepasan ion logam yang dapat masuk ke dalam tubuh dan menimbulkan efek seperti karsiogenik, alergenik, mutagenik dan sitotoksik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar ion nikel dan kromium yang terlepas pada braket yang direndam dalam obat kumur. Jenis penelitian ini yaitu penelitian eksprimental laboratori dengan rancangan post-test only control design. Besar sampel ditetapkan sesuai dengan rumus sampel data numerik. Sampel yang digunakan yaitu larutan braket stainless steel yang direndam dalam obat kumur selama 12 jam dalam inkubator 37°C kemudian dilakukan pengukuran menggunakan alat spektrofotometer UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan jumlah rata-rata pelepasan ion nikel pada kelompok kontrol yaitu 1,693 ppm dan nilai rata-rata pada kelompok perlakuan obat kumur merk A yaitu 3,955 ppm, merk B yaitu 3,938 ppm, merk C yaitu 5,107 ppm. Jumlah rata-rata pelepasan ion kromium pada kelompok kontrol yaitu 1,000 ppm dan nilai rata-rata pada kelompok perlakuan obat kumur merk A yaitu 1,517 ppm, merk B yaitu 1,193 ppm, merk C yaitu 0,872 ppm.  Kata Kunci: Ion nikel dan kromium, braket ortodontik stainless steel, obat  kumur Â
GAMBARAN POSISI KERJA DAN KELUHAN GANGGUAN MUSCULOSKELETAL PADA PETANI PADI DI DESA KIAWA 1 BARAT KECAMATAN KAWANGKOAN UTARA
GAMBARAN POSISI KERJA DAN KELUHAN GANGGUAN MUSCULOSKELETAL PADA PETANI PADI DI DESA KIAWA 1 BARAT KECAMATAN KAWANGKOAN UTARA Christia E. Malonda1), Paul A.T Kawatu1), Diana Vanda Doda1) 1)Fakultas Kesehatan Masyarakat UNSRAT Manado, 95115 ABSTRACT Work-related Musculoskeletal Disorder are common in workplaces. Working with a static posture and continuously working within a long period of time can potentially cause musculoskeletal disorder (MDs) complaint. Farmers in West Kiawa 1 Village still uses traditional ways or manual material handling method in doing their job, particularly the task of planting rise. The aims of this research is to assess the risk level of working posture and the level of MSDs complaints among rice farmers of West Kiawa 1 Village North Kawangkoan subdistrict. This research is a descriptive studies. The instruments were REBA questionnaires to assess the level of risk and Nordic Body Map to identify the level of MSDs complants. There were 21 farmers participated in this research. The result shows that farmers who undertake awkward working posture were experience a moderate risk are as much as 17 farmers (18,0%), and high risk as much as 4 farmers (19,0%). There are 3 farmers (14,3%) who experience low level of musculoskeletal complaint, 17 farmers (81,0%) have moderate level of MSD, and 1 farmer (4,7%) has high level of MSD. This research concludes that planting rice task that require bending position continuously for a long periode of time may increase the physical workload and may lead to musculoskeletal complaints. Keywords: Farmer, Work Posture, Musculoskeletal Disorder ABSTRAK Musculoskeletal masih sering dialami pekerja di tempat kerja. Pekerjaan dengan sikap kerja statis dan dilakukan secara terus menerus dalam waktu lama dapat berpotensi menimbulkan keluhan musculoskeletal disorder (MSDs). Petani di Desa Kiawa 1 Barat masih menggunakan cara tradisional atau manual dalam melakukan pekerjaan khususnya saat menanam padi. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi tingkat resiko dari keluhan gangguan musculoskeletal (MSD) dan identifikasi tingkat keluhan MSD pada petani padi di Desa Kiawa 1 Barat Kecamatan Kawangkoan Utara. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner REBA untuk menilai tingkat resiko MSD dan Nordic Body Map untuk mengidentifikasi tingkat keluhan MSD pada petani. 21 petani yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi berpartisipasi dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani yang melakukan posisi kerja dengan tingkat resiko sedang berjumlah 17 orang (81,0%), dan tingkat resiko tinggi berjumah 4 orang (19,0%) dan petani yang mengalami keluhan musculoskeletal dengan tingkat resiko rendah berjumlah 3 orang (14,3%), tingkat resiko sedang berjumlah 17 orang (81,0%), dan tingkat resiko tinggi berjumah 1 orang (4,7%). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu pekerjaan menanam padi melibatkan posisi kerja membungkuk secara terus-menerus yang akan meningkatkan beban kerja fisik dan bisa menyebabkan keluhan musculoskeletal. Kata kunci: Petani, Posisi Kerja, Keluhan Musculoskeleta
ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT MASYARAKAT SUBETNIS TONSAWANG DI KABUPATEN MINAHASA TENGGARA PROVINSI SULAWESI UTARA
ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT MASYARAKAT SUBETNIS TONSAWANG DI KABUPATEN MINAHASA TENGGARA PROVINSI SULAWESI UTARA  Angela F. Mamahani1), Herny E.I. Simbala1), Saroyo1) 1)Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Sam Ratulangi, 95115  ABSTRACT Ethnobotany is a field of science that study the relationship between people (ethnic/community) and their interaction with plants (Kandowangko et al., 2011). Medicinal plants have long been used by traditional communities to treat various diseases. The knowledge of traditional medicine has been passed down from generation to generation (Ruwaidah, 2010). This study aimed to identify the species of medicinal plants that are used by Tonsawang Subethnic community and to describe their utilization. Sampling was conducted using explorative survey method. Data collection was conducted using purposive sampling method. The result showed that there are 40 species of plants from 24 families used in traditional treatment by Tonsawang Subethnic community. The medicinal plants can be eaten, drunk, or used as an external medicine. The medicinal plants are utilized in several ways: boiled; burned; pounded; taped; blended; squeezed; dropped; smeared; brewed in hot water; mixed with other traditional herbs; added salt, sugar, vinegar and coconut oil. Traditional medicinal plants are used for various needs: to treat headaches, intestinal diseases, stomachache, liver diseases, kidney diseases, gastric pain and lung diseases; as a cure for fever, malaria, intestinal parasitism, diarrhea, heartburn, swollen, dizziness, cough, cancer, body odor, itching, cataract and many kinds of external and internal injuries; to stop postpartum bleeding; to speed up recovery rate.  Keywords : Ethnobotany, Medicinal plant, Traditional medicine, Batra, Tonsawang Subethnic ABSTRAK               Etnobotani merupakan suatu bidang ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia (etnik/kelompok masyarakat) dan interaksinya dengan tumbuhan (Kandowangko et al., 2011).  Tumbuhan obat telah lama digunakan oleh masyarakat tradisional dalam penyembuhan berbagai macam penyakit. Pengetahuan pengobatan tradisional telah diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi (Ruwaidah, 2010). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan obat yang digunakan masyarakat subetnis tonsawang dan mendeskripsikan cara pemanfaatannya. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode survey exploratif. Pengambilan data dilakukan menggunakan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 40 jenis tumbuhan dari 24 famili yang digunakan dalam pengobatan tradisional oleh masyarakat Subetnis Tonsawang. Tumbuhan obat dapat dimakan, diminum atau digunakan sebagai obat luar. Tumbuhan obat dimanfaatkan dengan berbagai cara: direbus; diminum; dimakan; dibakar; ditumbuk; ditempel; diblender; diperas; ditetes; dioles; diseduh dengan air panas; dicampurkan dengan ramuan obat tradisional lainnya; ditambahkan garam, gula, cuka, dan minyak kelapa. Tumbuhan obat tradisional digunakan untuk berbagai hal, yaitu: untuk mengobati sakit kepala, usus, perut, liver, ginjal, maag dan paru-paru; sebagai obat demam, malaria, cacingan, diare, panas dalam, bengkak, meriang, batuk, kanker, bau badan, gatal-gatal, katarak, berbagai luka luar dan dalam; menghentikan pendarahan pasca melahirkan; mempercepat penyembuhan luka. Kata kunci: Etnobotani, Tumbuhan obat, Obat tradisional, Batra, Subetnis Tonsawang  Â
IDENTIFIKASI DAN UJI SENSITIFITAS BAKTERI YANG DIISOLASI DARI SPUTUM PENDERITA PNEUMONIA DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU-MANADO TERHADAP ANTIBIOTIK AMPISILLIN, CEFIXIME DAN SIPROFLOKSASIN
IDENTIFIKASI DAN UJI SENSITIFITAS BAKTERI YANG DIISOLASI DARI SPUTUM PENDERITA PNEUMONIA DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU-MANADO TERHADAP ANTIBIOTIK AMPISILLIN, CEFIXIME DAN SIPROFLOKSASIN Renalda Febriany Patty1), Fatimawali1), Defny Silvia Wewengkang1) 1)Program Studi Farmasi Fakultas MIPA UNSRAT Manado ABSTRACT Pneumonia is a global health issues with high rate mortality. This research was aimed to determine the type of bacteria and the sensitivity of bacteria isolated and identified from sputum pneumonia patients in the department of RSUP Prof. Dr. R D Kandou Manado against antibiotics ampicillin, cefixime and ciprofloxacin. This research was used sputum sample that was previously performed instrument sterilization using and autoclave. Inoculated media that was incubated at temperature of 35-36 oC for 24 hours were isolated on agar slat. Identified covered by gram staining, biochemical test, sensitivity test of bacteria to antibiotics, the planting discs, inhibition zone measurement and data analysis. The results shows that there are a 7 types of bacteria causing the infection is Staphylococcus Sp., Ewingella americana, Clostridium Sp., Escherichia vulneris, Enterobacter Spp., Klebsiella Spp. and Aminobacter. The antibiotics with highest sensitivity showed by ciprofloxacin (44,5%) against Staphylococcus, Ewingella americana, Escherichia vulneris, Enterobacter Spp., Aminobacter, and intermediate (22,2%) against Escherichia vulneris, Clostridium Sp., and resistant (33,3%) against Clostridium Sp., Klebsiella Spp., Aminobacter. The highest resistence were showed by ampicillin and cefixime, (94,44%) against Staphylococcus Sp., Ewingella americana, Clostridium Sp., Escherichia vulneris, Enterobacter Spp., Aminobacter, and intermediate (5,56%) against bacteria Ewingella americana, without any sensitivity to antibiotics. Key words : identification, sensitivity, pneumonia, antibiotics, inhibition zone measurement ABSTRAK Pneumonia merupakan masalah kesehatan di dunia dengan angka kematian yang tinggi. Tujuan penelitian ini untuk menentukan jenis bakteri dan tingkat kepekaan bakteri yang diisolasi dan diidentifikasi dari sputum penderita pneumonia di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado terhadap antibiotik ampisilin, cefixime dan siprofloksasin. Penelitian ini menggunakan sampel sputum yang sebelumnya telah dilakukan sterilisasi menggunakan autoklaf. Inokulasi media yang telah diinkubasi ±24 jam pada suhu 35-36 oC dan diisolasi pada media agar miring. Identifikasi meliputi pewarnaan gram, uji biokimia, uji kepekaan bakteri terhadap antibiotik, penanaman cakram, pengukuran zona hambat dan analisis data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Terdapat 7 jenis bakteri penyebab infeksi, yaitu Staphylococcus Sp., Ewingella americana, Clostridium Sp., Escherichia vulneris, Enterobacter Spp., Klebsiella Spp. dan Aminobacter. Dan antibiotik dengan sensitifitas/kepekaan yang tertinggi ditunjukkan oleh Siprofloksasin sebesar 44,5% pada bakteri Staphylococcus Sp., Ewingella americana, Escherichia vulneris, Enterobacter Spp., Aminobacter dan intermediet sebesar 22,2% pada bakteri Escherichia vulneris, Clostridium Sp. dan resisten sebesar 33,3% pada bakteri Clostridium Sp., Klebsiella Spp., Aminobacter. Resisten tertinggi ditunjukkan oleh Ampisillin dan Cefixime sebesar 94,44% pada bakteri Staphylococcus Sp., Ewingella Americana, Clostridium Sp., Escherichia vulneris, Enterobacter Spp., Klebsiella Spp., Aminobacter dan Intermediet sebesar 5,56% pada bakteri Ewingella americana, tanpa adanya sensitifitas terhadap antibiotik.  Kata kunci : identifikasi, sensitifitas, pneumonia, antibiotik, pengukuran zona hambat Â
ANALISIS KANDUNGAN KAFEIN PADA EKSTRAK BUAH KOPI MENTAH DARI PERKEBUNAN MERAPI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS
ANALISIS KANDUNGAN KAFEIN PADA EKSTRAK BUAH KOPI MENTAH DARI PERKEBUNAN MERAPI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS Isnindar1), Subagus Wahyuono2), Sitarina Widyarini3), Yuswanto2) 1)Fakultas Kedokteran, Prodi Farmasi, Universitas Tanjungpura 2)Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada 3)Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada ABSTRACT Coffee is one of the plantation species that has long been cultivated and has a fairly high economic value. The main compound in coffee beans is caffein. This compound affects the central nervous system, muscles and kidneys. The purpose of this research was to determine the content of caffeine in unripe coffee berries extract crude chloroform using UV-Vis spectrophotometer. Chloroform extract was obtained from maceration using chloroform. Caffeine content was analyzed using UV-Vis spectrophotometer method. The maximum wavelength measured was 273 nm. Levels of caffeine in chloroform extract of raw coffee fruit was 838 939 ± 1.6103. Keywords: caffeine, coffee, UV-Vis spectrophotometry ABSTRAK Kopi merupakan salah satu jenis tanaman perkebunan yang sudah lama dibudidayakan dan memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Senyawa dominan didalam buah kopi adalah kafein. Senyawa ini mempengaruhi sistem syaraf pusat, otot, dan ginjal. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui kandungan kafein dalam ekstrak klororform buah kopi mentah dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Ekstrak kloroform diperoleh dari metode maserasi menggunakan pelarut kloroform. Metode analisis kadar kafein menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Panjang gelombang maksimum yang diperoleh 273 nm. Kandungan kafein dalam ekstrak kloroform buah kopi mentah adalah 838.939±1.6103.  Kata kunci : kafein, kopi, spektrofotometri UV-Vis  Â
PENENTUAN KANDUNGAN FENOLIK DAN SUN PROTECTION FACTOR (SPF) DARI EKSTRAK ETANOL DARI BEBERAPA TONGKOL JAGUNG (Zea mays L.)
PENENTUAN KANDUNGAN FENOLIK DAN SUN PROTECTION FACTOR (SPF) DARI EKSTRAK ETANOL DARI BEBERAPA TONGKOL JAGUNG (Zea mays L.) Farrah Umainah Sineke1), Edi Suryanto2), Sri Sudewi1) 1)Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Sam Ratulangi 1)Jurusan Kimia FMIPA Universitas Sam Ratulangi ABSTRACT The purpose of these research is to determine sun protection factor (SPF) ethanol extract on the three types of corn cobs, those are hybrid sweet corn and yellow corn Manado Composite (white and red). The corn cobs was extracted by using the method of refluxing with 80% ethanol. In all three types of corn cobs determined using the Folin-Ciocalteu method and the determination of sun protection factor (SPF) values with a spectrophotometer method. The results of this research indicate that extracts of red corn cobs have the highest content of total phenolic is 61,32 µg/mL followed by extracts of white corn cobs 56,83 µg/mL, extracts of sweet corn cobs 46,42 µg/mL. The highest SPF value at the highest concentration 150 µg/mL found in the extracts of red corn cobs 16,542 µg/mL, followed by extracts of white corn cobs 10,128 µg/mL, and then extracts of sweet corn cobs 5,789 µg/mL. Based on this research, it can be concluded that these three corncob extracts has potential as a sunscreen active ingredients. Key words: Corn cobs, SPF, Sunscreen, Phenolic content ABSTRAK Tujuan penelitian adalah untuk menentukan sun protection factor (SPF) ekstrak etanol dari tiga jenis tongkol jagung yaitu Hibrida sweetcorn, Komposit Manado Kuning (putih dan merah). Tongkol jagung ini diekstrak dengan metode refluks menggunakan pelarut etanol 80%. Pada ketiga jenis ekstrak tongkol jagung ditentukan kandungan total fenolik menggunakan metode Folin-Ciocalteu dan penentuan nilai sun protection factor (SPF) dengan metode spektrofotometer. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak tongkol jagung merah memiliki kandungan total fenolik tertinggi sebesar 61,32 µg/mL diikuti ekstrak tongkol jagung putih sebesar 56,83 µg/mL, ekstrak tongkol jagung manis sebesar 46,42 µg/mL. Nilai SPF tertinggi pada konsentrasi 150 µg/mL terdapat pada ekstrak tongkol jagung merah 16,542 µg/mL, diikuti ekstrak tongkol jagung putih 10,128 µg/mL dan ekstrak tongkol jagung manis 5,789 µg/mL. Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol ketiga jenis tongkol jagung ini memiliki potensi sebagai bahan aktif tabir surya. Kata kunci: Tongkol jagung, SPF, tabir surya, total fenolik  Â
HUBUNGAN ANTARA ASUPAN ZAT BESI DAN PROTEIN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA SISWI DI SMP N 5 KOTA MANADO
HUBUNGAN ANTARA ASUPAN ZAT BESI DAN PROTEIN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA SISWI DI SMP N 5 KOTA MANADO Sendy Seflin Assa1) Nova H. Kapantow1), Budi T. Ratag1) 1)Fakultas Kesehatan Masyarakat UNSRAT Manado, 95115 ABSTRACT Anemia is one of the problems that are serious enough micronutrients with the highest prevalence experienced by Indonesia. One group that malnutrition was a teenager. Teenagers are very prone to anemia than children and adult, because adolescents are in a period of growth and development so that more need of micronutrients and macro-nutrients (Gibney, 2009). Nutritional anemia is still one nutritional problem in Indonesia (besides three nutritional problems), namely: less calories as protein, vitamin A deficiency and endemic goiter). The study was observational analytic cross sectional study design also called cross-sectional study. The study population was all students of class VIII and IX SMP Negeri Manado totaling 5 287 students.The intake of iron in girls who were respondents in this study was 17.5 mg lowest and highest intake of 28.5 mg with an average value was 23.7 mg. Protein intake of female students who were respondents in this study was 26.9 g lowest and highest intake of 81.5 g with average grade is 59.7 g. Lowest student hemoglobin levels was 4.5 mg / mL, with the highest ever at 17.4 mg / mL and an average of 13.60 mg / mL.  Keywords: iron intake, protein intake, anemia ABSTRAK  Anemia merupakan salah satu masalah gizi mikro yang cukup serius dengan prevalensi tertinggi dialami oleh Indonesia. Salah satu golongan yang rawan gizi adalah remaja. Remaja sangat rawan terkena anemia dibandingkan anak-anak dan usia dewasa, karena remaja berada pada masa pertumbuhan dan perkembangan sehingga lebih banyak membutuhkan zat gizi mikro dan zat gizi makro (Gibney, 2009). Anemia gizi masih merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia (disamping tiga masalah gizi) lainnya, yaitu: kurang kalori protein, defisiensi vitamin A dan gondok endemik). Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional atau disebut juga studi potong lintang. Populasi penelitian adalah seluruh siswi kelas VIII dan IX SMP Negeri 5 Manado yang berjumlah 287 siswi. Asupan zat besi pada siswi yang menjadi responden dalam penelitian ini paling rendah adalah 17,5 mg dan asupan tertinggi sebesar 28,5 mg dengan nilai rata-rata adalah 23,7 mg. Asupan protein pada siswi yang menjadi responden dalam penelitian ini paling rendah adalah 26,9 g dan asupan tertinggi sebesar 81,5 g dengan nilai rata-rata adalah 59,7 g. Kadar hemoglobin siswi terendah adalah 4,5 µg/mL, dengan angka tertinggi yaitu sebesar 17,4 µg/mL dan rata-rata 13,60 µg/mL.  Kata kunci: asupan zat besi, asupan protein, anemia  Â
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAN FRAKSI KARANG LUNAK Lobophytum sp. TERHADAP BAKTERI Escherichia coli DAN Staphylococcus aureus
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAN FRAKSI KARANG LUNAK Lobophytum sp. TERHADAP BAKTERI Escherichia coli DAN Staphylococcus aureus Queen Novika Hermina Loing1), Defny Silvia Wewengkang1), Jemmy Abidjulu 1) 1)Program Studi Farmasi FMIPA UNSRAT Manado   ABSTRACT Indonesia is a tropical country which is have so many abundant biodiversity, and one of them is soft coral. This research aims to test the antibacterial activity of soft coral Lobophytum sp. fractions against the Escherichia coli and Staphylococcus aureus. Extraction was done by maceration and fractionation using n-hexane, chloroform, methanol and water as a solvent. The test of antibacterial activity was done by using agar diffusion method. The result shows that extract and fractions have an antibacterial activity. The results conclude that the extract and fractions of Lobophytum sp. effectively inhibit the Escherichia coli and Staphylococcus aureus, in medium and strong category. The Strong inhibitory capacity showed by chloroform fraction. Key words : Lobophytum sp, antibacterial activity, Escherichia coli, Staphylococcus aureus, fractionation, agar diffusion. ABSTRAK Indonesia merupakan negara tropis, yang mempunyai keanekaragaman hayati berlimpah salah satunya ialah karang lunak. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri fraksi karang lunak Lobophytum sp. terhadap bakteri Escherichia coli dan Stapylococcus aureus. Ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol dan fraksinasi menggunakan pelarut n-heksan, kloroform, metanol dan air. Pengujian antibakteri mengunakan metode difusi agar. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak dan fraksi uji memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa ekstrak dan fraksi karang lunak Lobophytum sp efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli serta bakteri Staphylococus aureus dengan kategori sedang dan kuat. Daya hambat terbesar ditunjukkan oleh fraksi kloroform.  Kata kunci : Lobophytum sp, antibakteri, Escherichia coli, Staphylococcus aureus, fraksinasi, difusi agar. Â
HUBUNGAN ANTARA SUPERVISI DAN PEKERJAAN ITU SENDIRI DENGAN KEPUASAN KERJA PEGAWAI DI BALAI KESEHATAN MATA MASYARAKAT PROVINSI SULAWESI UTARA
HUBUNGAN ANTARA SUPERVISI DAN PEKERJAAN ITU SENDIRI DENGAN KEPUASAN KERJA PEGAWAI DI BALAI KESEHATAN MATA MASYARAKAT PROVINSI SULAWESI UTARA Feiby Monica Sanda1), Sulaemana Engkeng1), Adisti A, Rumayar1) 1)Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi ABSTRACT Community Eye Health Center of North Sulawesi Province is a health care institution that can implement intervention specialist medical services and public health effortscan be particularly eye health care. Sipervision and the work it self are all factors that can affect a person’s job statifaction. The purpose of this study was to determine the relationship between supervision and the work it self with the job statisfaction of employees in Community Eye health Center of North Sulawesi Province. This type of method used is analytic survey with cross sectional study involving 47 employes. The data collected was analyzed by univariate and bivariat. Data obtained from kuesioner primary and secondary data obtained from the Center for Community Eye Health profile of North Sulawesi Province. Statistical test used is Chi-square test. The results showed that as many as 28 employees or 59,6% of employees were statisfied and 19 other employees or 40,4% were less stastified. Results of this study suggest a link between supervision and job statisfaction of employees p value of 0.005 (p<0.05) and there was no relionship between the work it self and job statisfaction of employees p value 0.694 (p>0.05). Key words : Job Statisfaction, Supervision, and Job Itself ABSTRAK Balai Kesehatan Mata Masyarakat Provinsi Sulawesi Utara adalah institusi pelayanan kesehatan yang dapat melaksanakan intervensi pelayanan medis spesialistik dan dapat melakukan upaya kesehatan masyarakat khususnya pelayanan kesehatan mata. Supervise dan Pekerjaan Itu Sendiri merupakanfaktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja seseorang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara supervise dan pekerjaan itu sendiri dengan kepuasan kerja pegawai di Balai Kesehatan Mata Masyarakat Provinsi Sulawesi Utara. Metode Penelitian yang digunakan yaitu survey analitik dengan rancangan Cross Sectional Study dengan melibatkan 47 pegwai. Data yang telah dikumpulkan dianalisis secara Univariat dan Bivariat. Data Primer didaptkan dari kuesioner dan data sekunder didapatkan dari profil Balai Kesehatan Mata Masyarakat Provinsi Sulawesi Utara. Uji Statistik yang digunakan adalah uji Chi Square dengan bantuan program computer. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyk 28 pegawai atau 59,6% pegawai merasa puas dan 19 pegawai lainnya atau 40,4% merasa kurang puas. Hasil Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara supervise dengan kepuasan pegawai yaitu p value 0,005 (p<0,05) dan tidak ada hubungan antara pekerjaan itu endiri dengan kepuasan kerja pegawai yaitu p value 0,694 (p>0,05)   Kata Kunci : Kepuasan Kerja, Supervisi, dan Pekerjaan Itu Sendiri Â
FORMULASI DAN UJI STERILITAS HIDROGEL HERBAL EKSTRAK ETANOL DAUN Tagetes erecta L.
FORMULASI DAN UJI STERILITAS HIDROGEL HERBAL EKSTRAK ETANOL DAUN Tagetes erecta L. Hosea Jaya Edy1), Marchaban2*), Subagus Wahyuono2), Agung Endro Nugroho2) 1)Program Doktoral Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 55281 2)Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 55281 *E-mail : [email protected] ABSTRACT Ethanolic extract of T. erecta as raw material locally named bunga tahi kotok. Chemical constituents contained in T. erecta are polyphenols and flavonoids useful in wound healing. Ethanolic extract of T. erecta formulation into the hydrogel highly beneficial in the treatment process. The sterility perfomed also be a critical point in ensuring the quality of medicines. The physical characteristics of the hydrogel highly dependent on the material used gel base. This study used a combination of three types of bases are Carbopol 940, Colagen and CMC. Physical properties testing conducted shortly after the formulations obtained good results. Stability testing conducted during the three months that remain sterile hydrogel obtained or not contaminated with microorganisms. Keywords : Tagetes erecta L, formulation, hydrogel, physical characteristics, sterility ABSTRAK Ekstrak etanol daun Tagetes erecta L. atau biasa dikenal dengan nama tanaman bunga tahi kotok memiliki kandungan flavonoid dan fenolik yang berfungsi membantu proses penyembuhan luka. Formulasi ekstrak daun T. erecta dalam bentuk hidrogel sangat bermanfaat dalam proses pengobatan. Karakteristik fisik hidrogel sangat bergantung terhadap bahan basis gel yang digunakan. Dalam penelitian ini digunakan kombinasi tiga jenis basis yaitu karbopol 940, gelatin dan CMC. Sterilitas sedian juga menjadi titik penting dalam menjamin kualitas obat. Dalam penelitian ini dibuat tiga formula hidrogel dengan bobot basis yang berbeda-beda. Pengujian sifat fisik yang dilakukan sesaat setelah proses formulasi didapatkan hasil yang baik. Pengujian sterilitas yang dilakukan selama tiga bulan didapatkan hasil sediaan yang tetap steril atau tidak terkontaminasi mikroorganisme.  Kata kunci : Tagetes erecta L, formulasi, hidrogel, sifat fisik, sterilitas Â