1026 research outputs found

    UJI DAYA ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL UMBI WORTEL (Daucus carota L.) TERHADAP Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli SECARA IN VITRO

    Get PDF
    UJI DAYA ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL UMBI WORTEL (Daucus carota L.) TERHADAP Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli SECARA IN VITRO Arsenius Y. Sirait1), Nancy C. Pelealu1), Paulina V.Y. YamLean 1) 1)Program Studi Farmasi FMIPA UNSRAT Manado, 95115 ABSTRACT                Infectious diseases is one of the problems in the field of health from time to time continue to grow. Staphylococcus aureus (S. aureus) and Escherichia coli (E. coli) is a bacterium that causes most infections in the community and nosocomial infections. This study aims to provide information about the antibacterial activity of ethanol extract of carrot root of carrot (Daucus carota L.) on Staphylococcus aureus and Escherichia coli in vitro. Extraction was done by maceration method using ethanol 96%. Testing for antibacterial activity using agar diffusion method (Kirby and Bauer diffusion modified) by way of pitting. Antibacterial activity test results analyzed by One Way Anova (analysis of variance one way) followed by Duncan test. The result showedvthat extract concentrations of  5%, 10%, 20%, 40%, and 80% have to provide activities that inhibits the growth of test bacteria. Any increase in concentrations of 5% (3,50 mm), 10% (3,67 mm), 20% (4,83 mm), 40% (5.16 mm) and 80% (6, 67 mm) for a review of Escherichia coli and a concentration of 5% (3,17 mm), 10% (3.83 mm), 20% (4,00 mm), 40% (4,17 mm) and 80% (4,33 mm) to review the bacterium Staphylococcus aureus. But not effective hearts activities inhibit bacteria due to inhibition zone from the second test bacteria each singer were moderate. As for inhibiting have to use a strong inhibition zone (5-10 mm) or the most powerful (> 20 mm).   Keywords: Antibacterial activity, Daucus Carota L, pathogen bacterial, the agar diffusion method ABSTRAK Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah dalam bidang kesehatan yang dari waktu ke waktu terus berkembang. Staphylococcus aureus (S. aureus) dan Escherichia coli (E. coli) merupakan bakteri penyebab terbanyak infeksi di komunitas dan infeksi nosokomial. Penelitian ini bertujuan untuk dapat memberikan informasi tentang aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol umbi wortel (Daucus carota L.) terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli secara in vitro. Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi agar (difusi Kirby dan Bauer yang dimodifikasi) dengan cara sumuran. Hasil uji aktivitas antibakteri dianalisa dengan metode One Way Anova (Analisa varians satu arah) dilanjutan dengan uji Duncan. Hasil data menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak 5%, 10%, 20%, 40%, dan 80% telah memberikan aktivitas yang menghambat pertumbuhan bakteri uji. Ekstrak etanol umbi wortel (Daucus carota L.) memiliki efek antibakteri..Terdapat penambahan diameter zona hambat pada setiap kenaikan konsentrasi 5% (3,50 mm) , 10% (3,67 mm), 20% (4.83 mm), 40% (5,16 mm) dan 80% (6,67 mm) untuk bakteri Escherichia coli dan konsentrasi 5% (3,17 mm) , 10% (3,83 mm), 20% (4,00 mm), 40% (4,17 mm) dan 80% (4,33 mm) untuk bakteri Staphylococcus aureus. Namun tidak efektif dalam menghambat aktivitas bakteri dikarenakan zona hambat dari kedua masing-masing bakteri uji ini termasuk sedang. Sedangkan untuk menghambat harus menggunakan zona hambat yang kuat (5-10 mm) atau paling kuat ( > 20 mm). Kata Kunci: Aktivitas antibakteri,  Daucus Carota [L], bakteri patogen, metode difusi aga

    HUBUNGAN PERILAKU TENAGA KESEHATAN DENGAN KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN DI PUSKESMAS MOPUYA KECAMATAN DUMOGA UTARA KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW

    Get PDF
    HUBUNGAN PERILAKU TENAGA KESEHATAN DENGAN KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN DI PUSKESMAS MOPUYA KECAMATAN DUMOGA UTARA KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW Putu Rivan Gregourian Budiarta1), Chreisye K. F. Mandagi1), Ardiansa A. T. Tucunan1) 1)Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi. ABSTRACT The health worker should understand factor-factor quality of health care needs in the community, because basically health workers must meet thedemands and needs of the users of health services quality. The aim ofresearch toanalyze the relationship between health behavior with the quality of healthservices in health center Mopuya District of North DumogaBolaang Mongondow.The study used a cross-sectional. The study was conducted in sub-district health center Mopuya North Dumoga Mongondow. The study Bolaang was conducted  in November 2015. The sampling technique is done with total sampling. Bigsamples taken, 54 power obtained health. Date through questionnaires.Dateanalysis includes the analysis of univariate and bivariate analysis using the chi-squaretest (P≤0,05) in SPSS.The results of this study showed no significant association with the quality of health services, ie health workers knowledge variables with a P value = 435 (OR = 610). Meanwhile, variable attitudes and actions of health workers showed a significant association with the quality of health services, each with a value of P = 0.010 (OR = 6674) for attitude and P = 0.022 (OR = 5,222) for variable action.From this study it can be concluded that there is a relationship attitudes and actions of medical personnel with the quality of health services, and there is no relationship between the knowledge of health personnel with the quality of health services. Key words: Behavioral health workers, health care quality ABSTRAK Tenaga kesehatan harus memahami faktor-faktor kebutuhan kualitas pelayanan kesehatan pada masyarakat, karena pada dasarnya tenaga kesehatan harus memenuhi tuntutan dan kebutuhan para pemakai jasa pelayanan kesehatan yang berkualitas. Tujuan penelitian untuk menganalisis hubungan perilaku tenaga kesehatan dengan kualitas pelayanan kesehatan di Puskesmas Mopuya Kecamatan Dumoga Utara Kabupaten Bolaang Mongondow. Penelitian ini memakai pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Mopuya Kecamatan Dumoga Utara Kabupaten Bolaang Mongondow. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2015. Teknik penentuan sampel dilakukan dengan total sampling. Besar sampel yang diambil yaitu 54 tenaga kesehatan. Data diperoleh melalui kuesioner. Analisis data meliputi analisi univariat dan analisis bivariat menggunakan uji chi-square (P0,05) pada program SPSS.Hasil penelitian ini menunjukan tidak ada hubungan yang bermakna dengan kualitas pelayanan kesehatan, yaitu variabel pengetahuan tenaga kesehatan dengan nilai P=435 (OR=610). Sedangkan, variabel sikap dan tindakan tenaga kesehatan menunjukan hubungan yang bermakna dengan kualitas pelayanan kesehatan, masing-masing dengan nilai P=0,010 (OR=6.674) untuk sikap dan P=0,022 (OR=5.222) untuk variabel tindakan.Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan sikap dan tindakan tenaga kesehatan dengan kualitas pelayanan kesehatan, dan tidak terdapat hubungan antara pengetahuan tenaga kesehatan dengan kualitas pelayanan kesehatan.   Kata Kunci :Perilaku tenaga kesehatan, kualitas pelayanan kesehatan Â

    HUBUNGAN ANTARA MASA KERJA DAN ARAH ANGIN DENGAN KADAR KOLINESTERASE DARAH PADA PETANI PADI PENGGUNA PESTISIDA DI DESA PANGIAN TENGAH KECAMATAN PASSI TIMUR KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW

    Get PDF
    HUBUNGAN ANTARA MASA KERJA DAN ARAH ANGIN DENGAN KADAR KOLINESTERASE DARAH PADA PETANI PADI PENGGUNA PESTISIDA DI DESA PANGIAN TENGAH KECAMATAN PASSI TIMUR KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW Ais Regi Osang1) , Benedictus S. Lampus1), Audy D. Wuntu1) 1)Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado E-mail : [email protected] ABSTRACT The society growth which is growing year to year needs more and more food necessity, so the government increases the cultivation technique which covers irrigation, fertilization, and plant disease control are activated continuously, more farmers use pesticide to control plant disease to keep the plat from disease,  pesticide which is often used are Isuch as curacron, based on the data taken from East Passi Public Health Center during January 2015- April 2015 there is complaint from the society who come to get the medication with some health disorder such as headache, muscle pain, another general symptoms and indications including queasy, vomit, whirling, which is suspected has correlations with pesticide poisoning. This study aims to determine the correlation between the working period and cardinal direction with blood cholinesterase level on rice farmer who use pesticide in Middle Pangian village, East Passi district, Bolaang Mangondow Regency. This is an analytic survey with cross sectional study design. The number of sample is 35 people which regularly use pesticide during the last 2 months, the working period and cardinal direction is obtained by using questionnaires through interviews. The cholinesterase level is measured by using tintometer kit, it’s tested by spearman rank correlation test with CI 95 % and α= 0.05. The study shows that the cholinesterase level has a significant correlation with the working period (p=0.000), and has significant correlation with cardinal direction (p=0.04). It’s suggested to the farmer who had contacted with the pesticide should take a rest and start to do spraying at least in 2 weeks. It needs to be studied continuously in a large number of samples. Keywords: Cholinesterase level, working period, cardinal direction, rice farmer   ABSTRAK Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dari tahun ke tahun membutuhkan kebutuhan pangan yang semakin besar, sehingga pemerintah meningkatkan teknik budidaya yang meliputi pengairan, pemupukan, dan pengendalian hama penyakit terus diaktifkan, petani banyak menggunakan pestisida untuk mengendalikan hama penyakit, di Desa Pangian Tengah petani menggunakan pestisida untuk menjaga tanaman dari serangan hama penyakit, pestisida yang sering digunakan adalah golongan organofosfat seperti curacron, berdasarkan data yang diambil di Puskesmas Passi Timur sepanjang bulan Januari 2015 – April 2015 terdapat keluhan masyarakat yang datang berobat dengan gangguan kesehatan seperti sakit kepala, nyeri otot, gejala dan tanda umum lainnya termasuk mual, muntah, pusing, yang diduga ada hubungannya dengan keracunan pestisida. Penelitian ini ada lah untuk mengetahui Hubungan antara Masa kerja dan Arah Angin Dengan Kadar Kolinesterase Darah Pada Petani Padi Pengguna Pestisida di Desa Pangian Tengah, Kecamatan Passi Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow. Penelitian ini merupakan survei analitik dengan disain cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 35 orang yang rutin menyemprot pestisida selama 2 bulan terakhir, masa kerja dan arah angin diperoleh menggunakan kuesioner melalui wawancara, kadar kolinesterase diukur menggunakan alat tintometer kit, dengan diuji menggunakan uji korelasi spearman rank dengan CI 95% dan α = 0,05. Penelitian menunjukan bahwa kadar kolineterase berhubungan signifikan dengan masa kerja (p=0,000), dan berhubungan signifikan dengan arah angin (p=0,004). Saran diberikan adalah sebaiknya petani padi yang sudah terpapar pestisida harus melakukan tindakan istirahat dan tidak melakukan tindakan penyemprotan dalam jangka waktu sekurang-kurangnya 2 minggu. perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada sampel yang lebih besar. Kata Kunci: Kadar kolinesterase, masa kerja, arah angin, petani sayur Â

    HUBUNGAN ANTARA PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DENGAN KEJADIAN DEMAM TIFOID DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS UPAI KOTA KOTAMOBAGU TAHUN 2015

    Get PDF
    HUBUNGAN ANTARA PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DENGAN KEJADIAN DEMAM TIFOID DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS UPAI KOTA KOTAMOBAGU TAHUN 2015 Wulandari Paputungan1), Dina Rombot 1) ,Rahayu H.Akili1) 1)Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sam Ratulangi Manado ABSTRACT Typhoid Fever is the a kind of disease that caused by Salmonella typhi bacterial infection. This disease is still be a public health problem especially in development countries. In Indonesia Typhoid Fever is endemic.  It is firmly related with health and clean life behavior (PHBS). The occurrence of typhoid fever in the Upai public health center was 302 cases in 2015. The Purposeof this study was to prove the relationship between health and clean life behavior (PHBS) with the incidence of typhoid fever in the working area of Upai public health center of Kotamobagu city in 2015. Methods.This was an analytic-observational study with used cross sectional study design. The population of this study are all of Typhoid Fever patients on January-August 2015, based on medical record of Upai public health center. The sampels of this study are 75 cases. The research instruments are questionnaire and check list sheets. The data were analyzed by using chi-square method. The result.The study result showed that there is relationship between the habits of washing hands after defecation (p=0,041), the habits of washing hand before eating (p=0,047), the habits of eating outside the house (p=0,030), socio economic level (p=0,047), and there is no correlation between the habits of washing raw foods to be eaten immediately (p=0,774) with the occurrence of typhoid fever. The Conclusion ot this Health and clean life behavior (PHBS) can affect the incidence of typhoid fever. Keywords : Typhoid Fever, Health and Clean Life Behavior (PHBS) ABSTRAK Demam tifoid adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri  Salmonella typhi. Penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan terutama di negara berkembang. Di Indonesia, demam tifoid bersifat endemis.  Penyakit ini berhubungan erat dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di masyarakat. Angka kejadian demam tifoid di Puskesmas Upai Kota Kotamobagu adalah sebanyak 302 kasus pada tahun 2015. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk membuktikan Hubungan antara Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan Kejadian Demam Tifoid di Wilayah Kerja Puskesmas Upai Kota Kotamobagu Tahun 2015. Jenis penelitian ini adalah penelitian yang bersifat survei analitis dengan menggunakan metode cross sectional. Sampelditentukan secara random sampling. Populasi dari penelitian ini adalah semua pasien penderita penyakit demam tifoid pada Januari-Agustus tahun 2015, yang diambil berdasarkan data rekam medik Puskesmas Upai Kota Kotamobagu. Sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 75 responden. Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioner dan lembar ceklis. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan  rumus uji Chi Square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan mencuci tangan dengan sabun setelah buang air besar (p=0,041), kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan (p=0,047),kebiasaan makan di luar rumah (p=0,030), dan tidak ada hubungan antara kebiasaan mencuci bahan makanan mentah yang akan dikonsumsi langsung dengan kejadian demam tifoid (p=0,774). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa ada Hubungan antara Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan Kejadian Demam Tifoid di Wilayah Kerja Puskesmas Upai Kota Kotamobagu Tahun 2015. Kata Kunci : Demam Tifoid, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).Salmonella typh

    FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS SEDIAAN SAMPO ANTIKETOMBE EKSTRAK ETANOL DAUN ALAMANDA (Allamanda cathartica L.) TERHADAP PERTUMBUHAN JAMUR Candida albicans SECARA IN VITRO

    Get PDF
    FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS SEDIAAN SAMPO ANTIKETOMBE EKSTRAK ETANOL DAUN ALAMANDA (Allamanda cathartica L.) TERHADAP PERTUMBUHAN JAMUR Candida albicans SECARA IN VITRO Mardinda Bellia Sitompul1), Paulina V.Y YamLean1), Novel S. Kojong1) 1)Program Studi Farmasi FMIPA UNSRAT Manado, 95115 ABSTRACT Dandruff is an anomaly condition on the scalp and one of the causal factor is Candida albicans. Allamanda cathartica leaf a natural substance which is containing of anti-fungi compound, namely alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, triterpenoid, and steroid. The purpose of this research was to make the formulation of anti-dandruff shampoo preparation of Allamanda cathartica Leaf Ethanol Extract with three variations of concentration which were 15%, 30% and 45% and to examine the increasing concentration effect of Allamanda cathartica Leaf Ethanol Extract in anti-dandruff shampoo preparation to anti-fungi activity. The result of this research proved that Allamanda cathartica leaf could be formulated as an anti-dandruff shampoo preparation which was eligible in organoleptic, pH, foam height and water level. Anti-fungi activity was examined with well diffusion test to determine the anti-fungi activity by observing the inhibited area. One way anova test showed that there were the significant difference in the diameter of inhibitory zone and was continued with Duncan test with 5% of confidence level showed that the highest inhibitory zone diameter was in concentration 45% and control (+) Ketomed Ketoconazole shampoo. Keywords: Allamanda cathartica leaf, anti-dandruff shampoo, Candida albicans ABSTRAK Ketombe merupakan suatu keadaan anomali pada kulit kepala dan salah satu penyebabnya ialah jamur Candida albicans. Daun Allamanda cathartica merupakan bahan alam yang mengandung senyawa antijamur, yaitu alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, triterpenoid dan steroid. Penelitian ini bertujuan untuk membuat formulasi sediaan sampo antiketombe ekstrak etanol daun Allamanda cathartica dengan tiga variasi konsentrasi yakni 15%, 30% dan 45% dan menguji pengaruh peningkatan konsentrasi ekstrak etanol daun Allamanda cathartica pada sediaan sampo antiketombe terhadap aktivitas antijamur. Hasil penelitian membuktikan bahwa daun Allamanda cathartica dapat diformulasikan sebagai sediaan sampo antiketombe yang memenuhi persyaratan seperti organoleptik, pH, tinggi busa dan kadar air. Uji aktivitas antijamur dilakukan dengan metode difusi cara sumuran untuk mengetahui efektivitas antijamur dengan mengamati daerah hambatan. Uji one way anova menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata pada diameter zona hambat dan dilanjutkan dengan uji Duncan dengan taraf kepercayaan 5% menunjukkan diameter zona hambat tertinggi pada konsentrasi 45% dan kontrol (+) sampo Ketomed Ketokonazol.   Kata kunci: daun Allamanda cathartica, sampo antiketombe, Candida albicans Â

    UJI EFEK ANTIBAKTERI EKSTRAK KULIT BIJI KAKAO (Theobroma cacao L)TERHADAP BAKTERI Streptococcus mutans

    Get PDF
    UJI EFEK ANTIBAKTERI EKSTRAK KULIT BIJI KAKAO (Theobroma cacao L)TERHADAP BAKTERI Streptococcus mutans Armiati 1), Michael A. Leman1), Olivia Amelia Waworuntu1) 1)Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran UNSTRAT ABSTRACT Dental caries is an oral disease that has a large enough of incidents in the society and one of the dental and oral healty problems are most prominent in Indonesia. The main bacterial cause of dental caries is Streptococcus mutans. The skin is part of the cocoa beans cocoa fruit  cocoa bean wraps and is a waste of the chocolate industry. Skin cocoa beans contains antibacterial compounds such as polyphenols, flavonoid. The objectives of this research is to determine the effect of antibacterial skin extract cocoa (Theobroma cacao L) against Streptococcus mutans. This research is experimental research with modified Kirby-bauer method using filter paper. Skin samples of cocoa (Theobroma cacao L) were taken from the city of Manado then ethanol 96%. Streptococcus mutans bacteria taken from a pure stock Microbiology Laboratory, Faculty of Medicene Sam Ratulangi university.The result of this research say that the total diameter of inhibition zone bark extract of cocoa beans against Streptococcus mutans of 97,27 mm with a mean value of 19, 46 mm. That skin extract cocoa beans have an antibacterial effect in inhibiting the growth of Streptococcus mutans bacteria. Inhibition zone bark extract of cocoa beans against the bacteria Streptococcus mutans 19, 46 mm. Key words : Skin cocoa (Theobroma cacao L ), Streptococcus mutans, Inhibition zone ABSTRAK Karies gigi  merupakan penyakit gigi dan mulut yang memiliki angka kejadian cukup besar di masyarakat dan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling menonjol di Indonesia. Bakteri utama penyebab karies gigi adalah bakteri Streptococcus mutans. Kulit biji kakao adalah bagian dari buah kakao yang membungkus biji kakao dan merupakan limbah dari industri coklat. Kulit biji kakao mengandung senyawa yang bersifat antibakteri seperti polifenol, dan falavonoid. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efek antibakteri  ekstrak kulit biji kakao (Theobroma cacao L.) terhadap bakteri Streptococcus mutans. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan metode modifikasi Kirby-bauer menggunakan kertas saring. Sampel Kulit biji kakao (Theobroma cacao L.) diambil dari Kota Manado kemudian diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Bakteri Streptococcus mutans diambil dari stok bakteri murni Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado.Hasil penelitian ini didapatkan total diameter zona hambat ekstrak kulit biji kakao terhadap streptococcus mutans sebesar 97,27 mm dengan nilai rerata sebesar 19,46 mm. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa ekstrak kulit biji kakao memiliki efek antibakteri dalam menghambat pertumbuhan bakteri streptococcus mutans. Zona hambat ekstrak kulit biji kakao terhadap bakteri streptococcus mutans 19,46 mm.   Kata kunci: kulit biji kakao (Theobroma cacao L.), Streptococcus mutans, zona hambat. Â

    HUBUNGAN ANTARA SOSIAL EKONOMI KELUARGA DENGAN STATUS GIZI PADA PELAJAR DI SMP WILAYAH KECAMATAN MALALAYANG 1 KOTA MANADO

    Get PDF
    HUBUNGAN ANTARA SOSIAL EKONOMI KELUARGA DENGAN STATUS GIZI PADA PELAJAR DI SMP WILAYAH KECAMATAN MALALAYANG 1 KOTA MANADO Karla F. Rompas1), Maureen I. Punuh1), Nova H. Kapantow1) 1)Fakultas Kesehatan Masyarakat UNSRAT Manado, 95115   ABSTRACT Poverty and malnutrition are interrelated phenomena, so that people's nutritional status is closely related with efforts to improve the economy. The nutritional status in North Sulawesi in 2010 aged 6-12 years consists of very thin 2,1%, thin 5.4%, fat 6.4%, while in 2013 very thin increased by 4%, thin 7,2%, fat 10,8% and very fat 8,8%.This reasearch use analitic observation method with cross sectional approach conducted in January-March 2016 on students in SMP Spektrum Malalayang Manado and SMP Kristen Lahai Roi Malalayang Manado. Total populat ion in this research is 94 students. Data were analyzed using Spearman correlation test at the significance level 95% (α = 0,05).Based on statistical analysis using Spearman correlation test, Father's level of education r= 0,085 with value p as big as 0,415 (> 0,05) maternal education r= 0,129 with value p 0,214(> 0,05) the number of dependents r= 0,034 with value p 0,745 (p>0,05) the amount of family income r=0,424 with value p 0,000 (p<0,05).There is a significant relationship between family income and there is no meaningful relationship between the father's education, mother's education, number of dependents and nutritional status. Keywords: Nutritional Status, Student, Socio-economic status families ABSTRAK Kemiskinan dan kurang gizi merupakan fenomena yang saling terkait, sehingga status gizi masyarakat erat kaitannya dengan upaya peningkatan ekonomi. Status gizi di Sulawesi Utara tahun 2010 umur 6-12 tahun terdiri atas  sangat kurus 2,1 %, kurus 5,4%,gemuk 6,4% sedangkan tahun 2013 meningkat yaitu sangat kurus 4%, kurus 7,2% gemuk 10,8% dan sangat gemuk 8,8%. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada bulan Januari-Maret tahun 2016 pada pelajar di SMP Spektrum Malalayang Kota Manado dan SMP Kristen Lahai Roi Malalayang Kota Manado. Jumlah populasi pada penelitian ini yaitu 94 pelajar. Analisa data menggunakan uji Korelasi spearman pada tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Berdasarkan analisis statistik dengan menggunakan uji Korelasi spearman, tingkat pendidikan Ayah r= 0,085 dengan nilai  p sebesar 0,415 (> 0,05) pendidikan Ibu r= 0,129 dengan nilai p 0,214(> 0,05) jumlah tanggungan keluarga r= 0,034 dengan nilai p 0,745 (p>0,05) jumlah pendapatan keluarga r=0,424 dengan nilai p 0,000 (p<0,05). Terdapat hubungan yang bermakna antara pendapatan keluarga dan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pendidikan ayah, pendidikan ibu, jumlah tanggungan keluarga dengan status gizi.   Kata Kunci : Status Gizi, Pelajar , Status Sosial ekonomi keluarg

    GAMBARAN ABRASI GIGI DITINJAU DARI METODE MENYIKAT GIGI PADA MASYARAKAT DI LINGKUNGAN II KELURAHAN MAASING KECAMATAN TUMINTING KOTA MANADO

    Get PDF
    GAMBARAN ABRASI GIGI DITINJAU DARI METODE MENYIKAT GIGI PADA MASYARAKAT DI LINGKUNGAN II KELURAHAN MAASING KECAMATAN TUMINTING KOTA MANADO Patrick Barten Kalangie1), Paulina Gunawan1), P.S. Anindita1) 1)Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi   ABSTRACT Tooth abrasion is the loss of tooth substance through abnormal mechanical process. Clinical appearance of tooth abrasion can be seen by the sliced or grooved formed ‘V’ in the root between crown and gingiva. Inaccurate technique could be one cause of tooth abrasion.The aim of this study is to get description of tooth abrasion in the society at fields II Maasing village, Tuminting, Manado. This study using descriptive research plan with cross sectional technique, and simple random sampling using lottery technique. The data about tooth brushing method was taken by interview, then the data about tooth abrasion was taken with clinical examination of condition on each tooth using tooth wear index according to Smith and Knight. The amount of subject in this study is 205. The result of this study shows that most of the subject male or female have tooth abrasion (74,15%). Group aged 56-65 years old is the age based group with all member have tooth abrasion (100%). Premolar is tooth which have highest frequency of abrasion, whether it is upper jaw/maxilla (17,4%) or lower jaw/mandibula (20%). Tooth abrasion that happened both on the left side and right side of median line have amount with not much difference (50,9% and 49,1%). Tooth abrasion happened mostly with score 1 which is minimal loss of contour (48,8%). The horizontal method is the most using method both on anterior (65,4%) and posterior (69,3%). The subject that brush teeth using horizontal method at the anterior and posterior side mostly (66,1% and 72,2%) show tooth abrasion. Keywords : tooth abrasion, tooth brushing method ABSTRAK Abrasi gigi adalah hilangnya substansi gigi melalui proses mekanis yang abnormal. Gambaran klinis abrasi gigi dapat dilihat dari terjadinya bentuk irisan atau parit berbentuk ‘V’ pada akar diantara mahkota dan gingiva. Tindakan menyikat gigi yang tidak tepat dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya abrasi gigi. Tujuan dari penelitian ini untuk mendapatkan gambaran abrasi gigi ditinjau dari metode menyikat gigi pada masyarakat di lingkungan II kelurahan Maasing, kecamatan Tuminting, kota Manado. Penelitian menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan jenis penelitian cross sectional, dan pengambilan sampel dilakukan secara acak sederhana (simple random sampling) dengan teknik undian (lottery technique). Pengambilan data sampel mengenai metode menyikat gigi didapat dengan cara wawancara, kemudian data abrasi gigi diperoleh dengan melakukan pemeriksaan klinis keadaan tiap gigi dengan menggunakan indeks keausan gigi (tooth wear index) menurut Smith dan Knight. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 205 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar subjek penelitian baik subjek berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan mengalami abrasi gigi (74,15%). Kelompok usia 56-65 tahun menjadi kelompok usia yang seluruhnya mengalami abrasi gigi (100%). Jenis gigi yang paling banyak mengalami abrasi yaitu gigi premolar, baik pada rahang atas (36,65%) maupun rahang bawah (38%). Abrasi gigi yang terjadi baik pada sisi kanan garis median maupun sisi kiri garis median jumlahnya tidak jauh berbeda (50,9% dan 49,1%). Abrasi gigi paling banyak terjadi dengan skor 1 yaitu kehilangan struktur enamel dalam jumlah sedikit (48,8%). Metode horizontal merupakan metode menyikat gigi yang paling banyak digunakan baik pada bagian anterior (65,4%) maupun bagian posterior (69,3%). Subjek penelitian yang menyikat gigi dengan menggunakan metode horizontal pada daerah anterior dan posterior sebagian besar (66,1% dan 72,2%) menunjukkan abrasi gigi.   Kata kunci : abrasi gigi, metode menyikat gigi Â

    UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa oleifera L.) TERHADAP BAKTERI Escherichia coli DAN Staphylococcus aureus

    Get PDF
    UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN KELOR           (Moringa oleifera L.) TERHADAP BAKTERI Escherichia coli DAN Staphylococcus aureus Lusi L.R.H Dima1), Fatimawali 1), Widya Astuty Lolo 1) 1)Program Studi Farmasi FMIPA UNSRAT Manado, 95115 ABSTRACT Plants are sources of various types of chemical compounds are efficacious drugs, one of which is an anti-infective. This study aims to determine wheter moringa leaf extract contain antibacterial activity and to find out the minimum inhibitory concentration of moringa leaf extract against E.coli and S.aureus. The method used is agar diffusion method. As a result, it is found that the extract of Moringa leaves (Moringa oleifera L.) have antibacterial activity against E.coli and S. aureus at concentrations of 5%, 10%, 20%, 40%, and 80% respectively. Minimum Inhibitory Concentration (MIC) obtained were 13 mm against E. coli and 12 mm against S. aureus. Differences in the concentration of Moringa leaves (Moringa oleifera L.) extract affect the growth of the bacteria E. coli and S. aureus, where the higher concentration given, the greater the antibacterial activity of inhibiting the growth of bacteria. Keywords: Moringa oleifera, antibacterial activity, inhibition zone measurement. ABSTRAK Tumbuhan merupakan sumber berbagai jenis senyawa kimia yang berkhasiat obat yang salah satunya ialah sebagai antiinfeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah daun kelor (Moringa oleifera L.) memiliki aktivitas antibakteri dan mengetahui berapa kadar hambat minimum dari ekstrak daun kelor terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Metode yang digunakanya itu metode difusi agar. Dari hasil penelitian yang dilakukan diketahui bahwa ekstrak daun kelor mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli dan Stapylococcus aureus pada konsentrasi 5%, 10%, 20%, 40%, dan 80 % dan Kadar Hambat minimum (KHM) yang didapat yaitu 13 mm pada bakteri Escherichia coli dan 12 mm pada bakteri Stapylococcus aureus. Perbedaan konsentrasi ekstrak daun kelor mempengaruhi penghambatan pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Stapylococcus aureus, dimana semakin tinggi konsentrasi yang diberikan maka semakin besar pula aktivitas antibakteri penghambatan pertumbuhan bakteri. Kata kunci : tanamankelor (Moringa oleifera L.), aktivitas antibakteri, pengukuran zona hamba

    UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN TOKSISITAS EKSTRAK ETANOL DAUN FOKI SABARATI (Solanum Torvum)

    Get PDF
    UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN TOKSISITAS EKSTRAK ETANOL DAUN FOKI SABARATI (Solanum Torvum) Julfitriyani1), Max Revolta Runtuwene1), Defny Wewengkang1) 1) Program Studi Farmasi FMIPA UNSRAT Manado, 95115 ABSTRACT Foki sabarati or known as takokak is of many plants that can be use as vegetble and be eat raw in North Maluku especially in Tidore Island, this plant allegedly potential as antioxidant. The aims of this research is to determine the antioxidant activity and toxicity level of Foki Sabarati ethanol extract. The extraxtion method was done using maceration and ethanol as solvent. Total phenolic and total flavonoid content also antioxidant activity were done with DPPH method and toxicity assay with BSLT method. Based on the result Foki Sabarti has 58,375 mg/L as the highest total phenolic content, 12,807 mg/L flavonoid content. The highhest value of antioxidant activity in Foki Sabarati is its IC50 value 49,824 mg/L and toxicity level in ethanol extract with LC50 113,762 mg/L which categorized as toxic. Keywords : foki sabarati leaves, total phenolic, total flavonoid, antioxidant activity, DPPH, toxicity, BSLT ABSTRAK Foki sabarati atau biasa disebut takokak merupakan salah satu tanaman yang dimanfaatkan sebagai sayuran dan lalapan di Maluku Utara khususnya dipulau Tidore, tanaman ini diduga berpotensi sebagai antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan aktivitas Antioksidan pada ekstrak etanol daun foki sabarati dan menentukan kadar toksisitas pada ekstrak etanol daun foki sabarati. Metode ekstraksi dalam penelitian ini menggunakan maserasi dengan pelarut etanol. Ekstrak yang diperoleh ditentukan total fenolik dan flavonoid serta diuji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH dan toksisitas dengan metode BSLT. Berdasarkan hasil yang didapat ekstrak daun foki sabarati memilki kandungan total fenolik paling tinggi sebesar 49,015 mg/L, dengan diikuti total flavonoid sebesar mg/L. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak foki sabarati memiliki aktivitas antioksidan yang paling baik dengan nilai aktivitas IC50 11,965 mg/L dan Kadar toksisitas pada ekstrak etanol daun foki sabarati memiliki sifat toksik dengan nilai LC50 sebesar 113,762 mg/L.   Kata kunci : daun foki sabarati, total fenolik, total flavonoid, aktivitas antioksidan, DPPH, toksisitas, BSLT   Â

    978

    full texts

    1,026

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    PHARMACON
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇