1026 research outputs found

    TINGKAT PENGETAHUAN DAN PERILAKU PENGGUNAAN ANTIBIOTIK SECARA SWAMEDIKASI PADA MASYARAKAT YANG BERKUNJUNG DI APOTEK KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW

    Get PDF
    ABSTRACTAntibiotics are drugs used for infectious diseases. Irrational use of antibiotics can lead to resistance. In self-medication, inappropriate use of antibiotics often occurs. This is due to the lack of public knowledge about the proper and correct use of antibiotics. This study aims to determine the level of knowledge and behavior of using self-medicated antibiotics in the community who visit the Bolaang Mongondow District Pharmacy. This study was a descriptive observational study with a cross-sectional approach to 195 respondents who met the inclusion criteria. Based on the results of the study, it is known that the level of public knowledge about antibiotics is still low (54%) and the level of behavior in using antibiotics is sufficient (61%).. Keywords: Antibiotics, self-medication, knowledge, use  ABSTRAKAntibiotik merupakan obat yang digunakan untuk penyakit infeksi. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat mengakibatkan resistensi. Dalam swamedikasi penggunaan antibiotik yang tidak tepat sering terjadi. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang penggunaan antibiotik yang baik dan benar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan perilaku penggunaan antibiotik secara swamedikasi pada masyarakat yang berkunjung di Apotek Kabupaten Bolaang Mongondow. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bersifat observasional dengan pendekatan cross-sectional terhadap 195 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa tingkat pengetahuan masyarakat tentang antibiotik masih tergolong kurang (54%) dan tingkat perilaku penggunaan antibiotik tergolong cukup (61%). Kata kunci: Antibiotik, swamedikasi, pengetahuan, penggunaa

    FORMULASI PASTA GIGI EKSTRAK ETANOL BUAH PALA (Myristica fragrans Houtt.)

    Get PDF
    ABSTRACTNutmeg (Myristica fragrans Houtt.) is a plant with the main compounds of essential oils, terpenoids and aromatic compounds. This study aimed to determined the optimum composition of Na CMC in the toothpaste preparation of nutmeg ethanol extract. It used the trial and error method to determined some variations composition of Na CMC (2%; 4%; 6%; 8%). A formulation of toothpaste was performed by levigation method. Determination of the composition was based on the result of the physical examination of the best and qualified preparations, included organoleptic test, homogeneity test, spreadability test, adhesion test, syneresis test and pH test. The results showed that the composition of Na CMC was 4%. Keywords: Nutmeg, Toothpaste, Na CMC.  ABSTRAKPala (Myristica fragrans Houtt.) merupakan tumbuhan yang memiliki senyawa utama minyak atsiri, terpenoid dan senyawa aromatik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi optimum Na CMC pada sediaan pasta gigi ekstrak etanol buah pala. Metode yang digunakan untuk menentukan konsentrasi Na CMC (2%; 4%; 6%; 8%) ialah trial and error. Pembuatan pasta gigi dilakukan menggunakan metode levigasi. Penentuan komposisi didasarkan pada hasil uji pemeriksaan fisik sediaan yang terbaik dan memenuhi syarat, diantaranya uji organoleptik, uji homogenitas, uji daya sebar, uji daya lekat, uji sineresis dan uji pH. Hasil penelitian menunjukkan komposisi Na CMC ialah 4%.  Kata kunci: Pala, Pasta gigi, Na CMC

    UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAN FRAKSI SPONS Callyspongia aerizusa DARI PERAIRAN PULAU MANTEHAGE MANADO

    Get PDF
    ABSTRACTCallyspongia aerizusa is a type of sponge that has a compound with high activity and has a porous body surface structure so that it is included in the phylum of porifera. This study aims to determine the presence of antibacterial activity from the extracts and fractions of Callyspongia aerizusa sponge collected from the Mantehage Island waters of the Manado against Escherichia coli and Staphylococcus aureus bacteria. The samples were extracted by maceration method using ethanol solvent and fractionated using solvent of methanol, chloroform and n-hexane, respectively. Antibacterial activity testing was carried out using the disc diffusion agar method of Kirby and Bauer with a slight modification. The results showed that the chloroform fraction had antibacterial activity in the strong inhibitory category, while the methanol fraction had antibacterial activity in the moderate inhibitory category. Keywords: Callyspongia aerizusa, Antibacterial, Escherichia coli, Staphylococcus aureus. ABSTRAKCallyspongia aerizusa ialah salah satu jenis spons yang memiliki senyawa dengan aktivitas tinggi dan memiliki struktur permukaan tubuh yang berpori – pori sehingga dimasukkan kedalam filum porifera. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya aktivitas antibakteri dari ekstrak dan fraksi Spons Callyspongia aerizusa yang diperoleh dari perairan Pulau Mantehage Manado terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Sampel diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol dan difraksinasi menggunakan pelarut metanol, kloroform dan n- heksan. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode disc diffusion agar oleh Kirby dan Bauer dengan sedikit modifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi kloroform memiliki aktivitas antibakteri dengan kategori daya hambat kuat, sedangkan fraksi metanol memiliki aktivitas antibakteri dengan kategori daya hambat sedang. Kata Kunci : Callyspongia aerizusa, Antibakteri, Escherichia coli, Staphylococcus aureu

    ANALISIS MINIMALISASI BIAYA PENGGUNAAN RISPERIDON DAN HALOPERIDOL PADA PASIEN SKIZOFRENIA RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT JIWA Prof. Dr. V. L. RATUMBUYSANG

    Get PDF
    ABSTRACTSchizophrenia is a chronic mental illness with presentations of auditory and delusional (persistent false beliefs) to the impaired function of a chronic it is associated with social and financial burdens, not only for paitents but also for extended families and communities. This Study aims to analyze the cost minimization of using antipsychotics in schizophrenia therapy in  Prof. Dr. V. L. Ratumbuysang Mental Hospital in 2019. This research is observational with retrospective retrieval data. The sample obtained by using quota sampling amounted to 65 medical records. The data obtained are Cost Minimization Analysis to find out the most minimal treatment cost among risperidon 2mg and haloperidol 5mg drugs. The results showed that the average total cost of risperidon 2mg with treatment duration for 42 days and 40 days was Rp. 7.783.496,00/patient and Rp. 7.294.567,00/patient. The average total cost of haloperidol 5mg with duration of treatment for 42 days and 40 days was 7.931.505,00/patient and Rp. 7.234.919,00/patient. The minimal cost antipsychotic therapy in schizophrenia is haloperidol with a duration of 40 days of treatment. Keywords: Cost Minimization Analysis, Schizophrenia, Risperidon, Haloperidol. ABSTRAKSkizofrenia merupakan penyakit mental yang kronis dengan presentasi yang bervariasi seperti halusinasi pendengaran (auditorik) dan delusi (keyakinan palsu yang tetap) hingga kerusakan fungsi psikososial. Sebagai penyakit kronis hal ini terkait dengan beban sosial dan keuangan, tidak hanya untuk pasien tetapi juga untuk keluarga dan masyarakat yang lebih luas. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis minimalisasi biaya penggunaan antipsikotik pada terapi skizofrenia di RSJ. Prof. Dr. V. L. Ratumbuysang pada tahun 2019. Penelitian ini bersifat observasional dengan pengambilan data secara retrospektif. Sampel diperoleh dengan menggunakan metode kuota sampling berjumlah 65 rekam medis. Data yang diperoleh dilakukan analisis minimalisasi biaya untuk mengetahui biaya pengobatan yang paling minimal dari segi biaya antara risperidon 2mg dan haloperidol 5mg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya total rata-rata antipsikotik risperidon 2mg dengan lama pengobatan selama 42 hari dan 40 hari adalah Rp. 7.783.496,00/pasien dan Rp. 7.294.567,00/pasien. Biaya total rata-rata antipsikotik haloperidol 5mg dengan lama pengobatan selama 42 hari dan 40 hari adalah Rp. 7.931.505,00/pasien dan Rp. 7.234.919,00/pasien. Antipsikotik yang memiliki biaya paling minimal pada terapi skizofrenia adalah haloperidol dengan lama pengobatan selama 40 hari. Kata Kunci: Analisis Minimalisasi Biaya, Skizofrenia, Risperidon, Haloperidol

    UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK N-HEKSAN BIJI BUAH LANGSAT (Lansium domesticum Corr) TERHADAP BAKTERI Staphylococus Aureus DAN Klebsiella Pneumoniae

    Get PDF
    ABSTRACT Langsat fruit seeds (Lansium domesticum Corr) are  part of the plant that is known to be antibacterial. Therefore, exploration of langsat fruit as an antibacterial is needed. The purpose of this study was to determine the antibacterial activity of langsat fruit seeds against Staphylococus aureus and Klebsiella pneumoniae using the disc method and the well method. Langsat fruit seed powder was macerated using the maceration method with n-hexane solvent and tested for antibacterial activity. Inhibition of the n-hexane extract of langsat fruit seeds showed the largest clear zone diameter value given by the lowest concentration of 10% by the disc and sumurun method on the Staphylococus aureus and Klebsiella pneumoniaes bacteria 13.6 mm; 12.6 mm; 13 mm; and 14.6 mm. This shows that the n-hexane extract of langsat fruit seeds has strong antibacterial activity against Staphylococus aureus and Klebsiella pneumonia bacteria both by the disc method and the well method. Keywords: langsat fruit seeds, Klebsiella pneumoniae, disc, pitting method, Staphylococus aureus  ABSTRAKBiji buah langsat (Lansium domesticum Corr) merupakan salah satu bagian tanaman yang telah dikenal sebagai antibakteri. Maka dari itu, eksplorasi buah langsat sebagai antibakteri sangat diperlukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri biji buah langsat terhadap bakteri Staphylococus aureus  dan Klebsiella pneumoniae menggunakan metode cakram dan metode sumuran. Serbuk biji buah langsat dimaserasi menggunakan metode maserasi dengan pelarut n-Heksan dan dilakukan uji aktivitas antibakteri. Daya hambat ekstrak n-Heksan biji buah langsat menunjukkan nilai diameter zona bening terbesar diberikan oleh konsentrasi terendah 10% dengan metode cakram (13,6 mm pada bakteri Staphylococus aureus dan 12,6 mm pada bakteri Klebsiella pneumoniae) dan metode sumuran (13 mm pada bakteri Staphylococus aureus dan 14,6 mm pada bakteri Klebsiella pneumoniae). Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak n-Heksan biji buah langsat memiliki aktivitas antibakteri yang kuat terhadap bakteri Staphylococus aureus  dan Klebsiella pneumoniae baik dengan metode cakram maupun metode sumuran. Kata Kunci: biji buah langsat,Klebsiella pneumoniae, metode cakram, sumuran, Staphylococus aureu

    INVENTARISASI TUMBUHAN OBAT DAN PEMANFAATANNYA SECARA TRADISIONAL OLEH MASYARAKAT DI DESA AMESIU KABUPATEN KONAWE, SULAWESI TENGGARA

    Get PDF
    ABSTRACT Amesiu village is one of the areas that has a considerable potency of medicinal plants. This study aims to inventory the types of plants used as medicine and to study the utilization of medicinal plants in the village of Pondidaha Pondidaha District Konawe. This study uses qualitative deskrpative method with data collection techniques through interviews, observations, and documentation. The data of the research results are analyzed descriptively and presented in the form of descriptions, tables and images. The results showed that in Amesiu Village there are 39 species of 27 plant families used by the community as traditional medicine materials. Organs or parts of plants that are utilized as the manufacture of medicinal herbs, namely roots, rhizomes, tubers, stems, bark, leaves, fruits and seeds. The most widely used part of plants as medicine is leaves. The processing process is done by boiling, shredded, pounded and burned. The most widely used way of processing is boiled. Types of diseases that can be treated with medicinal plants as many as 31 types of diseases.  Keywords : Inventory, Medicinal Plants, Amesiu Village ABSTRAKDesa Amesiu merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi tumbuhan obat yang cukup banyak. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi jenis-jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat  dan untuk mengkaji pemanfaatan tumbuhan obat di Desa Amesiu Kecamatan Pondidaha Kabupaten Konawe. Penelitian ini menggunakan metode deskrptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk deskripsi, tabel dan  gambar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Desa Amesiu terdapat 39 spesies dari 27 famili tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan pengobatan tradisional. Organ atau bagian tumbuhan yang dimanfaaatkan sebagai pembuatan ramuan obat yaitu akar, rimpang, umbi, batang, kulit batang, daun, buah dan biji. Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan sebagai obat yaitu daun. Proses pengolahan dilakukan dengan cara direbus, diparut, ditumbuk dan dibakar. Cara pengolahan yang paling banyak digunakan adalah direbus. Jenis penyakit yang dapat diobati dengan tumbuhan obat sebanyak 31 jenis penyakit.  Kata kunci : Inventarisasi, Tumbuhan Obat, Desa Amesi

    UJI EFEKTIVITAS ANTIHIPERKOLESTEROLEMIA EKSTRAK ETANOL DAUN KELOR (Moringa oleifera Lam) PADA TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus norvegicus)

    Get PDF
    ABSTRACTMoringa leaves (Moringa oleifera Lam) contain flavonoids, antioxidants, and alkaloids that can lower cholesterol levels, blood pressure and blood sugar levels. This study aims to determine the effectiveness of kelorterol leaf extract against male white rats (Rattus norvegicus). Test animals were induced by propylthiouracil and high fat diet for 14 days. Followed by administration of Na-CMC, Simvastatin, and Moringa leaf extract 3.6mg/200gBB, 7.2mg/200gBB, and 10.8mg/200gBB for 14 days. Cholesterol measurements were carried out on days 0, 14, and 28. The results showed that Moringa leaf extract at a dose of 10.8mg/200gBB  had cholesterol lowering activity greater than other doses with an average percentage of 27.58%. The results of statistical analysis using the ANOVA method (α = <0.05) showed that there was a significant difference between the negative control and the other treatment groups. Can be concluded that the most effective dose of extract to lower cholesterol was at a dose of 10.8 mg/200gBB. Keywords: Moringa leaves, antihypercholesterolemia, Propylthiouracil  ABSTRAKDaun kelor (Moringa oleifera Lam) memiliki kandungan flavonoid, antioksidan, dan alkaloid yang dapat menurunkan kadar kolesterol, tekanan darah dan kadar gula darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun kelorterol terhadap tikus putih jantan (Rattus norvegicus). Hewan uji diinduksi propiltiourasil dan pakan tinggi lemak selama 14 hari. Dilanjutkan dengan pemberian Na-CMC, Simvastatin, dan ekstrak daun kelor 3,6mg/200gBB, 7,2mg/200gBB, dan 10,8mg/200gBB selama 14 hari. Pengukuran kolesterol dilakukan pada hari ke 0, 14, dan 28. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukan bahwa ekstrak daun kelor dengan dosis 10,8mg/200gBB memiliki aktivitas penurunan kolesterol lebih besar dari dosis lain dengan rata-rata presentase 27,58%. Hasil analisa statistik dengan metode ANOVA (α = <0,05) menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antara kontrol negatif dengan kelompok pemberian lainnya. Dapat disimpulkan bahwa dosis ekstrak yang paling efektif menurunkan kolesterol yaitu pada dosis 10,8 mg/200gBB. Kata kunci: Daun kelor, antihiperkolesterolemia, Propiltiourasi

    FORMULASI SEDIAAN SALEP EKSTRAK ETANOL BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) SEBAGAI ANTIBAKTERI

    Get PDF
    ABSTRACTGarlic (Allium sativum L.) is a plant white bulbs onion  that contains antibacterial compounds such as alicin, flavonoid, and saponin. The aim of this study was to formulate an ointment extract of white bulbs onion  (Allium sativum L.) with various concentrations of 2,5%; 5%; 7,5%; and 10%, and then evaluated the ointment according to the physical evaluation requirements. The diffusion method was utilized to test the activity of the ointment preparation towards Staphylococcus aureus and Staphylococcus epidermidis. The results showed that garlic (Allium sativum L.) could be formulated as an antibacterial ointment and met the requirements of the ointment evaluation test according to the results of the organoleptic test based on the white ointment, F1 and F2 were pale yellow, and F3 and F4 were brownish yellow with odor lemon. The homogeneity tests indicated no lumps in the ointment preparation, and the pH test revealed that it was within the range of 4.5 to 6.5. The spreadability  test met the requirements of 5 - 7 cm, and the adhesion test met the requirements of more than 4 seconds. The results showed that the ethanol extract ointment of garlic (Allium sativum L.) could inhibit the growth of Staphylococcus aureus and Staphylococcus epidermidis bacteria which concentrations of 10 % Staphylococcus aureus resulted in the zone of inhibition of 15.5 mm is categorized as strong and Staphylococcus epidermidis bacteria resulted in the zone of inhibition of 15.1 mm is categorized as strong and F4 is the best formula for generating the zone of inhibition.Keywords: Garlic (Allium sativum L.), Antibacterial ointment, Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidisABSTRAKBawang Putih (Allium sativum L.) merupakan tanaman umbi bawang putih yang memiliki kandungan senyawa alicin, flavonoid dan saponin yang mampu memberikan efek antibakteri. Tujuan dari penelitian ini untuk memformulasikan salep ekstrak etanol bawang putih (Allium sativum L.) dengan berbagai konsentrasi 2,5%; 5%; 7.5%; 10% dan mengevaluasi sediaan salep sesuai dengan persyaratan evaluasi fisik. Pengujian aktivitas sediaan salep terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis dilakukan dengan metode difusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  bawang putih (Allium sativum L.) dapat diformulasikan sebagai sediaan salep antibakteri dan memenuhi persyaratan uji evaluasi sediaan salep sesuai dengan hasil uji organoleptik basis salep berwarna putih, F1 dan F2 berwarna kuning pucat, dan F3 dan F4 berwarna kuning kecoklatan berbau lemon. Uji homogenitas menunjukkan tidak adanya gumpalan pada sediaan salep, uji pH sesuai dengan persyaratan yaitu 4.5 – 6.5. Uji daya sebar sesuai dengan persyaratan yaitu 5 – 7 cm, dan uji daya lekat sesuai dengan persyaratan yaitu lebih dari 4 detik. Hasil menunjukkan bahwa salep ekstrak etanol bawang putih (Allium sativum L.) dapat menghambat bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis dimana konsentrasi 10 % bakteri Staphylococcus aureus menghasilkan zona hambat 15.5 mm termasuk kategori kuat dan bakteri Staphylococcus epidermidis menghasilkan zona hambat 15.1 mm termasuk kategori kuat dan  formula F4 merupakan formula terbaik dalam menghasilkan zona hambat.Kata Kunci : Bawang putih (Allium sativum L.), Salep antibakteri, Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidi

    UJI EFEKTIVITAS ANTIHIPERGLIKEMIK EKSTRAK ETANOL DAUN GEDI MERAH (Abelmoschus manihot L.Medik) TERHADAP TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) GALUR WISTAR YANG DIINDUKSI ALOKSAN

    Get PDF
    ABSTRACTGedi (Abelmoschus manihot L. Medik) has been know as food that can consume by people in North Sulawesi. The purpose of this study is determine the antihyperglycemic effect of the ethanol extract of red gedi leaves on white rats (Rattus norvegicus) wistar strain induced by alloxan. Animals was devided into 5 groups, namely negative control and metformin as positive control and ethanol extract of red gedi leaves with doses of 150 mg/kgBW, 300 mg/kgBW, and 600 mg/kg of body weight, each group was given alloxan i.p. Blood glucose was measurements on day 0 (three days after induction), day 7 and day 14. The results showed group that treat with red gedi leaves extract could reduce blood glucose levels. The dose of 150 mg/kgBW had a decreased percentage of blood glucose on day 7 and day 14 of 15.48% and 74.84%, respectively. Doses of 300 mg/kgBW had a decreased percentage of blood glucose on day 7 and day 14 of 33.64% and 70.5%, respectively. The dose of 600 mg/kgBW had a decreased percentage of blood glucose on day 7 and day 14 of 27.11% and 71.93%, respectively. Statistical analysis shows that the dosage of 300 mg/kg body weight has a significant difference with the dosage of 150 mg/kgBW and 600 mg/kgBW. It can be concluded that the dose of 300 mg/kgBW has the best antihyperglycemic activity. Keywords: Antihyperglycemic, Red gedi leaves, Alloxan, White ratsABSTRAKGedi (Abelmoschus manihot L. Medik) telah lama dikenal masyarakat Sulawesi Utara sebagai tanaman pangan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efek antihiperglikemik ekstrak etanol daun gedi merah pada tikus putih (Rattus norvegicus) galur wistar yang diinduksi aloksan. Penelitian ini menggunakan 5 kelompok perlakuan yaitu kontrol negatif dan metformin sebagai kontrol positif dan ekstrak etanol daun gedi merah dengan dosis 150 mg/kgBB, 300 mg/kgBB, dan 600 mg/kgBB, setiap kelompok diberikan alloksan. Pengukuran glukosa darah dilakukan pada hari ke-0 (tiga hari sesudah diinduksi), hari ke-7 dan hari ke-14. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian ekstrak daun gedi merah dapat menurunkan kadar glukosa darah. Dosis 150 mg/kgBB memiliki presentase penurunan glukosa darah pada hari ke-7 dan hari ke-14 masing-masing sebesar 15,48 % dan 74,84 %. Dosis 300 mg/kgBB memiliki presentase penurunan glukosa darah pada hari ke-7 dan hari ke-14 masing-masing sebesar 33,64 % dan 70,5 %. Dosis 600 mg/kgBB memiliki presentase penurunan glukosa darah pada hari ke-7 dan hari ke-14 masing-masing sebesar 27,11 % dan 71,93 %. Analisis statistik menunjukan dosis 300 mg/kgBB memiliki perbedaan signifikan dengan dosis 150 mg/kgBB dan 600 mg/kgBB. Dapat disimpulkan bahwa dosis 300 mg/kgBB memiliki aktivitas antihiperglikemik yang paling baik. Kata Kunci: Antihiperglikemik, Daun Gedi Merah, Alloksan, Tikus Puti

    UJI EFEKTIVITAS PENYEMBUHAN LUKA SEDIAAN SALEP EKSTRAK RUMPUT MACAN (Lantana camara L) TERHADAP LUKA SAYAT PADA TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus norvegicus)

    Get PDF
    ABSTRACTLantana camara L have many ingredients including flavonoids, terpenoids, alkaloids, essential oils, phytosterol, saponins and tannins. Until now, people still use this plant as wound healer. The aims of this study is to determine the effectiveness of extract Lantana camara L ointment on wound healing in white male rats (Rattus novergicus). This study used a laboratory experimental research design using white male rats (Rattus novergicus) as experimental animals. Extract Lantana camara L ointment was tested on test animals of 5 treatment groups, namely base ointment (negative control), betadine ointment (positive control) and Lantana camara L extract ointment with concentrations of  8%, 12% and 16%, consisting of 3 rats in each treatment group. Observations were made for 14 days by looking at erythema (redness), edema (swelling) and wound closure. The results obtained in group I (base ointment) and group II (betadine ointment) showed that the average wound closure was not much different so that there was no significant difference, but pharmacologically, extract Lantana camara L ointment was effective in wound healing.  The three concentrations of 8%, 12%, and 16% provide wound healing effects, with the optimal effect in accelerating wound healing, namely at a concentration of 16% with an average wound closure for 9.3 days.  So it can be concluded that the Lantana camara L  plant has effectiveness in healing wounds. Keywords: wound healing, ointment, Lantana camara L, Incision.ABSTRAKRumput macan (Lantana camara L) memiliki banyak kandungan di antaranya flavonoid, terpenoid, minyak atsiri, fitosterol, dan tannin. Hingga saat ini masyarakat masih menggunakan tanaman ini sebagai penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas sediaan salep ekstrak rumput macan (Lantana camara L) terhadap penyembuhan luka sayat pada tikus putih jantan (Rattus novergicus). Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental laboratorium menggunakan tikus putih jantan (Rattus novergicus) sebagai hewan percobaan. Salep ekstrak rumput macan diujikan pada hewan uji tikus sebanyak 5 kelompok perlakuan yaitu basis salep (kontrol negatif), salep betadine (kontrol positif) dan salep ekstrak rumput macan dengan konsentrasi 8%, 12% dan 16%,   yang terdiri dari 3 ekor tikus di setiap kelompok perlakuan. Pengamatan dilakukan selama 14 hari dengan melihat eritema (kemerahan), edema (bengkak) dan penutupan luka. Hasil yang di dapatkan pada kelompok I (basis salep) dan kelompok II (salep betadin) menunjukkan rata-rata penutupan luka tidak jauh berbeda sehingga tidak ada perbedaan bermakna, akan tetapi secara farmakologi salep ekstrak rumput macan memiliki efektivitas dalam penyembuhan luka. Ketiga konsentrasi 8%, 12%, dan 16% memberikan efek penyembuhan luka, dengan efek yang optimal dalam mempercepat penyembuhan luka yaitu konsentrasi 16% dengan rata-rata penutupan luka 9,3 hari. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tanaman rumput macan memiliki efektivitas terhadap penyembuhan luka. Kata Kunci: Penyembuhan Luka, Salep, Rumput Macan (Lantana camara L), Luka sayat

    978

    full texts

    1,026

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    PHARMACON
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇