PHARMACON
Not a member yet
1026 research outputs found
Sort by
ANALISIS PENGELOLAAN LOGISTIK OBAT DI INSTALASI FARMASI RS ELIM RANTEPAO TORAJA UTARA
ABSTRACT Drug logistics management is an application of management principles in logistics activities. The purpose of this study was to analyze the suitability of drug logistics management at the Pharmacy Installation of Elim Rantepao Hospital Toraja Utara against the Regulation of the Minister of Health No. 72 of 2016 on Hospital Pharmaceutical Service Standards. The method used in this research is descreptive qualitative. Data collection in this study was conducted by interview and observation. The results of this study prove drug vacancies often occur due to the distance between drug distributors, and well as inadequate pharmaceutical warehouse facilities. This study concluded that the management of drug logistics at IFRS Elim Rantepao Toraja Utara is not yet in accordance with Regulation of the Minister of Health No. 72 of 2016 on Hospital Pharmaceutical Service Standards. Keywords: Management, drug logistics, Pharmacy, Hospital   ABSTRAK  Manajemen logistik obat adalah suatu penerapan prinsip-prinsip manajemen adalam kegiatan logistik. Tujuan dari penelitian ini menganalisis kesesuaian manajemen logistik obat di Instalasi Farmasi RS Elim Rantepao Toraja Utara terhadap Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 72 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Rumah Sakit. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskreptif. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara wawancara dan observasi. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa sering terjadi kekosongan obat disebabkan jarak distributor obat yang jauh, dan fasilitas gudang yang tidak memadahi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengelolaan logistik obat di IFRS Elim Rantepao Toraja Utara belum sesuai dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 72 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Rumah Sakit. Kata kunci: Manajemen, logistik obat, Farmasi, Rumah Saki
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI EKSTRAK ETANOL SPONS Ianthella basta DARI DESA TUMBAK KECAMATAN PUSOMAEN KABUPATEN MINAHASA TENGGARA
ABSTRACT Sponges are a component of coral reef biota that has bioactive compounds with a greater percentage of activity compared to compounds produced by terrestrial plants. This study aims to determine the presence of antioxidant activity in the ethanol extracts of sponge Ianthella basta from the waters of Tumbak Village. Ianthella basta sponge was extracted using maceration method with 96% ethanol solvent. Antioxidant activity testing was carried out using the DPPH method with a concentration of 100 µg / mL, 75 μg / mL, 50 μg / mL, and 25 μg / mL and Vitamin C p.a as positive control. Each sample was made three repetitions of the test. Testing using a UV-Vis spectrophotometer. The results showed that the ethanol extract of the Ianthella basta sponge had antioxidant activity with a percentage of 48.73% at a concentration of 100 µg / mL. Keywords: Ianthella basta sponge, Antioxidants, Extraction, DPPH  ABSTRAK Spons merupakan salah satu komponen biota penyusun terumbu karang yang mempunyai senyawa bioaktif dengan persentase keaktifan lebih besar dibandingkan dengan senyawa-senyawa yang dihasilkan oleh tumbuhan darat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya aktivitas antioksidan di dalam ekstrak etanol Spons Ianthella basta dari perairan Desa Tumbak. Spons Ianthella basta diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan menggunakan metode DPPH dengan konsentrasi 100 µg/mL, 75 µg/mL, 50 µg/mL, dan 25 µg/mL dan Vitamin C p.a sebagai kontrol positif. Masing-masing sampel dibuat tiga kali pengulangan uji. Pengujian menggunakan alat spektrofotometer UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ektrak etanol Spons Ianthella basta memiliki aktivitas antioksidan dengan persentase sebesar 48,73% pada konsentrasi 100 µg/mL. Kata Kunci: Spons Ianthella basta, Antioksidan, Ekstraksi, DPP
INVENTARISASI DAN PEMANFAATAN TUMBUHAN SEBAGAI OBAT TRADISIONAL OLEH MASYARAKAT DI DESA RANTEBUA, KABUPATEN TORAJA UTARA
ABSTRACTMedicinal plants are plants that have efficacy as a medicine whose properties known from scientific studies that are clinically proven to be beneficial for health. This research aims to find out how to use plants used as traditional medicine and to find out the types of plants used traditional medicine by the community in Rantebua Village. Based on the research conducted obtained 38 plants that are used as traditional medicine, Andrographis paniculata, Allium cepa, Annona muricata, Apium graveolens, Centella asiatica, Areca catechu, Colocasia esculenta, Cocos nucifera, Ageratum conyzoldes, Vernonia amygdalina, Anredera cordifolia, Ananas comosus, Carica papaya, Ipomoea batatas, Sechium edule, Momordica charantia, Jatropha curcas, Euphorbia tirucalli, Orthosiphon aristatus, Plectranthus scutellarioides, Ocimum sanctum, Persea americana, Eleutherine palmifolia, Abelmoschus manihot, Musa paradisiaca, Psidium guajava, Piper betle, Imperata cylindrica, Pandanus amaryllifolius, Sauropus androgynus, Saccharum officinarum, Cymbopogon citratus, Citrus aurantifolia, Solanum betaceum, Phaleria macrocarpa, Aloe vera, Zingibern officinale, Curcuma domestica, consisting of 26 families. Keywords: Inventory, Plants, Folk Remedies, Utilization ABSTRAK Tumbuhan obat adalah tumbuhan yang mempunyai khasiat sebagai obat yang khasiatnya diketahui dari hasil telaah secara ilmiah yang terbukti secara klinis bermanfaat bagi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara pemanfaatan tumbuhan yang digunakan sebagai obat tradisional dan untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhan yang digunakan sebagai obat tradisional oleh masyarakat di Desa Rantebua. Berdasarkan penelitian yang dilakukan didapatkan 38 tumbuhan yang di manfaatkan sebagai obat tradisional di antaranya Andrographis paniculata, Allium cepa, Annona muricata, Apium graveolens, Centella asiatica, Areca catechu, Colocasia esculenta, Cocos nucifera, Ageratum conyzoldes, Vernonia amygdalina, Anredera cordifolia, Ananas comosus, Carica papaya, Ipomoea batatas, Sechium edule, Momordica charantia, Jatropha curcas, Euphorbia tirucalli, Orthosiphon aristatus, Plectranthus scutellarioides, Ocimum sanctum, Persea americana, Eleutherine palmifolia, Abelmoschus manihot, Musa paradisiaca, Psidium guajava, Piper betle, Imperata cylindrica, Pandanus amaryllifolius, Sauropus androgynus, Saccharum officinarum, Cymbopogon citratus, Citrus aurantifolia, Solanum betaceum, Phaleria macrocarpa, Aloe vera, Zingibern officinale, Curcuma domestica, yang terdiri dari 26 famili. Kata kunci: Inventarisasi, Tumbuhan, Obat Tradisional, Pemanfaata
TINGKAT KEPATUHAN PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS KEMA KABUPATEN MINAHASA UTARA
ABSTRACTHypertension or high blood pressure is an increase in systolic blood pressure of more than 140 mmHg and diastolic blood pressure of more than 90 mmHg. Hypertension is a chronic disease with life-long treatment. Adherence to treatment of hypertensive patients is important because hypertension is a disease that must always be controlled so that complications do not occur which can lead to death. This study aimed to identify the level of adherence of hypertensive patients at Puskesmas Kema, North Minahasa regency in taking antihypertensive drugs using the Modified Morisky Adherence Scales-8 (MMAS-8) method and the data was collected on 40 patients. The results showed that patients with a high level of adherence were 22.5%, a moderate level of adherence was 20%, and a low level of adherence was 57.5%. Therefore, could be concluded that the level of adherence with the use of antihypertensive drugs in hypertensive patients at Kema Health Center was in the low category. Key words: Hypertension, Adherence level in taking medication.  ABSTRAKHipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg. Hipertensi merupakan penyakit kronis dengan pengobatan yang dilakukan seumur hidup. Kepatuhan pengobatan pasien hipertensi merupakan hal penting karena hipertensi merupakan penyakit yang harus selalu dikontrol atau dikendalikan agar tidak terjadi komplikasi yang dapat berujung pada kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kepatuhan pasien hipertensi di Puskesmas Kema Kabupaten Minahasa Utara dalam mengonsumsi obat antihipertensi dengan menggunakan metode Modified Morisky Adherence Scales-8 (MMAS-8) dengan pengambilan data terhadap 40 pasien. Hasil penelitian menunjukan bahwa pasien dengan tingkat kepatuhan tinggi sebesar 22,5%, tingkat kepatuhan sedang sebesar 20%, dan tingkat kepatuhan rendah sebesar 57,5%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat kepatuhan penggunaan obat antihipertensi pada pasien hipertensi di Puskesmas Kema termasuk dalam kategori rendah. Kata kunci : Hipertensi, Kepatuhan minum obat
PENGENDALIAN PERSEDIAAN OBAT MENGGUNAKAN METODE ECONOMIC ORDER QUANTITY (EOQ) DAN REORDER POINT (ROP) DI APOTEK X KECAMATAN WENANG
ABSTRACTInventory was an important element in the operations of pharmacy. Lack of inventory will result in unfulfilled services for patients. Meanwhile, too large an inventory will increase investment funds and increase risks such as loss, expiration and damage to drugs. Therefore necessary inventory control. The research aims to determined the optimum quantity of drug orders and time to reorder drugs using the calculation of Economic Order Quantity (EOQ) and Reorder Point (ROP) in pharmacy. The type of research was descriptive with method quantitative. Collecting data through drug documents and interviews. The data that has been collected was carried out by calculating ABC then calculating the EOQ and ROP for drug group A based on ABC calculations. The result of ABC analysis, there were 24 drugs in group A with an investment value of 70,46%, group B with 28 types of drugs with an investment value of 19,9%, and group C with 69 types of drugs with an investment value of 9,64%. The result of EOQ and ROP calculations for group A drugs varied between 18-884 units (EOQ) and 13-383 units (ROP). The EOQ value was the optimum ordering amount for the drug and the ROP value was the point where reordering must be made.Keywords: Inventory Control of Drug, Pharmacy, Economic Order Quantity, Reorder Point.  ABSTRAKPersediaan merupakan elemen yang penting dalam operasional apotek. Persediaan yang kurang akan mengakibatkan pelayanan terhadap pasien/konsumen tidak terpenuhi. Sedangkan persediaan yang terlalu besar akan meningkatkan dana investasi dan meningkatnya risiko seperti kehilangan, kedaluwarsa dan kerusakan obat. Oleh karena itu, diperlukan pengendalian persediaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah pemesanan optimum dan waktu pemesanan kembali obat kelompok A menggunakan perhitungan Economic Order Quantity (EOQ) dan Reorder Point (ROP) di apotek. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan metode kuantitatif. Pengumpulan data melalui dokumen obat dan wawancara. Data yang telah terkumpul dilakukan perhitungan ABC kemudian dilakukan perhitungan EOQ dan ROP pada kelompok obat A berdasarkan perhitungan ABC. Hasil analisis ABC diperoleh obat kelompok A sebanyak 24 jenis obat dengan nilai investasi 70,46%, kelompok B 28 obat dengan nilai investasi 19,9% dan kelompok C 69 obat dengan nilai investasi 9,64%. Hasil perhitungan EOQ dan ROP obat kelompok A yaitu bervariasi antara 18-884 unit (EOQ), dan 13-383 unit (ROP). Nilai EOQ tersebut merupakan jumlah pemesanan yang optimum pada obat dan nilai ROP merupakan titik harus dilakukan pemesanan kembali. Kata kunci: Pengendalian Persediaan Obat, Apotek, Economic Order Quantity, Reorder Point
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAN FRAKSI ASCIDIAN (Lissoclinum badium) DARI PERAIRAN PULAU MANTEHAGE
ABSTRACTLissoclinum badium is a type of ascidian that contains bioactive compounds. This study aims to determine of presence of antibacterial activity from extracts and fractions of Lissoclinum badium collected from Mantehage Island Manado against Escherichia coli and Staphylococcus aureus bacteria. Samples were extracted by maceration method using 95% ethanol solvent and fractionated using solvents of chloroform, n-hexane and methanol. Antibacterial activity was carried out by the disk diffusion agar method. The results showed that the ethanol extracts an methanol fraction had activity to inhibit the growth of Escherichia coli bacteria with strong category. Meanwhile, against the Staphylococcus aureus the ethanol extracts, chloroform and n-hexane fractions had ability to inhibit the growth of bacteria with weak category.. Keywords: Antibacterial activity, Lissoclinum badium, Escherichia coli, Staphylococcus aureus.  ABSTRAKLissoclinum badium merupakan salah satu jenis tunikata yang memiliki kandungan senyawa bioaktif yang dapat digunakan untuk pengobatan berbagai penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya aktivitas antibakteri dari ekstrak dan fraksi Lissoclinum badium yang diperoleh dari Pulau Mantehage Manado terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Sampel diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 95% dan fraksinasi menggunakan pelarut metanol, kloroform, dan n-heksan. Aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar cakram kertas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol dan fraksi metanol memiliki aktivitas untuk menghambat bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus dengan daya hambat kuat. Sedangkan untuk fraksi kloroform dan fraksi n-heksan memiliki aktivitas untuk menghambat bakteri Staphylococcus aureus saja dengan daya hambat sedang. Kata kunci: Aktivitas antibakteri, Lissoclinum badium, Escherichia coli, Staphylococcus aureus
UJI AKTIVITAS ANTIHIPERURISEMIA KOMBINASI EKSTRAK ETANOL DAUN SALAM (Syzygium polyanthum (Wight.) Walp) dan TUMBUHAN SURUHAN (Peperomia pellucida (L.) Kunth) PADA TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus Norvegicus)
ABSTRACTBay leaves (Syzygium polyanthum (Wight.) Walp) and herbs (Peperomia pellucida (L.) Kunth) are known to contain flavonoids, where flavonoids have been known to have the ability to inhibit the ksantin oxidase, which causes uric acid levels in the blood to drop. This study used a completely randomized design method. This study aims to determine whether the combined ethanol extract of bay leaves (Syzygium polyanthum (Wight.) Walp) and suruhan (Peperomia pellucida (L.) Kunth) has antihyperuricemic activity. There were 15 rats used and divided into 5 groups, namely negative control (CMC 1%), positive control (Allopurinol), and ethanol extracts of bay leaves and herbs with a dose of 50 m, 100 mg, 200 mg. Existing data were analyzed using the ANOVA test and LSD test. The analysis showed that the combined ethanol extract of bay leaves (Syzygium polyanthum (Wight.) Walp) and suruhan (Peperomia pellucida (L.) Kunth) had antihyperuricemic activity against male white rats. Keywords: Syzygium polyanthum (Wight.) Walp) and Peperomia pellucida (L.) Kunth, Antihyperuricemia, Rattus Norvegicus.ABSTRAKDaun salam (Syzygium polyanthum (Wight.) Walp) dan tumbuhan suruhan (Peperomia pellucida (L.) Kunth) diketahui mengandung zat flavonoid, dimana flavonoid telah diketahui mempunyai kemampuan dalam menghambat ksantin oksidase, yang menyebabkan kadar asam urat di dalam darah turun. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak etanol kombinasi dari daun salam (Syzygium polyanthum (Wight.) Walp ) dan tumbuhan suruhan (Peperomia pellucida (L.) Kunth) memiliki aktivitas antihiperurisemia. Tikus yang digunakan sebanyak 15 ekor dan dibagi dalam 5 kelompok yaitu kontrol negatif (CMC 1%), kontrol positif (Allopurinol), dan ekstrak etanol daun salam dan tumbuhan suruhan dengan dosis 50 mg, 100 mg, 200 mg. Data yang ada dianalisis dengan menggunakan uji ANOVA dan uji LSD. Hasil analisis menunjukkan bahwa ekstrak etanol kombinasi daun salam (Syzygium polyanthum (Wight.) Walp) dan tumbuhan suruhan (Peperomia pellucida (L.) Kunth ) memiliki aktivitas antihiperurisemia terhadap tikus putih jantan.Kata kunci: Syzygium polyanthum (Wight.) Walp) dan Peperomia pellucida (L.) Kunth, Antihiperurisemia, Rattus Norvegicu
EVALUASI PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) FARMASI KATEGORI LAMA WAKTU TUNGGU PELAYANAN RESEP PASIEN RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT ADVENT MANADO
ABSTRACTThe practice of pharmaceutical services was an integrated activity with the aim of identifying, preventing and resolving drug-related problems and health related problems. The need to evaluated the waiting time for prescription services in pharmaceutical installations was to found out the weaknesses that can prolong prescription services, so that improvements can be made immediately in order to improved the quality of pharmaceutical services. The aim of this study was to evaluated the length of waiting time for non-concoction drugs and concoction drugs at the Advent Hospital Manado pharmacy installation in October 2019 - January 2020. This research was a non-experimental descriptive study used quantitative and qualitative methods. Sampling was carried out by the nonprobability sampling method. Quantitatively data was taken by direct observation while implementing prescription service at hospital pharmacy installations and qualitatively data was taken by structured interviews to pharmacists in charge and pharmacy staff at outpatient hospital pharmacy installations. The results showed that the average for non-concoction drug prescription service was 20 minutes 29 seconds and for concoction drug prescription service was 26 minutes 26 seconds. The conclusion that the Advent Hospital Manado has met the standards set by the Ministry of Health of the Republic of Indonesia. Keywords: Waiting Time Prescription, Drug Prescription Service, Pharmacy Installation. ABSTRAK Praktek pelayanan kefarmasian merupakan kegiatan yang terpadu dengan tujuan untuk mengidentifikasi, mencegah dan menyelesaikan masalah terkait obat dan masalah yang berhubungan dengan kesehatan. Perlunya dilakukan evaluasi terhadap waktu tunggu pelayanan resep di instalasi farmasi adalah untuk mengetahui kelemahan-kelemahan yang dapat memperlama pelayanan resep, sehingga dapat segera dilakukan perbaikan dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lama waktu tunggu pelayanan resep obat jadi dan obat racikan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Advent Manado pada bulan Oktober 2019 – Januari 2020. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif non eksperimental dengan menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif. Pengambilan sampel dilaksanakan dengan metode non-probability sampling. Data yang diambil secara kuantitatif adalah dengan pengamatan langsung saat pelaksanaan pelayanan resep obat di Instalasi Farmasi Rumah Sakit dan data yang diambil secara kualitatif adalah dengan wawancara terstruktur kepada apoteker penanggung jawab dan tenaga kefarmasian di Instalasi Farmasi Rumah Sakit rawat jalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata untuk pelayanan resep obat jadi 20 menit 29 detik dan rata-rata pelayanan resep obat racikan 26 menit 26 detik. Kesimpulannya bahwa Rumah Sakit Advent Manado telah memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Kata Kunci: Waktu Tunggu Resep, Pelayanan Resep Obat, Instalasi Farmasi
FORMULASI SEDIAAN SABUN CAIR KOMBINASI EKSTRAK ETANOL DAUN KERSEN (Muntingia calabura L.) DAN DAUN KEMANGI (Ocymum basilicum L.) DAN UJI TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus
ABSTRACTKersen leaves (Muntingia Calabura L.) and Basil leaves (Ocymum basilicum L.) are plants that contain flavonoid compounds, saponin and tannin which acts as antibacterial. The aims of this study is formulate liquid soap in combination of ethanol extract of Kersen leaves and basil leaves and to test the antibacterial effectiveness and evaluate the physical preparates of liquid soap in combination of ethanol extract of Kersen leaves and Kemangi leaves. This research uses a laboratorium experimental method. Based on the results of the study showed physical evaluations such as organoleptics which are dark green and dark brown, Soap pH above 8, measurement height of foam 60-88 mm, calculation of water content was 46%, free alkali content was 0,05-0,06 g/ml, and specific gravity was 1,01-1,09 g/ml. Liquid soap combination of Kersen and Basil leaves extract has antibacterial effectiveness of average diameter for FI 10 mm, F2 10,33 mm, F3 11 mm, F4 11,5 mm, and F5 10,67 mm. In conclusion, the combination of Kersen and Basil leaves extract can be formulated into liquid soap, liquid soap preparations in physical evaluation testing had met the standards set by SNI. Liquid soap preparation has antibacterial effectiveness which is included in the strong category.Keywords: Antibacterial, Liquid Soap, Kersen, Basil.ABSTRAK Daun Kersen (Muntingia Calabura L.) dan Daun Kemangi (Ocymum basilicum L.) merupakan tanaman yang memiliki kandungan senyawa flavonoid, saponin dan tannin yang bersifat sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan sabun cair kombinasi ekstrak etanol daun Kersen dan daun Kemangi serta menguji efektivitas antibakteri dan mengevaluasi sediaan fisik dari sabun cair kombinasi ekstrak etanol daun Kersen dan daun Kemangi. Penelitian ini menggunakan metode ekperimental laboratorium. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan evaluasi fisik seperti organoleptik berwarna hijau tua dan cokelat tua, pH sabun diatas 8, pengukuran tinggi busa 60-88 mm, perhitungan kadar air yaitu 46%, kadar alkali bebas yaitu 0,05-0,06 g/ml, dan bobot jenis yaitu 1,01-1,09 g/ml. Sediaan sabun cair kombinasi ekstrak daun Kersen dan daun Kemangi memiliki efektifitas antibakteri diameter rata-rata untuk FI 10 mm, F2 10,33 mm, F3 11 mm, F4 11,5 mm, dan F5 10,67 mm. Kesimpulannya kombinasi ekstrak daun Kersen dan daun Kemangi dapat diformulasikan menjadi sabun cair, sediaan sabun cair dalam pengujian evaluasi fisik telah memenuhi standar yang ditetapkan oleh SNI. Sediaan sabun cair memiliki efektifitas antibakteri yang termasuk kategori kuat. Kata Kunci: Antibakteri, Sabun Cair, Kersen, Kemangi
UJI EFEKTIVITAS FORMULASI SEDIAAN KRIM EKSTRAK KULIT BUAH PISANG GOROHO (Musa acuminafe L.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus
ABSTRACT Goroho Banana Skin (Musa acuminafe L.) is a plant that contains flavonoid compounds, saponins and tannins that can inhibit bacterial growth. This study aims to test the antibacterial effectiveness of ethanol extract cream of goroho banana peel and evaluate the preparations using parameters of physical properties and physical stability. This research uses laboratory experimental methods. Cream formula is made with a variety of ethanol extract concentrations of Goroho Banana peel 2.5%, 5%, 7.5%, 10%, 12.5%. Goroho Banana peel extract was obtained by maceration using 96% ethanol solvent. The study of antibacterial test of ethanol extract of Goroho Banana peel using wells method on Staphylococcus aureus bacteria resulted in inhibition of 7.03 ± 3.29 mm at a concentration of 12.5%. All tests are carried out before and during the cycling test. The results obtained before and during the cycling testshowed that the cream preparations met organoleptic requirements, homogeneity, cream pH 6.807 (4.5-6.5), cream adhesion 9.63 seconds (<4 seconds), cream spread 4, 53 cm (5-7 cm). It can be concluded that the ethanol extract of Goroho Banana peel cream meets stable physical test parameters and has moderate antibacterial activity. Keywords: Goroho Banana Peel (Musa acuminafe L.), Antibacterial, Cream. ABSTRAK Kulit Buah Pisang Goroho (Musa acuminafe L.) merupakan tanaman yang mengandung senyawa flavonoid, saponin dan tannin yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas antibakteri sediaan krim ekstrak etanol kulit buah pisang goroho dan mengevaluasi sediaan dengan menggunakan parameter uji sifat fisik dan stabilitas fisik. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental laboratorium, Formula sediaan krim dibuat dengan variasi konsentrasi ekstrak etanol kulit buah Pisang Goroho 2,5%, 5%, 7,5%, 10%, 12,5%. Ekstrak kulit buah Pisang Goroho diperoleh dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Penelitian uji antibakteri sediaan krim esktrak etanol kulit buah Pisang Goroho menggunakan metode sumuran pada bakteri Staphylococcus aureus menghasilkan daya hambat 7,03±3,29 mm pada konsentrasi 12,5%. Semua pengujian dilakukan sebelum dan selama cycling test. Hasil penelitian yang didapat sebelum dan selama cycling test menunjukkan bahwa sediaan krim memenuhi persyaratan organoleptis, homogenitas, pH krim 6,807 (4,5-6,5), daya lekat krim 9,63 detik (<4 detik), daya sebar krim 4,53 cm (5-7 cm). Dapat disimpulkan bahwa sediaan krim ekstrak etanol kulit buah Pisang Goroho memenuhi parameter uji fisik stabil dan memiliki aktivitas antibakteri yang sedang. Kata kunci : Kulit Buah Pisang Goroho (Musa acuminafe L.), Antibakteri, Krim