SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
1629 research outputs found
Sort by
Analisis Perbedaan Jumlah Anak Lahir Hidup dalam Keluarga Berdasarkan Status Bekerja Ibu Rumah Tangga di Kampung KB Dusun Kedampul Desa Duwet Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang
ABSTRAKYunita, Dian Nurma. 2019. Analisis Perbedaan Jumlah Anak Lahir Hidup dalam Keluarga Berdasarkan Status Bekerja Ibu Rumah Tangga di Kampung KB Dusun Kedampul Desa Duwet Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang. Skripsi. Jurusan Geografi. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Budijanto, M.Sos., (II) Drs. Djoko Soelistijo, M.Si.Kata Kunci: Jumlah Anak Lahir Hidup, Usia, Pendidikan, Jenis Pekerjaan, Usia Kawin Pertama, Ibu Rumah tangga Bekerja dan Ibu Rumah Tangga Tidak Bekerja Jumlah anak lahir hidup merupakan banyaknya anak yang lahir dalam kondisi hidup yang dimiliki PUS (Pasangan Usia Subur). Banyaknya jumlah anak lahir hidup dipengaruhi oleh faktor demografi dan faktor non demografi. Besarnya keluarga ditentukan oleh jumlah anak yaitu keluarga ideal yang terdiri dari satu ayah, satu ibu, dan dua anak, keluarga kecil yakni hanya memiliki satu anak, dan keluarga besar yakni memiliki lebih dari dua anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan jumlah anak lahir hidup yang dimiliki oleh keluarga berdasarkan status bekerja ibu rumah tangga yakni ibu rumah tangga yang bekerja dan ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Penelitian ini merupakan penelitian dengan jenis kuantitatif yang menggunakan pendekatan komparatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder dan analisis data yang digunakan adalah menggunakan tabulasi tunggal, tabulasi silang, dan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan jumlah anak lahir hidup yang dimiliki PUS berdasarkan usia, pendidikan, dan usia kawin pertama. Sementara pada jenis pekerjaan ibu rumah tangga tidak terdapat perbedaan jumlah anak lahir hidup. Ibu rumah tangga dengan usia lebih tua, pendidikan rendah, dan usia kawin pertama yang lebih muda cenderung memiliki jumlah anak lahir hidup yang lebih banyak yakni > 2 anak. hasil ini berbeda dengan ibu rumah tangga pada usia yang lebih muda, pendidikan yang lebih tinggi, dan usia kawin pertama yang lebih dewasa yang cenderung memiliki jumlah anak lahir hidup satu sampai dua anak. Ibu rumah tangga yang bekerja sebagian besar memiliki jumlah anak lahir hidup satu anak yakni sebesar 59,52%, sedangkan untuk ibu rumah tangga yang tidak bekerja jumlah anak lahir hidup dengan jumlah tiga anak mencapai 23,33% dari total responden. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu terdapat perbedaan jumlah anak lahir hidup yang dimiliki ibu rumah tangga yang bekerja dengan ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Melihat pentingnya merencanakan besarnya keluarga yakni banyaknya jumlah anak lahir hidup yang dimiliki untuk kesejahteraan keluarga ke depannya, maka perlu adanya sosialisasi kepada caloncalon orang tua khusunya calon ibu mengenai perencanaan besarnya keluarga yang baik dan ideal
Meningkatkan kemampuan teknik dasar shooting futsal menggunakan metode drill pada pemain futsal saft education Malang
RINGKASANSaputro, H.T., 2019. Meningkatkan Kemampuan Teknik Dasar Shooting pada Pemain Futsal Saft Education Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Fakultas Ilmu keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs.Supriatna, M.Pd, (2) Dra. Sulistyorini, M.Pd,Kata Kunci: futsal, teknik dasar shooting, metode drillFutsal merupakan olahraga tim yang dimainkan dua tim, setiap tim terdiri dari lima pemain yang berada dilapangan. Masing-masing tim berusaha untuk mencetak gol dengan memasukan bola ke gawang lawan. Untuk memasukan bola diperlukan kemampuan shooting yang baik. Sementara itu pemain futsal di club Saft Education Malang masih belum bisa melakukan teknik shooting secara baik. Karena pada saat melakukan observasi awal peneliti memperoleh data kemampuan shooting pada indikator awalan sebesar 35%, fase pelaksanaan 34.5% dan fase akhiran 35%. Sementara untuk kemampuan dari teknik passing dan dribbling sudah baik. Dari data hasil observasi awal yang diperoleh tersebut, peneliti bertujuan untuk meningkatkan kemampuan teknik dasar shooting futsal di club Saft Education Malang yang rata-rata umur 12-15 tahun, dengan berpedoman pada setiap indikator gerakan pada fase awalan, fase pelaksanaan, dan juga pada fase akhir ( follow thruogh ). Dengan menggunakan latihan metode drill shooting 6 model latihan yaitu drill accelertion shoot, faster shoot, one on one shoot, dribble zig-zag shoot, wall pass shoot, through pass shoot. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan olahraga dengan 2 siklus. Pada sikluss pertama dilaksanakan 6 kali pertemuan, dan siklus kedua 4 kali pertemuan, Pengumpulan data diperoleh dengan observasi. Ada empat tahap dalam penelitian tindakan, yaitu (1) perencanaan, (2) implementasi/tindakan, (3)observasi, dan (4) refleksi. Subjek penelitian ini adalah peserta peserta futsal di Saft Education Malang, berjumlah 15 pemain. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan hasil penelitian yang telah dilakukan pada observasi awal, hasil teknik dasar shooting untuk fase persiapan 35%, fase pelaksanaan 34,5% dan fase akhir 35%. Pada siklus 1 terjadi peningkatan pada fase persiapan 60.5%, fase pelaksanaan 53,5% dan fase akhir 56,5% dan siklus ke 2 terjadi peningkatan yang sangat baik yaitu pada fase persiapan 88%, fase pelaksanaan 84,5% dan fase akhir 83%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode latihan drill yang diterapkan pada berbagai latihan teknik dasar shooting dapat meningkatkan atau memperbaiki teknik dasar dalam permainan futsal peserta futsal di Saft Education Malang. Saran dari penelitian ini diharapkan agar hasil penelitian ini dapat diuji pada kelompok yang lebih luas dan disosialisasikan sehingga dapat digunakan dengan benar. Selain itu, diharapkan akan ada penelitian lebih lanjut, untuk meningkatkan akurasi tembakan dengan baik. SUMMARYSaputro, H.T., 2019. Improving the Ability of Basic Shooting Techniques in Saft Education Futsal Players in Malang. Thesis, Department of Sports Coaching Education, Faculty of Sports Sciences, Malang State University. Advisors: (1) Drs.Supriatna, M.Pd, (2) Dra. Sulistyorini, M.Pd, Keywords: futsal, basic shooting technique, drill methodFutsal is a team sport that is played by two teams, each team consists of five players who are in the field. Each team tries to score goals by putting the ball into the opponent's goal. To enter the ball requires good shooting skills. Meanwhile futsal players in Saft Education Malang club still cannot do shooting techniques properly. Because when carrying out initial observations the researcher obtained data on shooting capability on the prefix indicator of 35%, the implementation phase of 34.5% and the suffix phase of 35%. While the ability of passing and dribbling techniques is good. From the data from the preliminary observations obtained, the researchers aimed to improve the ability of basic futsal shooting techniques in Malang Saft Education club which averaged 12-15 years of age, based on each movement indicator in the prefix phase, implementation phase, and also in the phase end (follow thruogh). By using drill shooting practice 6 model exercises namely accelertion shoot drill, faster shoot, one on one shoot, dribble zig-zag shoot, wall pass shoot, through pass shoot. This study used sports action research with 2 cycles. In the first cycle, six meetings were held, and the second cycle four meetings, data collection was obtained by observation. There are four stages in action research, namely (1) planning, (2) implementation/action, (3) observation, and (4) reflection. The subjects of this study were futsal participants at Saft Education Malang, totaling 15 players. Based on the results of the analysis and discussion of the results of the research conducted at the initial observation, the results of basic shooting techniques for the preparation phase were 35%, the implementation phase was 34.5% and the suffix phase was 35%. In the first cycle there was an increase in the preparation phase of 60.5%, the implementation phase of 53.5% and the suffix phase of 56.5% and the second cycle there was a very good increase in the preparation phase 88%, the implementation phase 84.5% and phase endings 83 %. Thus it can be concluded that the use of drill training methods applied to various basic shooting techniques can improve or improve basic techniques in futsal participants futsal games at Saft Education Malang. Suggestions from this study are expected so that the results of this study can be tested on a wider and socialized group so that it can be used correctly. In addition, it is hoped that there will be further research to improve the accuracy of shots
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR ANALITIS DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS XI IPS SMAN 1 TUMPANG KABUPATEN MALANG
RINGKASANPertiwi, Meri Dwi. 2019. Pengaruh Model Inkuiri Terbimbing terhadap Kemampuan Berpikir Analitis Siswa Ditinjau dari Motivasi Belajar Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Tumpang. Skripsi. Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Yusuf Suharto, M.Pd., (2) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si. Kata kunci: Model Inkuiri Terbimbing, Kemampuan Berpikir Analitis, Motivasi BelajarPembelajaran abad 21 menekankan pada kemampuan berpikir analitis. Kemampuan berpikir analitis penting untuk dimiliki siswa karena termasuk kemampuan berpikir tingkat tinggi dan dibutuhkan dalam pembelajaran geografi. kemampuan berpikir analitis dapat diperoleh melalui model pembelajaran inkuiri terbimbing. Model ini dipilih dalam penelitian ini karena sesuai dengan implementasi Kurikulum 2013 dan didasarkan pada teori konstruktivisme. Motivasi dipilih sebagai variabel moderator dalam penelitian ini karena Motivasi belajar menjadi pengarah siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui: 1) pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap kemampuan berpikir analitis siswa, dan 2) pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap kemampuan berpikir analitis ditinjau dari motivasi belajar siswa. Metode yang digunakan adalah eksperimen semu dengan posttest only control group design . penelitian ini dilakukan pada dua kelas yaitu kelas eksperimen yang diberikan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan kelas kontrol yang diberikan perlakuan pembelajaran konvensional. Pemilihan subjek penelitian didasarkan pada kelas yann memiliki rata-rata nilai yang hampir sama. Instrumen yang digunakan dalam pembelajaran dalam penelitian ini adalah soal tes esai yang mengukur berpikir analitis siswa dan angket motivasi belajar geografi. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji- f dengan bantuan SPSS dengan taraf signifikansi 5%.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata kemampuan berpikir analitis siswa pada kelas yang menggunakan model inkuiri terbimbing memiliki nilai rata-rata (73,67) lebih tinggi dari kelas yang tidak menggunakan model inkuiri terbimbing (66,47). Hasil uji hipotesis pertama diperoleh nilai sig. 0,000. Nilai ini lebih kecil dibanding 0,05. Dengan demikian, H0 ditolak berarti model pembelajaran inkuiri terbimbing berpengaruh terhadap kemampuan berpikir analitis pada mata pelajaran geografi di SMAN 1 Tumpang. Hasil uji hipotesis kedua diperoleh nilai signifikansi 0,039. Nilai ini lebih kecil dibanding 0,05. Dengan demikian, H0 ditolak berarti model pembelajaran inkuiri terbimbing berpengaruh terhadap kemampuan berpikir analitis ditinjau dari motivasi belajar siswa pada mata pelajaran geografi di SMAN 1 Tumpang. Interaksi antara model pembelajaran dan motivasi belajar siswa berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir analitis siswa SUMMARYPertiwi, Meri Dwi. 2019. The Effect of Guided Inquiry Learning Model on Students Analytical Thinking Ability Viewed from Learning Motivation in Grade XI IPS SMA 1 Tumpang. Thesis, Geography Education, Faculty of social Science, State University of Malang. Advisors: (1) Drs. Yusuf Suharto, M.Pd., (2) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si. Keywords: Guided inquiry learning, analytical thinking ability, learning motivation21st century learning emphasizes the ability to think analytically. The ability to think analytically is important for students to have because it includes high level thinking skills and is needed in geography learning. The ability to think analytically can be obtained through a guided inquiry learning model. This model was selected in this study because it was in accordance with the implementation of the 2013 curriculum and basedon constructivisme theory. Motivation was chosen as a moderator variable in this research because motivation to learn becomes the direction of students in achieving learning goals. The purpose of this research study is to know: 1) the effect of guided inquiry learning models on students analytical thinking abilities, and 2) the effect of guided inquiry learning models on analytical thinking ability viewed from learning motivation. The method used is quasy experiment with posttest only control group design. The sampling is done by choosingg two classes which average test scores are quite similar. This study employes two classes which are XI IPS 3 as the experimental group which is given guided inquiry leraning treatment and XI IPS 4 as the control group which is given conventional treatment. The data is gathered by using a test as an instrument in the form of essays tomeasure analytical thinking ability and a non test as an instrument in the form of opinionnaire to investigate students learning motivation in geography. The data analysis is administered by using difference test statistical parametric that is F- test with help SPSS with significance level of 5%. The results of this research indicate that the average analytical thinking ability of students in the class using the guided inquiry model has an average value (73.67) higher than the class that does not use the guided inquiry model (66.47). The results of the first hypothesis test are obtained sig. 0,000. This value is smaller than 0.05. Thus, H0 is rejected, meaning guided inquiry learning model influences the ability to think analytically on geography subjects at SMAN 1 Tumpang. The results of the second hypothesis test obtained a significance value of 0.039. This value is smaller than 0.05. Thus, H0 is rejected, meaning the guided inquiry learning model influences the ability of analytical thinking in terms of student learning motivation in geography subjects at SMAN 1 Tumpang. The interaction between learning models and student learning motivation has a significant effect on students analytical thinking abilities
Daya Dukung Kawasan Cagar Budaya di Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto sebagai Arahan Pengembangan Wisata Budaya
RINGKASAN Oktavelani, Shella. 2019. Daya Dukung Kawasan Cagar Budaya di Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto sebagai Arahan Pengembangan Wisata Budaya. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M. Si, (II) Ardyanto Tanjung, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci : Daya Dukung Kawasan, Cagar Budaya, Pemanfaatan dan Pengembangan. Kawasan Cagar Budaya Trowulan telah ditetapkan dalam Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional tahun 2010-2025 sebagai kawasan wisata budaya dan sejarah. Berdasarkan hal tersebut, masyarakat dan pemerintahan setempat mulai meningkatkan pengembangan wisata, sehinga berpotensi mengancam bangunan cagar budaya. Undang-undang Republik Indonesia No. 11 tahun 2010 tentang cagar budaya pada bagian ke-empat pasal 86 menjelaskan bahwa pemanfaatan yang berpotensi merusak cagar budaya wajib didahului kajian atau penelitian, sehingga sebelum melakukan pemanfaatan dan pengembangan cagar budaya di Trowulan ini perlu adanya kajian yang salah satunya menggunakan daya dukung kawasan cagar budaya. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menganalisis besarnya daya dukung kawasan cagar budaya yang ada di Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto. Pengumpulan data dilakukan dengan survey lapangan, wawancara, pengukuran, dan dokumentasi dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode daya dukung kawasan cagar budaya yang dilakukan pada 5 (lima) titik di Kecamatan Trowulan yang diantaranya adalah Candi Brahu, Gapura Wringin Lawang, Kolam Segaran, Candi Bajangratu, dan Candi Tikus. Hasil analisis daya dukung kawasan cagar budaya di Kecamatan Trowulan untuk jenis kegiatan yang berupa memancing, jogging, ritual, rekreasi, dan wisata edukasi memiliki nilai daya dukung kawasan yang jumlahnya lebih besar dibandingkan dengan jumlah rill wisatawan yang berkunjung ke masing-masing objek wisata. Oleh karena itu, dalam meningkatkan daya tarik dan jumlah kunjungan wisatawan perlu meningkatkan jenis kegiatan di objek wisata, menambah promosi, fasilitas, dan sarana prasarana. Sebaliknya, untuk jenis kegiatan dalam skala besar seperti event tertentu memiliki jumlah wisatawan yang tergolong melebihi batas jumlah maksimum kunjungan pada objek wisata. Sehingga, perlu dilakukan evaluasi terkait hal tersebut serta dengan upaya mendistribusikan acara tersebut ke tempat lain untuk menghindari ancaman pada cagar budaya.Saran yang dapat diberikan untuk cagar budaya yang khususnya di Kecamatan Trowulan adalah (1) pihak pengelola meningkatkan promosi, fasilitas, dan sarana prasarana yang menarik dan nyaman dikunjungi, serta (2) sebagai rujukan dalam perhitungan jumlah daya tampung wisatawan yang berkunjung ke cagar budaya sebagai usaha pemanfaatan dan pengembangan yang sesuai dengan usaha pelestariannya. SUMMARY Oktavelani, Shella. 2019. Carrying Capacity of Cultural Heritage Regional in Trowulan, Mojokerto as Direction for Development of Cultural Tourism. Thesis. Geography Departement, Faculty of Social Science, University of Malang. Advisors : (1) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu M.Si. (2) Ardyanto Tanjung, S.Pd., M.Pd. Keywords : Regional Carrying Capacity, Cultural Heritage, Utilization and Development. The Trowulan Heritage Area has been established in the 2010-2025 National Tourism Development Master Plan as a cultural and historical tourism area. Based on this, the local community and government began to increase tourism development, so that it could potentially threaten cultural heritage buildings. Law of the Republic of Indonesia No. 11 of 2010 concerning cultural preservation in the fourth part of article 86 explains that the use of potentially damaging cultural heritage must be preceded by studies or research, so that before carrying out the utilization and development of cultural heritage in Trowulan, a study is needed, one of which uses the carrying capacity of cultural heritage areas. This research was carried out with the aim of analyzing the carrying capacity of cultural heritage areas in Trowulan District, Mojokerto Regency. Data collection is done by field surveys, interviews, measurements, and documentation using quantitative descriptive analysis techniques. The method used in this study is the carrying capacity of the cultural heritage area carried out in 5 (five) points in Trowulan Sub-District which include Candi Brahu, Wringin Lawang Gate, Segaran Pond, Bajangratu Temple, and Tikus Temple. The results of the analysis of carrying capacity for the cultural heritage area in Trowulan Subdistrict in types of activities in the form of fishing, jogging, rituals, recreation, and educational tourism have a greater carrying capacity of the region compared to the number of real tourists visiting each tourist attraction. Therefore, in increasing attractiveness and the number of tourist visits it is necessary to increase the types of activities in tourism objects, add promotions, facilities and infrastructure. Otherwise, for this type of activity on a large scale such as certain events have a number of tourists classified as exceeding the maximum number of visits to tourist objects. With the result that, it is necessary to do an evaluation related to that problem by trying to distribute the event to other places to avoid threats to cultural heritage. Suggestions that can be given for cultural preservation, especially in Trowulan Subdistrict are (1) the manager increases promotion, facilities, and interesting and comfortable infrastructure, and (2) as a reference in calculating the capacity of tourists visiting cultural heritage as utilization and development business that is in accordance with its conservation efforts
Analisis Potensi Objek Wisata Pantai Selatan Kabupaten Banyuwangi (Studi: Pantai Wedi Ireng, dan Pantai Rajegwesi)
RINGKASANAlAnshori, Moch Zakariya. 2018. Analisis Potensi Objek Wisata Pantai Selatan Kabupaten Banyuwangi (Studi: Pantai Wedi Ireng, dan Pantai Rajegwesi). Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si., (II) Drs. I Komang Astina, M.S, Ph.D. Kata Kunci: wisata alam, potensi fisik, pantai, daya tarikKabupaten Banyuwangi merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang memiliki banyak destinasi wisata, khususnya wisata pantai. Berbeda dengan pantai di wilayah timur Banyuwangi, pantai di bagian selatan hanya beberapa objek saja yang sudah berkembang, ada beberapa pantai yang tidak ada pengembangan lebih lanjut, bahkan minimnya infrastruktur menjadi kelemahan objek tersebut. Analisis karaktersitik fisik pantai dan daya tarik wisata alammenentukan objek mana yang lebih layak untuk dikembangkan.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan potensi fisik dan daya tarik wisata alam yang dimiliki Pantai Wedi Ireng dan Pantai Rajegwesi. Rancangan penelitian ini diawali dengan tahap observasi, pengukuran lapangan, wawancara, dan dokumentasi di lapangan. Penilaian kondisi fisik pantai dan daya tarik objek wisata dianalisis dengan cara pengharkatan (scoring), dan untuk daya tarik objek wisata berdasarkan pedoman ADO-ODTWA Dirjen PHKA Tahun 2003. Analisis arahan pengembangan wisata merujuk pada standar Dirjen PHKA tahun 2003 tentang ADO-ODTWA.Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi fisik Pantai Wedi Ireng dan Pantai Rajegwesi memiliki indeks kesesuaian wisata sangat sesuai untuk pengembangan wisata pantai, dengan nilai indeks Pantai Rajegwesi lebih kecil 3,57% dari Pantai Wedi Ireng. Hasil analisis penilaian daya tarik wisata alam kedua pantai didapatkan arahan pengembangan Pantai Wedi Ireng diprioritaskan untuk pembangunan akses utama menuju objek ini, pengelolaan air bersih, dan pembangunan fasiltas penunjang. Sedangkan Pantai Rajegwesi diprioritaskan untuk pembenahan jalan yang rusak, pengadaan atraksi wisata, dan perawatan fasilitas penunjang. Karakteristik pantai dan ciri khas Pantai Wedi Ireng merupakan potensi yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik, akan tetapi belum adanya akses yang memadai menghambat pertumbuhan wisata ini. Oleh sebab itu hubungan antar stakeholder harus ditingkatkan, antara masyarakat, pihak Perhutani, dan pemerintah harus memiliki kesepakatan dalam pengelolaan objek wisata ini. Pantai Rajegwesi merupakan salah satu objek yang menjadi peruntukan pariwisata daerah. Akan tetapi tidak ada pembangunan berkelanjutan, terutama fasilitas dan atraksi wisata yang seharusnya dimiliki oleh sebuah wisata pantai. Sehingga perlu ditekankan pada pembangunan infrastruktur, dan penambahan atraksi untuk pengoptimalan potensi yang ada
RESPON MASYARAKAT TERHADAP PENGEMBANGAN PARIWISATA BUDAYADI DESA TEMON, KECAMATAN TROWULAN, KABUPATEN MOJOKERTO
RINGKASANHadiati, Anisa. 2019. Respon Masyarakat Terhadap Pengembangan Pariwisata Budaya di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M. Si, (II) Ardyanto Tanjung, S. Pd, M.Pd. Kata Kunci: Respon, masyarakat, pariwisata budaya.Respon masyarakat merupakan salah satu jawaban atau tanggapan yang dapat merepresentasikan kesiapan atau kesediaan masyarakat terhadap pengembangan pariwisata serta menjadi dasar untuk mewujudkan prinsip kepariwisataan. Respon tergantung pada apa yang dianggap bermanfaat bagi masyarakat, kemauan dan kemampuan masyarakat untuk mengenali potensi di wilayahnya maupun latar belakang sosial, budaya, dan ekonomi. Pengembangan pariwisata mampu menciptakan respon yang beragam dan mendorong masyarakat untuk berperan aktif didalamnya sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat lokal. Respon yang ditunjukkan masyarakat menjadi hal yang mendesak karena masyarakat sebagai unsur penting dalam pengembangan pariwisata untuk mewujudkan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan.Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis deskriptif untuk mengetahui tinggi rendahnya respon masyarakat terhadap pengembangan pariwisata budaya. Terdapat 1822 kepala keluarga di Desa Temon sebagai populasi penelitian dan sampel yang diambil sebanyak 85 kepala keluarga. Tiap kepala keluarga diwakili satu orang dan pengambilan sampel menggunakan teknik random. Instrumen yang digunakan adalah angket jenis terbuka dan tertutup. Masing-masing jawaban terdapat skor berdasarkan skala likert kemudian diperhitungkan sedemikian rupa untuk mendapatkan klasifikasi respon masyarakat terhadap pengembangan pariwisata budaya. Secara keseluruhan respon masyarakat Desa Temon terhadap pengembangan pariwisata menghasilkan rata-rata skor sebesar 83,47 dan termasuk dalam klasifikasi tinggi. Skor rata-rata yang dihitung pada masing-masing indikator menunjukkan bahwa indikator sikap menjadi dominan dengan rata-rata 30,95. Adapun indikator persepsi memiliki selisih rata-rata skor yang tipis yaitu 30,93. Rata-rata skor terendah terdapat pada indikator partisipasi 21,59. Berdasarkan hasil tersebut respon masyarakat dapat digolongkan sebagai respon pasif, dimana tanggapan dari suatu rangsangan tidak disertai dengan tindakan. Maka diperlukan upaya yang lebih intensif bagi pemerintah setempat untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pengembangan pariwisata serta diarahkan pada pengembangan sustainable cultural-tourism
Penerapan Pendekatan Saintifik Dilengkapi UKBM untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Analitis Siswa Kelas X IPS 5 SMA Negeri 7 Malang.
Kemampuan berpikir analitis merupakan salah satu kemampuan penting yang harus dimiliki siswa. Siswa dengan kemampuan berfikir analitis akan lebih memahami dan menyerap inti pelajaran tanpa harus menghafal. Namun,faktanya permasalahan rendahnya berfikir analitis masih terjadi yakni di SMA Negeri 7 Malang, dikarenakan pembelajaran yang diterapkan cenderung pembelajaran satu arah. Guru sering menggunakan metode ceramah, sehingga guru mendominasi dalam pembelajaran, dengan model tersebut maka ketika guru mengajukan pertanyaan kognitif C4 siswa menjawab dengan jawaban C1 dan C2, kebiasaan menghafal siswa dalam mempelajari konsep, pendekatan dan fenomena-fenomena geografi akan menghadirkan kemampuan yang bersifat mudah terlupakan.Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir analitis pada mata pelajaran geografi siswa kelas X IPS 5 SMA Negeri 7 Malang dengan Pendekatan Saintifik dilengkapi UKBM.Penelitian ini menggunakan racangan Penelitian Tindakan Kelas dengan dua siklus, setiap siklus terdiri atas empat kegiatan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Siklus I terdiri dari dua pertemuan, demikian pula dengan siklus II. Subjek penelitian siswa kelas X IPS 5 SMA Negeri 7 Malang dengan jumlah siswa sebanyak 34 siswa dengan rincian: 15 siswa laki-laki dan 19 siswa perempuan. Data aktivitas siswa diperoleh dari Lembar Pengamatan Aktivitas Siswa, sedangkan data kemampuan berpikir analitis siswa diperoleh melalui tes siklus I dan Siklus II. Hasil penelitian menunjukkan pada siklus I menunjukkan 64,5% siswa memiliki kemampuan berpikir analitis dengan nilai rata-rata 70,9. Pada siklus II diperoleh hasil sebanyak 75.7% dengan nilai rata-rata 80,9. Berdasarkan hasil kedua siklus tersebut, maka telah diperoleh peningkatan sebanyak 8% dan peningkatan nilai rata-rata sebanyak 10. Hasil penelitian menunjukkan bahwasanya Pendekatan Saintifik dilengkapi UKBM mampu mengatasi permasalahan rendahnya kemampuan berpikir analitis siswa kelas X IPS 5 SMA Negeri 7 malang. Peningkatan kemampuan berpikir analitis dalam mata pelajaran geografi terjadi karena Pendekatan Saintifik yang telah diterapkan mampu membimbing siswa mengembangkan kemapuan berpikir analitis
Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap Kemampuan Berpikir Analitis Ditinjau dari Motivasi Belajar Siswa Kelas X SMAN Taruna Nala Jawa Timur
ABSTRAKMala, Maulida Nuril 2019. Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap Berpikir Analitis Siswa Kelas X SMAN Taruna Nala Jawa Timur Ditinjau Dari Motivasi Belajarnya. Skripsi. Jurusan Geografi. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Ardyanto Tanjung, S.Pd, M.Pd, (2) Purwanto, S.Pd, M.Si. Kata Kunci: Model Inkuiri Terbimbing, Kemampuan Berpikir Analitis, Motivasi BelajarAbstrak: Pembelajaran yang dirancang dengan baik dapat mengembangkan kemampuan berpikir analitis. Kemampuan berpikir analitis dapat diperoleh melalui model Inkuiri Terbimbing. Melalui kegiatan pembelajaran inkuiri terbimbing siswa akan terlibat aktif secara langsung. Keaktifan siswa dapat terlihat dalam kegiatan diskusi maupun saat pembelajaran. Siswa yang terlibat aktif dalam proses pembelajaran akan menemukan konsep pengetahuanya sendiri. Keterlibatan aktif siswa dalam kegiatan pembelajaran akan memberikan kemampuan nyata. Pada proses pembelajaran juga menuntut siswa untuk berkolaborasi. Melalui kolaborasi antar siswa dapat mengembangkan kemampuan berpikir analitisnya melalui kegiatan diskusi kelompok. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model inkuiri terbimbing terhadap kemampuan berpikir analitis siswa kelas X SMAN Taruna Nala Jawa Timur ditinjau dari motivasi belajarnya.Rancangan dalam penelitian ini adalah eksperimen semu. Penelitian ini terdiri dari kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan subjek kelas X SMAN Taruna Nala Jawa timur yang setiap kelasnya berjumlah 28. Setiap kelas kontrol maupun eksperimen memiliki kemampuan yang sama. Penelitian ini menggunakan instrumen soal essai sebanyak 4 butir soal serta angket motivasi belajar yang berisi 20 butir pertanyaan. Perhitungan kemampuan berpikir analitis siswa menggunakan rancangan faktorial 2x3. Teknik analisis data menggunakan SPSS 2.0 for windows. Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji f (analysis of varians). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata kemampuan berpikir analitis siswa pada kelas yang menggunakan model inkuiri terbimbing memiliki nilai rata-rata (85) lebih tinggi dari kelas yang tidak menggunakan model inkuiri terbimbing (79). Selain itu hasil nilai signifikansi menunjukkan 0,01 ≤ 0,05 maka hal tersebut menunjukkan H0 ditolak. Berdasarkan hasil ini dapat disimpulkan bahwa model inkuiri terbimbing berpengaruh terhadap berpikir analitis siswa. selain model inkuiri terbimbing ditinjau dari motivasi belajar siswa juga berpengaruh terhadap kemampuan berpikir analitis siswa kelas X SMAN Taruna Nala Jawa Timur. Hal tersebut dapat ditunjukkan dari hasil taraf signifikansi yaitu 0,04 ≤ 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti bahwa model inkuiri terbimbing ditinjau dari motivasi belajar berpengaruh terhadap kemampuan berpikir analitis siswa kelas X SMAN Taruna Nala Jawa Timur
Pengembangan Sistem Informasi Geografis Berbasis Web (WebGIS) untuk Pemetaan Pariwisata di Kabupaten Pacitan
RINGKASANWahyudianto, Dony Eka. 2019. Pengembangan Sistem Informasi Geografis Berbasis Web (WebGIS) untuk Pemetaan Pariwisata di Kabupaten Pacitan. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Rudi Hartono, M.Si, (II) Purwanto, S.Pd, M.Si.Kata Kunci: WebGIS, Pemetaan, PariwisataKabupaten Pacitan memiliki banyak objek pariwisata khususnya pantai dan goa. Di dalam website Dinas Pariwisata Pacitan sudah ada peta persebaran objek wisata tetapi bukan WebGIS. Dengan adanya WebGIS, akan memudahkan masyarakat untuk mengakses informasi tentang kepariwisataan melalui internet di Kabupaten Pacitan dan membantu pemerintah Kabupaten Pacitan dalam mempromosikan keindahan wisata Kabupaten Pacitan.Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan informasi peta pariwisata berbasis WebGIS untuk mempromosikan pariwisata di Kabupaten Pacitan dan mengkaji keefektifan WebGIS dalam memaparkan informasi pariwisata di Kabupaten Pacitan. Penelitian pengembangan ini mengacu pada model pengembangan model waterfall, model klasik yang bersifat sistematis, berurutan dalam membangun software. Penelitian pengembangan model Pressman terdapat beberapa tahap yaitu perencanaan metode, analisis data, desain pengembangan, coding/ pengkodean, dan pengujian produk.Hasil dari penelitian ini adalah sebuah peta pariwisata Kabupaten Pacitan berbasis WebGIS, skor validasi ahli peta dan skor ujicoba responden. Berdasarkan data hasil validasi ahli peta, dapat diketahui jumlah skor yang diperoleh sebesar 53 dengan persentase 76%, dan rata-rata skor sebesar 3,79 dengan kategori “baik”. Ujicoba produk oleh 20 mahasiswa Universitas Negeri Malang dan 20 masyarakat umum menunjukkan hasil skor sebesar 860 dengan persentase 86%, dengan kategori “sangat baik”. Berdasarkan hasil validasi ahli peta dan ujicoba mahasiswa mahasiswa Universitas Negeri Malang dan masyarakat umum, produk peta pariwisata Kabupaten Pacitan berbasis WebGIS layak untuk dipublikasikan.SUMMARYWahyudianto, Dony Eka. 2019. Development of Web-Based Geographic Information System (WebGIS) for Tourism Mapping in Pacitan District. Thesis, Department of Geography, Faculty of Social Sciences, State University of Malang. Advisor : (I) Drs. Rudi Hartono, M.Si, (II) Purwanto, S.Pd, M.Si.Keywords: WebGIS, Mapping, TourismPacitan Regency has many tourism objects, especially the beaches and caves. The Pacitan Tourism Office website already has a tourist map, but not WebGIS. WebGIS will make it easier for people to access tourism information on the internet and help the Pacitan government to promote tourism in the region.This study aims to determine the effectiveness of WebGIS tourism maps in promoting and providing tourism information in Pacitan Regency. This research refers to the development of the waterfall model; a systematic and sequential software development model. Pressman's model development research has several stages, namely method planning, data analysis, development design, coding, and product testing.This study resulted in a WebGIS-based tourism map for Pacitan District, map expert validation scores, and respondents' test scores. Map expert validation showed a score of 53 with a percentage of 76%, and an average score of 3.79 with the category "good". Product trials by 20 State University of Malang students and 20 community members showed a score of 860 with a percentage of 86%, which was in the "very good" category. Based on the results of expert map validation and trials conducted by students and public community, the WebGIS-based tourism map of Pacitan Regency is worthy of publication
Pengaruh Literasi Keuangan dan Status Sosial Ekonomi Orang Tua Terhadap Perilaku Konsumtif Mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi FE-UM Angkatan 2016
RINGKASAN Mawarti, Endah Dwi. 2019. Pengaruh Literasi Keuangan dan Status Sosial Ekonomi Orang Tua Terhadap Perilaku Konsumtif Mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi FE-UM Angkatan 2016. Skripsi. Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing Drs. Prih Hardinto, M.Si. Kata Kunci: Literasi Keuangan, Status Sosial Ekonomi Orang Tua dan Perilaku Konsumtif Perilaku konsumtif merupakan kegiatan konsumsi yang dilakukan tanpa adanya perencanaan mengenai keuangan sehingga pengeluaran menjadi tidak terkendali. Fenomena yang terjadi pada mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang angkatan 2016, dimana mereka mudah tergiur dengan adanya promo atau diskon yang ditawarkan di pusat-pusat perbelanjaan. Hal itu menyebabkan mereka mereka melakukan pembelian yang tidak rasional atau konsumtif. Perilaku konsumtif dapat dipengaruhi oleh faktor intern yaitu literasi keuangan. Literasi keuangan mahasiswa didapatkan dari pemahaman dalam materi-materi perkuliahan. Sedangkan, faktor ekstern yang dapat mempengaruhi perilaku konsumtif yaitu status sosial ekonomi orang tua. Peran orang tua dalam berperilaku konsumtif dapat menstimulus anak (mahasiswa). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh literasi keuangan terhadap perilaku konsumtif, (2) pengaruh status sosial ekonomi orang tua terhadap perilaku konsumtif, (3) pengaruh literasi keuangan dan status sosial ekonomi orang tua terhadap perilaku konsumtif. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang angkatan 2016. Penelitian ini menggunakan studi populasi dengan teknik pengambilan sampel yaitu proporsional random sampling dan diperoleh sebanyak 115 sampel penelitian. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan tes dan angket. Metode yang digunakan adalah kuantitatif. Analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda. Hasil pada penelitian ini dapat disimpulkan: (1) terdapat pengaruh negatif literasi keuangan terhadap perilaku konsumtif. (2) terdapat pengaruh positif status sosial ekonomi orang tua terhadap perilaku konsumtif. (3) terdapat pengaruh secara bersama-sama literasi keuangan dan status sosial ekonomi orang tua terhadap perilaku konsumtif mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi FE-UM angkatan 2016