SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    1629 research outputs found

    Penerapan Model Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas XI IPS 2 Pada Mata Pelajaran Geografi Di SMA Negeri 1 Turen Kabupaten Malang

    No full text
    Penerapan Model  Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pada Mata Pelajaran Geografi Febriana Andika Sari1, Yusuf Suharto2, Yuswanti Ariani Wirahayu3 Pendidikan Geografi, Universitas Negeri Malang [email protected] Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan Problem Based Learning untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan selama dua siklus. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Turen, Kabupaten Malang. Data penelitian meliputi hasil tes kemampuan berpikir kritis, hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran, dan catatan lapangan. Teknik analisis data yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran Geografi kelas XI IPA 2 SMA Negeri 1 Turen, Kabupaten Malang. Kata Kunci: Model Problem Based Learning, Kemampuan Berpikir KritisAbstract: This study aims to implement Problem Based Learning to improve students' critical thinking abilitys. This research is a classroom action research This research is a classroom action research carried out for two cycles. The research subjects are student of class XI IPS 2 SMA Negeri 1 Turen, Malang Regency. The research data included the result of critical thinking abilitys test, observation implementation of learning’s result, and field notes. Data analysis technique used are descriptive qualitative and quantitative. The result showed that the Problem Based Learning model can increase students critical thinking ability of class XI IPA 2 on Geography subject in SMA Negeri 1 Turen, Malang Regency. Key Words: Problem Based Learning Model, Critical Thinking Ability PendahuluanKurikulum 2013 merupakan bentuk kurikulum terbaru yang dibuat pemerintah dalam menghadapi perubahan. Kurikulum 2013 menekankan pada pendekatan saintifik (scientific approach) dengan melibatkan keterampilan proses dalam pembelajarannya (Hosnan, 2014). Pembelajaran dengan pendekatan saintifik dibutuhkan beberapa kemampuan diantaranya kemampuan berkomunikasi, kreatif dan juga berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu faktor berkembangnya pola pikir siswa. Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti di kelas XI IPS 2 di SMA Negeri 1 Turen didapatkan hasil bahwa terdapat beberapa masalah baik dari guru, siswa, dan sarana prasarana yang ada. Masalah yang ditemui dari guru yakni selama mengajar geografi, guru masih menggunakan metode pembelajaran ceramah, pemberian UKBM, dan pemberian tugas-tugas untuk siswa. Menurut guru, metode ceramah dianggap lebih mudah dan tidak memerlukan persiapan yang banyak. Model pembelajaran yang pernah digunakan guru yaitu Think Pair Share tetapi model ini belum efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Siswa tidak diberikan permasalahan untuk menyajikan solusi terkait materi yang dibahas sehingga kemampuan berpikir kritis siswa kurang terasah. Permasalahan selanjutnya yang berasal dari siswa yaitu siswa ketika mata pelajaran geografi berlangsung cenderung diam, terdapat sebagian siswa yang aktif ketika guru memberi pertanyaan (dari 31 siswa yang aktif hanya 6-8 siswa saja), dan  siswa yang aktif menjawab hanya menjawab sepengetahuannya saja. Permasalahan lain yang ditemui dari segi sarana dan prasarana yaitu penggunaan media pembelajaran yang jarang digunakan guru. Hal ini menyebabkan siswa menjadi kurang tertarik pada Geografi dan kesulitan untuk memahami materi geografi yang materinya sangat membutuhkan sebuah ilustrasi atau media yang dapat diamati siswa secara visual. Berdasarkan tahap pengambilan data awal juga diperoleh data berupa nilai  kemampuan berpikir kritis di kelas XI IPS 2. Rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis siswa hanya sebesar 48,5. Nilai tersebut apabila dimasukkan ke dalam klasifikasi kriteria kemampuan berpikir kritis termasuk sangat kurang baik (0-49). Nilai kemampuan berpikir kritis yang dicapai siswa dalam observasai awal ini yaitu 80, sedangkan nilai terendah yaitu 30. Terdapat 2 siswa dari 31 siswa  yang mendapat nilai diatas KKM (KKM=75) yaitu masing-masing mendapatkan nilai 77 dan 80. Adapula siswa yang mendapat nilai kategori cukup yaitu sebanyak 4 siswa dengan nilai 57, 60, 63, dan 70, sedangkan siswa lain nilainya masuk dalam kategori kurang. Rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa inilah yang menjadi alasan penelitian ini dilakukan.Berpikir kritis merupakan keterampilan paling penting agar sukses menghadapi abad 21. Berpikir kritis adalah sebuah keterampilan yang didapat dari proses pembelajaran. Berpikir kritis penting untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan menyimpan informasi secara efektif. Salah satu upaya untuk memfasilitasi kemampuan berpikir siswa dalam pembelajaran adalah dengan menggunakan model Problem Based Learning. Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang memberikan masalah nyata pada siswa, agar siswa belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah, melatih berpikir tingkat tinggi termasuk di dalamnya belajar bagaimana belajar (metakognitif), dan melatih siswa menjadi pembelajar mandiri dan self regulated (Savery, 2006). Menurut Arends (2008) menjelaskan bahwa model Problem Based Learning dirancang terutama untuk membantu siswa mengembangkan ketrampilan berpikir, ketrampilan menyelesaikan masalah, dan ketrampilan intelektualnya, mempelajari peran-peran orang dewasa dengan mengalaminya melalui berbagai situasi riil atau situasi yang disimulasikan dan menjadi pelajar mandiri dan otonom. Model ini dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa karena model Problem Based Learning mempunyai kelebihan yaitu siswa didorong untuk memiliki kemampuan memecahkan masalah dalam situasi nyata, memiliki kemampuan membangun pengetahuannya sendiri melalui aktivitas belajar, dan pembelajarannya harus berfokus pada masalah sehingga materi yang tidak ada hubungannya tidak perlu dipelajari oleh siswa. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Arnyana (2007) menjelaskan bahwa model Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Salah satu komponen dalam isu kecerdasan abad ke 21 (the issue of 21th century literacy) adalah High Order Thinking (HOT) yang merupakan bagian dari kemampuan berpikir kritis. Crawford dan Brown (2002) lanjut menjelaskan bahwa HOT didasarkan pada konten, kritis, dan berpikir kreatif. Kemampuan berpikir kritis menurut Ennis (2000) adalah suatu proses yang bersifat sistematis pada saat siswa mengambil keputusan tentang apa yang dipercaya dan dikerjakan. Fachrurazi (2011) mengemukakan bahwa dengan berpikir kritis siswa juga memungkinkan untuk merumuskan dan mengevaluasi keyakinan dan pendapat mereka sendiri. Selanjutnya, Parker (2009) mengemukakan bahwa keterampilan berpikir kritis merupakan proses yang terorganisasi dengan melibatkan aktivitas mental melalui pemecahan masalah, merumuskan kesimpulan, mengumpulkan berbagai kemungkinan dan membuat keputusan dimana cara berpikir ini mengembangkan penalaran yang kohesif, logis, dapat dipercaya, ringkas dan meyakinkan. Berdasarkan uraian yang telah disampaikan dapat diketahui bahwa Berpikir kritis yang dimaksud dalam artikel ini adalah proses terorganisasi yang melibatkan aktivitas mental yang mencakup kemampuan merumuskan masalah, memberikan argumen, melakukan deduksi, melakukan induksi, melakukan melakukan evaluasi, dan memutuskan serta melaksanakan dalam memecahkan suatu masalah.Penelitian mengenai pengaruh Problem Based Learning terhadap berpikir kritis pernah dilakukan. Penelitian Ardiyanti (2016) berjudul “Berpikir Kritis Peserta Didik dalam Pembelajaran Berbasis Masalah Berbantuan Kunci Determinasi”. Hasil penelitian menyatakan bahwa: Pertama pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan berpikir kritis peserta didik. Kedua, pembelajaran berbasis masalah berpikir kritis peserta didik untuk indikator memberikan penjelasan dasar. Ketiga pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan berpikir kritis peserta didik untuk indikator membangun keterampilan dasar. Keempat pembelajaran berbasis masalah dengan bantuan kunci determinasi dapat meningkatkan berpikir kritis peserta didik untuk indikator memberikan menyimpulkan (Ardiyanti, 2016). Penelitian yang dilakukan oleh Karuniasih dkk (2013), Wasiso & Hartono (2013) dan Nastiti & Slamet (2014) yang menyatakan bahwa penerapan model Problem Based Learning dalam pembelajaran di sekolah dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah dan berpikir kritis siswa.Penerapan model Problem Based Learning dalam mata pelajaran Geografi, khususnya pada pokok bahasan “Dinamika Kependudukan” dapat melatih kemampuan berpikir kritis siswa dikarenakan dalam pokok bahasan ini banyak terdapat permasalahan yang dapat diangkat sebagai masalah yang bersifat kontekstual. Pembelajaran yang demikian membuat siswa lebih antusias dalam pembelajaran karena permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yang nyata dari kehidupan siswa sehari-hari. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Yeung (2010) bahwa penggunaan PBL pada bidang studi geografi terbukti efektif dan efisien dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan di atas, maka artikel ini bertujuan untuk mengetahui penerapan model Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI IPS 2 pada mata pelajaran Geografi di SMA Negeri 1 Turen. MetodeJenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Turen, Kabupaten Malang pada semester genap tahun ajaran 2018/2019. dengan jumlah 31 siswa. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus yang setiap siklus terdapat dua kali pertemuan. Tahapan kegiatan penelitian yang dilaksanakan sesuai model Kemmis dan Taggart yang dimodifikasi oleh penulis yaitu: 1) perencanaan, 2) pelaksanaan, 3) evaluasi/analisis, dan 4) refleksi. Instrumen yang digunakan pada penelitian yaitu tes kemampuan berpikir kritis, lembar observasi, dan catatan lapangan. Tes yang digunakan berbentuk essay yang diberikan setiap akhir siklus. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini yaitu tes, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Analisis deskriptif kualitatif diperoleh selama proses pembelajaran. Untuk analisis data secara deskriptif kuantitatif diperoleh dari data hasil tes kemampuan berpikir kritis. HasilKeterlaksanaan Siklus IPenilaian terhadap tes kemampuan berpikir kritis siklus I yang telah dilakukan, didapatkan hasil rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa sejumlah 62,19. Nilai tertinggi yang diperoleh siswa yaitu 80 dan nilai terendah yaitu 48. Perolehan nilai pada siklus I ini menunjukkan ada peningkatan dari nilai pra siklus yaitu sebesar 28,23%. Rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis siswa siklus I ini masih belum cukup baik. Apabila dilihat dari kriteria ketuntasan (berdasarkan KKM = 75) sebanyak 90,32% atau 28 siswa masuk kriteria tidak tuntas dan terdapat 9,68% atau 3 siswa yang masuk kriteria tuntas. Maka perlu untuk dilakukan tindakan lagi untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.a) Kelebihan Pelaksanaan Tindakan Siklus I1) Guru menggunakan media yang menarik berupa power point dan gambar;2) Guru menggunakan model pembelajaran yang baru yang belum pernah diterapkan guru di sekolah; 3) Guru dengan sabar membimbing siswa dalam proses pembelajaran; dan4) Langkah-langkah dalam RPP secara umum sudah terlaksana.5) Nilai rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa pada siklus I meningkat daripada pra siklus. Pada pra siklus rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis siswa yaitu 48,5 dengan kemudian pada siklus I meningkat sebesar 62,19.b) Kekurangan/kendala Pelaksanaan Tindakan Siklus I1) Siswa pada jam-jam pelajaran terakhir (jam 13.30-15.00) ada yang jenuh, main HP, dan mengantuk;2) Bimbingan untuk memberikan alasan ketika siswa menjawab pertanyaan masih kurang;3) Durasi presentasi setiap kelompok tidak seimbang satu sama lain, ada yang lama ada yang sebentar, dan pertanyaan atau tanggapan didominasi oleh siswa pada kelompok tertentu (tidak merata di kelas), sedangkan anak lain cenderung diam (kurang aktif); 4) Ketika siswa presentasi masih terdapat beberapa siswa yang pasif; 5) Penguatan yang diberikan lebih banyak pada akhir kegiatan pembelajaran;6) Nilai rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa pada siklus I yaitu sebesar 62,19. Apabila dilihat dari kriteria ketuntasan, maka pada nilai tes kemampuan berpikir siswa siklus I terdapat sebanyak 90,32% atau 28 siswa tidak tuntas dan 9,68% atau 3 siswa yang tuntas. Jumlah tersebut masih belum cukup untuk dapat dikatakan kemampuan berpikir kritis siswa baik. Kemampuan berpikir kritis siswa masih dapat ditingkatkan untuk lebih baik lagi. Keterlaksanaan Siklus IIPenilaian terhadap tes kemampuan berpikir kritis siklus II yang telah dilakukan, didapatkan hasil rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa sejumlah 78,90. Nilai tertinggi yang diperoleh siswa yaitu 92 dan nilai terendah yaitu 65. Perolehan nilai pada siklus II ini menunjukkan ada peningkatan dari nilai siklus I yaitu sebesar 26,87%. Rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis siswa siklus II ini sudah baik. Apabila dilihat dari kriteria ketuntasan (berdasarkan KKM = 75) sebanyak 25,81% atau 8 siswa masuk kriteria tidak tuntas dan terdapat 74,19% atau 23 siswa yang masuk kriteria tuntas. Nilai ini menunjukkan bahwa siswa mengalami peningkatan kemampuan berpikir kritis dalam mata pelajaran geografi.a) Kelebihan Pelaksanaan Tindakan Siklus II:1) Guru menggunakan media yang menarik dan berbeda dari sebelumnya berupa video;2) Siswa lebih aktif berpendapat dan menyampaikan argumen di kelas daripada siklus sebelumnya;3) Presentasi lebih teratur, tertata, dan tertib;4) Guru dengan sabar membimbing siswa dalam proses pembelajaran;5) Penguatan lebih banyak diberikan sehingga siswa paham dengan permasalahan yang dipelajari; dan6) Langkah-langkah dalam RPP sudah terlaksana dengan baik.7) Nilai rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa pada siklus II menunjukkan adanya peningkatan dari siklus I. Pada siklus I rata-rata nilai kemampuan barpikir kritis siswa yaitu sebesar 62,19 kemudian meningkat pada siklus II sebesar 78,90. b) Kekurangan/kendala Pelaksanaan Tindakan Siklus II1) Masih ada siswa yang mengoperasikan HP diam-diam (3 siswa). Kemampuan Berpikir KritisKemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran geografi dalam penelitian ini diukur menggunakan tes essay. Ringkasan data nilai kemampuan berpikir kritis siswa untuk setiap indikator selama pra siklus, siklus I, dan II dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini.Tabel 2. Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 TurenTahap Rata-Rata Nilai Kemampuan Berpikir Kritis Peningkatan Persentase (%)Pra Siklus  48,5-Siklus I 62,19 13.69 28,23Siklus II 78,90 16,71 26,87Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui bahwa rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI IPS 2 mengalami peningkatan dari pra siklus ke siklus I setelah diberi tindakan berupa model Problem Based Learning pada mata pelajaran Geografi. Pada siklus II nilai rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa mengalami peningkatan dari siklus I. Untuk lebih jelasnya, peningkatan kemampuan berpikir kritis tersebut dapat dilihat pada gambar/grafik berikut ini.Gambar 1. Grafik Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 TurenPeningkatan kemampuan berpikir kritis siswa selain dilihat dari rata-rata nilai keseluruhan siswa, juga dilihat pula dari nilai setiap indikatornya seperti pada Tabel 3 berikut ini:Tabel 3. Peningkatan Tiap Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 TurenNo. Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Rerata Skor Tiap Siklus Jumlah Rerata Tiap Indikator (%)  Pening-katan Persentase Peningkatan (%)Siklus I Siklus II 1. Merumuskan Masalah 56,13 87,10 143,23 71,62 30,97 55,182. Menguraikan Argumen 69,03 72,39 141,42 70,71 3,36 4,873. Melakukan Deduksi 55,16 76,13 131,29 65,65 20,97 38,024. Melakukan Induksi 60,97 85,16 146,13 73,07 24,19 39,685. Melakukan Evaluasi  60,32 82,15 142,47 71,24 21,83 36,196. Memutuskan  Solusi 76,13 89,03 143,23 82,58 12,90 16,94Total  377,74   491,96 847,77 434,87 114,22 190,88Rata-rata Persentase Tiap Indikator (%) 72,48Kualifikasi BAIKBerdasarkan Tabel 3 tesebut didapatkan hasil peningkatan kemampuan berpikir kritis sesuai indikator-indikatornya pada siklus I dan II memiliki rata-rata persentase 72,48% dengan kualifikasi Baik. Data-data peningkatan skor siswa setiap indikator kemampuan berpikir pada siklus I dan II dapat dilihat pada gambar/grafik berikut ini.Gambar 2. Grafik Peningkatan Tiap Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Turen PembahasanPada pelaksanaan siklus I selama dua pertemuan diperoleh temuan bahwa keterlaksanaan pembelajaran cukup baik, namun masih terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya meliputi siswa tertarik dengan model yang baru diterapkan pada mata pelajaran geografi dan media yang digunakan. Adapun kekurangannya yaitu terdapat aspek dalam lembar observasi keterlaksanaan model pembelajaran yang belum dilaksanakan. Managemen waktu tiap kelompok diskusi masih belum seimbang, dan keaktifan siswa dalam pembelajaran masih kurang. Hal ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran belum berjalan dengan maksimal. Kemampuan berpikir kritis siswa pada siklus I mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan pra siklus, ini dibuktikan dengan nilai hasil tes kemampuan berpikir kritis yang diperoleh siswa. Soal tes tersebut terdiri dari indikator-indikator kemampuan berpikir kritis. Pada tes pra siklus rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI IPS 2 hanya 48,5 kemudian meningkat pada siklus I menjadi 62,19 peningkatannya sebanyak 28,23%. Model Problem Based Learning merupakan hal yang baru bagi siswa, siswa mengalami kendala pada saat merumuskan masalah, dan melakukan deduksi. Siswa masih belum sepenuhnya memahami bagaimana merumuskan suatu permasalahan dan melakukan deduksi, sehingga nilai rata-rata tiap indikator pada kedua indikator tersebut lebih rendah daripada indikator lain yang meliputi mengungkapkan argumen, melakukan induksi, menguraikan alternatif solusi, dan memutuskan solusi yang tepat yaitu 56,13 pada indikator merumuskan masalah dan 55,16 pada melakukan deduksi.Pada pelaksanaan siklus II selama dua pertemuan diperoleh temuan bahwa keterlaksanaan pembelajaran lebih baik daripada siklus I, hal ini didukung oleh media ang digunakan, perbaikan manajemen waktu, dan siswa yang lebih percaya diri dalam mengungkapkan pendapat sehingga kelas lebih aktif. Peningkatan keaktifan siswa ini sejalan dengan hasil penelitian Raath (2016) bahwa siswa memiliki pengalaman belajar kolaboratif yang sangat positif dalam kerja kelompok, siswa merasa termotivasi dan senang terhadap strategi PBL sehingga menghasilkan keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran.  Kemampuan berpikir kritis siswa pada siklus II mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan siklus II, ini dibuktikan dengan nilai hasil tes kemampuan berpikir kritis yang diperoleh siswa. Soal tes tersebut terdiri dari indikator-indikator kemampuan berpikir kritis. Pada tes siklus I rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI IPS 2 yaitu 62,19 kemudian meningkat pada siklus II menjadi 78,90 peningkatannya sebanyak 26,87%. Rata-rata persentase peningkatan tiap indikator berpikir kritis yaitu 72,48% dan masuk pada klasifikasi B (baik). Apabila ditinjau dari nilai tiap indikatornya, terjadi peningkatan di setiap indikator berpikir kritis. Pada siklus II kendala pada siklus I yang berupa rendahnya nilai pada indikator merumuskan masalah dan melakukan diskusi mengalami perbaikan yaitu meningkatnya nilai pada indikator tersebut dibandingkan pada tes sebelumnya. Hal ini karena siswa sudah lebih memahami maksud dari merumuskan masalah dan melakukan deduksi serta indikator-indikator yang lain. Siswa terlatih dan semakin lama terbiasa dengan kegiatan berpikir untuk memecahkan suatu masalah. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Mahanal (2010) yang menjelaskan bahwa PBL menjadi salah satu cara yang efektif dalam mendorong berkembangnya kemampuan berpikir kritis siswa melalui latihan pemecahan masalah. Problem Based Learning dapat melatih siswa agar terbiasa dengan permasalahan yang bersifat kontekstual dan nyata, dengan begitu siswa akan berpikir untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan mengenali dan menganalisis permasalahannya. Pernyataan ini sejalan dengan penelitian Savery (2006) bahwa keterampilan berpikir kritis yang dikembangkan melalui PBL adalah kemampuan untuk mengidentifikasi masalah dan menetapkan parameter pada pengembangan solusi yang memungkinkan.Peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa diakibatkan adanya keterlibatan siswa dan penerapan model Problem Based Learning di dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, penerapan Problem Based Learning memberikan dampak positif yang kuat terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa. Hal dipengaruhi oleh sintaks Problem Based Learning yang menunjang keterlibatan siswa secara langsung dalam pembelajaran dimana siswa merasa bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri. Hal tersebut membuat siswa menjadi pembelajar yang mandiri (Jacobsen dkk, 2009).Salah satu komponen dalam isu kecerdasan abad ke 21 (the issue of 21th century literacy) adalah High Order Thinking (HOT) yang merupakan bagian dari kemampuan berpikir kritis. Crawford dan Brown (2002) lanjut menjelaskan bahwa HOT didasarkan pada konten, kritis, dan berpikir kreatif. Kemampuan berpikir kritis menurut Ennis (2000) adalah suatu proses yang bersifat sistematis pada saat s

    PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DI DAS METRO PENGARUHNYA TERHADAP SUMBANGAN VOLUME SEDIMENTASI WADUK SUTAMI KABUPATEN MALANG

    No full text
    RINGKASANIndriani, Lia. 2019. Perubahan Tutupan Lahan di DAS Metro Pengaruhnya terhadap Sumbangan Volume Sedimentasi Waduk Sutami Kabupaten Malang.Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Didik Taryana, M.Si, (II) Drs. Rudi Hartono, M.Si Kata Kunci: Tutupan Lahan, erosi, sedimentasiWaduk Sutami merupakan waduk terbesar di Jawa Timur yang memiliki berbagai fungsi utama yaitu sebagai sumber tenaga listrik, pengendali banjir, serta sumber irigasi. Fungsi penting tersebut menjadi alasan untuk mengurangi dan mengendalikan sedimentasi yang masuk ke waduk. Sedimentasi yang terjadi di Waduk Sutami salah satunya berasal dari DAS Metro yang merupakan sumber inflow utama, dimana erosi dan sedimentasi yang terjadi di DAS Metro akan menambah volume sedimen di Waduk Sutami. Volume erosi dan sedimentasi DAS Metro dipengaruhi oleh adanya alih fungsi lahan dari hutan menjadi lahan pertanian dan lahan terbangun.  Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui tren perubahan tutupan lahan di DAS Metro, (2) mengetahui pengaruh perubahan tutupan lahan di DAS Metro terhadap sedimentasi pada Waduk Sutami, (3) menganalisis kontribusi volume sedimentasi DAS Metro pada sedimentasi total Waduk Sutami. Tahapan penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut, yaitu (1) tahap pengolahan citra Satelit Landsat untuk mengklasifikasikan perubahan tutupan lahan DAS Metro tahun 1995 – 2018, (2) pengukuran erosi dengan metode plot untuk menentukan estimasi laju dan volume erosi berdasarkan satuan unit lahan yang berbeda, (3) penentuan volume sedimentasi pada outlet DAS Metro berdasarkan konsentrasi sedimen dan debit aliran, (4) menguji adanya pengaruh perubahan tutupan lahan bervegetasi dan volume erosi di DAS Metro terhadap sumbangan sedimentasi Waduk Sutami, serta (5) menganalisis kontribusi sedimen dari DAS Metro pada sedimentasi total Waduk Sutami.Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut, yaitu 1) penurunan luas area hutan sebesar 74,7%, kenaikan luas ladang sebesar 103%, kenaikan luas kebun sebesar 52,7%, kenaikan lahan terbangun sebesar 47,1% dan penurunan luas sawah 4,5%, 2) perubahan tutupan lahan dan laju erosi yang paling berpengaruh terhadap sedimentasi Waduk Sutami berasal dari kebun dan ladang dimana besarmya pengaruh mencapai 82,3 %,  3) kontribusi sedimen dari DAS Metro pada sedimentasi total Waduk Sutami dari tahun 1995 – 2018 mengalami peningkatan volume sebesar 2,12 juta m3, akan tetapi dari persentase mengalami penurunan mulai tahun 2011 dari 77 % menjadi 56 % dikarenakan penambahan sedimen dari DAS Lesti dan DAS Brantas. Tanpa mempertimbangkan inflow lain, sedimen dari DAS Metro dimungkinkan bisa memenuhi tampungan mati Waduk Sutami pada tahun 2046

    Hubungan Antara Motivasi Belajar dan Minat Siswa Program Lintas Minat Geografi dengan Hasil Belajar Geografi Siswa SMA Negeri di Kota Malang

    No full text
    RINGKASANHidayat, Ristania Fidyani. 2019. Hubungan Antara Motivasi Belajar dan Minat Siswa Program Lintas Minat Geografi dengan Hasil Belajar Geografi Siswa SMA Negeri di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakutas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Budi Handoyo, M.Si.,(II) Dr. Satti Wagistina, S.P., M.Si. Kata Kunci : Motivasi Belajar, Minat Siswa, Hasil Belajar Geografi, Lintas Minat GeografiLintas minat merupakan program yang membuat siswa dapat memilih mata pelajaran sesuai dengan minat dan kemampuan siswa diluar mata pelajaran peminatan siswa. Pemilihan mata pelajaran pada program lintas minat didasari oleh minat dan kebutuhan siswa akan mata pelajaran tersebut. Tujuan dari diadakan program lintas minat untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan kompetensi yang dimiliki sesuai minat, bakat, dan kemampuan akademik diluar kelas peminatan yang sudah dipilih oleh siswa. Realita pelaksanaan program lintas minat di sekolah ternyata tidak sesuai dengan tujuan yang ditetapkan oleh pemerintah. Mata pelajaran pilihan yang diikuti oleh siswa dalam program lintas minat tidak sesuai dengan pilihan siswa, melainkan sudah ditetapkan oleh pihak sekolah seperti program peminatan.Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui hubungan motivasi belajar dengan hasil belajar geografi siswa program lintas minat SMA Negeri di Kota Malang; (2) mengetahui hubungan minat siswa dengan hasil belajar geografi siswa program lintas minat SMA Negeri di Kota Malang; (3) mengetahui hubungan motivasi belajar dan minat siswa dengan hasil belajar geografi siswa program lintas minat SMA Negeri di Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis deskriptif. Metode yang digunakan adalah metode survey. Teknik pengumpulan data meliputi teknik angket dan dokumentasi. Skala pengukuran untuk mengetahui motivasi belajar dan minat siswa menggunakan skala likert. Teknik analisis data menggunakan uji korelasi ranking spearman dan uji koefisien kontingensi. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa di SMA Negeri di Kota Malang yang mengikuti program lintas minat geografi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik Stratified Random Sampling.Hasil dari penelitian menunjukan: (1) didapat nilai korelasi antara motivasi belajar dengan hasil belajar sebesar -0,005, dan thitung -0,081 ≤ 1,97, maka hubungan antara motivasi belajar dengan hasil belajar geografi siswa program lintas minat SMA Negeri di Kota Malang tidak signifikan; (2) didapat nilai korelasi antara minat belajar dengan hasil belajar sebesar 0,031, dan thitung 0,505 ≤ 1,97, maka hubungan antara minat siswa dengan hasil belajar siswa program lintas minat geografi SMA Negeri di Kota Malang tidak signifikan; (3) didapat nilai x2hitung = 13,71 ≥ 0,113, maka hubungan antara motivasi belajar dan minat siswa dengan hasil belajar geografi siswa program lintas minat SMA Negeri di Kota Malang adalah signifikan. SUMMARYHidayat, Ristania Fidyani. 2019. The Connection Between Learning Motivation and Preference of Cross-Major Program Student Against Learning Results in Geography of Public High School Students in Malang City. Undergraduate thesis, Geography Department, Faculty of Social Science, Universitas Negeri Malang. Supervisor: (I) Dr. Budi Handoyo, M.Si., (II) Dr. Satti Wagistina, S.P., M.Si. Keyword: Learning Motivation, Students Preferences, Geography Learning Result, Cross-Major Courses Program.Cross-major is a program for a student to choose subjects according to their preference and capability other than student’s elective subject. The subject selection on the cross-major program was based on student’s preference and capability in the selected subject. The intention of cross-major program is to give student a chance to develop the competence according to their preference, talent, and academic capability beyond their major subjects. In reality, cross-major implementation in school does not meet government’s expectation. The elective subjects, in which student attended, in cross-major program does not match with student’s selection.This research is conducted to (1) know the connection between learning motivation with learning result in geography of cross-major program students in public high school in Malang; (2) to know the relationship between student’s preference with learning results in geography of cross-major students of public high school in Malang; (3) to know the relationship between learning motivation and preference with learning result in geography of cross-major students of public high school in Malang. This research is using quantitative approach with descriptive analysis. The method for the research is survey method. Data collection method includes questionnaire and documentation. The measurement scale to know the learning motivation and student’s preference is using likert scale. Data analysis method is using Spearman’s ranking correlation test and coefficient contingency test. The population in this research is all of the students in public high school in Malang of whom take the cross-major program. Sample collection method in this research is by using Stratified Random Sampling technique. Result of this research shows: (1) the obtained correlation value between learning motivation with learning results is -0,005, and thitung -0,081 ≤ 1,97, then the relationship between learning motivation with learning results in geography of cross-major students in Malang’s public high school is not significant; (2) the obtained correlation value between student’s learning preferences with learning result is 0,031, and thitung 0,505 ≤ 1,97, then the relationship between student’s learning preferences with learning result in geography of cross-major students in Malang’s public high school is not significant;  (3) the obtained value x2hitung = 13,71 ≥ 0,113, then the relationship between learning motivation and preferences with learning result in geography of cross-major students in Malang’s public high school is significant

    PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING PADA MATA PELAJARAN GEOGRAFI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI SISWA KELAS XI SMAN 6 MADIUN

    No full text
    PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING PADA MATA PELAJARAN GEOGRAFI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI SISWA KELAS XI SMAN 6 MADIUNElga Baskoro Yuwono FIS Universitas Negeri [email protected] Abstract:The ability to think high is important in the geography learning process. Because with high-level thinking skills students can process and evaluate information received with the ability to think critically, creatively and the ability to solve problems. One learning model that can improve high-level thinking skills in students is the Discovery Learning model. Discovery Learning is a cooperative learning model that requires students to play a more active role in finding valid sources and are able to find a solution to the problem.This study aims to determine whether the application of the Discovery Learning model can improve high-level thinking skills in the basic competencies of National Culture and Global Interaction in students of class XI IPS 2 of SMAN 6 Kota Madiun in the year 2017/2018. This research is a classroom action research. The subjects of this study were 26 students of class XI IPS 2. The research instruments used for data collection were essay test questions which were made 4 items which each of the questions represented an indicator of high-level thinking, namely analyzing, evaluating, and creating.The conclusions from the results of this study indicate that the application of the Discovery Learning model can improve the high-level thinking skills of XI IPS 2 students of SMAN 6 Madiun City. Based on the results of this study, it can be suggested that further research be conducted on different subjects and precisely in order to find out the application of the Discovery Learning model to high-level thinking skills. Keywords: Model Discovery Learning, Higher Level Thinking AbilityAbstrak:Kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan hal yang penting dalam proses pembelajaran geografi. Karena dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dapat mengolah dan mengevalusi informasi yang diterima dengan kemampuan berpikir kritis, kreatif dan kemampuan pemecahkan masalah. Salah satu model yang pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi pada siswa adalah model Discovery Learning. Discovery Learning merupakan model pembelajaran kooperatif yang menuntut siswa untuk berperan lebih aktif dalam mencari sumber yang valid dan mampu menemukan sebuah solusi dari masalah tersebut.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan model Discovery Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi pada kompetensi dasar Budaya Nasional dan Interaksi Global pada siswa kelas XI IPS 2 SMAN 6 Kota Madiun tahun pembelajaran 2017/2018. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Subyek penelitian ini berjumlah 26 siswa kelas XI IPS 2. Instrumen penelitian yang digunakan untuk pengumpulan data adalah soal tes essai yang dibuat sejumlah 3 butir soal yang masing-masing soal mewakili indikator dari berpikir tingkat tinggi yaitu menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.Kesimpulan dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa penerapan model Discovery Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas XI IPS 2 SMAN 6 Kota Madiun. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut pada subjek dan tepat yang berbeda guna mengetahui penerapan model Discovery Learning terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi.Kurikulum 2013 merupakan kurikulum baru yang dibentuk oleh pemerintah. Kurikulum 2013 menekankan pada pendekatan saintifik dengan melibatkan keterampilan proses dalam pembelajarannya. Penerapan pembelajaran dengan pendekatan saintifik mencangkup beberapa aktivitas. Aktivitas tersbut diantaranya adalah mengajukan pertanyaan, melakukan pengamatan (observasi), melakukan penalaran, melakukan eksperimen atau mencoba, dan mengembangkan jaringan. Pada pembelajaran dengan pendekatan saintifik dibutuhkan beberapa kemampuan diantaranya yaitu komunikatif, kreatif dan berpikir kritis. Kemampuan-kemampuan ini termasuk dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi.Kemampuan berpikir tingkat tinggi memerlukan keterlibatan peserta didik secara aktif dan peran guru sebagai mediator sekaligus fasilitator bagi siswa. Hasil dari observasi pembelajaran yang dilaksanakan di kelas XI SMA Negeri 6 Madiun menunjukan bahwa kurangnya peserta didik didalam mengevaluasi, menganalisi, dan menciptakan solusi selama proses pembelajaran berlangsung. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul selama proses pembelajaran juga masih sebatas tentang pehaman, dan pengetahuan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat berpikir siswa di SMA Negeri 6 Madiun masih rendah.Analisis penyebab timbulnya masalah ada beberapa faktor. Analisis pertama adalah dari faktor siswa. Dari hasil observasi yang sudah dilaksanakan di SMA Negeri 6 Madiun menunjukkan bahwa masih banyaknya siswa yang lupa akan materi yang telah dipelajari sebelumnya, tidur selama proses pembelajaran geografi berlangsung, mengerjakan pekerjaan rumah (PR) di dalam kelas, bermain handphone dan peserta didik kurang aktif selama proses pembelajaran, serta siswa kurang responsif dalam mengajukan pertanyaan. Hal ini menyebabkan proses pembelajaran di dalam kelas menjadi kurang aktif.Selain dari siswa yang kurang berminat di dalam pembelajaran, faktor kedua adalah guru yang seharusnya bersifat sebagai fasilitator dan mediator masih terkesan memberikan materi dengan metode yang kurang menarik, sehingga menyebabkan siswa menjadi kurang aktif dalam pembelajaran. Proses pembelajaran yang membosankan tersebut dapat dilihat dari cara guru menyampaikan materi dengan metode ceramah. menimbulkan siswa menjadi kurang aktif dalam menanggapi apa yang disampaikan oleh guru di depan kelas sehingga banyak siswa yang mengantuk selama proses pembelajaran berlangsung. Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara dengan guru geografi dan peserta didik bahwa tes soal yang sering diujikan guru kepada siswa adalah tipe soal pada tingkat proses kognitif C1-C3 yang termasuk pada level rendah.Faktor selanjutnya yang menyebabkan proses pembelajaran di dalam kelas menjadi membosankan adalah metode yang digunakan oleh guru selama proses pembelajaran, metode ceramah yang diterapkan selama proses berlangsung masih terkesan berpusat pada guru. Hal ini bertentangan dengan kurikulum 2013 yang menekankan pada pendekatan saintifik, dimana siswa diharapkan aktif melakukan penalaran, mencoba dan mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Untuk itu pemilihan metode yang akan diterapkan selama proses pembelajaran sangat penting demi berlangsungnya proses pembelajaran yang lebih baik.Ada beberapa solusi untuk meningkatkan berpikir tingkat tinggi pada mata pelajaran geografi. Pada sektor guru sebagai fasilitator dan mediator diharapkan lebih aktif di dalam kelas sehingga dapat menguasai proses pembelajaran. Penerapan metode ceramah yang dilakukan oleh guru diharapkan dapat diganti dengan metode yang lebih aktif dan inovatif. Penerapan metode yang inovatif diharapkan dapat meningkatkan keaktifan siswa selama proses pembelajaran geografi berlangsung. Kemampuan berpikir tingkat tinggi memerlukan keterlibatan siswa dan guru secara aktif. Ada beberapa model pembelajaran yang dapat digunakan, diantaranya discovery learning (DL), problem based learning (PBL), project based learning (PjBL). Model pembelajaran DL dimana siswa diajak untuk menemukan sesuatu yang baru selama proses pembelajaran. Model PBL lebih menekanan pada menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi peserta didik untuk belajar tentang cara berpikir kritis, sedangkan PjBL adalah metode pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Dari model di atas salah satu yang cocok untuk diterapkan di SMA Negeri 6 Madiun adalah model Discovery Learning. Ada beberapa alasan yang melatar belakangi pemilihan model Discovery Learning.Pertama, Discovery Learning dapat melatih siswa mengembangkan kemampuan berpikirnya. Takdir (2012) mengungkapkan bahwa Discovery Learning menekankan pada proses pengembangan diri (self development) yang menuntut mereka bisa mengolah pikiran, mengoptimalkan potensi yang terpendam, menumbuhkan kemampuan (ability), kecerdasan (smartness), kedewasaan (adulness) dan kesadaran kritis (critical conciousness). Hal ini sangat cocok digunakan dalam proses pembelajara yang menekankan pada pendekatan saintifik.Kedua, model Discovery Learning didukung oleh beberapa teori belajar dari para ahli. Teori Piaget menyatakan bahwa pentingnya kegiatan dalam proses belajar. Pengalaman belajar aktif cenderung meningkatkan perkembangan kognitif, sedangkan pengalaman belajar pasif cenderung mempunyai akibat yang lebih sedikit dalam meningkatkan perkembangan kognitif anak. Keaktifan ini timbul dari rasa ingin tahu siswa (Curiousity) (Thobroni, 2015). Hal ini sejalan dengan Discovery Learning yang menggunakan pendekatan saintifik dan menuntut siswa untuk bertindak aktif di dalam proses pembelajaran. Seorang siswa memiliki rasa ingin tahu dalam pembelajaran. Rasa ingin tahu tersebut akan membawa siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Mengingat bukan cuma hasil saja namun juga membutuhkan proses.Selain dari yang telah dijelaskan oleh piaget. Teori Bruner (Free Discovery Learning) menyatakan bahwa belajar merupakan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia dengan sendirinya sehingga memperoleh hasil yang paling baik. Berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang benar-benar bermakna. Siswa harus berperan aktif dengan konsep dan prinsip-prinsip agar memperoleh pengalaman dan melakukan eksperimen yang diinginkan mereka untuk menemukan prinsip-prinsip itu sendiri. (Thobroni, 2015). Teori Vygotsky dalam idenya yaitu scaffolding bahwa dalam mencapai kemandirian siswa untuk menemukan hal baru, siswa juga membutuhkan orang lain (Hitipeuw, 2009).Berdasarkan paparan teori Piaget, Bruner dan Vygotsky, dapat ditegaskan bahwa model Discovery Learning dapat melatih siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya. Rasa ingin tahu yang dimiliki oleh setiap siswa akan membuat mereka aktif dalam pembelajaran. Namun demikian, untuk menemukan hal-hal baru maka siswa membutuhkan bantuan orang lain.Berdasarkan hasil penelitian Fitri Apriani (2014) tentang “Pengaruh Penggunaan Model Discovery Learning Dengan Pendekatan Saintifik terhadap Keterampilan Berfikir Kritis Siswa SMAN 7 Pontianak” pada matapelajaran kimia. Pembelajaran dengan model discovery learning dengan pendekatan saintifik memberikan peningkatan hasil belajar dengan effect size sebesar 0,78. Dalam hasil penelitian Welly Mentari (2015) tentang pengaruh model discovery learning terhadap kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa. Dari penelitian yang dilakukan oleh Rangga Romana (2015) tentang “ Pengaruh model Discovery Learning menggunakan media video terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa Smart Brawijaya Malang”. Penerapan model discovery learning berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis dan penerapan model discovery learning memiliki pengaruh dalam meningkatkan hasil belajar siswa.  Melihat bahwa keterampilan berfikir kritis adalah salah satu bentuk keterampilan berfikir tingkat tinggi, maka Discovery Learning relevan untuk melatih kemampuan berfikir tingkat tinggi. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan maka penulis tertarik untuk menggunakan metode pembeljaran discovery leraning dengan penelitian yang berjudul “Penerapan Model Discovery Learning Pada Mata Pelajaran Geografi Untuk Meningkatkan Kemampuan Bepikir Tingkat Tinggi Siswa Kelas XI SMAN 6 Madiun”. METODEPenelitian ini dirancang dengan menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK) yakni penelitian yang bertujuan untuk memperbaiki suatu keadaan pembelajaran di kelas dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu. Tindakan yang dilakukan adalah penerapan pembelajaran kooperatif model discovery learning untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 6 Kota Madiun.Penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan suatu bentuk kajian yang bersifat refleksif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan rasional dari tindakan-tindakan yang dilakukan. Hal ini juga untuk memperbaiki kondisi-kondisi di mana praktek-praktek pembelajaran dilakukan. Fokus penelitiannya terletak pada tindakan-tindakan yang akan digunakan saat penelitian dilakukan. Kemudian dilakukan evaluasi apakah tindakan tersebut dapat digunakan untuk memecahkan masalah pembelajaran yang sedang dihadapi.Hakekat penelitian tindakan kelas (PTK) yaitu untuk memperbaiki proses pembelajaran agar diperoleh hasil yang lebih baik. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk mengatasi masalah pembelajaran yang ada di kelas tersebut. Jadi dengan adanya penelitian tindakan kelas, guru bisa menerapkan salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi kelas dan karakter siswa. Model pembelajaran yang akan digunakan dalam penelitian yaitu model discovery learning.  HASIL DAN PEMBAHASANHasilPenelitian ini memperoleh hasil berupa temuan penelitian. Temuan dari penelitian ini ialah penerapan model Discovery Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas XI IPS 2 SMAN 6 Madiun pada mata pelajaran Geografi.Meningkatnya kemampuan berpikir tingkat tinggi pada siswa setelah penerapan model Discovery Learning, karena terdapat keterkaitan antara kelebihan model dengan faktor-faktor kemampuan berpikir tingkat tinggi. Keterkaitan tersebut juga dapat dilihat dari kemampuan berpikir tingkat tinggi menitikberatkan pada kemampuan siswa untuk menjawab soal tes berupa uraian. Dimana siswa diajak untuk berpikir secara logis, analitis, dan sitematis. Hal tersebut selaras dengan pendapat Nana Sudjana mengenai kelebihan tes uraian adalah“1) Dapat mengukur proses mental yang tinggi atau aspek kognitif tingkat, 2) dapat mengembangkan kemampuan berbahasa, baik lisan maupun tulisan, 3) dapat melatih kemampuan berpikir teratur atau penalara yakni berpikir logis, analitis, dan sistematis, 4) mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, 5) adanya keuntungan teknis seperti mudah membuat soalnya sehingga tanpa memakan waktu yang lama, guru dapat secara langsung melihat proses berpikir siswa.” (Sudjana, 2011). Sedangkan keterkaitan antara kelebihan model Discovery Learning dengan faktor yang mempengaruhi kemampuan berpikir tigkat tinggi antara lain : 1) siswa dapat menganalisis penyebab dan akibat dari sebuah interaksi global, 2) membuat kesimpulan dari sebuah interaksi global berdasarkan unsur-unsur yang dimiliki, 3) melahirkan upaya penanggulangan yang baru dan unik. Sedangkan yang mempengaruhi kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yaitu 1) faktor genetik, 2) faktor pengalaman, 3) faktor lingkungan.Keterkaitan pertama dari model Discovery Learning yaitu, siswa diberi sebuah stimulus tentang permasalahan yang ada dan mengajak siswa untuk menggali lebih dalam tentang mengapa sebuah masalah itu dapat terjadi di lingkungan sekitar kita serta siswa dibebaskan dalam mencari informasi terkait topik tersebut tidak hanya melalui sebuah buku paket saja melainkan dari berbagai sumber seperti internet agar siswa berperan aktif dalam kelas serta mengetahui kebenaran tentang bagaimana suatu masalah itu dapat terjadi. Hal tersebut diperkuat dengan pendapat Krathwolh “menganalisi informasi yang masuk dengan mebagi-bagi atau menstruktur informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungan” (Karthwolh,2002). Berdasarkan pendapat tersebut apabila siswa hanya mendapatkan materi dari salah satu sumber saja akan membuat siswa menjadi kurang aktif di dalam menggali kebenaran dari suatu masalah tersebut sehingga  data yang ada masih dirasa kurang dan suasana pembelajaran terkesan berpusat pada satu titik. Kelebihan tersebut berkaitan dengan faktor yang mempengaruhi kemampuan berpikir tingkat tinggi yaitu, faktor pengalaman. Faktor pengalaman dapat mempengaruhi kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Pengalaman pada siswa muncul dengan sering dilatih dan terlibat secara langsung dalam kegiatan yang mendorong berpikir tingkat tinggi. Ketika seseorang dilatih untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tingi secara terus menerus, maka secara tidak langsung akan menjadi sebuah kebiasaan untuk menganalisis suatu permasalahan. Kebiasaan inilah yang nantinya dapat membentuk suatu pengalaman bagi siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi.Keterkaitan kedua dari metode Dicovery Learning yaitu, siswa dapat membuat kesimpulan dari sebuah interaksi global. Kegiatan model Dsicovery Learning mengajak siswa untuk saling berdiskusi satu dengan yang lain dimana siswa tidak hanya bekerja sendiri melainkan siswa juga diajak untuk bekerja secara tim agar lingkungan belajar di kelas menjadi lebih hidup dan dapat membantu satu dengan yang lain demi mendapat suatu kesimpulan dari sebuah interkasi global yang ada. Kelebihan tersebut berkaitan dengan faktor yang mempengaruhi kemampuan berpikir tingkat tinggi yaitu faktor lingkuangan. Faktor eksternal dari kemampuan berpikir tingkat tinggi yaitu lingkungan. Lingkungan dijadikan sebagai tempat penentu berkembangnya kemampuan seorang anak salah satunya pekembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Lingkungan berpengaruh besar atas perkembangan kemampuan atau kecerdasan dari seorang anak (Lukman, 2014). Hal ini terjadi ketika seorang anak dihadapkan pada lingkungan yang membiasakannya untuk berpikir dalam penyelesaian masalah, maka secara tidak langsung anak tersebut terbiasa untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Dengan demikian, kemampuan berpikir khususnya berpikir tingkat tinggi dapat berkembang karena anak dihadapkan pada permasalahan serta pemecahan masalah.Keterkaitan ketiga yaitu, kemampuan siswa melahirkan upaya penanggulangan yang baru dan unik. Pada tahap ini dimana siswa setelah melakukan kegiatan analisis dan mengevaluasi suatu interaksi yang ada siswa dituntut untuk  dapat menciptakan atau melahirkan suatu solusi dari sebuah interaksi yang baru dan unik. Hal ini dapat mendorong siswa untuk lebih berpikir krearif dan inovatif di dalam menemukan solusi karena siswa memiliki lebih banyak sumber bacaan atau referensi. Hal ini diperkuat dengan pendapat Mulyasa dkk tentang kelebihan model Discovery Learning yaitu: 1) melatih kemandirian siswa dalam belajar, 2) mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri, 3) mendorong siswa berpikir intuisi dan merumuskan hipotesis, 4) melatih siswa mendayagunakan berbagai jenis sumber belajar, 5) membantu siswa memeprkuat konsep dirinya karena memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan temannya, 6) melatih siswa berperan aktif mengembangkan gagasan dan 7) mengembangkan ingatan dan transfer pengetahuan siswa (Mulyasa, dkk, 2016).Kelebihan tersebut berkaitan dengan faktor yang mempengaruhi kemampuan berpikir tingkat tinggi yaitu, pengalaman dan lingkungan. Dengan adanya kegiatan interaksi yang aktif serta pencarian sumber yang tidak hanya berpusat pada satu sumber saja akan menambah pengalaman dan wawasan siswa dalam menciptakan suatu solusi atas terjadinya suatu hasil interaksi global. Kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan upaya sekuat tenaga dan kerja keras yang melibatkan kerja mental serta melakukakan elaborasi dan pemberian pertimbangan (Zannah, 2013).Hasil penelitian ini mendukung penelitian terdahulu. Peneilitian tersebut mengkaji kemampuan berpikir tingkat tinggi dengan model Discovery Learning pada mata pelajaran geografi. Dalam bidang studi geografi, ada beberapa penelitian tentang model Discovery Learning. Seperti halnya Gusmalisa (2014) melakukan penelitian Pengaruh Penerapan Discovery Learning Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Geografi menemukan bahwa model Discovery Learning  dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Sedangkan Istikomah (2014) dengan penelitian tentang Penerapan Model Discovery Learning untuk Meningkatkan Kualitas Proses dan Hasil Belajar Geografi Pada Materi Pemanfaatan Lingkungan Hidup Kaitannya dengan Pembangunan Berkelanjutan menemukan bahwa model Discovery Learning  dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar. Selanjutnya Indri (2015) melakukan penelitian tentang Efektifitas Pendekatan Saintifik Model Discovery Learning  Mata Pelajaran Geografi mengatakan bahwa penggunaan model discovery learning dengan pendekatan saintifik dapat menjadi variasi dalam pembelajaran yang inovatif/ bervariasi, agar pembelajaran tidak monoton dan pembelajaran berlangsung secara menyenangkan. seperti yang dilakukaan Rangga Romana. Penelitian yang dilakukan Rangga Romana meneliti pengaruh  model pembelajaran Discovery Learning menggunkan media video terhadap SMA SMART Brawijaya Malang.Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan temuan dalam penelitian ini ialah terdapat peningkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi pada siswa setelah dilakukan penerapan model Discovery Learning di kelas XI IPS 2 SMAN 6 Kota Madiun. SIMPULAN DAN SARANSimpulanBerdasarkan rumusan masalah dan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa: “Penerapan model Discovery Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa pada mata pelajaran geografi siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 6 Kota Madiun”. SaranBerdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat dikemukakan saran sebagai berikut:1. Bagi pihak sekolah, penerapan model Discovery Learning disarankan dapat dilaksanakan diluar kelas atau sekolah. Siswa dilatih untuk bersikap mandiri dalam mengumpulkan data. Misalnya dapat mencari sendiri maupun secara berkelompok sumber dari artikel maupun buku dari perpustakaan sekolah.2. Bagi guru, model Discovery Learning sangat disarankan untuk diterapkan di kelas, terutama pada materi yang dikaji dalam kehidupan sekitar sekolah. Penerapan model Disco

    PENERAPAN MODEL GUIDED DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR DAN KEMAMPUAN BERFIKIR KRITIS SISWA PADA MATA PELAJARAN GEOGRAFI KELAS XI IPS 1 SMA NEGERI 2 GENTENG KAB. BANYUWANGI

    No full text
    SUMMARYLukman, Maharani Insani. 2019. Implementation Of  Guided Discovery Learning Model On Improving Motivation And Critical Thinking Ability Of Students In Geography At XI IPS 1 Class SMA Negeri 2 Genteng Kab. Banyuwangi. Thesis, Geography Education, Faculty of Social Science, State University of Malang. Advisors: (I) Drs. Hadi Soekamto, S.H, M.Pd., M.Sc. (II) Puwanto, S.Pd., M.Sc.Keywords: Guided Discovery Learning Model, Motivation in Geography, Critical Thinking Ability.Classroom learning can’t be separated from various kinds of problems. One of the problem is the low motivation to learn and critical thinking ability. It is known through analysis of the causes of low learning motivation and critical thinking ability which consist of 1) student, 2) teacher, 3) infrastructure facilities, and 4) learning model strategies. To overcome these problems, an appropriate learning model is needed and oriented to students competence, especially in learning motivation and critical thinking ability. The recommended learning model to overcome these problems is the Guided Discovery Learning model. Thus, the purpose of this study is to increase learning motivation and critical thinking ability of students in XI IPS 1 class SMA Negeri 2 Genteng Kab. Banyuwangi uses the Guided Discovery Learning model.This study is a type of Classroon Action Research (PTK) with research subjects of 36 student in XI IPS 1 class SMA Negeri 2 Genteng Kab. Banyuwangi. This research was conductd in two cycles, each cycle consisting of six steps of the learning process which included giving stimulation, formulation problems, collecting data, processing data, verifying data, and drawing conclusions. The data used in this study is the value of the results of the learning motivation questionnaire and the value of the test results of the students critical thinking ability. Filling out the motivational questionnaire was carried out during the pre and post actions, while the critical thinking ability test was carried out after the cycle I and II actions. The results showed an increase in pre to post action learning motivation due to the use of learning media, such as video, ppt, and the surrounding environment. While critical thinking skills from cycle I to cycle II increase the motivation of students required to argue in each lesson. The average value of pre action student motivation was 55.47 and post action was 79.61, indicating that there was an increase from pre post action of 24.14 (30.32%). While the average value of students critical thinking ability in the first cycle was 67.17 and the second cycle was 80.47, indicating that there was an increase of 13.3 (19.8%). Thus, it can be concluded that the application of the Guided Discovery Learning model can increase learning motivation and critical thinking ability in XI IPS 1 class SMA Negeri 2 Genteng Kab. Banyuwang

    PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA KELAS X IPS SMA 1 NEGERI BATU

    No full text
    RINGKASANWahyudi, Alamsyah. Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas X IPS SMA 1 Kota Batu. Skripsi, Program Studi Pendidikan Geografi FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs.Yusur Suharto M.Pd, (II) Drs. Hendri Purwinto, M.SiKata Kunci: Model Problem Based Learning, Berpikir KreatifModel Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang dalam pembelajarannya diberikan suatu permasalahan untuk dipecahkan.Model ini melibatkan siswa akitf dalam pembelajaran karena siswa dituntut untuk memecahkan permasalahan yang diberikan oleh guru. Problem Based Learning merupakan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan guru hanya sebagai fasilitor. Model ini memiliki 5 sintaks yakni (1) orientasi siswa pada masalah, (2) mengorganisasikan siswa untuk belajar, (3) membimbing penyelidikan individual maupun kelompok (4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya dan (5) menganalisis atau mengevaluasi proses pemecahan masalah.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ada pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif siswa kelas X IPS SMA Negeri 1 Batu. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu yang termasuk dalam penelitian kuantitatif subjek penelitian ini berjumlah 61 siswa dengan rincian yaitu X IPS 4 sebagai kelas kontrol dengan jumlah siswa 30 dan X IPS 3 sebagai kelas eksperimen dengan Jumlah siswa 30. Instrumen pengumpulan data yang digunakan yaitu soal essai posttest yang berjumlah 5 soal. Teknik analisis data menggunakan uji-t. Uji-t digunakan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning terhadap kemampuan Berpikir Kreatif Siswa.Hasil penelitian menunjukan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan model Problem Based Learning terhadap kemampuan bepikir kreatif siswa kelas eksperimen . Rata-rata hasil kemampuan berpikir kreatif siswa kelas eksperimen lebih tinggi 4,28 dari pada kelas kontrol. Pada perhitungan uji hipotesis yang dilakukan, diperoleh Sig.(2-tailed) 0,038 ≤ 0,05 berdasarkan hal tersebut H0 ditolak. Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh model Problem Based Learning terhadap kemampuan berpikir kreatif sisswa kelas X IPS SMAN 1 Kota Batu. SUMMARYWahyudi, Alam. The Effect of Problem Based Learning Model Of Creative Thinking Skill Class X IPS SMA 1 Batu. Thesis, Geography Education Study Program, Faculty of Social Sciences, Malang State University.. Advisor: (1) Drs.Yusur Suharto M.Pd, (II) Drs. Hendri Purwinto, M.SiKeywords: Problem Based Learning Model, Creative ThinkingProblem Based Learning Modelconstitutemodels of learning in learning are given a problem to solve.This model involves students akitf in learning because students are required to solve the problem given by the teacher. Problem Based Learning is student-centered learning and the teacher only as facilitators. This model has the syntax 5(1) The student orientation at issue, (2) organize the students to learn, (3) guiding the investigation or a group (4) develop and present the work and (5) to analyze or evaluate the problem solving process.The purpose of this study to determine whether there is influence learning model Problem Based Learning on Creative Thinking Ability IPS class X SMA Negeri 1 Batu. This study is a quasi-experimental research were included in the quantitative research subject of this research were 61 students with details that X IPS 4 as the control class with the number of students 30 and X IPS 3 as an experimental class with 30. Number of student data collection instruments used is a matter essai posttest, amounting to 5 questions. Data were analyzed using t-test. T-test was used to determine the effect of the learning model Problem Based Learning on Students Creative Thinking ability.The results showed that there was a positive and significant influence on the model of Problem Based Learning creative ability to think with the experimental class students. The average results of students' ability to think creatively experimental class is higher by 4.28 than the control class. The calculation of the hypothetical test, the result for Sig. (2-tailed) 0.038 ≤ 0.05 based on that H0 is rejected. Therefore it can be concluded that there is a Problem Based Learning model of influence on the ability to think creatively sisswa Class X IPS SMAN 1 Kota Batu

    Pemetaan Potensi Objek Wisata Sejarah Di Lasem, Kabupaten Rembang

    No full text
    Kecamatan Lasem termasuk dalam kawasan rencana pengembangan wisata sejarah Kabupaten Rembang. Lasem memiliki peninggalan bersejarah yang banyak dan kompleks. Pengelolaan potensi wisata sejarah Lasem belum dilakukan dengan baik dan maksimal. Hal ini dibuktikan dengan rendahnya kunjungan wisatawan selama sepuluh tahun terakhir. Tujan dalam penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi potensi objek wisata sejarah di Lasem, kemudian menganalisa tingkat potensi objek wisata sejarah di Lasem, dan terakhir memetakannya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, yaitu menjelaskan data hasil penelitian yang telah diperoleh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik survei lapangan yang terdiri atas observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis penelitian menggunakan metode deskreptif kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif dilakukan berdasarkan metode penilaian dari Mac Kinnon dan Gunn. Penilaian dilakukan terhadap parameter potensi wisata sejarah yang terdiri atas keunikan, estetika, keutuhan, keaslian dan atraksi. Penilaian juga dilakukan pada parameter potensi pendukung wisata sejarah seperti jarak, aksesibilitas, informasi/promosi, kunjungan wisatawan, fasilitas wisata, pelestarian objek, dan kebijakan pemerintah. Penilaian dilakukan di 19 lokasi bersejarah atau objek wisata sejarah Lasem. Metode kuantitatif dilakukan untuk proses pemetaan. Pemetaan dilakukan berdasarkan hasil pengumpulan data dan analisis yang telah dilakukan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwasanya, (1) Identifikasi potensi objek wisata sejarah di Lasem diperoleh 19 objek peninggalan sejarah di Lasem. 19 objek bersejarah tersebut dianggap telah mewakili setiap masa pembabakan sejarah di Lasem. (2) Analisis terhadap potensi objek wisata sejarah di Lasem menunjukkan terdapat 6 objek wisata sejarah Lasem masuk dalam kategori sangat potensial, 6 objek wisata sejarah masuk dalam kategori cukup potensial, dan 7 objek wisata sejarah masuk dalam kategori kurang potensial. (3) Pemetaan potensi objek wisata sejarah Lasem menunjukkan bahwa, sebagian besar lokasi objek wisata mengelompok di pusat kegiatan Kecamatan Lasem dan sebagian besar objek wisata sejarah tidak didukung / jauh dari fasilitas pendukung wisata sejarah

    PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY TERBIMBING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS X IIS SMA NEGERI 2 BATU

    No full text
    RINGKASAN Lestari, Tri Yuni. 2019. Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Terbimbing Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas X IIS SMA Negeri 2 Batu. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Dwiyono Hari Utomo, M.Pd.,M.Si. (2) Drs. Hendri Purwito, M.Si. Kata Kunci: Inquiry Terbimbing, Kemampuan Berpikir Kritis Kemampuan berpikir kritis penting untuk dikembangkan. Hal tersebut dikarenakan siswa dituntut untuk tidak sekedar menerima materi tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis terhadap materi yang disampaikan. Kemampuan berpikir kritis dapat dikembangkan melalui model pembelajaran yang bersifat deduktif dan induktif. Model pembelajaran yang dimaksud yaitu model pembelajaran yang dapat memberikan keterampilan belajar dan berinovasi, menggunakan teknologi dan media informasi, serta penguasaan life skils yang baik terhadap peserta didik. Salah satu model pembelajaran yang dimaksud yaitu inquiry terbimbing. Model pembelajaran inquiry merupakan proses pembelajaran yang melibatkan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu secara sistematis dan logis. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran inquiry terbimbing terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas X IIS SMA Negeri 2 Batu. Penelitian ini termasuk dalam jenis Quasi Experiment dengan desain penelitian menggunakan posttest only control group design. Subjek penelitian yaitu kelas X IIS 2 sebagai kelas kontrol dan kelas X IIS 3 sebagai kelas eksperimen. Instrumen yang digunakan berupa soal tes essai kemampuan berpikir kritis dengan teknik analisis data menggunkan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran inquiry terbimbing berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas X IIS SMA Negeri 2 Batu. Hal ini dibuktikan dengan perolehan rata-rata nilai kelas yang menggunakan model inquiry terbimbing lebih besar (81,9) dibandingkan dengan kelas yang tidak menggunakan model inquiry terbimbing (71,3). Hasil signifikasi uji-t sebesar 0.00 < 0.05 yang menandakan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran inquiry terbimbing berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas X IIS SMA Negeri 2 Batu

    Analisis Tingkat Kerentanan Banjir di Daerah Aliran Sungai Komis Kabupaten Banyuwangi

    No full text
    ABSTRAK Erfin Ardinata. 2019 Analisis Tingkat Kerentanan Banjir di Daerah Aliran Sungai Komis Kabupaten Banyuwangi, Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Dibimbing oleh (I) Purwanto, S.Pd, M.Si dan (II) Dr. Satti Wagistina, S.P., M.Si Kata kunci: Pemetaan, Banjir, DAS, Komis, Sistem Informasi Geografi Pemetaan daerah kerawanan banjir ini bertujuan untuk mengidentifikasi daerah mana saja yang rawan untuk terjadinya bencana banjir, sehingga daerah tersebut dapat dianalisis untuk melakukan pencegahan serta penanganan banjir. Bencana banjir di tahun 2016 Kecamatan Muncar merupakan yang paling parah, dengan ketinggian berkisar antara 40-100 cm. Penelitian ini dilakukan untuk analisis kerentanan banjir di DAS Komis yang secara adminstratif berada di Kabupaten Banyuwangi. Alat yang digunakan antara lain: data curah hujan dari BMKG kelas III tahun 2014 – 2018 dari tiga pos hujan, peta RBI, peta geologi Jawa Timur, peta penggunaan lahan dari citra landsat TM+7, peta kemiringan lereng. Data didapat dengan melakukan ground truth (cek lapangan) di lokasi DAS Komis dan menganalisis peta dan faktor-faktor penyebab banjir, analisa dalam penelitian ini berupa pemberian skoring, pembobotan, atribut dan keruangan. Dari peta kerawanan banjir didapat bahwa Daerah Aliran Sungai (DAS) Komis terdiri dari lima kelas kerawanan banjir yaitu: kelas sangat rendah (2066.21), rendah (7955.59), sedang (3249.88), rawan (12924.32), sangat rawan (2747.42). Pada setiap bagian/segmen banyak yang termasuk kelas sangat rawan adalah bagian hilir dengan luas 2747.42 Ha. Bagian hulu yang berada di Kecamatan Sempu merupakan bagian yang memiliki kelas sangat aman dengan luas 2066.21 Ha. Hal ini dikarnakan daerah ini merupakan daerah dengan penggunaan lahan yang didominasi oleh perkebunan dan juga ladang, dimana penggunaaan lahan perkebunan dan ladang mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam mencegah bencana banjir. Kecamatan yang memiliki luas kelas kerawanan bencana banjir sangat rawan yang paling tinggi adalah Kecamatan Muncar dengan luas 2747.42 Ha yang merupakan hilir dari DAS Komis Kabupaten Banyuwangi ini

    Pengaruh Model Problem Based Learning terhadap Kemampuan Mememcahkan Masalah Geografi ditinjau dari Gaya Belajar Siswa

    No full text
    RINGKASAN Sari, Anastasia Regina Oktavira. 2019. Pengaruh Model Problem Based Learning terhadap Kemampuan Mememcahkan Masalah Geografi ditinjau dari Gaya Belajar Siswa. Skripsi. Program Studi Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Hadi Soekamto, S.H, M.Pd, M.Si, (II) Drs. Hendri Purwito, M.Si Kata Kunci : Model Problem Based Learning, Kemampuan Memecahkan Masalah, Gaya Belajar Siswa Kemampuan memecahkan masalah geografi merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki siswa. Kemampuan tersebut dapat dikembangkan melalui model pembelajaran yang tepat, salah satunya yaitu model Problem Based Learning. Pada model Problem Based Learning terdapat tahapan-tahapan yang dapat mengembangkan kemampuan memecahkan masalah. Tahapan tersebut terdiri dari 1) orientasi siswa pada masalah, 2) mengorganisasikan siswa untuk belajar, 3) membimbing penyelidikan kelompok, 4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan 5) mengevaluasi proses pemecahan masalah. Gaya belajar dipilih sebagai variabel moderator dalam penelitian ini. Gaya belajar merupakan karakteristik masing-masing siswa untuk memperoleh, mengingat, dan mengolah informasi dalam kegiatan pembelajaran aktif. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh model Problem Based Learning terhadap kemampuan memecahkan masalah geografi ditinjau dari gaya belajar siswa kelas XI SMA Negeri 1 Batu. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu (quasi experiment) dengan desai post test only control group. Penelitian ini dilakukan pada dua kelas yaitu kelas XI IPS 2 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IPS 3 sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan berupa soal esai kemampuan memecahkan masalah geografi dan angket gaya belajar siswa. Teknik analisis data menggunakan Uji-t dan Uji-F (Analysis of Variance). Hasil penelitian diperoleh bahwa (1) model Problem Based Learning berpengaruh terhadap kemampuan memecahkan masalah geografi, (2) model Problem Based Learning tidak berpengaruh terhadap kemampuan memecahkan masalah geografi ditinjau dari gaya belajar siswa. Dari hasil temuan pertama, analisis dilakukan terhadap kemampuan memecahkan masalah diketahui bahwa nilai probabilitas sebesar 0.004 0.05 dengan rerata nilai kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol. Saran yang diajukan dalam penelitian ini yaitu: (1) bagi guru disarankan untuk dapat menerapkan model Problem Based Learning untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah geografi, (2) bagi sekolah disarankan untuk dapat meningkatkan fasilitas pendidikan agar kegiatan pembelajaran menggunakan model Problem Based Learning, (3) bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat memaksimalkan tahapan dari model Problem Based Learning dan dapat menggunakan variabel terikat maupun moderat yang berbed

    0

    full texts

    1,629

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇