SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
1629 research outputs found
Sort by
LANDUSE CHANGE ANALYSIS IN METRO WATERSHED 1994 TO 2015
ABSTRACT Wulandari Zulfa Qonita R. 2016. Landuse Change Analysis in Metro Watershed 1994 to 2015. Thesis. Department of Geography, Faculty of Social Science, State University of Malang. Advisors: (I) Bagus Setiabudi Wiwoho, S.Si, M.Si, (II) Ardyanto Tanjung, S.Pd, M.Pd. Keywords: Landuse Change, Metro Watershed Landuse as a life support must be balanced with the availability. In recent years, there has been over the function of the massive land mainly in the area of the watershed. As a result of landuse changes and not in accordance with the principle of sustainable development, we can meet the phenomenon of land degradation and depletion or land damage without conservation efforts. This is because the lack of availability of land, especially in urban areas which cause many problems. E.g. land uses in the watershed area as it happens in big cities as settlements. Other causes of landuse in the watershed are due to the incompatibility of landuse plan that has been set by the local government. This research is located in Metro watershed with area of 29752.363 ha, which covers three areas, namely the administration of Malang Regency, Malang City and a part of Batu. The purpose of this study is to determine the type of landuse in Metro watershed, determine the land changes and the factors that influence the occurrence of landuse changes in the Metro watershed. The research design was a descriptive survey research. The data used in this study are primary data of landuse data and secondary data from Landsat satellite imagery. The analysis used in this research is Supervised Classification and for the landuse changes using Object-Based Image Analysis (OBIA). The results of this study discovered six types of land use, constructed land 7611.75 ha, forest 7209.19 ha, agriculture 20903.88 ha, shrubs 769.80 ha, moor 565.35 ha and water body 1467.00 ha. Landuse changes in Metro watershed during the years 1994 to 2015 is the addition of a spaciously constructed land area of 3170.60 ha and shrubs covering 320.42 ha. While land has decreased or diminished, forest 116.47 ha, agriculture 2285.90 ha, and moor 39.66 h. The factors that most influence the improvement of constructed land in the period 2004 to 2015 is that the population growth rate and population density 0.258 - 0.722 in 2004. For the year 2015 the population growth rate and population density 0.324 - 0.782
Pengaruh Penyiraman Fe Terhadap Suseptibilitas Magnetik Tanah Pada Media Tanam Tomat Dan Implikasinya Pada Tinggi Batang, Lebar, Panjang Dan Jumlah Daun
ABSTRAK Andyana, Diandra Rizky. 2016. Pengaruh Penyiraman Fe Terhadap Suseptibilitas Magnetik Tanah Pada Media Tanam Tomat Dan Implikasinya Pada Tinggi Batang, Lebar, Panjang dan Jumlah Daun. Skripsi, Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Siti Zulaikah, M.Si., (2) Drs. Sutrisno, M.T. Kata Kunci: Suseptibilitas Magnetik, XRF, Fe. Penelitian tentang pengaruh penyiraman Fe terhadap suseptibilitas magnetik tanah pada media tanam tomat dan implikasinya pada tinggi batang, lebar, panjang, dan jumlah daun masih jarang dilakukan. Dalam penelitian ini telah dilakukan pengujian sifat fisika tanah,yakni uji suseptibilitas magnetik tanah pada media tanaman tomat sebanyak 30 sampel yang disiram Fe dengan konsentrasi yang berbeda, yakni 0 gr/100 ml, 2,5 gr/100 ml, dan 5 gr/100 ml. Kandungan unsur kimia sampel ditentukan yakni dengan menggunakan XRF (X-Ray Fluorescence).Hasil pengujian menggunakan XRF menunjukkan bahwa unsur tertinggi yang terdapat pada 6 sampel tanah tanaman tomat adalah Fe yakni rata-ratanya sebesar 45,6%. Suseptibilitas magnetik digunakan untuk mengetahui sebaran nilai suseptibilitas magnetik frekuensi rendah (), frekuensi tinggi (), dan persentase suseptibilitas magnetik dependent frequency ().Hasil pengukuran menunjukkan suseptibilitas magnetikpada konsentrasi 0 ml/100gr sebanyak 10 sampel berada pada rentang 8,51-9,59 (x10-6m3kg-1)denganyaitu 0,11% - 4,07%, pada konsentrasi 2,5 ml/100gr sebanyak 10 sampel berada pada rentang 8,84-9,76 (x10-6m3kg-1)denganyaitu 0,11% - 2,58%, dan pada konsentrasi 5 ml/100gr sebanyak 10 sampel berada pada rentang 8,55-10,50 (x10-6m3kg-1 ) denganyaitu 0,43% - 2,86%. Selisih rata-rata tinggi tanaman selama lima minggu semakin menurun yakni 3,59 cm pada konsentrasi 0 gr/100ml, 3,07 cm pada konsentrasi 2,5 gr/100ml, dan 2,33 cm pada konsentrasi 5 gr/100ml.selisih rata-rata lebardaun selama lima minggu yakni 0,57 cm pada konsentrasi 0 gr/100 ml, 0,67 cm pada konsentrasi 2,5 gr/100ml, dan 0,65 cm pada konsentrasi 5 gr/100ml. Selisih rata-rata panjang daun selama lima minggu menunjukkan bahwa terjadi peningkatan yakni 0,72 cm pada konsentrasi 0 gr/100ml, dan 0,93 cm pada konsentrasi 2,5 gr/100ml, kemudian sedikit menurun yaitu 0,86 cm pada konsentrasi 5 gr/100ml namun nilai tersebut masih relatif lebih besar jika dibandingkan dengan selisih rata-rata lebar daun pada konsentrasi 0 gr/100ml. selisih rata-rata banyak daun selama lima minggu menunjukkan bahwa terjadi peningkatan yakni 3,8 cm pada konsentrasi 0 gr/100ml, dan 5,1 cm pada konsentrasi 2,5 gr/100ml, kemudian terjadi penurunan yaitu 2,9 cm pada konsentrasi 5 gr/100ml.
Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Interaktif terhadap Pemahaman Peserta Didik tentang Materi Konsep Esensial Geografi Kelas X-IS SMA Negeri 1 Garum Kabupaten Blitar
ABSTRAKCahyanto, Arif Setiyo. 2016. Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Interaktif terhadap Pemahaman Peserta Didik tentang Materi Konsep Esensial Geografi Kelas X-IS SMA Negeri 1 Garum Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd, (II) Drs. Sudarno Herlambang, M.SiKata Kunci: media pembelajaran interaktif, pemahaman materiSalah satu keterampilan geografi (geographycal skill) yang penting dan perlu dikembangkan dalam pembelajaran geografi adalah pemahaman materi. Pada prakteknya di sekolah, kemampuan pemahaman materi masih kurang mendapatkan perhatian, sehingga kemampuan pemahaman materi peserta didik kurang bisa berkembang dengan baik.Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh media pembelajaran interaktif terhadap pemahaman peserta didik tentang materi konsep esensial geografi kelas X-IS SMA Negeri 1 Garum Kabupaten Blitar.Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu yang dikembangkan dengan pre test-post test control group design. Subjek penelitian yaitu kelas X-IS-4 sebagai kelas eksperimen dan kelas X-IS-2 sebagai kelas kontrol. Instrumen penelitian berupa tes objektif untuk pretes dan postes. Teknik analisis data menggunakan uji-t (independent sample t-test) dengan bantuan SPSS 21 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh media pembelajaran interaktif terhadap pemahaman peserta didik tentang materi konsep esensial geografi. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai sig. 2 tailed sebesar 0.000 karena nilai probabilitas hasil uji t sebesar 0.000 < 0.05 dan nilai rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi yakni 19.53 dibanding kelas control yakni 13.06 maka H0 ditolak
Pengaruh Model Pembelajaran Science, Environment, Technology, Society (SETS) terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Kelas XI SMA Negeri 1 Bojonegoro
Teknologi yang semakin maju membuat manusia membutuhkan kecakapan hidup untuk bertahan di era modern dimana teknologi dan ilmu pengetahuan semakin berkembang pesat sehingga mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat. Science, Environment, Technology, Society (SETS dipilih sebagai model karena dengan pendekatan saintifik meningkatkan proses berpikir, memecahkan masalah, berorientasi pada aspek ilmu pengetahuan, lingkungan, teknologi, dan manusia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran SETS terhadap kemampuan berpikir kritis pada mata pelajaran Geografi siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Bojonegoro pada materi sebaran barang tambang di Indonesia, tepatnya pada indikator pemanfaatan dan tata kelola usaha pertambangan. Eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis eksperimen semu (quasi experiment) karena tidak dapat berfungsi untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen. Instrumen penelitian berupa tes esai diuji coba berdasarkan validitas, realibilitas, tingkat kesukaran, dan daya beda. Instrumen afektif menggunakan lembar observasi berupa Lembar Kerja Peserta Didik. Uji hipotesis menggunakan Uji-T dua sampel tidak berpasangan.Berdasarkan hasil analisis data, diketahui uji hipotesis nilai kognitif sebesar 0,005. Uji hipotesis menunjukkan terdapat perbedaan dan terjadi peningkatanrata-rata kemampuan berpikir kritis dari perlakuan yang sudah diberikan. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh Science, Environment, Technology, Society (SETS) terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik Kelas XI SMA Negeri 1 Bojonegoro. Saran yang perlu diperhatikan saat menerapkan model ini adalah menyusun RPP dengan memperhatikan waktu dan kondisi atau jadwal sekolah, pada awal pembelajaran perlu mencari permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitar siswa untuk melatih tanggap terhadap masalah lingkungan, guru perlu menguasai konsep materi yang terkait dengan konsep dan proses sains yang dikaji selama pembelajaran, dan menggunakan media pada kegiatan pendahuluan untuk mengidentifikasi masalah kontekstual
Penerapan Pendekatan Saintifik untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik
ABSTRAK Kemampuan berpikir kritis merupakan tuntutan kurikulum 2013. Berdasarkan hasil observasi awal di kelas VII E, SMP Shalahuddin Malang, ditemukan fakta bahwa peserta didik dalam kelas belum mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Berpikir kritis ini ditunjukkan dengan adanya respons peserta didik terhadap suatu informasi berupa pertanyaan yang bersifat menyelidik dan tanggapan dari sudut pandang yang berbeda baik secara tertulis maupun lisan. Perilaku ini merupakan indikator dari kemampuan berpikir kritis yang belum terlihat pada peserta didik dalam kelas VII E, SMP Shalahuddin Malang.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pendekatan saintifik yang terdiri dari lima tahap pembelajaran dalam upaya mengembangkan kemampuan berpikir kritis sesuai dengan karakteristik pembelajaran dengan pendekatan saintifik.Langkah-langkah pendekatan saintifik dimulai dari tahap mengamati, gurumenyajikan tayangan video, gambar, dan cerita yang disertai gambar. Peserta didik diminta untuk menuliskan informasi yang diperoleh serta memberikan saran. Tahap menanya, peserta didik membuat pertanyaan berdasarkan hasil pengamatan yang harus memuat kata kunci terkait materi dan menggunakan kata tanya yang telah disepakati. Pada tahap mengeksplorasi peserta didik diberikan kesempatan untuk berdiskusi dengan kelompok dan mengerjakan soal. Tahap mengasosiasi dilakukan dengan memberikan peserta didik beberapa pertanyaan untuk menyimpulkan materi yang dipelajari. Tahap mengomunikasikan, peserta didik diberikan kesempatan untuk menyampaikan kesimpulan secara lisan maupun tertulis.Penelitian ini dilakukan menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilakukan di kelas VII E, SMP Shalahuddin Malang yang berisi 33 peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan berpikir kritis peserta didik pada domain kognitif meningkat. Ditinjaudari peningkatan 12 menjadi 17pertanyaan dan tanggapan yang berada pada level analisis, sintesis, dan evaluasi selama pembelajaran. Terdapat penurunan banyak peserta didik yang menunjukkan kemampuan berpikir kritisdari 66.67% menjadi 60.6% pada siklus I ke siklus II.Terdapat peningkatan dari 22 menjadi 31pertanyaan yang bersifat menyelidik dari siklus I ke siklus II serta peningkatan sebanyak 17 tanggapan dari sudut pandang berbeda yang diajukan oleh peserta didik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penelitian telah memenuhi kriteria yang telah ditetapkan
Evaluasi Potensi dan Pengembangan Agrowisata di Desa Jambu Kecamatan Kayen Kidul Kabupaten Kediri
ABSTRAK Bawafi, Hanri. 2017. Evaluasi Potensi dan Pengembangan Agrowisata di Desa Jambu Kecamatan Kayen Kidul Kabupaten Kediri. Skripsi, Program Studi S-I Geografi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si., (II) Drs. Sudarno Herlambang, M.Si. Kata Kunci: potensi, pengembangan agrowisata, pedesaan Luas lahan pertanian di wilayah Kecamatan Kayen Kidul pada tahun 2013 adalah 89,38% kemudian menurun menjadi 74,59% pada tahun 2015. Berdasarkan keadaan tersebut, maka diperlukan suatu konsep yang dapat mempertahankan luas lahan pertanian dan meningkatkan hasil produksi pertanian. Agrowisata merupakan salah satu konsep yang dapat menjadi solusi dari permasalahan tersebut. Desa Jambu merupakan salah satu desa di Kecamatan Kayen Kidul. Lahan pertanian serta lahan pekarangan rumah warga di Desa Jambu saat ini sudah ditanami pohon kelengkeng yang akan dikembangkan menjadi objek agrowisata. Agrowisata dapat berkembang secara baik dan berkelanjutan apabila didahului dengan kajian yang mendalam dengan melakukan penelitian terhadap semua sumber daya pendukungnya. Potensi yang dimiliki Desa Jambu belum dikembangkan secara optimal menjadi agrowisata, oleh karena itu suatu arahan diperlukan untuk pengembangan agrowisata serta mengkaji kondisi fisik dan sosial budaya di Desa Jambu. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengevaluasi potensi fisik di Desa Jambu untuk pengembangan agrowisata buah kelengkeng, (2) Mengevaluasi potensi sosial budaya di Desa Jambu untuk pengembangan agrowisata buah kelengkeng, dan (3) Menyusun arah pengembangan agrowisata Desa Jambu. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif melalui metode survei. Potensi fisik desa yang dievaluasi terdiri dari keadaan topografi, jenis tanah, iklim, hidrologi dan tata guna lahan. Potensi sosial budaya desa terdiri dari akseptibilitas masyarakat, kebudayaan dan kelembagaan. Analisis variabel potensi menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan pembobotan (scoring) pada variabel kelayakan agrowisata. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar potensi fisik sudah baik dan mendukung pengembangan agrowisata, namun pada aspek jenis tanah masih memerlukan pengolahan. Potensi sosial budaya secara keseluruhan cukup baik dan mendukung namun masih perlu ditingkatkan. Berdasarkan hasil kriteria kelayakan agrowisata, dusun yang termasuk dalam kriteria sangat potensial (SP) adalah Jambu dengan jumlah nilai terbobot 3,6 dan Semanding dengan nilai 3,3. Dusun yang termasuk cukup potensial (CP) diantaranya Kedungcangkring dengan jumlah bobot nilai yaitu 2,9; Suren dengan nilai 2,95 dan Sumberjo dengan nilai 2,85. Dusun Semut termasuk kurang potensial (KP) dengan jumlah bobot nilai yang paling rendah yaitu 2,35. Arah pengembangan agrowisata di Desa Jambu diantaranya: (1) Perlu dilakukan pemberdayaan masyarakat, (2) Mengembangkan pusat-pusat kegiatan wisata, (3) Menyediakan sarana dan prasarana, dan (4) Memadukan kawasan yang mendukung upaya peningkatan dan pelestarian daya dukung lingkungan serta sosial dan budaya setempat. ABSTRACT Bawafi, Hanri. 2017. Evaluation of Potential and Development of Agro-tourism ini Jambu Village, Kayen Kidul Sub-District, Kediri Regency. Undergraduate Thesis, Geography S1 Study Program, Department of Geography, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Malang. Supervisor (I) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si. (II) Drs. Sudarno Herlambang, M.Si. Keywords: potential, agro-tourism development, rural area The total area of agricultural land in Kayen Kidul sub-district in 2013 is 89.38% and then decreases to 74.59% in 2015. Based on these condition, it is necessary a concept that can maintain the area of agricultural land and improve agricultural production. Agro-tourism is one concept that can be the solution of these problem. Jambu is one of the villages in Kayen Kidul District. Agricultural land and yard homes of residents in Jambu Village are now already planted with a tree of longan that will be developed into the object of agro-tourism. Agro tourism can be well developed and sustainable if it is preceded by doing research on all its supporting resources. The potential of Desa Jambu has not been optimally developed into agro-tourism, therefore a directive is needed for the development of agro-tourism as well as assessing the physical and socio-cultural conditions in Jambu Village. This research aims to (1) Evaluate the physical potency in Jambu Village for the development of agro-tourism of longan fruit, (2) Evaluate the socio-cultural potency in Jambu Village for the development of agro-tourism of longan fruit and (3) Arrange the direction of agro-tourism development of Jambu Village. This research uses quantitative descriptive approach through survey method. The physical potential of villages requiring evaluation is topography, soil type, climate, hydrology and land use. The socio-cultural potential of the village is the acceptability of society, culture and institution. Analysis of potential variables using quantitative descriptive approach and weighting (scoring) on agro-tourism feasibility variables. The results show that most of the physical potential is good and support the development of agro-tourism, but in the aspect of soil type still require processing. The potential of socio-cultural as a whole is quite good and supportive but still needs to be improved. Based on the results of agro-tourism feasibility included in the criteria of very potential (SP) is Jambu with a weighted value of 3,6 and Semanding with a value of 3,3. That includes enough potential (CP) including Kedungcangkring with the amount of weight of the value of 2,9; Suren with a value of 2,95 and Sumberjo with a value of 2,85. Semut is included less potential (KP) with the lowest value of weight is 2,35. The direction of agro-tourism development in Jambu Village are: (1) Community empowerment needs to be done, (2) Developing tourism activities centers, (3) Providing facilities and infrastructure, and (4) Combining areas that support efforts to increase and sustain the carrying capacity of the environment and socio-cultural rights
Pengaruh Model Pembelajaran Group Investigation Terhadap Keterampilan Geografi – National Geographic Peserta Didik Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Pare Kabupaten Kediri
ABSTRAK Pemilihan model pembelajaran yang sesuai dapat memberikan peluang keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Salah satu model pembelajaranyang dapat dipilih guru untuk menumbuhkan keterampilan geografi adalah group investigation. Model pembelajaran group investigation mendorong peserta didik untuk belajar lebih aktif dan lebih bermakna. Artinya, peserta didik dituntut selalu berfikir tentang suatu persoalan dan mencari sendiri cara penyelesaiannya. Dengan demikian peserta didik akan lebih terlatih untuk selalu menggunakan keterampilan pengetahuannya, sehingga pengetahuan dan pengalaman belajar mereka akan tertanam untuk jangka waktu yang cukup lama.Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh model pembelajaran group investigation terhadap keterampilan geografi peserta didik kelas XI IPS SMAN 1 Pare. Jenis penelitian ini termasuk penelitian eksperimen semu (quasy experiment), dengan menggunakan rancangan nonequivalent control group design. Subjek penelitiannya adalah peserta didik kelas XI IPS 1 sebagai kelas eksperimen dan peserta didik kelas XI IPS 2 sebagai kelas kontrol. Instrumen penelitian menggunakan soal essai dengan jumlah empat butir soal yang sudah melalui uji validitas dan uji reliabilitas pada tingkatan kelas diatasnya. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis statistik dengan bantuan program SPSS 16.0 for windows. Uji prasyarat terdiri dari uji normalitas dan uji homogenitas sedangkan untuk uji hipotesis menggunakan independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan dari penerapan model pembelajaran group investigation terhadap keterampilan geografi peserta didik kelas XI IPS SMAN 1 Pare. Hal ini dibuktikan dengan rata-rata nilai gain score kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol yaitu 15,87 untuk kelas eksperimen dan 7,46 untuk kelas kontrol. Pada hasil uji hipotesis nilai sig. (2-tailed) yang diperoleh adalah 0.000 atau dengan kata lain nilai sig. (2-tailed
Pengaruh Model Pembelajaran Jigsaw terhadap Pemahaman Konsep Geografi Siswa SMA Negeri 1 Tumpang
ABSTRAK Cahyati, Dila Dwi Nur. 2017. Pengaruh Model Pembelajaran Jigsaw terhadap Pemahaman Konsep Geografi Siswa SMA Negeri 1 Tumpang. Skripsi. Program Studi Pendidikan Geografi Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Dwiyono Hari Utomo, M.Pd., M.Si (2) Ardyanto Tanjung, S.Pd., M.Pd Kata kunci: Jigsaw, Pemahaman Konsep GeografiModel pembelajaran merupakan suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan pengelolaan kelas. Pemilihan model pembelajaran yang cocok sangat dipengaruhi oleh tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran tersebut serta tidak lupa tingkat kemampuan siswa. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran yaitu jigsaw. Model pembelajaran jigsaw didesain untuk mengembangkan tingkat rasa percaya diri siswa terhadap pembelajaran yang diberikan untuknya ataupun bertanggung jawab atas pembelajaran orang lain. Melalui hal tersebut siswa tidak bergantung dengan kemampuan orang lain untuk menjelaskan materi, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan kepada siswa lain, sehingga hal tersebut tentunya akan berdampak pada pemahaman seorang siswa.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran jigsaw terhadap pemahaman konsep geografi siswa SMA Negeri 1 Tumpang. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen semu (quasi experiment) dengan menggunakan Pre Test dan Post Test Group Design. Subjek penelitian yaitu siswa kelas XI IPS 1 sebagai kelas kontrol dan XI IPS 2 sebagai kelas eksperimen. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu soal Pretest dan Posttest yang terdiri dari lima soal essay. Teknik analisis data penelitian ini menggunakan Non-Parametrik Test dengan Mann Withney dan dengan bantuan SPSS 16.00 for Windows.Hasil analisis data pada penelitian ini menunjukkan bahwa adanya pengaruh model pembelajaran jigsaw terhadap pemahaman konsep geografi siswa SMA Negeri 1 Tumpang. Hal tersebut dibuktikan dari hasil pretest dan posttest kelas eksperimen yang memiliki nilai rata-rata gain score lebih tinggi yaitu 29,72 daripada kelas kontrol yaitu 25. Saran yang diajukan untuk Guru bidang studi geografi yaitu untuk menggunakan model pembelajaran jigsaw sebagai alternatif model pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman konsep geografi siswa. Saran untuk peneliti lanjutan yaitu menguji cobakan Model Pembelajaran Jigsaw pada materi yang berbeda dalam bidang studi geografi dan jenjang kelas atau sekolah yang lebih tinggi. Selain itu disarankan pula untuk mengkolaborasi model pembelajaran jigsaw dengan model pembelajaran yang lain agar mampu meningkatkan pemahaman konsep geografi siswa secara signifikan
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PARTISIPASI PRIA DALAM PROGRAM KELUARGA BERENCANA DI KECAMATAN KAPONGAN KABUPATEN SITUBONDO
ABSTRAK Wijaya Ade, Setya. 2017. Faktor Yang Berhubungan Dengan Partisipasi Pria Dalam Program Keluarga Berencana Di Kecamatan Kapongan Kabupaten Situbondo.Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Singgih Susilo, M.S., M.Si. (II) Drs. Djoko Soelistijo, M.Si. Kata Kunci : Partisipasi Vasektomi.Pemerintah Indonesia memiliki program keluarga berencana untuk mengatur jumlah penduduknya. Keluarga Berencana adalah program untuk mengatur jumlah kelahiran anak sehingga dapat mengurangi pertambahan penduduk yang berlebihan. Pemerintah melalui lembaga badan kependudukan keluaraga berencana nasional (BKKBN) berupaya untuk mengatur tingkat fertilitas dengan program keluarga berencana yaitu merencanakan jumlah anggota kelurga yang ideal.Kecamatan Kapongan merupakan Kecamatan yang memiliki partisipasi vasektomi sebanyak 527 akseptor, jumlah ini lebih banyak dibandingkan dengan Kecamatan lain yang berada di Kabupaten Situbondo. Partisipasi vasektomi adalah seseorang yang menggunakan metode kontrasepsi vasektomi atau dikenal dengan istilah lain MOP (Medis Operasi Pria). Kecamatan Kapongan menjadi daerah penelitian dikarenakan memiliki akseptor vasektomi tertinggi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis yang dilakukan menggunakan tabulasi silang, tunggal dan uji Chi-Square untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan, sikap, dukungan istri, peran petugas PLKB, pendidikan, pendapatan, dan jumlah anak terhadap partisipasi dalam metode kontrasepsi vasektomi. Akseptor vasektomi rata rata berusia 49 tahun dengan pendidikan Sma dan memiliki penghasilan sebesar Rp 2.334.524 dengan jumlah anak yang dimiliki 2. Hasil penelitian mendapatkan 7 variabel bebas yang diteliti 6 diantaranya memiliki hubungan yang signifikan terhadap partisipasi pria dalam program KB vasektomi. Variabel yang memiliki hubungan yaitu pengetahuan, sikap, dukungan istri, peran PLKB, pendapatan, dan jumlah anak. Pendidikan tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap partisipasi pria dalam metode kontrasepsi vasektomi
Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) Terhadap Kemampuan Memecahkan Masalah Materi Lingkungan Hidup Siswa Kelas XI SMAN 9 Malang
ABSTRAK Aprilliya, Nunung. 2017.Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) Terhadap Kemampuan Memecahkan Masalah Materi Lingkungan Hidup Siswa Kelas XI SMAN 9 Malang. Skripsi. Jurusan Geografi Program Studi Pendidikan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (1) Dr. Singgih Susilo, Ms, Msi, (2) Drs. Rudi Hartono, M.Si Kata Kunci: Problem Based Learning, Kemampuan Memecahkan Masalah. Model pembelajaran merupakan salah satu hal penting yang dapat digunakan untuk menunjang proses pembelajaran. Sesuai dengan kurikulum K13, model pembelajaran yang digunakan memiliki ciri-ciri proses pembelajarannya berpusat pada aktifitas siswa. Salah satu model yang sesuai dengan K13 adalah model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning). Model pembelajaran berbasis masalah didesain untuk melatih siswa belajar secara mandiri dengan menggunakan permasalahan yang mereka temui dimasyarakat untuk kemudian didiskusikan solusi pemecahan masalahnya dalam sebuah kelompok kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuipengaruh model pembelajaran berbasis masalah (PBL) terhadap kemampuan memecahkan masalah materi lingkungan hidup siswa kelas XI SMAN 9 Malang. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen semu (quasi experiment) dengan menggunakan Post TestGroup Design. Subjek penelitian yaitu siswa kelas XI IPS 3 sebagai kelas kontrol dan XI IPS 2 sebagai kelas eksperimen. Penentuan subjek penelitian menggunakan metode purposive sampling (berdasarkan nilai siswa). Instrumen penelitian yang digunakan yaitu soal Post Test yang terdiri dari 4 soal essay. Teknik analisis data penelitian ini menggunakan uji-t dengan bantuan SPSS 16.00 for Windows. Hasil analisis data pada penelitian ini menunjukkan bahwa adanya pengaruh model pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan memecahkan masalah materi lingkungan hidup siswa kelas XI SMAN 9Malang.. Hal tersebut dibuktikan dari hasil post test kelas eksperimen yang memiliki nilai rata-rata lebih tinggi daripada kelas kontrol. Saran untuk guru mata pelajaran geografi adalah untuk menggunakan model pembelajaran berbasis masalah sebagai alternatif model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah pada siswa. Saran untuk peneliti selanjutnya adalah mengujicobakan model PBL pada jenjang kelas serta materi yang berbeda atau bisa juga mengkombinasikan model PBL dengan model pembelajaran lain agar dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah pada siswa