SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    1629 research outputs found

    Studi Komparasi Pemilihan Alat Kontrasepsi MKJP dan Non MKJP oleh Wanita Pasangan Usia Subur di Kelurahan Bareng Kecamatan Klojen Kota Malang

    No full text
    Armansyah, Miftakhul. 2017. Studi Komparasi Pemilihan Alat Kontrasepsi MKJP dan Non MKJP oleh Wanita Pasangan Usia Subur di Kelurahan Bareng Kecamatan Klojen Kota Malang. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Budijanto, M.Sos, (II) Drs. Marhadi Slamet Kistiyanto, M.Si. Kata Kunci: Studi Komparasi, Kontrasepsi, Variabel Antara, Wanita Pasangan Usia Subur Kontrasepsi merupakan suatu metode yang digunakan untuk menurunkan angka kelahiran. Penggunaan alat kontrasepsi oleh wanita PUS di Kelurahan Bareng sudah tergolong tinggi dengan prevalensi MKJP yang cukup tinggi pula, yakni mencapai 44,68% jauh diatas angka nasional yang hanya mencapai 17,01%. Sementara itu, perbandingan jumlah akseptor MKJP dan non MKJP di Kelurahan Bareng adalah 44,68% dan 55,32%. Hal inilah yang melatarbelakangi pentingnya dilakukan penelitian mengenai kontrasepsi di Kelurahan Bareng sehingga nantinya dapat dijadikan masukan untuk daerah lain dengan proporsi pemakaian kontrasepsi yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik wanita pasangan usia subur, mengetahui pemilihan alat kontrasepsi dan untuk mengetahui pemilihan alat kontrasepsi berdasarkan karakteristik wanita pasangan usia subur di Kelurahan Bareng Kecamatan Klojen Kota Malang. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif bertipe komparatif. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan untuk analisis data yang digunakan adalah tabulasi tunggal, tabulasi silang dan uji Mann Whitney menggunakan aplikasi SPSS 16.00 for Windows. Hasil penelitian menggambarkan bahwa sebagian besar pengguna KB pada wanita pasangan usia subur memiliki pendidikan tinggi, tidak bekerja, pendapatan tinggi, usia > 35 tahun, jumlah anak lahir hidup ≤ 2 orang, pengetahuan baik, dukungan suami baik, dan mendapatkan informasi dari PLKB. Proporsi pemilihan MKJP di Kelurahan Bareng telah mencapai angka 50%, sedangkan kontrasepsi yang paling banyak digunakan adalah suntik. Adapun 5 variabel yang berbeda secara signifikan terhadap pemilihan alat kontrasepsi, yakni variabel pendidikan, pendapatan keluarga, usia, pengetahuan, dan informasi dari PLKB

    PERBANDINGAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING DAN INKUIRI BEBAS TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS X SMAN 1 KEPANJEN MALANG

    No full text
    ABSTRAK Rianita, Nindya. 2017. Perbandingan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Dan Inkuiri Bebas Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas X SMAN 1 Kepanjen, Malang. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Budi Handoyo, M.Si, (II) Dr. Singgih Susilo, M.S, M.Si Kata Kunci: Inkuiri Terbimbing, Inkuiri Bebas, Berpikir Kritis.Model pembelajaran Inkuiri adalah model pembelajaran yang sesuai dengan implementasi Kurikulum 2013. Setiap langkah pembelajaran Inkuiri mengasah kemampuan berpikir kritis siswa. Inkuiri terbimbing dan Inkuiri bebas merupakan jenis pembelajaran Inkuiri. Kedua jenis inkuiri tersebut dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, akan tetapi belum dapat diketahui penerapan jenis inkuiri yang lebih baik untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perbedaan kemampuan berpikir kritis antara siswa yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan inkuiri bebas di kelas X SMA Negeri 1 Kepanjen. Rancangan penilitian ini adalah Posttest Only yang termasuk dalam penelitian eksperimen semu. Data dalam penelitian ini adalah kemampuan berpikir kritis. Pengumpulan data dilakukan dengan tes kemampuan berpikir kritis siswa setelah diberi perlakuan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing lebih baik daripada siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran inkuiri bebas. Hasil uji-t terhadap kemampuan berpikir kritis siswa menunjukkan bahwa terdapat pengaruh kemampuan berpikir kritis siswa kelas X yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing lebih unggul daripada siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran inkuiri bebas. Keunggulan inkuiri terbimbing disebabkan adanya peran guru yang selalu membimbing dan mengarahkan siswa dalam melakukan penelitian. Siswa yang masih berada di kelas X semeseter 2 masih membutuhkan peran dan bimbingan guru. Inkuiri terbimbing terbukti dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Guru disarankan untuk menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing pada kelas X dalam proses pembelajaran, khususnya diterapkan pada kompetensi dasar yang menuntut kemampuan berpikir kritis

    Analisis Daya Dukung Lingkungan Pada Ekowisata Gunung Kukus Taman Nasional Gunung Rinjani

    No full text
    ABSTRAK Hermawan, Andi. 2017. Analisis Daya Dukung Lingkungan Pada Ekowisata Gunung Kukus Taman Nasional Gunung Rinjani. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. I Komang Astina, M.S, Ph.D, (II) Purwanto, S.Pd, M.Si. Kata Kunci: Daya Dukung Lingkungan, Ekowisata Gunung Kukus, Taman Nasional             Gunung Rinjani   Pengembangan wisata di kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Rinjani tentu memiliki dampak terhadap lingkungan. Ekowisata Gunung Kukus merupakan salah satu objek wisata baru yang berada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Sebagai kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Rinjani harus tetap memperhatikan keaslian dan kelestarian lingkungan. Keaslian ekosistem dan nuansa alami merupakan potensi yang harus tetap dipertahankan dalam pengelolaan kawasan tersebut. Mengantisipasi hal tersebut, suatu objek wisata harus diketahui kemampuan daya dukungnya. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan kondisi geografis  dan  menganalisis daya dukung lingkungan Gunung Kukus. Berdasarkan tujuan tersebut dapat menghasilkan nilai daya dukung lingkungan atau kapasitas wisatawan yang ideal untuk Ekowisata. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian survey dengan pendekatan kuantitatif dengan metode Carrying Capacity. Analisis data yang digunakan yakni Physical Carrying Capacity (PCC), Real Carrying Capacity(RCC), Effective Carrying Capacity(ECC). Kondisi geografis lingkungan Ekowisata Gunung Kukus berdasarkan tingkat curah hujan yang tinggi, kondisi geologi dan bentuk lahan yang dipengaruhi aktivitas vulkanik, kemiringan lereng tergolong agak curam, dan jenis tanah yang peka terhadap erosi rentan terhadap kerusakan lingkungan. Berdasarkan itu pemanfaatan lahan untuk kegiatan pariwisata perlu diperhatikan sehingga tidak mendorong terjadinya kerusakan lingkungan. Hasil perhitungan didapat nilai daya dukung lingkungan pariwisata yang menjadi nilai kapasitas wisatawan yang ideal. Nilai Physical Carrying Capacit (PCC) yaitu 15.855 pengunjung/minggu. Nilai Real Carrying Capacity (RCC) adalah 132 pengunjung/minggu. Nilai  Effective Carrying Capacity (ECC) adalah 119 pengunjung/minggu. Nilai tersebut masih diatas  jumlah rata-rata pengunjung aktual saat ini yaitu 86 pengunjung/minggu. Nilai daya dukung efektif merupakan nilai final yang telah mempertimbangkan faktor koreksi biofisik lingkungan dan kapasitas manajemen area. Berdasarkan nilai tersebut maka jumlah pengunjung  masih dapat dioptimalkan sebesar 27,73%. Saran yang dapat diberikan di Ekowisata Gunung Kukus adalah (1) pihak pengelola masih harus mengembangkan objek wisata dari segi fasilitas pariwisata yang masih sangat minim. Hal ini dimaksudkan untuk pihak Taman Nasional Gunung Rinjani lebih memperhatikan pengembangan obejk wisata Gunung Kukus ini. (2) Nilai daya dukung pariiwsata atau hasil penelian ini dapat menjadi rujukan dalam perhitungan jumlah pengunjung yang masuk dalam kawasan objek wisata sehingga meminimalisir kerusakan lingkungan yang mungkin terjadi akibat pengmbangan pariwisata.

    Analisis Spasiotemporal Kerawanan Penyakit Demam Berdarah Dengue Di Kabupaten Nganjuk Menggunakan Sistem Informasi Geografis

    No full text
    ABSTRAK   Digitalis, Gatra Orbita. 2017. Analisis Spasiotemporal Kerawanan Penyakit Demam Berdarah Dengue Di Kabupaten Nganjuk Menggunakan Sistem Informasi Geografis. Skripsi. Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Rudi Hartono, M.Si. (2) Purwanto, S.Pd, M.Si   Kata kunci: spasiotemporal, demam berdarah, sistim informasi geografi   Kesehatan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan. Kesehatan berhubungan dengan pola hidup dan juga lingkungan yang sehat. Salah satu penyakit yang ditimbulkan akibat lingkungan yang kurang sehat ialah Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyakit DBD masih menjadi masalah sampai saat ini dengan tingginya angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas) yang ditimbulkan. Data profil kesehatan Provinsi Jawa Timur 2011 menunjukkan demam berdarah menempati posisi kedua tertinggi dari  penyakit terbanyak di rumah sakit. Demam berdarah masih sangat tinggi karena vektor pembawanya, yaitu nyamuk Aedes Aegepty sulit untuk diberantas. Kabupaten Nganjuk merupakan satu wilayah di Jawa Timur yang mengalami peningkatan penderita DBD di tahun 2012. Hal ini menajdikan kekhawatiran akan Kejadian Luar Biasa (KLB) muncul membayangi Kabupaten Nganjuk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) Mengkaji tingkat kerawanan penyakit Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Nganjuk (2) Mengetahui distribusi spasial dan temporal antara tingkat kerawanan dengan jumlah penderita DBD di Kabupaten Nganjuk. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penelitian ini terbagi dalam tiga tahapan, tahap pertama adalah tahap awal atau obesrvasi untuk memperoleh data mengenai pasien Demam Berdarah Dengue, tahap kedua merupakan pelaksanaan, dan yang terakhir adalah penyelesaian dengan menganalisis data hasil cek lapangan dan sekunder  menggunakan Sistim Informasi Geografi (SIG) berupa ArcGIS dengan metode overlay. Hasil dari penelitian ini adalah (1) tingkat kerawanan penyakit DBD di Kabupaten Nganjuk terdiri dari 4 kategori, yaitu: sangat rendah, rendah, sedang, dan tinggi (2) Wilayah tingkat kerawanan DBD pada satu kategori memiliki karakter yang berbeda. Karakter pada tingkat kerawanan rendah hampir sama dengan karakter yang dimiliki tingkat kerawanan sedang. Sedangkan kategori tinggi sampai sangat tinggi juga memiliki karakter yang hampir sama (3) Perbedaan karakter ada pada masing – masing parameter baik dari sanitasi, kepadatan penduduk, penggunaan lahan, curah hujan, dan arah angin. Saran yang dapat diberikan adalah (1) untuk Pemerintah Daerah terutama Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk menggunakan Sistim Informasi Geografi untuk melakukan prediksi, memetakan, dan memprogram terkait pencegahan maupun penanggulangan DBD (2) masyarakat diharapkan tidak menyepelekan himbauan dari instansi terkait tentang penanggulangan DBD dan daerah yang terkena kerawanan tinggi (3) lebih mengutamakan hidup bersih untuk kewaspadaan terjangkit penyakit DBD

    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR ANALISIS SISWA KELAS XI IIS 1 SMAN 1 KEPANJEN KABUPATEN MALANG PADA MATA PELAJARAN GEOGRAFI

    No full text
    RINGKASAN       Kurnia, Dema. 2017. Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Terbimbing Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Analisis Siswa Kelas XI IIS 1 SMAN 1 Kepanjen Kabupaten Malang Pada Mata Pelajaran Geografi, Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Ardyanto Tanjung, S.Pd, M.Pd, (II) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si. Kata kunci: kemampuan berpikir analisis, model pembelajaran inquiry terbimbing.   Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan diperoleh gambaran kondi sisiswa di kelas XI IIS 1 SMAN 1 Kepanjen Kabupaten Malang. Kemampuan analisis siswa yang masi tergolong rendah baik secara lisan maupun tertulis. Hanya 8% siswa yang mampu menjawab soal analisis secara lisan sisanya 91%. Tes tertulis (UAS semester ganjil) masih ditemukan 87% siswa yang belum tuntas KKM. Kelas ini memiliki nilai rata-rata paling rendah dari pada kelas lainnya. Faktor penyebabnya adalah terdapat beberapa siswa yang tidak memperhatikan saat guru mengajar. Pada saat pembelajaran berlangsung masih menggunakan ceramah sehingga kurang tepat pada saat proses pembelajaran geografi. Beberapa siswa ada yang berbicara dengan teman sebangku pada waktu proses pembelajaran, dan siswa tidak terbiasa dengan pemberian soal dengan ranah analisis (C4). Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka perlu dilakukan penelitian penerapan pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan analisis siswa. Salah satunya dengan penerapan model pembelajaran inquiry terbimbing untuk meningkatkan kemampuan berpikir analisis siswa kelas XI IIS 1 SMAN 1 Kepanjen. Jenis penelitian tindakan kelas. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui apakah model pembelajaran inquiry terbimbing dapat meningkatkan kemampuan berpikir analisis siswa. Subyek penelitian ini adalah 24 siswa kelas XI IIS 1 SMAN 1 Kepanjen dengan materi disemester genap yaitu LingkunganHidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya peningkatan nilai tes kemampuan berpikir analisis pada siklus I dan siklus II. Hasil tes diperoleh peningkatan di setiap indicator kemampuan analisis. Indikator yang mengalami peningkatan tertinggi adalah “Membedakan hubungan sebab akibat dari beberapa peristiwa” pada siklus I sebesar 73,97 menjadi 85,35 dengan persentase peningkatan 11,38%. Rata-rata nilai kemampuan berpikir analisis pada siklus I yaitu 77 menjadi 85,16 padas iklus II. Persentase peningkatan pada penelitian ini sebanyak 10,59%. Dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran inquiry terbimbing dapat meningkatkan kemampuan berpikir analisis siswa. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan nilai tes dari siklus I ke siklus II. Saran yang diajukan pada guru adalah untuk menggunakan model pembelajaran inquiry terbimbing sebagai salah satu model pembelajaran alternatif.

    A Comparison between Generative Learning Model and CORE Learning Model: The Influence on Learners’ Higher Order Thinking Skill

    No full text
    ABSTRAK   Generative and Connecting, Organizing, Reflecting, Extending (CORE) are two kinds of learning model thatcan improve learners’ higher order thinking skill (HOTS). The purpose of this study was to point out the best model to improve learners’ HOTS. For this purpose, a quasi-experiment was done in 7 Malang Indonesia Senior High School. Twogroups of tenth grades learnerswere selected by random sampling method. Generative learning model was applied to the first group, while CORE learning model was applied to the second group. Learners’ HOTS were measured by the test which made based on HOTS indicators. Before starting the program, each group took a pre-test. The program lasted for three weeks, and four hours each week; and at the end of the program post-test works were taken from the candidates.The hypothesis was tested using independent sample t-test using SPSS 16.00 for windows with probability of significance value of 0.05.The results of the research shown that there was a significant difference between the gain score points of the experimental groups (

    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA PELAJARAN GEOGRAFIKELAS X IPS 3 SMAN 2 BATU

    No full text
    ABSTRAK Daut, Yohanes Baptista. 2017. Penerapan Model Pembelajaran Problem BasedLearning Dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pada Pelajaran Geografi Kelas X IPS 3 SMAN 2 Batu.Skripsi, Jurusan Pendidikan Geografi FakultasIlmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(1) Ardyanto Tanjung, S.Pd, M.Pd(2) Drs. Hendri Purwito, M.Si   Kata Kunci:  Model Pembelajaran Problem Based Learning                                     Kemampuan berpikir kritis                 Berdasarkan hasil observasi terhadap proses pembelajaran yang dilakukan di SMAN 2 Batu, diketahui bahwa kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran geografi tergolong masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari hasil tes siswa yang menunjukan siswa kurang mampu memecahkan masalah yang ada dalam artikel. Hal ini disebabkan karena guru sering menggunakan model pembelajaran dimana siswa berusaha untuk menghafal materi. Sehingga siswa kurang mengolah pemikirannya sendiri. Model pembelajaran yang kemudian ditawarkan untuk mengatasi rendahnya tingkat berpikir kritis siswa adalah model pembelajaran Problem Based Learning. Adapun tujuannya adalah untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada pelajaran geografi di kelas X IPS 3 SMAN 2 Batu.               Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus dan masing-masing siklus terdiri dari 2 kali pertemuan.Tiap siklus terdiri atas 4 tahap yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi.Penelitian dilaksanakan pada kelas X IPS 3 dengan jumlah siswa 32 orang. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi kegiatan guru, lembar observasi kegiatan siswa dan soal tes. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi dan tes.               Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran goegrafi kelas X IPS 3 SMAN 2 Batu. Rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis siswa pada siklus I sebesar 68,60% mengalami peningkatan pada siklus II menjadi 83,0%. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas X IPS 3 SMAN 2 Batu. Maka dari kesimpulan tersebut disarankan kepada guru bidangstudi untuk menerapkan model pembelajaranProblem Based Learning sebagai alternatifdalam upaya meningkatkan kemampuan berpikirkritis siswa serta dapat dijadikan landasan untuk melakukan penelitian sejenis di masa mendatang

    PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION (GI) TERHADAP KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH SISWA KELAS XI IPS SMA LABORATORIUM UNIVERSITAS NEGERI MALANG

    No full text
    ABSTRAK   Wriasumitra, Dearga Eraldi. 2017. Pengaruh Model Pembelajaran Group Investigation (GI) Terhadap Kemampuan Memecahkan Masalah Siswa Kelas XI IPS SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Ardyanto Tanjung, S.Pd, M.Pd (II) Drs. Hendri Purwito, M.Si.   Kata kunci: Group Investigation, Kemampuan Memecahkan Masalah Pendekatan saintifik merupakan kekuatan utama dalam kurikulum 2013. Pembelajaran dengan pendekatan saintifik mendorong siswa melakukan penyelidikan untuk menemukan fakta dari sebuah fenomena, sehingga pembelajaran ini membutuhkan kemampuan memecahkan masalah untuk penyelesaiannya. Model Pembelajaran Group Investigationmerupakan model pembelajaran yang berlandaskan pada pendekatan saintifik. ModelGroup Investigationdirasa sesuai karena fokus utama pembelajaran ini untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik atau objek khusus yang membuat siswa lebih termotivasi untuk menemukan masalah beserta pemecahannya sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan model Group Investigation terhadap kemampuan memecahkan masalah siswa. Rancangan penelitian ini adalah eksperimen semu dengan desain penelitian Nonequivalent Control Group Design. Subjek penelitian berjumlah 63 siswa dengan rincian 31 siswa kelas XI IPS 4 sebagai kelas kontrol dan 32 siswa kelas XI IPS 3 sebagai kelas eksperimen. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah soal tes essai pretest dan posttest berdasarkan indikator kemampuan memecahkan masalah.Teknik analisis data menggunakan uji-t dengan SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh dari model pembelajaran Group Investigation terhadap kemampuan memecahkan masalah siswa kelas XI IPS SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Pengaruh model Group Investigation dibuktikan dengan nilai gainscore kelas eksperimen sebesar 15,46 sedangkan kelas kontrol hanya 10,64. Model pembelajaran Group Investigation memiliki kelebihan mendorong siswa untuk belajar lebih aktif dan lebih bermakna. Artinya siswa dituntut selalu berpikir tentang suatu persoalan dan mereka mencari sendiri cara penyelesaiannya, sehingga bisa lebih meningkatkan minat dan kemampuan memecahkan masalah siswa. Saran yang diajukan untuk guru adalah menjadikan model Group Investigationsebagai alternatif model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah. Saran untuk penelitian selanjutnya adalah mengujicobakan model Group Investigation pada materi berbeda dan mengkombinasikan dengan media pembelajaran yang lebih variatif sehingga tampak pengaruh yang besar terhadap kemampuan memecahkan masalah dan memperoleh manfaat yang lebih besar dari model Group Investigation

    Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Terbimbing Terhadap Keterampilan Geografi Siswa Kelas X IPS SMA Negeri Taruna Nala Jawa Timur

    No full text
    ABSTRAK   Wijiantoro. 2017. Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Terbimbing Terhadap Keterampilan Geografi Siswa Kelas X IPS SMA Negeri Taruna Nala Jawa Timur. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Ardyanto Tanjung, S.Pd, M.Pd, (II) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si.   Kata Kunci:Inquiry Terbimbing, Keterampilan Geografi Penggunaan bermacam-macam model pembelajaran dapat meningkatkan kualitas berpikir dan keterampilan para siswa. Untuk dapat mencapai kualitas berpikir dan keterampilan para siswa,guru perlu merencanakan suatu model pembelajaran yang didalamnya melibatkan keaktifan siswa. Model pembelajaran yang dapat melibatkan keaktifan siswa salah satunya yaitu model pembelajaran inquiryterbimbing. Model pembelajaran inquiryterbimbing merupakan kegiatan belajar yang melibatkan seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki suatu permasalahan secara sistematis, logis, dan analitis. Penggunaan model pembelajaraninquiry terbimbing disesuaikan dengan materi geografi yang merupakan mata pelajaran yang membutuhkan keterampilan siswa karena materi-materinya mengandung konsep, pendekatan, prinsip, aspek maupun manfaat yang sifatnya konkret dan abstrak. Oleh karena itu, diperlukan inovasi-inovasi dalam melaksanakan pembelajaran aktif dan efektif. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran inquiry terbimbing terhadap keterampilan geografi siswa. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen semu (quasi experiment) yang menggunakan desain pretest-posttest. Penelitian ini menggunakan dua kelas yaitu kelas X IPS 6N2 sebagai kelas eksperimen dan kelas X IPS 6O2 sebagai kelas kontrol. Pengukuran keterampilan geografi siswa menggunakan 5 soal esai yang dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Analisis data meliputi uji normalitas, homogenitas dan uji hipotesis menggunakan perhitungan uji t atauIndependent Sample T-test. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan bahwa ada pengaruh model pembelajaraninquiry terbimbingterhadap keterampilan geografi siswa.Hasil tersebut dapat dilihat pada hasil uji hipotesis yang menunjukkan nilai rata-ratagain score siswa kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol. Perbedaan tersebut disebabkan oleh perbedaan perlakuan pada proses pembelajarannya.Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh model pembelajaraninquiry terbimbing terhadap keterampilan geografi siswa kelas X IPS SMA Negeri Taruna Nala Jawa Timur. ABSTRACT   Wijiantoro. 2017. The Effect of Guided Inquiry Learning Model on Geography Skills of Social Science Class X SMA Negeri Taruna Nala Jawa Timur. Thesis. Geography Department, Faculty Of Sosial Science, State University Of Malang. Supervisor: (I) Ardyanto Tanjung, S.Pd, M.Pd, (II) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si.   Keyword: Guided Inquiry, Geography Skills The using of many kinds learning models can improve the students thinking and skills quality. To be able to achieve the students thinking and skills quality, teachers need to plan a learning models that is involves the students activity. Once of learning models that can involve the student activity is guided inquiry. Guided inquiry learning models is the learning activities that involve the entire students ' ability to find and investigate a problem in a systematic, logical, and analytical. The useing of inquiry learning modelsis adapted to the geography material that require  students skills because the content contains concepts, approaches, principles, aspects as well as the benefits to its concrete and abstract. Therefore, required innovations in carrying out active and effective learning. This research was conducted with the aim to find out the influence of guided inquiry learning models to students skills geography. The type of this research was quasi experiment that use a pretest-posttest design. This study uses two classes that is Social Sciene 6N2 Class as a experiment class and Social Sciene 6O2 Class as a control class. Students geography skills measurement using 5 number of essay test that done with validity and reliability test. Data analysis includes testing normality, its homogeneity and hypotheses using a t-test or Independent Sample T-test. Based on the results of the data analysis obtained the conclusion that there is an influence from guided inquiry learning models to students geography skills.  The results can be seen on the hypothesis test result, that showed the average value of experimental class students gain score higher than the control class. The difference is caused by the difference of treatment on the learning activity. The conclusion that can be drawn from this research is there is the influence of guided inquiry learning models to students geography skills at Social Science Class X SMA Negeri Taruna Nala Jawa Timu

    Analisa Zona Potensi Penangkapan Ikan di Perairan Kabupaten Malang dan Sekitarnya Melalui Teknologi Penginderaan Jauh

    No full text
    Perikanan tangkap menjadi salah satu potensi sumber daya yang terusdikembangkan guna meningkatkan perekonomian nasional. Sektor perikanan tangkap di Kabupaten Malang belum dapat dimanfaatkan secara maksimal karena adanya beberapa kendala sarana serta rendahnya pengetahuan nelayan. Kondisi ini mengakibatkan belum maksimalnya pemanfaatan potensi ikan karena mayoritas nelayan masih menerapkan metode tradisional dalam operasi penangkapan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan Zona Potensi Penangkapan Ikan di perairan Kabupaten Malang dan sekitarnya melalui analisis parameter suhu permukaan laut dan klorofil-a berdasarkan skala ruang dan waktu melalui teknologi penginderaan jauh. Teknologi penginderaan jauh merupakan alternatif yang tepat dalam mempercepat penyediaan informasi tentang parameter oseanografi (suhu permukaan laut dan klorofil-a). Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan analisis overlay untuk mendeteksi lokasi potensi penangkapan ikan. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi citra satelit suhu permukaan laut dan klorofila Terra/Aqua MODIS level 3 bulanan selama 5 tahun (2011-2016), data arah arus permukaan laut dari ERDAPP NOAA, data kedalaman perairan dari citra General Bathymetric Chart of the Oceans (GEBCO), data koordinat lokasi penangkapan ikan dan volume produksi ikan dari Instalasi Pelabuhan Perikanan Pondokdadap, Sendangbiru selama lima tahun (2011-2016) dan data penunjang lainnya. Hasil penelitian menunjukkan rara-rata suhu permukaan laut (SPL) pada  Musim Barat di perairan selatan Kabupaten Malang dan sekitarnya sebesar 28,81 ⁰C dan konsentrasi klorofil-a 0,35 mg/m3, rata-rata SPL pada Musim Peralihan I 28,89 ⁰C dengan rata-rata konsentrasi klorofil-a 1,17 mg/m3, rata-rata SPL pada Musim Timur 26,65 ⁰C dan konsentrasi klorofil-a 2,82 mg/m3, dan rata-rata SPL pada Musim Peralihan II 26,41⁰C dan konsentrasi klorofil-a 6,89 mg/m3. Kejadian front thermal di perairan selatan Kabupaten Malang dan sekitarnya banyak terjadi pada Musim Timur dan Musim Peralihan II. Berdasarkan sebaran front thermal dan konsentrasi klorofil-a yang tinggi tinggi, Zona Potensi Penangkapan Ikan di perairan selatan Kabupaten Malang dan sekitarnya banyak ditemukan pada Musim Timur dan Musim Peralihan II. Kondisi tersebut menunjukan periode paling tepat untuk melakukan penangkapan ikan di perairan selatan Kabupaten Malang dan sekitarnya adalah pada periode Musim Timur dan Musim Peralihan II.  Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi infromasi bagi nelayan di Kabupaten Malang dalam merencanakan operasi penangkapan ikan. &nbsp

    0

    full texts

    1,629

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇