SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    1629 research outputs found

    Analisis Pola Persebaran, Interaksi Antar Objek dan Faktor Pendukung Objek Wisata Pantai Di Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang.

    No full text
    RINGKASAN   Kusriadi. 2017. Analisis Pola Persebaran, Interaksi Antar Objek dan Faktor Pendukung Objek Wisata Pantai Di Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang.Skripsi. Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si, (II) Drs. Hendri Purwito, M.Si.   Kata Kunci: Pola persebaran, Interaksi, Fasilitasdan Objek wisata pantai   Kabupaten Malang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang memiliki potensi yang beragam, salah satunya adalah potensi objek wisata pantai. Peluang ini dimanfaatkan oleh pemerintah Kabupaten Malang untuk mengembangkan sektor pariwisata. Berdasarkan RTRW dan RIPPDA Kabupaten Malang sektor pariwisata merupakan salah satu sektor prioritas dalam pengembangan wilayah. Kelengkapan fasilitas pelayanan wisatawan yang disediakan pengelola objek wisata pantai belum lengkap. Tujuandaripenelitianiniadalah(1) Bagaimana pola persebaran objek wisata pantai yang ada di Kecamatan Sumbermanjing Wetan.(2) Bagaimanainteraksi antar objek wisata pantai yang ada di Kecamatan Sumbermanjing Wetan.(3) Bagaimana faktor pendukung setiap objek wisata ditinjau dari jumlah unit fasilitas.Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif, didalamnya menggunakan survei yang bersifat deskriptif. Penelitian iniyang menggunakan survei lapanganmeliputi observasi serta dokumentasi. Analisis data, ada tiga metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu sebagai berikut. (1). Analisis Tetangga terdekat Nearestneighbour analyst (NNA), (2). Analisis gravitasi dan (3). Analisis Indeks Marshall. Hasil analisis tetangga terdekat diketahui bahwa pola persebaran objek wisata pantai di Kecamatan Sumbermanjing Wetan dankawasan pantai Clungup Mangrove Concervation(CMC)memiliki pola yang dikatagorikan random/acak. Hasil nilai analisis gravitasi terdiri dari enam kelas interaksi tertinggi terjadi antara Pantai CMC – Pantai Sendang Biru. Nilai interaksi paling rendah terjadi antara Pantai Sendiki – Pantai perawan. Hasil analisis Indeks Marshall berdasarkan faktor pendukung berupa fasilitas terdapat empat orde. Pantai Goa Cina adalah pantai yang berada pada orde I, yang berarti memiliki fasilitas dan kemampuan yang baik terhadap wisatawan.Pada orde ke empat merupakan pantai dengan ketersediaan fasilitas terendah yakni Pantai Watu Leter dan Pantai Perawan, yang berarti ketersediaan fasilitas masih minim. Saran yang diajukanberdasarkanpenelitianiniadalah: (1) Berdasarkan pola persebaran objek wisata pantai yang random atau acak, maka perlunya adanya kerjasama antar pengelola objek wisata pantai dan pelaku usaha perjalanan wisata melalui penetapan paket wisata serta untuk menghindari adanya konflik.(2) Bagi pengelola objek wisata pantai perlunya kerja sama dengan pihak akademisi untuk pengembangan melalui penelitian yang dilakukan.(3) Masyarakat yang terlibat dalam kegiatan pariwisata harus meningkatkan ketrampilan, kreativitas dan pengetahuan agar mampu bersaing dan bertahan. (4) Bagi peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian pada objek wisata pantai sebaiknya lebih berkoordinasi lagi kepada pengelola objek wisata pantai yang akan diteliti.   SUMMARY     Kusriadi. 2017. Distribution Pattern Analysis, Interaction Between Objects and Supporting Factors Of Beach Tourism Objects At Sumbermanjing Wetan Subdistrict Malang Regency. Undergraduate theses.Department Of Geography,Faculty of Social Sciences, UniversitasNegeri Malang. Supervisors: (I) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si, (II) Drs. Hendri Purwito, M.Si.   Keywords: Encircle the pattern, interaction, facilities and beach tourism objects.   Malang District is one of the districts in East Java Province that have the potential to a wide variety of one of them is a potential beach tourism objects. This opportunity to be used by the government Malang district to develop the tourism sector. Based on RIPPDA and RTRW Malang Regency tourism sector is one of the priority sectors in the development of the region. Completeness of tourist services provided by the managers of the beach tourism objects not yet complete. The purpose of this research is (1) How encircle the pattern beach tourism objects that are in the sub-district Sumbermanjing Wetan. (2) How the interaction between the existing beach tourism objects in the sub-district Sumbermanjing Wetan. (3) How Factors supporting each tourism objects in terms of the number of the unit facilities. This research is a descriptive quantitative research, therein using the survey which is a descriptive. This research is using field survey covers the observation and documentation. A data, there are three methods used in this research is as follows. (1) The nearest neighbor analysis Nearestneighbour analyst (NNA), (2) Analysis of gravity and (3). Analysis of the index Marshall. The results of the nearest neighbor analysis it is known that encircle the pattern beach tourism objects in the sub-district Sumbermanjing Wetan and coastal area of Clungup Mangrove Concervation (CMC) has the pattern that shares categorize random. The results of the value of the gravitational analysis consists of six classes the highest interaction between CMC beach - the Sendang Biru Beach. The value of the interaction most low happens between Sendiki Coast - the Perawan coast. The results of the analysis of the index Marshall based on supporting factor in the form of the facilities there are four Orde. The beach Goa China is the beach that is located on the I order, which means have the facilities and the ability to tourists. On the fourth order is a beach with the availability of the lowest facility i.e. Watu Leter Beach and the coast of the virgin, which means the availability of the facilities is still low. The proposed advice based on this research is: (1) based on the pattern encircle the beach tourism objects that random or random, then the need for the cooperation between the managers of beach tourism objects and business players tour travel through the announcement of a tour package and to avoid a conflict. (2) For beach tourism object managers need for cooperation with academics for development through research. (3) communities involved in tourism activities must increase skill and creativity and knowledge to be able to compete and survive. (4) For the next researcher who will do research on the beach tourism object should be more coordination again to the management of the beach tourism objects that will be examined

    Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Partisipasi MetodeKontrasepsi PriaVasektomi Pada Pasangan Usia Subur (PUS) Di Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi

    No full text
    ABSTRAK Saadah, Inna Viva 2016.Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Partisipasi MetodeKontrasepsi PriaVasektomi Pada Pasangan Usia Subur (PUS) Di Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi. Skripsi, JurusanGeografi, FakultasIlmuSosial, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing:               (I) Prof. Dr. Budijanto, M.Sos, (II) Drs. DjokoSoelistijo, M.Si Kata Kunci :PartisipasiPria, Vasektomi,PUSPartisipasipriapadapasanganusiasuburuntukmenggunakanmetodekontrasepsivasektomidi KecamatanGentengtergolongrendah. KecamatanGentengadalahsalahsatukecamatan yang memilikikepadatanpenduduk yang tergolongtinggi di KabupatenBanyuwangi.Jumlahpasanganusiasubur di KecamatanGentengadalah16599 denganpenggunavasektomihanya 26 orang.Apabiladibandingkandenganpenggunatubektomi (metodekontrasepsimantapwanita) perbandingannyaadalah 1:18. Artinyasetiap 18 orang yang menggunakantubektomiberbandingdengan 1 orang penggunavasektomi.Penelitianinimenggunakanrancangancase controlyaitupenelitiandenganmewawancarai 52 responden yang terdiridari 26 respondenakseptor KB Vasektomidan 26 responden non akseptorvasektomi. Sehinggaperbandinganantarasampelkasusdankontroladalah 1:1.Pengambilanpopulasipadasampelkasusyaituakseptor KB Vasektomiadalahdengansampling jenuh.Artinyasemuapopulasidijadikansampel.Sedangkanuntukkasuskontroladalahsuami PUS non akseptorvasektomisebanyak 26 orang dengancaramachingtempattinggaldanumur (minimal 30tahun).Variabelbebasdalampenelitianiniadalahpengetahuan, sikap, alasan (dukunganistridanperan PLKB) dansosialekonomi(pendidikan, pendapatan).Variabelterikatadalahpartisipasipria. BerdasarkanhasilanalisisstatistikdenganmenggunakanChi Squaremenunjukkanbahwavariabelpengetahuanresponden (p=0,172), sikap (p=0,01), dukunganistri (p=0,02), peran PLKB (p=0,11), pendidikan (p=0,337) danpendapatan (p=0,510). Faktorsikap, dukunganistridanperan PLKB berpengaruhsignifikanterhadappartisipasimetodekontrasepsivasektomi.Faktorpengetahuan, pendidikandanpendapatantidakberpengaruhsignifikanterhadappartisipasimetodekontrasepsivasektomi. Dari 26 respondenakseptorvsektomiterdapat 1 kasuskegagalanvasektomi, dimanasebelummenggunakanvasektomijumlahanakakseptoradalah 2 danpascamenggunakanvasektomijumlahanakmenjadi 3. Hal menandakantetapterjadifertilitaspascamenggunakanvasektomi.Tingkat keberhasilanmetodekontrasepsivasektomi di KecamatanGentengsebesar 96,2%. Tingkat kegagalanvasektomiadalahhanya 3,8%. Kegagalanvasektomidisebabkanolehkesalahanmedisketikadilakukanoperasikecilvasektomi

    Potensi dan Daya Dukung Kawasan Angrowisata Belimbing di Desa Ngringinrejo Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro

    No full text
    ABSTRAK Agrowisata Belimbing Ngringinrejo merupakan salah satu objek wisata yang diminati di Kabupaten Bojonegoro. Jumlah kunjungan di agrowisata ini selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pengembangan potensi agrowisata yang belum optimal dan belum adanya batasan yang resmi terkait besarnya jumlah pengunjung maksimum menyebabkan agrowisata ini belum bisa digolongkan menjadi agrowisata berkelanjutan. Penelitian tentang Potensi dan Daya Dukung Kawasan Agrowisata Belimbing di Desa Ngringinrejo Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro penting dilakukan untuk mengetahui besarnya potensi dan kapasitas maksimum daya dukung kawasan di Agrowisata ini.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan tujuan mendeskripsikan potensi dan menganalisis daya dukung kawasan yang ada di Agrowisata Belimbing di Desa Ngringinrejo Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro. Pengolahan data dalam penelitian ini ada dua yaitu menggunakan scoring ADO-ODTWA dan analisis Daya Dukung Kawasan (DDK).  Kriteria penilaian ADO-ODTWA mengacu pada Pedoman Analisis Daerah Operasi dan Daya Tarik Wisata Alam yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Tahun 2003 yang telah dimodifikasi. Kriteria penilaian Daya Dukung Kawasan didasarkan pada Rumus Daya Dukung Kawasan menggunakan metode Cifuentes. Daya Dukung Kawasan yang diukur dalam penelitian ini meliputi daya dukung fisik (PCC), daya dukung rill (RCC) dan daya dukung efektif (ECC).Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Agrowisata Belimbing yang ada di Desa Ngringinrejo Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro memiliki nilai potensi ODTWA sebesar 3.115 dengan indeks nilai potensi 78,46 %. Nilai potensi ini tergolong klasifikasi tinggi, sehingga agrowisata ini memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Daya dukung kawasan yang ada di  Agrowisata Belimbing Ngringinrejo mencakup daya dukung fisik (PCC) yakni 8.500 orang per hari, daya dukung rill (RCC) sebesar 677 orang per hari dan daya dukung efektif (ECC) sebesar 443 orang per hari. Berdasarkan daya dukung efektifnya, Agrowisata Belimbing Ngringinrejo belum mengalami over carrying capacity dikarenakan jumlah kunjungan rata-rata perharinya sebesar 341 pengunjung.dipersentasekan pada setiap siklus.Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan berpikir kritissiswa yang diketahui rata-rata nilai hasil tes kemampuan berpikir kritis. Pada siklus Irata-rata nilai adalah 72,70. Selanjutnya dilakukan tindakan siklus II, dan rata-ratanilai adalah 83,12. Dengan demikian, selisih rata-rata dari siklus I ke siklus II adalah10,42, dan persentase peningkatan sebesar 12,5 %.Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model PenerapanModel Problem Based Learning dengan Memanfaatkan Media Facebook dapatmeningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas X-IBB pada mata pelajaranGeografi. Bagi pihak sekolah disarankan agar menganjurkan kepada guru geografiuntuk menerapkan model Problem Based Learning ketika hendak mengajarkanmateri yang sama dengan penelitian ini. Bagi guru geografi disarankan agarmenerapkan model Problem Based Learning dengan memanfaatkan facebook untukmeningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Bagi peneliti lanjut disarankan agarmencoba menggabungkan antara model Problem Based Learning dengan facebookuntuk kemampuan berpikir tingkat tinggi lainnya, karena penyelidikan dalam PBL tidak hanya untuk kemampuan berpikir kritis

    Analisis Tingkat Risiko Bencana Tanah Longsor di Kecamatan Munjungan Kabupaten Trenggalek

    No full text
    ABSTRAK Kecamatan Munjungan merupakan wilayah yang memiliki kondisi morfologi sebagian besar berupa perbukitan dan pegunungan dengan batuan penyusun didominasi oleh hasil dari erupsi gunungapi yang mempunyai sifat kedap air serta jenis tanah didominasi oleh tanah Litosol yang memiliki tingkat erodibilitas tinggi. Pesatnya pembangunan infrastruktur di Kecamatan Munjungan mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi dan penduduk yang mengakibatkan terjadinya alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan, pertanian dan permukiman. Alih fungsi hutan tersebut memicu banyaknya lahan kritis, pada tahun 2015 luas lahan kritis di Kecamatan Munjungan mencapai 4.126 ha (27,20%) dari total luas wilayah. Kondisi fisik dan sosial ini menyebabkan wilayah Kecamatan Munjungan berpotensi terhadap risiko bencana tanah longsor.Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis tingkat bahaya tanah longsor, (2) menganalisis tingkat kerentanan dan kapasitas serta (3) menganalisis tingkat risiko bencana tanah longsor di Kecamatan Munjungan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah skoring dan pembobotan faktor-faktor penyebab bahaya (hazard) longsor meliputi kemiringan lereng, bentuklahan, geologi, jenis tanah dan penggunaan lahan. Faktor kerentanan (vulnerability) meliputi kerentanan sosial, ekonomi, fisik dan lingkungan. Faktor kapasitas (capacity) meliputi jumlah tenaga kesehatan, jumlah fasilitas kesehatan, sosialisasi bencana, perolehan bantuan dan usaha antisipasi bencana. Hasil dari analisis tingkat bahaya tanah longsor didapatkan 1.642,42 ha (10,54%) wilayah Kecamatan Munjungan memiliki tingkat bahaya tanah longsor rendah, 3.515,41 ha (22,57%) memiliki tingkat bahaya tanah longsor sedang dan 10.417,17 ha (66,89%) memiliki tingkat bahaya tanah longsor tinggi. Hasil dari analisis tingkat kerentanan didapatkan 10 desa memiliki tingkat kerentanan sedang dan 1 desa memiliki tingkat kerentanan tinggi. Selanjutnya untuk analisis tingkat kapasitas masyarakat didapatkan 9 desa memiliki tingkat kapasitas sedang dan 2 desa memiliki tingkat kapasitas tinggi. Sedangkan hasil dari analisis tingkat risiko bencana tanah longsor diperoleh 8.740,89 ha (56,12%) wilayah di Kecamatan Munjungan memiliki tingkat risiko rendah dan 6.834,11 ha (43,88%) memiliki tingkat risiko sedang. Tingkat risiko bencana tanah longsor rendah dipengaruhi oleh skor bahaya longsor rendah dan sedang, kemudian memiliki skor kerentanan sedang hingga tinggi dan juga memiliki skor kapasitas sedang hingga tinggi. Tingkat risiko bencana tanah longsor sedang disebabkan karena pada kelas tersebut didominasi skor bahaya longsor tinggi, kemudian memiliki skor kerentanan sedang dan memiliki skor kapasitas sedang

    Studi Komparasi Fertilitas Pada masyarakat Daerah Karst, Fluvial dan Vulkan di Kabupaten Ngawi

    No full text
    ABSTRAK   ABSTRAK Puspitasari, Devi. 2016. Studi Komparasi Fertilitas Pada Masyarakat Daerah Karst, Fluvial dan Vulkan di Kabupaten Ngawi. Jurusan Geografi, Program Studi Geografi Pengembangan Sumberdaya Manusia dan Ketenagakerjaan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Singgih Susilo, M.S, M.Si, (II) Drs. Marhadi S.K, M.Si. Kata Kunci: fertilitas, variabel antara, studi komparasi Fertilitas merupakan hasil reprodusi nyata (bayi lahir hidup) dari seorang wanita atau sekelompok wanita. Salah satu perhitungan untuk menentukan fertilitas secara umum adalah tingkat kelahiran kasar atau Crude Birth Rate, yaitu jumlah kelahiran hidup pada suatu daerah pada tahun tertentu tiap 1000 penduduk pada pertengahan tahun. Pasangan Usia Subur Desa Sekarjati, Kedungharjo dan kletekan sebanyak 2.898 jiwa. CBR Kecamatan Mantingan sebanyak 11,39, Kecamatan Kranganyar sebesar 13,25 Kecamtan Jogorogo sebesar 13,19. Kabupaten Ngawi merupakan kabupaten yang memiliki bentuk lahan yang berbeda-beda yaitu karst, fluvial dan vulkan. Dengan hal tersebut diperlukan pengkajian mengenai Studi komparasi fertilitas di Kabupaten Ngawi. Penelitian ini bertujuan untuk membandiangkan fertilitas berdasarkan tiga bentuk lahan yaitu Karst, Fluvial dan Vulkan. Dan bertujuan untuk mengetahui hubungan antara usia kawin pertama, lama penggunaan kontrasepsi, tingkat pendidikan, dan tingkat pendapatan dan nilai anak dalam keluarga terhadap fertilitas di daerah karst, fluvial dan vulkan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian parameter dengan pendekatan komparatif dan metode survei. Penarikan sampel dilakukan secara proporsional random sampling dengan responden wanita pernah kawin berjumlah 97 orang. Instrumen penelitian yang digunakan adalah pedoman wawancara. Analisis data menggunakan tabulasi tunggal, tabulasi silang dan uji one way anova. Hasil analisis one way anova menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antra fertilitas pada daerah karst, fluvial dan vulkan. Pada uji tersebut menunjukkan bahwa rata-rata masyarakat pada daerah karst, fluvial dan vulkan memiliki dua oranga anak. Saran yang diajukan berdasarkan permasalah yang berkaitan dengan fertilitas adalah 1) perlunya penyuluhan tentang penundaan usia nikah karena masih banayaknya usia nikah pertama dibawah 20 tahun 2) perlu memaksimalkan penyuluhan tentang alat kontrasepsi jangka panjang 3) Perlu di adakanya penyuluhan tentang gizi ibu karena masih ada beberapa ibu yang kekurangan gizi dan sulit untuk memiliki ana

    PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING DENGAN MEMANFAATKAN MEDIA FACEBOOK PADA MATA PELAJARAN GEOGRAFI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERFIKIR KRITIS SISWA KELAS X IBB SMA NEGERI 1 GONDANGLEGI

    No full text
    ABSTRAK   Prastyaningsih, Sri Nanik. 2016. Penerapan Model Problem Based Learning dengan Memanfaatkan Media Facebook pada Mata Pelajaran Geografi untuk Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kritis Siswa Kelas X IBB SMA Negeri 1 Gondanglegi. Skripsi, Program Studi Pendidikan Geografi, Jurusan Geografi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Hadi Soekamto, S.H, M.Pd, M.Si, (2) Drs. Sudarno Herlambang, M.Si   Kata Kunci: Model Problem Based Learning, Facebook, Kemampuan Berfikir Kritis Pembelajaran di kelas tidak luput dari berbagai macam permasalahan. Salah satu permasalahan tersebut adalah rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa. Hal ini dibuktikan dengan siswa kurang aktif dalam bertanya, menjawab, menanggapi maupun menyanggah pertanyaan yang bersifat analisis. Penyebab timbulnya permasalahan tersebut dianalisis berdasarkan 4 (empat) aspek, yaitu : (1) aspek siswa; (2) aspek guru; (3) aspek sarana dan prasarana; (4) aspek penerapan model pembelajaran. Berdasarkan hasil analisis faktor penyebab rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa kelas X-IBB adalah model pembelajaran yang diterapkan oleh guru belum mendukung tumbuhnya kemampuan berpikir kritis siswa. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis siswa kelas X-IBB dengan diterapkannya model Problem Based Learning dengan memanfaatkan media facebook pada mata pelajaran geografi. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri atas 2 (dua) siklus. Setiap siklus melalui proses yang terdiri dari 4 tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek yang menjadi sasaran penelitian adalah kelas X-IBB SMA Negeri 1 Gondanglegi dengan jumlah 25 siswa. Intrumen penelitian berupa soal essai tes kemampuan berpikir kritis. Analisis data dilakukan dengan mengukur kemampuan berpikir kritis berdasarkan ketuntasan belajar yang dipersentasekan pada setiap siklus. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa yang diketahui rata-rata nilai hasil tes kemampuan berpikir kritis. Pada siklus I rata-rata nilai adalah 72,70. Selanjutnya dilakukan tindakan siklus II, dan rata-rata nilai adalah 83,12. Dengan demikian, selisih rata-rata dari siklus I ke siklus II adalah 10,42, dan persentase peningkatan sebesar 12,5 %. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model Penerapan Model Problem Based Learning dengan Memanfaatkan Media Facebook dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas X-IBB pada mata pelajaran Geografi. Bagi pihak sekolah disarankan agar menganjurkan kepada guru geografi untuk menerapkan model Problem Based Learning ketika hendak mengajarkan materi yang sama dengan penelitian ini. Bagi guru geografi disarankan agar menerapkan model Problem Based Learning dengan memanfaatkan facebook untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Bagi peneliti lanjut disarankan agar mencoba menggabungkan antara model Problem Based Learning dengan facebook untuk kemampuan berpikir tingkat tinggi lainnya, karena penyelidikan dalam PBL tidak hanya untuk kemampuan berpikir kritis

    PENGARUH PEMANFAATAN MEDIA PETA DIGITAL PADA MATA PELAJARAN GEOGRAFI MATERI BUDAYA NASIONAL DAN INTERAKSI GLOBAL TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR GEOGRAFI KELAS XI SMAN 1 TUREN

    No full text
    ABSTRAK Sejak pendidikan memasuki era modernisasi, penggunaan media pembelajaran sangatlah penting. Terutama pada mata pelajaran geografi yang membutuhkan peta sebagai salah satu media terpenting. Akan tetapi penggunaan peta konvensional sebagai media pembelajaran semakin menurun. Oleh karena itu, seiring berkembangnya teknologi peta digital adalah jawaban atas tuntutan masa kini yang memerlukan sistem komputerisasi diterapkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengaruh aplikasi peta digital terhadap keterampilan berpikir geografi remaja kelas 11 SMAN 1 Turen Tahun Akademik 2016/2017 dalam materi budaya nasional dan interaksi global. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang dilaksanakan di dua kelas berbeda yang setara. Kelas tersebut adalah XI IPS 2 sebagai kelas eksperimen dengan jumlah siswa sebanyak 33 dan kelas XI IPS 3 sebagai kelas kontrol dengan jumlah siswa sebanyak 29 siswa. Penelitian ini melalui tahapan pembelajaran 2 kali pertemuan dan 1 kali pertemuan untuk tes post tes. Untuk teknik pengumpulan data pada penelitian ini lembar tes soal post tes dan observasi keterlaksanaan kegiatan pembelajaran.  Penelitian ini diketahui bahwa penggunaan media peta digital dapat berpengaruh untuk meningkatkan kemampuan berpikir geografi siswa pada materi budaya nasional dan interaksi global di SMAN 1 Turen. Pengaruh peta digital terhadap kemampuan berpikir geografi terlihat pada hasil uji t post tes dan nilai rata rata siswa. Hasil uji t menunjukkan nilai 0,015 lebih kecil dari 0,05, sehingga dapat dikatakan bahwa Peta digital berpengaruh terhadap kemampuan berpikir geografi siswa. Hal itu juga didukung oleh hasil rata-rata nilai siswa, yang mana kelas eksperimen mendapatkan nilai rata-rata 70,31 dan kelas kontrol mendapatkan nilai 64,03. Dari kedua data di atas dapat disimpulkan bahwa peta digital berpengaruh terhadap kemampuan berpikir geografi siswa

    Remitensi dan Nilai Harapan (Expectation of Value) Rumah Tangga TKI daerah Asal; Studi Kasus Kecamatan Besuki dan Kecamatan Kalidawir Kabupaten Tulungagung

    No full text
    ABSTRAK Saputra, Alifi. 2017. Remitensi dan Nilai Harapan (Expectation of Value) Rumah Tangga TKI Daerah Asal; Studi Kasus Kecamatan Besuki dan Kecamatan Kalidawir Kabupaten Tulungagung. Skripsi. Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. Budijanto, M.Sos, (2) Dr. Ach. Amirudin, M.Pd.   Kata Kunci: TKI, Remiten, Nilai Harapan   Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan anatara varibel-variabel yang mempengaruhi nilai remiten TKI beserta nilai harapan rumah tangga TKI di daerah asal, variabel tersebut yaitu meliputi jenis kelamin, pendidikan, beban tanggungan, negara tujuan, lama bekerja, remiten, dan nilai harapan (expectation of value). Sedangkan nilai harapan terdapat tujuh sub variabelnya yaitu kemakmuran, status, kenyamanan, stimulan, otonomi, affiliasi, dan moralitas. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui perbedaan nilai harapan rumah tangga TKI daerah asal di lahan kering dan di lahan campuran. Lokasi penelitian ini berada di dua tempat yaitu di Desa Tanggulturus Kecamatan Besuki dan Desa Karangtalun Kecamatan Kalidawir sebagai lahan campuran. Jumlah sampel yaitu 60 rumah tangga TKI di setiap lokasi penelitian, jadi total terdapat 120 sampel rumah tangga TKI. Alat pengumpul penelitian yaitu kuesioner dan wawancara. Analisis data menggunakan analisis uji beda (independent sample t-test), tabulasi silang (crosstabs) dan Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan negara tujuan, jenis kelamin dengan remiten, negara tujuan dengan lama bekerja, remiten dengan negara tujuan, dan remiten dengan semua aspek nilai harapan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan negara tujuan, pendidikan dengan lama bekerja, pendidikan dengan remiten, beban tanggungan dengan negara tujuan, beban tanggungan dengan lama bekerja, dan beban tanggungan dengan remiten. Dari penelitian ini dapat diambil saran bahwa hendaknya para TKI dan keluarganya di daerah asal harus pandai-pandai dalam memanajemen remiten yang dikirim dari TKI, agar nilai harapan yang ada di keluarga daerah asal tetap baik, selain itu juga untuk menjaga kehidupan ekonomi keluarga daerah asal. TKI yang sudah tidak bekerja lagidan menjalankan kehidupan di daerah asal harusnya bisa menerapkan berbagai pengalamannya ketika masih bekerja di negara tujuanuntuk meningkatkan kualitas hidup dan ekonomi di lingkungan daerah asal.

    FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI FERTILITAS MASYARAKAT NELAYAN DI DESA SUKAJERUK PULAU MASALEMBU

    No full text
    ABSTRAK Jumlah dan laju pertumbuhan penduduk yang masih tinggi merupakan masalah kependudukan yang disebabkan oleh angka kelahiran atau fertilitas yang tinggi. Tinggi rendahnya fertilitas pada suatu daerah dapat diketahui melalui perhitungan tingkat kelahiran kasar atau Crude Birth Rate (CBR), yaitu jumlah kelahiran hidup pada suatu daerah pada tahun tertentu tiap 1000 penduduk pada pertengahan tahun. Sebagian besar masyarakat di Desa Sukajeruk Pulau Masalembu merupakan nelayan dengan rata-rata fertilitas yang tergolong tinggi yaitu berjumlah 3,63 kelahiran. Pasangan Usia Subur di Desa Sukajeruk Pulau Masalembu berjumlah 1.525 jiwa dengan CBR berjumlah 4,6 kelahiran per 1000 kelahiran hidup dan CDR sebesar 2,2 kematian per 100 penduduk, sehingga pertambahan penduduknya sebesar 2,6. Berkaitan dengan hal tersebut perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi fertilitas masyarakat nelayan di Desa Sukajeruk Pulau Masalembu.Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi fertilitas pada masyarakat nelayan di Desa Sukajeruk secara simultan dan secara parssial. Selain itu juga untuk mengatahui faktor faktor yang paling dominan mempengaruhi fertilitas masyarakat nelayan. Rancangan penelitian menggunakan parameter dengan pendekatan korelasional dan metode survei. Penarikan sampel dilakukan secara proporsional random sampling dengan responden wanita pernah kawin pada masyarakat nelayan yang berjumlah 94 orang. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan tabulasi tunggal, tabulasi silang serta regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bersama-sama variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen yaitu fertilitas. Secara parsial Pendidikan, lama melaut, usia kawin pertama, lama periode reproduksi dan lama penggunaan kontrasepsi berpengaruh terhadap fertilitas, sedangkan pendapatan keluarga tidak berpengaruh terhadap fertilitas. Variabel yang paling dominan memberikan pengaruh terhadap fertilitas adalah lama periode reproduksi dan sumbangan paling kecil adalah lama penggunaan kontrasepsi

    EVALUASI FUNGSI KAWASAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN JEPARA TAHUN 2011-2031

    No full text
    ABSTRAK Assani, Muhammad Kamal. 2017. Evaluasi Fungsi Kawasan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Jepara Tahun 2011-2031. Program studi S1 Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr.Didik Taryana, M.Si. (II) Drs. Djoko Soelistijo M.Si. Kata kunci : fungsi kawasan, penggunaan lahan, Rencana Tata Ruang Wilayah, penyimpangan penggunaan lahan, Penyimpangan penggunaan lahan di Kabupaten Jepara dewasa ini telah terjadi begitu lama dan secara terus menerus menjadi penyimpangan pengunaan fungsi kawasan yang tidak sesuai pada Rencana tata Ruang Wilayah Kabupaten Jepara. Penyimpangan penggunaan lahan yang tidak sesuai akan berdampak negatif pada keberlangsungan penataan ruang di Kabupaten Jepara, jika penyimpangan ini terus terjadi tanpa adanya tindakan dari pemerintah kabupaten maka penataan ruang di Kabupaten Jepara akan menjadi tidak teratur, hal ini menjadikan alasan untuk mengevaluasi banyaknya luasan lahan yang mengalami perubahan alih fungsi kawasan sehingga dapat menjadi landasan untuk melakukan pengawasan dan penertiban pada lahan yang telah mengalami alih fungsi kawasan serta menjadi salah satu dasar dalam tingkat kekonsistenan atau merevisi Rencana tata ruang wilayah kabupaten Jepara tahun 2011-2031 sehingga pelaksanaan penggunaan lahan dapat konsisten  terhadap rencana tata ruang yang telah ditetapkan kedepannya. Jenispenelitian ini berjenis penelitiansurvei, tujuan penelitian ini untuk mengetahui penyimpangan penggunaan lahan existing Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Jepara tahun 2011-2031.Jenis data yang digunakan untuk mencapai tujuan penelitian meliputi data primer dan data sekunder. Penentuan peruntukan lahan sebagai salah satu kawasan adalah data intensitas hujan, jenis tanah dan topografi (kemiringan lereng) yang overlay menjadi peta peruntukan fungsi kawasan. Sedangkan analisis data menggunakan pemanfaatan penggunaan lahan saat ini. Perencanaan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) tidak sesuai pada SK MENTAN no.837/kpts/um/11/1980 dan no.583/kpts/um/8/1980 yang didasarkan pada 3 faktor penentu yaitu faktor topografi, intensitas hujan dan faktor jenis tanah. Berdasarkan hasil penelitian tingkat penyimpangan alih fungsi kawasan di Kabupaten Jepara sebesar 40,85% telah mengalami penyimpangan, yang mencakup penyimpangan pada kawasan lindung, pertanian tanaman pangan dan kawasan perkebunan. Faktor terbesar yang mempengaruhi penyimpangan alih fungsi kawasan adalah kurangnya pemahaman tentang penetapan fungsi kawasan terhadap penataan ruang serta minimnya tingkat pengawasan dan penindakan terhadap pihak terkait yang menyalahi pelaksanaan rencana tata ruang yang ada baik dari individu maupun kelompok, , sehingga perlu dilakukan revisi sebagian pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Jepara tahun 2011-2031

    0

    full texts

    1,629

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇