SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
1629 research outputs found
Sort by
Hubungan Aglomerasi Industri Manufaktur, Tenaga Kerja dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan Pertumbuhan Ekonomi Kota Surabaya Tahun 2011-2015.
ABSTRAK Al Istiqomah. 2016. Hubungan Aglomerasi Industri Manufaktur, Tenaga Kerja dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan Pertumbuhan Ekonomi Kota Surabaya Tahun 2011-2015. Skripsi. Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Budijanto, M.Sos, (II) Drs. M. Yusuf Idris. Kata Kunci : Pertumbuhan Ekonomi, Aglomerasi Industri Manufaktur, Tenaga Kerja dan Indeks Pembangunan Manusia Pertumbuhan ekonomi merupakan masalah perekonomian bagi suatu negara dalam jangka panjang, karena pertumbuhan ekonomi mengukur prestasi dari perkembangan suatu perekonomian dari suatu periode ke periode berikutnya. Pertumbuhan ekonomi di Kota Surabaya pada tahun 2015 di bulan januari sampai maret mengalami penurunan sebesar 6%, maka dari itu perlu dilakukan analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Beberapa faktor tersebut diantaranya adalah faktor aglomerasi industri manufaktur, tenaga kerja dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dan jenis penelitian ini adalah penelitian korelasional untuk mengetahui hubungan variabel bebas terhadap variabel terikat. Daerah penelitian ini ada di sembilan kecamatan yang merupakan kawasan industri. Kawasan industri manufaktur yang ada di Kota Surabaya diantaranya adalah Kecamatan Asemrowo, Kecamatan Benowo, Kecamatan Gunung Anyar, Kecamatan Kenjeran, Kecamatan Pabean, Kecamatan Rungkut, Kecamatan Tandes, Kecamatan Tambak Sari dan Kecamatan Tenggilis Mejoyo. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan aglomerasi industri manufaktur, tenaga kerja dan indeks pembangunan manusia (IPM) terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Surabaya tahun 2011-2015. Metode analisis aglomerasi industri menggunakan rumus indeks balassa. Analisis data yang digunakan yaitu tabulasi tunggal dan uji statistik spearman rank. Hasil analisis uji spearman rank menunjukkan bahwa selama lima tahun terakhir variabel dependen yaitu aglomerasi industri manufaktur, tenaga kerja dan indeks pembangunan manusia (IPM) berhubungan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Surabaya pada tahun 2011-2015. Aglomerasi industri memiliki hubungan yang kuat, adanya aglomerasi dapat menghemat biaya produksi suatu barang dan jasa, karena industri yang berdekatan. Saran yang diajukan berdasarkan penelitian ini adalah : (1) Kota Surabaya memiliki jumlah tenaga kerja yang besar, sebaiknya dapat diimbangi dengan adanya kualitas tenaga kerja, dengan meningkatnya kualitas tenaga kerja, maka produktivitas akan meningkat dan lebih baik lagi. (2) Pemerintah pusat atau daerah diharapkan dapat memberikan atau mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang dapat lebih meningkatkan IPM Kota Surabaya
Pengaruh Model Pembelajaran Team Assisted Individualization Terhadap mInat dan Hasil Belajar Geografi Pada Materi Hidrosfer Siswa Kelas X SMA Al-Ma'hadul Islami (Putri) Bangil Pasuruan
ABSTRAK Hidayati, Nur. 2017. Pengaruh Model Pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) Terhadap Minat dan Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA Al-Ma’hadul Islami (Putri) Bangil Pasuruan. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Purwanto, S.Pd, M.Si., (II) Drs. Rudi Hartono, M.Si. Kata Kunci: minat belajar, hasil belajar, pembelajaran kooperatif model TAI Model pembelajaran yang berkembang dewasa ini adalah pembelajaran kooperatif yang menuntut siswa untuk aktif dan bekerja sama dalam kelompok kecil untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran kooperatif memiliki berbagai model, salah satunya adalah Team Assisted Individualization (TAI). Pemilihan model pembelajaran ini karena model ini memiliki berbagai kelebihan salah satunya yaitu pada sintaks Team Study dimana semua anggota kelompok saling bekerja sama dan saling membantu dalam menyelesaikan unit pembelajaran dari guru, saat inilah siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata membantu menjelaskan unit materi kepada siswa yang kemampuannya di bawah rata-rata (Assisted Individualization). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model Team Assisted Individualization terhadap minat dan hasil belajar pada siswa kelas X SMA Al-Ma’hadul Islami (putri) Bangil Kabupaten Pasuruan. Rancangan penelitian ini adalah eksperimental semu yaitu mempunyai kelompok kontrol tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel luar yang bisa mempengaruhi pelaksanaan eksperimen, dan termasuk dalam penelitian kuantitatif. Pelaksanaan penelitian di SMA Al-Ma’hadul Islami (putri) Bangil Kabupaten Pasuruan dengan kelas XA sebagai kelas kontrol dan Xb sebagai kelas eksperimen. Data yang diambil adalah minat dan hasil belajar siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan pemberian Post Test dan angket di akhir pertemuan. Analisis data dilakukan dengan membandingkan gain score hasil tes soal dan hasil angket minat antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol dengan menggunakan SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) terhadap minat belajar dan hasil belajar siswa pada materi Hidrosfer siswa kelas X SMA Al-Ma’hadul Islami (putri) Bangil Kabupaten Pasuruan
Skala Prioritas Pengembangan Objek Wisata Pantai berdasarkan Skalogram di Kecamatan Bantur Kabupaten Malang
RINGKASAN Siswoyo, Tridiana Agustiningsih. 2017.Skala Prioritas Pengembangan Objek Wisata Pantai berdasarkan Skalogram di Kecamatan Bantur Kabupaten Malang.Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si, (II) Drs. Marhadi Slamet Kistiyanto, M.Si. Kata Kunci: Prioritas Pengembangan, Analisis Skalogram Guttman, Objek Wisata Pantai. Kecamatan Bantur memiliki tujuh objek wisata pantai, yaitu Pantai Regent, Pantai Balekambang, Pantai Jembatan Panjang, Pantai Dali Putih, Pantai Kondang Merak, Pantai Banyu Meneng dan Pantai Selok. Tujuh pantai tersebut memiliki karakteristik yang berbeda meskipun berada pada satu garis pantai. Pengembangan dan pengelolaan ketujuh pantai tersebut terdapat kesenjangan. Hal tersebut terlihat dari ketersedian sarana dan prasarana yang mempengaruhi tingkat kujungan wisatawan. Berdasarkan hal tersebut perlu dibuat skala prioritas pengembangan pada objek wisata pantai di Kecamatan Bantur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan objek wisata pantai Kecamatan Bantur dan menentukan skala prioritas pengembangan objek wisata pantai di Kecamatan Bantur. Berdasarkan tujuan tersebut dapat dihasilkan dan diberikan arahan pengembangan pada setiap objek wisata pantai. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif menggunakan analisis skalogram. Analisis data dilakukan terhadap 5 faktor jenis fasilitas pendukung wisata yakni fasilitas akomodasi, fasilitas makan minum, fasilitas kondisional, fasilitas pusat oleh-oleh, aksesibilitas serta faktor jumlah pengunjung dalam setahun. Hasil analisis skalogram menjelaskan bahwa objek wisata yang menjadi prioritas utama dalam pengembangan adalah objek-objek wisata yang ketersediaan fasilitas pendukung wisatanya masih tidak lengkap, umumnya adalah aksesibilitas dan fasilitas kondisional. Prioritas I yaitu Pantai Dali Putih dan Pantai Selok, Prioritas II Pantai Jembatan Panjang, Prioritas III Pantai Banyu Meneng, Prioritas IV Pantai Regent, Pantai Kondang Merak dan Pantai Balekambang. Saran yang dapat diberikan pada penelitian ini adalah (1) Memberikan perhatian khusus terhadap objek wisata pantai yang menjadi prioritas pengembangan dari segi penyediaan fasilitas pendukung pariwisata.(2)Pengembangan dan pengelolaan objek wisata pantai dibutuhkan keikutsertaan masyarakat dalam pengembangan ketujuh objek wisata pantai di Kecamatan Bantur dalam bentuk penyediaan jasa dan fasilitas penunjang pariwisata
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK KELAS X 6 SMA BRAWIJAYA SMART SCHOOL MATA PELAJARAN GEOGRAFI MATERI HIDROSFER
ABSTRAK Pembelajaran di SMA Brawijaya Smart School Malang masih dijumpai permasalahan. Masalah yang muncul adalah rendahnya kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas X 6. Rendahnya kemampuan berpikir kritis peserta didik dibuktikan dari hasil ulangan kelas X 6 dengan jumlah peserta didik 26 orang menunjukkan 61% peserta didik yang belum tuntas dan 38% peserta didik tuntas. Peserta didik dalam kelas cenderung terbiasa menjawab soal tingkat C4 yang diajukan guru dengan jawaban setara dengan jawaban soal C1 dan C2. Berkaitan dengan hal tersebut, salah satu model pembelajaran yang sesuai adalah model inkuiri terbimbing yaitu model pembelajaran yang membantu peserta didik dalam merumuskan pertanyaan, mencari pemecahan masalah, dan mengembangkan tingkat berpikir dan keterampilan berpikir kritis.Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Setiap siklus terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah Peserta didik kelas X 6 SMA Brawijaya Smart School yang berjumlah 26 orang. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir kritis peserta didik berupa soal uraian yang terdiri dari 6 butir soal. Instrumen pelaksanaan tindakan yaitu lembar observasi dan catatan lapangan yang diisi oleh observer. Peningkatan kemampuan berpikir kritis diperoleh dari hasil nilai rata-rata setiap akhir siklus.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didik meningkat pada setiap siklusnya. Nilai rata-rata kemampuan berpikir kritis peserta didik meningkat pada tiap siklus yakni sebesar 6,38 atau 8,94% pada pra siklus ke siklus I dan peningkatan sebesar 2,16 atau 2,78% pada siklus I ke siklus II. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran inkuiri terbimbing dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas X 6 SMA Brawijaya Smart School Malang. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat dikemukakan saran sebagai berikut: 1) bagi guru Geografi, diharapkan dapat menerapkan inkuiri terbimbing sebagai alternatif model yang bisa digunakan guna memacu peserta didik untuk berpikir kritis, 2) bagi sekolah, diharapkan menjadi salah satu bahan pertimbangan untuk menghimbau guru untuk menerapkan inkuiri terbimbing dalam usaha meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik serta mutu sekolah, 3) bagi peneliti selanjutnya, dianjurkan untuk memadukan inkuiri terbimbing dengan model pembelajaran yang lain agar peserta didik lebih bersemangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dan berdampak lebih baik pada kemampuan berpikir kritis peserta didik
Pengaruh Model Group Investigation Berbasis Outdoor terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas XI IIS MAN 1 Kota Malang pada Materi Kearifan Dalam Pemanfaatan Sumber Daya Alam
ABSTRAK Afifah, Hafsah Wahyu Nur. 2017. Pengaruh Model Pembelajaran Group Investigation Berbasis Outdoor terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas XI IIS MAN 1 Kota Malang Pada Materi Kearifan dalam Pemanfaatan Sumber Daya Alam. Skripsi, Jurusan Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Yusuf Suharto, M.Pd, (II) Drs. Marhadi Slamet K, M.S, M.Si. Kata Kunci: Model Group Investigation berbasis Outdoor, Kemampuan Berpikir Kritis. Model pembelajaran Group Investigation merupakan model pembelajaran kooperatif dan menuntut siswa untuk aktif bekerja sama secara kelompok. Model ini dikombinasikan dengan metode pembelajaran outdoor. Model Group Investigation berbasis Outdoor ini membantu siswa aktif dalam bertanya, mengungkapkan gagasan untuk memecahkan suatu permasalahan serta mengumpulkan informasi sesuai fakta di lingkungan luar sekolah (outdoor) untuk mencapai kemampuan berpikir kritis siswa. Berdasarkan hal tersebut model Group Investigation berbasis Outdoor ini diharapkan mampu mengembangkan pola pikir siswa kelas XI IIS MAN 1 Kota Malang menjadi siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Group Investigation berbasis Outdoor terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI IIS MAN 1 Kota Malang. Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen semu (quasi experiment) tipe pretest-posttest control group design. Subjek penelitian ini kelas XI IIS 1 sebagai kelas eksperimen berjumlah 29 siswa dan XI IIS 2 sebagai kelas kontrol berjumlah 26 siswa. Instrumen yang digunakan adalah soal pretest dan posttest sebanyak 5 butir soal. Kelayakan instrumen dilakukan melalui uji prasyarat yang terdiri dari uji normalitas dan uji homogenitas, sedangkan analisis data yang dilakukan melalui uji hipotesis menggunakan uji t tidak berpasangan (independent sample t test). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara tingkat berpikir kritis siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hal ini dapat dilihat dari nilai signifikansi uji t < 0,05 dan perhitungan rata-rata gain score kelas eksperimen sebesar 5,13 lebih tinggi dari kelas kontrol 1,81. Jadi, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Group Investigation berbasis Outdoor berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI IIS MAN 1 Kota Malang pada mata pelajaran Geografi. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan bagi guru mata pelajaran geografi untuk menerapkan model pembelajaran Group Investigation berbasis Outdoor sebagai variasi model pembelajaran dan mengatasi kemampuan berpikir kritis siswa yang menurun, serta digunakan pada materi dengan kompetensi dasar analisis
Pengaruh Model Pembelajaran Connecting Organizing Reflecting Extending (CORE) Terhadap Kemampuan Memecahkan Masalah Mata Pelajaran Geografi Kelas X
ABSTRAK Azis, Anshori. 2017. Pengaruh Model Pembelajaran Connecting Organizing Reflecting Extending Terhadap Kemampuan Memecahkan Masalah Siswa Kelas X. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Ardyanto Tanjung, S.Pd, M.Pd, (II) Drs. Hendri Purwito, M.Si. Kata Kunci: Geografi, Model Pembelajaran Connecting Organizing Reflecting Extending, Kemampuan Memecahkan MasalahKompetensi yang ingin dikembangkan melalui pembelajaran geografi, salah satunya adalah kemampuan analisis. Kompetensi analisis tersebut tercantum dalam kompetensi dasar mata pelajaran geografi yang memakai Kurikulum 2013. Dalam taksonomi ranah kognitif yang dikembangkan oleh Bloom, analisis termasuk dalam kategori kemampuan berpikir tingkat tinggi (C4). Salah satu sub kemampuan analisis tersebut adalah kemampuan memecahkan. Sehingga apabila siswa memiliki kompetensi memecahkan, dapat menunjang ketercapaian kompetensi analisis dalam mata pelajaran geografi.Tujuan dilaksanakannya penelitian ini yaitu, mengembangkan kemampuan memecahkan siswa dalam mata pelajaran geografi. Kemampuan memecahkan tersebut dikembangkan melalui pembelajaran geografi yang memuat tentang permasalahan dalam kehidupan. Sehingga secara komprehensif menjadi kemampuan memecahkan masalah. Untuk semakin menunjang kemampuan memecahkan masalah tersebut, pembelajaran menggunakan model kooperatif Connecting, Organizing, Reflecting, Extending(CORE).Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah, nilai rata-rata hasil posttest kemampuan memecahkan masalah siswa kelas eksperimen lebih baik daripada siswa kelas kontrol. Pada kelas eksperimen nilai rata-rata siswa sebesar (58,13), sedangkan pada kelas kontrol adalah sebesar (45,03). Jadi dapat disimpulkan bahwa, model pembelajaran Connecting, Organizing, Reflecting, Extending(CORE)memeliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan kemampuan memecahkan masalah siswa kelas X SMAN 1 Wates Kabupaten Kediri.Agar hasil penelitian ini dapat bermanfaat, terdapat beberapa saran berdasarkan hasil penelitian tersebut. Saran diberikan kepada: 1) sekolah, untuk semakin memprioritaskan mutu dalam pembelajaran; (2) guru, sebagai tenaga pendidik untuk harus lebih meningkatkan kompetensi seorang pendidik; (3) peneliti selanjutnya, apabila ada peneliti yang akan melakukan penelitian sejenis diharapkan untuk mampu lebih menggali potensi dari model pembelajaran CORE dengan variabel yang sama atau berbeda. SUMMARYAzis, Anshori. 2017. The Influence of Connecting Organizing Reflecting Extending (CORE) Learning Model to the Problem Solving Ability of Geography Subject in 10Th. Thesis, Geography Department, Faculty of Social Science, Universitas Negeri Malang. Advisors: (I) Ardyanto Tanjung, S.Pd, M.Pd, (II) Drs. Hendri Purwito, M.Si. Keywords: Geography, Connecting Organizing Reflecting Extending Learning Model, Problem Solving AbilityCompetencies developed through want of learning geography, one of which is the ability of analysis. The analysis of the competencies listed in the basic competence of the subjects geography Curriculum which uses 2013. In the taxonomy of the cognitive domain developed by Bloom, the analysis includedin the category of higher-order thinking abilities (C4). One of the analysis capabilities is the ability to solve. So when students have the competence to solve, can support the ketercapaian analysis competencies in subjects geography.The purpose of this research is unsettled, to develop the ability to solve students ingeography subjects. The solving abilities developed vialearning geography that contains about problems in life. So comprehensivelyinto the ability to solve problems.To further support the ability to solve those problems, learning to use the cooperative model of Connecting, Organizing,Reflecting, Extending (CORE).The results obtained from this research is that the average value of the results of the ability to troubleshoot posttest grade experiment better than grade control. On a class of experimental average score students registration (58.13), whereas in the control class is the registration (45.03). So it can be inferred that the model of learning, Connecting, Organizing, Reflecting,Extending (CORE) may influence significantly to upgrade solves the problem of students of class X SMAN 1 Wates, Kediri District. In order for the results of this research can be useful, there are some suggestions based on the results of such research. Advice is given to: 1) school, to increasingly prioritize quality in learning; (2) teachers, as educators to have to further improve the competency of an educator; (3) Furthermore, the researcher if any researchers who will conduct similar studies are expected to be able to dig deeper potential of CORE learning model with the same or different variables
KOMPARASI MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION DAN PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR SPASIAL ( SPATIAL THINKING SKILL) MATERI GEOGRAFI KELAS XI IPS SMA LABORATORIUM UNIVERSITAS NEGERI MALANG
Yudistira, Yusuf. 2017. Komparasi Model Pembelajaran Group Investigation dan Problem Based Learning Terhadap Keterampilan Berpikir Spasial Materi Geografi Kelas XI IPS SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Budi Handoyo, M.Si. (2) ArdyantoTanjung, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: group investigation, problem based learning, keterampilan berpikir spasial Group Investigation dan Problem Based Learning merupakan suatu model pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan keterampilan berpikir spasial siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan model pembelajaran Group Investigation (GI) dan Problem Based Learning (PBL) terhadap keterampilan berpikir spasial siswa kelas XI IPS SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui mana yang lebih tinggi nilai keterampilan berpikir spasial siswa kelas XI IPS SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Rancangan penelitian ini menggunakan desain eksperimen semu yaitu pre-test dan post-test control group design dengan dua kelas eksperimen. Kelas eksperimen 1 (XI-IPS 1) mendapat perlakukan model Group Investigation (GI), dan kelas eksperimen 2 (XI-IPS 2) mendapat perlakukan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Instrumen penelitian berupa soal essai tes keterampilan berpikir spasial yang diberikan setelah adanya perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas eskperimen 1 memiliki rata-rata gain score keterampilan berpikir spasial sebesar 34,58 dan kelas eksperimen 2 sebesar 25,94. Hasil analisis signifikansi dengan menggunakan uji t menunjukkan nilai sebesar 0,015. Oleh karena nilai signifikansi 0,015< 0,05, maka H0 ditolak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan keterampilan berpikir spasial menggunakan model pembelajaran Group Investigation (GI) dan Problem Based Learning. Nilai keterampilan berpikir spasial menggunakan model Group Investigation (GI) lebih tinggi dibandingkan Problem Based Learning (PBL) terhadap keterampilan berpikir spasial kelas XI IPS SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang
Pengaruh Model Pembelajaran Doublee Loop Problem Solving (DLPS) terhadap Kemampuan Berpikir Spasial Siswa SMA
ABSTRAK The purpose of this research is to know the influence of the using Double Loop Problem Solving (DLPS) learning models to Spatial thinking ability. This research is an experimental design. Data collected in this research consisted of interviews, field observations, and written test. Experimental research involves two classes of senior high school as a research subject, namely Social Class XI 5 as experimental class and Social Class XI 4 as control class. The results of this research showed the presence of gain score in experimental class and control class. Experiment class gains core is 15.8 while control class gain score is 9.5. There is a difference gain score between both of classes. Experimental class showed higher average of gain score. It can be noted that the use of models learning DLPS in learners give significant effects againts tha spasial thinking ability
Penerapan Model Pembelajaran Time Token Arends Pada Mata Pelajaran Geografi Untuk Meningkatkan Keaktifan Siswa Kelas X-6 SMA Negeri 1 Tulungagung
ABSTRAK Indriani, Eka Novi. 2017. Penerapan Model Pembelajaran Time Token Arends Pada Mata Pelajaran Geografi Untuk Meningkatkan Keaktifan Siswa Kelas X-6 SMA Negeri 1 Tulungagung. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd, (2) Syamsul Bachri, S.Si, M.Sc., Ph.D. Kata Kunci:, ModelTime Token Arends, Keaktifan BelajarSiswaBerdasarkan observasi padatanggal 13-14Januari 2016 di SMAN 1 Tulungagung, guru belum menggunakan model pembelajaran yang tepat untuk mata pelajaran geografi sehingga kelastidakkondusifdanhanya didominasiolehsiswaaktif.Penelitimenyimpulkanbahwakeaktifanbelajarsiswa di kelasinitergolongrendah.Penelitimemberikansolusidenganmenggunakanmodel Time Token Arends.Model pembelajaranTime Token Arendsmerupakansalahsatusaranauntukmenyalurkanbakatberbicarasiswaaktif agar mempunyaibatasanpositifdanmenumbuhkan rasa toleransipadasiswa lain.Jadi, RumusanmasalahdaripenelitianiniadalahApakahpenerapan model pembelajaranTime Token ArendsdapatmeningkatkankeaktifansiswapadamatapelajarangeografikelasX-6SMA Negeri 1 Tulungagung.Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas, dengan rincian prosedur penelitian yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Penelitian ini terdiri atas dua siklus, siklus I dengan dua pertemuan dengan materi konsep hidrologi, dan perairan darat, dan siklus II dengan duapertemuan dengan materi perairan laut.Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui persentase dari peningkatan keaktifan belajar siswa pada pra tindakan, siklus I, dan siklus II, antara lain persentase keaktifan belajar siswa pada pra tindakan hanya 4,24%, kemudian meningkat 61,82% menjadi 66,06% pada siklus I, kemudian mengalami peningkatan 23,64% menjadi 89,70% pada siklus II. Peningkatan ini dilihat dari penilaian komponen-kompenen keaktifan siswa yaitu bertanya, menjawab, berpendapat, menyanggah, mencatat. Dari kelima komponen tersebut dapat diketahui peningkatan keaktifan belajar pada setiap siklus.Melalui dua siklus yag telah dilakukan, dapat diketahui bahwa model Time Token Arendsdapat meningkatkan keaktifan belajar siswa. Hal ini terlihat dari peningkatan persentase keaktifan belajar siswa. Saran yang diberikan oleh peneliti adalah dalam melaksanakan model pembelajaran Time Token Arends guru harus selalu dapat mengontrol waktu dan kondisi kelas, agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Untuk peneliti selanjutnya dapat menerapkan model Time Token Arends ini untuk mengukur aspek-aspek yang lain misalnya hasil belajar, motivasi, atau prestasi belajar siswa
Penerapan Model Pembelajaran Discovery Untuk Meningkatkan Kompetensi Keterampilan Geografi Siswa Pada Pembelajaran Geografi Kelas XI SMAN 10 Malang
ABSTRAK Norfarida, Siti. 2017. The Application of discovery learning model to increase students geography skill competency in learning geography class XI of SMAN 10 Malang. Thesis, Majoring in geography, Faculty of Social Science, State University of Malang. Preceptor (1) Dr. Budi Handoyo, M.Si, (2) Drs. Hendri Purwito, M.Si Keyword:discovery learning, geography skill The implementation of learning in the high school level is not only fixated in the strengthening of knowledge alone, but also provided with strengthening attitudes and strengthening skills of each student. Skills needed to support students to be more productive, creative, innovative in the face of problems that often happening right now. Of the many subjects in high school geography becomes one of the subject that equip student with skill. This skills often known as geography skills. A teacher should choose and use strategies, approaches, models, and techneques that engage students actively in learning, both mentally, physically and socially. In learning geography students are directed to observe, makes try and able to answer the question why and how. This principle of active learning is expected to foster the aims of student’s geography skills. This study aims to determine the improvement of the discovery learning model to the students geography skills designed using classroom ation research or abbreviated with PTK. This study is devided into two cycles consisting of planning, axecution, observation and reflexes. Selection of this action because of the problems that exist in class XI social sciences K-5 state high school 10 of Malang namely the low competence of students to geography skills. Measurement of students geography skilss using a test consisting of four essay question referring to the skilss indicator. The results of the study indicate that there is an improvement in the discovery learning model to the student geography skills competence. The result can be seen in the graph of cycle I and cycle II which shows there is an increase in the average value of students conducted during four meetings. The conclusion that can be taken from this research is that there is an improvement of discovery learning model to students geography skills class XI social sciences state high school 10 of Malang. ABSTRAKNorfarida, Siti. 2017. Penerapan Model Pembelajaran Discovery Untuk Meningkatkan Kompetensi Keterampilan Geografi Kelas XI SMAN 10 Malang. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Budi Handoyo, M.si, (II) Drs. Hendri Purwito, M.siKata Kunci: Discovery Learning, Keterampilan GeografiPelaksanaan pembelajaran yang ada di jenjang SMA tidak hanya terpaku dalam penguatan pengetahuannya semata, melainkan juga dibekali dengan penguatan sikap dan penguatan keterampilan masing-masing siswa. Keterampilan diperlukan untuk menunjang agar siswa lebih produktif, kreatif, dan inovatif dalam menghadapi permasalahan yang sering terjadi saat ini. Dari sekian banyak mata pelajaran yang ada di SMA geografi menjadi salah satu mata pelajaran yang membekali siswanya dengan keterampilan. Keterampilan inilah yang sering dikenal dengan keterampilan geografi. seorang guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi, pendekatan, model, dan teknik yang banyak melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik maupun sosial. Dalam pembelajaran geografi siswa diarahkan untuk mengamati, membuat, mencoba dan mampu menjawab pertanyaan mengapa dan bagaimana. prinsip belajar aktif inilah yang diharapkan dapat menumbuhkan sasaran keterampilan geografi siswa.penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan model pembelajaran discovery terhadap keterampilan geografi siswa yang dirancang dengan menggunakan penelitian tindakan kelas atau yang disingkat dengan PTK. Penelitian ini dibagi menjadi 2 siklus yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Pemilihan tindakan ini karena adanya permasalahan yang ada di kelas XI IPS K-5 SMAN 10 Malang yaitu rendahnya kompetensi siswa terhadap keterampilan geografi. Pengukuran keterampilan geografi siswa menggunakan tes yang terdiri dari 4 soal essai yang mengacu pada indikator keterampilan geografi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan model pembelajaran discovery terhadap kompetensi keterampilan geografi siswa. Hasil tersebut dapat dilihat pada grafik nilai siklus I dan siklus II yang menunjukkan ada peningkatan nilai rata-rata siswa yang dilakukan selama 4x pertemuan.Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah ada peningkatan model pembelajaran discovery terhadap keterampilan geografi siswa kelas XI IPS SMAN 10 Malang