SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    1629 research outputs found

    Perbandingan Model Guided Inquiry dan Guided Discovery terhadap Kemampuan Berpikir Kritis pada Peserta Didik Kelas X MAN 3 Malang.

    No full text
    ABSTRAK Kemampuan berpikir kritis sangat penting bagi kehidupan peserta didik dan sesuai dengan amanat scientific approach pada Kurikulum 2013 sehingga perlu diterapkan dalam pembelajaran di Sekolah Menengah Atas (SMA). Kemampuan berpikir kritis dapat dicapai dengan model pembelajaran yang tepat, beberapa di antaranya adalah model Guided Inquiry dan Guided Discovery. Kedua model tersebut sudah terbukti mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Berdasarkan kelebihan kedua model tersebut maka penulis meneliti perbedaan hasil Guided Inquiry dengan Guided Discovery terhadap kemampuan berpikir kritis dan mencari tahu manakah kelas yang memiliki kemampuan berpikir kritis lebih tinggi setelah diberi perlakuan Guided Inquiry dan Guided Discovery.Penelitian ini tergolong penelitian eksperimen semu dan dirancang menggunakan posttest only control group design dengan dua kelas eksperimen yang homogen. Subjek dalam penelitian ini adalah kelas X-IIS 2 (Eksperimen 1) yang mendapat perlakuan dengan model Guided Inquiry dan kelas X-IIS 1 (Eksperimen 2) yang mendapat perlakuan dengan model Guided Discovery.  Instrumen penelitian berupa soal esai tes kemampuan berpikir kritis yang diujikan setelah pemberian perlakuan model pembelajaran. Instrumen penelitian diuji coba menggunakan validitas dan reliabilitas. Teknik analisis yang digunakan adalah uji-t yang dapat diselesaikan dengan bantuan program SPSS 16,00 for Windows.Hasil analisis data diketahui bahwa rata-rata kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas eksperimen 1 adalah 80,18, sedangkan rata-rata kemampuan berpikir kritis kelas eksperimen 2 adalah 84,07. Analisis menggunakan uji-t menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,018, nilai signifikansi 0,018 > 0,025 maka Ho ditolak. Hasil analisis data menunjukkan bahwa yang pertama ada perbedaan kemampuan berpikir kritis antara kelas yang menggunakan model Guided Inquiry dan Guided Discovery, yang kedua nilai kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas X MAN 3 Malang yang menggunakan model Guided Discovery lebih tinggi dari pada yang menggunakan model Guided Inquiry. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyarankan kepada sekolah agar menerapkan model pembelajaran Guided Inquiry dan Guided Discovery, menyarankan kepada guru agar memperhatikan alokasi waktu, memperhatikan peserta didik yang acuh dan kurang pandai agar tetap berpartisipasi aktif dalam pembelajaran, serta menyarankan kepada peneliti lanjut untuk memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing model sehingga dapat memaksimalkan kelebihan dan mengantisipasi kekurangan model, mengetahui kondisi sekolah, dan memperhatikan alokasi waktu

    Penggunaan Media Video Materi Kearifan Lokal Dalam Pemanfaatan Sumber Daya Alam Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas XI IPS 1 SMA Pancasila Ambulu Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember

    No full text
    ABSTRAK   Kristiono, Sad Riyadi Agus. 2017. Penggunaan Media Video Materi Kearifan Lokal Dalam Pemanfaatan Sumber Daya Alam Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas XI IPS 1 SMA Pancasila Ambulu Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember. Skripsi. Jurusan Pendidikan Geografi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu,M.Si. (II) Syamsul Bachri, S.Si, M.Sc., Ph.D.   Kata Kunci: Media Video, Motivasi Belajar   Penelitian ini berdasarkan permasalahan dari observasi awal di kelas XI IPS 1 SMA Pancasila Ambulu pada pelajaran geografi. Observasi awal menunjukkan terdapat 57% siswa yang bermasalah dengan motivasi belajar di dalam kelas. Permasalahan motivasi belajar tersebut seperti siswa yang mengobrol dengan teman sebangku, sering keluar kelas, bermain telepon seluler,  mengerjakan tugas selain geografi, dan tertidur. Selain itu permasalahan juga disebabkan kurangnya variasi media pembelajaran yang membuat siswa merasa bosan. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran masih rendah. Penelitian ini memiliki tujuan menjelaskan penggunaan media video untuk meningkatkan motivasi belajar siswa di dalam kelas. Metode penggunaan media pembelajaran video dipilih agar konsentrasi, perhatian, antusias,dan semangat belajar siswa tidak cepat hilang. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di SMA Pancasila Ambulu yang beralamat Jl. Ronggolawe No. 5 Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember. Subjek penelitian adalah 33 siswa kelas XI IPS 1 SMA Pancasila Ambulu. Materi pelajaran pada saat penelitian yaitu kearifan lokal dalam pemanfaatan sumber daya alam. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode observasi dan angket. Hasil analisis pada siklus I ke siklus II diketahui motivasi belajar siswa kelas XI IPS 1 SMA Pancasila Ambulu meningkat setelah menggunakan media pembelajaran video. Rata-rata nilai akhir motivasi belajar siswa pada siklus II untuk tiap indikator yaitu attention sebesar 77,8, relevance sebesar 81,8, convidence sebesar 86,1, dan satisfaction sebesar 80,5. Hasil penelitian ini memperoleh hasil bahwa kategori motivasi belajar siswa sangat baik sebesar 30% dan baik 70%. Rata-rata motivasi belajar siswa secara klasikal meningkat 3,8% dari siklus I sebesar 78,2 ke siklus II sebesar 81,2. Hasil penelitian diketahui bahwa penggunaan media pembelajaran video dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas XI IPS 1 SMA Pancasila Ambulu Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember pada materi Kearifan Lokal Dalam Pemanfaatan Sumber Daya Alam. Oleh karena itu, disarankan untuk pembelajaran selanjutnya agar menggunakan media pembelajaran video dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di dalam kelas

    PENERAPAN PEMBELAJARAN NUMBERED HEAD TOGETHER DENGAN MEDIA VISUAL UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP MATA PELAJARAN GEOGRAFI MATERI KEPENDUDUKAN SISWA KELAS XI IPS DI SMA NEGERI 1 REJOTANGAN KABUPATEN TULUNGAGUNG

    No full text
    ABSTRAK Ningtyas, Evrilia Retno. 2017. Penerapan Pembelajaran Numbered Head Together (NHT) dengan Media Visual untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Mata Pelajaran Geografi Materi Kependudukan Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Rejotangan Kabupaten Tulungagung. Skripsi. Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Budi Handoyo, M.Si, (II) Drs. Marhadi Slamet Kistiyanto, M.Si. Kata Kunci: Model Pembelajaran NHT, Media Visual, Pemahaman KonsepPembelajaran Geografi di sekolah masih ditemukan berbagai kelemahan, salah satunya adalah model pembelajaran yang tidak menarik bagi siswa. Hasil observasi dan wawancara yang dilakukan pada tanggal 22 Februaridi SMA Negeri 1 Rejotangan Kabupaten Tulungagung pada kelas XI IPS diketahui bahwa kegiatan pembelajaran masih di dominasi oleh guru, sedangkan siswa hanya duduk, mendengan, mencatat, dan kurang aktif dalam kegiatan diskusi, hal ini yang menyebabkan pemahaman konsep siswa menjadi kurang atau rendah. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa dengan penerapan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT).Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Peneliti terlibat langsung dalam proses penelitian mulai dari perencanaa, pelaksanaan, hingga pelaporan data. Kegiatan pembelajaran terdiri dari 2 siklus, setiap siklus terdiri darikegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS berjumlah 37 siswa semester genap SMA Negeri 1 Rejotangan Tulungagung Tahun Pelajaran 2016/2017. Pengumpulan data pemahaman konsep belajar siswa diambil dari hasil tes padaakhir siklus I dan II. Analisis data dilakukan dengan cara diskriptif yaitu dengan cara membandingkan rata-rata hasil tes siklus I dan siklus II dengan menggunakan tabel dan grafik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) dengan media visual dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa. Hasil analisis data kemampuan memahami konsep mengalami peningkatan sebesar 13% dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I rata-rata nilai pemahaman konsep siswa sebesar 69 dengan kualifikasi cukup meningkat pada siklus II menjadi 78 dengan kualifikasi tinggi

    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN STUDENT FACILITATOR AND EXPLAINING (SFAE) UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP GEOGRAFI PESERTA DIDIK KELAS X IPS 2 DI SMA NEGERI 6 KOTA MALANG

    No full text
    ABSTRAK Munawaroh. 2017. Penerapan Model Pembelajaran Student Facilitator And Explaining (SFAE) Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Geografi  Peserta Didik Kelas X IPS 2  Di SMA Negeri 6 Kota Malang. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(1) Dr. Budi Handoyo, M.Si (2) Ardyanto Tanjung, S.Pd, M.Pd Kata Kunci: penerapan model pembelajaran student facilitator and explaining (SFAE), pemahaman konsepPermasalahan penelitian ini adalah pemahaman konsep geografi peserta didik kelas X IPS 2 di SMA Negeri 6 Kota Malang yang rendah. Hal ini terlihat pada hasil observasi awal yang dilakukan pada bulan November 2017 di kelas X IPS 2 ditandai dengan beberapa temuan, antara lain: 1) dalam kegiatan belajar mengajar, peserta didik tidak berani untuk mengungkapkan gagasan atau tanggapan, 2) peserta didik menganggap bahwa mata pelajaran geografi banyak konsep yang harus dihafal, 3) hasil ujian tengah semester peserta didik menunjukkan 77% belum memenuhi KKM yang ditentukan. Hal tersebut menyebabkan pemahaman konsep geografi peserta didik rendah.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan model pembelajaran student facilitator and explaining (SFAE) dalam meningkatkan pemahaman konsep geografi. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari pra tindakan, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, dan refleksi. Subjek penelitian yakni peserta didik kelas X IPS 2 SMA Negeri 6 Kota Malang dengan jumlah 30 peserta didik. Materi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dinamika atmosfer dan dampaknya bagi kehidupan.  Pengambilan data dengan lembar observasi, catatan lapangan, dan tes. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penurunan dan peningkatan pemahaman konsep geografi peserta didik SMA Negeri 6 Kota Malang. Penurunan dan peningkatan dapat dilihat dari rata-rata pemahaman konsep peserta didik pada  siklus I sebesar 67,14  dan siklus II menjadi 84,38. Peningkatan pemahaman konsep peserta didik dari siklus I ke siklus II yaitu sebesar 17,24. Ada peningkatan yang sangat signifikan dari siklus I ke siklus II ini dikarenakan karakteristik materi yang disajikan pada siklus I  lebih sulit daripada siklus II.  Model pembelajaran student facilitator and explaining (SFAE) ini diharapkan dapat digunakan guru mata pelajaran geografi sebagai alternatif model pembelajaran. Selain itu penggunaan media pembelajaran yang bervariasi juga sangat dianjurkan, karena akan memudahkan peserta didik dalam memahami konsep yang diajarkan

    Studi Komparasi Indeks Vegetasi Dalam Pemetaan Vegetasi Mangrove (Studi Kasus :Muara Sungai Porong Kabupaten Sidoarjo)

    No full text
    ABSTRAK Fungsi ekosistem mangrove yang sangat besar membuat kelestarian mangrove menjadi sangat penting. Masyarakat Indonesia pada umumnya telah menyadari akan pentingnya menjaga kelestarian mangrove. Akan tetapi manajemen pemanfaatan mangrove yang terjadi saat ini belum didasarkan pada pendekatan yang baik serta merujuk pada kelestarian mangrove. Hal tersebut berdampak pada rusaknya ekosistem mangrove yang ada di wilayah pesisir. Pemantauan mangrove secara langsung dilapangan sangat sulit dilakukan karena lokasi habitat mangrove yang sulit dijangkau, oleh karena itu diperlukan metode alternatif berupa penginderaan jauh guna mempermudah proses monitoring dan pengawasan mangrove.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui indeks vegetasi terbaik dalam proses pemetaan kerapatan dan sebaran jenis mangrove di Muara Sungai Porong Kabupaten Sidoarjo menggunakan Citra Landsat 8 OLI TIRS. Penelitian ini termasuk penelitian survey dengan pendekatan keruangan. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer berupa data kerapatan tegakan mangrove serta tutupan kanopi di lapangan untuk data sekunder berupa data nilai piksel indeks vegetasi yaitu metode NDVI, MSAVI 2, DVI, GNDVI, IPVI, MTVI 2, OSAVI, EVI, dan TVI. Metode untuk mengetahui indeks vegetasi terbaik pemetaan kerapatan mangrove menggunakan analisis statistik yakni uji korelasi indeks vegetasi dengan jumlah tegakan mangrove (m2) dan persentase tutupan kanopi daun. Sedangkan untuk klasifikasi jenis mangrove menggunakan uji akurasi.Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa MSAVI 2 merupakan indeks vegetasi terbaik dalam melakukan pemetaan kerapatan mangrove di Muara Sungai Porong, hal itu ditunjukkan oleh nilai korelasi sebesar 0.765 dengan persentase tutupan kanopi serta 0.869 dengan jumlah tegakan pohon mangrove di lapangan. Selain itu untuk memetakan sebaran jenis mangrove indeks vegetasi terbaik adalah TVI dengan nilai akurasi kebenaran sebesar 73.97%. Penelitian ini masih menggunakan citra satelit Landsat 8 OLI TIRS dengan resolusi 30 meter, oleh karena itu untuk mendapatkan data yang lebih baik dan detail perlu dilakukan kajian lebih mendalam menggunakan citra satelit resolusi tinggi. Selain itu potensi hutan mangrove yang tinggi dapat dikembangkan menjadi objek wisata mangrove sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat dan pemerintah

    Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning dalam Materi Hidrosfer Berbantuan Media Video Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Analitis Siswa Kelas X IPS 3 Di SMAN 1 Kandat Kediri

    No full text
    ABSTRAK Zulkha, Sulusy Audia. 2017. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning dalam Materi Hidrosfer Berbantuan Media Video Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Analitis Siswa Kelas X IPS 3 Di SMAN 1 Kandat Kediri. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dwiyono Hari Utomo, M.Pd., M.Si., (II) Ardyanto Tanjung, S.Pd., M.Pd. Kata Kunci: Model Pembelajaran Problem Based Learning, Kemampuan Berpikir Analitis   Pada kelas X IPS 3 SMAN 1 Kandat Kediri terdapat beberapa permasalahan. Permasalahan tersebut yaitu siswa menjawab pertanyaan tingkat C4 yang diajukan dengan jawaban tingkatan C2. Siswa mengalami kesulitan menganalisis dampak efek rumah kaca pada lapisan atmosfer. Rata-rata siswa menjawab berdampak pada lapisan ozon.Pada nilai ulangan harian siswa hanya 15 siswa yang tuntas dari 37 siswa. Interaksi yang terjadi pada saat pembelajaran hanya satu arah yaitu guru dengan siswa. Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan berpikir analitissiswa adalah dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning. Model Problem Based Learningmerupakan model pembelajaran yang menggunakan masalah nyata di lingkungan sekitar sebagai pokok bahasan pembelajarannya. Kegiatan pembelajaran dilakukan oleh siswa sehingga akan mendorong perkembangan kemampuan berpikir analitis siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir analitis siswa dengan menerapkan pembelajaran Problem Based Learning. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X IPS 3 yang berjumlah 37 siswa. Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus, setiap siklus terdiri dari dua pertemuan.Pengumpulan data kemampuan berpikir analitis siswa menggunakan soal tes. Pelaksanaan tes dilakukan setiap akhir siklus. Tes yang digunakan menggunakan 4 soal esai.Penyusunan soal tes menggunakan indikator kemampuan berpikir analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir analitis siswa meningkat pada setiap siklusnya. Sebelum penelitian dilakukan, rata-rata nilai kemampuan berpikir analitis siswa sebesar 69,81. Setelah dilakukan siklus I, rata-rata nilai kemampuan berpikir analitis siswa meningkat menjadi 70,78. Pada siklus II rata-rata kemampuan berpikir analitis siswa meningkat menjadi 85,02. Secara keseluruhan kemampuan berpikir analitis siswa kelas X IPS 3 SMAN 1 Kandat meningkat sebesar 20,11%. Dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learningdapat meningkatkan kemampuan berpikir analitis siswa kelas X IPS 3 SMAN 1 Kandat Kediri

    Analisis Metode Fuzzy-Analytical Hierarchy Process (FAHP) Untuk Pemetaan Kerawanan Tanah Longsor Di Kawasan Gunung Api Kelud, Jawa Timur

    No full text
    ABSTRAK   Nurdiansyah, Farizki Dwitri. 2017. Analisis Metode Fuzzy-Analytical Hierarchy Process (FAHP) Untuk Pemetaan Kerawanan Tanah Longsor Di Kawasan Gunung Api Kelud, Jawa Timur, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Syamsul Bachri, S.Si., M.Sc., Ph.D. (II) Dr. Dwiyono Hari Utomo, M.Pd., M.Si.   Kata Kunci : pemetaan tanah longsor, metode FAHP, validasi.   Erupsi Gunung Api Kelud pada tahun 2014 menghasilkan material vulkanik sebesar > 200 m3 x 106. Besarnya material yang dihasilkan menjadi sumber terhadap bahaya lain, khususnya tanah longsor. Suplai material erupsi menyebabkan kawasan Gunung Api Kelud rawan terhadap bahaya tanah longsor. Pembuatan informasi kerawanan tanah longsor di kawasan Gunung Api Kelud menjadi sangat penting untuk dilakukan. Pemanfaatan kombinasi Fuzzy dan Analytical Hierarchy Process (FAHP), serta integrasi teknologi Sistem Informasi Geografis dan Penginderaan Jauh diaplikasikan dalam penelitian ini. Integrasi teknologi SIG, penginderaan jauh, dan observasi lapangan dilakukan untuk memperoleh informasi dan fakta yang menguatkan hasil dari penelitian. Dalam penilaian multikriteria yang digunakan, terdapat 4 keriteria penyebab tanah longsor yang digunakan meliputi topografi, hidrologi, tanah, dan lingkungan. Setiap kriteria kemudian diturunkan menjadi beberapa sub-kriteria yaitu, slope, elevasi, TPI, SPI, TWI, curah hujan, tekstur tanah, indeks COLE dan penggunaan lahan. Beberapa tahapan dilakukan dalam penelitian ini yang meliputi, (1) kegiatan pra-lapangan, (2) pengambilan sampel tanah dan observasi tanah longsor, (3) uji laboratorium, (4) inventariasasi kejadian tanah longsor, (5) wawancara preferensi ahli, (6) penerapan metode FAHP, (7) penyimpanan dan pengolahan data melalui aplikasi SIG, dan (8) visualisasi dan validasi pemetaan kerawanan tanah longsor. Melalui inventarisasi dapat dikumpulkan 646 titik kejadian longsor. Tingkat kerawanan terhadap tanah longsor diklasifikasikan ke dalam beberapa kelas. Masing-masing kelas kerawanan memiliki besaran luas area yang berbeda, kelas kerawanan sangat tinggi sebesar 67, 65 Km2 (24,977%), kelas kerawanan tinggi memiliki luas area sebesar 75,719 Km2 (27,957%), kelas kerawanan moderate memiliki luas area sebesar 74,976 Km2 (27,660%), kelas kerawanan rendah memiliki luas area sebesar 41,407 Km2 (15,288%) dan kelas kerawanan sangat rendah memiliki luas area sebesar 11,148 Km2 (4,116%). Mengacu pada hasil penelitian, curah hujan menjadi pemicu utama terjadinya tanah longsor, yang berkorelasi dengan faktor-faktor lainnya. Aplikasi metode FAHP menjadi invoasi dalam pemetaan kerawanan tanah longsor dengan kompleksitas, hasil, dan proses yang sistematik, sehingga menunjukkan tingkat validasi dan realibilitas yang tinggi

    pengaruh model pembelajaran inquiry terbimbing terhadap keterampilan geografi siswa kelas X IPS SMA Negeri taruna nala jawa timur

    No full text
    ABSTRAK   Wijiantoro. 2017. Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Terbimbing Terhadap Keterampilan Geografi Siswa Kelas X IPS SMA Negeri Taruna Nala Jawa Timur. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Ardyanto Tanjung, S.Pd, M.Pd, (II) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si.   Kata Kunci:Inquiry Terbimbing, Keterampilan Geografi Penggunaan bermacam-macam model pembelajaran dapat meningkatkan kualitas berpikir dan keterampilan para siswa. Untuk dapat mencapai kualitas berpikir dan keterampilan para siswa,guru perlu merencanakan suatu model pembelajaran yang didalamnya melibatkan keaktifan siswa. Model pembelajaran yang dapat melibatkan keaktifan siswa salah satunya yaitu model pembelajaran inquiryterbimbing. Model pembelajaran inquiryterbimbing merupakan kegiatan belajar yang melibatkan seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki suatu permasalahan secara sistematis, logis, dan analitis. Penggunaan model pembelajaraninquiry terbimbing disesuaikan dengan materi geografi yang merupakan mata pelajaran yang membutuhkan keterampilan siswa karena materi-materinya mengandung konsep, pendekatan, prinsip, aspek maupun manfaat yang sifatnya konkret dan abstrak. Oleh karena itu, diperlukan inovasi-inovasi dalam melaksanakan pembelajaran aktif dan efektif. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran inquiry terbimbing terhadap keterampilan geografi siswa. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen semu (quasi experiment) yang menggunakan desain pretest-posttest. Penelitian ini menggunakan dua kelas yaitu kelas X IPS 6N2 sebagai kelas eksperimen dan kelas X IPS 6O2 sebagai kelas kontrol. Pengukuran keterampilan geografi siswa menggunakan 5 soal esai yang dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Analisis data meliputi uji normalitas, homogenitas dan uji hipotesis menggunakan perhitungan uji t atauIndependent Sample T-test. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan bahwa ada pengaruh model pembelajaraninquiry terbimbingterhadap keterampilan geografi siswa.Hasil tersebut dapat dilihat pada hasil uji hipotesis yang menunjukkan nilai rata-ratagain score siswa kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol. Perbedaan tersebut disebabkan oleh perbedaan perlakuan pada proses pembelajarannya.Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh model pembelajaraninquiry terbimbing terhadap keterampilan geografi siswa kelas X IPS SMA Negeri Taruna Nala Jawa Timur. ABSTRACT   Wijiantoro. 2017. The Effect of Guided Inquiry Learning Model on Geography Skills of Social Science Class X SMA Negeri Taruna Nala Jawa Timur. Thesis. Geography Department, Faculty Of Sosial Science, State University Of Malang. Supervisor: (I) Ardyanto Tanjung, S.Pd, M.Pd, (II) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si.   Keyword: Guided Inquiry, Geography Skills The using of many kinds learning models can improve the students thinking and skills quality. To be able to achieve the students thinking and skills quality, teachers need to plan a learning models that is involves the students activity. Once of learning models that can involve the student activity is guided inquiry. Guided inquiry learning models is the learning activities that involve the entire students ' ability to find and investigate a problem in a systematic, logical, and analytical. The useing of inquiry learning modelsis adapted to the geography material that require  students skills because the content contains concepts, approaches, principles, aspects as well as the benefits to its concrete and abstract. Therefore, required innovations in carrying out active and effective learning. This research was conducted with the aim to find out the influence of guided inquiry learning models to students skills geography. The type of this research was quasi experiment that use a pretest-posttest design. This study uses two classes that is Social Sciene 6N2 Class as a experiment class and Social Sciene 6O2 Class as a control class. Students geography skills measurement using 5 number of essay test that done with validity and reliability test. Data analysis includes testing normality, its homogeneity and hypotheses using a t-test or Independent Sample T-test. Based on the results of the data analysis obtained the conclusion that there is an influence from guided inquiry learning models to students geography skills.  The results can be seen on the hypothesis test result, that showed the average value of experimental class students gain score higher than the control class. The difference is caused by the difference of treatment on the learning activity. The conclusion that can be drawn from this research is there is the influence of guided inquiry learning models to students geography skills at Social Science Class X SMA Negeri Taruna Nala Jawa Timu

    IDENTIFIKASI PERMASALAHAN KEGIATAN PEMBELAJARAN YANG DIHADAPI GURU GEOGRAFI DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 PADA SMA DI KOTA MALANG

    No full text
    Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu guru geografi pada bulan September 2015, diperoleh hasil bahwa guru hanya mampu menjelaskan Kurikulum 2013 secara umum, namun dalam implementasinya masih mengalami kesulitan. Kegiatan pembelajaran yang berlangsung, belum mampu menerapkan sesuai dengan kurikulum 2013. Penerapan pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran juga masih belum mampu menerapkan dengan baik. Proses pembelajaran belum terlaksana dengan utuh dan sistematis sesuai dengan ketentuan yang menuntut peserta didik aktif saat proses pembelajaran. Selain itu, guru juga belum mengerti tentang penambahan materi baru. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui permasalahan pembelajaran yang dihadapi oleh guru geografi di kota Malang dalam implementasi kurikulum 2013.Metode penelitian ini adalah deskriptif. Subyek penelitian ini adalah semua guru geografi SMA di kota Malang. Pengumpulan data berupa kuesioner semi terbuka dan merupakan kuesioner untuk mengumpulkan data primer yang dapat digunakan untuk mengetahui permasalahan guru geografi dalam mengimplementasikan kurikulum 2013. Analisis data menggunakan teknik persentase.Berdasarkan variabel yang ada dapat dijabarkan dengan tiga sub variabel yaitu 1) perencanaan pembelajaran berdasarkan  kurikulum 2013 terdiri dari mengembangkan KD, mengembangkan indikator, mengembangkan materi, model pembelajaran, media pembelajaran, evaluasi, penyusunan RPP sesuai format, 2) pelaksanaan pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013 terdiri dari kegiatan pembukaan, kegiatan inti, penerapan pendekatan saintifik, kegiatan penutup, 3) Evaluasi pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013 terdiri dari langkah-langkah penilaian dan teknik penilaian.Berdasarkan hasil analisis, diperoleh hasil sebagai berikut: implementasi kurikulum 2013 yang meliputi perencanaan, pelaksanaan , dan evaluasi sudah cukup optimal dilaksanakan oleh guru geografi SMA di Kota Malang, tetapi dalam setiap aspek implementasi kurikulum 2013 mengalami permasalahan. Pada perencanaan pembelajaran sebagian besar guru geografi di Kota Malang masih mengalami permasalahan dalam hal menentukan kata kerja operasional dalam mengembangkan indikator. Permasalahan yang di hadapi oleh sebagian besar guru geografi dalam pelaksanaan pembelajaran adalah  menerapkan pendekatan saintifik  pada kegiatan menanya dan mengkomunikasikan. Permasalahan yang dihadapi oleh sebagian besar guru geografi pada kegiatan evaluasi pembelajaran adalah melakukan penilaian pada aspek sikap dan mebuat indikator penilaiannya. Saran yang diberikan peneliti untuk menghadapi permasalahan guru geografi di SMA Kota Malang dalam implementasi Kurikulum 2013 adalah sebagai berikutguru geografi sebaiknya selalu menghadiri kegiatan sosialaisasi atau workshop terkait pengembangan Kurikulum 2013 dan juga menghadiri  MGMP untuk mendiskusikan bersama permasalahan pembelajaran kurikulum 2013 yang dihadapi oleh setiap guru dan mencari solusi untuk memecahkan permasalahan tersebut

    Pengaruh Model Pembelajaran Group Investigation Terhadap Kemampuan Berfikir Spasial Siswa SMA

    No full text
    ABSTRAK Pranata, Jefri Firman. 2016. Pengaruh Model Pembelajaran Investigasi Kelompok (Group Investigation) Terhadap Kemampuan Berpikir Spasial Siswa Di SMA Negeri 1 Kepanjen, Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Budi Handoyo, M.Si, (II)  Drs. Marhadi Slamet Kristiyanto, M.Si. Kata Kunci: Model Pembelajaran Group Investigastion, Kemampuan Berpikir Spasial Pembelajaran geografi dewasa ini menekankan pada kemampuan berpikir tingkat rendah. Berpikir tingkat rendah menekankan pada pengetahuan siswa seperti hapalan. Pembelajaran ini tidak melatih kemampuan berpikir keruangan siswa. Sesuai dengan karakteristik geografi yang mengedepankan berpikir keruangan, maka dibutuhkan kemampuan berpikir spasial untuk mengkaji sebuah permasalahan dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model investigasi kelompok terhadap kemampuan berpikir spasial siswa di SMA Negeri 1 Kepanjen. Jenis penelitian ini quasi eksperimen dengan rancangan posttest control group design. Subyek penelitian adalah kelas XI IIS 3 sebagai kelas eksperimen dan kelas XII IIS 4 sebagai kelas kontrol. Data penelitian ini adalah skor nilai kemampuan berpikir spasial. Instrumen penelitian menggunakan 3 soal essai yang telah diuji sebelumnya menggunakan validitas dan reliabilitas. Analisis data yang digunakan adalah Independent sample t-Test dengan bantuan SPSS 16.0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai sig (2-tailed) adalah 0.00 < 0.05 dan rata-rata nilai kelas eksperimen 82,36 lebih besar dari nilai rata-rata kelas kontrol 76,69. Maka H0 ditolak atau dengan kata lain model pembelajaran Group Investigation berpengaruh terhadap kemampuan berpikir spasial siswa kelas XI SMAN 1 Kepanjen. Berdasarkan temuan penelitian saran yang diajukan, model investigasi kelompok dapat mengasah kemampuan berpikir spasial siswa. Disarankan guru untuk menggunakan model investigasi kelompok. Penggunaan model investigasi kelompok sebaiknya digunakan pada kompetensi dasar yang memerlukan kemampuan berpikir tingkat tinggi.  

    0

    full texts

    1,629

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇