SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    1629 research outputs found

    Usahatani dan Tingkat Ekonomi Petani Kakao di Desa Suruh Kecamatan Suruh Kabupaten Trenggalek

    No full text
    Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik petani kakao, mendeskripsikan pengelolaan usahatani kakao dan mendeskripsikan tingkat ekonomi petani kakao. Adapun faktor-faktor tersebut adalah modal, tenaga kerja, aksesbilitas, pemasaran, fasilitas kredit dan pendapatan. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan metode survei. Subjek dalam penelitian ini yakni petani kakao Desa Suruh. Hasil penelitian menunjukan 46% dari total 50 responden hanya memproduksi kurang dari 500 kg kakao kering/tahun. Pendapatan bersih rata-rata yang diperoleh petani sebesar Rp.12.441.600,00 per tahun. Hal ini disebabkan karena hama penyakit yang menyerang tanaman kakao. Tingkat pendapatan petani kakao di Desa Suruh sebagian besar petani yaitu 80% dalam kategori rendah, 12% petani kakao masuk dalam ketegori sedang serta 6% petani kakao masuk dalam ketegori tinggi. Hanya 2% responden yang masuk kategori tingkat pendapatan sangat tinggi. Kata Kunci: Usahatani, tingkat ekonomi, petani kakao

    Preferensi Konsumen pada Produk “Fath Bordir” Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan

    No full text
    ABSTRAK Andrianis,Yovita. 2016. Preferensi Konsumen pada Produk “Fath Bordir” Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing:(I) Anik Dwiastuti, S.T, M.T (II) Dra. Hapsari Kusumawardani, M.Pd.  Kata Kunci: Preferensi konsumen,Produk Fath Bordir, Industri kecil menengah di kecamatan Bangil. Produk bordir di daerah Bangil merupakan hasil karya masyarakat yang menjadi icon di Kabupaten Pasuruan, merupakan usaha turun temurun yang harus dilestarikan. Mengingat kerajinan bordir yang harus dilestarikan perlu juga memperhatikan poin-poin yang berkaitan dengan preferensi konsumen. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan memaparkan preferensi konsumen pada produk Fath Bordir Bangil meliputi (produk kerudung, mukena, baju koko, lenan rumah tangga). Membentuk preferensi konsumen terhadap produk meliputi (variasi, desain, ukuran, jenis bahan, warna dan motif). Penelitian ini bermanfaat untuk menambah sumber belajar atau informasi mengenai preferensi konsumen bagi Jurusan Teknologi Program Studi Tata Busana Industri, bagi Mahasiswa, bagi Peneliti dan bagi Pengusaha dan Produsen Bordir khususnya di wilayah Bangil Kabupaten Pasuruan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa tinggi minat konsumen pada produk Fath Bordir. Jenis penelitian ini yaitu penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen di Fath Bordir sejumlah 70 konsumen. Teknik analisis data menggunakan accidental sampling. Uji validitasmenggunakan metode SPSS For Windoes 16.0untuk dapat mengukur hasil preferensi konsumen pada produk Fath Bordir di daerah Bangil. Hasil penelitian diketahui bahwa preferensi konsumen produk Fath Bordir berada pada kategori peminat produk bordir pada mukena yang paling tinggi. Hasil penelitian ini dapat dismpulkan bahwa (1) banyaknya konsumen Fath Bordir menyukai produk dengan bahan cotton, (2) tersedianya pilihan warna, (3) desain yang ditampilkan, (4) bordiran yang rapi, (5) motif yang dipilih yaitu motif alam. Saran yang dapat disampaikan adalah (1)bagi Fath Bordir agar memenuhi kecenderungan pilihan konsumen harus selalu berinovasi terhadap motif dan desain untuk mengembangkan usahanya dan selalu menjadi pilihan konsumen, (2) bagi para peneliti selanjutnya sebagai pengumpulan data tambahan untuk observasi dan wawancara dengan topik yang sama sehingga data ini menjadi lebih lengkap.

    Identifikasi Potensi Pantai Perpat Dan Sembulungan di Kawasan Taman Nasional Alas Purwo Untuk Pengembangan Ekowisata Kabupaten Banyuwangi

    No full text
    Kata Kunci: Potensi Wisata, Pantai, Pengembangan WisataKabupaten Banyuwangi merupakan salah satu kabupaten yang memiliki kekayaan potensi sumberdaya wisata. Salah satu potensi sumberdaya wisata tersebut adalah kawasan pantai. Taman Nasional Alas Purwo merupakan salah satu kawasan konservasi di Banyuwangi yang memliki potensi sumberdaya wisata. Pengelolaan taman nasional terbagi atas sistem zonasi, salah satunya adalah zona pemanfaatan. Zona pemanfaatan merupakan zona yang ditetapkan untuk pengembangan pariwisata alam dan rekreasi. Pantai Perpat dan Sembulungan merupakan pantai yang berada di zona pemanfaatan kawasan TNAP dan berpotensi untuk dikembangkan menjadi daya tarik ekowisata.Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui potensi fisik objek wisata pantai di kawasan TNAP untuk pengembangan ekowisata Kabupaten Banyuwangi. (2)  mengetahui potensi sosial masyarakat sekitar kawasan TNAP sebagai unsur pendukung pengembangan ekowisata Kabupaten Banyuwangi.Data primer pada penelitian ini diperoleh dari hasil pengamatan di lapangan dengan cara survei, observasi, dokumentasi serta wawacara tidak terstruktur. Data sekunder diperoleh dari literatur terkait dengan teknik dokumentasi. Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis deskriptif berdasarkan parameter penelitian dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi pantai di kawasan TNAP memiliki parameter kesesuaian lahan wisata yang mendukung pengembangan pariwisata. Parameter tesebut adalah kecepatan angin, topografi, lebar pantai, penutupan lahan, tipe pantai, material dasar permukaan, biota berbahaya, dan ketersediaan air tawar. Hasil analisis kesesuaian wisata pantai menunjukkan bahwa Pantai Sembulungan dalam kategori sangat sesuai dengan nilai kelayakan sangat baik. Pantai Perpat termasuk dalam kategori sesuai dengan nilai kelayakan baik. Berdasarkan analisis SWOT Pantai Sembulungan berada pada kuadran II dan Pantai Perpat berada pada kuadran I. Strategi yang dapat digunakan adalah strategi SO yaitu dengan menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang

    Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Meingkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Pada Mata Pelajaran Geografi Peserta Didik Kelas X-D SMA Negeri 9 Malang

    No full text
    ABSTRAK Nursamsuri, A. Marzuqi. 2017. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi pada Mata Pelajaran Geografi Peserta Didik Kelas X-D SMA Negeri 9 Malang. Skripsi. Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Yusuf Suharto, M.Pd. (II) Drs. Sudarno Herlambang, M.Si. Kata Kunci: Problem Based Learning, Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi, Mata Pelajaran Geografi. Kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik kelas X-D SMA Negeri 9 Malang cenderung rendah. Rendahnya kemampuan berpikir peserta didik diketahui dari hasil wawancara  dengan guru mata pelajaran geografi yang mengatakan bahwa peserta didik mengalami kesulitan untuk menjawab soal-soal pada tingkatan ranah kognitif C4 sampai C6. Pengamatan yang dilakukan di kelas saat pembelajaran berlangsung menunjukkan kurangnya aktifitas peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya.  Pembelajaran yang dilakukan nampak terpusat pada guru sehingga peserta didik cenderung pasif dalam proses pembelajaran. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, refleksi. Subjek penelitian yaitu kelas X-D SMA Negeri 9 Malang  dengan jumlah peserta didik 34 orang. Data dalam penelitian ini adalah data kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik yang diperoleh melalui instrumen penelitian berupa soal tes di setiap akhir siklus. Diketahui dari hasil penelitian bahwa terdapat peningkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik pada kelas X-D. Dari data pra-tindakan nilai rata-rata peserta didik yaitu 58,54. Setelah tindakan siklus I nilai rata-rata kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik menjadi 62,31 yang berarti terdapat peningkatan sebesar 6,44% dari data pra-tindakan. Sebelum dilaksanakan tindakan siklus II terlebih dahulu dilakukan refleksi untuk mengetahui kelemahan dan kekurangan siklus I yang selanjutnya diterapkan langkah-langkah perbaikan pada pelaksanaan siklus II. Hasil siklus II menunjukkan adanya peningkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik secara signifikan dengan nilai rata-rata mencapai 93,29 yang berarti terdapat peningkatan sebesar 49,72% dari data siklus I. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik kelas X-D SMA Negeri 9 Malang. Model pembelajaran Problem Based Learning dinilai sangat efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik. Dari penelitian ini terdapat saran untuk peneliti selanjutnya. Saran-saran tersebut antara lain adalah penataan tempat duduk kelompok tidak bisa diubah oleh peserta didik, setiap individu harus memiliki catatan hasil diskusi, sebelum presentasi semua lembar jawaban LKPD dikumpulkan agar semua peserta didik fokus mengikuti presentasi, dan guru harus memberikan motivasi untuk peserta diri percaya diri mengemukakan pendapat

    Analisis Kebutuhan Perumahan Berdasarkan Proyeksi Penduduk di Kota Kediri Tahun 2015 – 2040

    No full text
    ABSTRAK   Jumlah penduduk di Kota Kediri pada tahun 2010 sejumlah 266.382 jiwa dan meningkat pada tahun 2015 menjadi 312.999 jiwa. Pertumbuhan penduduk memberikan dampak terhadap kebutuhan rumah yang semakin meningkat. Kebutuhan rumah tersebut memerlukan luas lahan yang digunakan untuk tempat pembangunan sehingga akan mengurangi lahan pertanian. Pembangunan kawasan yang akan direncanakan untuk perumahan tentunya membutuhkan suatu lahan, oleh karena itu diperlukan analisis untuk mengetahui jumlah kebutuhan rumah yang akan datang. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui jumlah penduduk Kota Kediri tahun 2015-2040 berdasarkan proyeksi asumsi tetap, turun 25% dan turun 50%; (2) mengetahui jumlah kebutuhan perumahan Kota Kediri tahun 2015-2040 berdasarkan proyeksi asumsi tetap, turun 25% dan turun 50%; (3) mengetahui jumlah luas kebutuhan perumahan Kota Kediri tahun 2015-2040 berdasarkan proyeksi asumsi tetap, turun 25% dan turun 50%; dan (4) mengetahui pola persebaran permukiman yang ada di Kota Kediri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Jumlah penduduk Kota Kediri tahun 2015-2040 berdasarkan proyeksi asumsi tetap, turun 25% dan turun 50% akan dihitung menggunakan penerapan aplikasi Spectrum 4. Jumlah kebutuhan perumahan Kota Kediri tahun 2015-2040 dihitung berdasarkan asumsi setiap 1 rumah akan ditempati 1 kepala keluarga yang dihuni 4 jiwa. Jumlah luas kebutuhan perumahan Kota Kediri tahun 2015-2040 dihitung berdasarkan luas secara efektif yang membutuhkan ruang 9 m2 setiap jiwa dari luas total rumah. Pola persebaran permukiman yang ada di Kota Kediri dihitung menggunakan analisis tetangga terdekat. Hasil penelitian menunjukan bahwa jumlah penduduk di Kota Kediri tahun 2015-2040 berdasarkan proyeksi asumsi tetap sejumlah 568.745 jiwa, asumsi turun 25% sejumlah 539.278 jiwa dan asumsi turun 50% sejumlah 510.496 jiwa. Jumlah kebutuhan perumahan tahun 2015-2040 berdasarkan proyeksi asumsi tetap berjumlah 142.186 rumah, asumsi turun 25% berjumlah 134.820 rumah dan asumsi turun 50% berjumlah 127.624. Luas kebutuhan perumahan tahun 2015- 2040 berdasarkan proyeksi asumsi tetap 511,57 ha, asumsi turun 25% seluas 485,35 ha dan asumsi turun 50% seluas 459,45 ha. Pola permukiman di Kota Kediri berdasarkan analisis tetangga terdekat memiliki persebaran random dengan pola rumah mengikuti jalan. Kesimpulan dari hasil penelitian kebutuhan perumahan mengalami peningkatan sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan kebutuhan akan luas lahan yang dibutuhkan. Perencanaan diperlukan untuk penempatan lahan perumahan, agar penempatan lahan sesuai dengan perencanaan tata ruang wilayah Kota Kediri

    pengaruh model pembelajaran problem based learning (pbl) terhadap kemampuan berpikir analitis siswa kelas xi ips di sma negeri 1 pilangkenceng kabupaten madiun.

    No full text
    ABSTRAK Pemilihan Model Problem Based Learning atau pembelajaran berbasis masalah sebagai fokus pada kajian eksperimen didasarkan pada satu alasan, yaitumodel pembelajaran ini dapat mengembangkan kemampuan untuk berpikir analitis. Salah satu cara untuk mengembangkan kemampuan berpikir analitis siswa yaitu dengan menggunakan model pembelajaran. Model  pembelajaran yang cocok untuk mengembangkan kemampuan berpikir analitis adalah model Problem Based Learning.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model Problem Based Learning terhadap kemampuan berpikir analitis. Penelitian ini termasuk dalam quasi eksperimen atau eksperimen semu, yang termasuk dalam penelitian kuantitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah kelas XI IPS 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IPS 2 sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen diberi perlakuan dengan pembelajaran Problem Based Learning, sementara kelas kontrol tidak diberi perlakuan atau pembelajaran ceramah dan tugas rumah.Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Pilangkenceng.Instrumen yang akan digunakan adalah soal berupa essay atau uraian. Tes tersebut akan digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir analitis siswa sesuai dengan indikator penerapannya. Penelitian ini menggunakan rancangan posttest-only control design. Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif sehingga analisis data yang digunakan untuk mengolah data menggunakan metode statistik yakni analisis statistik deskriktif dan analisis statistik infrensial parametric.  Analisis data pada dalam penelitian ini menggunakan Uji Statistik dengan bantuan SPSS for windows. Hasil penelitian ini menunjukkanbahwa ada pengaruh model pembelajaranProblem Based Learningterhadapkemampuanberpikiranalitissiswa kelas XI IPS di SMA Negeri 1 Pilangkenceng. Berdasarkan hasil analitis menggunakan independent t-test diperoleh nilai 0,319 ata

    Analisis Spasial Nilai Indeks Kekeringan Menggunakan Metode Standardized Precipitation Index (SPI) di Daerah Aliran Sungai (DAS) Welang Kabupaten Pasuruan

    No full text
    ABSTRAK Kekeringan merupakan salah satu dari beberapa banyak bencana alam yang sering terjadi di Indonesia yang mana mampu menyebabkan dampak yang sangat besar.Penyebab awal dari terjadinya bencana kekeringan yaitu perubahan iklim yang tidak beraturan yang dapat mempengaruhi lamanya waktu musim hujan dan musim kemarau tidak lagi seimbang. Hal ini menyebabkan menyebabkan curah hujan di suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) tidak menentu. Pada tahun 2004 terjadinya penyusutan saluran irigasi di Kecamatan Kejayan dari 5 Desa diantaranya adalah Desa Kedung Pengaron, Kepuh, Lorokan, Tanggulangin, dan Randu Gong. Selain itu, Kecamatan Tutur juga merasakan dampak dari kejadian tersebut yang mana pada tahun 2014 hingga 2015, debit air di kali welang semakin berkurangkarena dimanfaatkan oleh desa-desa lain. Sehingga BNPB menyatakan penanganan bencana kekeringan darurat di daerah Kabupaten Pasuruan (BNPB, 2013). Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui potensi kekeringan yang terjadi di DAS Welang serta penyebab perbedaan potensi kekeringan di daerah hulu, tengah maupun hilir.Jenis penelitian ini yaitu penelitian survei. Objek dalam penelitian ini yaitu indeks kekeringan di Daerah Aliran Sungai Welang dengan penggunaan sampel penelitian sebanyak 16 pos hujan dan data curah hujan selam 27 tahun (1990 – 2016). Analisis spasial yang digunakan yaitu metode Inverse Distance Weighted (IDW) dan teknik Overlay untuk mengetahui potensi kekeringan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Welang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi kekeringan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Welang memiliki tingkat kekeringan dengan rata-rata Kering hingga Normal yaitu pada pada daerah Hulu dan Tengah DAS Welang memiliki potensi kekeringan Normal. Sedangkan pada daerah Hilir DAS Welang memiliki potensi kekeringan Agak Kering hingga Kering. Penyebab adanya perbedaan nilai indeks kekeringan yaitu dikarenakan kondisi iklim yang memiliki Trend yang mana curah hujan di setiap tahunnya selalu berubah-ubah.Jadi perbedaan nilai indeks kekeringan didasari oleh perbedaan nilai curah hujan.

    Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry terhadap Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa SMA Negeri 1 Batu Pada Materi Mitigasi dan Adaptasi Bencana Alam

    No full text
      ABSTRAK   Harfianto, Sandy. 2017. Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry terhadap Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa SMA Negeri 1 Batu pada Materi Mitigasi dan Adaptasi Bencana Alam. Skripsi, Jurusan Geografi, S1 Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Budi Handoyo, M.Si, (II) Purwanto, S.Pd, M.Si.   Kata Kunci: inquiry, berpikir tingkat tinggi, mitigasi dan adaptasi bencana alam               Kemampuan berpikir siswa dapat terbentuk melalui kebiasaan belajar mereka. Kemampuan berpikir juga dapat didapat melalui proses pembelajaran di sekolah. Salah satu kemampuan berpikir yang dapat terbentuk melalui pembelajaran di sekolah adalah kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dapat terbentuk dengan bantuan berupa penerapan model pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat mempengaruhi kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa adalah model pembelajaran inquiry. Kelebihan model pembelajaran inquiry mampu mengembangkan keseimbangan aspek kognitif dan psikomotorik. Model pembelajaran inquiry juga dapat membuat siswa belajar sesuai dengan gaya belajar mereka sendiri.             Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran inquiry terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (quasy exsperiment) dengan desain Pretest-posttest Control Group Design. Penelitian menggunakan dua kelas yaitu kelas X IPS 3 sebagai kelas kontrol dan  kelas X IPS 4 sebagai kelas eksperimen. Kemampuan berpikir tingkat tinggi diukur menggunakan soal esai yang telah dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas. Analisis data yang dilakukan meliputi uji normalitas dengan menggunakan rumus Kolmogorov Smirnov, uji homogenitas menggunakan uji levene’s test for equality of variences dan uji hipotesis menggunakan uji Mann-Whitney.             Berdasarkan analisis data diperoleh hasil bahwa model pembelajaran inquiry berpengaruh negatif terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil uji hipotesis yang menunjukkan nilai rata-rata kemampuan berpikir tingkat tinggi lebih tinggi, namun nilai rata-rata gain score kelas eksperimen lebih rendah dibandingkan kelas kontrol. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada pengaruh pembelajaran inquiry terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa SMA Negeri 1 Batu pada materi mitigasi dan adaptasi bencana alam.               Sebaiknya dalam melakukan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran inquiry lebih mempertimbangkan waktu pelaksanaan, materi dan karakteristik siswa dalam satu kelas. Keberhasilan pembeajaran inquiry sangat berpengaruh terhadap ketiga aspek teersebut. Pembelajaran inquiry membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan tahapan-tahapan inquiry agar pembelajaran tersebut dapat berjalan secara maksimal dan sesuai dengan yang diharapkan.

    EVALUASI KAPASITAS SALURAN DRAINASE UNTUK PENANGANAN BANJIR KOTA KEDIRI

    No full text
    ABSTRAK   Nadhiroh, Fatma Roisatin. 2017. Evaluasi Kapasitas Saluran Drainase untuk Penanganan Banjir Kota Kediri. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Didik Taryana, M.Si, (II) Syamsul Bachri, S.Si., M.Sc., Ph.D.   Kata Kunci: Banjir, Sistem Drainase, Kapasitas Saluran Drainase, SWMM 5.1   Banjir di daerah perkotaan pada umumnya disebabkan oleh buruknya sistem drainase. Sistem drainase adalah sarana penting untuk pematusan, terutama di perkotaan. Kondisi sistem drainase di Kota Kediri belum berfungsi optimal, disebabkan adanya penyempitan pada saluran dan sedimentasi. Selain itu, berkurangnya area resapan dapat menambah beban saluran drainase dalam menampung air hujan. Hal ini dibuktikan dengan adanya banjir di beberapa ruas jalan ketika intensitas hujan tinggi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penyebab banjir dan memberikan solusi penanganan banjir yang terjadi. Metodologi yang digunakan adalah: 1) Pengumpulan data primer dan sekunder. 2) Analisis Hidrologi. 3) Analisis Hidraulika. 4) Analisis dimensi saluran drainase dan debit banjir menggunakan program SWMM 5.1. 5) Uji keandalan model SWMM 5.1. 6) Evaluasi kapasitas saluran drainase. Pengumpulan data primer diperoleh dari pengukuran dimensi dan pengukuran debit saluran eksisting. Pengumpulan data sekunder antara lain, data panjang saluran drainase dan kemiringan dasar saluran diperoleh dari Master Plan Saluran Drainase Kota Kediri Tahun 2016. Selain itu, data penggunaan lahan diperoleh dari citra satelit dan data curah hujan tahun 2006-2015. Hasil uji keandalan model menggunakan nilai Nash = 0,69 dan RMSE = 0,224 menunjukkan bahwa pemodelan banjir menggunakan program SWMM 5.1 sesuai. Sehingga dapat digunakan untuk evaluasi kapasitas saluran drainase di Kota Kediri dengan periode ulang 5 tahun dan 10 tahun. Pada simulasi kondisi eksisting dengan periode ulang 5 tahun terdapat 3 saluran yang tidak memenuhi kapasitas dan pada periode ulang 10 tahun ada 5 saluran dari 39 saluran drainase. Adanya saluran-saluran yang tidak dapat menampung air hujan menyebabkan banjir sehingga perlu dilakukan evaluasi dan perencanaan ulang untuk penanganan banjir. Perencanaan dimensi dilakukan dengan trial and error menggunakan program SWMM 5.1. Dimensi eksisting saluran C6 = 0,8m, diubah menjadi 1,3m; saluran C10 = 0,55m x 0,7m, diubah menjadi 1m x 1m; saluran C16 = 0,55m x 0,9m, menjadi 1,3m x 1m; saluran C17 = 0,28m x 0,9m, diubah menjadi 1,3m x 1m dan saluran C45 = 0,55m x 0,7m, diubah menjadi 1m x 1m. Satu saluran yang tidak meluap namun perlu dilakukan perubahan dimensinya, yaitu saluran C15. Sebab, apabila terjadi perubahan dimensi pada saluran C16 dan C17, maka kapasitas eksisting saluran C15 tidak dapat menampung air hujan pada periode ulang 10 tahun. Sehingga perubahan dimensi saluran tersebut dari 0,5m x 0,9m menjadi 1,3m x 0,9m

    Implementasi Analytical Hierarchy Process Dan Sistem Informasi Geografi Untuk Penentuan Daerah Rawan Longsor Kota Batu

    No full text
    ABSTRAK   Nurwinsyah, Andi. 2017. Implementasi Analytical Hierarchy Process Dan Sistem Informasi Geografi Untuk Penentuan Daerah Rawan Longsor Kota Batu, Skripsi. Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Syamsul Bachri, S.Si., M.Sc., Ph.D. (II) Drs. Rudi Hartono, M.Si.   Kata Kunci : Pemetaan, Rawan Longsor, Sistem Informasi Geografi, Analytical Hierachy Process   Kota Batu merupakan daerah yang berpotensi terjadi tanah longsor karena memiliki kemiringan lereng rata-rata diatas 30 % dengan jenis tanah dominan adalah Latosol yang memiliki sifat peka terhadap erosi. Faktor hujan juga tidak kalah penting terhadap terjadinya tanah longsor di Kota Batu. Rata-rata intensitas curah hujan pada Kota Batu mempunyai lebih dari 1400 mm per tahun. Berdasarkan data statistik bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota (BPBD) Kota Batu mencatat telah terjadi sebanyak 39 lebih kejadian bencana tanah longsor di tahun 2016. Oleh karena itu diperlukan upaya-upaya untuk meminimalisir terjadinya tanah longsor dengan melakukan pemetaan daerah rawan longsor. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan daerah-daerah rawan longsor. Penentuan daerah rawan longsor pada penelitian ini menggunakan lima variabel yaitu kemiringan lereng, curah hujan, penggunaan lahan, geologi, dan jenis tanah. Penentuan daerah rawan longsor menggunakan operasi Sistem Informasi Geografi dengan metode Analytical Hierachy Process yaitu dengan perkalian setiap variabel - variabel yang sebelumnya sudah ditentukan bobotnya. Hasil dari analisis data variabel diperoleh Skor Kumulatif, nantinya dikelompokkan menjadi tiga kelas dengan kategori yaitu : 1. Kurang Rawan < 1.414 2. Rawan 1.415 – 2.828 3. Sangat Rawan 2.829 – 4.242. Hasil studi menyebutkan wilayah Kecamatan yaitu, Kecamatan Bumiaji diperoleh nilai luas tingkat kerawanan bencana longsor pada tingkat ‘Tidak Rawan’ sebesar 0 km², tingkat ‘Rawan’ 14 km², dan tingkat ‘Sangat Rawan’ 108.3 km². Pada Kecamatan Batu diperoleh diperoleh nilai luas kerawanan longsor pada tingkat ‘Tidak Rawan’ sebesar 0 km², tingkat ‘Rawan’ 15.63 km², dan tingkat ‘Sangat Rawan’ 30.8 km². Kemudian yang terakhir pada Kecamatan Junrejo diperoleh nilai luas kerawanan longsor pada tingkat ‘Tidak Rawan’ sebesar 0 km², tingkat ‘Rawan’ 15.65 km², dan tingkat ‘Sangat Rawan’ 11.1 km².                           ABSTRACT   Nurwinsyah, Andi. 2017. Implementation of Analytical Hierarchy Process and Geographic Information System for Determination of Landslide Vulnerability Areas of Batu City, Thesis. Department of Geography, Faculty of Social Sciences, State University of Malang. Counselor: (I) Syamsul Bachri, S.Si., M.Sc., Ph.D. (II) Drs. Rudi Hartono, M.Si.   Keywords: Mapping, Landslide, Geographic Information System, Analytical Hierarchy Process   Batu city is an area that has the potential of landslide because it has an average slope slope above 30% with dominant soil type is Latosol which has sensitive nature to erosion. Rainfall factor is also not less important to the occurrence of landslides in the city of Batu. Average rainfall intensity in Batu City has more than 1400 mm per year. Based on statistical data of Disaster Management Agency City (BPBD) Batu City noted there have been more than 39 incidents of landslide disaster in 2016. Therefore it is necessary efforts to minimize the occurrence of landslides by mapping landslide prone areas. This study aims to determine areas prone to landslides. Determination of landslide prone areas in this study using five variable of slope, rainfall, land use, geology, and soil type. Determination of landslide vulnerability areas using the operation of Geographic Information System with Analytical Hierarchy Process method is by multiplication of each variable that have been determined by its weight. The results of the variable data analysis will be obtained Cumulative Score, will be grouped into three classes with categories namely: 1. Less Vulnerable < 1.414 2. Vulnerable 1.415 - 2.828 3. Very Vulnerable 2.829 - 4.242. The result of the study indicates that the landslide vulnerability area Bumiaji Sub-district obtained by the value of the landslide vulnerability level at the Less Vulnerable level of 0 km², the Vulnerable level of 14 km², and the Very Vulnerable level of 108.6 km². In Batu sub-district is obtained the value of landslide susceptibility at level Less Vulnerable of 0 km², level Vulnerable 15.63 km², and level Very Vulnerable 30.8 km². Then the last one at Junrejo Sub-district was found the value of landslide vulnerability at Less Vulnerable level of 0 km², Vulnerable level of 15.65 km², and Very Vulnerable 11.1 km²

    0

    full texts

    1,629

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇