SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
1629 research outputs found
Sort by
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA KELAS XI SMAN 1 DARUSSHOLAH SINGOJURUH KABUPATEN BANYUWANGI
ABSTRAK Immaniar, Bunga Dwi. 2017. Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas XI SMAN 1 Darussholah Singojuruh Kabupaten Banyuwangi. Skripsi, Jurusan Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Yusuf Suharto, M.Pd, (2) Drs. Sudarno Herlambang, M.Si. Kata Kunci: Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL), Kemampuan Berpikir Kreatif.Pembelajaran yang terancang dengan baik dapat mengembangkan kemampuan berpikir kreatif. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan dalam mengukur kemampuan berpikir kreatif ialah Problem Based Learning (PBL). Penerapan model pembelajaran ini di dalam kelas memiliki kelebihan, yaitu: adanya suatu permasalahan yang harus dipecahkan, pembelajaran yang berpusat pada siswa, dan belajar secara individu maupun kelompok.Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa kelas XI pada mata pelajaran geografi. Jenis penelitian termasuk Quasi Experiment with Post test Control Group Design. Subjek penelitian menggunakan siswa kelas XI IPS1 sebagai kelas eksperimen dansiswa kelas XI IPS 3 sebagai kelas kontrol di SMAN 1 Darussholah Singojuruh Kabupaten Banyuwangi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini ialah tes dengan menggunakan lima soal essai yang sebelumnya telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan Independent sample t-testdengan bantuan SPSS 16.0 for windows.Berdasarkan hasil analisis data didapatkan bahwa nilai signifikansi adalah 0,02
perbandingan model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray dengan student team achievement division terhadap pemahaman konsep geografi kelas x SMAN 1 gondanglegi
ABSTRAK Erna, Eneng. 2017. Perbandingan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray (TSTS) Dengan Student Team Achievement Divisions (STAD) Terhadap Pemahaman Konsep Geografi Kelas X SMAN 1 Gondanglegi. Skripsi, Program Studi Pendidikan Geografi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Hadi Soekamto, S.H, M.Pd, M.Si, (II) Drs. Sudarno Herlambang, M.Si. Kata Kunci : Model Pembelajaran Two Stay Two Stray, Student Team Achievement Divisions, Pemahaman Konsep Geografi Pemahaman konsep geografi perlu ditingkatkan dalam pembelajaran di Sekolah Menegah Atas (SMA). Meningkatkan pemahaman konsep geografi, membutuhkan suatu model pembelajaran yang tepat. Two Stay Two Stray dan Student Team Achievement Divisions adalah model pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman konsep geografi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray dan Student Team Achievement Divisions terhadap pemahaman konsep geografi siswa kelas X SMA Negeri 01 Gondanglegi, dan untuk mengetahui model mana yang lebih baik antara model pembelajaran Two Stay Two Stray dan Student Team Achievement Divisions. Penelitian ini dirancang menggunakan eksperimen semu dengan desain penelitian two group pretests postest design. Subjek dalam penelitian ini adalah kelas X-IPS3 (eksperimen 1) mendapat perlakuan model pembelajaran Two Stay Two Stray, dan kelas X-IPS4 (eksperimen 2) mendapat perlakuan model pembelajaran Student Team Achievement Divisions. Instrument penelitian ini berupa soal essai tes pemahaman konsep geografi, yang dikumpulkan sebelum perlakuan dan setelah perlakuan model pembelajaran. Instrument penelitian ini diuji coba menggunakan validitas dan realibilitas. Teknik analisis yang digunakan adalah uji-t yang dapat diselesaikan dengan bantuan SPSS 16,00 for windows. Hasil analisis data diketahui bahwa pada siswa kelas eksperimen 1 rata-rata pemahaman konsep geografi 15,57, sedangkan pada siswa kelas eksperimen 2 rata-rata pemahaman konsep geografi 10,59. Hasil analisis dengan menggunakan uji-t menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,016. Jadi nilai signifikansi 0,016 < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Hasil analisis data menunjukkan bahwa ada perbedaan pemahaman konsep geografi siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Two Stay Two Stray dan Student Team Achievement Divisions pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Gondanglegi, dan model pembelajaran Two Stay Two Stray lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran Student Team Achievement Divisions. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar model pembelajaran Two Stay Two Stray dan Student Team Achievement Divisions dapat diterapkan untuk meningkatkan pemahaman konsep geografi siswa pada materi atmosfer. Bagi guru diharapkan diterapkan dikelas terutama pada materi pembelajaran yang menuntut siswa untuk berdiskusi. Bagi pihak sekolah diharapkan dapat memberikan fasilitas berupa sumber belajar. sedangkan untuk peneliti lanjut disarankan agar menambah varibel terikat seperti keaktifan dan motivasi belajar siswa. ABSTRACT Erna, Eneng. 2017. Comparison between Two Stay Two Stray (TSTS) and Student Team Achievement Divisions (STAD) Cooperative Learning Model to the Understanding of Geographic Concept in 10th Grade SMAN 1 Gondanglegi. Mini Thesis, Study Program of Geography Education, Department of Geograpy, Faculty of Social Science, State University of Malang. Supervisors: (I) Drs. Hadi Soekamto, S.H, M.Pd, M.Si, (II) Drs. Sudarno Herlambang, M.Si. Keywords: Learning Model, Two Stay Two Stray, Student Team Achievement Divisions, The Understanding of Geographic Concept The understanding of geographic concept needs to be improved towards the learning in Senior High School (SMA) level. In order to improve the understanding of geographic concept, it needs an appropriate learning model. Two Stay Two Stray and Student Team Achievement Divisions is learning model that can improve the understanding of geographic concept. This research aims to know the difference of implementation between Two Stay Two Stray and Student Team Achievement Divisions learning model to the understanding of geographic concept for students in the 10th Grade SMA Negeri (Public Senior High School) 01 Gondanglegi and to know which model is better, Two Stay Two Stray or Student Team Achievement Divisions learning model. This research designed by using quasi experimental research with two group pretest posttest research design. Subject in this research was 10th Grade of Social Science-3 (experiment 1) that treated by Two Stay Two Stray learning model and 10th Grade of Social Science-4 (experiment 2) that treated by Student Team Achievement Divisions learning model. The research instrument was essay questions to the understanding of geographic concept which collected before the treatment given and after given by treatment of learning model. This research instrument tested by using validity and reliability test. Analysis technique used in this research was t-test with the assistance of SPSS 16.00 for Windows. The result of data analysis found that students in the experimental class 1 had average understanding of geographic concept for 15.57, while students in the experimental class 2 had average understanding of geographic concept for 10.59. Analysis result by using t-test showed significance value of 0.016. Thus, significance value was 0.016 < 0.05, then H0 unconfirmed and H1 confirmed. The result of data analysis showed that there was difference of understanding of geographic concept to the students taught by using Two Stay Two Stray and Student Team Achievement Divisions learning model in the 10th Grade SMA Negeri 1 Gondanglegi and Two Stay Two Stray learning model was better than Student Team Achievement Divisions learning model. Based on the research result, it is suggested to implement Two Stay Two Stray and Student Team Achievement Divisions learning model in order to improve the understanding of geographic concept for students towards atmosphere material. For teachers should implement those learning models in the class, especially to the learning materials demand students to conduct discussion. For the school should provide facility of learning sources, while for the next researchers suggested to add dependent variables such as student activeness and learning motivation
Pengaruh Faktor Predisposisi terhadap Lama Penggunaan Kontrasepsi Hormonal pada Akseptor KB di Kecamatan Lowokwaru Tahun 2016
ABSTRAK Aisyah, Dewi. 2017. Pengaruh Faktor Predisposisi terhadap Lama Penggunaan Kontrasepsi Hormonal pada Akseptor KB di Kecamatan Lowokwaru Tahun 2016. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Budijanto, M.Sos, (II) Drs. Marhadi Slamet Kistiyanto,. M.Si. Kata Kunci: Keluarga Berencana, Kontrasepsi Hormonal, Faktor Predisposisi, Lama Penggunaan Kontrasepsi HormonalPeningkatan jumlah penduduk telah terjadi di Indonesia setiap tahunnya. Provinsi Jawa Timur menduduki urutan kedua dengan jumlah penduduk sebesar 37,476,757 jiwa) dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 0,76% (BPS, 2012). Upaya pemerintah dalam mengendalikan laju pertumbuhan penduduk adalah dengan melaksanakan program Keluarga Berencana (KB). Proporsi penggunaan alat atau cara KB dinyatakan dengan Contraceptive Prevalence Rate (CPR) pada kelompok wanita kawin usia 15-19 tahun, yaitu sebesar 46%. Angka CPR tersebut lebih rendah bila dibandingakan dengan targert RPJM tahun 2014 yaitu 60,1%. Penggunaan alat kontrasepsi yang paling diminati masyarakat di Kecamatan Lowokwaru adalah suntik sebesar 49% dan pil KB sebesar 11%.Penggunaan alat kontrasepsi yang paling diminati masyarakat di Kec.Lowokwaru adalah suntik sebesar 49% dan pil KB sebesar 11%. Penggunaan kontrasepsi hormonal meningkat tajam bila dibandingkan dengan alat kontrasepsi lainnya seperti IUD, MOP, dan MOW.Penelitian ini menggunakan pendekatan ex post facto, jenis penelitian termasuk pada penelitian korelasional, desain penelitian cross sectional. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan tabulasi tunggal, tabulasi silang, dan regresi linierHasil tabulasi tunggal dan tabulasi silang yaitu usia responden terbanyak diatas 45 tahun, ,pendidikan respoden tertinggi lulusan SLTA, pendapatan responden tertinggi Rp 500.000 - < Rp 2.500.000, jumlah anak terbanyak pada responden yang memiliki 2 anak, dan lama penggunaan kontrasepsi responden tertinggi selama 3 tahun.Karakteristik responden berdasarkan umur ibu rata-rata terbesar adalah golongan usia 39-44, responden berdasarkan tingkat pendidikan terakhir (tahun sukses) rata-rata terbesar adalah lulusan perguruan tinggi, responden berdasarkan pendapatan rata-rata terbesar adalah golongan pendapatan Rp 2.600.000-Rp 4.600.000, sedangkan responden berdasarkan paritas (jumlah anak) rata-rata terbesar adalah ibu yang memiliki 4 anak. Hasil uji regresi linier berganda menunjukkan bahawa variabel umur, pendapatan, dan paritas (jumlah anak)berpengaruh positif dan signifikan terhadap lama penggunaan kontrasepsi hormonal sedangkan variabel pendidikan tidak berpengaruh positif terhadap lama penggunaan kontrasepsi hormonal
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR ANALITIS SISWA KELAS X-IIS 1 SMAN 1 LAWANG KABUPATEN MALANG
ABSTRAK Firmansyah, Mokhamad. 2017. Penerapan Model Pembelajaran Discovery untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Analitis Siswa Kelas X-IIS 1 SMAN 1 Lawang Kabupaten Malang. Skripsi Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si., (II) Ardyanto Tanjung, S.Pd, M.Pd. Kata kunci: Model Pembelajaran Discovery dan Kemampuan Berpikir AnalitisPenelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya permasalahan yaitu rendahnya kemampuan berpikir analitis siswa. Rendahnya kemampuan berpikir analitis siswa disebabkan karena kegiatan pembelajaran masih didominasi oleh guru yang menyebabkan siswa tidak bisa mengembangkan kemampuan berpikir analitis.Sehubungan dengan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir analitis siswa dengan menerapkan model pembelajaran Discovery pada mata pelajaran Geografi di kelas X-IIS 1 SMAN 1 Lawang Kabupaten Malang. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan 2 siklus, yaitu siklus I dan II. Setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan penelitian, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas X-IIS 1 SMAN 1 Lawang dengan jumlah 33 siswa. Intrumen penelitian yang digunakan adalah tes kemampuan berpikir analitis, lembar observasi dan catatan lapangan. Teknik analisis data berupa pengukuran kemampuan berpikir analitis siswa secara klasikal yang dipersentasekan dan pengukuran peningkatan kemampuan berpikir analitis setiap siklus.Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan berpikir analitis siswa yang diketahui dari hasil tes kemampuan berpikir analitis. Dari nilai tes kemampuan analitis sebelumnya, siswa memperoleh nilai rata-rata 64,21 yang termasuk dalam klasifikasi C- dan ini belum menerapkan model pembelajaran Discovery. Siklus I memperoleh nilai rata-rata 71,67 yang termasuk dalam klasifikasi C+ dengan peningkatan 11,61%. Pada siklus II memperoleh nilai rata-rata 81,21 yang termasuk dalam klasifikasi B dengan peningkatan 24,92%. Indikator kemampuan berpikir analitis seperti memerinci atau memisahkan suatu fenomena dan mengaitkan unsur-unsur dalam fenomena/permasalahan secara logis dan menggambarkan fenomena secara komprehensif terdapat pada jawaban siswa. Berdasarkan analisis data dan pembahasan dapat diperoleh kesimpulan bahwa pembelajaran Discovery dapat meningkatkan kemampuan berpikir analitis siswa kelas X-IIS 1 SMAN 1 Lawang. Saran pada penelitian ini adalah memberikan pendampingan yang lebih kepada siswa terutama kepada siswa yang belum pernah mendapatkan model pembelajaran ini. Pemilihan materi juga harus diperhitungkan agar nantinya tidak menyita banyak waktu karena tidak semua materi cocok dengan pembelajaran ini
Pengaruh Model Pemecahan Masalah terhadap Keterampilan Berpikir Keruangan pada Mata Pelajaran Geografi untuk Siswa Kelas XI IIS Di SMAN 2 Batu
ABSTRAK Zulmy, Arizky Putra Perdana. 2017. Pengaruh Model Pemecahan Masalah Terhadap Keterampilan Berpikir Keruangan Pada Mata Pelajaran Geografi Siswa Kelas IIS XI SMA Negeri 2 Batu. Skripsi. Program Studi Pendidikan Geografi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Budi Handoyo, M.Si, (II) Drs. Marhadi Slamet Kistiyanto, M.Si. Kata kunci: Keterampilan Berpikir Keruangan, Model Pemecahan MasalahKeterampilan berpikir keruangan diperlukan untuk mengembangkan suatu kreativitas yang dimiliki oleh siswa dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran dengan mempertimbangkan keterampilan berpikir keruangan dapat melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa mendiskripsikan, menganalisis maupun pencarian kesimpulan terhadap masalah. Keterampilan berpikir keruangan dapat berkembang apabila didukung dengan menggunakan model pembelajaran yang sesuai yaitu melalui aktivitas siswa yang bemakna melalui pengalaman untuk mengerjakan secara mandiri dan menekankan pada kegiatan aktif. Model pembelajaran yang sesuai dengan kinerja mandiri siswa adalah model pembelajaran pemecahan masalah.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pemecahan masalah terhadap keterampilan berpikir keruangan siswa. Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen semu (quasy experiment), menggunakan rancangan Pretest-posttest Control Group Design. Subjek penelitian terdiri dari satu kelas eksperimen dan satu kelas kontrol, siswa kelas XI IIS SMAN 2 Batu. Instrumen penelitian berupa lembar tes yang digunakan untuk mengukur keterampilan berpikir keruangan siswa. Teknik analisis data menggunakan uji-t dengan SPSS 16.0 for Windows.Hasil analisis menunjukkan bahwa keterampilan berpikir keruangan siswa yang menggunakan model pemecahan masalah lebih baik daripada siswa yang tidak menggunakan model pemecahan masalah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pemecahan masalah berpengaruh terhadap keterampilan berpikir keruangan siswa. Berdasarkan temuan penelitian diajukan dua saran. Pertama, untuk memperbaiki keterampilan berpikir keruangan, disarankan kepada guru geografi menggunakan model pemecahan masalah, terutama untuk kompetensi dasar yang memerlukan keterampilan berpikir keruangan, seperti menganalisis masalah dinamika kependudukan, pemanfaatan sumber daya alam, dan pelestarian lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan. Kedua, untuk peneliti lanjut disarankan untuk menguji coba model pemecahan masalah terhadap materi yang berbeda, disarankan pula untuk menambah atau menggunakan variabel seperti kemampuan berpikir kritis, berpikir kreatif, berpikir analitis dan keterampilan berpikir keruangan
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERFIKIR ANALITIS GEOGRAFI PADA KELAS XI IPS 3 SMAN 7 MALANG
ABSTRAK Ari, Enggarwati. 2017 Penerapan Model Discovery Untuk Meningkatkan Kemampuan Berfikir Analitis Siswa Pada Kelas XI IPS3 SMAN 7 Malang Semester Genap Tahun Ajaran 2016/2017. Skripsi, Jurusan Geografi, Falkutas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Hadi Soekamto, S.H, M.Pd, M.Si. (II) Drs. Marhadi Slamet Kristiynto, M.Si Kata Kunci: Discovery Learning, Kemampuan, Berfikir AnalitisBerdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti pada semester genap 2016/2017 di kelas XI IPS3 SMAN 7 Malang, diketahui kemampuan berfikir analitis siswa masih rendah. Hal ini disebabkan pembelajaran yang dilakukan oleh guru kurang mampu untuk mengasah kemampuan berfikir analitis siswa. Model pembelajaran yang disarankan untuk mengatasi rendahnya kemampuan berfikir analitis adalah model discovery learning.Penerapan discovery learning bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berfikir analitis siswa.Penelitian ini termasuk dalam penelitian tindakan kelas (PTK) dengan subjek penelitian siswa kelas XI IPS3 SMAN 7 Malang yang berjumlah 31. Penelitian dilaksanakan dengan dua siklus, setiap siklus terdiri dari enam langkah. Data yang dianalisis adalah kemampuan berfikir analitis siswa. Data dikumpulkan menggunakan tes dan observasi. Instrument penelitian ini terdiri dari lima soal essai yang telah diujikan setelah diberi tindakan model discovery saat pembelajaran.Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada peningkatan hasil kemampuan berfikir analitis siswa mata pelajaran Geografi kelas XI IPS 3 SMAN 7 Malang. Rata-rata nilai kemampuan berfikir analitis siswa pada siklus I adalah 78,1 Pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 85,9 Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa pembelajaran model discovery learning dapat meningkatkan kemampuan berfikir analitis siswa kelas XII IPS 3 SMAN 7 Malang semester genap tahun ajaran 2016/2017. Berdasarkan penelitian yang dilakukan terdapat dua kendala pertama dalam pelaksanan discovery Learning . kendala yang pertama adalah penggorganisasian kelompok. Kendala kedua menyajikan hasil karya. Dengan demikian perlu adanya antisipasi dari guru untuk memaksimalkan proses pembelajaran dengan model discovery learning
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION (GI) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS GEOGRAFI SISWA KELAS XI IPS 4 SMA LABORATORIUM UNIVERSITAS NEGERI MALANG PADA MATERI KEARIFAN DALAM PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM
ABSTRAK Nuralisa, Siska Putri. 2017. Penerapan Model Pembelajaran Group Investigation (GI) Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Geografi Siswa Kelas XI IPS 4 SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang Pada Materi Kearifan dalam Pemanfaatan Sumber Daya Alam. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Dwiyono Hari Utomo, M.Pd, M.Si (2) Drs. Rudi Hartono, M.Si. Kata Kunci : Penerapan, Group Investigation, Kemampuan Berpikir Kritis Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dikelas XI IPS 4 SMA Laboratorium UM pada mata pelajaran Geografi. Sebagian kegiatan pembelajaran di kelas tersebut masih didominasi oleh guru, siswa hanya mendengarkan dan mencatat. Selama proses pembelajaran aktivitas siswa rata-rata sangat pasif, hanya ada sekitar 20% siswa saja yang aktif menjawab maupun mengemukakan pendapatnya. Selain itu diketahui bahwa penggunaan metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru hanya sebatas penyampaian konsep dan diskusi kelompok biasa sehingga siswa tidak dapat menganalisa suatu fenomena atau permasalahan nyata yang ada di sekitar mereka. Dapat diketahui dari nilai rata-rata ulangan harian siswa dengan tingkat kesulitan soal (C4) yakni sebesar 70,8, pada saat guru memberikan soal ulangan harian dengan tingkat kesulitan (C4) berpikir kritis, siswa tidak dapat menjawab pertanyaan dengan baik, jawaban siswa cenderung singkat dan mengarah dengan tingkatan berpikir rendah (C3). Solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan penerapan model pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Dari beberapa model pembelajaran. Model pembelajaran Group Investigation (GI) merupakan suatu alternatif yang tepat untuk mengatasi permasalahan yang ada.Jenis penelitian yang digunakan yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini terdiri dari II siklus, masing-masing siklus terdapat 2 pertemuan. Penelitian ini dilakukan di kelas XI IPS 4 SMA Laboratorium UM dengan jumlah siswa sebanyak 31 orang, yang terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan. Pokok bahasan dalam penelitian ini yaitu Kearifan dalam Pemanfaatan Sumber Daya Alam. Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Mei 2017. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI IPS 4 SMA Laboratorium UM pada materi Kearifan dalam Pemanfaatan Sumber Daya Alam. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata tes kemampuan berpikir kritis siswa dari siklus I ke siklus II yang mengalami peningkatan sebesar 11,1% dengan nilai rata-rata 72 pada siklus I menjadi 80 pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan dengan menerapkan model pembelajaran Group Investigation (GI) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa agar dapat dijadikan landasan untuk melakukan penelitian selanjutnya pada materi, lokasi, dan waktu yang berbeda
Hubungan Antara Kondisi Sosial Ekonomi dengan Partisipasi Pus Dalam Program Kb pada Kawasanpermukiman Kumuh dan Tidak Di Kelurahan Tanjungrejo Kota Malang
ABSTRAK Huljannah, Ira. 2017. Hubungan Antara Kondisi Sosial Ekonomi dengan Partisipasi PUS dalam Program KB pada Kawasan Permukiman Kumuh dan Tidak Kumuh di Kelurahan Tanjungrejo. Jurusan Geografi, Program Studi Geografi Pengembangan Sumberdaya Manusia dan Ketenagakerjaan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Singgih Susilo, M.S, M.Si, (II) Drs. Marhadi S.K, M.Si. Kata Kunci: Partisipasi PUS, Kondisi Sosial Ekonomi, Keluarga Berencana, permukiman kumuh dan tidak kumuh Partisipasi Keluarga Berencana di Kelurahan Tanjungrejo masih terbilang rendah. Menurut Kepala Perwakilan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Jawa Timur, partisipasi KB sudah lebih baik di banding daerah lain di Jawa Timur sekitar 70%. Namun ada Kelurahan yang masih rendah tingkat partisipasi untuk mengikuti programKB yaitu Kelurahan Tanjungrejo. Partisipasi dalam mengikuti program KB ini sangat bergantung pada kondisi sosial ekonomi yang meliputi Pendidikan, pendapatan dan pekerjaan Pasangan Usia Subur. Kelurahan Tanjungrejo memiliki 2 kriteria yaitu kawasan permukiman kumuh dan tidak kumuh.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kondisi sosial ekonomi dengan partisipasi pasangan usia subur dalam program Keluarga Berencana pada kawasan permukiman kumuh dan tidak kumuh. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode survey. Penentuan jumlah sampel menggunakan metode proposional sampling. Responden dalam penelitian berjumlah 98 orang yang terdiri dari dua kawasan permukiman. Analisis data menggunakan tabulasi tunggal, tabulasi silang, korelasi product momen dan chi square. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sedang antara pendidikan dengan partisipasi PUS pada kawasan permukiman kumuh, sedangkan pada kawasan permukiman tidak kumuh memiliki hubungan tetapimempunyai arah yang berlawanan. Hubungan antara pendapatan dengan partisipasi PUS pada kawasan permukiman kumuh memiliki hubungan yang rendah, sedangkan pada kawasan permukiman tidak kumuh tidak memiliki hubungan dan memiliki arah yang berlawanan. Hubungan antara jenis pekerjaan dengan partisipasi PUS pada kawasan permukiman kumuh maupun tidak kumuh tidak memiliki hubungan, Saran yang diajukan berdasarkan permasalahan tersebut yaitu 1) perlu adanya penyuluhan kepada masyarakat tentang program KB bagi PUS 2) pada kawasanpermukiman kumuh perlu di bagi tong sampah secara merata. ABSTRACT Huljannah, Ira. 2017. Relationship Between Socio-Economic Condition and Participation of PUS in Family Planning Program in Slum and Not Slum Areas in Tanjungrejo Urban Village. Undergraduate Thesis, Department of Geography, Faculty of Social Science, State University of Malang. Advisor (I) Dr. Singgih Susilo, M.S, M.Si, (II) Drs. Marhadi S.K, M.Si. Keywords: PUS participation, socio-economic condition, family planning, slum and not slum areas Family Planning Participation in Tanjungrejo Urban Village is still low. According to the Chief Representative of the National Family Planning Coordinating Board of East Java, participation of family planning is better than in other areas in East Java about 70%. However, there is still a low level of participation to participate in family planning program that is Tanjungrejo Urban Village. Participation in participating in the Family Planning Program is highly dependent on socio-economic conditions that include Education, income and employment of the Fertile Age Spouse. Tanjungrejo urban village has 2 criteria that is slum area and not slum. This study aims to determine the relationship between socio-economic conditions with the participation of infertile couples in the Family Planning program in slum areas and not slums. This research is a quantitative research with survey method. Determination of the number of samples using proportional sampling method. Respondents in the study amounted to 98 people consisting of two residential areas. Data analysis using single tabulation, cross tabulation, product moment correlation and chi square. The results of the analysis show that there is a moderate relationship between education and PUS participation in slum areas, whereas in slum settlements have a relationship but have opposite directions. The relationship between income and the participation of PUS in slum areas has a low relation, whereas in slum settlements are unrelated and have opposite directions. The relationship between the types of work and the participation of PUS in the slum areas and slums has no relationship, Suggestions proposed based on the problems are 1) the need for public education about family planning program for PUS 2) in slum areas need to be distributed evenly
Kontribusi Pendapatan Tenaga Kerja Wanita Industri Rumahan Pembuat Rengginang terhadap Pendapatan Keluarga di Desa Sambigede Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang
ABSTRAK Saputra, Chandra Permana Yuga. 2017. Kontribusi Pendapatan Tenaga Kerja Wanita Industri Rumahan Pembuat Rengginang terhadap Pendapatan Keluarga di Desa Sambigede Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Geografi FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Singgih Susilo, M.S, M.Si (II) Prof. Dr. Budijanto, M.Sos Kata Kunci: Tenaga Kerja Wanita, Industri, Pendapatan, Kontribusi Peningkatan jumlah penduduk yang semakin pesat mengakibatkan terjadinya peningkatan tenaga kerja. Dengan meningkatnya jumlah angkatan tenaga kerja tentunya akan berdampak pada kesempatan untuk mendapat sebuah lapangan pekerjaan. Industri rumahan pembuat rengginang di Desa Sambigede Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang menjadi alternatif dalam penyerapan tenaga kerja khususnya para wanita yang bertujuan untuk membantu suami dan keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sosial, ekonomi, dan demografis tenaga kerja wanita, faktor-faktor yang menyebabkan tenaga kerja wanita memilih bekerja di industri rumahan pembuat rengginang, aktivitas kerja tenaga kerja wanita, dan besarnya kontribusi pendapatan tenaga kerja wanita industri rumahan pembuat rengginang yang diberikan kepada keluarga. Jenis penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan metode survei. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh tenaga kerja wanita yang bekerja di industri rumahan pembuat rengginang Desa Sambigede. Sampel yang diteliti adalah keseluruhan dari populasi yang ada sebanyak 44 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, kuesioner, wawancara, dan dokumenter. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tabulasi tunggal. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga kerja wanita industri rumahan pembuat rengginang merupakan lulusan SMP. Pendapatan tenaga kerja wanita rata-rata Rp 652.000,- per bulan. Sebagian besar tenaga kerja wanita berusia produktif dan rata-rata berstatus kawin dan mayoritas memiliki beban tanggungan keluarga sebanyak 2 orang. Sebagian besar jarak antara rumah tenaga kerja wanita dengan tempat kerja adalah 1 sampai 2 kilometer dan banyak diantara mereka yang berjalan kaki dan menggunakan sepeda untuk menuju ketempat kerjanya. Sebagian besar tenaga kerja wanita ini memutuskan bekerja di industri rumahan pembuat rengginang tersebut adalah atas dasar keinginan sendiri dan bertujuan untuk membantu suami atau keluarga mencari nafkah. Sebanyak 24 orang tenaga kerja wanita dari jumlah total 44 orang bekerja selama 6 jam tiap harinya, dan yang 20 orang bekerja selama 5 jam tiap harinya. Semua tenaga kerja wanita tersebut menerima upah dengan system borongan dan kontribusi pendapatan yang diberikan kepada keluarga rata-rata sebesar 35,83 %
Studi tentang Fertilitas Masyarakat Madura pada Bantaran Sungai di Kelurahan Kotalama Kota Malang
ABSTRAK Anjasmara, Ryan. 2017. Studi tentang Fertilitas Masyarakat Madura pada Bantaran Sungai di Kelurahan Kotalama Kota Malang. Skripsi. Jurusan Geografi, Program Studi Geografi Pengembangan Sumberdaya Manusia dan Ketenagakerjaan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Budijanto, M.Sos, (II) Dr. Ach. Amirudin, M.Pd. Kata Kunci: fertilitas, masyarakat madura, masyarakat bantaran sungai Fertilitas merupakan hasil nyata dari reproduksi seorang atau sekelompok wanita yang menyangkut banyaknya anak lahir hidup. Salah satu perhitungan untuk menentukan fertilitas secara umum adalah tingkat kelahiran kasar atau Crude Birth Rate, yaitu jumlah kelahiran hidup pada suatu daerah pada tahun tertentu tiap 1000 penduduk pada pertengahan tahun. Kelurahan Kotalama adalah Kelurahan yang ada di Kota Malang tetapi justru banyak dihuni oleh masyarakat Madura. Kelurahan Kotalama dibelah oleh sungai Brantas sehingga banyak masyarakat yang tinggal di daerah bantaran sungai yang terkenal merupakan daerah kumuh dan miskin. Penduduk Kelurahan Kotalama berjumlah 30451 jiwa. CBR Kelurahan Kotalama mencapai 19 dan CDR sebesar 14 sehingga pertambahan jumlah penduduknya sebesar 5. Berkaitan dengan hal tersebut diperlukan pengkajian mengenai fertilitas masyarakat Madura pada bantaran sungai Brantas di Kelurahan Kotalama Kota Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fertilitas masyarakat Madura pada bantaran sungai di Kelurahan Kotalama, mendeskrispsikan pengaruh dari pendapatan, pendidikan, usia kawin pertama, lama penggunaan alat kontrasepsi dan mortalitas bayi terhadap fertilitas secara simultan maupun parsial. Selain itu juga bertujuan untuk mengetahui faktor yang paling dominan mempengaruhi fertilitas masyarakat Madura pada bantaran sungai di Kelurahan Kotalama Kota Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian parameter dengan pendekatan korelasional dan metode survei. Penarikan sampel dilakukan secara proporsional random sampling dengan responden wanita Madura pernah kawin berjumlah 95 orang. Instrumen penelitian yang digunakan adalah pedoman wawancara. Data yang terkumpul dianalisis dengan tabulasi tunggal, tabulasi silang serta regresi linear berganda. Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa secara bersama-sama variabel independen berpengaruh terhadap variabel fertilitas. Secara parsial pendidikan, usia kawin pertama, lama penggunaan alat kontrasepsi dan mortalitas bayi berpengaruh terhadap fertilitas sedangkan pendapatan tidak berpengaruh terhadap fertilitas. Variabel yang paling dominan memberikan pengaruh terhadap fertilitas adalah mortalitas bayi. ABSTRACT Anjasmara, Ryan. 2017. Study of Fertility of Madura Society At Riverbank in Kotalama Subdistrict Malang City. Thesis. Department of Geography of Human Resource and Employment Development, Department of Geography, Faculty of Social Sciences, State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Dr. Budijanto, M.Sos, (II) Dr. Ach. Amirudin, M.Pd Keywords: fertility, society Madura, society in riverside Fertility (birth) is a tangible result of the reproduction of a person or a group of women concerning the number of children born alive. One calculation for determining fertility in general is the crude birth rate (CBR), that is the number of live births in an area in a given year per 1.000 population at midyear. Kotalama Village is a village in the city of Malang, but it was inhabited by the Madurese. Village of Kotalama cleaved by the river so many people who live in the area along the river which is famous slums. Village residents Kotalama amounted to 30451 people. CBR Village Kotalama reached 19 and CDR by 14 so that the increase of the population of 5. In connection with the necessary assessment of the fertility of the Madurese on the riverside in the Village Kotalama Malang. This study aimed to describe the fertility Madurese on the riverside in the Sumberagung sundistrict Malang city, describe the influence of factors of age at income, education, first marriage, duration of use contraception, and infant mortality on fertility simultaneously or partially. It also aims to determine the most dominant factor affecting fertility Madurese on the riverside in Kotalama District Malang. This research uses parameter with correlational approach and survey method. Sampling uses proportional random sampling ever married women respondents amounted to 95 people. The research instrument used as interview guides. The data were analyzed with a single tabulation, cross tabulations and multiple linear regression. The results of multiple linear regression analysis showed that together independent variables affect the dependent variable fertility. Partially education, age at first marriage, duration of use of contraception, and infant mortality affect the fertility while income level had no effect on fertility. The most dominant variable influence on fertility is a long infant mortality