SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
1629 research outputs found
Sort by
Analisis Tingkat Kerawanan untuk Pengelolaan Bencana Banjir di Sub DAS Rowotamtu Kabupaten Jember
Kejadian banjir di Sub DAS Rowotamtu diindikasikan oleh curah hujan yang tinggi dan terjadinya alih fungsi lahan di bagian hulu. Bencana banjir yang terjadi di Sub DAS Rowotamtu tersebut telah mengakibatkan kerugian yang sangat besarbaik kerugian material maupun korban jiwa. Oleh sebab itu diperlukan adanya pengelolaan bencana banjir yang ada di Sub DAS Rowotamtu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerawanan banjir dan pengelolaan bencana banjir di Sub DAS Rowotamtu. Penelitian ini merupakan penelitian survey dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif.Data primer pada penelitian ini diperoleh dari pengukuran lapangan, observasi dan wawancara yang meliputi infiltrasi, muka air tanah, pemanfaatan ruang dan permeabilitas. Sedangkan data sekunder diperoleh dari dinas-dinas terkait serta literatur dengan teknik dokumentasi yang meliputi topografi, daerah pengaliran sungai, curah hujan dan data debit sungai. Pengolahan data kerawanan banjir dilakukan dengan menggunakan teknik skoring dan pembuatan peta menggunakan software ArcGis 10.1. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif berdasarkan indikator penelitian, hasil skoring dan pengelolaan bencana banjir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 11 bentuk lahan di Sub DAS Rowotamtu. Analisis tingkat kerawanan banjir diperoleh hasil sebagai berikut bentuk lahan yang sangat rawan adalah D-PB, bentuk lahan yang rawan adalahD-Sba, D-ST dan LaKG-TA, dan bentuk lahan yang sedang adalah DP-SA, D-SA, D-SK, LaP-Tba, LbP-PB, DKG-PA dan PKG-PA. Pengelolaan bencana banjir di Sub DAS Rowotamtu bisa dilakukan melalui kegiatan sebelum bencana terjadi, saat bencana terjadi dan setelah bencana terjadi. Pengelolaan bencana banjir di Sub DAS Rowotamtu bisa dilakukan melalui kegiatan sebelum bencana terjadi, saat bencana terjadi dan setelah bencana terjadi. Kegiatan sebelum bencana terjadi adalah melakukan pengerukan sungai, mengadakan sosialisasi dan pelatihan tentang penanggulangan banjir, menggalakkan program reboisasi di daerah hulu, merencanakan daerah penampungan sementara dan jalur-jalur evakuasi, meningkatkan kapasitas dan kualitas drainase beserta fasilitas penunjangnya.Kegiatan saat bencana terjadi adalah memberikan pemberitahuan secara dini kepada masyarakat dan melakukan evakuasi penduduk ke daerah yang aman sesuai dengan yang telah direncanakan kemudian mendata lokasi serta jumlah korban bencana, memberikan pelayanan kesehatan darurat, memberikan bantuan pemenuhan kebutuhan dasar dan menempatkan petugas di pos-pos pengamatan. Kegiatan setelah bencana terjadi adalah melakukan pendataan kerusakan bangunan dan fasilitas publik, memperbaiki sarana-sarana publik yang rusak dan membersihkan lingkungan, pelayanan kesehatan serta mengupayakan pemulihan dari sisi sosial dan psikologis
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN PERTANIAN PASCA ERUPSI GUNUNG KELUD 2014 MENGGUNAKAN PEMBOBOTAN METODE AHP (Analytical Hierarchy Process)
ABSTRAK Kata Kunci: Kesesuaian Lahan Pertanian, metode AHP (Analytical Hierarchy Process)Dampak erupsi berpengaruh terhadap potensi dan karakteristik lahan pertanian yang terdapat di wilayah baratdaya Gunung api Kelud. Banyak lahan pertanian rusak akibat erupsi dan menyebabkan kerugian. Namun terdapat kenaikan nilai produksi dari pra erupsi dengan pasca erupsi.hasil dari analisis akan disajikan dalam bentuk peta yang dapat memberikan informasi spasial sebagai modal perencanaan dan pengembangan kawasan pertanian dimasa mendatang.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data secara observasi untuk pengambilan sampel di lapangan. Pendekatan yang dipakai adalah bentuk lahan sebagai unit analisisnya. Hasil penilaian dari sampel tanah pada setiap bentuk lahan dianalisis menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process), metode ini akan menentukan bobot dari masing-masing parameter sehingga ditemukan parameter yang paling menentukan mengapa lahan di daerah penelitian tersebut dijadikan sebagai lahan pertanian.Hasil pembobotan AHP ditemukan bahwa bobot tertinggi atau parameter yang paling berpengaruh pada lahan di daerah penelitian dijadikan sebagai lahan pertanian adalah tingkat ekonomi suatu lahan dan nilai pH tanah. Tingkat ekonomi merupakan faktor pendukung yang penting pada lahan di daerah penelitian dijadikan sebagai lahan pertanian karena lahan tersebut mampu menghasilkan keuntungan yang lebih bila dijadikan sebagai lahan pertanian dibandingkan penggunaan lahan yang lain hal ini didukung dengan adanya perkembangan komoditas unggulan nanas dan juga meningkatnya produktifitas pertanian secara umum pasca erupsi Gunung Kelud 2014. Hasil survey dan uji laboratorium menunjukkan bahwa nilai pH tanah di daerah penelitan cenderung netral yaitu 6-7 maka lahan pada daerah penelitian sangat baik bila digunakan sebagai media tanam. Hasil klasifikasi dari pembobotan AHP kemudian disajikan dalam peta kesesuaian lahan pertanian kawasan barat daya Gunung Kelud kecuali pada KRB 3 (radius 2km dari puncak) yang menunjukkan Kelas S1 mepunyai luas 18862,26 hektar, S2 seluas 7589,13 hektar, dan S3 seluas 903,68 hektar. Selanjutnya setelah disesuaikan kategori pertanian lahan basah, kering, dan tanaman tahunan menurut peraturan menteri PU No.41/PRT/M/2007 ditemukan arahan bahwa setiap lahan pada daerah penelitian setiap lahan lebih cocok untuk digunakan sebagai kawasan pertanian lahan basah dan lahan kering yang disebabkan tanah pada daerah penelitian mempunyai faktor kedalaman tanah yang didominasi dengan kedalaman 30 – 60 cm, kemudian faktor penghambat lainnya hanya didominasi oleh nilai KTK dan C organik yang rendah
Integrasi FOSS (Free Open Source Software) Untuk Implementasi Sistem Informasi Gunungapi Kelud Berbasis WebGIS
ABSTRAK Kondisi Gunungapi Kelud pasca erupsi 2014 memberikan dapak positif dan negatif bagi masyarakat di sekitarnya. Dampak negatif berupa ancaman bahaya tanah longsor sedangkan dampak positifnya berupa kondisi kesesuaian lahan pertanian di kawasan Gunugapi Kelud. Penelitian ini merupakan lanjutan dari penelitian sebelumnya yaitu Human-Volcano model di kawasan Gunungapi Kelud. Aplikasi GIS berbasis web dibangun untuk mendiseminasikan data geospastial mengenai kondisi Gunungapi Kelud. Penggunaan perangkat FOSS (Free Open Source Software) untuk membangun sistem WebGIS memiliki kelebihan selain hemat biaya juga memiliki kemampuan yang mumpuni di bidangnya. Metode Waterfall yang memberikan alur perancangan yang sistematis dan terarah pada sistem WebGIS yang dibangun. Alur dari metode waterfall terdiri dari terdiri dari (1) Requirements analysis and definition, (2) System and software design, (3) Implementation, (4) Integration and system testing, (5) Operation and maintenance yang digunakan dalam membangun sistem. Sistem ini juga menyediakan fasilitas bagi penggunan untuk memberikan informasi kepada admin yang digunakan untuk memperbaharui sistem yang tentunya menjadikannya terus berkembang lebih lanjut. Hasil dari penelitian ini adalah aplikasi GIS berbasis web yang mampu untuk digunakan sebagai media diseminasi informasi geospasial mengenai kondisi di kawasan Gunungapi Kelud. Langkah pertama dalam tahapan pembangunan sistem adalah pembuatan basis data untuk menyimpan data geospasial, konversi data shapefile ke GeoJSON dan pembuatan layanan WMS (Web Mapping Service). Berdasarkan hasil pengujian menggunakan uji fungsional dan non-fungsional menujukkan bahwa sistem telah memenuhi syarat yang sudah didefinisikan dan mampu berjalan dengan baik di aplikasi web browser versi terbar
Hubungan Tutupan Lahan dan Penggunaan Lahan dengan Heat Index Kota Malang Tahun 2018
ABSTRAK Suhu dan kelembapan merupakan dua faktor pembentuk iklim mikro. Suhu dan kelembapan di kawasan perkotaan akan berpengaruh terhadap tingkat kenyamanan kawasan perkotaan itu sendiri. Tingkat kepadatan penduduk yang menyebabkan kepadatan permukiman di Kota Malang, berimplikasi terhadap suhu dan kelembapan di kawasan ini. Semakin berkurangnya ruang terbuka hijau, maka temperatur akan semakin meningkat dan kelembapan akan semakin menurun, sehingga akan berpengaruh terhadap tingkat kenyamanan di Kota Malang. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui : (1) ekstraksi data penginderaan jauh dalam mengidentifikasi tutupan lahan dan penggunaan lahan di Kota Malang; (2) hubungan tutupan lahan dan penggunaan lahan dengan heat index di Kota Malang. Penelitian ini merupakan jenis penelitian survey. Objek penelitian adalah seluruh tutupan lahan dan penggunaan lahan di Kota Malang. Penentuan sampel penelitian menggunakan teknik purposive sampling. Purposive sampling ditentukan berdasarkan sebaran penggunaan lahan, sehingga menghasilkan 35 sampel penelitian. Analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis heat index dan analisis statistik berupa uji korelasi. Heat Index (HI), ditentukan dari hasil pengukuran temperatur dan kelembapan udara di setiap lokasi penelitian yang kemudian di analisis dengan menggunakan rumus Steadman, sedangkan analisis statistik ditentukan berdasarkan luas tutupan lahan dan heat index rata-rata dengan menggunakan rumus De Vaus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketelitian interpretasi Citra Ikonos dalam mengidentifikasi penggunaan lahan lebih baik dibandingkan dengan Citra Landsat 8, karena nilai ketelitian interpretasinya berada diatas batas toleransi (85%) sedangkan landsat 8 berada dibawah batas toleransi. Selain itu, hasil dari penelitian ini juga menunjukkan bahwa tingkat kenyaman persatuan waktu yang paling nyaman adalah di pagi hari dengan kategori HI hangat sampai sangat hangat, sedangkan pada siang hari tingkat kenyamanan menurun dengan kategori HI panas sampai sangat panas, dan pada sore hari kategori HI sedikit berbeda dengan pagi dan siang yakni hangat, sangat hangat dan panas,yang artinya tingkat kenyaman mulai meningkat walaupun tidak senyaman di waktu pagi. Perbedaan ini disebabkan oleh sebaran vegetasi, kepadatan permukiman, dan variasi temperatur serta kelembapan udara yang berbeda antara satu kawasan dengan kawasan lain. Hasil penelitian berdasarkan uji statistik menunjukkan bahwa antara penggunaan lahan dengan Heat index memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat hubungan yang moderat
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW PADA MATERI PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA KELAS XI IPS 2 MA MUHAMMADIYAH 1 JEMBER
ABSTRAK Permasalahan pembelajaran yang dialami oleh siswa salah satunya, yaitu rendahnya minat belajar siswa. Rendahnya minat belajar siswa pasti akan mempengaruhi prestasi belajar siswa. Salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif (cooperative learning), sehingga permasalahan tersebut dapat ditanggulangi. Jigsaw merupakan pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggungjawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan bagian tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan minat belajar siswa di kelas XI IPS 2 MA Muhammadiyah 1 Jember dengan menerapkan model pembelajaran jigsaw pada materi pelestarian lingkungan hidup. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (class room action research), model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart. Analisis dilakukan secara deskriptif kata-kata dari hasil pengamatam selama proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran jigsaw. Selanjutnya dengan analisis kuantitatif, yaitu analisis jumlah persentase skor hasil angket perseorangan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa minat belajar siswa kelas XI IPS 2 MA Muhammadiyah Jember 1 mengalami peningkatan, di mana perbandingan perolehan persentase angket minat belajar dari prasiklus, siklus I, dan siklus II. Prasiklus memiliki nilai 57,94, siklus I sebesar 64,66, sedangkan untuk siklus II sebesar 74,95. Terdapat peningkatan persentase minat belajar siswa kelas XI IPS 2 MA Muhammadiyah Jember 1 dari prasiklus, siklus I dan siklus II masing-masing sebesar 10,3% dan 13,71%
Evaluasi Ketersediaan Air Untuk Kebutuhan Air Bersih Berdasarkan HIPPAM Studi Kasus Kecamatan Pakis Kabupaten Malang.
ABSTRAK Kecamatan Pakis Kabupaten Malang merupakan salah satu kecamatan yang memiliki potensi sumber daya air yang melimpah baik berupa sumber mata air maupun sungai. Kecamatan Pakis terdapat 4 desa yang tergabung dalam organisasi HIPPAM dimana pada organisasi tersebut memiliki manfaat yang besar bagi penduduk. Keempat HIPPAM yang terbangun memiliki karakteristik yang berbeda-beda, baik dari segi debit yang dikeluarkan, jumlah pengguna, sistem distribusi yang digunakan akan mempengaruhi ketersediaan air bersih untuk memenuhi kebutuhan masing-masing pengguna HIPPAM. Keberadaan HIPPAM belum mencukupi kebutuhan konsumen dikarenakan aliran distribusi air bersih yang relatif kecil dan biaya operasional yang harus dikeluarkan jumlahnya lebihbesar (mahal) jika dibandingkan dengan perusahaan air minum yang biasa digunakan Tujuan penelitian ini adalah 1) untuk mengetahui debit yang dikeluarkan oleh masing-masing sumber air HIPPAM apakah dapat memenuhi kebutuhan air bersih penggunanya 2) mengetahui tingkat kepuasan pelanggan terhadap pasokan air bersih di empat desa pengguna HIPPAM Kecamatan Pakis Kabupaten Malang. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah observasi, dokumentasi dan wawancara untuk memperoleh data kebutuhan air bersih dan tingkat kepuasan pelanggan. Metode analisis yang digunakan adalah analisis secara deskriptif dari hasil perhitungan jumlah kebutuhan air bersih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) debit yang dikeluarkan setiap HIPPAM telah mampu memenuhi kebutuhan air bersih penggunannya, kuantitas mata air dan kebutuhan air yang digunakan penduduk melalui pengelolahan oleh HIPPAM di Kecamatan Pakis berbeda-beda. Besarnya ketersediaan dibandingkan kebutuhan yang menjadi penyebab terpenuhinya kebutuhan penduduk akan air bersih dan 2) tingkat kepuasan pelanggan terhadap pasokan air bersih yang meliputi penyediaan dan pengelolaan air bersih sudah memuaskan hal ini ditunjukkan dengan tingkat kepuasan pelanggan terhadap penyediaan dan pengelolaan mencapai 80% dan pelanggan yang tidak sebesar 20%. Kepuasan pengguna terhadap HIPPAM dikarenakan biaya atau harga air yang terjangkau sedangakan ketidakpuasan pengguna disebabkan masih seringnya distribusi air bersih yang bermasalah
pengaruh model pembelajaran berbasis proyek terhadap kemampuan berpikir analisis siswa SMA Negeri 1 Turen.
ABSTRAK Munawaroh, Sa’adatul. 2018. pengaruh model pembelajaran berbasis proyek terhadap kemampuan berpikir analisis siswa SMA Negeri 1 Turen. Skripsi. Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Budi Handoyo, M.Si., (II) Purwanto, S.Pd, M.Si. Kata Kunci: model pembelajaran berbasis proyek, berpikir analisis Model pembelajaran berbasis proyek adalah model pembelajaran yang menggunakan proyek atau kegiatan sebagai media. Guru menugaskan siswa untuk melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. Model pembelajaran ini menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata. Model pembelajaran berbasis proyek daat mendorong siswa berpikir analisis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran berbasis proyek terhadap kemampuan analisis pada materi jenis-jenis bencana dan penanggulangannnya di SMA Negeri 1 Turen. Berpikir analisis merupakan kemampuan siswa untuk menguraikan, memperinci, dan menganalisis suatu informasi. Informasi yang digunakan untuk memenuhi suatu pengetahuan dengan menggunakan akal dan pikiran. Saat berpikir akal dan pikiran harus mendapatkan alternatif solusi yang terbaik bukan berdasarkan perasaan atau tebakan. Kemampuan berpikir analisis dapat diperoleh siswa melalui penerapan pembelajaran yang inovatif, kontruktivistik, kreatif dan mampu mengajak siswa membangun pemahaman terhadap konsep yang dipelajari. Salah satu model pembelajaran inovatif berorientasi kontrutivistik adalah model pembelajaran berbasis proyek. Pengaruh model pembelajaran berbasis proyek diteliti menggunaan rancangan penelitian quasi eksperimen pola non equivalen control grup design. Sebelum melaksanakan penelitian beberapa tahap dilakukan yakni: pembuatan instrumen penelitian (RPP, butir soal, teknik pengumpulan data), validasi instrumen (validitas dan realibilitas butir soal) menggunakan SPSS for windows Hasil penelitian eksperimen menujukkan bahwa model pembelajaran berbasis proyek berpengaruh terhadap kemampuan berpikir analisis siswa. dibuktikan dengan rata-rata nilai tes kemampuan berpikir analisis yang tinngi bagi kelas eksperimen yaitu 66,67% baik sedangkan kelas kontrol 30,30% baik. Dengan demikian sebagian besar siswa kelas eksperimen sudah memnuhi stantar minimal kelulusan (75)
PENERAPAN METODE PRAKTIKUM DI LABORATORIUM IPS PADA MATA PELAJARAN GEOGRAFI MATERI LITOSFER UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN GEOGRAFI SISWA KELAS X SMAN 10 MALANG
ABSTRAK Baskara, Dinmas Sigit. 2018. Penerapan Metode Praktikum Pada Laboratorium IPS Pada Mata Pelajaran Geografi Materi Litosfer Untuk Meningkatkan Keterampilan Geografi Siswa Kelas X SMAN 10 Malang. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: 1) Drs. Hadi Soekamto, S.H, M.Pd, M.Si., 2) Drs. Sudarno Herlambang, M.Si Kata kunci: Metode Praktikum, Keterampilan Geografi Keterampilan geografi merupakan aspek penting dalam mempelajari geografi. Namun pada kenyataannya keterampilan geografi yang dimiliki siswa masih rendah. Permasalahan rendahnya keterampilan geografi juga ditemukan di kelas X IPA 5 SMAN 10 Malang. Hal tersebut diketahui melalui analisis penyebab rendahnya kemampuan memecahkan masalah yang terdiri dari 1) siswa; (2) guru; (3) sarana dan prasarana; (4) penerapan strategi pembelajaran. Berdasarkan analisis penyebab tersebut, diketahui bahwa penerapan strategi pembelajaran merupakan penyebab utama rendahnya keterampilan geografi siswa. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan strategi pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan mata pelajaran geografi yang menekankan pada teori dan praktik. Model pembelajaran yang disarankan untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu metode praktikum. Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan keterampilan geografi siswa kelas X IPA 5 SMAN 10 Malang menggunakan metode praktikum. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan subjek penelitian siswa kelas X IPA 5 SMAN 10 Malang yang berjumlah 34 orang. Penelitian ini dilaksanakan dengan dua siklus, setiap siklus terdiri dari lima langkah pembelajaran yang meliputi penyampaian tujuan dan persiapan praktikum, penjelasan materi praktikum, pendemonstrasian cara kerja, pelaksanaan praktikum, dan presentasi hasil praktikum. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini yaitu nilai hasil tes keterampilan geografi. Tes keterampilan geografi dilaksanakan setelah tindakan siklus I dan setelah dilaksanakan tindakan siklus II. Instrumen penelitian yang digunakan adalah soal esai keterampilan geografi yang berjumlah 5 soal dengan 14 butir pertanyaan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan dari tahap siklus I hingga siklus II. Rata-rata nilai keterampilan geografi pada siklus I sebesar 81,7 dan pada siklus II sebesar 88,8. Hal tersebut menunjukkan bahwa adanya peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar 7,5 (8,7%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan metode praktikum dapat meningkatkan keterampilan geografi siswa kelas X IPA 5 SMAN 10 Malan
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY PADA MATA PELAJARAN GEOGRAFI TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR ANALITIS SISWA KELAS X DITINJAU DARI TINGKAT INTELEGENSINYA
ABSTRAK Astuti, Desyana Dwi. 2018. Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Pada Mata Pelajaran Geografi Terhadap Kemampuan Berpikir Analitis Siswa Kelas X Ditinjau Dari Tingkat Intelegensinya. Skripsi. Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Hadi Soekamto, S.H,M.Pd,M.Si (2) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si Kata Kunci: Inquiry, Kemampuan Berpikir Analitis, Tingkat Intelegensi. Kemampuan berpikir analitis penting dikuasai siswa. Dengan kemampuan berpikir analitis, siswa akan berpikir dengan urutan yang sistematis. Meskipun penting untuk dikuasai, namun kenyataannya kemampuan berpikir analitis siswa di Indonesia masih rendah. Laporan hasil survei Trends in International Math and Science pada tahun 2015 yang menyatakan bahwa 95% siswa hanya bisa menjawab soal berkategori rendah (membutuhkan hafalan), sedangkan sisanya sekitar 5% yang bisa menjawab soal berkategori tinggi (membutuhkan penalaran). Rendahnya peringkat kemampuan berpikir analitis tersebut dapat disebabkan oleh pembelajaran yang kurang sesuai, seperti teacher center (berpusat pada guru). Selain itu, tingkat intelegensi yang dimiliki siswa ditengarai menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan berpikir analitis. Untuk mengembangkan kemampuan berpikir analitis siswa, perbaikan proses pembelajaran perlu dilakukan. Perbaikan tersebut dapat dilakukan melalui penggunaan model pembelajaran yang sesuai. Untuk menentukan model pembelajaran yang sesuai, perlu dilakukan eksperimen model pembelajaran, salah satunya model pembelajaran inquiry. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran inquiry pada mata pelajaran geografi terhadap kemampuan berpikir analitis siswa kelas X ditinjau dari tingkat intelegensinya. Rancangan penelitian ini menggunakan penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperiment) dengan desain penelitian posttest only control group design. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X IPS 5 sebagai kelas Eksperimen dan kelas X Lintas Minat 1 sebagai kelas kontrol. Penelitian ini menggunakan instrument berupa soal esai dengan 5 butir soal sesuai indikator kemampuan berpikir analitis. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan bantuan SPSS 16. 0 for windows. Untuk iji hipotesis digunakan ANAVA (F-test) dengan rancangan faktorial 2x3. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model Inquiry berpengaruh terhadap kemampuan berpikir analitis siswa kelas X di SMA N 1 Batu. Hal tersebut menunjukkan H0 ditolak H1 diterima. Nilai kemampuan berpikir analitis siswa yang menggunakan model inquiry lebih baik (88,33) dibandingkan siswa yang tidak menggunakan model tersebut (84,24). Selain itu, model inquiry juga berpengaruh terhadap kemampuan berpikir analitis siswa kelas X ditinjau dari tingkat intelegensinya. Hal tersebut ditunjukkan dari nilai kemampuan berpikir analitis siswa yang memiliki tingkat intelegensi yang tinggi memiliki nilai lebih baik dibandingkan siswa yang memiliki tingkat intelegensi sedang maupun rendah baik dikelas eksperimen maupun kontrol
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING BERBANTUAN MEDIA VISUAL UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI SISWA KELAS X IPS 1 SMA NEGERI 6 MALANG
ABSTRAK Kemampuan berpikir tingkat tinggi pada abad 21 sangat penting dengan tujuan menjamin siswa memiliki keterampilan belajar dan berinovasi, salah satu keterampilan tersebut adalah penggunaan teknologi dan media informasi serta pengembangan kemampuan berpikir siswa. Namun, kemampuan siswa dalam berpikir tingkat tinggi masih rendah, hal tersebut dibuktikan dengan hasil observasi yang dilakukan peneliti seperti hasil ulangan harian siswa dengan nilai rata-rata 44,75 dan pembelajaran yang terjadi masih berpusat pada guru dengan penggunaan strategi pembelajaran konvensional menggunakan metode ceramah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dengan menerapkan model PBL berbantuan media visual di kelas X IPS 1 SMA Negeri 6 Malang. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus penerapan model pembelajaran. Pada setiap siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Subyek penelitian ini yaitu kelas X IPS 1 SMA Negeri 6 Malang yang berjumlah 33 siswa. Penelitian ini menggunakan instrumen berupa 3 soal essay yang mewakili masing-masing indikator untuk pengukuran kemampuan berpikir tingkat tinggi dan diberikan pada akhir siklus. Analisis hasil kemampuan berpikir tingkat tinggi dengan cara membandingkan nilai rata-rata siklus I dengan siklus II. Hasil penelitian menunjukan bahwa model PBL berbantuan media visual dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas X IPS 1 SMA Negeri 6 Malang. Hasil penerapan model PBL menunjukan bahwa nilai rata-rata kemampuan berpikir tingkat tinggi siklus I sebesar 50,91 pada siklus II nilai rata-rata meningkat menjadi 74,33. Peningkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dari pra siklus ke siklus I sebesar 12.09%, dan siklus I ke siklus II sebesar 31,50%. Saran bagi guru seharusnya memperbaiki model pembelajaran yang dilakukan saat pembelajaran berlangsung sehingga mampu membuat siswa mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi