SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
1629 research outputs found
Sort by
Proyeksi Kebutuhan Beras Dalam Rangka Mempertahankan Kebutuhan Pangan Berdasarkan Hasil Proyeksi Penduduk Tahun 2015-2025 Di Kabupaten Lombok Timur
ABSTRAK RINGKASAN Wahyuni, Laili Wahyuni. 2017. Proyeksi Kebutuhan Beras Dalam Rangka Mempertahankan Kebutuhan Pangan Berdasarkan Hasil Proyeksi Penduduk Tahun 2015-2025 Di Kabupaten Lombok Timur. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Budijanto, M.Sos., (II) Drs. Marhadi Slamet Kistiyanto, M.Si Kata Kunci: Proyeksi Jumlah Penduduk, Proyeksi Produksi Beras, Rasio Kebutuhan Beras. Jumlah penduduk yang meningkat berbanding lurus dengan permintaan akan kebutuhan pokok sebagai penunjang kehidupan, salah satunya yaitu pangan. Terpenuhinya kebutuhan pangan sebagai salah satu tolok ukur dalam kesejahteraan masyarakat, agar tidak terjadi kekurangan bahan pangan maka perlu dilakukan proyeksi jumlah kebutuhan beras berdasarkan jumlah penduduk yang akan datang. penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui jumlah penduduk Kabupaten Lombok Timur tahun 2015-2025. (2) mengetahui jumlah produksi beras tahun 2015-2025. (3) mengetahui rasio antara konsumsi dengan ketersediaan beras di Kabupaten Lombok Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode komponen : (1) proyeksi jumlah penduduk dan proyeksi produksi beras dihitung dengan menggunakan aplikasi spectrum 4.4. (2) jumlah konsumsi beras penduduk menggunakan asumsi setiap 1 orang mengkonsumsi 121,21 kg pertahun atau setara dengan 0,38 kg perhari. (3) rasio anatara ketersediaan dengan konsumsi dapat diketahui dengan menghitung selisih antara produksi beras dengan konsumsi beras. Hasil penelitian yang ditemukan yaitu (1) Jumlah penduduk mengalami peningkatan yaitu pada tahun 2015 jumlah penduduk sebanyak 1.161.695 jiwa dan meningkat meninjadi 1.290.021 jiwa pada tahun 2025 atau 0,70%. (2) jumlah produksi beras mengalami peningkatan yaitu pada tahun 2015 sebanyak 262.249 ton dan 596.856 ton pada tahun 2025 atau setara dengan 4,83%. (3) produksi beras mampu memenuhi jumlah konsumsi penduduk hingga tahun 2025. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu jumlah kebutuhan akan bahan pangan (beras) terus mengalami peningkatan seiring dengan jumlah penduduk yang terus bertambah. Kejadian alam yang tidak menentu merupakan salah satu faktor yang sangat berbahaya bagi produksi beras yang dihasilkan sehingga membutuhkan perencanaan untuk mengetahui jumlah kebutuhan beras penduduk yang akan datang agar tidak terjadi permasalahan–permaslahan yang tidak diinginkan seperti kekurangan bahan pangan
Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Terhadap Hasil Belajar Geografi Siswa Kelas XI IPS
ABSTRAK Sprycharecha, Marsya brian. 2017. Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning Terhadap Hasil Belajar Geografi Siswa Kelas XI IPS. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Budi Handoyo, M.Si (II) Purwanto, S.Pd, M.Si Kata Kunci: Model Pembelajaran, Problem Based Learning, Hasil Belajar Geografi Kegiatan pembelajaran geografi di sekolah yang cenderung berpusat pada guru membuat minat siswa pada proses pembelajaran geografi menurun, sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar geografi siswa. Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) merupakan model yang berorientasi kepada masalah yang ada di kehidupan nyata, sehingga dalam penerapannya PBL menuntut siswa menjadi lebih aktif dalam memecahkan permasalahan yang ada di sekitarnya. Kegiatan pembelajaran yang menuntut siswa menjadi lebih aktif dianggap mampu untuk menarik minat siswa, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar geografi siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah model pembelajaran PBL berpengaruh terhadap hasil belajar geografi siswa kelas XI IPS di SMAN 1 Tulungagung. Jenis penelitian ini termasuk penelitian eksperimen semu (quasy experiment). Subjek penelitiannya adalah siswa kelas X IPS 3 sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas X IPS 1 sebagai kelas kontrol. Instrumen penelitian menggunakan soal esai dengan jumlah lima butir soal yang sudah melalui uji validitas dan uji reliabilitas. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis statistik dengan bantuan program SPSS 16.0 for windows. Uji prasyarat terdiri dari uji normalitas dan uji homogenitas sedangkan untuk uji hipotesis menggunakan independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran PBL berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar geografi siswa kelas XI IPS SMAN 1 Tulungagung. Hal ini dibuktikan dengan rata-rata nilai gain score kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol yaitu 11,37 untuk kelas eksperimen dan 2,25 untuk kelas kontrol. Pada hasil uji hipotesis dengan nilai sig. (2-tailed) yang diperoleh adalah 0.000 atau dengan kata lain nilai sig. (2-tailed
PENGETAHUAN TENTANG PENDEWASAAN USIA PERKAWINAN SISWA SMA NEGERI KOTA MALANG
ABSTRAK Robeth, Achmad. 2017. Pengetahuan tentangPendewasaanUsia Perkawinan Siswa SMA Negeri Kota Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Geografi FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Budijanto, M.Sos (II) Drs. Yusuf Suharto, M.Pd Kata Kunci: pendewasaan usia perkawinan, siswa, penduduk Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) adalah upaya untuk meningkatkan usia pada perkawinan pertama, sehingga mencapai usia minimal pada saat perkawinan yaitu 20 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi pria. Apabila seseorang gagal mendewasakan usia perkawinannya, maka dianjurkan untuk penundaan kelahiran anak pertama. PUP merupakan bagian dari Program KB untuk generasi muda dengan sebutan GenRe (Generasi Berencana). Dengan menunda usia perkawinan, diharapkan para remaja lebih siap dalam memasuki rumah tangga dan membina keluarga yang lebih harmonis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengetahuan dan perilaku siswa tentang pendewasaan usia perkawinan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif dengan menggunakan metode survey.Teknik penentuan sampel di daerah penelitian menggunakan Proporsional Stratified Random Sampling dengan kategori pengambilan sampel berdasarkan tingkatan rayonisasi sekolah di kota Malang dan sampel siswa kelas 12. Variabel dalam penelitian ini adalah pengetahuan dan perilaku siswa tentang pendewasaan usia perkawinan.Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, pedoman wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan yaitu analisis tabulasi tunggal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1)Pengetahuan siswa SMA Negeri Kota Malang mengenai pendewasaan usia perkawinan tergolong rendah, disebabkan oleh kurangnya pemahaman dan sosialisasi pemerintah yang kurang optimal, (2) Perilaku siswa SMA Negeri Kota Malang mengenai pendewasaan usia perkawinan masih tergolong kurang. Dikarenakan siswa masih kurang mempunyai keyakinan dan sikap dalam pengambilan keputusannya kelak. Selain itu sikap siswa juga mengkritisi kebijakan pemerintah yang kurang dalam program pendewasaan usia perkawinan ini. Saran dalam penelitian ini adalah meningkatkan sosialisasi kepada siswa dan pemerintah juga harus bisa membuat program yang lebih baik dan lebih condong ke instansi pendidikan. Serta program keluarga berencana harus lebih ditingkatkan secara kualitas dan kuantitas
Pengaruh Jarak antar Pedagang, Jam Kerja dan Modal Usaha terhadap Pendapatan Pedagang Kaki Lima di Sekitar Kawasan Universitas Negeri Malang
Elsanty, Olivia Lidya. 2017. Pengaruh Jarak antar Pedagang, Jam Kerja dan Modal Usaha terhadap Pendapatan Pedagang Kaki Lima di Sekitar Kawasan Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Marhadi Slamet Kistiyanto, M.Si., (II) Dr. Singgih Susilo M.S., M.Si Kata Kunci: Jarak antar Pedagang, Jam Kerja, Modal, Pendapatan, Pedagang Kaki Lima Keberadaan kawasan pendidikan tinggi di suatu kota akan menimbulkan berbagai macam aktivitas, baik aktivitas utama dalam pendidikan maupun aktivitas pendukung berjalannya aktivitas utama tersebut. Hal inilah yang membuka kesempatan bagi sebagian orang untuk melaksanakan aktivitas pada sektor informal, yang seringkali ditemui berupa pedagang kaki lima. Perbedaan kemampuan berdagang yang dimiliki tiap orang, akan berpengaruh pada penghasilan yang akan diperoleh. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jarak antar pedagang, jam kerja dan modal terhadap pendapatan Pedagang Kaki Lima; serta untuk mengetahui faktor manakah yang paling dominan dalam mempengaruhi pendapatan pedagang kaki lima di sekitar Universitas Negeri Malang Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, sehingga dilakukan wawancara dan observasi langsung terhadap responden melalui panduan kuesioner. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan tabulasi tunggal, tabulasi silang, analisis statistik regresi menggunakan software SPSS 16.0. Hasil penelitian yang ditemukan yaitu (1) Karakteristik responden berdasarkan umur, didominasi oleh pedagang kaki lima yang berumur 18-36 tahun yakni sebanyak 58 orang (54,21%); sedangkan berdasarkan jenis kelamin, responden didominasi oleh pedagang laki-laki sebanyak 62 orang (57,94%); (2) Variabel jarak antar pedagang tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan pedagang kaki lima; (3) Variabel jam kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan pedagang kaki lima; (4) Variabel modal berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan pedagang kaki lima; (5) Variabel yang paling dominan memberikan pengaruh pada pendapatan pedagang kaki lima di sekitar kawasan pendidikan Universitas Negeri Malang adalah modal, dengan sumbangan terbesar yang diberikan variabel modal merupakan pengaruh dominan yang bersifat positif
pengaruh model team assisted individualization terhadap hasil belajar geografi siswa kelas x ma mambaul ulum kabupaten probolinggo
Abstrak pemilihan model pembelajaran yang tepat akan memperbesar peluang pencapaian keberhasilan belajar siswa. pemilihan model pembelajaran harus memperhatikan kemampuan siswa yang secara umum tidak sama anatara siswa satu dengan yang lain. faktor utama adalah intelegensi dan latar belakang siswa yang beragam. selain itu daya serap terhadap materi pelajaran anatara siswa yang satu dengan siswa yang laintidak sama sehingga mempengaruhi hasil belajar yang dicapai. oleh karena itu guru perlu alternatif model pembelajaran utnuk mengatasi keberagaman karaktesiktik siswa tersebut, salah satunya adalah dengan pembelajaran individual. namun demikian, banyaknya jumlah siswa dalam kelas dan berbagai kekurangan dalam pembelajaran individu seperti efektivitas pembelajaran, waktu, tenaga dan tuntutan kurikulum, serta kendala yang lain, maka pembelajaran individu sangat tidk dimungkinkan untuk dilaksanakan. penelitian ini pertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan model tai terhadap hasil belajar geografi. penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen semu (quasi experiment), menggunakan rancangan pretest-posstest-control group design. subjek penelitian terdiri dari satu kelas eksperimen dan satu kelas kontrol. teknik analisis data menggunakan uji-t dengan spss 16.00 for windows. hasil analisis data menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang menggunakan model tai lebih baik daripada siswa yang tidak menggunakan model tai. dengan demikian dapat dikemukakan bahwa penggunaan model tai berpengaruh pada hasil belajar siswa. alternatif yang dapat dilakukan guru yaitu melalui penggunaan model pembelajaran yang mengarah pada pembelajaran individu secara terprogram. adapun model pembelajaran yang sesuai dengan permasalah tersebut adalah model team assisted individualization (tai). model tai dirancang sebagai model pembelajaran yang mengkombinasikan pembelajaran individu dengan pembelajaran kooperatif. dengan model tai maka kelemahan yang ada dalam pembelajaran individu maupun pada pembelajaran kooperatif dapat diminimalisir dengan kelebihan yang ada. dengan demikian dapat dikemukakan bahwa penggunaan model tai berpengaruh pada hasil belajar geografi siswa. saran yang diajukan untuk guru bidang studi geografi adalah menjadikan model tai sebagai alternatif model pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa. saran untuk penelitian selanjutnya adalah menguji cobakan model tai pada materi berbeda dan jenjang kelas atau sekolah yang lebih tinggi, serta mengkombinasikan dengan media pembelajaran yang lebih variataif sehingga tampak pengaruh yang besar terhadap hasil belajar siswa dan memperoleh manfaat yang lebih besar dari model tai
PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING PADA MATA PELAJARAN GEOGRAFI TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR ANALITIS SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 BATU DI TINJAU DARI TINGKAT KECERDASAN INTELEKTUALNYA
ABSTRAK Pendidikan saat ini perlu adanya peningkatan kualitas pembelajaran. Salah satunya adalah peningkatan kemampuan berpikir. Salah satu kemampuan yang perlu dimiliki siswa yaitu kemampuan berpikir analitis. Kemampuan berpikir analitis dapat diperoleh melalui pembelajaran yang inovatif. Kemampuan berpikir analitis menjadikan siswa dapat menentukan hubungan logis, sehingga dapat menemukan penyebab dari permasalahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model Problem Based Learning terhadap kemampuan berpikir analitis siswa kelas XI SMA Negeri 1 Batu ditinjau dari tingkat kecerdasannya.Rancangan penelitian ini adalah eksperimen semu dengan desain postest only control grup design yang terdiri dari kelas eksperimen dan kontrol. Subjek penelitian ini yaitu kelas XI IPS 4 sebagai kelas eksperimen dan XI IPS 5 sebagai kelas kontrol. Penelitian ini menggunakan instrumen berupa soal essai sebanyak 4 butir dengan pedoman penskoran kemampuan berpikir analitis. Perhitungan tes kemampuan berpikir analitis dan tingkat kecerdasan siswa menggunakan faktorial 2x3. Teknik analisis data menggunakan SPSS 16.0 for windows. Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji-f (analysis of variance).Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model Problem Based Learning berpengaruh terhadap kemampuan berpikir analitis siswa SMA Negeri 1 Batu. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa kemampuan berpikir analitis kelas yang menggunakan model Problem Based Learning memiliki nilai rata-rata (85,5) lebih tinggi dari kelas yang tidak menggunakan model Problem Based Learning (79,5). Selain itu, model Problem Based Learning ditinjau dari tingkat kecerdasan juga berpengaruh terhadap kemampuan berpikir analitis siswa SMA Negeri 1 Batu. Dengan kata lain, menunjukkan bahwa H0 ditolak, sehingga menerima H1 yang artinya model Problem Based Learning ditinjau dari tingkat kecerdasannya berpengaruh terhadap kemampuan berpikir analitis siswa SMA Negeri 1 Bat
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN SAINS TEKNOLOGI DAN MASYARAKAT TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR SPASIAL SISWA SMA NEGERI 2 MALANG
ABSTRAK Sains Teknologi Masyarakat (STM) merupakan model yang mengarahkan dan melibatkan siswa untuk siap dan dalam menghadapi permasalahan yang ada dalam masyarakat dengan menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya. Siswa menemukan, menganalisis, dan memecahkan masalah yang terjadi. Proses tersebut membutuhkan kemampuan berpikir spasial yang berkaitan dengan ruang untuk memecahkan masalah. Masalah yang disajikan dala pemberian alasan merupakan masalah yang berkaitan dengan lingkungan sekitar sehingga dapat memunculkan daya tarik siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran sains, teknologi dan masyarakat terhadap kemampuan berpikir spasial siswa. Jenis penelitian ini adalah Quasy Experiment dengan pretest-posttest control group design. Subjek Penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS 2 sebagai kelas eksperimen dan XI IPS 3 sebagai kelas kontrol. Data yang diperoleh dari penelitian ini adalah data kemampuan berpikir spasial siswa. Instrumen penelitian ini terdiri dari 8 soal essai yang telah divalidasi dengan menggunakan validasi isi. Analisis data yang digunakan adalah dengan menggunakan independent sample t-test dengan bantuan SPSS 16.00 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat berpengaruh terhadap kemampuan berpikir spasial siswa. Hal tersebut dapat dilihat dari perbedaan nilai rata-rata kelas kemampuan berpikir spasial siswa, dimana rata-rata nilai kelas eksperimen sebesar 90,41, sedangkan nilai rata-rata kelas kontrol 81,79. Berdasarkan hasil analisis uji t menunjukkan signifikansi sebesar 0,023. Dengan demikian, nilai signifikansi 0,023 < 0,05, maka H0 ditolak. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat berpengaruh terhadap kemampuan berpikir spasial siswa SMA Negeri 2 Malang. Guru disarankan untuk menerapkan model pembelajaran Sains Teknologi dan Masyarakat dalam mebelajaran di sekolah, karena mampu meningkatkan kemampuan berpikir spasial siswa. Peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian mengenai model pembelajaran Sains, Teknologi dan Masyarakat pada materi lain dan mengukur kemampuan lainnya.
Pengaruh Model Argument-Driven Inquiry (ADI) terhadap keterampilan Argumentasi dan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa.
ABSTRAK Tujuan dilaksanakan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh model Argument-Driven Inquiry (ADI) terhadap keterampilan argumentasi dan keterampilan berpikir kritis siswa.Berdasarkan hasil observasi dan hasil uji analisis kebutuhan yang dilakukan di SMAN 06 Malang menunjukkan bahwa keterampilan argumentasi dan keterampilan berpikir siswa masih rendah. Hal tersebut terjadi karena guru mata pelajaran masih cenderung melakukan kegiatan pembelajaran berbasis teacher center seperti penjelasan materi, penugasan, dan tanya jawab. Kegiatan pembelajaran tersebut menjadikan pembelajaran Biologi sebagai pembelajaran berbasis proses, pengembangan sikap dan aplikasi tidak tersentuh, sehingga siswa tidak dapat mengembangkan keterampilan abad 21 yang dimiliki. Keterampilan abad 21 yang penting untuk dimiliki siswa seperti keterampilan argumentasi dan keterampilan berpikir kritis, karena keterampilan tersebut dapat membantu siswa memahami konsep dalam kegiatan pembelajaran. Upaya yang dilakukan dalam mengoptimalkan peningkatan keterampilan argumentasi dan keterampilan berpikir kritis siswa yaitu dengan kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan penyelidikan, diksusi, dan analisis suatu permasalahan melalui model Argument-Driven Inquiry (ADI). Oleh karena itu, model Argument-Driven Inquiry (ADI) diharapkan mampu meningkatkan keterampilan argumentasi dan keterampilan berpikir kritis siswa. Desain penelitian yang dilakukan adalah kuasi eksperimen dengan rancangan pretest posttest non-equivalent control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMAN 06 Malang yang terdiri dari empat kelas pada tahun ajaran 2017/2018 semester genap. Total sampel yang digunakan yaitu 2 kelas eksperimen dengan pembelajaran model ADI dan 2 kelas kontrol dengan pembelajaran konvensional. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode simple random sampling yang dilakukan setelah memperhatikan ciri-ciri, di antaranya; siswa mendapat materi berdasarkan kurikulum yang sama, diampu oleh guru yang sama, dan pembagian kelas yang homogen berdasarkan nilai rapor pada semester gasal. Pada teknik simple random sampling, menggunakan empat kelas secara acak dari populasi harus berdistribusi normal dan memiliki homogenitas yang sama. Berdasarkan hasil anava, empat kelas dipilih sebagai sampel, dua kelas untuk kelas eksperimen dan dua kelas untuk kelas kontrol dengan menggunakan teknik sampel acak. Uji prasyarat hasil penelitian berupa uji homogenitas varian dan uji normalitas, sedangkan untuk uji hipotesis menggunanakan teknik analisis anakova dengan taraf signifikasi 0,5% Hasil uji anakova menunjukkan bahwa model ADI berpengaruh terhadap keterampilan argumentasi dan keterampilan berpikir kritis siswa. Hal ini berarti terdapat perbedaan keterampilan argumentasi dan keterampilan berpikir kritis siswa yang dibelajarkan dengan model ADI dengan pembelajaran konvensional. Siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran ADI mengalami peningkatan keterampilan argumentasi dan keterampilan berpikir kritis lebih tinggi dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. Rerata terkoreksi keterampilan argumentasi dengan model pembelajaran ADI lebih tinggi sebesar 11.751 dan rerata terkoreksi keterampilan berpikir kritis model pembelajaran ADI lebih tinggi sebesar 1.07 dibandingkan rerata terkoreksi pembelajaran konvensional
PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH DINAMIKA HIDROSFER KELAS X IPS 3 SMAN 1 TUREN KABUPATEN MALANG
ABSTRAK Romli, Rizky Putri. 2018. Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan Kemampuan Memecahkan MasalahDinamika Hidrosfer Kelas X IPS 3SMAN 1 Turen Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Hadi Soekamto, S.H, M.Pd, M.Si., (2) Drs. Rudi Hartono, M.Si. Kata kunci: Model Pembelajaran Problem Based Learning, Kemampuan Memecahkan Masalah Pembelajaran di dalam kelas tidak lepas dari berbagai macam permasalahan. Salah satu permasalahan tersebut yaitu, rendahnya kemampuan memecahkan masalah. Diketahui bahwa peserta didik kelas X IPS 3 SMAN 1 Turen Kabupaten Malang memiliki kemampuan memecahkan masalah yang rendah. Hal tersebut diketahui melalui analisis penyebab rendahnya kemampuan memecahkan masalah yang terdiri dari (1) peserta didik; (2) guru; (3) sarana dan prasarana; (4) penerapan strategi pembelajaran. Berdasarkan analisis penyebab tersebut, diketahui bahwa penerapan strategi pembelajaran merupakan penyebab utama rendahnya kemampuan memecahkan masalah peserta didik. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan model pembelajaran yang tepat dan berorientasi pada kompetensi peserta didik khususnya dalam kemampuan memecahkan masalah. Model pembelajaran yang disarankan untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu model Problem Based Learning (PBL). Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan memecahkan masalah peserta didik kelas X IPS 3 SMA Negeri 1 Turen Kabupaten Malang menggunakan model Problem Based Learning (PBL). Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan subjek penelitian peserta didik kelas X IPS 3 SMA Negeri 1 Turen Kabupaten Malang yang berjumlah 30 orang. Penelitian ini dilaksanakan dengan dua siklus, setiap siklus terdiri dari empat langkah proses pembelajaran yang meliputi orientasi mahasiswa pada masalah, mengorganisasi mahasiswa untuk belajar, membimbing penyelidikan individu/kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, serta menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu nilai hasil tes kemampuan memecahkan peserta didik. Tes kemampuan memecahkan masalah dilaksanakan setelah tindakan siklus I dan siklus II. Instrumen penelitian yang digunakan adalah soal esai kemampuan memecahkam masalah yang berjumlah 4 soal dengan 12 butir pertanyaan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan dari tahap siklus I hingga siklus II. Rata-rata nilai kemampuan memecahkan masalah peserta didik pada siklus I sebesar 79,46 dan pada siklus II sebesar 84,44. Hal tersebut menunjukkan bahwa adanya peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar 4,98 (6,27%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah peserta didik kelas X IPS 3 SMA Negeri 1 Turen Kabupaten Malang
Identifikasi Kebutuhan Media Pembelajaran Geografi SMAN se-Kota Kediri Berdasarkan Kurikulum 2013 Edisi Revisi
ABSTRAK Panharseno, Guntar,. 2018. Identifikasi Kebutuhan Media Pembelajaran Geografi SMA Se-Kota Kediri Berdasarkan Kurikulum 2013 Edisi Revisi. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Yusuf Suharto, M.Pd., (II) Drs. Djoko Soelistijo, M.Si. Kata kunci : Kebutuhan, Media Pembelajaran, Kurikulum 2013 edisi revisi Kurikulum 2013 edisi revisi adalah kurikulum terbaru yang digunakan sebagai pedoman proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Kurikulum 2013 edisi revisi menetapkan bahwa dasar dari kurikulum ini adalah untuk membentuk peserta didik yang mempunyai kompetensi di semua bidang dan dapat merepakanannya dikehidupan masyarakat. Penerapan kurikulum dapat di lakukan dengan membuat sebuah sistem kelulusan yang dapat di turunkan ke dalam kompetensi dasar untuk sebuah mata pelajaran. Salah satunya adalah geografi yang ditempatkan pada peminatan ilmu-ilmu sosial yang mana kajiannya di arahkan pada sudut pandang keberadaan dan aktivitas manusia yang dipengaruhi oleh alam.. Kajian ilmu geografi yang luas menuntut guru dalam proses pembelajaran mengunakan media yang mana dapat membuat pemahaman peserta didik lebih baik. Oleh karena itu peran media sangat penting dalam proses pembelajaran sehingga dapat membantu penerimaan materi dari guru ke peserta didik. Ketersediaan media yang ada di sekolah-sekolah sangat perlu di perhatikan agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan mampu meningkatkan pemahaman materi peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang 1) ketersediaan media, meliputi jenis, jumlah, dan kondisi, 2) kebutuhan media pembelajaran geografi SMAN di Kota Kediri berdasarkan kurikulum 2013 edisi revisi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Data penelitian merupakan data kuantitatif. Penelitian dilakukan di SMAN se-Kota Kediri pada bulan April-Juni 2018. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru geografi dari kelas X, XI, XII yang meliputi 8 sekolah negeri. Teknik pengumpulan data yang digunakan dengan observaasi dan angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) ketersediaan media, meliputi: a) jenis media paling banyak adalah video pembelajaran, gambar dan peta, b) jumlah media geografi tergolong kurang atau belum memenuhi dengan persentase 25% memenuhi dan 75% belum memenuhi, dan c) kondisi media geografi tergolong baik. Walaupun kenyataan nya dari jenis media banyak sekolah yang masih belum memiliki sejumlah media yang sangat dibutuhkan geografi seperti bagan, grafik dan model realia. Selain itu dari segi jumlah banyak media yang masih diperlukan untuk proses penggadaan sehingga media yang ada di sekolah akan cukup untuk memenuhi kebutuhan peserta didik. kondisi media geografi tergolong baik hal ini diketahui bahwa pihak sekolah telah mampu memonitoring penggunaan media sehingga dapat digunakan dengan baik. Berdasarkan hasil temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa ketersedian media yang ada di SMAN Kota Kediri masih tergolong belum memenuhi dengan persentase 25% dalam hal jenis media, jumlah dan kondisi. Oleh karena itu disarankan beberapa hal yaitu 1) guru diharapkan dapat meningkatkan lagi mengenai ketrampilan dalam menggunakan media, 2) memonitoring dan memberikan pengawasan terhadap penggunaan media yang akan di pakai oleh guru, 3) lebih intensif dalam memontoring penggunaan media dan mampu menyediakan media yang sesuai dengan kebutuhan kurikulum