SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
1629 research outputs found
Sort by
Pemanfaatan Lingkungan Sekitar Sebagai Sumber Belajar Untuk Menigkatkan Minat & Hasil Belajar Siswa Kelas X IPS 3 di SMA Negeri 6 Malang
RINGKASAN Presilia, Reva. 2019. Pemanfaatan Lingkungan Sekitar Sebagai Sumber Belajar Untuk Menigkatkan Minat & Hasil Belajar Siswa Kelas X IPS 3 di SMA Negeri 6 Malang. Skripsi. Jurusan Geografi. Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Yusuf Suharto,. (II) Drs. Marhadi Slamet Kistiyanto, M. Si. Kata Kunci : Lingkungan Sekitar, Sumber Belajar, Minat Belajar, Hasil Belajar. Minat belajar yang sangat tinggi diperlukan dalam menunjang proses belajar siswa. Minat belajar yang tinggi mampu menunjang hasil belajar siswa, sebaliknya minat belajar yang rendah mampu memberikan dampak terhadap rendahnya hasil belajar siswa. Hasil observasi pada pra tindakan menyatakan siswa sangat kurang berminat terhadap mata pelajaran geografi. Ditambah banyak siswa yang mendapat nilai remedial atau nilai dibawah nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Sebagai solusi alternatif permasalahan pembelajaran, dapat melalui Pembelajaran dengan Memanfaatkan Lingkungan Sekitar Sebagai Sumber Belajar. Diharapkan dengan penelitian ini, mampu untuk meningkatkan minat dan hasil belajar siswa Kelas X IPS 3 SMA Negeri 6 Malang. Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari satu pertemuan. Peneliti terlibat dalam keseluruhan proses penelitian, mulai dari pra tindakan, perencanaan, penyusunan bahan ajar, pelaksanaan, pengumpulan data, dan penganalisis data. Teknik pengumpulan data dengan observasi, tes dan kuesioner. Keterlaksanaan proses pembelajaran menggunakan lembar observasi, hasil belajar menggunakan tes sedangkan minat belajar menggunakan kuesioner. Hasil belajar diukur menggunakan indikator kompetensi, sedangkan minat menggunakan indikator minat belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar mampu meningkatkan minat belajar. Berdaerkan keterangan obsever peningkatan terlihat saat proses pembelajaran siklus II berlangsung. Siswa mampu mengidentifikasi tugas dengan baik saat observasi lapangan. Pelaksanaan pembelajaran siklus II lebih terstruktur, setelah sebelumnya hasil diskusi refleksi siklus I dilakukan perbaikan. Keberhasilan pada rata-rata nilai minat rata-rata 82,95 pada siklus I lalu meningkat lagi menjadi 82,95 pada siklus II . Peningkatan hasil belajar siswa dari rata-rata 44,464 saat pra tindakan meningkat menjadi 51,58 pada siklus I dan mengalami peningkatkan pada siklus II sebesar 66,16. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa Kelas X IPS 3 di SMA Negeri 6 Malang. Berdasarkan kesimpulan diatas, terdapat beberapa hal sebagai berikut : (1) Keberhasilan penelitian berdasarkan kualitatif yakni ketika peningkatan proses pembelajaran pada siklus II. (2) Peningkatan kuantitatif berdasarkan peningakatan minat belajar dan hasil belajar siswa. (3) Demikian dapat disimpulkan bahwa memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa Kelas X IPS 3 di SMA Negeri 6 Malang. SUMMARY Presilia, Reva. 2019. Utilization of the Neighborhood as a Learning Resource to Increase Interest & Learning Outcomes of Students of X Social 3 Class in Senior High School Number 6 of Malang. Essay. Department of Geography. Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Malang. Advisor: (I) Drs. Yusuf Suharto ,. (II) Drs. Marhadi Slamet Kistiyanto, M. Si. Keywords: Neighborhood, Learning Resources, Learning Interest, Learning outcomes A very High interest in learning can support student learning outcomes, on the contrary low learning interest can have an impact on the low student learning outcomes. The results of observations on pre-action stated that students were very less interested in geography subjects. Plus many students get remedial scores or values below the minimum completeness criteria . As an alternative solution to learning problems, it can be through Learning by Utilizing the Neighborhood as a Learning Resource. It is expected that with this study, able to increase interest and learning outcomes of students of X Social 3 Class IN Senior High School Number 6 Malang. This study includes classroom action research which consists of two cycles, each cycle consisting of one meeting. The researcher is involved in the entire research process, starting from pre-action, planning, preparation of teaching materials, implementation, data collection, and data analyzer. Data collection techniques with observation, tests and questionnaires. The implementation of the learning process uses an observation sheet, learning outcomes use tests while the interest in learning uses a questionnaire. Learning outcomes are measured using competency indicators, while interest in using indicators of learning interest. The results of the study indicate that learning utilizes the surrounding environment as a learning resource capable of increasing learning interest. Make an explanation of the increase in obsever seen during the second cycle of learning. Students are able to identify tasks well during field observations. The implementation of the second cycle of learning is more structured, after the results of the discussion on reflection on the first cycle were made improvements. The success of the average value of interest average 82.95 in the first cycle then increased again to 82.95 in the second cycle. Increasing student learning outcomes from an average of 44,464 during preaction increased to 51,58 in the first cycle and experienced an increase in the second cycle of 66,16. Thus it can be concluded that utilizing the surrounding environment as a learning resource can increase the interest and learning outcomes of students of X Social 3 Class IN Senior High School Number 6 Malang Based on the conclusions above, there are several things as follows: (1) The success of the research is based on qualitative, when the learning process increases in the second cycle. (2) Quantitative improvement based on increasing the value of learning interest and student learning outcomes. (3) It can be concluded that utilizing the surrounding environment as a learning resource can increase the learning interest and learning outcomes of students of X Social 3 Class in Senior High School Number 6 Malang
Pengaruh Model Pembelajaran Science Environment Technology and Society (SETS) berbasis Teknologi Geospasial Terhadap Kemampuan Memecahkan Masalah Peserta Didik MAN Kota Batu dalam Pembelajaran Geografi.
RINGKASAN Saprowi, Ahmat. 2018. Pengaruh Model Pembelajaran Science Environment Technology and Society (SETS) berbasis Teknologi Geospasial Terhadap Kemampuan Memecahkan Masalah Peserta Didik MAN Kota Batu dalam Pembelajaran Geografi. Skripsi. Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd, (II) Purwanto, S.Pd., M.Si. Kata Kunci: model pembelajaran SETS, teknologi geospasial, kemampuan memecahkan masalah. Geografi memiliki keunggulan yaitu, 1) mengembangkan sikap melindungi dan tanggung jawab terhadap kualitas lingkungan, dan 2) teknologi geospasial Geografi mendukung pendekatan multidisiplin untuk menyelidiki isu lingkungan saat ini. Keunggulan tersebut didukung oleh kurikulum 2013 dengan pendekatan saintifik dalam kegiatan pembelajarannya. Sayangnya, pembelajaran Geografi di kelas saat ini masih menggunakan metode ceramah, sehingga keunggulan Geografi belum optimal. Untuk mengoptimalkan keunggulan tersebut diperlukan model pembelajaran yang memfasilitasi peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang dapat meningkatkan kemampuan memecahkan permasalahan lingkungan. Adapun model pembelajaran yang memberikan fasilitas tersebut ialah Science, Environment, Technology, and Society (SETS) berbasis teknologi geospasial. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh model pembelajaran SETS berbasis teknologi geospasial terhadap kemampuan memecahkan masalah peserta didik kelas X MAN Kota Batu. Penelitian ini dirancang menggunakan eksperimen semu dengan posttest only control group design. Subyek penelitian ini adalah kelas X IPS 2 sebagai kelas eksperimen dan X IPS 3 sebagai kelas kontrol. Data yang diperoleh dari penelitian ini adalah data kemampuan memecahkan masalah peserta didik. Instrumen penelitian ini terdiri dari 6 soal uraian yang telah divalidasi menggunakan validasi isi. Analisis data yang digunakan adalah dengan menggunakan independent sample t-test dengan bantuan SPSS 16.00 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai probabilitas (sig. 2-tailed) yaitu 0,004 < 0.05 dan rata-rata (mean) kelas eksperimen (73,91), hasil tersebut lebih tinggi daripada kelas kontrol (65,50). Hasil uji hipotesis dapat disimpulkan H0 ditolak yang berarti terdapat pengaruh model pembelajaran SETS berbasis teknologi geospasial terhadap kemampuan memecahkan masalah geografi peserta didik kelas X MAN Kota Batu. Berdasarkan temuan penelitian, saran bagi guru, model SETS berbasis teknologi geospasial dapat digunakan oleh guru dalam pembelajaran, dikarena model ini memiliki keunggulan 1) teknologi geospasial yang membantu analis pemecahan masalah dan, 2) dapat mengembangkan literasi teknologi peserta didik. Saran bagi peneliti lanjut, 1) perancangan perencanan pembelajaran model ini harus dilakukan beberapa bulan sebelum penelitian, 2) memastikan dukungan ketersediaan dan spesifikasi sarana komputer untuk teknologi geospasial, dan 3) perlu diketahui dahulu kemampuan peserta didik dalam mengoperasikan teknologi geospasial. SUMMARY Saprowi, Ahmat. 2018. The Effect of Science Environment Technology and Society (SETS) based Geospatial Technology Learning Model to Students’ Solving Problems Ability in MAN Kota Batu of Geography Learning. Thesis. Department of Geography, Faculty of Social Sciences, State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd, (II) Purwanto, S.Pd., M.Si. Keywords: SETS learning model, geospatial technology, problem solving skills. Geography has advantages, 1) developing a protective and responsible attitude towards environmental quality, and 2) geospatial technology Geography supports a multidisciplinary approach to investigating current environmental issues. This advantage is supported by the 2013 curriculum with a scientific approach to learning activities. Unfortunately, the learning of Geography in the classroom is currently still using the lecture method, so the advantages of Geography are not optimal. To optimize these advantages, a learning model is needed that facilitates students to gain learning experiences that can improve their ability to solve environmental problems. The learning model that provides these facilities is Science, Environment, Technology, and Society (SETS) based on geospatial technology. The purpose of this study was to determine the effect of Science Environment Technology and Society (SETS) based Geospatial Technology Learning Model to Students Solving Problems Ability in MAN Kota Batu on Geography Learning. This study was designed using quasi-experimental with post-test only control groups design. The subjects of this study are students of X IPS 2 as the experimental group and students of X IPS 3 as the control group. The data obtained from this study is data on students' problem solving abilities. The instrument of this study consists of 6 essay questions that have been validated using content validation. Analysis of the data used was by using an independent sample t-test with the help of SPSS 16.00 for windows. The results showed that the probability value (sig. 2-tailed) was 0.00
Analisis Kerawanan Bencana Banjir di Sub-Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Lamong Kabupaten Gresik
RINGKASANMamlu’atul Maghfiroh. 2019. Analisis Kerawanan Bencana Banjir Di Sub-Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Lamong Kabupaten Gresik. Skripsi, Program Studi Geografi, Jurusan Geografi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Sugeng Utaya, M.Si. (II) Dr. Didik Taryana M.Si. Kata Kunci: bentuk lahan, kerawanan banjir, kali lamong, kabupaten gresik.Kerawanan banjir Kali Lamong di wilayah Kabupaten Gresik diindikasikan oleh beberapa hal, diantaranya yaitu air luapan sungai Kali Lamong yang melebihi kapasitas tampungan, kondisi topografi yang relatif datar, serta perubahan alih fungsi lahan di daerah hulu dan hilir yang kurang tepat. Hampir setiap tahun kali lamong di wilayah Kabupaten Gresik mengalami bencana banjir. Berdasarkan berita yang di peroleh dari BNPB tahun 2014 menyebutkan bahwa banjir Kali Lamong menyebabkan 7.957 rumah terendam banjir, ratusan hektar sawah dan tambak terendam banjir di 42 desa dari 5 kecamatan dan mengakibatkan 2 orang meninggal dunia akibat terhanyut banjir. Berdasarkan masalah diatas, maka dilakukan penelitian tentang “ Analisis Kerawanan Bencana Banjir Di Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Lamong Kabupaten Gresik”.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkat kerawanan bencana banjir dan penyebab terjadinya banjir kali lamong di wilayah gresik. Merupakan penelitian survey dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Objek penelitian ini di wilayah gresik yang di lewati oleh kali lamong. Sampel penelitian didapatkan dari peta bentuk lahan hasil overlay dari peta kemiringan lereng, jenis tanah, dan penggunaan lahan. Metode penentuan sampel menggunakan purposive sampling. Teknik analisis menggunakan skoring dan analisis deskriptif.Berdasarkan hasil analisis peta tigkat kerawanan banjir yang didapatkan, banjir kali lamong di wilayah gresik terdapat 3 kelas kerawanan banjir yaitu: kelas sedang dengan luas 8.378,73 ha dengan persentase 24,91%, kelas rawan banjir dengan luas 4.894,64 ha dengan persentase 14,55%, kelas sangat rawan banjir dengan luas 20.367,97 ha dengan persentase 60,54%. Banjir kali lamong disebabkan oleh kemiringan lereng yang datar (8 – 15%), ketinggian 0 – 10 mdpal, penggunaan lahan berupa permukiman dan sawah, volume air sungai yang besar, serta bentuk DAS bulat. Saran yang dapat diberikan yaitu melakukan perbaiakn dan pengaturan sungai di daerah hulu dan hilir dengan membuat bangunan pengontrol air seperti waduk dan bendungan, membuat arah jalur evakuasi sebagai pengamanan masyarakat terdampak banjir. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai analisis tingkat kerawanan bencana banjir kali lamong dengan cakupan wilayah yang lebih kecil. SUMMARYMamlu’atul Maghfiroh. 2019. Analysis of Flood Vulnerability in Kali Lamong Watershed Sub-Region (DAS) Gresik Regency. Thesis. Geography Study Program, Departement of Geography, Faculty of Social Science, Malang State University. Advisor (I) Prof. Dr. Sugeng Utaya, M.Si. (II) Dr. Didik Taryana M.Si.Keywords: landform, flood vulnerability, Kali Lamong, Gresik Regency.Flood vulnerability of Kali Lamong in Gresik Regency is indicated by several things, including Kali Lamong river overflow that exceeds the storage capacity, flat topographic conditions, as well as inappropriate changes in land functions in the upsteam and downstream areas. Almost every year, Kali Lamong in Gresik Regency is flooded. Besed on the news obtained from BNPB 2014, Kali Lamong’s flood caused 7.957 houses to be flooded, hundred of hectrares of fice fields and fish farm are flooded in 42 villages from 5 sub-districts and caused 2 people to die because they were swept away by flooding. Based on the problems, a study is conducted on “Analysis of Flood Vulnerability in Kali Lamong Watershed Sub-Region (DAS) of Gresik Regency”.The purpose of this study is to determine the level of flood vulnerability and the causes of Kali Lamong flooding in Gresik Regency. This study is a survey research with a quantitative descriptive approach. The object of this study is Gresik region that passed by Kali Lamong. The specimen of this research is obtained from overlay results of landform maps from slope maps, soil types and land use. The method of determining the sample uses purposive sampling. The analysis technique uses scoring and descriptive analysis. Based on the result of the map analysis of flood vulnerability obtained, there are 3 classes of flood vulnerability in Kali Lamong in Gresik region, namely: medium class with an area of 8.378,73 ha with a percentage of 24,91%, flood vulnearability class with an area of 4.894,64 ha with persentage of 14,55%, the most flood vulnerability class with an area of 20.367,97 ha with a percentage of 60.54%. Kali Lamong flooding is caused by a flat slope ( 8 – 15 %), a height of 0 – 1 mdpal, land use in the form of settlements and rice fields, large volumes of river water, and the shape of around watershed. The advice that can be given is to make improvements and regulate rivers in the upstream and downstream areas by making water control buildings such as reservoirs and dams, making the direction of evacuation route as a safeguard for the affected communities. Further research is needed regarding the analysis of flood vulnerability in Kali Lamong with smaller area coverage
Penanaman Nilai Demokrasi dalam kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 Purwosari
PENANAMAN NILAI DEMOKRASI DALAM KEGIATAN OSIS DI SMA NEGERI 1 PURWOSARI Alif Al Fiansyah Surel : Universitas Negeri Malang Jalan Semarang Nomor [email protected]:Indonesia merupakan negara yang berdemokrasi, demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana semua warga negaranya memiliki hak setara dalam mengambil keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara mendukung terciptanya masyarakat yang aman, adil, dan sejahtera. Maka dari itu, perlu adanya suatu pendidikan yang diberikan kepada masyarakat mengenai apa itu demokrasi agar nilai- nilai demokrasi itu dapat berjalan dengan baik. Pemahaman peserta didik SMA pada nilai demokrasi sangat penting di lingkungan sekolah, dengan memiliki pemahaman yang baik akan perilaku sesuai nilai-nilai yang terkadung dalam nilai-nilai demokrasi. Organisasi siswa di SMA Negeri 1 Purwosari yaitu OSIS untuk bisa menanamkan nilai-nilai demokrasi di semua anggota OSIS. SMA Negeri 1 Purwosari sebagai tempat penelitian karena belum ada penelitian karena berdasarkan informasi belum ada penelitian mengenai penerapan nilai-nilai demokrasi dalam kegiatan OSIS di sekolah ini Kata Kunci: Penanaman, Demokrasi, Nilai, Kegiatan OSIS.Indonesia merupakan negara yang berdemokrasi, demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana semua warga negaranya memiliki hak setara dalam mengambil keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi mengizinkan warga negara berpartisipasi baik secara langsung maupun melalui perwakilan. Demokrasi mencakup kondisi sosial, ekonomi, dan budaya. Menurut Budiarjo (2013:106), demokrasi yang dianut di Indonesia adalah demokrasi berdasarkan Pancasila, masih dalam taraf perkembangan dan mengenai sifat-sifat dan ciri-cirinya terdapat berbagai tafsiran serta pandangan. Nilai-nilai demokrasi pada dasarnya sudah hadir dalam kehidupan masyarakat Indonesia, bahkan sejak Indonesia masih belum mengalami masa di mana dijajah oleh negara-negara asing. Nilai-nilai demokrasi yang seharusnya dimiliki siswa yaitu kebebasan berpendapat, kebebasan berkelompok, kebebasan berpartisipasi, kesetaraan, berkedaulat, kerjasama, dan kepercayaan. Oleh karena itu, nilai demokrasi menuntut kita untuk tetap bersatu dalam menjaga kedaulatan NKRI.Nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara mendukung terciptanya masyarakat yang aman, adil, dan sejahtera. Maka dari itu, perlu adanya suatu pendidikan yang diberikan kepada masyarakat mengenai apa itu demokrasi agar nilai- nilai demokrasi itu dapat berjalan dengan baik. Budiarjo (2013:127), menjelaskan perkembangan demokrasi di Indonesia telah mengalami pasang surut. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kurangnya pemahaman secara mendalam lagi terkait dengan sistem domokrasi. Cepatnya arus globalisasi dan adanya pandangan negatif, terhadap demokrasi hingga membuat terjadinya perubahan sistem pendidikan nasional menjadi contoh beberapa faktor yang menjadi penyebab kurangnya pemahaman nilai-nilai demokrasi.Perkembangan dunia yang modern seperti saat ini, bangsa Indonesia dihadapkan dengan tantangan yang semakin besar dan kompleks yang sejalan dengan semakin derasnnya arus perubahan dan kuatnnya dampak globalisasi yang membuat kondisi saat ini mengakibatkan dampak negatif terhadap cara pandang masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ironisnnya rakyat Indonesia kini seakan-akan tidak bisa mengenali dirinya sendiri, sehingga budaya-budaya atau nilai-nilai yang datang dari luar yang kurang cocok dengan kehidupan bermasyarakat kita dengan gampangnya masuk dan menjadi kewajiban bagi kaum muda untuk meniru budaya-budaya atau nilai-nilai dari luar tadi, sedangkan nilai-nilai luhur bangsa yang telah tertanamkan sejak dahulu dalam hati para leluhur dinilai using atau kuno. Menurut Sihombing (1984:13) menjelaskan aspek demokrasi khususnya dalam tingkah laku politik mempunyai pengaruh terhadap perwujudan demokrasi Pancasila.Penanaman nilai-nilai demokrasi ini harus dimulai sejak dini, utamanya adalah dimulai dari lingkungan pendidikan sekolah. Mengingat demokrasi bangsa Indonesia sekarang ini sangat memprihatinkan, dan kebanyakan masyarakat Indonesia tidak tahu atau bahkan lupa akan konsep demokrasi yang sesungguhnya. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab III pasal 4 ayat 1 menjelaskan bahwa “pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa”.Pendidikan demokrasi dalam dunia pendidikan harus selalu di tanamkan kepada seluruh peserta didik melalui pendidikan kewarganegaraan, agar kualitas demokrasi di Indonesia menjadi baik. Menurut Winarno (2014:3), pendidikan demokrasi dikemas dalam wujud pendidikan kewarganegaraan. Turunnya moral bangsa tidak bisa dibiarkan begitu saja karena hal itu akan merusak moral bangsa. Upaya yang bisa dilakukan dalam menanggulangi masalah ini antara lain melalui pendidikan dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional disebutkan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara”.Salah satu jenjang pendidikan yang harus dan wajib untuk menanggulangi turunnya moral bangsa adalah jenjang sekolah menegah atas (SMA). Al-Fandi (2017:5) menjelaskan pendidikan adalah sarana penting dalam membangun peradaban manusia. Sekolah menegah atas merupakan salah satu lembaga pendidikan yang menjadi wadah pengembangan ilmu-ilmu yang di dapat dari jenjang pendidikan yang di bawahnya. Jenjang pendidikan SMA juga banyak pendidikan formal maupu non formal yang menjadi pengembangan potensi diri serta memiliki akhlak mulia, pengendalian diri, dan kecakapan hidup untuk melahirkan generasi-generasi penerus bengsa dan Negara yang berdasarkan Pancasila. Di dunia pendidikan memberi banyak manfaat kepada para siswanya untuk bisa memahami nilai demokrasi lebih dalam melalui berbagai mata pelajaran yang diperoleh di dalam proses belajar mengajar di sekolah, dan bisa mengerti mengenai nilai Pancasila dalam lingkungan sekolah contohnya dalam istilah 5S di sekolah yaitu salam, sapa, senyum, sopan, santun yang mengajarkan tata cara bermasyarakat di lingkungan sekolah.Penanaman nilai demokrasi dalam seorang siswa bisa dilakukan oleh sekolah. Hal ini merupakan kewajiban sekolah untuk mendidik siswa. Penanaman nilai demokrasi bisa dilakukan di dalam kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler. Tetapi sering berkembangnya jaman sering kali dirasakan kurang. Menurut Alfian (1986:61), menjelaskan prospek pertumbuhan Demokrasi Pancasila amat tergantung pada kemampuan Indonesia menyelesaikan proses itu. Oleh sebab itu dalam rangka untuk mengaplikasikan nilai demokrasi yang telah diajarkan maka sekolah berkewajiban memberikan sarana kepada siswa berupa organisasi-organisasi. Organisasi ini bertujuan untuk mengajarkan kepada siswa untuk lebih bersifat demokratis, menghargai sesama dan bertanggung jawab sehingga diharapkan berguna sebagai bekal dasar siswa nantinya dalam menjalani kehidupan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Salah satu organisasi siswa dalam sekolah yang sangat menerapkan nilai demokratis yaitu OSIS, OSIS merupakan salah satu organisasi yang dapat melaksanakan nilai demokrasi di sekolah karena osis merupakan dalam lingkungan sekolah dan berada dalam pengawasan pihak sekolah.Penanaman nilai demokrasi melalui OSIS dengan melaksanakan nilai-nilai atau budaya demokrasi pada setiap kegiatan OSIS misalnya dapat diterapkan pada saat pemilihan ketua OSIS, pada saat kegiatan rapat OSIS, pada saat pembagian tugas dalam anggota OSIS dan banyak kegiatan OSIS lainnya. OSIS merupakan kegiatan ekstrakulikuler, kegiatan ekstrakulikuler merupakan kegiatan di luar jam biasa dan dapat dilakukan di sekolah ataupun di luar sekolah guna bertujuan memperluas pengertahuan siswa. Para siswa di sekolah selain menjadi calon pemimpin bangsa, juga harus menjadi contoh terdepan dalam penerapan nilai-nilai demokrasi di dalam lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat agar dapat di contoh dengan baik sifat sifat toleransi yang terdapat pada nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan mereka. Menurut Sihombing (1984:31), menjelaskan karena Pancasila menempatkan keselarasan antara perorangan dan masyarakat lingkungan, maka harus dapat berkembang penghargaan terhadap hak-hak pribadi dengan segala kesempatan untuk mengembangkan kepribadian dan tanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Rasa toleransi yang diajarkan di sekolah akan memberi siswa rasa kebersamaan, kerukunan, rasa gotong royong dan berjiwa sosial dalam kehidupan di dalam maupun di luar sekolah sebagai tempat pembelajaran sebelum terjun ke masyarakat. Pendidikan merupakan hak setiap warga Indonesia agar memperoleh bimbingan yang benar. Penanaman nilai demokrasi sangat penting di tanamkan pada sekolah menegah atas. Penanaman nilai demokrasi akan mengajarkan anak untuk berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila salah satunya sila ke lima. Nilai-nilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan nilai-nilai Pancasila kepada siswa SMA akan membuat perilaku peserta didik sesuai dengan pengamalan Pancasila. Perilaku adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia yang dapat diamati dengan cara tertentu.Pemahaman peserta didik SMA pada nilai demokrasi sangat penting di lingkungan sekolah, dengan memiliki pemahaman yang baik akan perilaku sesuai nilai-nilai yang terkadung dalam nilai-nilai demokrasi. Beberapa perilaku yang sebelum tidak sesuai dengan pengamalan nilai-nilai oleh siswa akan sedikit berkurang apabila siswa tersebut memiliki pemahaman yang bagus. Salah satu organisasi siswa di SMA Negeri 1 Purwosari yaitu OSIS untuk bisa menanamkan nilai-nilai demokrasi di semua anggota OSIS. Alasan memilih SMA Negeri 1 Purwosari sebagai tempat penelitian karena belum ada penelitian karena berdasarkan informasi belum ada penelitian mengenai penerapan nilai-nilai demokrasi dalam kegiatan OSIS di sekolah ini.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) Menjelaskan nilai demokrasi yang ada dalam kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 Purwosari, (2) Menjelaskan penanaman nilai demokrasi dalam kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 Purwosari, (3) Menjelaskan faktor pendorong dalam penanaman nilai demokrasi dalam kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 Purwosari, (4) Menjelaskan kendala penanaman nilai demokrasi dalam kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 Purwosari, (5) Menjelaskan upaya mengatasi kendala penanaman nilai demokrasi dalam kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 Purwosari. METODE PENELITIANPenelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Purwosari Kabupaten Pasuruan. Pendekatan dan jenis penelitian ini menggunakan kualitatif dekskriptif, yaitu penelitian tentang data yang dikumpulkan dan dinyatakan dalam bentuk kata-kata dan gambar, kata-kata yang disusun dalam kalimat, misalnya kata-kata dalam wawancara informan.. Sumber data diperoleh dari observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif, alur analisis data yang dilakukan menggunakan model analisis interaktif, seperti yang diungkapkan oleh Huberman (1992:16), yaitu proses analisis yang dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data. Proses analisis data tersebut dilakukan dalam 4 (empat) tahap, yaitu tahap pengumpulan data, tahap reduksi data, tahap penyajian data, dan tahap penarikan kesimpulan. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan objek penelitian di OSIS SMA Negeri 1 Purwosari Kecamatan Purwosari Kabupaten Pasuruan Jawa Timur. Alasan objek penelitian dilakukan oleh peneliti ini adalah terdapat relevansi antara Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan dengan fokus penelitian yang diambil yaitu Penanaman Nilai Demokrasi dalam kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 Purwosari. BAHASANPada bagian ini dijelaskan secara spesifik mengenai ; (a) Menjelaskan nilai demokrasi yang ada dalam kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 Purwosari; (b) Menjelaskan penanaman nilai demokrasi dalam kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 Purwosari; (c) Menjelaskan faktor pendorong dalam penanaman nilai demokrasi dalam kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 Purwosari; (d) Menjelaskan faktor kendala dalam penanaman nilai demokrasi dalam kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 Purwosari; (e) Menjelaskan upaya mengatasi kendala penanaman nilai demokrasi dalam kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 PurwosariNilai Demokrasi yang ada dalam Kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 PurwosariPengambilan keputusan sedapat mungkin didasarkan atas musyawarah mufakad dikembangkan dalam setiap kegiatan OSIS sebagai wujud nilai demokrasi. Pengambilan keputusan u tuk mencapai mufakad sangat dibutuhkan dalam setiap kegiatan OSIS maupun kegiatan-kegiatan lain, dengan pengambilan keputusan secara bersama akan mendapatkan hasil yang terbaik bagi seluruh anggota. Sama hal nya di setiap kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 Purwosari selalu mengedepankan cara bermusyawarah agar pengambilan keputusan secara bersama dan disetujui bersama agar memperoleh hasil kegiatan yang disetujui bersama oleh semua anggota OSIS SMA Negeri 1 Purwosari.Persatuan dan solidaritas dikembangkan dalam setiap kegiatan OSIS sebagai wujud nilai demokrasi. Nilai-nilai demokrasi yang termasuk Persatuan adalah suatu yang menunjukkan sikap kebersamaan wujud yang hanya satu dan utuh, rasa kesatuan bangsa indonesia dalam satu jiwa bangsa seperti yang dicantumkan dalam sila Pancasila ke 3 yaitu persatuan bagi seluruh rakyat indonesia. Rasa persatuan juga selalu dilakukan dalam setiap kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 Purwosari untuk memperkuat nilai-nilai demokrasi dalam kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 Purwosari. Sama halnya dengan rasa persatuan, rasa solidaritas juga selalu diterapkan dalam setiap kegiatan OSIS untuk mempersatukan setiap anggota yang berbeda-beda dalam segi agama, budaya, dan bahasa agar bisa selalu berjalan bersama dalam setiap kegiatan apapun untuk mempererat setiap anggota OSIS SMA Negeri 1 Purwosari.Kekeluargaan dan gotong royong merupakan suatu sikap yang selalu di junjung tinggi dalam nilai demokrasi. Kekeluargaan di dalam keanggotaan OSIS juga selalu diterapkan dalam hal apapun untuk selalu menjaga rasa persaudaraan di dalam setiap anggota OSIS. Kekeluargaan merupakan asas penting yang banyak diterapkan di berbagai tempat, aspek, organisasi, sama hal nya di setiap kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 Purwosari. Sama halnya dengan rasa kekeluargaan, rasa gotong royong juga bisa mempererat rasa persaudaraan dalam setiap anggota OSIS untuk melakukan kegiatan apapun dengan rasa gotong royong. Dengan gotong royong diharapkan seluruh anggota OSIS bisa melakukan kegiatan dengan cepat dan mudah untuk memperoleh hasil yang memuaskan dalam setiap kegiatan OSIS SMA Negeri 1 Purwosari.Rasa keadilan pada prinsipnya menghasilkan kesadaran akan nilai buah dari keselarasan dan keseimbangan diantara semua pihak untuk menikmati kesempatan berperan atau fasilitas yang menjadi haknya. Rasa keadilan pada umumnya muncul dari sanubari kita apabila justru dirasa ada sesuatu yang kurang pada tempatnya. Hal itu yang harus dilakukan oleh OSIS SMA Negeri 1 Purwosari di dalam setiap melakukan kegiatan apapun. Rasa keadilan yang terolah leboh jauh akan menjadi kesadaran bagi seluruh anggota OSIS SMA Negeri 1 Purwosari agar selalu menerapkan keadilan dalam setiap keputusan yang diambil untuk mendapatkan hasil yang benar bagi seluruh anggota OSIS SMA Negeri 1 Purwosari.Karakter bertoleransi merupakan karakter dalam berbangsa dan bernegara di indonesia, hal ini dapat diartikan sebagai suatu sikap saling menghormati dan menghargai antar kelompok maupun individu. Dalam kehidupan bermasyarakat hal ini dapat dicerminkan dalam kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 Purwosari. Sikap toleransi ini dapat diwujudkan dengan tujuan untuk menghindari terjadinya diskriminasi terhadap kelompok atau golongan yang berbeda dalam masyarakat. Istilah toleransi mencangkup banyak bidang, salah satunya toleransi beragama dengan tujuan menghormati dan menghargai agama lain. Sikap toleransi yang dicerminkan dalam kegiatan OSIS SMA Negeri 1 Purwosari berorientasi untuk memberikan penanaman karakter saling tolong menolong antar sesama tanpa memandang suku, agama, ras dan antar golongan. Penunjukan wakil melalui kegiatan pemilu merupakan salah satu proses untuk mengembangkan diri peserta didik melalui pendidikan demokrasi berupa pengetahuan, kesadaran sikap, ketrampilan, dan kemauan serta untuk mengembangkan diri untuk turut aktif dalam berpartisipasi politik di dalam kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 Purwosari. Demokrasi sejatinya merupakan lingkup dalam kehidupan masyarakat dan bernegara, bahkan demokrasi turut hadir dalam pembelajaran di sekolah. Hal ini juga dijelaskan melalui penunjukan wakil melalui pemilu. Dalam berdemokrasi penunjukan wakil melalui pemilu merupakan salah satu unsur demokrasi yang selalu dilakukan agar memperoleh hasil secara bersama tanpa adanya konflik yang terjadi akibat perbedaan pendapat atau perbedaan pilihan. Siswa merupakan bagian dari generasi muda dan merekalah sebagai penerus perjuangan bangsa.Berdasarkan uraian diatas mengenai pengambilan keputusan sedapat mungkin didasarkan atas musyawarah mufakad sesuai dengan pernyataan Pamudji (1985:12-17) menjelaskan bahwa dalam demokrasi Pancasila terdapat aspek penting yang menjadi isi atau esensi dari demokrasi Pancasila. Dalam aspek tersebut terkandung nilai-nilai demokrasi Pancasila. Nilai-nilai tersebut adalah: (a)pengambilan keputusan sedapat mungkin didasarkan atas musyawarah untuk mufakat; (b) persatuan dan solidaritas; (c) kekeluargaan dan kegotong royongan; (d) keadilan; (e) terciptanya negara kebudayaan; (f) penunjukan wakil rakyat melalui pemilu. Jadi pengambilan musyawarah dalam setiap kegiatan OSIS sesuai dengan penyataan Pamudji dikarenakan setiap kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 Purwosari selalu mengedepankan musyawarah untuk memperoleh mufakat dalam setiap keputusan.Penanaman Nilai Demokrasi dalam Kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 PurwosariPenanaman nilai demokrasi dalam kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 Purwosari dilakukan dengan cara mewujudkan nilai-nilai demokrasi diwujudkan dalam setiap kegiatan OSIS SMA Negeri 1 Purwosari secara konkrit, agar di dalam OSIS tetap menjaga kekompakan dan selalu mengedepankan nilai-nilai demokrasi dalam menunjang kegiatan OSIS yang berlandaskan demokrasi. Melalui kegiatan OSIS yang selalu menanamkan nilai demokrasi ini, juga melatih dan mengembangkan karakter anggota OSIS tentang rasa kekeluargaan, saling toleransi, selalu bermusyawarah dan selalu gotong royong di setiap kegiatan, akan berpengaruh baik dengan prilaku anggota OSIS di masa depan. Melalui pendidikan demokrasi dilaksanakan melaui kegiatan OSIS. Hal ini sesuai dengan pernyataan Winataputra (2002:7) menyatakan bahwa: “warga negara yang demokratis tidak dilahirkan, melainkan diciptakan (dibuat) dalam proses sosialisasi”. Demokrasi tidak akan datang, tumbuh dan berkembang dengan sendirinya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Penanaman nilai demokrasi dalam kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 Purwosari kaitannya dengan penanaman nilai demokrasi yang sarat dengan adanya partisipasi individu dalam kehidupan bernegara, maka OSIS selaku objek yang mampu melakukan penanaman nilai demokrasi dalam kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 Purwosari selalu menanamkan nilai demokrasi di setiap kegiatan agar mereka tetap solid dalam mensukseskan kegiatan OSISProses pengembangan nilai demokrasi dalam kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 Purwosari sebagian sudah cukup baik, karena di dalam internal OSIS SMA Negeri 1 Purwosari selalu menggunakan cara aktif yaitu dengan melakukan koordinasi dengan Pembina OSIS serta melakukan upaya persuasif untuk mendekatkan antar anggota OSIS. Seperti halnya melakukan pendekatan secara individu antara anggota OSIS dengan pembina OSIS, sehingga proses pengembangan nilai demokrasi dalam kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 Purwosari terjalin dengan lancar. Hal ini sesuai dengan pernyataan Syarbaini (2006:120) menjelaskan yang paling utama dalam menentukan berlaku sistem demokrasi di suatu negara ialah ada atau tidak tentang asas-asas demokrasi pada sistem, yaitu: (1) Pengakuan hak-hak asasi manusia sebagai penghargaan terhadap martabat manusia dengan tidak melupakan kepentingan umum;(2) Adanya partisipasi dan dukungan rakyat kepada pemerintah. Jika dukungan rakyat tidak ada, sulitlah dikatakan bahwa pemerintah itu adalah suatu pemerintahan demokrasi. Pengaruh dari penanaman nilai demokrasi dalam kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 Purwosari untuk anggota OSIS sendiri sangat baik, karena sebagian besar kegiatan OSIS semua mengandung unsur nilai demokrasi. Sehingga mereka bisaa belajar tentang cara berdemokrasi yang baik dan juga mereka diharapkan bisa menjadi contoh bagi seluruh siswa-siswi SMA Negeri 1 Purwosari maupun seluruh masyarakat di wilayahnya sendiri.Faktor Pendorong Penanaman Nilai Demokrasi dalam Kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 PurwosariSecara umum faktor pendorong penanaman nilai demokrasi dalam kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 Purwosari terbagi menjadi lima faktor, yaitu: (1) antusiasme anggota OSIS dalam mengikuti kegiatan, (2) kerja sama dengan ekstrakulikuler lain, (3) kewajiban pendidikan kewarganegaraan, (4) dukungan pihak sekolah, (5) dukungan orang tua. Apabila dijabarkan faktor pendorong penanaman nilai demokrasi yang ada dalam kegiatan OSIS di SMA Negeri 1 Purwosari adalah sebagai berikut:Berbagai kegiatan OSIS yang berhubungan tentang nilai demokrasi membuat setiap anggota OSIS SMA Negeri 1 Purwosari memiliki rasa antusias dalam seti
IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI MINAT SISWA PADA KELAS PEMINATAN GEOGRAFI SMAN KOTA BLITAR
RINGKASANSasmita, Amalia Mainar. 2019. Identifikasi Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Minat Siswa Pada Kelas Peminatan Geografi SMANKota Blitar. Skripsi, Jurusan Geografi. Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (1) Ardyanto Tanjung, S. Pd, M. Pd, (II) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si. Kata Kunci: Minat Siswa, Kelas Peminatan GeografiKurikulum 2013 untuk sekolah menengah atas terdapat ketentuan mata pelajaran wajib dan pilihan atau peminatan. Minat siswa pada mata pelajaran geografi di SMAN Kota Blitar tergolong rendah. Hal ini sesuai dengan jumlah siswa kelas peminatan geografi yang setiap sekolah masih cukup jauh selisihnya, ada yang tinggi dan ada yang memiliki minat rendah pada kelas peminatan geografi di SMAN Kota Blitar. Tinggi atau rendahnya minat siswa dalam memilih kelas peminatan geografi tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktorfaktor tersebut dapat berasal dari dalam maupun dari luar diri siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi minat siswa pada kelas peminatan geografi. Penelitian ini dilakukan di SMAN Kota Blitar pada siswa-siswi kelas X Mipa yang tersebar pada tiga sekolah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi pada penelitian ini adalah 232 siswa kelas peminatan geografi yang diambil dari tiga SMAN di Kota Blitar yang menerapkan kurikulum 2013. Teknik pengambilan sampel menggunakan proportional sampling, sampel diambil 20% dari populasi sehingga diperoleh sampel 47 siswa. Pengumpulan data dilakukan menggunakan angket dengan skala Likert dan dianalisis melalui analisis deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persentase terbesar faktor yang memengaruhi minat siswa pada kelas peminatan geografi adalah faktor eksternal sekolah (71,6%), faktor internal psikologis (71,2%) dan faktor internal intelegensi (70,2%). Faktor pertama yang dapat memengaruhi minat siswa pada kelas peminatan geografi yaitu faktor eksternal sekolah yang meliputi metode guru mengajar, materi pelajaran geografi, dan fasilitas sekolah dalam menunjang pembelajaran geografi. Faktor kedua adalah faktor internal psikologis yang meliputi hobi, cita-cita, dan motivasi. Faktor terakhir yang dapat memengaruhi minat siswa adalah faktor internal intelegensi yang meliputi bakat dan kemampuan. Disimpulkan bahwa hanya tiga faktor saja yaitu faktor sekolah, psikologis dan intelegensi yang berpengaruh terhadap minat siswa pada kelas peminatan geografi. Sedangkan faktor keluarga dan teman tidak memengaruhi minat siswa pada kelas peminatan geografi di SMAN Kota Blitar. SUMMARYSasmita, Amalia Mainar. 2019. Identification of Factors Affecting Students Interest in the Geography Class of Senior High School in Blitar City. Thesis, Geography Department, Faculty of Social Sciences, State University of Malang. Advisors: (1) Ardyanto Tanjung, S. Pd, M. Pd, (II) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si. Keywords: Students Interest, Geography Class Curriculum 2013 for senior high school is a provision of compulsory and elective subjects or specialization. Students interest for SHS in Blitar City to choose geography subjects in the class of interest is relatively low. This is in accordance with the students totally of geography class whose differences are still quite far away, some are high and some have a low interest in the geography class in SHS in Blitar City. The high or low interest of students in choosing a geography class can be influenced by several factors. These factors may come from inside and outside of the student. The purpose of this study is to identify the factors that influence students interest in the geography class. This research was conducted in senior high school students in Blitar City of class X Mipa when spread across three schools. This research is quantitative descriptive. The population in this study were 232 students of geography class taken from three high schools in Blitar City who applied the curriculum 2013. The sampling technique used is proportional sampling, samples were taken 20% of population so the sample is 47 students. The data collection technique used is questionnaire with a Likert scale and analyzed using descriptive analysis. The results of this study indicate that the largest percentage of factors that influence students interest in geography class are external factors of the school (71,6%), psychological internal factors (71,2%) and internal intelligence factors (70,2%). The first factor that can affect students interest in geography classes is the school's external factors which include teacher teaching methods, geography subject matter, and school facilities in supporting geography learning. The second factor is psychological internal factors which include hobbies, ideals, and motivation. The last factor that can influence student interest is internal intelligence, which includes talent and ability. It was concluded that only three factors are school factors, psychological and intelligence that influence students interest in geography classes. While family and friends factors do not affect the interest of students in the geography class in senior high school in Blitar City
Identifikasi Penyebab Minat Siswa Yang Rendah Dalam Mengambil Kelas Lintas Minat Mata Pelajaran Geografi SMA Negeri di Kota Malang
RINGKASANSilvia, Rina. 2019. Identifikasi Penyebab Minat Siswa Yang Rendah Dalam Mengambil Kelas Lintas Minat Mata Pelajaran Geografi SMA Negeri di Kota Malang. Skripsi. Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Hadi Soekamto, S.H, M.Pd, M.Si. (2) Dr. Satti Wagistina, S.P, M.Si.Kata Kunci: Faktor Penyebab, Minat Siswa, Kelas Lintas Minat GeografiMinat siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dalam mengambil kelas lintas minat mata pelajaran geografi di Indonesia sangat rendah. Salah satu kota yang minat siswanya rendah dalam mengambil kelas lintas minat mata pelajaran geografi adalah SMA Negeri di Kota Malang. Minat siswa rendah disebabkan oleh enam faktor.f Keenam aktor tersebut yaitu 1) Faktor rasa senang, 2) Bakat, 3) Kemampuan, 4) Keluarga, 5) Mata pelajaran, dan 6) Faktor lingkungan.Tujuan dari penelitian ini adalah adalah untuk mengidentifikasi faktor penyebab minat siswa yang rendah dalam mengambil kelas lintas minat mata pelajaran geografi SMA Negeri di Kota Malang. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri Kota Malang yag meliputi SMA Negeri 1 Malang, SMA Negeri 2 Malang, SMA Negeri 3 Malang, SMA Negeri 4 Malang, SMA Negeri 5 Malang, SMA Negeri 6 Malang, SMA Negeri 8 Malang, SMA Negeri 7 Malang, SMA Negeri 9 Malang, SMA Negeri 10 Malang.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatitif. Peneitian ini menggunakan angket sebagai instrumen penelitian. Populasi pada penelitian ini yaitu seluruh siswa yang tidak mengambil kelas lintas minat mata pelajaran geografi SMA Negeri di Kota Malang. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 3806. Penentuan jumlah sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik Slovin. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan proportional sampling yaitu cara pengambilan sampel dari setiap sub populasi dengan memperhitungkan besar kecilnya sub-sub populasi tersebut. Sehingga jumlah sampel dalam penelitian ini sejumlah 362 siswa.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga faktor penyebab minat siswa yang rendah dalam mengambil kelas lintas minat mata pelajaran geografi. Ketiga faktor tersebut yaitu 1) Faktor rasa senang memiliki persentase (67%), 2) Faktor bakat memiliki persentase (68%), dan 3) Faktor mata pelajaran memiliki persentase (79%). Berdasarkan hasil penelitian tersebut peneliti memberikan saran kepada guru geografi, sekolah dan kepada peneliti selanjutnya. SUMMARYSilvia, Rina. 2019. The Identification of Causes in the Lack of Interest of Students to Take Geography Cross Interest Class in Malang High Schools. Thesis. The Major of Geography in the Faculty of Social Science, Universitas Negeri Malang. Advisors: (1) Drs. Hadi Soekamto, S.H, M.Pd, M.Si. (2) Dr. Satti Wagistina, S.P, M.Si.Keywords: Causing Factors, Students’ Interest, Geography Cross Interest ClassThe interest of high school (SMA) students to take the cross interest class in the subject of Geography is very low. One of the towns which has a low level of interest in taking Geography cross interest class is the town of Malang, specifically in Malang High Schools. The lack of nterest is caused by six factors, which are: 1) The factor of excitement, 2) Aptitude, 3) Ability, 4) Family, 5) Subject, and 6) The factor of environment.This research aims to identify the factors causing the lack of students’ interest in taking cross interest class in the subject of Geography, for the High School students in Malang. The research is conducted in a few high schools around Malang, including Senior High School 1 Malang, Senior High School 2 Malang, Senior High School 3 Malang, Senior High School 4 Malang, Senior High School 5 Malang, Senior High School 6 Malang, Senior High School 7 Malang, Senior High School 8 Malang, Senior High School 9 Malang, and also Senior High School 10 Malang.The research is using Descriptive Quantitative method. It uses questionnaires as the instrument of research. The population of the study are every students who are not taking Geography cross interest class in Malang High Schools, which amounts to 3806 students. The determination of the amount of samples in the study is using the technique of Slovin, and the process of sample taking is uding proportional sampling, which is a way to gather samples from each sub population by considering the amounts of each sub populations. Thus, the amount of samples in the research are 362 students.The result of the research shows that there are three factors causing the lack of students’ interest in taking Geography cross interest class, as follows: 1) The factor of excitement has the percentage of 67%, 2) The factor of aptitude gets 68%, and 3) the factor of subjects has the percentage of 79%. Based on the result of the research, the researcher gives a suggestion to Geography teachers, the schools, and the next researchers
Pengembangan Media Mind Map Digital Berbasis Aplikasi Mindjet Mindmanager Pada Materi Atmosfer Kelas X
Media pembelajaran merupakan alat bantu untuk peserta didik agar memberikan kemudahan dalam belajar. Mind map digital adalah media pembelajaran dalam bentuk peta pikiran dengan berbantuan aplikasi presentasi mindjet mindmanager. Tujuan utama pengembangan mind map adalah menghasilkan produk berbasis digital untuk peserta didik kelas X pada materi atmosfer. Media ini dapat menjadi rujukan materi, contoh, dan sumber belajar terbaru seputar atmosfer untuk memberikan peserta didik kemudahan dalam memahami pelajaran. Mind map digital yang dikembangkan telah di uji internal oleh ahli media dan ahli materi. Hasil akhir berupa rancangan desain produk mind map digital yang telah direvisi berdasarkan saran dan rekomendasi dari masing-masing validator. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan model ADDIE yang dimodifikasi hanya pada bagian ADD dengan prosedur penelitian yaitu perumusan tujuan, desain media, validasi media. Subjek penelitian adalah 28 peserta didik kelas X IPS 4 SMA 2 Batu. Data penelitian yang digunakan meliputi hasil angket kelayakan media, sedangkan teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif untuk mengolah data hasil uji coba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mind map digital layak digunakan dalam proses pembelajaran dengan masing-masing memperoleh nilai dari ahli materi 98% dan ahli media 79%. Kemudian penilaian atau tanggapan produk dari peserta didik selaku subjek penelitian mendapatkan nilai 80,02%
KONTRIBUSI PENDAPATAN TERHADAP EKONOMI RUMAH TANGGA TENAGA KERJA INDUSTRI MEUBEL DI KECAMATAN PANJI KABUPATEN SITUBONDO
ABSTRAKFajar Perdana Hijriyanto. 2018. Kontribusi Pendapatan Terhadap Ekonomi Rumah Tangga Tenaga Kerja Industri Meubelair Kecamatan Panji Kabupaten Situbondo .Skripsi, JurusanGeografi, FakultasIlmuSosial, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing:(I) Dr. Singgih Susilo, M.S, M.Si (II) Drs. Marhadi Slamet K, M.Pd Kata kunci: kontribusi pendapatanKegiatan manusia yang berkaitan dengan aspek fisik dalam geografi ialah pemanfaatan sumber daya alam. Jika di daerah tersebut memiliki sebuah komoditas sumber daya alam yang luas, maka sumber daya alam tersebut akan menjadi mata pencaharian utama masyarakat di daerah tersebut. Industri kecil di Indonesia mulai menjamur di beberapa tahun belakangan , hal ini di karenakan industri kecil tidak memerlukan modal banyak untuk memulai usaha. Selain itu, industri kecil juga dapat menyerap tenaga kerja, sehingga lebih menjanjikan untuk berkembang di Indonesia. Kabupaten Situbondo merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Timur. Menurut sensus penduduk 2015 jumlah penduduk kabupaten situbondo 669.713 jiwa. Jumlah penduduk terbesar terdapat di Kecamatan Panji dengan jumlah penduduk sebesar 71.874 jiwa.Dengan jumlah penduduk yang besar kecamatan Panji memiliki beberapa industri kecil yang dapat menyerap tenaga kerja. Salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah industri tumah tangga meubelair.Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Metode yang digunakan adalah metode survey.Perolehan data dilakukan melalui wawancara terstrukturserta dokumentasi sebagai alat pengumpul data sekunder. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan tabulasi tunggal dan tabulasi silang. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 329 pekerja industri meubel. Teknik pengambilan sample menggunakan dua teknik yaitu pengambilan sample wilayah dan sample responden. Sample wilayah diambil berdasarkan 6 wilayah dengan jumlah industri meubel terbanyak. Dari perhitungan sample menggunakan rumus slovinditemukan 69 responden. Teknik analisis data menggunakan tabulasi tunggal dan tabulasi silang. Hasil penelitian menunjukkan pekerja industri meubel masuk dalam usia produktif dan sebagian besar berstatus kawin. Mayoritas pekerja memiliki beban tanggungan 2-3 orang.Pendidikan paling banyak ditempuh adalah SD dan SMP. Sebagian pedagang tersebut berkedudukan sebagai kepala rumah tangga.Sebagian besar Pendapatan bersih yang diperoleh pedagang sebesar 2.000.000 – 2.999.999 per bulan. Rata-rata pekerja di indusri meubel sudah bekerja lebih dari 2tahun. Faktor beban tanggungan tidak ada hubungan dengan besarnya pendapatan yang diperoleh pekerja. Sedangkan lama kerja berhubungan dengan besarnya pendapatan. Semakin lama bekerja di Industri meubel semakin besar pula gaji yang diterima pekerja.Mayoritas pekerja memberikan kontribusi tinggi terhadap pendapatan keluarga yaitu sebanyak 34 pekerja memberikan kontribusi >65%.
Penerapan Model Group Investigation Untuk Meningkatkan Minat Belajar dan Pemahaman Konsep Geografi Siswa X IPS 1 SMAN 1 Sampang
Hardiyati, Kartika. 2019. Penerapan Model Group Investigation Untuk Meningkatkan Minat Belajar Dan Pemahaman Konsep Geografi Siswa X Ips 1 Sman 1 Sampang. Skripsi. Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Budi Handoyo, M.Pd, (2) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.SiKata Kunci: Minat Belajar Geografi, Pemahaman Konsep, Model Group InvestigationMinat belajar dan pemahaman konsep merupakan dua aspek penting dalam pembelajaran. Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang tinggi, keberadaan minat dan pemahaman konsep yang tinggi dalam diri setiap siswa sangat diperlukan. Hasil observasi dan wawancara terhadap siswa kelas X IPS 1, minat belajar geografi sebelum adanya penerapan model pembelajaran Group Investigation siswa cukup rendah. Sementara hal lain yang ditemukan dari hasil observasi mengenai pemahaman konsep siswa yang juga cukup rendah dibuktikan dengan sebanyak 56% siswa yang memperoleh nilai dibawah rata-rata KKM (75). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peningkatan minat belajar dan pemahaman konsep siswa kelas X IPS 1 SMAN 1 Sampang pada materi dinamika atmosfer dan dampaknya bagi kehidupan dengan menerapkan model pembelajaran Group Investigation.Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Terdapat dua siklus, dengan masing-masing siklus secara garis besar terdapat empat tahapan dalam dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu: 1) perencanaan, 2) pelaksanaan, 3) pengamatan, dan 4) refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X IPS 1 SMAN 1 Sampang, dengan jumlah siswa 25. Siswa laki-laki sebanyak 10 dan siswa perempuan 15 Model pembelajaran Group Investigation terbukti mampu meningkatkan minat belajar geografi. Hasil penelitian menunjukkan dengan menerapkan model GI rata-rata skor minat belajar siswa pada saat pratindakan sebesar 58, pada saat siklus I sebesar 62 dan pada sisklus II yakni sebesar 66. Mengacu pada data tersebut terbukti bahwa terdapat peningkatan minat belajar geografi setelah adanya tindakan atau setelah diterapkannnya model Group Investigation. Hal ini juga terjadi pada variabel pemahaman konsep geografi siswa yang mengalami peningkatan dalam setiap tindakan baik siklus I maupun siklus II. Peningkatan pemahaman konsep disebabkan oleh adanya penggunaan model pembelajaran Group Investigation pada saat proses belajar. Rata-rata hasil test pemahaman konsep pada saat pratindakan sebesar 69,8, pada saat siklus I sebesar 82,92 dan siklus II sebesar 88,12. Berdasarkan data tersebut membuktikan bahwa pemahaman konsep geografi siswa kelas X IPS 1 meningkat selama terdapat perlakuan
PENILAIAN POTENSI WADUK BANGKES DIPAMEKASAN UNTUKRANCANGAN ARAHANPENGEMBANGAN OBJEKWISATAMENGGUNAKAN SKETCUP DAN LUMION
RINGKASANAlwi, M.S.B 2018.Penilaian Potensi Waduk Bangkes Di Pamekasan Untuk Rancangan Arahan Pengembangan Objek Wisata Menggunakan Sketcup Dan Lumion.Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas IlmuSosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Yuswanti Ariani W, M,Si, (II) Drs. I Komang Astina, M.S, Ph.DKata Kunci: ADO-ODTWA, perancangan.Waduk Bangkes memiliki keindahan alam yang berbeda dan menarik. Namun potensi tersebut belum teridentifikasi dengan baik. Untuk itulah potensi waduk ini perludi identifikasi dan dilakukan penilaian dengan menggunakan Analisis Daerah Operasi Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam (ADO-ODTWA) serta perancangan sebagai upaya pengembangan wisata dilokasi ini. Penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk (1) Untuk mengetahui potensi Waduk Bangkes sebagai tempat wisata, (2) Untuk mengetahui nilai kelayakan Waduk Bangkes dengan Analisis Daerah Operasi Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam (ADO-ODTWA), (3) Untuk mendapatkan rancangan Waduk Bangkes sebagai arahan pengembangan objek wisata.Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode perancangan. Lokasi Penelitian ini berada di Waduk Bangkes. Sumber data penelitian ini yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan, wawancara dan angket. Analisis data dilakukan dengan menggunakanPedoman Analisis Daerah Operasi Obyek dan Daya Tarik Wisata alam (ADO-ODTWA) serta Analisis Data dari Subjek Validasi.Hasil penilaian ODTWAmenunjukkan bahwa potensi Waduk Bangkes yang memiliki nilai tinggi dengan kriteria sangat baik maka perlu dimasukan kedalam bentuk kegiatan wisata yangsesuai dengan penilaian obyek daya tarik wisata alam.Dalam perancanganWaduk Bangkes ada beberapa fasilitas yang dibuat, yaiut (1) Loket Masuk (2) Tempat Parkir (3) Tempat Beristirahat (4) Mushallah (5) Kios-Kios (6) Gazebo (7) Playground (8) Mini Market (9) Tempat Camping (10) Tempat Memancing (11) Tubbing (12) Playground (13) Penginapan (14) MCK. Berdasarkan hasil validasi dengan ahli media, rancangan arahan pengembangan objek wisata dinyatakan “Sangat Baik” dengan persentase sebesar 92%. Rancangan arahan pengembangan objek wisata menggunakan Sketcup dan Lumionyang berupa video 3Dimensi layak untuk dijadikan bahan pertimbangan guna pengembangan Waduk Bangkes sebagai objek wisata.Saran yang dapat diberikan untuk pemanfaatan rancangan pengembangan yang berupa video 3 Dimensi adalah; (1) kepada pemerintah pengembangan terhadap Waduk Bangkes perlu dilakukan karena waduk tersebut berpotensi untuk mendatangkan rupiah dan berpotensi untuk terbukanya lapangan kerja bagi masyarakat setempat; (2) kepada pemerintah dan masyarakat diperlukan pembentukan pengelolaan untuk pengelolaan objek guna menjalankan dan melayani kegiatan pariwisata; (3) kepada pemerintah perlu pengadaan dan penambahan fasilitas berupa infrastruktur dalam kawasan Wisata Waduk Bangkes untuk menunjang kawasan waduk tersebut. ; (4) kepada pemerintah diharapkan menjadikan media yang dibuat peneliti sebagai bahan pertimbangan untuk mengembangkan Waduk Bangkes. SUMMARYAlwi, M.S.B 2018. Potential assessment of Waduk Bangkes in Pamekasan For design direction Development of Tourism ObjectUsing Sketcup and Lumion.Thesis, Department of Geography, Faculty of Social Sciences, UniversitasNegeri Malang. Advisor: (1) Dra. Yuswanti Ariani W, M, Si, (II) Drs. I Komang Astina, M.S, Ph.DKeywords: ADO-ODTWA, design.Waduk Bangkes is interesting place to visit for it has beautiful scenery. However, this potential has not been well identified. That is why the potential of this reservoir needs to be identified and assessed using Operation Areas Analysis of Object and Natural Tourism Attraction (ADO-ODTWA)and design as an effort to develop tourism object in this area. This research and development aims to (1) To determine the potential of WadukBangkes as a tourism place, (2) To determine the worthiness value of WadukBangkes usingOperation Areas Analysis of Object and Natural Tourism Attraction (ADO-ODTWA), (3) To get design of WadukBangkes as a direction to develop the tourism objects.This type of research uses a qualitative approach and design method. This research location is in the Waduk Bangkes and the source of this research data are primary data sources and secondary data sources. Data collection techniques were carried out by field observations, interviews and spreading questionnaires. Data analysis was carried out using the Guidelines ofOperation Areas Analysis of Object and Natural Tourism Attraction (ADO-ODTWA) and Analysis of Data from Subject Validation.The results of the ODTWA assessment indicate that WadukBangkes has high potential and have good criteria to be included as tourism object that is in accordance with the assessment of the objects of natural tourist attraction. In designingWadukBangkes,several facilities was build such as (1) Entrance Counters (2) Parking lots (3) Resting Area (4) Mushallah (5) Stalls (6) Gazebo (7) Playground (8) Mini Market (9) Camping Area (10) Fishing Area (11) Tubing (12) Playground (13) Hostelry (14) public bathing, washing, and toilet facilities. Based on the validation with media experts, the result ofdesign direction for development of the tourism object was 92% and stated "Very Good". The design directionto development the tourism object is using Sketcup and Lumion in the form of 3-dimensional video. It is feasible to be considered for the development of Waduk BANGKES as a tourist object.Suggestions that can be given for the utilization of development designs in the form of 3-dimensional videos are; (1) the government must develop WadukBangkes for it has a potential to earn income. Moreover,it is potential to give job vacancies for the local community; (2) for the government and the community it is necessary to establish well management to run the tourism object; (3) the government needs to invest to support the tourism object by builds additional facilities in WadukBangkes. ; (4) the government is expected to considered the media made by researcherto developeWadukBangkes