SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
1629 research outputs found
Sort by
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL BERBANTUAN LKS TERHADAP KETERAMPILAN GEOGRAFI PESERTA DIDIK KELAS XI SMA
RINGKASAN Abstrak: Materi geografi yang mencakup gejala-gejala dan proses-proses alamiah adalah situasi nyata yang tidak selalu dapat disediakan oleh guru baik di kelas maupun di lingkungannya. Media audio visual mampu menampilkan unsur-unsur yang tidak dapat dilihat secara langsung dengan mata atau yang bersifat abstrak. Melalui pembelajaran menggunakan media audio visual berbantuan LKS diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kualitas keterampilan geografi peserta didik. Pengaruh penggunaan media audio visual berbantuan LKS diteliti menggunakan rancangan penelitian Quasy Experiment pretest-posttest-control group design. Sebelum melaksanakan penelitian, ada beberapa tahap yang harus dilakukan yaitu: pembuatan instrument penelitian (RPP, butir soal, teknik pengumpulan data), validasi instrumen (validitas dan reliabilitas butir soal) menggunakan program SPSS 16.0 for Windows. Dari analisis data diperoleh hasil bahwa nilai (sig.2-tailed) adalah 0,013 dengan nilai probabilitas 0,05. Jadi nilai signifikansi (sig.2-tailed) sebesar 0,013 ≤ nilai probabilitas (0,05) yang menunjukkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima, dengan artian ada pengaruh penggunaan media audio visual berbantuan LKS terhadap keterampilan geografi peserta didik. Kata kunci: Media audio visual, LKS, Keterampilan Geograf
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN INFOGRAFIS MATERI KETAHANAN PANGAN, INDUSTRI, DAN ENERGI UNTUK SEKOLAH MENENGAH ATAS SEDERAJAT
RINGKASANKajian ini didasarkan pada fenomena generasi Z pada peserta didik Sekolah Menengah Atas yang yang pada proses pembelajaran disekolah. Fenomena ini membuat peserta didik memiliki kecendrungan gaya belajar visual yang didukung oleh teknologi yang serba bisa. Masalah yang ada dalam penelitian ini dilapangan sekolah mengizinkan menggunakan handphone, laptop, dan akses internet sebagai .Masalah yang ada di SMA Negeri 1 Jombang dalam keterbukaannya mengakses dengan teknologi yaitu tidak fokus dalam pembelajaran dan beralih menggunakan gadget yang digunakan untuk game, chat, atau hal lain diluar pelajaran. Dalam hal ini hanya segelintir guru yang sudah meng upgrade cara mengajarnya hingga sesuai dengan peserta didik yang mayoritas memiliki gaya belajar visual.Fokus penelitian ini merupakan untuk membuat media pembelajaran yang menarik dan dapat diaplikasikan di berbagai gadget. Pembuatan media pembelajaran ini harus menarik dan diperlukan unsur-unsur kekinian yang dapat menarik minat peserta didik. Pada zaman ini dunia informasi memiliki suatu terobosan media yaitu infografis. Grafis informasi atau infografis adalah representasi visual yang grafis informasi, data yang atau pengetahuan dimaksudkan untuk menyajikan informasi yang kompleks dengan cepat dan jelas (Newsom dan Haynes, 2004, p: 236). Penelitian ini menggunakan metode penelitian Borg and Gall dengan instrument skala Linked. Metode penelitian Borg and Gall yang digunakan peneliti merupakan hasil reduksi guna efesiensi waktu dan keperluan penelitian, metode yang digunakan terdiri dari; (1) penelitian dan pengumpulan data; (2) perencanaan media; (3) penegembangan produk awal; (4) validasi uji para ahli (ahli media, ahli materi dan ahli pembelajaran); (5) analisis hasil validasi; (6) revisi produk; (7) uji lapangan (uji kelompok besar dan kelompok kecil); (8) revisi produk akhir. Hasil yang penelitian yang dibangun yaitu berupa media infografis yang menarik bagi peserta didik. Media yang dibuat berupa infografis animasi, infografis ini memiliki menyediakan penyampaian informasi melalui animasi. Efek dari animasi dalam ujinya ini yaitu memiliki tingkat antusiasme yg tinggi
Penerapan Model Pembelajaran Snowball Throwing Pada Mata Pelajaran Geografi Bahasan Lingkungan Hidup Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas XI IPS 3 SMA Negeri 1 Ngadirojo Kabupaten Pacitan
ABSTRAK Kegiatan belajar mengajar terdiri dari tiga aspek. Aspek kegiatan belajar mengajar meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Aspek pada kegiatan belajar mengajar dapat menentukan proses pembelajaran yang dilakukan. Pada proses proses pembelajaran tentunya tidak semua berjalan dengan lancar. Hal ini ditemukan saat melakukan observasi di kelas XI IPS 3 SMA Negeri 1 Ngadirojo Kabupaten Pacitan. Terdapat permasalahan motivasi belajar rendah. Analisa timbulnya permasalahan meliputi aspek guru, aspek siswa, aspek sarana dan prasarana, serta aspek strategi pembelajaran. Keempat aspek penyebab permasalahan yaitu pada aspek siswa dan aspek strategi pembelajaran. Aspek siswa yaitu siswa kurang memperhatikan guru saat mengajar. Beberapa siswa berbicara dengan teman saat proses pembelajaran. Pada aspek strategi, proses pembelajaran masih menggunakan ceramah. Sehingga pembelajaran terasa kurang maksimal. Solusi permasalahan yaitu menerapkan model pembelajaran snowball throwing. Penerapan model pemebelajaran ini dikarenakan snowball throwing menambah motivasi belajar siswa. Penggunaan model pembelajaran ini lebih membuat siswa lebih maksimal dalam mengikuti proses pembelajaran. Peneliti berencana melakukan penelitian tindakan kelas. Penelitian dilakukan dalam dua siklus. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu angket, catatan lapangan, dan lembar observasi untuk melihat motivasi belajar siswa. Hasil dari penelitian menujukkan peningkatan motivasi belajar siswa. Proses pembelajaran menggunakan model snowball throwing pada siklus I motivasi belajar siswa kategori baik. Dari hasil siklus I, kemudian dilakukan perbaikan dan dilanjutkan pada siklus II. Hasil yang diperoleh pada siklus II meningkat dengan kategori baik. Sehingga disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran snowball throwing meningkatkan motivasi belajar siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 1 Ngadirojo
Pengelolaan Bencana Tanah Longsor di Kota Batu
ABSTRAK Nizam, Hatta. 2017. Pengelolaan Bencana Tanah Longsor di Kota Batu. Skripsi. Program Studi Geografi, Peminatan Pemetaan dan Pengembangan Wilayah, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Syamsul Bachri, S.Si, M.Sc,Ph.D (2) Drs. Sudarno Herlambang, M.Si. Kata Kunci: Pengelolaan Bencana, Tanah Longsor Kota Batu merupakan daerah yang terletak di kaki gunung Panderman serta memiliki kondisi geomorfologi berupa perbukitan. Keadaan fisik tersebut membuat wilayah tersebut memiliki kemiringan lereng yang curam. Hal ini membuat wilayah tersebut rawan terhadap terjadinya bencana tanah longsor. Bencana tanah longsor yang terjadi di Kota Batu menyebabkan kerugian yang sangat besar, baik kerugian infrastruktur maupun korban jiwa. Oleh sebab itu perlu adanya pengelolaan bencana tanah longsor yang ada di Kota Batu. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Batu dengan tujuan untuk mengetahui: bentuklahan, distribusi bencana dan kerawanan tanah longsor, hubungan bentuk lahan dengan kerawanan tanah longsor dan pengelolaan bencana tanah longsor. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian survey dengan analisis deskriptif yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Data primer pada penelitian diperoleh dari hasil pengamatan di lapangan dengan teknik observasi, dokumentasi, pengukuran dan uji laboratorium, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur, dinas-dinas terkait dengan teknik dokumentasi. Pengolahan data kerawanan mengunakan teknik penyekoran dan pembuatan peta menggunakan software Arcgis 10.4. Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis deskriptif berdasarkan indikator penelitian dan Pengelolaan bencana tanah longsor yang dilakukan yaitu berupa faktor fisik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 10 bentuk lahan yang adadi Kota Batu. Distribusi bencana tanah longsor tahun 2012-2016 sebanyak 101 kejadian tersebar di tiga kecamatan Junrejo 14 kejadian, Batu 45 kejadian, dan Bumiaji 42 kejadian. Tingkat kerawanan tanah longsor dihasilkan 0% rendah, 27,6% sedang, 51,37 tinggi dan 21,02 sangat tinggi. Analisis hubungan bentuk lahan dengan kerawanan tanah longsor menunjukan pada bentuk lahan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi disebabkan karena beberapa faktor seperti lereng, relief, faktor tanah, penggalian tebing dan penggunaan lahan. Pengelolaan bencana tanah longsor yang harus dilakukan yaitu sesuai karasteristik bentuk lahan, distribusi bencana dan indikator yang mempengaruhi kerawanan tanah longsor. Berdasarkan hasil penelitian diharapkan semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat bekerjasama dalam melakukan pengelolaan terhadap bencana tanah longsor, utamanya dalam distribusi tanah longsor yang merupakan bencana periodik yang setiap tahun terjadi, karasteristik bentuk lahan dan faktor yang paling berpengaruh yaitu kemiringan lereng, penggalian tebing, tekstur tanah diperlukan berupa pengawasan berkala dan sistematis, penanaman pohon pada lahan miring dan pembuatan beton pada daerah miring
IDENTIFIKASI PEDAGANG KAKI LIMA KULINER DI ALUN-ALUN KOTA MADIUN DAN PEMETAANNYA
ABSTRAK Pradana, SuryaIdhi. 2017. Identifikasi Pedagang Kaki Lima Kuliner Di Alun-alun Kota Madiun Dan Pemetaanya. Skripsi, Jurusan Geografi FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Ach. Amirudin, M.Pd, (II) Dr. Singgih Susilo, M.S, M.Si Kata Kunci: pola keruangan, pedagang kaki lima, kuliner, pemetaan. Pedagang kaki lima kuliner di Alun-alun Kota Madiun dengan segala karakteristiknya selalu bisa menarik perhatian masyarakat. Mulai dari jenis usahanya yang beragam, harganya yang murah sampai tempat berjualannya. Tetapi keberadaan mereka yang menempati setiap ruang dan fasilitas publik menimbulkan dampak tersendiri di Alun-alun. Kondisi kebersihan dimana banyak tercecer sampah, hingga menempati trotoar untuk berjualan menimbulkan ketidaknyamanan bagi pengguna fasilitas publik. Belum adanya penataan, pembinaan dan juga pengelolaan yang baik oleh pemerintah Kota Madiun, menjadikan alas an peneliti melakukan penelitian ini. Peneliti mencoba untuk mendata pedagang kaki lima melalui metode survey. Pedagang kaki lima kuliner di Alun-alun Kota Madiun diwawancara untuk mendapatkan identitas ekonomi, social dan juga demografi dari pedagang kaki lima kuliner. Hasil survey berupa data karakteristik pedagang kaki lima kuliner yang selanjutnya dilanjutkan dengan pemetaan dengan ArcGis 10.1 Hasil penelitian menunjukkan bahwa pedagang kaki lima kuliner di Alun-alun Kota Madiun berjumlah 248 pedagang. Pedagang makanan berat adalah pedagang yang paling banyak dibanding dengan yang lain. Persebaran pedagang kaki lima kuliner berkelompok menempati tempat-tempat penting seperti tempat-tempat perbelanjaan dan juga Rumah Sakit. Pemerintah Kota Madiun seharusnya lebih memeprhatikan kondisi baik kualitas maupun kuantitas pedagang kaki lima khususnya pedagang kaki lima kuliner sehingga selain dapat menjadikan keuntungan bagi masyarakat juga dapat menambah pendapatan asli daerah Kota Madiun
Evaluasi Wisata Sejarah Majapahit Di Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto
Aggitama, Yoga Bayu. 2017. Evaluasi Wisata Sejarah Majapahit di Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto. Skripsi. Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs.Marhadi Slamet K, M.Si, (II) Ardyanto Tanjung, S.Pd, M.Pd Kata Kunci: wisata sejarah, kondisi objek, kondisi fasilitas pendukung, kondisi aksesibilitas Kabupaten Mojokerto merupakan salah satu tujuan wisata di jawa timur yang mempunyai berbagai objek dan daya tarik wisata. Kabupaten Mojokerto memiliki banyak objek wisata diantaranya wisata alam, budaya, kepurbakalaan, wisata buatan dan pendukung wisata. Wisata yang paling menonjol di Kabupaten Mojokerto adalah wisata budaya dan sejarah. Potensi wisata budaya dan sejarah sangat besar di Kabupaten Mojokerto karena banyak peninggalan situs purbakala dan peninggalan kerajaan majapahit yang ditemukan di wilayah Kabupaten Mojokerto. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi objek wisata sejarah kerajaan Majapahit di Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto, kondisi fasilitas pendukung objek wisata sejarah kerajaan Majapahit di Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto, kondisi aksesibilitas objek wisata sejarah kerajaan Majapahit di Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan teknik analisis tabulasi tunggal dengan teknik pengumpulan data observasi lapangan pada kondisi objek, kondisi fasilitas pendukung, kondisi aksesibilitas wisata untuk mengetahui gambaran tentang objek wisata trowulan,wawancara ditujukan untuk petugas yang ada di objek wisata Trowulan dan pengunjung, dokumentasi untuk menambah dan memperkuat data hasil penelitian. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil kondisi objek, kondisi fasilitas pendukung dan kondisi aksesibilitas. Sebagian besar objek wisata yang ada pada situs sejarah pada kondisi baik. Sebagian lagi pada kondisi sedang. Kondisi fasilitas pendukung sebagian besar pada kondisi sedang. Aksesibilitas menuju objek wisata sebagian besar juga pada kondisi sedang. Masih ada beberapa objek wisata yang perlu peningkatan dan pembangunan dalam segi perawatan, fasilitas pendukung dan aksessibilitas.
Pengaruh Disiplin Waktu Pemakaian Pil KB, Keadaan Sosial Ekonomi dan Pandangan Nilai Anak Terhadap Fertilitas di Kecamatan Gondangwetan Kabupate Pasuruan
Fertilitas (kelahiran) sebagai istilah demografi diartikan sebagai hasil reproduksi yang nyata dari seorang wanita atau sekelompok wanita yang dinyatakan sebagai anak lahir hidup. Kondisi fertilitas pada suatu daerah secara umum dapat dilihat dari jumlah kelahiran kasar atau Crude Birth Rate dan rata-rata kelahiran wanita selama masa reproduksi atau Total Fertility Rate. Angka Kelahiran Kasar (CBR) menunjukan banyaknya suatu kelahiran pada tahun tertentu per 1000 wanita dalam pertengahan tahun yang sama. Angka Kelahiran Kasar Kecamatan Gondangwetan sebesar 13,56 jiwa dan CDR sebesar 4,5 sehingga pertambahan penduduk Kecamatan Gondangwetan sebesar 9,06, sedangkan Angka Fertilitas Total (TFR) adalah 3,1 yang berarti setiap wanita selama masa reproduksinya melahirkan anak lahir hidup sebanyak 3 kali. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan metode explanatory, yaitu jenis penelitian yang mempunyai tujuan untuk mengetahui (menguji) ada tidaknya hubungan, sifat hubungan dan besar hubungan antara dua variabel atau lebih. Variabel pada penelitian sejumlah enam variabel, yaitu disiplin waktu pemakaian kontrasepsi pil, lama pemakaian kontrasepsi, tingkat pendidikan, pendapatan, nilai anak, dan usia kawin pertama. Penelitian ini menggunakan menggunakan parameter dengan metode korelasional. Penarikan sampel dilakukan secara proporsional random sampling. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 80 responden dari empat desa di Kecamatan Gondangwetan. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode survey dan wawancara terstruktur. Analisis data variabel pada penelitian ini menggunakan tabulasi tunggal, tabulasi silang serta uji statistik regresi linier berganda. Hasil analisis tabulasi silang dan uji F (simultan) regresi berganda menunjukan variabel-variabel independen secara simultan berpengaruh terhadap fertilitas. Uji t (parsial) regresi berganda menunjukan variabel lama penggunaan kontrasepsi berpengaruh terhadap fertilitas. Berdasarkan hasil perhitungan sumbangan efektif, variabel lama penggunaan kontrasepsi memberikan sumbangan paling dominan sedangkan variabel nilai anak memberikan sumbangan paling. Saran yang diajukan berdasarkan permasalahan yaitu 1)meningkatkan kesadaran akseptor pil mengenai kedisiplinan pemakaian pil kb melalui kerja sama dengan tokoh masyarakat, bidan desa dan kader-kader kb 2) meningkatkan kualitas Peran Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD) sehingga kinerja para PPKBD dalam melakukan pembinaan dan penyuluhan alat kontrasepsi dan keluarga berencana dapat lebih optimal
Analisis Potensi Agrowisata di Kelurahan Temas Kecamatan Batu
ABSTRAK Santoso, Ronald Fabrizio Agung. 2017. Analisis Potensi Agrowisata di Kelurahan Temas Kecamatan Batu. Skripsi. Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Djoko Soelistijo, M.Si, (II) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si Kata Kunci: Analisis Potensi Objek Wisata, Arahan Pengembangan, Objek Wisata Alam Agrowisata merupakan salah satu objek wisata yang ada di Kota Batu, tepatnya di Kelurahan Temas Kecamatan Batu. Agrowisata memiliki potensi kekayaan sumberdaya alam yang melimpah. Akan tetapi potensi yang ada di Agrowisata di Kelurahan Temas Kecamatan Batu belum dikembangkan secara optimal. Hal ini dipengaruhi oleh faktor kurangnya jumlah pengunjung dan kurangnya sarana dan prasarana penunjang. Penelitian mengenai Analisis Potensi Agrowisata di Kelurahan Temas Kecamatan Batu penting dilakukan untuk mengetahui arahan pengembangan yang dapat digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan objek wisata ini secara terpadu sesuai dengan potensi yang ada. Akan tetapi perlu pengkajian terlebih dahulu tentang potensi-potensi wisata apa saja yang terdapat di Agrowisata di Kelurahan Temas Kecamatan Batu. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan tujuan mendeskripsikan nilai potensi dan mengetahui arahan pengembangan yang sesuai berdasarkan potensinya di Agrowisata di Kelurahan Temas Kecamatan Batu. Data penelitian ini berupa kondisi potensi objek wisata dan pengunjung. Kondisi potensi objek wisata terdiri dari beberapa unsur, meliputi : daya tarik, aksesbilitas, kondisi sosial masyarakat, sarana prasarana penunjang, dan ketersedian air bersih. Kondisi pengunjung berkaitan dengan karakter pengunjung, motif, aktivitas, dan persepsi pengunjung. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan kuisioner. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan scoringADO-ODTWA. Kriteria penilaian ADO-ODTWA mengacu pada Pedoman Analisis Daerah Operasi dan Daya Tarik Wisata Alam yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Tahun 2003 yang telah dimodifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Agrowisata di Kelurahan Temas Kecamatan Batu memiliki nilai potensi sebesar 3120 yang tergolong kedalam klasifikasi tinggi. Arahan pengembangan yang sesuai berdasarkan potensi Agrowisata di Kelurahan Temas Kecamatan Batu adalah dengan memperbaiki dan menambah sarana prasarana penunjang yang ada didalam kawasan objek wisata
Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Pada Mata Pelajaran Geografi Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Analisis Siswa Kelas X IIS 1 MA Al Maarif Singosari Malang
RINGKASAN Ansori, Istiqomah. 2018. Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Pada Mata Pelajaran Geografi Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Analisis Siswa Kelas X IIS 1 MA Al Maarif Singosari Malang. Skripsi. Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri malang. Pembimbing : (I) Drs. Yusuf Suharto, M.Pd., (II)Drs. Marhadi Slamet Kristiyanto, M.Si. Kata Kunci : Inkuiri Terbimbing, Kemampuan Berpikir Analisis. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya permasalahan yaitu tingkat kemampuan berpikir analisis siswa kelas X IIS 1 rendah. Rendahnya kemampuanberpikir analisis ditandai dengan jawaban siswa cenderung menjawab sesuai penjelasan dari guru, kurang mampu memberikan solusi yang tepat dalam memecahkan permasalahan. Kemampuan berpikir analisis yang rendah juga dibuktikan dari hasil tes pra siklus yang dilakukan peneliti, hanya 24% siswa yang mampu menjawab soal dengan indikator berpikir analisis. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian penerapan model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir analisis siswa yaitu model pembelajaran inkuiri terbimbing. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Setiap siklus menerapkan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan dilaksanakan dua kali pertemuan. Setiap siklus terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal essay berjumlah empat soal yang dikembangkan berdasarkan indikator kemampuan berpikir analisis yaitu mengidentifikasi masalah, menggunakan konsep, membedakan hubungan sebab akibat, dan menetapkan solusi yang tepat. Tes ini dilakukan pada setiap akhir siklus. Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan pada mata pelajaran Geografi materi hidrosfer, terdapat peningkatan hasil tes kemampuan berpikir analisis pada tahap pra siklus, siklus I dan siklus II. Pada tahap pra siklus ke siklus I, peningkatan kemampuan berpikir analisis siswa adalah 7,35%, sedangkan peningkatan berdasarkan indikator mengidentifikasi masalah 15%, indikator menggunakan konsep 12,22%, indikator membedakan hubungan sebab dan akibat 14,44%, dan indikator menetapkan solusi suatu masalah adalah 9,45%. Peningkatan pada siklus I ke siklus II peningkatan kemampuan berpikir analisis siswa adalah 15,06%, sedangkan peningkatan indikator mengidentifikasi masalah 29,44%, indikator menggunakan konsep 28,33%, indikator membedakan hubungan sebab dan akibat 27,23%, dan indikator menetapkan solusi suatu masalah yaitu 30,00%. Berdasarkan analisis data penelitian, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran inkuiri terbimbing dapat meningkatkan kemampuan berpikir analisis siswa kelas X IIS 1 MA Al Maarif Singosari Malang.
ANALISIS KERENTANAN BENCANA BANJIR DI KECAMATAN SAMPANG, MADURA
ABSTRAK Setiap tahun Kecamatan Sampang mengalami banjir hal ini disebabkan oleh meluapnya Kali Kemuning. Meluapnya kali kemuning di Kecamatan Sampang diakibatkan oleh faktor fisik wilayah yaitu kemiringan lereng, elevasi, penggunaan lahan, dan infiltrasi tanah. Analisis kerentanan banjir di Kecamatan Sampang dilakukan dengan menghitung debit limpasan permukaan DAS Kali Kemuning pada periode ulang 2, 5, 10 dan 25 tahun, dan persebaran genangan banjir dengan menggunakan program HEC-RAS berdasarkan parameter fisik banjir. Jenis data yang digunakan antara lain data primer dan data sekunder. Data primer dalam penelitian ini adalah data penampang sungai dan data infiltrasi tanah, sedangkan data sekunder berupa data curah hujan tahun 2006 – 2015, data ASTER DEM 30m untuk lereng dan pembuatan peta DAS, citra SAS Planet untuk penutup lahan dan data kejadian banjir di Kecamatan Sampang. Analisis data yang digunakan adalah analisis hidrologi, dan analisis kerentanan luapan banjir berdasarkan kondisi fisik. Analisis hidrologi dilakukan untuk menentukan hujan efektif dan intensitas hujan pada periode ulang 2, 5, 10 dan 25 tahun sebagai input perhitungan hidrograf debit limpasan metode HSS Nakayasu. Analisis kerentanan banjir berdasarkan luapan dengan menggunakan metode HEC-RAS digunakan untuk mengetahui zona rentan berdasarkan luapan banjir yang meliputi tinggi banjir, luas luapan dan juga parameter-parameter fisik yang menjadi parameter kerentanan banjir. Hasil analisis hidrologi menunjukkan debit limpasan permukaan pada periode ulang 2, 5, 10 dan 25 tahun secara berturut-turut sebesar 314,773 m3/detik, 361,889 m3/detik, 386,767 m3/detik, dan 437,052 m3/detik. Hasil permodelan banjir HEC-RAS dari 11 titik sampel mengalami luapan dengan debit 2, 5, 10 dan 25 tahun. Tinggi luapan berbeda-beda di setiap titik, rata-rata luapan adalah 0,5m – 2m. Genangan banjir pada debit periode ulang 2 tahun adalah 60,69 ha, wilayah yang tergenang meliputi Desa Polagan 0,78 ha, Banyu Anyar 10,42 ha, Rong Tengah 19,73 ha, Karang Dalem 0,019 ha, Gunung Sekar 0,32 ha, Dalpenang 16,04 ha, Paseyan 0,32 ha. Debit rencana kala ulang 10 tahun wilayah yang tergenang banjir seluas 73,18 ha, wilayah yang tergenang meliputi Desa Polagan 0,78 ha, Banyu Anyar 14,26 ha, Rong Tengah 21,71 ha, Karang Dalem 0,05 ha, Gunung Sekar 0,68 ha, Dalpenang 18,01 ha, Paseyan 0,39 ha. Debit rencana kala ulang 25 tahun wilayah yang tergenang banjir adalah seluas 109,38 ha, wilayah yang tergenang meliputi Desa Polagan 17,61 ha, Banyu Anyar 20,52 ha, Rong Tengah 27,78 ha, Karang Dalem 0,068 ha, Gunung Sekar 15,08 ha, Dalpenang 21,94 ha, Paseyan 0,57 ha. Wilayah yang tergenang banjir merupakan wilayah yang rentan karena kondisi fisik yang tidak mampu menerima debit di setiap kala ulang