SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    1629 research outputs found

    Penerapan Model Pembelajaran Group Investigation Untuk Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah Pada Materi Dinamika Hidrosfer Peserta Didik Kelas X IPS MA Darul Ulum Gondanglegi.

    No full text
    RINGKASAN Penelitian ini dilatarbelakangi pentingnya peserta didik mempunyai kemampuan memecahkan masalah agar dapat membangun pemikiran konstruktif, sistematis dan fokus. Kemampuan tersebut diukur dengan indikator identifikasi masalah, merumuskan masalah, menganalisis masalah, menentukan beberapa alternatif solusi, memecahkan masalah. Namun peserta didik kelas X IPS MA Darul Ulum Gondanglegi mempunyai kemampuan memecahkan masalah yang rendah. Hal tersebut berdasarkan hasil tes kemampuan memecahkan masalah pratindakan, sebanyak 62,5% peserta didik mendapatkan nilai dengan kriteria rendah. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui peningkatan kemampuan memecahkan masalah peserta didik kelas X IPS MA Darul Ulum Gondanglegi dengan menerapkan model pembelajaran group investigation. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini terdapat dua siklus yang terdiri dari empat tahap pada setiap siklusnya yaitu; (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) pengamatan  dan, (4) refleksi. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 24 peserta didik. Data kemampuan memecahkan masalah  peserta didik diperoleh dari hasil tes kemampuan memecahkan masalah yang dilakukan setiap akhir siklus. Data tersebut kemudian dianalisis dengan menggunakan metode komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran group investigation dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah peserta didik kelas X IPS MA Darul Ulum Gondanglegi. Hasil penerapan model pembelajaran group investigation menunjukkan bahwa nilai rata-rata kemampuan memecahkan masalah pra tindakanyaitu 55,8. Nilai rata-rata kemampuan memecahkan masalah siklus I meningkat menjadi 71,4. Nilai rata-rata kemampuan memecahkan masalah siklus II juga meningkat menjadi 83,1. Persentase peningkatan kemampuan memecahkan masalah dari pra tindakan ke siklus I sebesar 27,9% dan persentase peningkatan kemampuan memecahkan masalah dari siklus I ke siklus II sebesar 19,5%

    Pengaruh Model Pembelajaran Discovery pada Mata Pelajaran Geografi Terhadap Kemampuan Berpikir Analitis Siswa Kelas XI IPS SMAN 1 Pare

    No full text
    RINGKASAN   Setyoningrum, Putri Maulina. 2018. Pengaruh Model Pembelajaran Discovery pada Mata Pelajaran Geografi Terhadap Kemampuan Berpikir Analitis Siswa Kelas XI IPS SMAN 1 Pare. Skripsi. Jurusan Geografi. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Hadi Soekamto, S.H, M.Pd, M.Si., (2) Syamsul Bachri, S.Si, M.Sc., Ph.D.   Kata kunci: Model Pembelajaran Discovery, Kemampuan Berpikir Analitis   Model pembelajaran discovery dipilih untuk dieksperimenkan karena beberapa alasan. Alasan tersebut yaitu: (1) model pembelajaran discovery sesuai dengan Kurikulum 2013 yang menerapkan pendekatan saintifik; (2) membantu siswa menemukan pengetahuan baru melalui penemuan; serta (3) mampu meningkatkan kemampuan berpikir pada siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran discovery pada mata pelajaran geografi terhadap kemampuan berpikir analitis siswa kelas XI IPS SMAN 1 Pare. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen semu (quasi experiment) dengan rancangan penelitian berupa test. Kelas yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelas XI IPS 3 sebagai kelas kontrol dengan jumlah 26 siswa, dan kelas XI IPS 2 sebagai kelas eksperimen dengan jumlah 39 siswa. Instrumen pengukuran kemampuan berpikir analitis menggunakan soal uraian sebanyak empat butir soal. Analisis yang digunakan adalah uji Independent Sample T-test.Kelas yang dipilih kemudian diberikan perlakuan yang berbeda. Pada kelas kontrol pembelajaran dilakukan dengan metode konvensional, sedangkan kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran discovery. Pada kelas kontrol, siswa disampaikan materi mitigasi dan adaptasi bencana menggunakan ceramah. Pada kelas eksperimen, materi mitigasi dan adaptasi bencana diberikan kepada siswa dengan kegiatan inovatif, dimana siswa diharuskan mencari sendiri pengetahuannya melalui model pembelajaran discovery, sehingga siswa mampu mengembangkan pemikirannya sendiri berdasarkan pengetahuan yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukkanbahwa ada pengaruh model pembelajaran discovery terhadap kemampuan berpikir analitis siswa. Kelas yang diberikan perlakuan menggunakan model pembelajaran discovery sebagian besar siswanya mampu menganalisis masalah pada materi mitigasi dan adaptasi bencana. Ini terjadi karena pada model pembelajaran discovery siswa diberi kebebasan untuk mencari pengetahuannya sendiri melalui penemuan, sehingga mereka mampu menerima pengetahuan tersebut dengan mudah. Sebaliknya, siswa yang hanya mendengarkan penjelasan tentang materi mitigasi dan adaptasi bencana cenderung sulit menganalisis masalah yang diberikan. Hal tersebut dapat dilihat dari perbedaan rata-rata nilai kemampuan berpikir analitis siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen. Rata-rata nilai kemampuan berpikir analitis siswa kelas eksperimen sebesar 77,92, sedangkan rata-rata nilai kemampuan berpikir analitis siswa kelas kontrol sebesar 72,76. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh model pembelajaran discovery pada mata pelajaran geografi terhadap kemampuan berpikir analitis siswa kelas XI IPS SMAN 1 Pare.  SUMMARY   Maulina, Putri Setyoningrum. 2018. The Effectiveness of Discovery Learning Model on Geography Analytical Thinking Ability of Students in 11th Grade Social Sciences Senior High School 1 Pare. Thesis. The Department of Geography. Faculty of Social Sciences. State University of Malang. Supervisor: (1) Drs. Hadi Soekamto, S.H, M.Pd, M.Si, (2) Syamsul Bachri, S.Si, M.Sc., Ph.D.   Keywords: Discovery Learning Model, Analytical Thinking Ability   Discovery learning models are chosen to experiment for several reasons. These reasons are: (1) discovery learning model in accordance with the 2013 curriculum that applies a scientific approach; (2) help students discover new knowledge through discovery; and (3) to increase the ability of thinking in students. This research aims to know the influence of discovery learning model in geography to analytical thinking ability of students in 11th grade social sciences senior high school 1 Pare. Research methods used in this research was quasiexperiment with test as design of the research. Class that is used in this research is the XI IPS 3 control as a class with 26 students, and XI IPS 2 as class experiments with 39 students. Analytical thinking ability measurement instruments using the reserved descriptions as much as four grains of matter. The analysis of the test used was the Independent Sample T-test.The class chosen is then given a different treatment. The learning of control class is carried out using conventional methods, while the experimental class uses discovery learning models. In the control class, students are presented with disaster mitigation and adaptation materials using lectures. In the experimental class, disaster mitigation and adaptation material is given to students with innovative activities, where students are required to find their own knowledge through discovery learning model, so that students are able to develop their own thoughts based on the knowledge acquired. The results showed that there was influence of discovery learning model towards analytical thinking ability of students.Classes that are given treatment using discovery learning model are mostly students able to analyze problems in disaster mitigation and adaptation material. This happens because in the discovery learning model students are given the freedom to seek their own knowledge through discovery, so that they are able to receive that knowledge easily. Conversely, students who only listen to the explanation of disaster mitigation and adaptation material tend to be difficult to analyze the problem given. It can be saw from the difference in the average value of analytical thinking ability at control class and experiments class. The average value of analytical thinking ability grade experiment of 77,92, while the average value of analytical thinking ability grade control of 72,76. Thus, it can be concluded that there is an influence of discovery learning modelin geography to analytical thinking ability of students in 11th grade social sciences senior high school 1 Pare

    PERBEDAAN POTENSI MATA AIR BERDASARKAN FORMASI GEOLOGI DI SUB DAS METRO BAGIAN SELATAN KABUPATEN MALANG

    No full text
    RINGKASAN Nisak, NenengKhoirun. 2018. PerbedaanPotensi Mata Air BerdasarkanFormasiGeologi Di Sub Das Metro Bagian Selatan Kabupaten Malang 2018. Skripsi, Program  StudiGeografi, JurusanGeografi, FakultasIlmuSosial,  UniversitasNegeri  Malang. Pembimbing; (I) Dr. DidikTaryana, M.Si, (II) Purwanto, S.Pd, M.Si, Kata Kunci:potensimata air, formasigeologi, sub das metro selatan. Sub DAS Metro Bagian Selatan memilikijenisbatuan yang didominasiolehbatuanbekupadaformasiendapangunungapiQpvb, Qptm, danQpkb. Perbedaanjenisbatuanmembuatpotensimata air berbeda di setiapformasi, baikdarikualitasmaupunkontinuitas. PemerintahKabupaten Malang telahberencanamenggantipemakaian air sumurdan air sungaiuntukkebutuhanpokokkemata air kecualiuntukKecamatanPoncokusumosebagaiupayadalamperlindungan air tanah.Kurangnyapengetahuanmasyarakatterhadappotensimata air danterbatasya datatentangpotensimata air berdasarkanformasigeologi, makapenelitiansangatdiperlukanuntukmenunjukkanbahwamata air yang ditelitimampumenjadipengganti air sumur. PenelitianinibertujuanuntukmengetahuiperbedaanKontinuitasdankualitasmata air berdasarkanformasigeologi Sub DAS Metro Selatan. Analisispotensimata air dilakukandenganmengetahuiperbedaankontinuitas, kualitasmenggunakanujibedasatusampel, danmembandingkan data kualitasmata airdenganstandarbakumutu air minummenurut PERMENKESRINo.492/ MENKESPER / IV / 2010. Jenispenelitianadalah survey, denganjenis data kuantitatifdenganmengumpulkan data primer berupakontinuitasdankualitasmelaluiwawancara, ujilaboraturium, dan data instansiterkait. Analisis data kontinuitasdankualitas dilakukandenganujibedasatusampel -t, danmembadingkankualitas air mataair denganstandartbakumutu air minummenggunakananalisisdeskritifkomparatif. Analisismenunjukkanbahwaadaperbedaandalamkontinuitasmata air berdasarkanformasigeologi. Berdasarkankontinuitassembilanmata air hanyatujuhmata air yang memilikipotensi, danduamata air dapatdikatakantidakberpotensimaupundieksploitasi. Kontinuitasterbaikdarisembilanmata air yang adaterdapatpadamata air SumberUbalan. Terdapatperbedaankualitas air berdasarkanformasigeologi yang disebabkanolehpelarutanbatuan, denganpotensikualitasterbaik yang ditemukan di mata air SumberDilem. Berdasarkanstandarkualitas air menurut PERMENKES No.492 / MENKES / PER / IV / 2010 termasukdalamkelompok A, yang berartibahwa air dapatdikonsumsitanpapengolahan. Saran yang diberikanberdasarkanhasilpenelitiandari (1) kondisikontinuitasdengan debit lebihdari 100 l / d diharapkanmata air dapatdikelolalebihlanjutsepertiproduksi air kemasandanwahanawisata air. (2) Untukkualitasmata air,diharapkankegiatanwargadanindustri yang dapatmenyebabkanpencemaranmenjauhdarikawasankonservasimata air, sehinggakualitasmata air tetapterjaga.(3) Berdasarkanstandarkualitas air, diharapkanmata air akandikeloladenganbaikuntukkebutuhansesuaifungsimata air dengangolongan A / I.   SUMMARY Nisak, NenengKhoirun. 2018. TheDifferences of Potential Springs Based on Geological Formation in the Southern Metro Sub Watershed of Malang Regency. Thesis, Department of Geography, Faculty of Social Sciences, State University of Malang. Advisors:(I) Dr. DidikTaryana, M.Sc, (II) Purwanto, S.Pd, M.Sc, Key Word: potential of springs, geological formations, metro sub-watersheds The Southern Metro Sub-watershed has rock types dominated by igneous rocks in the form of Qpvb, Qptm, and Qpkb volcanic deposits. The differences of the rock types make the potential of springs different in each formation, both from quality and continuity. The Government of Malang Regency has planned to replace well’s water and river water consumption for basic needs to springs water except for Poncokusumo Sub-district, as an effort to protect ground water. Lack of public knowledge of the potential of springs and limited of springs potential data based on geological formations, then the research is necessary to show that the springs studied are able to substitute well water. The study aims to determine the difference of spring potention, base ongeological formation. Potential analysis of springs is carried out by knowing differences of continuity, quality, and comparing the quality data of springs with drinking water quality standards according to PERMENKESRI No.492 / MENKES PER / IV / 2010. This type of research is survey, with a type of quantitative data by collecting primary data that are continuity and quality through interviews, laboratory tests, and data from related institute data. Continuity and quality data analysis was done by One Sample t-Test experiment, and comparing of springs water quality based on drinking water quality standards using descriptive-comparative analysis. Analysis shows that there are differences in the continuity of springs based on geological formations. Based on the continuity of nine springs only seven springs have potential, and two springs can be said to did’t potential or for eksploited. The best continuity of the nine springs is in the Springs SumberUbalan. There are differences in water quality based on geological formations caused by dissolution of rocks, with the best quality potential found in the springs of Dilem Source. Based on water quality standards according to PERMENKES No.492 / MENKES / PER / IV / 2010 included in group A, which means that water can be consumed without processing. Suggestions given are delivered based on the results of research from (1) conditions of continuity with discharge of more than 100 l / d. It is expected that springs can be managed further such as the production of bottled water and water tourism vehicles. (2) For the quality of the spring, it is expected that residents and industry activities can cause pollution away from the springs conservation area, so that the quality of the springs is maintained. (3) Based on water quality standards, it is expected that the springs will be well managed for the needs in accordance with the functions of spring A / I springs

    Pengaruh Model Pembelajaran Science, Environment, Technology, And Society (SETS) Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Geografi Peserta Didik SMA

    No full text
    ABSTRAK   Muniroh, Siti 2017. Pengaruh Model pembelajaran Science, Environment, Technology and Society (SETS) terhadap Kemampuan berpikir kritis Geografi Peserta didik SMA. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sudarno Herlambang,  M.Si, (II) Ardyanto Tanjung, S.Pd, M.Pd   Kata Kunci: berpikir kritis,  pengaruh model pembelajaran Science, Environment, Technology, and Society (SETS)   Berpikir kritis peserta didik merupakan kemampuan seseorang dalam merumuskan pertanyaan, membuat argumen berdasarkan informasi yang akurat, kemampuan menyimpulkan, mencari informasi pendukung dalam berargumen, membuat strategi sebagai solusi, dan meminta pendapat orang lain atas apa yang telah ia putuskan. Tetapi, tidak semua peserta didik memiliki semua aspek tersebut. Hal ini dikarenakan, model pembelajaran yang masih bersifat konvensional. Model pembelajaran Science, Environment, Technology, and Society (SETS) dapat menjadi salah satu solusi dalam memberikan kesempatan bagi setiap peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis mereka. Maka dari itu, peneliti ingin melihat pengaruh model pembelajaran Science, Environment, Technology, and Society (SETS) terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Geografi Peserta Didik SMA. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental dengan desain Pre Test-Post Test Control Group Design yang terdiri dari satu kelas eksperimen dan satu kelas kontrol. Kelas eksperimen diberikan perlakuan berupa model pembelajaran SETS dan kelas kontrol diberikan perlakuan berupa model pembelajaran konvensional. Teknik analisis yang digunakan adalah uji beda Independent Samples T-Test. Berdasarkan uji hipotesis kemampuan berpikir kritis peserta didik menunjukkan adanya perbedaan rata-rata nilai yang diberikan perlakuan sebagai kelompok eksperimen dan yang tidak diberikan perlakuan sebagai kelompok kontrol. Nilai rata-rata kemampuan berpikir kritis kognitif peserta didik pada kelas eksperimen sebesar 89,32 dan pada kelas kontrol sebesar 86,18. Pada kedua kelompok tersebut terjadi peningkatan dengan selisih sebesar 3,14. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dan nilai Sig. (2-tailed) adalah 0,000 < 0,05. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran SETS berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik. Saran yang diberikan kepada guru adalah: model pembelajaran Science, Environment, Technology, and Society (SETS) efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis khususnya dengan teknik berbasis masalah. Saran untuk peneliti selanjutnya adalah: 1) Memperhatikan kemampuan berpikir kritis peserta didik diluar pemberian perlakuan, 2) Menggunakan metode lain, 3) Melakukan penelitian lanjutan dengan metode berbeda, subjek lebih luas, waktu yang lebih lama dan menambahkan jumlah intervensi

    PERBANDINGAN PEMANFAATAN MEDIA VIDEO DAN MEDIA GAMBAR TERHADAP HASIL BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN GEOGRAFI MATERI TEKTONISME SISWA KELAS X MAN 1 PASURUAN

    No full text
    ABSTRAK   Falakh, Muhammad Shobakhul. 2017. Perbandingan Pemanfaatan Media Video dan Media Gambar Terhadap Hasil Belajar dalam Pembelajaran Geografi Materi Tektonisme Siswa Kelas X MAN 1 Pasuruan. Skripsi, Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial aUniversitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Yusuf Suharto, M.Pd, (II) Syamsul Bachri, S.Si, M.Sc, Ph.D.   Kata kunci: media video, media gambar, hasil belajar   Proses pembelajaran yang menarik dapat menggunakan media pembelajaran. Media yang paling sering digunakan guru pada saat menyampaikan materi yakni berupa video dan gambar. Penelitian ini ingin membuktikan diantara kedua media tersebut mana yang lebih baik terhadap hasil belajar ketika digunakan oleh guru. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu dan termasuk penelitian kuantitatif dengan desain Posttest-Only Control Group Design. Penelitian ini menggunakan kelas X IIS 2 sebagai kelas eksperimen dengan jumlah 38 siswa dan kelas X IIS 3 sebagai kelas kontrol dengan jumlah 39 siswa. Instrumen pengukuran hasil belajar menggunakan soal esai sebanyak 4 soal. Analisis data yang digunakan adalah uji t-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media video lebih baik terhadap hasil belajar bila dibandingkan dengan menggunakan media gambar dalam pembelajaran geografi materi tektonisme. Hal ini terbukti dengan rata-rata hasil belajar yang diperoleh oleh kelompok siswa kelas eksperimen dan kelompok siswa kelas kontrol. Rata-rata hasil belajar yang diperoleh siswa memiliki perbedaan, kelompok siswa kelas eksperimen mendapatkan rata-rata hasil belajar 64,96 sedangkan kelompok siswa kelas kontrol mendapatkan 57,89. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar dengan memanfaatkan media video lebih baik bila dibandingkan dengan media gambar dalam pembelajaran tektonisme terhadap hasil belajar siswa kelas X MAN 1 Pasuruan

    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED INSTRUCTION (PBI) UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS XI MATERI PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM INDONESIA SMA BRAWIJAYA SMART SCHOOL MALANG

    No full text
    ABSTRAK   Observasi awal diketahui bahwa siswa kelas XI-6 SMA Brawijaya Smart School Malang siswa kurang kritis dalam berpikir. Hal tersebut ditunjukkan dari kurangnya kemampuan siswa dalam proses perumusan masalah hingga penarikan kesimpulan serta rendahnya antusiasme siswa dalam tanya jawab dan menanggapi fenomena yang dihadirkan saat diskusi berlangsung. Apabila sebuah materi mengharuskan siswa kelas XI-6 melakukan diskusi, mereka hanya melakukan diskusi ringan tanpa memperhatikan tujuan dari diadakannya diskusi tersebut yaitu agar siswa lebih kritis dalam proses pembelajaran. Hal ini tentu berakibat informasi yang didapat kurang begitu melekat dan membekas pada diri siswa. Penyampaian ilmu yang bersifat konvensional seperti ini dapat menyebabkan siswa kurang bersemangat dalam menerima pembelajaran karena siswa hanya sebagai obyek dan dibatasi kebebasannya dalam proses belajar mengajar. Penelitian ini bertujuan meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Upaya untuk mencapai tujuan tersebut, maka penelitian ini dirancang dengan menggunakan model penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan pada bulan Oktobertahun 2017. Subjek penelitian yaitu siswa kelas XI-6 yang berjumlah 24siswa, instrumen pengumpulan data melalui tes tiap akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan terjadi perubahan hasil belajar siswa pra tindakan yakni terdapat peningkatan siswa dalam keterampilan berpikir kritis mereka mengalami kenaikan lebih dari 50%. Hal tersebut ditunjukkan dari persentase kenaikan kegiatan pra-tindakan ke siklus I sebesar 4,26% dan kenaikan siklus I ke siklus II sebsar 12,92%. Temuan penelitian menunjukkan bahwaketerampilan berpikir kritis siswa kelas XI-6 SMA Brawijaya Smart School Malang mengalami peningkatandari pra tindakan, siklus I, dan siklus II. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa pada materi Pengelolaan Sumber Daya Alam siswa kelas XI6 Di SMA Brawijaya Smart School Malang. Berdasarkan hasil tersebut, disarankan: (1) Bagi guru geografi agar menggunakan model PBI untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. (2) Bagi SMA Brawijaya Smart School Malang agar menyediakan sarana dan prasarana yang lengkap untuk mendukung efektifitas penerapan model pembelajaran PBI (3) Bagi peneliti selanjutnya  diharapkan dapat melakukan penelitian sejenis dalam rangka memperbaiki kualitas pembelajaran dengan model PBI dengan pokok bahasan yang berbeda

    Pengaruh Model Pembelajaran Group Investigation terhadap Kemampuan Berpikir Analitis Siswa Pada Mata Pelajaran Geografi Materi Lingkungan Hidup Kelas XI SMAN 3 Bondowoso

    No full text
    ABSTRAK   Group Investigation merupakan salah satu model pembelajaran berbasis penyelidikan aktif, yang  dilakukan oleh kelompok kecil tentang suatu masalah yang terjadi disekitar lingkungannya sehingga, siswa mampu menemukan suatu masalah dan pengetahuan baru serta mampu menemukan solusi dari permasalahan itu. Group Investigation dapat melatih siswa untuk mengasah kemampuan berpikir analitis. Berpikir analitis adalah suatu proses memecahkan masalah atau gagasan menjadi bagian-bagian dan mengeksplorasi bagaimana bagian-bagian ini dapat dikombinasikan kembali dengan cara-cara baru. Fenomena yang terjadi, siswa kesulitan dalam menerapkan kemampuan berpikir analitis dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, maka diperlukan suatu solusi dalam bentuk model pembelajaran Group Investigation untuk di uji cobakan dan diketahui pengaruhnya terhadap kemampuan berpikir analitis siswa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Group Investigation terhadap kemampuan berpikir analitis siswa SMA pada mata pelajaran geografi. Jenis penelitian ini tergolong Quasy Eksperimen (Eksperimen Semu) dengan menggunakan rancangan penelitian Pretest-Posttest Control Group Design. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI SMAN 3 Bondowoso. Siswa kelas XI IPS 2 sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas XI IPS 1 sebagai kelas kontrol. Data diperoleh dari nilai pretest dan posttest menggunakan instrumen berupa soal essay. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan Uji non-parametrik Mann Whitney pada Independent Sample Test dengan program SPSS 18.0 for Windows. Taraf signifikan yang digunakan sebesar 0,05. Berdasarkan analisis data didapatkan hasil bahwa nilai signifikan 0,001 < 0,05 dan hasil perhitungan nilai rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol. Perbedaan nilai tersebut dikarenakan model pembelajaran Group Investigation di kelas eksperimen dapat melatih siswa untuk melakukan penyelidikan dan berdiskusi bersama kelompok, sedangkan kelas kontrol menggunakan model pembelajaran konvensional. Diskusi tersebut dapat melatih kemampuan berpikir analitis siswa. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat diartikan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima (Model pembelajaran Group Investigation berpengaruh terhadap kemampuan berpikir analitis siswa kelas XI SMAN 3 Bondowoso). Berdasarkan hasil temuan penelitian maka, guru disarankan untuk menggunakan Group Investigation sebagai model pembelajaran khususnya pada materi dengan kompetensi dasar berpikir tingkat tinggi agar pembelajaran dapat berjalan efektif

    Penerapan Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) Untuk Meningkatkan Minat Belajar Gegrafi Siswa Kelas XI IPS 5 SMAN 1 Garum Kabupaten Blitar

    No full text
      ABSTRAK Sari, Puput Ambar. 2017. Penerapan Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) Untuk Meningkatkan Minat Belajar Gegrafi Siswa Kelas XI IPS 5 SMAN 1 Garum Kabupaten Blitar. Skripsi. Jurusan Geografi Program Studi Pendidikan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Budijanto, M.Sos, (II) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si. Kata Kunci: Teams Games Tournament, Minat belajar Refleksi awal terhadap pembelajaran Geografi di kelas XI IPS 5 SMAN 1 Garum, teridentifikasi masalah pembelajaran, yakni: 1) siswa tidak memperhatikan saat guru menyampaikan materi, 2) siswa berbicara dengan teman sebangku, 3) siswa tertidur di dalam kelas, 4) siswa kurang aktif menjawab pertanyaan guru. Dari serangkaian masalah tersebut, yang menjadi akar masalah adalah guru menggunakan metode ceramah dalam penyampaian materi. berdasarkan akar masalah, maka dilakukan perbaikan pembelajaran dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) Untuk Meningkatkan Minat Belajar Gegrafi Siswa Kelas XI IPS 5 SMAN 1 Garum Kabupaten Blitar”. Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan: meningkatkan minat belajar siswa mata pelajaran Geografi pada materi Kearifan Lokal dalam Pemanfaatan Sumber Daya Alam.Penelitian ini termasuk dalam Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang dilakukan 2 siklus, setiap siklus terdiri dari empat langkah yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan minat belajar siswa. Minat belajar siswa dihitung dari rata-rata skor klasikal yaitu, pada siklus I sebesar 75,54 menjadi 94,37 meningkat sebanyak 24,05%. Dari hasil penelitian terjadi peningkatan minat belajar Geografi setelah diterapkan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT). Penelitian Tindakan Kelas ini menghasilkan 2 saran terkait dengan manajemen waktu dan pengelolaan kelas, yaitu: 1) pengelolaan waktu yang tepat terutama pada tiap tahapan, agar penerapan model ini bisa berjalan lancar, 2) perlu adanya pengelolaan kelas yang lebih baik, sehingga pelaksanaan kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan lancar

    PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH GEOGRAFI PESERTA DIDIK MAN 1 TRENGGALEK

    No full text
    ABSTRAK Kemampuan memecahkan masalah perlu dimiliki oleh setiap peserta didik. Hal ini bertujuan untuk membentuk manusia Indonesia yang berkualitas sesuai dengan Kurikulum 2013. Kemampuan memecahkan masalah melatih peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan pengetahuan yang dimiliki. Didalam proses memecahkan suatu masalah dibutuhkan model pembelajaran yang dapat mengarahkan peserta didik pada penyelesaian masalah yang tepat. Salah satu model pembelajaran yang dapat mengarahkan peserta didik pada proses pemecahan masalah adalah model pembelajaran Problem Based Learning.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning terhadap kemampuan memecahkan geografi peserta didik dengan metode penelitian eksperimen semu menggunakan pretest dan posttest. Terdapat dua kelompok subjek, yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen. Dimana kelas eksperimen mendapat perlakukan menggunakan model Problem Based Learning sedangkan kelas kontrol tidak menggunakan model pembelajaran PBL. Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas XI IIS  MAN 1 Trenggalek yang meliputi kelas XI IIS 2 sebagai kelas kontrol dan XI IIS 3 sebagai kelas eksperimen. Instrumen pengukuran kemampuan memecahkan masalah menggunakan soal tes essay dengan 5 butir pertanyaan. Analisis data yang digunakan adalah uji-t.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning berpengaruh terhadap kemampuan memecahkan masalah geografi peserta didik. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai rata-rata hasil tes kemampuan kelas eksperimen yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelas kontrol. Nilai rata-rata kemampuan akhir kelas eksperimen adalah 68,125 sedangkan kelas kontrol  58,71. Selanjutnya, nilai rata-rata gain score kelas eksperimen adalah 19,67, sedangkan nilai rata-rata gain score kelas kontrol adalah 8,57. Hasil analisis uji-t menunjukkan bahwa nilai sig. (2-tailed) sebesar 0,000 dengan kriteria kurang dari 0,05. Menurut analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning terhadap kemampuan memecahkan masalah geografi peserta didik.Saran untuk penelitian selanjutnya agar mendapatkan hasil yang optimal, maka sebelum peserta didik diminta untuk memecahkan suatu masalah hendaknya mempersiapkan peserta didik untuk dapat memahami permasalahan yang akan disajikan. Hal ini bertujuan untuk membangun pemahaman peserta didik mengapa masalah tersebut perlu untuk dipecahkan

    Pengaruh Model Project Based Learning Dengan Outdoor Study Terhadap Keterampilan Menyusun Karya Ilmiah Siswa Pada Matapelajaran Geografi Kelas XI SMAN 2 Pasuruan

    No full text
    RINGKASAN   Putra, Reza. 2018. Pengaruh Model Project Based Learning Dengan Outdoor Study Terhadap Keterampilan Menyusun Karya Ilmiah Peserta Didik Pada Matapelajaran Geografi Kelas  XI di SMAN 2 Pasuruan. Skripsi. Jurusan Geografi, Program Studi Penddikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd, dan (2) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si.   Kata kunci: Project Based Learning, Outdoor Study, Keterampilan Menyusun Karya Ilmiah   Model Project Based Learning (PjBL) merupakan model pembelajaran yang menghasilkan sebuah produk dari proyek yang dikerjakan. Pembelajaran berbasis proyek menuntut peserta didik untuk belajar secara langsung dalam menyelesaikan masalah dan mendorong mereka menggunakan keterampilannya. Model Project Based Learning menuntut peserta didik untuk menghasilkan produk dari proyek yang dilakukan. Produk tersebut berupa karya ilmiah (makalah). Hal tersebut dapat melatih keterampilan menyusun karya ilmiah peserta didik. Pembelajaran berbasis proyek sangat tepat apabila digabungkan dengan metode Outdoor Study. Hal tersebut dapat menuntut peserta didik belajar secara kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh model Project Based Learning dengan Outdoor Study terhadap keterampilan menyusun karya ilmiah peserta didik pada matapelajaran geografi kelas XI di SMAN 2 Pasuruan. Rancangan penelitian eksperimen ini menggunakan Posttest Only Control Group Design. Penelitian dilakukan di SMAN 2 Pasuruan, dengan XI IPS 1 sebagai kelas eksperimen dan XI IPS 2 sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan berupa rubrik penilaian karya ilmiah. Analisis yang digunakan adalah Independen sampel t-test dengan SPSS 16.0 for windows. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa model Project Based Learning dengan Outdoor Study berpengaruh terhadap keterampilan menyusun karya ilmiah peserta didik. Berdasarkan analisis t-test pada penelitian ini, nilaisignifikasi (0,000) < 0,05. Hal tersebut menandakan bahwa H0 ditolak. Rata-rata (mean) keterampilan menyusun karya ilmiah kelas eksperimen (77,41) lebih besar daripada kelas kontrol (68,16). Hal tersebut membuat aspek hasil dan pembahasan pada karya ilmiah yang dikerjakan peserta didik sesuai dengan data di lapangan, sehingga skor pada aspek hasil dan pembahasan tergolong baik. Aspek tersebut berisikan data-data yang logis dan akurat. Hal ini membuat peserta didik memberikan solusi yang tepat sesuai dengan kondisi di lapangan.  Saran pada penelitian ini ditujukan kepada guru dan peneliti lanjut. (1) Bagi guru agar penelitian ini dapat dijadikan sebagai pertimbangan untuk memilih model dan metode pembelajaran. (2) Bagi peneliti lanjut agar penelitian ini dapat menjadi pertimbangan dalam bahan rujukan, perbandingan terhadap penelitian selanjutnya dan bahan untuk lebih dikembangkan serta diperbaiki pada peneliti selanjutnya

    0

    full texts

    1,629

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇