SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    1629 research outputs found

    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Jumlah Anak Yang Diinginkan Oleh Pasangan Usia Subur (PUS) Di Wilayah Perdesaan Kecamatan Lumbang Dan Wilayah Perkotaan Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan.

    No full text
    ABSTRAK   Kabupaten Pasuruan merupakan kabupaten di Jawa Timur yang memiliki jumlah penduduk 1.581.787 jiwa pada tahun 2015. Kabupaten Pasuruan memiliki wilayah yang luas dan berbagai bentang alam, menyebabkan terjadi disparitas pembangunan antara desa dan kota. TFR di pedesaan masih lebih tinggi dibandingkan di perkotaan yakni 2,8 berbanding 2,3. Jumlah anak yang diinginkan secara tidak langsung mempengaruhi TFR. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dan mempengaruhi jumlah anak yang diinginkan dan bobot sumbangan dari faktor-faktor tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan teknik survey. Jenis penelitian termasuk penelitian deskriptif komparatif. Penelitian ini menggunakan teknik probability sampling dengan menggunakan sampel proporsional dan diperoleh sampel berjumlah 96 responden. Analisis data menggunakan tabulasi tunggal, tabulasi silang, dan regresi linier berganda. Hasil penelitian diperoleh bahwa di wilayah perkotaan Kecamatan Bangil kunjungan PLKB, dan tingkat pendidikan berhubungan dan berpengaruh signifikan, sedangkan  umur kawin pertama, dan tingkat pendapatan tidak berhubungan dan berpengaruh signifikan terhadap jumlah anak yang diinginkan. Lokasi penelitian kedua di wilayah perdesaan Kecamatan Lumbang kunjungan PLKB dan pendidikan berpengaruh signifikan, sedangkan, umur kawin pertama dan pendapatan tidak berpengaruh signifikan. Kunjungan PLKB, dan tingkat pendidikan memberikan bobot sumbangan terbesar di kedua wilayah. Saran yang diajukan berdasarkan kesimpulan adalah 1) Dinas Pendidikan, memberikan sosialisasi kepada orang tua yang anaknya putus sekolah, beasiswa berupa perlengkapan sekolah 2)BKKBN lebih giat mensosialisasikan program KB dan NKKBS dengan mengadakan sosialisasi sesuai dengan kondisi masyarakat 3) Pemkab Pasuruan, membangun sarana jalan dan perbaikan sekolah di wilayah perdesaan 4) Departemen Agama memperketat pemberian dispensasi kepada pasangan menikah di bawah umur

    PENGARUH MODEL PROJECT BASED LEARNING PADA MATERI ATMOSFER TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA KELAS X IPS MAN 5 KABUPATEN KEDIRI

    No full text
    RINGKASAN   Savitri, Ludfi Laila. 2018. Pengaruh Model Project Based Learning Pada Materi Atmosfer terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas X IPS MAN 5 Kabupaten Kediri, Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Yusuf Suharto, M. Pd, (II) Drs. Rudi Hartono, M. Si   Kata Kunci: Project Based Learning, Kemampuan Berpikir Kreatif   Model Project Based Learning adalah model pembelajaran yang disarankan dalam kurikulum 2013 karena pada model ini siswa dituntut aktif dan mandiri sehingga dapat mencari sendiri pengetahuannya. Alasan pemilihan model Project Based Learning ini yang pertama adalah model Project Based Learning sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 103 tahun 2014 tentang pembelajaran pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Kedua karakteristik model Project Based Learning sudah mencakup pembelajaran discovery learning dan inquiry. Ketiga pembelajaran mampu membangun pengetahuan baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model Project Based Learning terhadap kemampuan berpikir siswa. Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen semu (Quasy experiment) dengan desain posttest only group design. Subjek penelitian ini adalah kelas X IPS di MAN 5 Kabupaten Kediri yang terdiri dari 2 kelas. Kedua kelas tersebut yakni kelas X IPS 3 sebagai kelas kontrol dan kelas X IPS 1 sebagai kelas eksperimen. Instrumen penelitian berupa lembar tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif siswa. Teknik analisis data menggunakan uji independent sample  t-test dengan bantuan SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian ini adalah model Project Based Learning berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa pada materi atmosfer pada kelas X  IPS MAN 5 Kabupaten Kediri. Menurut hasil analisis dengan menggunakan uji independent t-test. Pengaruh tersebut ditunjukkan nilai sig (2-tailed) adalah 0,000. Hasil ini mengartikan bahwa 0,000 signifikan terhadap α = 0,05 maupum α = 0,01. H0 ditolak artinya kemampuan berpikir kreatif siswa yang menggunakan model Project Based Learning lebih baik dari pada siswa yang tidak menggunakan model Project Based Learning. Saran yang diajukan untuk guru adalah menjadikan model Project Based Learning sebagai alternatif model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif. Saran untuk peneliti selanjutnya adalah menguji cobakan model Project Based Learning pada materi yang berberbeda dan mengkombinasikannya dengan model pembelajaran serta kerja proyek yang lebih bervariatif yang nantinya dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap kemampuan berpikir kreatif bagi siswa serta mendapat manfaat yang besar dari model ini

    PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR ANALITIS SISWA KELAS X-IIS di SMA NEGERI 1 GONDANGLEGI

    No full text
    ABSTRAK   Nandiyah, Sherin. 2017. Pengaruh Model Problem Based Learning Terhadap Kemampuan Berpikir Analitis Siswa Kelas X-IIS Di SMA Negeri 1 Gondanglegi. Skripsi. Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Yusuf Suharto, M.Pd., (II) Drs. Hendri Purwito, M.Si.   Kata Kunci: Problem Based Learning, Kemampuan Berpikir Analitis. Model Problem Based Learning merupakan strategi pembelajaran yang dicirikan pemberian masalah nyata oleh guru. Hal tersebut dapat membuat siswa memiliki keterampilan dalam pemecahan masalah serta meningkatkan pengetahuan. Peningkatan pengetahuan diperoleh siswa dari penyelidikan yang digunakan untuk penyelesaian masalah. Model ini memiliki langkah-langkah pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir analitis siswa. Kemampuan berpikir analitis merupakan kemampuan untuk menyelesaikan suatu persoalan melalui proses menemukan, memilah-milah, merumuskan, mencari hubungan-hubungannya, mengomentari, hingga menyimpulkan melalui penyelidikan sesuai fakta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model Problem Based Learning terhadap kemampuan berpikir analitis siswa kelas X IIS di SMA Negeri 1 Gondanglegi. Penelitian ini menggunakan eksperimen semu dengam menggunakan desain pretest-posttest control group. Penelitian ini menggunakan dua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Subjek penelitian ini adalah kelas X-IIS 2 sebagai kelas eksperimen dan kelas X-IIS 1 sebagai kelas kontrol. Pengukuran kemampuan berpikir analitis siswa menggunaan instrumen soal berupa esai. Analisis data menggunakan uji independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh model Problem Based Learning terhadap kemampuan berpikir analits siswa. Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan hasil analisis hipotesis yang menunjukkan nilai signifikansi 0.001 < 0.05, serta perbandingan rata-rata kemampuan akhir antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen mendapatkan nilai rata-rata kemampuan akhir lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dikemukakan beberapa saran yaitu: (1) bagi guru sebaiknya guru mempersiapkan perencanaan pembelajaran yang baik agar pembelajaran berjalan dengan lancar dan mencapai tujuan, (2) bagi sekolah sebaiknya pihak sekolah memberikan dukungan penuh terhadap pembelajaran yang menggunakan model Problem Based Learning, (3) bagi peneliti selanjutnya sebaiknya pada saat observasi ke lapangan dan diskusi kelompok perlu adanya pengondisian siswa yang baik.

    PENERAPAN MODEL PROJECT BASED LEARNING (PjBL) PADA MATERI DINAMIKA KEPENDUDUKAN DI INDONESIA UNTUK MENINGKATKAN BERPIKIR ANALITIS SISWA KELAS XI IPS SMA NEGERI 1 SINGOSARI

    No full text
    RINGKASAN   Cahyaningrum Lusidha. 2018. Penerapan Model Project Based Learning (PjBL) pada Materi Dinamika Kependudukan di Indonesia untuk Meningkatkan Berpikir Analitis Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Singosari. Skripsi. Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Ardyanto Tanjung, S.Pd, M.Pd (2) Drs. Hendri Purwito, M.Si.   Kata Kunci: Berpikir Analitis, Model Project Based Learning, Mata pelajaran Geografi.               Siswa kurang berpikir analitis pada matapelajaran geografi kelas XI IPS D SMA Negeri 1 Singosari terlihat ketika dilakukan penelitian pra-tindakan. Hal ini, ditandai hasil dari artikel yang dibuat cenderung menyalin dari artikel atau jurnal tanpa menganalisis terlebih dahulu. Rata-rata hasil artikel yang ditulis siswa tidak menunjukkan permasalahan yang khusus akan tetapi permasalahan yang umum. Indikasi kurang berpikir analitis siswa tidak bisa menjawab rumusan masalah yang bertujuan untuk memecahkan masalah yang dikaji. Pembahasan dalam artikel tidak menunjukkan pemecahan masalah atau tidak memberikan solusi. Kurangnya berpikir analitis terlihat pada proses pembelajaran yang tidak menghubungkan keadaan nyata. Pembelajaran dengan cara menghafal membuat siswa sulit berpikir analitis.             Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan berpikir analitis siswa dengan menggunakan Model Project Based Learning (PjBL) di kelas XI IPS D SMA Negeri 1 Singosari. Rancangan penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan desain dua siklus penerapan model pembelajaran. Penerapannya dilakukan pada kelas XI IPS D dengan jumlah 35 siswa. Untuk menguji kemampuan berpikir analitis siswa menggunakan soal uraian sebanyak 4 soal sesuai dengan indikator berpikir analitis. Ketercapaian menggunakan model (PjBL) dibandingkan antara kegiatan pra-tindakan dan pasca tindakan. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari nilai hasil rata-rata siklus I dan siklus II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model (PjBL) dapat meningkatkan berpikir analitis siswa kelas XI IPS D SMA Negeri 1 Singosari. Hasil penerapan model (PjBL) memiliki nilai rata-rata post test 81,09 sedangkan pada nilai post test siklus II yaitu 86. Peningkatan berpikir analitis siklus I dan siklus II memiliki persentase 6,05% sedangkan perbandingan antara pra-tindakan dengan siklus I memiliki persentase 27,72% dengan itu maka dapat disimpulkan peningkatan yang cukup signifikan hasil post test tersebut maka model PJBL berhasil dalam meningkatkan berpikir analitis siswa kelas X I IPS D SMA Negeri 1 Singosari

    Penerapan Model Pembelajaran Problem Posing Menggunakan Media Power Point untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Analitis Siswa pada Pelajaran Geografi Kelas XI IPS 4 SMA Negeri 1 Batu

    No full text
    ABSTRAK   Pratama, Fendy Setya. 2018 Penerapan Model Pembelajaran Problem Posing Menggunakan Media Power Point untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Analitis Siswa pada Pelajaran Geografi Kelas XI IPS 4 SMA Negeri 1 Batu, Skripsi, Jurusan Geografi FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Yusuf Suharto, M.Pd, (II) Dr. Budi Handoyo, M.Si   Kata Kunci: Kemampuan Berpikir Analitis, Model Pembelajaran Problem Posing, Media Power Point Permasalahan yang dihadapi siswa SMA Negeri 1 Batu adalah mengenai berpikir analitis siswa. Hal ini di butikan dengan hasil observasi awal dengan nilai rata-rata 56.47.  Hasil observasi tersebut  menunjukan bahwa siswa berada pada kategori cukup baik dalam kemampuan berpikir analitis, maka dari itu perlu diterapkanya model pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan kemapuan berpikir analitis. Solusi untuk meningkatkan hasil awal dari observasi tersebut dapat dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran Problem Posing Menggunakan Media Power Point. Model ini menaruh pengertian bahwa siswa harus mampu membuat soal dan menjawab soal yang nantinya dapat meningkatkan kemapuan berpikir analitis siswa. Model ini memiliki tahapan yang mendukung yaitu menjawab dari soal yang telah dibuat yang mampu meningkatkan berpikir anlitis. Penelitian ini bertujuan untuk penerapan model pembelajaran problem posing menggunakan media power point untuk meningkatkan kemampuan berpikir analitis siswa di SMA Negeri 1 Batu pada tahun ajaran 2017/2018, subjek dari penelitian ini yaitu siswa kelas XI-IPS 4 SMA Negeri 1 Batu dengan melakukan penelitian tindakan kelas.  Desain penelitian tindakan kelas ini adalah model Kemmis dan Mc Tanggart yang berisi tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah test untuk mengukur kemampuan berpikir analitis siswa. Hasil penelitian menunjukkan penerapan model pembelajaran problem posing menggunakan media power point untuk meningkatkan Kemampuan Berpikir Analitis siswa. Hal ini dapat dibuktikan dengan meningkatnya nilai kemampuan berpikir analitis siswa setelah dilakukan model pembelajaran problem posing menggunakan media power point, yakni pada  pada pratindakan nilai rata-rata 65.47 meningkat menjadi nilai rata-rata 68.37 pada siklus I, artinya terjadi peningkatan sebesar 2.9. Tahap selanjutnya dilakukan perbaikan oleh guru peneliti sehingga terjadi peningkatan yang  sanagat baik pada siklus II dengan nilai rata-rata 79.67, ini menunjukan bahwa dari siklus Ike Siklus II terjadi peningkatan sebesar 11.3. Peningkatan ini terjadi karena adanya dari siswa membuat dan menjawab soal

    Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Menggunakan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Pada Mata Pelajaran Geografi Kelas XI IIS 5 SMAN 1 Lawang Kabupaten Malang.

    No full text
    ABSTRAK   Budiarta, Aprilyan David. 2018. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Menggunakan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Pada Mata Pelajaran Geografi Kelas XI IIS 5 SMAN 1 Lawang Kabupaten Malang. Skripsi. Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Ardyanto Tanjung, S.Pd, M.Pd, (II) Drs. Yusuf Suharto, M.Pd   Kata Kunci: Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi, Problem Based Learning dengan Menggunakan Lembar Kegiatan Siswa Berdasarkan hasil observasi di kelas XI IIS 5 SMAN 1 Lawang, didapatkan data kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa masih tergolong rendah, hanya 19 siswa yang mampu menyelasaikan soal dengan tingkat kognitif tinggi dari total 34 siswa. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi pada siswa kelas XI IIS 5 SMAN 1 Lawang. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus sampai terjadi peningkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Setiap siklusnya terdiri dari 4 tahap yaitu: (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan Tindakan, (3) Observasi, (4) Refleksi. Analisis dilakukan dengan membandingkan setiap hasil tes pada akhir siklus I dengan hasil tes pra-tindakan, dan hasil tes pada akhir siklus II dibandingkan dengan hasil tes siklus I. Hasil penelitian menunjukkan perolehan nilai rata-rata kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa meningkat. Rata-rata nilai kemampuan berpikir tingkat tinggi siklus I menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata hasil tes dari pra-tindakan yakni 56 dan meningkat menjadi 74, nilai tersebut masih termasuk dalam kualifikasi cukup baik. Siklus II kemudian dilakukan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Rata-rata nilai siklus II menunjukkan peningkatan yaitu 12 poin dengan nilai rata-rata kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa menjadi 86. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pembelajaran geografi dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning dengan menggunakan lembar kegiatan siswa dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa

    Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi Dan Budaya Terhadap Pernikahan Dini Pasangan Usia Subur Di Desa Paciran Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan

    No full text
    ABSTRAK   Arifin, Ghozali, M. 2018. Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi Dan Budaya Terhadap Pernikahan Dini Pasangan Usia Subur Di Desa Paciran Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan. Skripsi. Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Budijanto, M. Sos. (II) Drs. Djoko Soelistijo, M.Si.   Kata Kunci: Pernikahan Dini, Faktor Sosial, Ekonomi, Budaya Batasan usia pernikahan ideal telah ditetapkan oleh BKKBN yaitu minimal usia 21 tahun untuk perempuan, dan 25 tahun untuk laki-laki. Pernikahan remaja dibawah batasan usia ideal masih banyak dilakukan. Pernikahan dini di Desa Paciran selama tiga tahun terakhir mengalami kenaikan yang signifikan yakni tahun 2015 sebesar 38,8%, kemudian tahun 2016 sebesar 47,6%, serta tahun 2017 sebesar 53,4% dari jumlah pernikahan. Beberapa faktor yang dapat melatarbelakangi pernikahan dini adalah faktor sosial, ekonomi, dan budaya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh faktor sosial, ekonomi, dan budaya terhadap pernikahan dini di Desa Paciran Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode expose facto untuk mengetahui fenomena yang telah terjadi di lapangan. Jenis penelitian yang digunakan adalah korelasional untuk mengetahui pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat. Variabel dalam penelitian sejumlah empat variabel, yaitu, faktor pendidikan, pendapatan, budaya, dan usia kawin pertama. Jumlah populasi penelitian yang digunakan yaitu 78 responden dari 3 dusun di Desa Paciran. Penentuan sampel dilakukan menggunakan teknik simple random sampling. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode survey. Analisa data yang digunakan dalam penelitian yaitu tabulasi tunggal, tabulasi silang, dan uji statistik regresi linier berganda.         Hasil analisis tabulasi silang dan uji regresi linier berganda simultan (uji F) menunjukkan bahwa faktor sosial, ekonomi, dan budaya secara simultan berpengaruh terhadap pernikahan dini di Desa Paciran. Uji regresi linier berganda parsial (uji t) menunjukkan variabel pendidikan berpengaruh signifikan terhadap pernikahan dini. Berdasarkan hasil perhitungan sumbangan efektif, variabel pendidikan memberikan sumbangan paling dominan terhadap pernikahan dini, sedangkan variabel budaya memberikan sumbangan paling kecil. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa faktor pendidikan yang paling berpengaruh terhadap tingginya angka pernikahan dini di Desa Paciran. Saran yang diajukan berdasarkan permasalahan yaitu 1) diperlukan adanya sosialisasi kebijakan usia pernikahan ideal serta dampak pernikahan dini bagi kondisi fisik ataupun psikologis, 2) Meningkatkan kepedulian masyarakat serta dukungan terhadap generasi muda agar menjadi lebih baik di masa yang akan datang

    VALIDASI BUKU TEKS GEOGRAFI SMA/MA KELAS XI KARANGAN K.WARDIYATMOKO PADA MATERI POTENSI GEOGRAFIS INDONESIA

    No full text
    ABSTRAK   Windani, Nita. 2018. Validasi Buku Teks Geografi SMA/MA Kelas XI Karangan K. Wardiyatmoko Pada Materi Potensi Geografis Indonesia. Skripsi, Jurusan Geografi FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing:  (I) Dr. Budi Handoyo, M.Si (II) Dra. Yuswanti A W, M.Si   Kata Kunci:Validasi, buku teks geografi Erlangga kelas XI Buku teks memiliki peranan penting dalam pembelajaran, sehingga kualitas buku yang baik sangat diperlukan. Adanya tuntutan kualitas yang baik pada buku teks, diperlukan validasi buku dengan melakukan analisis mendalam untuk mengetahui layak atau tidaknya buku tersebut. Buku teks terbitan Erlangga kelas XI merupakan salah satu jenis buku teks yang perlu dianalisis, mengingat banyaknya sekolah yang mempergunakan buku tersebut sebagai pegangan siswa. Berdasarkan observasi awal, masih banyak ditemukan kesalahan dari segi kesesuaian isi dengan kurikulum, konsep, bahasa, maupun media gambar yang disajikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memvalidasi kesesuaian isi materi potensi geografis Indonesia dengan kurikulum 2013, kebenaran konsep, kebenaran bahasa dan fungsi media gambar pada buku teks Geografi terbitan Erlangga kelas XI. Jenis penelitian ini berupa deskriptif dengan menggunakan dokumen sebagai objeknya. Teknik analisis isi merupakan metode yang digunakan untuk menjabarkan dan menjelaskan permasalahan yang ada disertai dengan fakta. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu buku teks Geografi SMA/MA kelas XI karangan K.Wardiyatmoko. Materi yang dianalisis hanya terfokus pada kompetensi dasar potensi geografis Indonesia. Hasil penelitan menunjukkan bahwa kesesuaian isi materi dengan kurikulum 2013 tergolong sedang. Selanjutnya, dari aspek kebenaran konsep konkret maupun abstrak tergolong rendah. Selain itu, tingkat kebenaran bahasa dari segi tanda baca, kosakata, kalimat, maupun paragraf tergolong rendah. Begitu pun dengan fungsi media gambar yang disajikan pada buku tersebut masih tergolong rendah. Banyaknya kesalahan dari beberapa aspek yang telah ditemukan pada buku teks Geografi terbitan Erlangga, perlu adanya saran dari penelitian ini. Pertama, guru dianjurkan terlebih dahulu menelaah materi pada buku teks yang akan digunakan sebagai bahan ajar dan pegangan untuk siswa agar mengetahui kesalahan yang ada. Kedua, penulis hendaknya lebih teliti guna menghindari kesalahan yang mungkin terjadi, baik dari segi keseuaian isi, konsep, bahasa, maupun media gambar. Ketiga, sebelum dilakukan penerbitan buku, sebaiknya pihak terkait menelaah riwayat pendidikan penulis terlebih dahulu

    Pengaruh Model Pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) TerhadapHasilBelajarSiswaPada Mata PelajaranGeografiKelas XI SMAN 1 LawangKabupaten Malang

    No full text
    ABSTRAK   Fattahillah, Muhammad. 2018. Pengaruh Model Pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Geografi Kelas XI SMAN 1 Lawang Kabupaten Malang. Skripsi. Program Studi Pendidikan Geografi Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Hadi Soekamto, S.H, M.Pd, M.Si(2) Drs. Hendri Purwito, M. Si   Kata Kunci :Two Stay Two Stray, Hasil Belajar Model Two Stay Two Stray memberi kesempatan kelompok untuk membagi hasil dan informasi kepada kelompok lain, serta memberi kesempatan siswa aktif belajar sehingga dapat dihindari suasana kelas yang didominasi oleh beberapa siswa saja. Keaktifan siswa lebih diperhatikan dalam proses belajar sebab membantu meningkatkan minat, prestasi, dan hasil belajar siswa. Siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan rendah saling bekerja sama sehingga mampu memahami tugas maupun materi pelajaran dengan baik. Penggunaan model ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan siswa, kemampuan memecahkan masalah, dan hasil belajar siswa. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model Two Stay Two Stray terhadap hasil belajar geografi siswa kelas XI IPS SMAN 1 Lawang Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan eksperimen semu. Desain penelitian ini menggunakan non-equivalent control group. Subjek penelitian ini kelas XI IPS 4 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IPS 5 sebagai kelas kontrol. Penelitian ini menggunakan instrumen berupa tesessai yang terdiridari lima soal. Hasil Penelitian yang diperoleh terdiri dari kemampuan awal siswa (pre test), kemampuan akhir siswa (post test), dan hasil belajar siswa (gain score) berupa gain score dari pre test dan post test. Hasil belajar merupakan selisih antara skor post test dan pre test. Gain score menunjukkan dari kelas eksperimen sebesar 2,26 sedangkan kontrol sebesar 1,03.Hasil uji t diperoleh nilai p adalah 0,000. Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai p lebih kecil dari 0,05, maka hipotesis penelitian diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model Two Stay Two Stray berpengaruh terhadap hasil belajar siswa kelas XI IPS SMAN 1 Lawang Kabupaten Malang. Berdasarkan hasil penelitian disarankan bagi sekolah agar diterapkan untuk semua mata pelajaran agar meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas danhasilbelajarsiswa. Bagiguru,  modelTwo Stay Two Stray sebagai alternatif untuk meningkatkan keaktifan siswa didalam kelas. Bagi peneliti lanjut, untuk menguji pengaruh model pembelajaran Two Stay Two Stray padalokasi, jenjang pendidikan, danmateri lain

    Penentuan Rute Optimal Pariwisata di WPP III (Wilayah Pengembangan Pariwisata) Kabupaten Banyuwangi

    No full text
    RINGKASAN Satriono, Didit Arif. 2018.Penentuan Rute Optimal Pariwisata Di WPP III (Wilayah Pengembangan Pariwisata) Kabupaten Banyuwangi. Skripsi. Prodi Ilmu Geografi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Malang. Pembibing: (1) Purwanto, S.Pd, M.Si. (2) Dr. DidikTaryana, M.Si. Kata Kunci: rute optimal, pariwisata, banyuwangi Pariwisata di Kabupaten Banyuwangi merupakan sektor strategis cepat tumbuh. Potensi pariwisata alam di Kabupaten Banyuwangi mengalami penigkatan kunjungan setiap tahunnya. Berdasarkan data dalam rentangan waktu 5 tahun terakhir, tahun 2011 mengalamai peningkatan sebesar 19%, tahun 2012 mengalami peningkatan 8%, tahun 2013 mengalami peningkatan 23%, tahun 2014 mengalami peningkatan 40%, pada tahun 2015 mengalami penigkatan 32%. Pesatnya pertumbuhan kunjungan wisatawan tidak lepas dari peran pemerintah yang melakukan promosi terhadap objek wisata dengan mengadakan event skala nasional maupun internasional. Perkembangan sektor pariwisata juga harus diikuti oleh pembanguna sarana prasarana dan fasilitas untuk menunjang kegiatan pariwisata. Penelitian ini bertujuanuntuk menentukan rute optimal objek wisata yang berada dikawasan WPP III. Ada 4 tujuan objek wisata di WPP III. Pertama objek Perkebunan meliputi, Waduk Sidodadi, Perkebunan Kendeng Lembu, Perkebunan Terbasala. Kedua objek Pulau Merah meliputi Pantai Pulau Merah. Ketiga objek Pancer/Wedi Ireng meliputi Pantai Pancer dan Pantai Wedi Ireng. Keempat objek Rajegwesi/Teluk Hijau meliputi Pantai Rajegwesi dan Pantai Teluk Hijau. Ketersediaan jalan menuju objek wisata didominasi oleh jalan kelas lokal dan mempunyai banyak cabang/persimpangan yang bisa menghubungkan ke objek wisata. Objek Penelitian ini yaitu sepanjang jalan yang dapat menghubungkan ke objek wisata di WPP III Kabupaten Banyuwangi. Sampel data didapatkan dari observasi lapangan meliputi, lebar jalan, lebar bahu/kerb jalan, volume kendaraan, hambatan samping jalan, fasilitas penunjang jalan dan kondisi permukaan aspal/jalan. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Teknik analisis yang digunakan yaitu Network Analyst berintregasi dengan skoring. Terdapat 9 rute optimal dari dua titik awal timur dan titik awal barat menunju objek wisata di WPP III  Kabupaten Banyuwangi. Rute optimal didapat dari teknik skoring yang menghasilkan skor paling tinggi. Hasilldariskoringmenunjukanbahwa rute ke-4 merupakanrute optimal menujukeobjekwisatapantai di WPP III Kabupaten Banyuwangi. Sedangkan rute optimal menuju objek wisata perkebunan memiliki 2 rute optimal. Titik awal barat terdapat rute ke-1 dan titik awal barat rute ke-2. Pengambilan keputusan rute optimal hanya berdasarkan skor total tertinggi dari ketersediaan rute yang menuju ke objek wisata

    0

    full texts

    1,629

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇