SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
1629 research outputs found
Sort by
PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING BERBANTUAN LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR ANALITIS PESERTA DIDIK KELAS XI IPS DI SMAN 7 MALANG PADA MATA PELAJARAN GEOGRAFI
Praktik pembelajaran Kurikulum 2013 menghendaki terciptanya suasana pembelajaran yang ideal sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Pembelajaran diarahkan untuk mendorong peserta didik mencari tahu dari berbagai sumber observasi, bukan diberi tahu; mampu merumuskan masalah (menanya), bukan hanya menyelesaikan masalah (menjawab); melatih berpikir analitis (pengambilan keputusan), bukan berpikir mekanistis (rutin) dan menekankan pentingnya kerjasama dan kolaborasi dalam menyelesaikan masalah. Kemampuan berpikir analitis perlu dioptimalkan bagi peserta didik dalam proses pembelajaran abad ke-21. Begitupula dalam kegiatan pembelajaran pada Mata Pelajaran Geografi yang menuntut peserta didik untuk memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam menganalisis fenomena geosfer. Pengoptimalan kemampuan berpikir analitis bagi peserta didik dapat diasah dengan menggunakan model pembelajaran yang mengaitkan materi dengan permasalahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari misalnya model Problem Based Learning (PBL). Model PBL dapat melatih peserta didik dalam meningkatkan kemampuan berkomunikasi, berpikir kreatif, kritis dan analitis untuk menyelidiki penyebab permasalahan. Model PBL ditunjang menggunakan media Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) agar memudahkan peserta didik dalam memperoleh panduan kegiatan pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kemampuan berpikir analitis mereka dalam menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model Problem Based Learning (PBL) berbantuan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) terhadap kemampuan berpikir analitis peserta didik Kelas XI IPS di SMAN 7 Malang pada Mata Pelajaran Geografi. Subjek penelitian yaitu peserta didik kelas XI IPS 1 sebagai kelas kontrol dan peserta didik kelas XI IPS 3 sebagai kelas eksperimen. Jenis penelitian yang digunkan merupakan quasy experiment (eksperimen semu) dengan rancangan penelitian posttest control group design. Uji hipotesis yang digunakan yaitu Independent Sample T-Test dan diperoleh hasil signifikan yang ditunjukkan dengan nilai sig. 2-tailed sebesar 0.007 ≤ 0.05. Selain uji hipotesis yang dilakukan, didukung oleh data nilai rata-rata tes kemampuan berpikir analitis peserta didik kelas eksperimen lebih tinggi yakni 83,08 dibanding kelas yakni 78,58. Hasil dari penelitian adalah model Problem Based Learning berbantuan Lembar Kerja Peserta Didik berpengaruh terhadap kemampuan berpikir analitis peserta didik Kelas XI IPS SMAN 7 Malang pada Mata Pelajaran Geografi
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY BERBASIS OUTDOOR STUDY TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DITINJAU DARI MINAT BELAJAR SISWA KELAS XI 1 KOTA MALANG
RINGKASAN Nurrohman, Umar Imam. 2019. Pengaruh Model Pembelajaran Discovery berbasis Outdoor Study terhadap Kemampuan Berpikir Kritis ditinjau dari Minat Belajar Siswa. Skripsi, Program Studi Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Hadi Sukamto, S.H, M.Pd, M.Si. (II) Drs. Hendri Purwito, M.Pd Kata Kunci : Model Pembelajaran Discovery, Kemampuan Berpikir Kritis, Minat Belajar Siswa Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui: (1) pengaruh model pembelajaran discovery berbasis outdoor study terhadap kemampuan berpikir kritis, dan (2) pengaruh model pembelajaran discovery berbasis outdoor study terhadap kemampuan berpikir kritis ditinjau dari minat belajar siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu (quasi experiment) dengan desain randomized post test only control group. Penelitian ini dilakukan pada dua kelas yaitu kelas eksperimen yang diberikan model pembelajaran discovery berbasis outdoor study dan kelas kontrol yang tidak diberikan perlakuan model. Subyek yang yang diteliti adalah siswa kelas XI IPS MAN 1 KOTA MALANG. Pemilihan subyek penelitian karena kedua kelas memiliki rata-rata nilai yang hampir sama. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah soal soal esai yang mengukur kemampuan berpikir kritis, dan angket untuk mengukur minat belajar siswa. Uji coba instrumen menggunakan uji validitas dan reliabilitas. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Uji-t dan Uji-F dengan bantuan SPSS 16.0 for windows. Hasil penelitian diperoleh bahwa (1) model pembelajaran discovery berbasis outdoor study berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa, dan (2) model pembelajaran discovery berbasis outdoor study berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis ditinjau dari minat belajar siswa. Dari hasil temuan pertama, analisis yang dilakukan terhadap kemampuan berpikir kritis siswa diketahui bahwa nilai probabilitas adalah 0,002. Hasil tersebut menunjukkan nilai probabilitas < 0,05 dengan kata lain hipotesis nol (H0) ditolak dan (H1) diterima. Hasil analisis yang dilakukan pada temuan kedua diketahui bahwa nilai probabilitas adalah 0,005. Hasil tersebut menunjukkan nilai probabilitas < 0,05 dengan kata lain hipotesis nol (H0) ditolak dan (H1) diterima. Saran yang diajukan dalam penelitian ini yaitu: (1) bagi guru disarankan untuk menerapkan dikelas, (2) bagi sekolah disarankan untuk memberikan kemudahan bagi guru maupun siswa untuk melakukan model pembelajaran model pembelajaran discovery berbasis outdoor study. (3) bagi peneliti lanjut disarankan untuk memberikan variasi dan dikombinasi dengan media
ANALISIS KEKERINGAN METEOROLOGIS MENGGUNAKAN METODE STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI) DAN PENGARUHNYA TERHADAP PRODUKTIVITAS PADIDI SUB DAS BRANTAS HULU KABUPATEN BLITAR
RINGKASANRahma, Ahlam Aliatul. 2019. Analisis Kekeringan Meteorologis Menggunakan Standardized Precipitation Index (SPI) dan Pengaruhnya terhadap Produktivitas Padi di Sub DAS Brantas Hulu Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Syamsul Bachri, S.Si, M.Sc, Ph.D, (II) Dr. Didik Taryana, M.Si. Kata Kunci: kekeringan meteorologis, mitigasi kekeringan, indeks kekeringan, SPI, produktivitas padiKekeringan adalah kondisi dimana jumlah ketersediaan air mengalami defisit di bawah rata-rata kondisi normal atau di bawah dari jumlah kebutuhan air tertentu. Kekeringan merupakan salah satu bahaya alam yang dapat berdampak buruk pada berbagai sektor, khususnya pertanian yang banyak mengandalkan faktor iklim. Boer dan Las dalam Suryanti (2008) menyatakan bahwa kekeringan buruk pada 1994 telah menghancurkan 290.457 ha tanaman padi di Indonesia. Berdasarkan informasi dari BPBD Jawa Timur, terdapat 21 kabupaten/kota yang dilanda puncak kekeringan pada tahun 2015, termasuk diantaranya adalah wilayah Sub DAS Brantas Hulu di Kabupaten Blitar. Oleh karena itu diperlukan suatu sistem monitoring dan peringatan dini sebagai bagian dari kegiatan mitigasi kekeringan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persebaran spasial dan dinamika temporal kekeringan meteorologis di Sub DAS Brantas Hulu Kabupaten Blitar menggunakan nilai Standardized Precipitation Index (SPI), serta mengetahui pengaruh nilai indeks tersebut terhadap produktivitas tanaman padi. Indeks SPI ini dipilih karena memiliki kelebihan dibanding yang lain yaitu kemudahan dan kemampuannya dalam mengukur kekeringan berdasarkan beragam skala waktu yang sekaligus menunjukkan berbagai jenis kekeringan yang terjadi. Selain itu, indeks ini juga direkomendasikan oleh World Meteorological Organization (WMO) untuk dipakai secara global sebagai alat untuk mengidentifikasi dan mengukur kekeringan meteorologis.Hasil menunjukkan bahwa tingkat kekeringan beragam berdasarkan tempat dan waktu. Kawasan-kawasan yang paling sering dilanda kekeringan adalah Mangunan, Doko, Ngadirenggo, Ngrendeng, Srengat, Talun, dan Bendosewu. Berdasarkan nilai rata-rata spasio-temporal pada tiap skala waktu, beberapa bulan memiliki indeks kekeringan yang lebih buruk dari lainnya, diantaranya Januari sebesar -0,04, Februari sebesar -0,06, Maret sebesar -0,02 untuk SPI 1 bulanan dan Maret sebesar -0,08 untuk SPI 3 bulanan. Selanjutnya Januari sebesar -0,11, Februari sebesar -0,13, Maret sebesar -0,09 untuk SPI 6 bulanan, dan Januari sebesar -0,19, Februari sebesar -0,13, Maret sebesar -0,17, April sebesar -0,14, Mei sebesar -0,13, Juni sebesar -0,20, Juli sebesar -0,07, Agustus sebesar -0,01 untuk SPI 12 bulanan. Hasil uji regresi linier sederhana menunjukkan adanya pengaruh nilai SPI terhadap produktivitas padi ladang (lahan kering) pada musim tanam Mei-Agustus. Sedangkan untuk padi ladang pada musim tanam Januari-April dan padi sawah (lahan basah) untuk semua musim tanam, nilai SPI tidak memiliki berpengaruh. Kesimpulannya, irigasi dan musim tanam berpengaruh terhadap resistensi tanaman padi terhadap kondisi kekeringan. SUMMARYRahma, Ahlam Aliatul. 2019. Meteorological Drought Analysis Using Standardized Precipitation Index (SPI) and Its Impact to Rice Productivity in Brantas Hulu Basin of Blitar Regency. Sarjana’s Thesis, Geography Program, Faculty of Social Science, State University of Malang. Advisor: (I) Syamsul Bachri, S.Si, M.Sc, Ph.D, (II) Dr. Didik Taryana, M.Si. Key Words: meteorological drought, drought mitigation, drought index, SPI, rice productivityDrought is a condition where the water availibity is deficit below normal condition or below certainty water necessity. Drought is one of natural hazard that can effect to various sectors, espesially agricultural sector which rely on meteorological factor. Boer and Las in Suryanti (2008) revealed that bad drought at 1994 destroyed 290.457 ha rice crop in Indonesia. According to National Organization for Disaster Management (BPBD) of East Java Province, there would be 21 regencies that hit by drought peak in 2015. One of that regencies was Blitar where Brantas Hulu Basin is located. Hence, it needs monitoring and early warning system as part of drought disaster mitigation.The objective of this research is to analyse spasial distribution and temporal dynamics of meteorological drought in Brantas Hulu Basin of Blitar Regency using drought index SPI, also to investigate the impact of SPI value to rice productivity. This SPI method is chosen because it has more advantages than another drought index. The advantages are SPI has simplicity and ability to measure and identify drought in various time scales at once show varieties of the drought (meteorological, agricultural, and hidrological). Also, this index is suggest by World Meteorological Organization (WMO) to be used globally as a tool to identify and measure meteorological drought. Furthermore, the analysis of SPI value impacts to rice productivity was done with simple linear regression test. The result shows that drought has various severity according to region and time. The region with the most frequently drought is Mangunan, Doko, Ngadirenggo, Ngrendeng, Srengat, Talun, dan Bendosewu. According to SPI value spatio-temporal average, there is some months that have worse drought index than others, are January (-0,04), February (-0,06), March (-0,02) for 1 month SPI and March (-0,08) for 3-month SPI. Next are January (-0,11), February (-0,13), March (-0,09) for 6-month SPI, and January (-0,19), February (-0,13), March (-0,17), April (-0,14), May (-0,13), June (-0,20), July (-0,07), August (-0,01) for 12-month SPI. Simple linear regression test result shows that SPI value impact the productivity of non irrigated rice-crop on Mei-Agustus planting season. While for productivity of non irrigated rice-crop on Januari-April planting season and irrigated rice on all season, SPI value does not have impact. The conclusion is irrigation and planting season influence the resistance of rice-crop to drought conditions
. Persespsi Pengunjung terhadap Taman Kota Berkonsep Taman Keluarga di Kota Malang
RINGKASANAkbar, Mohammad Alfiqri. 2019. Persespsi Pengunjung terhadap Taman Kota Berkonsep Taman Keluarga di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. I Komang Astina, M.S, Ph.D., (II) Ardyanto Tanjung, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci : Taman Kota, Persepsi, Pengunjung Taman kota merupakan salah satu ruang hijau yang berada di setiap wilayah kota. Fungsi taman kota tidak hanya menjadi ruang terbuka hijau tapi juga sebagai ruang untuk interaksi masyarakat. Salah satunya adalah taman kota juga bisa berfungsi sebagai tempat wisata. Kota Malang memiliki taman yang cukup banyak, khususnya untuk keluarga. Taman konsep keluarga merupakan taman yang disediakan dan fasilitasnya untuk semua umur. Ada beberapa di kota Malang, seperti Alun – Alun Merdeka, taman Merbabu, taman Singha Merjosari dan taman Trunojoyo. Fasilitas yang rusak menjadi buruknya perawatan taman kota. Dijumpai di beberapa taman seperti kursi rusak di Alun – Alun Merdeka dan fasilitas kebugaran rusak dan belum diperbaiki di taman Merbabu. Persepsi akan menjawab, bagaimana respon pengunjung terhadap taman kota bukan dari fasilitasnya tapi dari kenyamanan, lokasi, serta seberapa sering pengunung dating ke taman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi pengunjung di taman kota, terutama pada taman yang memiliki konsep keluarga. Taman yang memiliki konsep taman keluarga dapat dinikmati oleh semua umur atau semua orang bisa menikmatinya. Persepsi dibagi menjadi tiga variable yaitu kognisi, afeksi, dan konasi. Tiga variable tersebut untuk mengetahui pengetahuan, perasaan dan tindakan responden terhadap taman tersebut. Ciri khas dari penelitian ini adalah data dikumpulkan dari responden dengan menggunakan kuesioner. Lokasi yang dipilih ada tiga taman kota yaitu taman Alun-Alun Merdeka, taman Singha Merjosari, dan taman Merbabu. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang diperoleh baik melalui hasil kuesioner dan bantuan wawancara. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Deskriptif Persentase. Deskriptif persentase ini diolah dengan cara frekuensi dibagi dengan jumlah responden dikali 100 persen. Hasil penelitian menunjukkan taman Alun-Alun Merdeka lebih dikenal dari pada taman Merbabu dan taman Singha Mejosari. Pengunjung di taman Alun- Alun Merdeka tidak hanya dari Kota Malang sendiri tapi dari luar kota Malang. Sedangkan kedua taman lainnya rata –rata pengunjung dari sekitar wilayah taman tersebut berada. Pada penilaian kognisi yaitu pengetahuan pengunjung tentang taman kota, Alun-Alun Medeka lebih dikenal dan letaknya tepat dipusat kota Malang. Kedua taman yaitu taman Merbabu dan Taman Singha Merjosari cukup dikenal namun hanya sebagian besar warga kota malang saja. Penilaian afeksi yaitu perasaan atau kebutuhan pengunjung terhadap taman kota rata – rata semua taman sudah memiliki fasilitas yang cukup lengkap terutama untuk kebutuhan fasilitas untuk segala umur. Fasilitas tersebut diantaranya tempat bermain untuk anak. Penilaian konasi yaitu tindakan pengunjung terhadap taman kota, pada Alun-Alun Merdeka pengunjung cukup sering berkunjung karena letak strategis banyak tempat seperti pasar atau mall disekitar taman. Taman Merbabu sering dikunjungi oleh pengunjung yang berasal dari sekitar taman, sama halnya dengan taman Singha Merjosari.
Pengaruh Model Pembelajaran DiscoveryTerbimbing terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Ditinjau dari Minat Belajar Geografi Siswa Kelas XI SMA Panjura Malang
Model pembelajaran discoveryterbimbing dipilih untuk dieksperimenkan karena beberapa alasan. Alasan tersebut terdiri dari: 1) model pembelajaran discoveryterbimbing dikembangkan berdasarkan pandangan konstruktivisme, 2) model pembelajaran discoveryterbimbing sesuai dengan kurikulum 2013, 3) model pembelajaran discoveryterbimbing dapat melatih kemampuan berpikir kritis siswa. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui: (1) pengaruh model pembelajaran discovery terbimbing terhadap kemampuan berpikir kritis siswa, dan (2) pengaruh model pembelajaran discovery terbimbing terhadap kemampuan berpikir kritis ditinjau dari minat belajar geografi siswa.Metode yang digunakan adalah eksperimen semu (quasy experiment) dengan posttest only control group design. Penelitian ini dilakukan pada dua kelas yaitu kelas eksperimen yang diberikan model pembelajaran discovery terbimbing dan kelas kontrol yang tidak diberikan perlakuan model tersebut. Subjek yang diteliti adalah siswa kelas XI IIS SMA Panjura Malang. Pemilihan subjek penelitian didasarkan pada kelas yang memiliki rata-rata nilai yang hampir sama. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal tes esai yang mengukur kemampuan berpikir kritis siswa dan angket minat belajar geografi. Uji coba instrumen dilakukan pada kelas XII IPS 1. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji beda statistik parametrik meliputi uji-t dan uji-F dengan bantuan SPSS 16.0 for windows.Dari hasil temuan pertama, analisis yang dilakukan terhadap kemampuan berpikir kritis siswa diketahui bahwa nilai probabilitas adalah 0,00 < 0,05 dengan kata lain hipotesis nol (H0) ditolak dan nilai rata-rata kemampuan berpikir kritis kelas yang menggunakan model discovery terbimbing lebih tinggi (82,38) dari kelas yang tidak menggunakan model discovery terbimbing (71,72). Hasil analisis yang dilakukan pada temuan kedua diketahui bahwa nilai probabilitas adalah 0,001. Hasil tersebut menunjukkan nilai probabilitas 0,001< 0,05 dengan kata lain hipotesis nol (H0) ditolak dan H1 diterima.Berdasarkan hasil analisis data, maka dapat disimpulkan bahwa (1) model pembelajaran discovery terbimbing berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa, dan (2) model pembelajaran discovery terbimbing berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis ditinjau dari minat belajar geografi siswa kelas XI SMA Panjura Malang
Pemetaan Kawasan Rawan Banjir dan Perencanaan Jalur Evakuasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Tundo, Kabupaten Malang
RINGKASAN Indasari, Gading Dita. 2019. Pemetaan Kawasan Rawan Banjir dan Perencanaan Jalur Evakuasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Tundo, Kabupaten Malang. Skripsi. Program Studi Geografi. Jurusan Geografi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Syamsul Bachri, S.Si, M.Sc., Ph.D. (II) Purwanto, S.Pd., M.Si. Kata Kunci: pemetaan, tingkat kerawanan banjir, jalur evakuasi DAS Tundo merupakan salah satu daerah di Kabupaten Malang yang menjadi langganan banjir. Kejadian banjir di lokasi ini disebabkan oleh tingginya curah hujan yang berakibat pada meluapnya aliran sungai. Meski belum pernah menimbulkan korban jiwa, namun langkah-langkah penanggulangan bencana perlu dilakukan, sebab beberapa tahun mendatang, bencana akan semakin kompleks. Pemetaan kawasan rawan banjir dan perencanaan jalur evakuasi dilakukan untuk mengetahui tingkat kerawanan banjir dan jalur evakuasi yang dapat digunakan ketika terjadi bencana. Pemetaan Kawasan Rawan banjir dilakukan dengan cara membobotkan parameter curah hujan, kemiringan lereng, penggunaan lahan, serta tekstur tanah dengan menggunakan metode Analitycal Hierarchy Process (AHP) untuk mengetahui tingkat kepentingan suatu parameter terhadap parameter lain. Pembobotan parameter AHP tersebut nantinya di overlay untuk membuat peta tingkat kerawanan banjir di DAS Tundo. Peta tingkat kerawanan banjir digunakan sebagai acuan dalam perencanaan jalur evakuasi banjir. Peta tingkat kerawanan banjir menunjukkan bahwa DAS Tundo didominasi oleh tingkat kerawanan sedang dengan luas 15.71km2 atau setara 56.85% dari luasan lokasi penelitian.Sedangkan tingkat kerawanan rendah dan tinggi masing-masing 2.13km2 dan 9.80km2. Perencanaan jalur evakuasi di Desa Pujiharjo dibagi menjadi jalur barat serta jalur selatan, dengan mempertimbangkan trend kejadian banjir serta skenario banjir terburuk yang mungkin dapat terjadi. Perencanaan jalur evakuasi diawali dengan memilih tempat tujuan evakuasi berdasarkan kriteria jarak buffer akumulasi aliran, waktu tempuh, serta area persebaran pemukiman. Tempat evakuasi pada jalur barat Desa Pujiharjo berada di Kantor Desa, GKJW, Mushola, SDN Pujiharjo, serta Gereja Bethany. Sedangkan tempat evakuasi pada jalur selatan masih berupa lahan kosong. SUMMARY Indasari, Gading Dita. 2019. Mapping of Flood-Prone Areas and Evacuation Route Planning in the Watershed (DAS) of Tundo in Malang Regency.Thesis, Program study of Geography, Department of Geography. Universitas Negeri Malang. Advisors (I) Syamsul Bachri, S.Si, M.Sc., Ph.D. (II) Purwanto, S.Pd., M.Si. Keywords: Mapping, flood prone level, evacuation route. DAS Tundo or Watershed is one of a district in Malang region that becomes the flood-prone areas. The flood is caused by high rainfall and it causes an overflow of the river. Even though it has not caused any victims, yet a disaster management is necessary to be carried out since the disaster would be more complex in the next few years. Mapping of flood-prone areas and evacuation route planning are carried out in order to determine the level of flood’s vulnerability and an evacuation route can be used whenever a disaster occurs. Mapping of flood-prone areas is carried out by weighting the parameters of the rainfall, slope, land used, and soil texture by using an Analytical Hierarchy Process (AHP) method to determine the importance of one parameter to another. The weighting of the AHP parameter will be overlaid to make a map that concern about the level of flood’s vulnerability in DAS Tundo. The map of the flood ‘s vurnerability level is used as a reference when it is planning the evacuation route for the flood. The flood’s prone level map shows that the DAS Tundo is dominated by an average prone level with the area scope of 15.71 km2 or its equivalent to 56.85% from the total area of the research. Meanwhile, the low and high prone levels are 2.13 km2 and 9.80 km2. Planning for the evacuation routes in Pujiharjo Village is divided into western and southern routes, taking into account the trends of flood events and the worst possible flood scenarios. Planning for evacuation routes begins by selecting the destination for evacuation based on the criteria for accumulated buffer flow, allocation time, and distribution area. The location of evacuation in the west route of Pujiharjo was placed at the village administration office, the church (GKJW), mosque, elementary school of Pujiharjo, and Bethany’s church. While the location of evacuation in the southern route is still in the form of vacant land
Pengaruh Model Problem Based Learning Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Ditinjau dari Motivasi Belajar Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 2 Trenggalek
Kata kunci: Model Problem Based Learning, Berpikir Kritis, Motivasi BelajarKemampuan berpikir kritis adalah kemampuan yang penting dan diperlukan dalam kehidupan, mengingat dewasa ini ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat. Permasalahan yang terjadi saat ini adalah kemampuan beripikir kritis siswa di Indonesia masih tergolong rendah.Rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa dapat disebabkan oleh masih belum maksimalnya peran guru dalam kegiatan pembelajaran. Salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan berpikir kritis siswa adalah motivasi. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui pengaruh model Problem Based Learning terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI IPS SMAN 2 Trenggalek, (2) Untuk mengetahui pengaruh model Problem Based Learning terhadap kemampuan berpikir kritis ditinjau dari motivasi belajar siswa kelas XI IPS SMAN 2 Trenggalek.Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan penelitian experimen dengan menggunakan desain penelitian posttest only control group design. Penelitian ini menggunakan tiga variabel. Variabel bebas adalah model Problem Based Learning, variabel terikat adalah kemampuan berpikir kritis dan variabel moderator motivasi belajar. Subjek dalam penelitian ini adalah kelas XI IPS 1 dan XI IPS 2 dengan jumlah siswa sama yakni 31 siswa. Kelas XI IPS 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IPS 2 yang sebagai kelas kontrol.Berdasarkan hasil uji hipotesis menggunakan analisis varians dua arah diperoleh: (a) Terdapat perbedaan rata-rata Rata-rata skor kemampuan berpikir kritis siswa yang dilakukan pembelajaran menggunakan model Problem Based Learning, dengan probabilitas 0,00 < 0,05. Dengan demikian terdapat pengaruh pembelajaran model PBL terhadap kemampuan berpikir kritis, (b) Terdapat perbedaan rata-rata skor posttestkemampuan berpikir kritis ditinjau dari motivasi belajar siswa yang dilakukan pembelajaran menggunakan model PBL, dengan probabilitas 0,21 < 0,05. Dengan demikian terdapat pengaruh pembelajaran model PBL terhadap kemampuan berpikir kritis ditinjau dari motivasi belajar siswa. Dapat disimpulkan pembelajaran model PBL berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis dan model PBL berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis ditinjau dari motivasi belajar siswa. Maka dapat disarankan umtuk pembelajaran kedepan penggunaan model PBL agar pembelajaran lebih dipadukan dengan media ataupun model lain sehingga dapat lebih efektif
Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas X IIS 1 MAN 1 Tuban
PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWAIzza Lu’lu’ul Jannah1 (Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang)Abstract Keyword:Classroom Action Research, Problem Based Learning, Critical Thinking Ability The problem that occurs in MAN 1 Tuban is the low critical thinking ability of students, seen from the results of tests of students' critical thinking ability in the pre-cycle. The purpose of this study is to improve students' critical thinking ability. The type of research used is classroom action research. The implementation of this study has three cycles. Each cycle consists of the stages of planning, implementation, observation, and reflection. The results of the study indicate that there is an increase in critical thinking ability of class X IIS 1 MAN 1 Tuban students in each cycle. The average value of pre-cycle critical thinking ability is 34,50. The average value of critical thinking ability increased to 67,00 in the first cycle. In the second cycle the average value of critical thinking ability increased to 77,83. The average value of critical thinking ability increased again in the third cycle to 90,33. Abstrak Kata kunci: Penelitian Tindakan kelas, Problem Based Learning, Kemampuan Berpikir Kritis permasalahan yang terjadi di MAN 1 Tuban adalah rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa, terlihat dari hasil tes kemampuan berpikir kritis siswa pada pra siklus. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Pelaksanaan penelitian ini terdari tiga siklus. Setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa kelas X IIS 1 MAN 1 Tuban pada setiap siklus. Rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis pra siklus sebesar 34,50. Rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis tersebut meningkat menjadi 67,00 pada siklus I. pada siklus II rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis meningkat menjadi 77,83. Rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis kembali meningkat pada siklus III yaitu 90,33
Pengaruh Model Project Based Learning pada Mata Pelajaran Geografi terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas XI SMA Nasional Malang
Model Project Based Learning dipilih untuk dieksperimenkan karena beberapa alasan. Alasan tersebut terdiri dari: (1) model Project Based Learning sesuai dengan Kurikulum 2013, (2) model Project Based Learning membuat peserta didik lebih aktif dan (3) model Project Based Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif peserta didik. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh model Project Based Learning terhadap kemampuan berpikir kreatif pada mata pelajaran geografi siswa kelas XI SMA Nasional Malang.Rancangan penelitian ini menggunakan eksperimen semu (quasy experiment) dengan desain postest only control grup. Penelitan ini dilakukan pada dua kelas yaitu kelas eksperimen yang diberikan model Project Based Learning dan kelas kontrol yang tidak diberikan perlakuan model tersebut. Subjek yang diteliti adalah siswa kelas XI IPS SMA Nasional Malang. Pemilihan subjek penelitian karena kedua kelas memiliki rata-rata nilai yang hampir sama. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal esai untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif. Uji coba instrumen menggunakan menggunakan validitas dan reliabillitas. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji beda statistic parametrik meliputi uji t dengan bantuan SPSS 16.0 for windows.Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata kemampuan berpikir kreatif pada kelas yang menggunakan model Project Based Learning memiliki nilai rata-rata lebih tinggi (82,80) dari kelas yang tidak menggunakan model Project Based Learning (70,63). Hasil perhitungan uji t mendapatkan nilai signifikansi 0,00 < 0,05 dengan kata lain hipotesis nol (H0) ditolak. Hal tersebut berarti model Project Based Learning berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa kelas XI IPS di Sma Nasional Malang. Berdasarkan hasil dalam penelitian ini diperoleh kesimpulan model Project Based Learning berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa pada mata pelajaran geografi kelas XI IPS SMA Nasional Malang. Berdasarkan kesimpulan tersebut, maka saran yang dapat diberikan yaitu: bagi guru, disarankan untuk menggunakan model Project Based Learning pada mata pelajaran geografi. Bagi pihak sekolah, dapat memberikan kesempatan eksperimen model-model kurikulum 2013 yang menggunakan pendekatan saintifik. Bagi peneliti lanjut dapat melakukan penelitian model Project Based Learning dengan materi pembelajaran yang berbeda
COPING CAPACITY PENDUDUK DALAM MENGHADAPI ERUPSI GUNUNG AGUNG TAHUN 2017 (STUDI KASUS POLA MOBILITAS PENDUDUK DI DESA BESAKIH, KECAMATAN RENDANG, KABUPATEN KARANGASEM, BALI)
Kata Kunci : Persepsi, Coping Capacity, Pola MobilitasGunung agung merupakan salah satu gunung berapi aktif yang terletak di Pulau Bali. Setelah letusan tahun 1963 yang merenggut 1400-an jiwa, pada tanggal 18 September 2017 gunung agung memunculkan aktivitasnya kembali. Tercatat 4 (empat) lokasi pengungsian yang tersebar di Bali. Desa Besakih yang terletak pada Kawasan Rawan Bencana (KRB) merupakan desa yang terdampak erupsi gunung agung. Kejadian erupsi menyebabkan penduduk harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Perpindahan atau mobilitas penduduk yang dipengaruhi oleh persepsi dan coping capacity penduduk menjadi fokus pada penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi penduduk terhadap gunung agung, coping capacity penduduk dalam menghadapi erupsi, serta pola dan bentuk mobilitas penduduk pada saat terjadi dan pasca erupsi gunung agung.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus yang berfokus pada kejadian erupsi gunung agung tahun 2017. Penelitian ini memiliki lima tahap penelitian, yaitu tahap pralapangan yangmeliputi studi literatur, pencarian dan pengumpulan data pendukung, penetapan unit sampel, penyiapan peta dan persiapan kerja lapangan, kemudian tahap kegiatan lapangan meliputi proses pengumpulan data dengan metode wawancara mendalam, tahap pengolahan data meliputi kegiatan pengecekan keabsahan data menggunakan uji triangulasi data dan uji triangulasi peneliti, tahap analisis data meliputi tahap menganalisis data lapangan maupun data pralapangan yang sudah diolah menggunakan teori analisis data kualitatif Miles & Huberman (1992), kemudian data mobilitas dianalisis menggunakan teori Everett S. Lee. Selanjutnya adalah tahap evaluasi dan pelaporan meliputi kegiatan penulisan dan penyusunan hasil penelitian yang dilakukan pasca penelitian. Terdapat dua persepsi penduduk terhadap gunung agung yaitu secara spiritualgunung agung merupakan tempat persemayaman para Dewa, sehingga dalam coping capacitypenduduk dalam mengghadapi erupsi percaya bahwa dengan adanya Pura maka dampak dari erupsi gunung agung tidak sebesar daerah lain, dalam hal mobilitas penduduk tidak mau untuk dipindah secara permanen di daerah lain karena kepercayaan mereka terhadap Dewa dan Pura yang ada di Besakih, serta kawitan atau leluhur yang tidak bisa mereka tinggalkan. Presepsi yang kedua adalah secara rasional penduduk berpandangan bahwa gunung agung merupakan gunung berapi aktif yang pasti akan mengalami erupsi, penduduk paham akan bahaya erupsi sehingga mereka memutuskan untuk mengungsi ke tempat yang aman namun tidak mau dipindah secara permanen. Sementara untuk mobilitas penduduk saat dan setelah kejadian erupsi merupakan mobillitas non permanen atau silkular, kemudian untuk geraknya adalah adalah ulang alik dan mondok. Lokasi tujuan mobilitas tersebar diseluruh pulau Bali, yang mana 50,5% dari 73,1% penduduk memilih untuk mengungsi di pos pengungsian yang ada di Rendang