EDUSAINS
Not a member yet
289 research outputs found
Sort by
Pembelajaran IPA Terpadu dengan Tipe Connected dengan Model Experiential Learning untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa SMP
AbstractThis study aims to identify the increasing mastery of skills of junior high school science students after the application of the Experiential Learning in Integrated Science learning. The method used was pre-experimental with design pretest-posttest of one-group which was conducted in one of the Junior High School in Bandung, with a sample of eighth grade students (Class VIII H) as many as 34 students in the 2nd half of 2014/2015 academic year. The research instrument was like pretest and posttest to measure the increase of science process skills, finished learning observation sheets and questionnaires to determine the response of students to the implementation of Experiential Learning model. The results showed integrated science learning by implementation of Integrated Experiential Learning model can improve skills of science process skills of junior high school students. Increased each KPS\u27s indicator has a value that varies in sequence from largest to smallest: hypothesizing (0,65), interpretating (0,58), applying the concept (0,36) and communicating (0,35).These results indicated the model of Experiential Learning is one of learning model that can improve students\u27 mastery KPS.Keywords: connected; experiential learning; science process skillsAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peningkatan keterampilan proses sains siswa SMP setelah penerapan model experiential learning pada pembelajaran IPA Terpadu. Metode penelitian yang digunakan adalah pre-eksperimen dengan desain one-group pretest-posttest yang dilakukan di salah satu SMP Negeri di Kota Bandung, dengan sampel siswa kelas VIII H sebanyak 34 siswa semester 2 Tahun Ajaran 2014/2015. Instrumen penelitian berupa soal pretest dan posttest untuk mengukur peningkatan keterampilan proses sains, lembar observasi untuk keterlaksanaan pembelajaran, dan lembar angket untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pelaksanaan. Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran IPA Terpadu dengan penerapan model experiential learning dapat meningkatkan keterampilan proses sains siswa SMP pada topik tekanan. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata skor N-Gain dari penguasaan konsep siswa sebesar 0,55 berada pada kategori sedang. Rata-rata N-gain KPS adalah 0,53 pada kategori sedang. Peningkatan masing-masing indikator KPS memiliki nilai yang bervariasi secara berurut dari yang terbesar hingga terkecil yaitu: berhipotesis (0,65), interpretasi (0,58), menerapkan konsep (0,36) dan mengkomunikasikan (0,35). Hasil-hasil ini menunjukkan model experiential learning merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan proses sains siswa.Kata Kunci: connected; experiential learning; keterampilan proses sains Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/es.v8i2.1802
ANALISIS RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) MAHASISWA CALON GURU BIOLOGI
Abstract The study aimed to find out the quality of prospective biology teacher lesson plan based on component standard of lesson plan (BSNP). The sample was the VI semester biology education student choosen by stratified random sampling. The data was collected through 10 component of checklist. The result shows: 1) the form of lesson plan made is valued 10 (18,18%), 8 (27,27%), and 5 (3,03%); 2) the learning indicator development, 27,27% are appropriate with KI/KD; 3) in cognitive skill indicator development, C2 is the highest (55,12%), and C6 is the lowest (0,79%); 4) the clarity in detailing the scientific based teaching-learning situation, 18,18% are very detail, systematic, and relevant to indicators 5) the conformity in choosing and using the learning method reaches 39,39%, and 30,30% students can connect the learning media and the learning method, KI/KD, and indicator; 6) 18,18% students used the various learning source; 7) 33,33% material selection is approriate with the indicator; 8) 48,48% students can detail the time allocation in teaching-learning scenario; 9) in the evaluation aimed, 48,08% refers to science concept (science product), 15,38% (science process), 36,54% scientific attitude; 10) in the learning evaluation technic, 34,67% (essay), 26,67% (observation), and 24% (performance assesment). Overall, the ability of prospective biology teachers in compossing standard lesson plan are in quite good category, but the conformity of indicators with KI/KD, method chose, media, the learning source, and the proper materials are need to be improved. The selection of learning technic evaluation are various. Keywords: lesson plan analysis; prospective teacher Abstrak Penelitian bertujuan untuk mengetahui kualitas RPP mahasiswa calon guru biologi sesuai standar komponen RPP (BSNP). Sampel merupakan mahasiswa biologi semester VI, stratified random sampling. Pengumpulan data melalui checklist dengan 10 komponen. Diperoleh hasil: 1) Format RPP yang dibuat, nilai 10 (18,18%), 8 (27,27%), dan 5 (3,03%), 2) Pengembangan indikator pembelajaran, 27,27% sesuai dengan KI/KD, 3) Pengembangan indikator kemampuan kognitif, tertinggi C2 (55,12%), dan terendah C6 (0,79%), 4) Kejelasan merinci KBM berbasis pendekatan ilmiah, 18.18% sangat rinci, sistematis, relevan dengan indikator; 5) Kesesuaian memilih dan menggunakan metode belajar untuk pencapaian indikator 39,39% dan 30,30% mampu merelevansikan antara media/alat belajar dengan metode belajar serta KI/KD dan indikator, 6) 18,18% menggunakan sumber belajar bervariasi, 7) Pemilihan materi pembelajaran sesuai indikator (33,33%), 8) Kemampuan merinci alokasi waktu dalam skenario KBM (48,48%), 9) Sasaran penilaian yang dituju, 48.08% mengacu pada konsep sains (produk sains), 15.38% (proses sains), dan 36,54% (sikap ilmiah), 10) Pemilihan teknik evaluasi pembelajaran, 34,67% (tes uraian), 26,67% (teknik observasi), dan 24% (asesmen kinerja). Secara keseluruhan, kemampuan mahasiswa calon guru Biologi dalam menyusun RPP yang memenuhi standar dalam kategori cukup baik, namun kesesuaian indikator dengan KI/KD, pemilihan metode, media, sumber belajar, dan kesesuaian materi masih perlu diperbaiki. Pemilihan teknik evaluasi pembelajaran pun beragam. Kata Kunci: analisis RPP; calon guru Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/es.v8i2.4059
PROFIL KETERAMPILAN KERJA ILMIAH DAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMA DI KALIMANTAN BARAT
Abstract West Kalimantan focused on the mastery of the subject matter to measures the students’ success, so that critical thinking skill and scientific work skill was never been observed and measured. This research aimed to describe students’ scientific work and critical thinking skills profile in West Kalimantan. The design of this research is descriptive. The total sample are 240 students determined by purposive sampling, which is by taking each 60 students of class XI in Pontianak, Sanggau, Sintang and Melawi. This research used scientific work and critical thinking skills test in essay form as data collection tools. Data that have been collected then are specified into categories of skills based on the average score. The results showed that the students’ scientific work skills in category of highly skilled, skilled, less skilled and unskilled in a row are 0.00%, 4.58%, 19.58% and 75.84%, also the students’ critical thinking skills are in category of highly skilled, skilled, less skilled and unskilled which are in a row 0.00%, 0.00%, 18.75%, 81.25%. Based on the results it can be concluded that the students’ scientific work skills and critical thinking skills in West Kalimantan are low. Keywords: critical thinking skill; scientific work skill Abstrak Ukuran keberhasilan belajar siswa di Kalimantan Barat berfokus pada penguasaan materi pelajaran sehingga keterampilan berpikir kritis dan kerja ilmiah belum pernah diamati serta diukur. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan profil keterampilan kerja ilmiah dan berpikir kritis siswa di Kalimantan Barat. Bentuk penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Sampel ditentukan dengan teknik purposive sampling yang berjumlah 240 siswa, yaitu dengan mengambil masing-masing 60 siswa kelas XI IPA di Kota Pontianak, Kabupaten Sanggau, Kabupaten Sintang dan Kabupaten Melawi. Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes keterampilan kerja ilmiah dan berpikir kritis berbentuk essay. Data yang terkumpul selanjutnya ditentukan kategori keterampilan berdasarkan rata-rata skor. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa keterampilan kerja ilmiah siswa yang berada pada kategori sangat terampil, terampil, kurang terampil dan tidak terampil secara berturut-turut adalah 0,00%, 4,58%, 19,58% dan 75,84%, serta keterampilan berpikir kritis siswa pada kategori sangat terampil, terampil, kurang terampil dan tidak terampil secara berturut-turut adalah 0,00%, 0,00%, 18,75%, 81,25%. Berdasarkan hasil yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa keterampilan kerja ilmiah dan berpikir kritis siswa di Kalimantan Barat tergolong rendah. Kata Kunci: keterampilan berpikir kritis; keterampilan kerja ilmiah Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/es.v9i1.441
PENGEMBANGAN THREE-TIER TEST DIGITAL UNTUK MENGIDENTIFIKASI MISKONSEPSI PADA KONSEP FLUIDA STATIS
Abstract This study aims to develop and produce a three-tier test digital instrument to identify misconceptions in the concept of fluid statics. This research is categorized as research development. Stages of development used is stages according to Van den Akker, consisting of (1) preliminary study, (2) prototyping stage, (3) summative evaluation, and (4) systematic reflection and documentation. The study was conducted at four high schools in South Jakarta. This development research produce 17 items of three-tier test instrument digital on Google Form in concept of fluid statics, misconception analysis, and usage instructions. Three-tier test developed is effective because have content validity (CVI = 0,9), contruct validity (r = 0,6), and item validity (r> 0.4). Based on the research stage, the digital test instrument has practical and ready to be implemented. Acceptance of teachers and students of the three-tier digital instrument test gives positive response, acceptability of 100% for teachers and 66.7% for students. Keywords: three-tier test; misconception; fluid statics; digital instrument; research development Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menghasilkan instrumen digital three-tier test untuk mengidentifikasi miskonsepsi pada konsep fluida statis. Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian pengembangan. Tahapan pengembangan yang digunakan adalah tahapan menurut Van den Akker, yang terdiri dari (1) penelitian pendahuluan, (2) tahap prototipe, (3) evaluasi sumatif, dan (4) refleksi sistematik serta dokumentasi. Penelitian dilakukan di 4 SMA Negeri di Jakarta Selatan. Penelitian pengembangan ini menghasilkan instrumen three-tier test menggunakan Google Form sebanyak 17 butir soal pada konsep fluida statis, analisator miskonsepsi dan petunjuk pengguaan. Instrumen yang dikembangkan efektif karena memenuhi validitas konten (CVI = 0,9), validitas konstruksi (r = 0,6), dan validitas butir soal (r > 0,4). Berdasarkan tahapan penelitian, instrumen tes digital sudah praktis dan siap diimplementasikan. Penerimaan guru dan siswa terhadap instrumen digital three-tier test memberikan respon yang positif, dengan penerimaan 100% untuk guru dan 66,7% untuk siswa dari responden yang diwawancarai. Kata Kunci: three-tier test; miskonsepsi; fluida statis; instrumen digital; penelitian pengembangan Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/es.v8i2.5192
PENGUASAAN KONSEP MAHASISWA PADA MATA KULIAH ZOOLOGI VERTEBRATA MELALUI TEAM-BASED LEARNING DAN HUBUNGANNYA DENGAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS
Abstract This study aims to analyze the improvement of mastery of student concepts after the implementation of team-based learning strategy, as well as to analyze its relationship with critical thinking skills. The research method is a quasi-experiment with pretest-posttest control group design. The subject of this study consists of 40 students who attended vertebrate zoology courses as an experimental class and 45 students as control class. The instrument used is the multiple choice test. The data obtained were analyzed statistically using SPSS 16 comprising analysis of mean difference test (t-test), effect size, and Pearson two tail correlation test. The result shows that the improvement of student mastery concept in experimental class is better than control class. This can be seen from the average difference test (t-test) of N-gain (<g>) which shows a significant difference (α = 5%), and the value of effect size (d) of 0.68 (high category). The Result of correlation test shows that critical thinking skill has a positive relation with mastery of student concept with co-determination value 0.4058 which means that critical thinking skill contributes 40.58% to student mastery concept. Keywords: Team-based learning, concept mastery, zoology vertebrate courses Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peningkatan penguasaan konsep mahasiswa setelah diterapkannya pembelajaran berbasis kelompok, serta menganalisis hubungannya dengan keterampilan berpkir kritis. Metode penelitian yang dilakukan adalah quasi experiment dengan disain penelitian pretest - postest control group design. Sampel penelitian terdiri atas 40 orang mahasiswa yang mengikuti kuliah zoologi vertebrata sebagai kelas eksperimen dan 45 orang mahasiswa sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan adalah tes penguasaan konsep. Data yang diperoleh dianalisis statistik menggunakan SPSS 16 meliputi analisis uji beda rerata (uji t), effect size, dan uji korelasi Pearson two tail. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan penguasaan konsep mahasiswa pada kelas ekpserimen lebih baik dibandingkan kelas kontrol. Hal ini dapat dilihat dari uji beda rerata (uji t) N-gain (<g>) yang menunjukkan beda signifikan (α=5%), dan nilai efect size (d) sebesar 0.68 (kategori tinggi). Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kritis memiliki hubungan positif dengan penguasaan konsep mahasiswa dengan nilai koofesien determinasi sebesar 0.4058 yang berarti bahwa keterampilan berpikir kritis memberikan kontribusi sebesar 40.58% terhadap penguasaan konsep mahasiswa. Kata Kunci: team-based learning, penguasaan konsep, zoologi vertebrata Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/es.v9i1.5475
STRATEGI DIKLAT PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS GURU BIOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN ALAT PERAGA
PROBLEM BASED LEARNING STRATEGIES TO ENHANCE THE CREATIVITY OF BIOLOGICAL TEACHERS IN DEVELOPING PROPS AbstractBiology teachers need to be creative to create their own props to be able to perform active learning in the laboratory. This study used problem-based strategy to improve the teacher\u27s ability to identify learning problems with regards of lacking tools and materials and to improve teachers \u27 ability to design and create their own props. Using pre- and post-test design, this study was conducted during teachers training session. The results showed that teachers demonstrated creative attitude in designing props. Teachers can also produce feasible props to be used with their students. After finishing the training, the teachers also showed a positive response to all aspects of creativity. In addition, teachers showed a significant increase in the mastery of concept related to topic taught (α = 0.05) compared to the initial implementation of training. AbstrakSaat ini guru biologi perlu kreatif untuk membuat alat peraga sendiri untuk dapat melaksanakan pembelajaran aktif di laboratorium. Oleh karena itu, kajian ini dilakukan untuk: 1) meningkatkan kemampuan guru dalam mengidentifikasi permasalahan kurangnya alat dan bahan di laboratorium; serta 2) meningkatkan kemampuan guru dalam mendesain dan membuat alat peraga sendiri. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut dilakukan diklat dengan menggunakan strategi problem based learning. Data yang diperoleh dalam kajian diklat ini adalah penguasaan konsep melalui instrumen tes, kreativitas guru dalam mendesain alat peraga melalui penilaian dokumen desain, sikap kreatif dan respons guru melalui kuesioner, dan penilaian alat peraga melalui penilaian produk. Analisis setiap data dilakukan secara deskriptif kuantitatif. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa penguasaan konsep guru di akhir meningkat signifikan (α = 0,05) dibandingkan pada saat awal pelaksanaan diklat. Selain itu, guru menunjukkan sikap kreatif dan kreativitas yang baik dalam mendesain alat peraga dan LKS. Guru juga dapat menghasilkan alat peraga yang layak digunakan siswanya. Setelah selesai pelaksanaan diklat, guru juga menunjukkan respons positif terhadap semua aspek.
AN EFFECTIVE OF POGIL WITH VIRTUAL LABORATORY IN IMPROVING SCIENCE PROCESS SKILLS AND ATTITUDES: SIMPLE HARMONIC MOTION CONCEPT
EFEKTIVITAS POGIL DENGAN LABORATORIUM VIRTUAL DALAM PROSES MENINGKATKAN KETERAMPILAN DAN SIKAP ILMU PENGETAHUAN: KONSEP MOTION MOTION SIMPLE HARMONIC AbstractSimple harmonic motion is a concept that often involve complex and difficult equations, so that students can’t construct knowledge of the concept. This research applies POGIL with a virtual laboratory, where students are encouraged to construct the concept and emphasize collaborative learning with different roles. Virtual laboratory allows students to explore and establish students’ science process skills and attitude. This study used a quasi experiment with nonequivalent control group design. Therefore, this study has add to the practical knowledge to develop science process skills and establish a positive attitudes of students toward science.AbstrakGerak harmonik sederhana merupakan konsep yang sering melibatkan persamaan yang rumit dan dianggap sulit, sehingga siswa tidak dapat membangun pengetahuan terhadap konsep. Penelitian ini menerapkan model POGIL dengan virtual laboratorium, dimana siswa didorong untuk mengkontruksi konsep dan menekankan belajar kolaboratif dengan peran berbeda. Virtual laboratorium memudahkan siswa untuk bereksplorasi. Ini menumbuhkan keterampilan proses sains serta sikap ilmiah siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi eksperiment dengan desain nonequivalent control group. Oleh karena itu, penelitian ini menambah pengetahuan praktis untuk mengembangkan keterampilan proses sains dan menumbuhkan sikap positif siswa terhadap sains
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI SURAKARTA
PROJECT BASED LEARNING IMPLEMENTATION IN JUNIOR HIGH SCHOOL IN SURAKARTAAbstractProject-based learning needs to be implemented in junior high schools because by applying this model it will enhance student creativity. Project-based learning is a learning model that makes students active and innovative, completing a project in a certain period. This study aims to analyze the learning process at the junior high school in several schools in Surakarta to implement project-based learning. The design of this study is qualitative descriptive. Data analysis using Milles Huberman by observation, in-depth interviews, and student cognitive achievement. The results show that the learning that has been done in several Junior High School in Surakarta has not used project-based learning. This lack of using Project-Based learning is because the teacher has no direction or is still limited to learning using the Project-Based Learning model, so the teacher prefers to teach with lecture and discussion methods in the classroom. Even though in the 2013 curriculum, the application of a student-centered learning model is highly recommended. The researcher hopes that the results of this study will help design a curriculum that uses a project-based learning model. AbstrakPembelajaran berbasis proyek perlu diterapkan di sekolah menengah pertama, karena dengan penerapan model ini akan meningkatkan kreativitas siswa. Pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang membuat siswa aktif dan inovatif, menyelesaikan suatu proyek dalam kurun waktu tertentu. Studi ini bertujuan untuk menganalisis proses pembelajaran tingkat SMP pada beberapa sekolah di Surakarta untuk menerapkan pembelajaran berbasis proyek. Desain penelitian ini deskriptif kualitatif. Analisis data menggunakan Milles Huberman dengan cara observasi, wawancara mendalam dan hasil belajar kognitif siswa. Hasil nya menunjukkkan bahwa pembelajaran yang telah dilakukan di beberapa SMP Negeri di Surakarta belum menggunakan pembelajaran berbasis proyek. Hal ini dikarenakan guru tidak memiliki arahan atau masih terbatas untuk pembelajaran menggunakan model Project Based Learning, sehingga guru lebih memilih mengajar dengan metode ceramah dan diskusi di kelas. Padahal di kurikulum 2013, penerapan model pembelajaran yang berpusat pada siswa sangat dianjurkan. Peneliti berharap dengan hasil penelitian ini akan membantu perancang kurikulum membuat perubahan yang berkaitan dengan pembelajaran dengan menerapkan model Project Based Learning.
ENVIRONMENTAL EDUCATION DEVICES IN THE BOGOR BOTANICAL GARDENS FOR COMMUNITY-TRAINING ON BIODIVERSITY CONSERVATION
PERANGKAT PENDIDIKAN LINGKUNGAN DI KEBUN RAYA BOGOR SEBAGAI UPAYA PENYADARTAHUAN MASYARAKAT TERHADAP KONSERVASI BIODIVERSITAS AbstrakPenelitian ini mengidentifikasi empat aspek berbeda dari pengetahuan pedagogi dan tiga aspek dari pengetahuan materi, serta terkait di antara aspek-aspek PCK. Penelitian ini menunjukkan bahwa skor PCK calon guru biologi dalam menyusun rencana pelajaran dan praktik mengajar berada dalam kategori baik, dengan hasil persentase skor CK 70,83% (baik), hasil persentase skor PK 75,70% (baik), dan hasil persentase skor PCK 66,67% (sangat baik). Temuan dalam penelitian ini adalah kemampuan smahasiswa calon guru mulai berkembang mengenai PCK melalui cara penyampaian materi pelajaran biologi dengan menghargai ide-ide siswa sebelumnya dalam pembelajaran, meskipun kedalaman pemahaman bervariasi. Selain itu, hasil PCK menunjukkan banyak perkembangan dalam perancangan rencana pelajaran melalui pengetahuan konstruktivis. Pengembangan terhadap pengetahuan pedagogi, konten dan PCK berkaitan dengan keterampilan mengajar merupakan aspek yang sangat penting. Penggunaan rencana pelajaran yang mudah diakses dapat meningkatkan kemampuan PCK untuk mengembangkan prinsip-prinsip pedagogis. Meskipun pengembangan konten dan PCK terkait pedagogis, mungkin cukup untuk memungkinkan mahasiswa calon guru untuk membuat dan menghubungkan konteks materi pelajaran biologi yang memfasilitasi siswa dalam pembelajaran kontekstual. AbstractSince its establishment on 18th May 1817, conservation, research, and education, have become core competence of Bogor Botanic Gardens (BBG). The Gardens become a valuable destination showed by about 1.2 million visitors annually, but only less than 10% of those with educational visitation. Therefore, an identification and evaluation of variety and characteristics of education tools supporting environmental education in BBG is carried out in this study. The study showed that topics and tools applied in BBG is quite various but their content and approach have to be improved. Topics highlighted trending conservation and environmental issues have been incorporated in education programs and activities, in line with BBG’s vision and mission. All the educational tools in terms of interpretative materials are potential to improve visitor’s knowledge. However there are only a few can generate positive behaviour towards environment. Efforts in integrating technology into educational tools were observed, such as mobile application for self-guided tour. Other tools are thematic routes and a newly established education room called Ecodome. These tools support one of Global Strategy for Plant Conservation (GSPC) target and objective in terms of education and awareness about plant diversity, environment, its role in sustainable livelihoods and importance to all life on Earth
LITERASI TUMBUHAN LANGKA MAHASISWA PENDIDIKAN BIOLOGI SEBAGAI HASIL TUGAS MINI RISET PERKULIAHAN BIOLOGI TUMBUHAN
RARE PLANT LITERACY FOR BIOLOGICAL EDUCATION STUDENTS AS A RESULT OF THE TASK OF MINI RESEARCH AbstractIndonesia is known as one of the mega biodiversity countries, but ironically biodiversity in Indonesia has actually decreased, so that there are around 240 species of plants already included in the list of endangered plants. Therefore a movement is needed to educate the academic community, in this case Biology Education students through lecture assignments about endangered plant literacy. Thus the problem in this study is how the literacy of endangered plants of Biology Education students as a result of mini research in plant biology lectures. This research is a descriptive research. The research instruments included a mini research assessment sheet, which included aspects of the accuracy of determining plant species which included endangered categories, descriptions of morphology, classification and benefits of these plants. Biology Education students are assigned to survey, inventory and observe endangered plants in West Java. Overall endangered plant literacy of Biology Education students is good, but the aspect that is still lacking is in determining plant species in endangered categories. One of the plants found in Sukabumi area is Cynometra cauliflora including vulnerable plants. Need to develop assignments and assessments to assess endangered plant literacy of students to be more comprehensive. AbstrakIndonesia dikenal sebagai salah satu negara mega biodiversitas tetapi ironisnya keanekaragaman hayati di Indonesia justeru mengalami penurunan, sehingga ada sekitar 240 jenis tumbuhan sudah masuk dalam daftar tumbuhan langka. Oleh karena itu perlu dilakukan suatu gerakan untuk mengedukasi masyarakat akademis, dalam hal ini mahasiswa Pendidikan Biologi melalui tugas perkuliahan tentang literasi tumbuhan langka. Dengan demikian masalah yang diangkat pada penelitian ini adalah bagaimana literasi tumbuhan langka mahasiswa Pendidikan Biologi sebagai hasil tugas mini riset perkuliahan biologi tumbuhan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Instrumen penelitian meliputi lembar penilaian mini riset, yang meliputi aspek ketepatan penentuan spesies tumbuhan yang termasuk kategori langka, deskripsi morfologi, klasifikasi dan manfaat tumbuhan tersebut. Mahasiswa Pendidikan Biologi ditugaskan untuk mensurvey, menginventarisasi dan mengobservasi tumbuhan langka yang berada di daerah Jawa Barat. Secara keseluruhan literasi tumbuhan langka mahasiswa Pendidikan Biologi termasuk baik, tetapi aspek yang masih kurang sekali adalah pada penentuan spesies tumbuhan dalam kategori langka. Salah satu tumbuhan yang ditemukan di daerah Sukabumi adalah Cynometra cauliflora termasuk tumbuhan berstatus rawan. Perlu pengembangan penugasan dan asesmennya untuk menilai literasi tumbuhan langka mahasiswa agar lebih komprehensif.