289 research outputs found

    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DIPADU METODE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS X IPA 4 SMA NEGERI 1 PARUNG TAHUN AJARAN 2014/2015 PADA KONSEP PERUBAHAN LINGKUNGAN DAN D

    No full text
    AbstractThis study aims to determine the increase in student learning outcomes at the Environmental Change and Waste Recycling concept after using Problem Based Learning (PBL) combined with Student Team Achievement Division (STAD). The method was classroom action research, which consists of 2 cycles. The results showed the activity of learners group in learning process in first cycle by 39.3% (low). In second cycle, activities learners group in learning process of 67.5% (high). An increase is in aspects of group activities, individual performance, and learning outcomes of students. This is due to the improvement in the learning process that measures the depth and breadth of the expressed prior knowledge, controlling the activity of students in the study group, the allocation of time for all the stages of learning can be accomplished and reward to motivate learners. Keywords: Problem Based Learning (PBL); Student Team Achievement Division (STAD); Learning Outcomes; Environment Change and Recycling Waste Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar pada konsep perubahan lingkungan dan daur ulang limbah melalui penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dipadu dengan metode Student Team Achievement Division (STAD). Metode yang digunakan dalam penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri atas 2 siklus. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran kelompok pada siklus I sebesar 39,3% (rendah). Pada siklus II aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran kelompok sebesar 67,5% (tinggi). Terjadi peningkatan aspek aktivitas kelompok, kinerja individu, dan hasil belajar peserta didik. Hal ini disebabkan perbaikan pada tindakan proses pembelajaran yaitu pada kedalaman dan keluasan dalam menyampaikan prior knowledge, pengontrolan aktivitas peserta didik dalam belajar kelompok, pengaturan alokasi waktu agar semua tahapan pembelajaran dapat terlaksana dan pemberian reward untuk memotivasi peserta didik.Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/es.v7i2.278

    PENINGKATAN HASIL BELAJAR KIMIA MELALUI MODEL CHEMISONG PADA PESERTA DIDIK KELAS X KIMIA ANALISIS SMK

    No full text
    Abstract This research aims to use learning model chemisong to increase the activity students and learning outcomes in chemistry competency of class X SMK N 2 Depok. Research carried out comprises of three stages: pre-cycle, cycle 1 and cycle 2. Data collection was conducted through observation, evaluation of learning outcomes, assessment chemisong, and documentation. The results showed that the use of chemisong learning model can improve the learning outcomes of students of class X on pre-cycle of learning evaluation values obtained by an average of 51, cycle 1 by 73, cycles 2 of 82. The use of the learning model chemisong can increase the number of learners who on pre-cycle can increase the number of learner who achieve minimum scor criteria minimum of 4 students on cycle 1 of 19 students on cycle 2 of 27 students. The conclusion of this study is the use chemisong learning model can improve the activity of the learner and the learning outcomes chemistry on students of class X SMK N 2 Depok. Keywords: chemisong; chemical; activity; learning outcomes Abstrak Penelitian ini bertujuan menggunakan model pembelajaran chemisong untuk meningkatkan aktivitas peserta didik dan hasil belajar pada kompetensi kimia kelas X SMK Negeri 2 Depok. Penelitian yang dilakukan terdiri dari 3 tahap yaitu pra siklus, siklus 1, dan siklus 2. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, evaluasi hasil belajar, penilaian chemisong, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran chemisong dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas X yaitu pada pra siklus diperoleh nilai evaluasi belajar rata-rata sebesar 51, siklus 1 sebesar 73, siklus 2 sebesar 82. Penggunaan model pembelajaran chemisong dapat meningkatkan jumlah peserta didik yang mencapai kriteria ketuntasan minimal yaitu pada pra siklus sebanyak 4 peserta didik, siklus 1 sebanyak 19 peserta didik, siklus 2 sebanyak 27 peserta didik. Kesimpulan penelitian ini adalah penggunaan model pembelajaran chemisong dapat meningkatkan aktivitas peserta didik dan hasil belajar kimia pada peserta didik kelas X SMK N 2 Depok. Kata Kunci: chemisong; kimia; aktivitas; hasil belajar  Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/es.v9i1.2878

    INTEGRASI KONSEP-KONSEP PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH MENENGAH

    No full text
    Abstract This writing aims to provide a solution on how to integrate the concepts of environmental education at the level of secondary school. Chiras (1985) states that the environmental damage that occurs at this time is caused more by human frontier mentality. The frontier mentality based on the basic attitude of man, namely:  1) view the world as a source of unlimited; 2) the view that human being is not apart from nature; and 3) the view that nature as something that needs to be mastered. Education in secondary schools can play an active role to build a society so that it is able to apply the principles of sustainability and environmental ethics. The conclusion that can be drawn from the writings of her above are:  1) School can be used as a means of support in implementing an environmental education by the way directing its resources to improve the attitudes, awareness, knowledge and behavior of rational and responsible for environmental issues; (2) Environmental education can be integrated to all subject matter contained in the secondary schools. Keywords: Environmental Education Abstrak Tulisan ini bertujuan untuk memberikan solusi tentang cara mengintegrasikan konsep-konsep pendidikan lingkungan pada jenjang sekolah menengah. Chiras (1985) menyatakan bahwa akar dari kerusakan lingkungan yang terjadi pada saat ini lebih banyak disebabkan oleh manusia yang bermental frontier. Mentalitas frontier ini berdasarkan atas sikap dasar manusia, yaitu: (1) melihat dunia sebagai sumber yang tidak terbatas; (2) berpandangan bahwa manusia terlepas dari alam; dan (3) berpandangan bahwa alam sebagai suatu yang perlu dikuasai.  Pendidikan pada jenjang pendidikan menengah dapat berperan aktif untuk membangun masyarakat  sehingga mampu  menerapkan prinsip pembangunan keberlanjutan dan etika lingkungan. Kesimpulan yang dapat diambil dari tulisan dia atas adalah: (1)  Sekolah dapat digunakan  menjadi sarana pendukung dalam melaksanakan pendidikan lingkungan dengan cara mengarahkan sumber daya yang dimilikinya untuk meningkatkan sikap, kesadaran dan pengetahuan serta tingkah laku yang rasional dan bertanggungjawab terhadap masalah-masalah lingkungan; (2) Pendidikan lingkungan hidup dapat diintegrasikan kepada seluruh materi pelajaran yang terdapat di sekolah menengah. Kata Kunci: Pendidikan Lingkungan  Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/es.v9i1.5364

    Developing Creativity and Entrepreneurial Values in High School Student through Project Based Learning Model On Biotechnology Concept

    No full text
    PENGEMBANGAN KREATIVITAS DAN NILAI-NILAI WIRAUSAHA DI SISWA SEKOLAH TINGGI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK PADA KONSEP BIOTEKNOLOGIAbstractThis research focused on determining the influence of project-based learning model oriented to bioentrepreneurship for XII grade student’s creativity and entrepreneurial values on conventional biotechnology sub topic. This research used quasi experimental method and the posttest only control group design. The sample was XII science 2 as experimental class and XII science 1 as control class chosen by random sampling. The data collected by using creative thinking ability test, creative product valuation rubric, observation sheet and entrepreneurial values questionnaire. The hypothesis analysed by using t-test which obtained the significance of creative products was 0,000 < 0,05 and the creative thinking ability was 0,001 < 0,05, so it would be concluded that project-based learning model oriented to bioentrepreneurship effected on student creativity. As for the significance of entrepreneurial values from the observation sheet was 0,000 < 0,05 and the questionnaire was 0,019 < 0,05, so it would be concluded that project-based learning model oriented to bioentrepreneurship effected on student’s entrepreneurial values. Correlation analysis concluded that there was a correlation between them, with the value of correlation coefficient was 0,195. The result of linear regression test showed that creativity contributed about 3% to student’s entrepreneurial values.AbstrakPenelitian ini berfokus pada menentukan pengaruh model pembelajaran berbasis proyek yang berorientasi pada bioentrepreneurship untuk kreativitas dan nilai-nilai kewirausahaan siswa kelas XII pada sub topik bioteknologi konvensional. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu dan desain kelompok kontrol posttest. Sampel adalah XII sains 2 sebagai kelas eksperimen dan XII sains 1 sebagai kelas kontrol yang dipilih secara acak. Data dikumpulkan dengan menggunakan tes kemampuan berpikir kreatif, rubrik penilaian produk kreatif, lembar observasi dan kuesioner nilai kewirausahaan. Hipotesis dianalisis dengan menggunakan uji-t yang diperoleh signifikansi produk kreatif adalah 0,000 <0,05 dan kemampuan berpikir kreatif 0,001 <0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran berbasis proyek yang berorientasi pada bioentrepreneurship berpengaruh pada siswa kreativitas. Adapun signifikansi nilai kewirausahaan dari lembar pengamatan adalah 0,000 <0,05 dan kuesioner adalah 0,019 <0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran berbasis proyek yang berorientasi pada bioentrepreneurship berpengaruh pada nilai-nilai kewirausahaan siswa. Analisis korelasi menyimpulkan bahwa ada korelasi di antara mereka, dengan nilai koefisien korelasi adalah 0,195. Hasil uji regresi linier menunjukkan bahwa kreativitas berkontribusi sekitar 3% terhadap nilai kewirausahaan siswa

    MODUL VIRTUAL BERBASIS INKUIRI TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS

    No full text
    VIRTUAL MODULE BASED ON GUIDED INQUIRY TO IMPROVE CRITICAL THINKING ABILITY AbstractThe use of virtual module was aimed to develop students’ independent learning that may lead to their critical thinking ability. Guided inquiry is a model that directs students to find facts through existing data and through experimental results. Guided inquiry-based virtual module was then developed in order to systematically help students to increase their critical thinking, particularly in the concept of thermochemical material. This study uses control group pretest-posttest design. Students\u27 critical thinking skills are measured through learning outcomes. Based on the results of the analysis using the Mann-Whitney test there are differences on the students’ ability in the experimental class and control class. While students of both class shows an increase in their critical thinking, students of the experiment class show more effective in dealing with the improvement. Therefore, it is summarized that guided inquiry-based virtual learning can improve students\u27 critical thinking skills.  AbstrakModul virtual adalah sebuah bahan ajar yang disajikan untuk peserta didik agar dapat belajar secara mandiri yang disusun secara sistematis untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu yang disajikan ke dalam format elektronik yang di dalamnya terdapat animasi, simulasi, gambar, serta navigasi yang membuat pengguna lebih interaktif, aktif, inovatif, dan menyenangkan dalam proses belajar yang mana dapat mengarahkan peserta didik agar berpikir secara kritis. Inkuiri terbimbing merupakan model yang mengarahkan peserta didik menemukan fakta melalui data yang ada serta melalui hasil eksperimen. Modul virtual berbasiskan model ini digunkan didalam proses belajar untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik pada materi Termokimia. Penelitian ini menggunakan Control group pre test-post test design. Kemampuan berpikir kritis peserta didik diukur melalui hasil belajar. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan uji Mann-Whitney terdapat perbedaan pada kelas eksperimen yang diajarkan menggunakan dengan modul virtual berbasis inkuiri terbimbing dengan kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran inkuiri terbimbing tanpa modul virtual. Hasil analisis menunjukkan masing-masing kelas terdapat peningkatan dalam berpikir kritis tetapi pada kelas eksperimen peningkatan kemampuan berpikir kritis lebih efektif dari kelas kontrol, maka pembelajaran dengan modul virtual berbasis  inkuiri terbimbing dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik.

    TREND IN BIOLOGY EDUCATION RESEARCH FROM 2012 TO 2017: A CONTENT ANALYSIS OF PAPERS IN SELECTED JOURNALS FROM INDONESIA

    No full text
    TREN PENELITIAN PENDIDIKAN BIOLOGI 2012-2017: ANALISIS KONTEN PAPER DI JURNAL TERSELEKSI DARI INDEKS PUBLIKASI INDONESIA AbstrakArtikel ini telah menjelaskan kajian tentang tren penelitian di bidang penelitian pendidikan biologi di Indonesia sepanjang tahun 2012-2017. Studi ini telah menganalisis artikel-artikel yang telah dipublikasikan di jurnal ilmiah yang telah diindeks di Indonesia Publication Index. Pada bagian pendahuluan penelitian, kami telah menemukan hanya empat jurnal yang memiliki skop secara spesifik di bidang pembelajaran biologi. Keempat jurnal tersebut adalah Journal of Biology Education, Bioedu, Bioedukasi dan Didaktika Biologi. Dalam keempat jurnal ini kami juga telah menemukan 547 artikel yang telah dipublikasikan sejak tahun 2012-2017. Semua artikel ini telah diunduh dan dilakukan analisis konten. Analisis konten dilakukan mengacu kepada tujuh aspek yaitu topik biologi, subjek penelitian, metode/desain penelitian, elemen penelitian, alat pengumpul  data, jenis dan ukuran sampel dan teknik analisis data. Data yang telah diperoleh, telah dianalisis dengan statistik deskriptif dan telah ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik. Kesimpulan penelitian ini adalah tren penelitian di bidang penelitian pendidikan biologi di Indonesia sepanjang tahun 2012-2017 dibedakan menjadi tujuh kategori yaitu topik biologi adalah bentuk dan fungsi hewan, subjek penelitian adalah pengajaran dan pembelajaran, metode/desain penelitian adalah eksperimen, elemen penelitian adalah kognitif, alat pengumpul  data adalah tes prestasi belajar, jenis sampel adalah siswa-siswa sekolah menengah atas dan ukuran sampel adalah 31-100 dan teknik analisis data adalah teknik kuantitatif..AbstractThis article was to describe research trends in Biology Education Research (BER) in Indonesia across year 2012-2017. This study was conducted by descriptive quantitative, with a content analysis the article that has been published in scientific journals that indexed in the Indonesia publication index. The content analysis were refer to sevent subjects were biology topics, teaching and learning, research design/methods, research element, data collection tools, samples and sample sizes and technique of the data analysis. The data obtained were analyzed with descriptive statistics and displayed in tables and graphs. We founded that only four journals have been scope specifically in the biology learning. The four journals were Journal of Biology Education, Bioedu, Bioedukasi and Didaktika Biologi. In theses journals, we also found 547 articles published from 2012-2017. All of these articles were downloaded and all of theses articles were subjected to content analysis. The result of the study showed that research trends BER in Indonesia across the year 2012-2017 were devide on seven categorizes such as; biology topics was animal form and function, teaching and learning was subject matter, research design/methods was quantitative experimental design, research element was cognitive, data collection tools was achievement test, samples was the students at Senior High School (SMA) and the size of samples was between 31-100 and technique of the data analysis was quantitative method. The implication of this study has implicated that to be an information for the researcher being conduct their researchs. The result of this study also will be contributed for the teachers and educator in teaching and learning of research of methodology in biology education.

    ARGUMENTASI ILMIAH DAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS MELALUI METODE DEBAT

    No full text
    SCIENTIFIC ARGUMENTATION AND CRITICAL THINKING SKILLS TROUGH DEBATE METHODS AbstractLack of self-confidence and weak student reasoning in biology learning are related to scientific argumentation skills and critical thinking skills. This study aims to examine scientific argumentation and critical thinking skills of class X students in MAN 1 Natuna through debate methods on biodiversity material. This study uses a qualitative approach with descriptive methods. Data collection using observation, interviews, and documentation. Assessment of scientific argumentation and critical thinking was done oral and written. Scientific argumentation skills refer to Toulmin\u27s Argument Pattern (TAP) and critical thinking skills are categorized in Strong, Acceptable, Unacceptable, & Weak. The results showed that student\u27 scientific argumentation skills were at levels 2, 3, and 4. None of the students were at levels 1 and 5. Students\u27 critical thinking skills were in the Unacceptable (62.06%) and Acceptable (37.94% ) category. Scientific arguments and critical thinking of class X students at MAN 1 Natuna are low. AbstrakKurangnya kepercayaan diri serta lemahnya penalaran siswa pada pembelajaran biologi berkaitan dengan keterampilan argumentasi ilmiah dan keterampilan berpikir kritis. Penelitian ini bertujuan untuk menguji keterampilan argumentasi ilmiah dan keterampilan berpikir kritis siswa kelas X di MAN 1 Natuna melalui metode debat pada materi keanekaragaman hayati. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penilaian keterampilan argumentasi ilmiah dan berpikir kritis  dilakukan secara lisan & tulisan. Keterampilan argumentasi ilmiah siswa mengacu pada Toulmin’s Argument Pattern (TAP), sedangkan keterampilan berpikir kritis dikategorikan dalam Strong, Acceptable, Unacceptable, & Weak. Hasil penelitian menunjukkan, keterampilan argumentasi ilmiah siswa berada pada level 2, 3, dan 4. Tidak ada satupun siswa yang berada pada level 1 dan 5. Keterampilan berpikir kritis siswa pada kategori Unacceptable (62.06%) dan Acceptable (37.94%). Argumentasi ilmiah dan berpikir kritis siswa kelas X di MAN 1 Natuna tergolong masih rendah.

    PERSEPSI MAHASISWA PENDIDIKAN BIOLOGI DAN PENDIDIKAN KIMIA TERHADAP PENGGUNAAN BUKU PANDUAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR BERBASIS MOBILE LEARNING

    No full text
    PERCEPTION OF BIOLOGY AND CHEMISTRY TEACHER EDUCATION STUDENTS ON MOBILE LEARNING-BASED BASIC PHYSICS PRACTICUM GUIDEBOOK AbstractGuidebooks are a learning resource that can be used by students. Ease of accessing practical guidebooks can motivate learning for students, so a guidebook through mobile learning is one of the solutions in providing easy access to practical manuals. This study aims to determine student perceptions about the use of mobile physics-based Basic Physic Practicum Guides The research method is quantitative. Using descriptive statistical analysis. In research using random sampling techniques. There are 29 Chemistry Education students and 28 Biology Education students. All respondents will be given a perception questionnaire. Then 10 Chemistry Education students and 10 Biology Education students will be interviewed. The results of the analysis showed the perception of Chemistry Education students about the use of mobile learning-based practicum guides has enough criteria with a percentage of 50%. While the perception of Biology Education students about the use of practicum guides based on mobile learning has Good criteria with a percentage of 58.62%. From the interviews, it was found that 89% agreed with the use of smartphones for academic purposes, with the reason to access educational information, and their use was simple. 100% of students agree that the use of smartphones can help to learn activities wherever and whenever and can provide motivation for students in practical activities. This shows that students of Chemistry Education and Biology Education provide positive perceptions about the use of a Mobile learning-based Basic Physics Practicum Guidebook.AbstrakBuku panduan merupakan sebuah sumber belajar yang dapat digunakan mahasiswa. Kemudahan dalam mengakses buku panduan praktikm dapat memberikan motivasi belajar bagi mahasiswa, jadi buku panduan melalui mobile learning menjadi salah satu solusi dalam memberikan kemudahan dalam melakukan akses pada buku panduan praktikum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi mahasiswa tentang penggunaan panduan praktikum Fisika Dasar berbasis mobile learning. Dengan metode penelitian yaitu metode kuantitatif. Menggunakan analisis statistic deskriptif. Pada penelitian menggunakan teknik pengambilan sampel random. Berjumlah 29 orang mahasiswa Pendidikan Kimia dan 28 orang mahasiswa Pendidikan Biologi. Seluruh responden akan diberikan angket persepsi. Kemudian 10 mahasiswa Pendidikan Kimia dan 10 orang mahasiswa Pendidikan Biologi akan dilakukan wawancara. Hasil analisis menunjukkan persepsi mahasiswa Pendidikan Kimia terhadap penggunaan panduan praktikum berbasis mobile learning memiliki kriteria yang cukup baik dengan persentase 50%. Sedangkan persepsi mahasiswa Pendidikan Biologi tentang penggunaan panduan praktikum berbasis mobile learning memiliki kriteria Baik dengan persentase 58,62%. Dari hasil wawancara didapatkan 89% setuju dengan penggunaan smartphone untuk tujuan akademik, dengan alasan untuk mengakses informasi yang bersifat edukatif, dan penggunaannya simple. 100% mahasiswa setuju bahwa penggunaan smartphone dapat membantu kegiatan belajar dimana dan kapanpun serta mampu memberikan motivasi bagi mahasiswa dalam kegiatan praktikum. Hal tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa Pendidikan Kimia dan Pendidikan Biologi memberikan persepsi yang positif tentang penggunaan buku panduan praktikum Fisika Dasar berbasis mobile learning.

    Field Studies of Ecology Impacts: The role and Its Contribution to Quality of Education Model Developed Based on Research Paradigm

    No full text
    STUDI LAPANGAN DAMPAK EKOLOGI: PERAN DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP PENGEMBANGAN KUALITAS MODEL PENDIDIKAN BERDASARKAN PARADIGMA PENELITIAN AbstrakMengembangkan model pendidikan yang baik dan dinamis dalam prosesnya, seharusnya dapat meningkatkan kualitas induvidu maupun kelompok mahasiswa atau peserta didik di perguruan tinggi (PT), agar dapat menyesuaikan diri terhadap dinamika perubahan zaman, sehingga studi lapang salah satu langkah yang perlu mendapat perhatian, dimana secara tidak langsung kegiatan ini mampu meningkatkan kualitas (SDM) dalam rangka menghadapi permasalahan dimasa mendatang yang semakin kompleks, disamping sebagai modal utama dalam mempersiapkan SDM yang berkualitas, baik sebagai pendidik (guru) maupun seorang peneliti yang professional dan kompeten dalam bidangnya. Tujuan dari kegiatan studi lapang tersebut, masih dihadapkan dengan minimnya SDM, sehingga tidak mudah untuk mengimplementasikannya secara dinamis dan berkelanjutan, sehingga tujuan dari penelitian ini, akan mengeksplore atau mengkaji lebih detail tentang peran dan kontribusi studi lapang di kalangan PT, yang tentunya membutuhkan proses pembelajaran yang lebih baik, dalam membentuk kualitas SDM yang berkualitas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, lebih melihat pada dinamika persepsi dan interpretasi mahasiswa, yang berkaitan dengan pengalamannya selama di lapang, dan sejauh mana keberhasilan yang diperoleh atau dicapainya, setelah melakukan studi lapang yang berupa produk ilmiah, seperti naskah ilmiah, baik berupa bentuk laporan penelitian maupun jurnal, kemudian proses diskusi panel di dalam kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode studi lapang salah satu kegiatan yang tidak mudah dilakukan, ketika menyusun sebuah laporan yang ilmiah, hal ini dapat dilihat dari aspek lemahnya argumentasi ilmiah yang dibangun, sehingga permasalahan ini, menjadi memberi gambarkan kepada semua pihak, bahwa model pendidikan ini perlu di ubah, dengan memodifikasi sebuah kurikulum yang lebih dinamis, dan tentunya juga disesuaikan dengan perkembangan zaman. AbstractDeveloping quality of education model in learning process was ought to increase skills of both individual and group of students in order to pave their readiness for today’s competitive era. Field study is an approach in learning that may develop to increase the quality of student, particularly in confronting with real life problems. This research was aimed to study the role and contribution of the field study to increase the quality of students. Using students’ perception and interpretations on the study field learning approach, this study tried to answers queries on the extent of study field approach for their learning success. Results revealed that the current field study approach was one of difficult approaches to be implemented in learning. During report development, for example, it was found that there are writing skills that need to be developed. It is suggested from this study, therefore, that field study approach needs to be more dynamic and its curriculum needs to be adjusted with the current development

    EFEKTIVITAS PROBLEM-BASED LEARNING TERHADAP KETERAMPILAN ARGUMENTASI MAHASISWA TENTANG ISU SOSIOSAINTIFIK LINGKUNGAN

    No full text
    THE EFFECTIVENESS OF PROBLEM-BASED LEARNING AGAINST STUDENT ARGUMENTATION SKILLS ABOUT ENVIRONMENTAL SOCIOCULTURAL ISSUESAbstractThe low quality of argumentation made by students is caused by the learning process, which is generally in the form of knowledge transfer only. Students are rarely allowed to investigate an issue and develop the ability to reason, think critically, and submit arguments about environmental issues. Teaching socio-scientific issues can have a positive influence on student motivation, contribute to student learning outcomes, develop critical thinking skills, decision-making skills, argumentation skills, and moral development. The purpose of this study is to improve students\u27 argumentation skills on environmental socio-scientific issues through the application of problem-based learning models. Also, to analyze the effectiveness of models problem-based learning in improving students\u27 argumentation skills on socio-scientific environmental problems. The research was conducted at the Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, Pakuan University, from January 2018 to August 2018. The research period was an even semester of the 2017/2018 school year. The subjects of this study were the Biology Education Study Program students in semester V. Research methods used in this research is Experimentation. The instrument used is through expert judgment. Increasing the argumentation skills of prospective biology teacher candidates in lectures using the model is Problem based Learning still shallow. A very slight increase in N-Gain marks this. All students can submit arguments with the reasons on which they are provided. However, most of the arguments put forward have data/evidence that is invalid and irrelevant and, therefore, unable to corroborate the arguments submitted. Keywords: Argumentation Skills; Problem Based Learning; Socio-scientific IssuesAbstrakRendahnya kualitas argumentasi pada mahasiswa disebabkan oleh proses pembelajaran yang pada umumnya berupa transfer pengetahuan. Mahasiswa jarang diberi kesempatan untuk menyelidiki sebuah isu dan mengembangkan kemampuan bernalar, berpikir kritis, dan mengajukan argumen mengenai isu-isu lingkungan. Pengajaran isu sosiosaintifik dapat menimbulkan pengaruh positif terhadap motivasi peserta didik, berkontribusi terhadap hasil belajar peserta didik, mengembangkan keterampilan berpikir kritis, keterampilan membuat keputusan, keterampilan argumentasi, dan perkembangan moral. Tujuan dari penelitian ini untuk meningkatkan keterampilan argumentasi mahasiswa mengenai isu sosiosaintifik lingkungan melalui penerapan model pembelajaran problem-based learning dan menganalisis efektivitas model pembelajaran problem-based learning dalam meningkatkan keterampilan argumentasi mahasiswa mengenai isu sosiosaintifik lingkungan. Penelitian dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pakuan, pada bulan Januari 2018 sampai Agustus 2018. Waktu penelitian adalah semester genap tahun ajaran 2017/ 2018. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi semester V. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Eksperimen. Instrumen yang digunakan melalui expert judgment. Peningkatan keterampilan argumentasi mahasiswa calon guru biologi dalam perkuliahan dengan model Problem based Learning masih sangat rendah. Hal ini ditandai dengan kenaikan N-Gain yang sangat sedikit. Semua mahasiswa sudah mampu mengajukan argumen dengan alasan yang menjadi dasar pengajuan. Namun, sebagian besar argumen yang diajukan memiliki data/ bukti yang tidak valid dan tidak relevan sehingga tidak mampu menguatkan argumen yang diajukan.Kata Kunci: Ketrampilan Argumentasi; Problem Based Learning; Isu sosiosaintifi

    0

    full texts

    289

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    EDUSAINS
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇