TESLA Jurnal Teknik Elektro UNTAR
Not a member yet
297 research outputs found
Sort by
RANCANG BANGUN LAMPU OTOMATIS DAN MONITORING SUHU RUANGAN BERBASIS INTERNET OF THINGS MENGGUNAKAN NODEMCU V3 DAN BLYNK
From time to time, electricity consumption continues to increase rapidly. The current average growth in electricity consumption is 2.3-2.5%, and by the end of 2030, it is estimated that the need for electrical energy will be twice the current one, which is around 16,000 TWh per year. Small things that have often been done so far, maybe without us realizing it has had a big impact and if it continues to be done it will result in a scarcity of electrical energy. This can happen because of a consumptive lifestyle that is wasteful and inefficient. This consumptive behavior towards electrical energy can change patterns and lifestyles to become more wasteful. The problem of wasting electrical energy is 80% caused by humans and 20% is caused by technical factors, this is due to excessive and untimely use of electricity. One solution to this problem can be overcome by using Internet of Things technology. In this project, an automatic lamp design is made using a PIR sensor, LDR sensor, and DHT11 temperature monitoring with nodeMCU and Blynk, to increase the efficiency of electricity use at home. Automatic light is a system that can control lights automatically according to needs. The PIR and LDR sensors will detect the presence of movement and darkness in the room, so the lights will only turn on when needed. In addition, this system also has a temperature monitoring feature that can monitor room temperature in real time which can be accessed by the Blynk application. With this system, users can save more electricity and avoid fires due to lights that are constantly on. This article produces a prototype of an automatic light control device and room temperature monitoring and an application design that can already be installed on Android. Based on testing of the PIR and LDR sensors, the sensor can work at a distance of 5 meters down and the tool functions properly. The DHT11 sensor can also function and read the temperature in the room and display the value in the application
ABSTRAK:
Penggunaan daya terus meningkat dengan cepat dari waktu ke waktu. Pada akhir tahun 2030, diperkirakan kebutuhan energi listrik akan meningkat dua kali lipat dari saat ini, atau sekitar 16.000 TWh per tahun, dengan rata-rata peningkatan tahunan sebesar 2,3-2,5%. Tindakan kecil yang sering dilakukan di masa lalu, mungkin tanpa kita sadari, telah memberikan dampak yang signifikan, dan jika terus berlanjut akan menyebabkan kekurangan energi listrik. Gaya hidup konsumtif yang boros dan tidak efektif dapat menyebabkan hal ini. Penggunaan energi listrik yang tidak efisien ini dapat mengubah perilaku dan kehidupan serta menjadikannya boros. Karena penggunaan daya yang berlebihan dan tidak teratur, orang bertanggung jawab atas 80% masalah pemborosan energi dan elemen teknologi 20% darinya. Salah satu solusi dari permasalahan tersebut dapat diatasi dengan menggunakan teknologi Internet of Things. Pada proyek ini dibuat rancang bangun lampu otomatis memanfaatkan sensor PIR, sensor LDR, dan monitoring suhu DHT11 dengan nodeMCU dan Blynk, untuk meningkatkan efisiensi penggunaan listrik di rumah. Lampu otomatis merupakan sistem yang dapat mengontrol lampu secara otomatis sesuai dengan kebutuhan. Sensor PIR dan LDR akan mendeteksi keberadaan gerakan dan kegelapan di ruangan, sehingga lampu hanya akan menyala jika diperlukan saja. Selain itu, sistem ini juga memiliki fitur monitoring suhu yang dapat memantau suhu ruangan secara realtime yang bisa di akses diaplikasi Blynk. Dengan sistem ini, pengguna dapat lebih hemat listrik dan terhindar dari kebakaran akibat lampu yang terus menyala. Pada artikel ini menghasilkan sebuah prototipe alat pengendali lampu otomatis dan monitoring suhu ruangan dan desain aplikasi yang sudah bisa dipasang di android. Berdasarkan pengujian sensor PIR dan LDR, sensor dapat bekerja pada jarak 5 meter ke bawah dan alat berfungsi dengan baik. Sensor DHT11 pun dapat berfungsi dan membaca suhu diruangan serta menampilkan nilainya pada aplikasinyaDari waktu ke waktu, komsumsi listrik terus meningkat dengan cepat. Rata-rata pertumbuhan komsumsi listrik pada saat ini adalah 2,3-2,5%, dan akhir tahun 2030, diperkirakan kebutuhan energy listrik akan menjadi dua kali saat ini yang berkisar sekitar 16.000 TWh pertahunnya Hal-hal kecil yang sering dilakukan selama ini, mungkin tanpa kita sadari telah mengakibatkan dampak besar dan bila terus menerus dilakukan akan mengakibatkan kelangkaan energi listrik. Hal ini dapat terjadi karena gaya hidup komsumtif yang boros dan tidak efisien, Perilaku komsumtif terhadap energy listirk ini dapat mengubah pola dan gaya hidup menjadi lebih boros. Masalah pemborosan energy listrik ini sebesar 80% disebabkan manusia dan 20% disebabkan oleh factor teknis, hal ini dikarenakan banyaknya pemakaian listrik yang berlebihan dan tidak sesuai waktunya Salah satu solusi dari permasalahan tersebut dapat diatasi dengan menggunakan teknologi Internet of Things. Pada proyek ini dibuat rancang bangun lampu otomatis menggunakan sensor PIR, sensor LDR, dan monitoring suhu DHT11 dengan nodeMCU dan Blynk, untuk meningkatkan efisiensi penggunaan listrik di rumah. Lampu otomatis merupakan sistem yang dapat mengontrol lampu secara otomatis sesuai dengan kebutuhan. Sensor PIR dan LDR akan mendeteksi keberadaan gerakan dan kegelapan di ruangan, sehingga lampu hanya akan menyala jika diperlukan saja. Selain itu, sistem ini juga memiliki fitur monitoring suhu yang dapat memantau suhu ruangan secara realtime yang bisa di akses diaplikasi Blynk. Dengan sistem ini, pengguna dapat lebih hemat listrik dan terhindar dari kebakaran akibat lampu yang terus menyala.
Kata Kunci: komsumsi listrik,node mcu v3, PIR, LDR, DHT1
PEMANTAUAN TEMPERATUR PADA INKUBATOR EUBLEPHARIS MACULARIUS (LEOPARD GECKO) BERBASIS ZIGBEE
One type of reptile that is currently developing is the Eublepharis Macularius or better known as the Leopard Gecko. Leopard Gecko is a tame reptile class animal that has a unique pattern on the outer skin of its body. The size of this animal is also not too big but also not too small, around 24 - 27 cm. The breeding of this animal is one of the interesting things to study because the sex of the Leopard Gecko can be influenced through the temperature setting of the egg incubator. Engineering the Leopard Gecko incubator for temperature is one of the interesting implementations of electrical engineering to enliven the Leopard Gecko industry. A simple plastic container can be engineered as a means of monitoring and controlling the temperature of the Leopard Gecko incubator by wireless Xbee. By controlling the temperature of the incubator, the sex of the Leopard Gecko eggs can be monitored. A certain temperature can determine the sex tendency of the Leopard Gecko. A temperature of 26°C can hatch female Leopard Gecko eggs, while a temperature of 32°C can hatch male Leopard Gecko eggs. Some electronic equipment that can be used are such as temperature sensors, microcontrollers, ZigBee, relays, incandescent lamps, and monitors. With this set of electronic equipment, the temperature in the incubator can be monitored and controlled wirelessly. Translated with DeepL.com (free version)
ABSTRAK
Salah satu hewan jenis reptil yang sedang berkembang saat ini adalah Eublepharis Macularius atau yang lebih dikenal dengan Leopard Gecko. Leopard Gecko merupakan hewan berkelas reptil yang jinak dan mempunyai corak yang unik pada kulit luar tubuhnya. Ukuran hewan ini juga tidak terlalu besar namun juga tidak terlalu kecil, sekitar 24 – 27 cm. Perkembangbiakan hewan ini merupakan salah satu hal yang menarik untuk diteliti karena jenis kelamin dari Leopard Gecko dapat dipengaruhi melalui pengaturan temperatur dari inkubator telurnya. Rekayasa inkubator Leopard Gecko terhadap temperatur merupakan salah satu implementasi bidang teknik elektro yang menarik untuk menyemarakan perindustrian Leopard Gecko. Kontainer plastik sederhana pun dapat direkayasa sebagai alat pemantauan dan pengendalian temperatur inkubator Leopard Gecko secara nirkabel Xbee. Dengan dikendalikannya temperatur pada inkubator, jenis kelamin hasil penetasan telur Leopard Gecko dapat dipantau. Temperatur tertentu dapat menentukan kecenderungan jenis kelamin dari Leopard Gecko tersebut. Temperatur 26oC dapat menetaskan telur Leopard Gecko berjenis kelamin betina, sedangkan pada temperatur 32oC dapat menetaskan telur Leopard Gecko berjenis kelamin jantan. Beberapa peralatan elektronika yang dapat digunakan adalah seperti sensor suhu, mikrokontroler, ZigBee, relay, lampu pijar, dan monitor. Dengan rangkaian peralatan elektronika tersebut, temperatur pada inkubator dapat dipantau dan dikendalikan secara nirkabel pada rentang suhu 32,00oC - 32,50oC. Hal ini dilakukan untuk mengupayakan didapatkannya hasil penetasan telur Leopard Gecko berjenis kelamin jantan.One type of reptile that is interesting to be explored is Eublepharis Macularius or better known as the Leopard Gecko. Leopard Gecko is a reptile class animal that is tame and has a unique pattern on the outer skin of its body. The size of this animal is not too big but also not too small, around 24 – 27 cm. The breeding of this animal is an interesting thing to research because the sex of the Leopard Gecko can be influenced by regulating the temperature of the egg incubator. Engineering Leopard Gecko incubators regarding temperature is one of the interesting implementations in the field of electrical engineering to enliven the Leopard Gecko industry. Even simple plastic containers can be engineered for Xbee wireless monitoring and controlling Leopard Gecko incubator temperatures. By controlling the temperature in the incubator, the sex of the hatched Leopard Gecko eggs can be monitored. Some electronic equipment that can be used is temperature sensors, microcontrollers, Xbee, relays, incandescent lamps and monitors. With this series of electronic equipment, the temperature in the incubator can be monitored and controlled wirelessly in the temperature range of 32.00oC - 32.50oC.
ABSTRAK
Salah satu hewan jenis reptil yang sedang berkembang saat ini adalah Eublepharis Macularius atau yang lebih dikenal dengan Leopard Gecko. Leopard Gecko merupakan hewan berkelas reptil yang jinak dan mempunyai corak yang unik pada kulit luar tubuhnya. Ukuran hewan ini juga tidak terlalu besar namun juga tidak terlalu kecil, sekitar 24 – 27 cm. Perkembangbiakan hewan ini merupakan salah satu hal yang menarik untuk diteliti karena jenis kelamin dari Leopard Gecko dapat dipengaruhi melalui pengaturan temperatur dari inkubator telurnya. Rekayasa inkubator Leopard Gecko terhadap temperatur merupakan salah satu implementas bidang teknik elektro yang menarik untuk menyemarakan perindustrian Leopard Gecko. Kontainer plastik sederhana pun dapat direkayasa untuk pemantauan dan pengendalian temperatur inkubator Leopard Gecko secara nirkabel Xbee. Dengan dikendalikannya temperatur pada inkubator, jenis kelamin hasil penetasan telur Leopard Gecko dapat dipantau. Beberapa peralatan elektronika yang dapat digunakan adalah seperti sensor suhu, mikrokontroler, ZigBee, relay, lampu pijar, dan monitor. Dengan rangkaian peralatan elektronika tersebut, temperatur pada inkubator dapat dipantau dan dikendalikan secara nirkabel pada rentang suhu 32,00oC - 32,50oC
SISTEM REMOTING PADA AIR CONDITIONER BERBASIS WEB SERVER
The remoting system on a web server-based Air Conditioner is a system that can make it easier to control the Air Conditioner from anywhere. The problem in this study is that in the student learning activity room in the Electrical Engineering Laboratory, Faculty of Engineering, University of Bangka Belitung, there is no longer an Air Conditioner remote that can be used, because it is lost, damaged, and so on. This becomes an obstacle when you want to use an Air Conditioner. With this control system tool it can facilitate the use of Air Conditioners in the Electrical Engineering laboratory learning room. The components needed to create this control system are NodeMCU ESP8266, DHT22 temperature sensor, LDR sensor, relay module, breadboard, I2C LCD, modified remote air conditioner, PC817 optocoupler and jumper cables. Commands given via the web server will produce a high output for the remote signal via the PC817 optocoupler. The PC817 optocoupler is used to produce logic 1 (on) on the remote Air Conditioner which is modified in such a way that it can work on this control system. From the results of the control system data collection, the average value of the speed of sending orders to the reference room is 10.01 seconds and the workshop room is 10.59 seconds. The average difference between room temperature and air conditioning temperature from the DHT22 sensor for the reference room is 7.71°C and for the workshop room is 5.16°C. The average difference between the web server temperature set and the Air Conditioner temperature also gets a different value, namely in the reference room it is 1.46°C and in the workshop room it is 1.42°C. The average speed of the LDR sensor working in the reference room is 8.60 seconds and the reference room is 7.57 seconds.
ABSTRAK: Sistem remoting pada Air Conditioner berbasis web server merupakan sistem yang dapat mempermudah mengendalikan Air Conditioner dari mana saja. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu pada ruangan kegiatan belajar mahasiswa di laboratorium jurusan Elektro Fakultas Teknik Universitas Bangka Belitung tidak lagi terdapat remot Air Conditioner yang bisa digunakan, dikarenakan hilang, rusak dan lain sebagainya. Hal ini menjadi kendala ketika ingin menggunakan Air Conditioner. Dengan adanya alat sistem kendali ini dapat mempermudah penggunaan Air Conditioner pada ruangan pembelajaran laboratorium Teknik Elektro. Komponen yang dibutuhkan untuk membuat sistem alat kendali ini berupa NodeMCU ESP8266, Sensor suhu DHT22, Sensor LDR, Modul Relay, Breadboard, LCD I2C, Remot Air Conditioner yang dimodifikasi, Optocoupler PC817 dan kabel jumper. Perintah yang diberikan melalui web server akan menghasilkan output high untuk sinyal remot melalui optocoupler PC817. Optocoupler PC817 digunakan untuk menghasilkan logika 1 (on) pada remot Air Conditioner yang dimodifikasi sedemikian rupa agar bisa bekerja pada sistem kendali ini. Dari hasil pengambilan data sistem kendali, untuk nilai rata-rata kecepatan pengiriman perintah pada ruangan referensi bernilai 10,01 second dan ruangan workshop bernilai 10,59 second. Rata-rata selisih suhu ruangan dan suhu Air Conditioner dari sensor DHT22 untuk ruangan referensi bernilai 7,71°C dan ruangan workshop bernilai 5,16°C. Rata-rata selisih set suhu web server dengan suhu Air Conditioner mendapatkan nilai yang berbeda juga yaitu pada ruangan referensi bernilai 1,46°C dan ruangan workshop bernilai 1,42°C. Rata-rata kecepatan sensor LDR bekerja pada ruangan referensi benilai 8,60 second dan ruangan referensi bernilai 7,57 secondSistem remoting pada Air Conditioner berbasis web server merupakan sistem yang dapat mempermudah mengendalikan Air Conditioner dari mana saja. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu pada ruangan kegiatan belajar mahasiswa di laboratorium jurusan Elektro Fakultas Teknik Universitas Bangka Belitung tidak lagi terdapat remot Air Conditioner yang bisa digunakan, dikarenakan hilang, rusak dan lain sebagainya. Hal ini menjadi kendala ketika ingin menggunakan Air Conditioner. Dengan adanya alat sistem kendali ini dapat mempermudah penggunaan Air Conditioner pada ruangan pembelajaran laboratorium Teknik Elektro. Komponen yang dibutuhkan untuk membuat sistem alat kendali ini berupa NodeMCU ESP8266, Sensor suhu DHT22, Sensor LDR, Modul Relay, Breadboard, LCD I2C, Remot Air Conditioner yang dimodifikasi, Optocoupler PC817 dan kabel jumper. Perintah yang diberikan melalui web server akan menghasilkan output high untuk sinyal remot melalui optocoupler PC817. Optocoupler PC817 digunakan untuk menghasilkan logika 1 (on) pada remot Air Conditioner yang dimodifikasi sedemikian rupa agar bisa bekerja pada sistem kendali ini. Dari hasil pengambilan data sistem kendali, untuk nilai rata-rata kecepatan pengiriman perintah pada ruangan referensi bernilai 10,01 second dan ruangan workshop bernilai 10,59 second. Rata-rata selisih suhu ruangan dan suhu Air Conditioner dari sensor DHT22 untuk ruangan referensi bernilai 7,71°C dan ruangan workshop bernilai 5,16°C. Rata-rata selisih set suhu web server dengan suhu Air Conditioner mendapatkan nilai yang berbeda juga yaitu pada ruangan referensi bernilai 1,46°C dan ruangan workshop bernilai 1,42°C. Rata-rata kecepatan sensor LDR bekerja pada ruangan referensi benilai 8,60 second dan ruangan referensi bernilai 7,57 second
PERANCANGAN INFRASTRUKTUR DEVOPS SISTEM INFORMASI SENTRA HKI LPPM UNSOED
Intellectual Property Rights are rights that arise from the results of thought processes that produce a product or process that is useful for humans. Objects regulated in IPR are works born out of human intellectual abilities. Management Information System is a planning system part of the internal control of a business which includes the use of people, documents, technology, and procedures by management accounting to solve business problems such as the cost of products, services, or a business strategy. LPPM Unsoed HKI Center as an institution tasked with managing and maintaining IPR documents collected from various organizations and individuals. This study aims to design and implement infrastructure using the DevOps method for information system development. In this method, several tools are used to build information systems, namely Linux Ubuntu 20.04, Github, Jenkins, Docker and Apache Web Server. Jenkins is a tool used to ensure continuous integration. Github as a tool to ensure continuous development and continuous integration. While docker as part to support continuous deployment. This research has several stages in the process, namely plan, code, build, test, release, deploy. The result of this research is the Unsoed Intellectual Property Rights Information System which has been successfully implemented using the DevOps metho
DESAIN SISTEM PENDETEKSI KEBAKARAN HUTAN DENGAN GPS DAN TELEGRAM
Mount Panderman is one of the mountains in Batu City. This mountain has a height of approximately 2045 meters above sea level. Besides having a park area called Panderman Gravity Park, this mountain also has a fairly large forest area. Mount Panderman has two types of forest, namely a moss forest which is quite dense with large trees and a calliandra forest which is also dense and wide. In 2019 there was a forest fire due to natural conditions which were in the dry season and the sun was hot plus the wind was strong enough so that the fire could easily burn forest areas. As a solution to this problem, a tool has been designed that can detect forest fires early so that before the fire spreads, local parties can immediately find out about this and take action immediately. The devices used in the tool consist of NodeMCU Esp 8266, fire sensor, smoke sensor, buzzer and GPS module as well as the Telegram application. This forest fire detection tool will certainly make it easier for every officer to receive information quickly about a fire
ABSTRAK:
Gunung Panderman merupakan salah satu gunung yang berada di Kota Batu. Gunung ini memiliki ketinggian kurang lebih 2045 mdpl. Selain memiliki kawasan taman yang disebut Panderman Gravity Park, gunung ini juga memiliki wilayah hutan yang cukup luas. Gunung Panderman memiliki dua tipe hutan yakni hutan lumut yang cukup rapat akan pepohonan besar dan hutan kaliandra yang juga rapat dan luas. Pada tahun 2019 terjadi kebakaran hutan akibat kondisi alam yang sedang musim kemarau dan terik matahari ditambah angin yang cukup kencang sehingga api dengan mudahnya dapat membakar kawasan hutan. Sebagai solusi dari permasalahan tersebut, telah dirancang suatu alat yang dapat mendeteksi secara dini kebakaran hutan sehingga sebelum kebakaran meluas, pihak lokal dapat segera mengetahui hal tersebut dan segera mengambil tindakan. Perangkat yang digunakan pada alat terdiri dari NodeMCU Esp 8266, sensor api, sensor asap, buzzer dan modul GPS serta aplikasi Telegram. Alat pendeteksi kebakaran hutan ini tentunya akan memudahkan setiap petugas untuk menerima informasi dengan cepat tentang adanya kebakaranKelestarian hutan merupakan harapan setiap daerah yang memiliki banyak kawasan hutan. Selain sebagai penghasil oksigen, hutan juga menjaga ekosistem dan juga sebagai upaya pelestarian tanah dan air. Kebakaran hutan merupakan salah satu faktor yang mengurangi jumlah oksigen yang dihasilkan selain penebangan pohon. Akhir-akhir ini sering terjadi kebakaran hutan pada musim kemarau yang panas akibat terik matahari. Sebagai solusi dari permasalahan tersebut, telah dirancang suatu alat yang dapat mendeteksi kebakaran hutan sehingga sebelum kebakaran meluas, pihak lokal dapat segera mengetahui hal tersebut dan segera mengambil tindakan. Perangkat yang digunakan pada alat terdiri dari NodeMCU Esp 8266, sensor api, sensor asap, buzzer dan modul GPS serta aplikasi Telegram. Alat pendeteksi kebakaran hutan ini tentunya akan memudahkan setiap petugas untuk menerima informasi dengan cepat tentang adanya kebakaran
Sistem Monitoring pada Ruang Perpustakaan berbasis Internet of Things
An Internet of Things (IoT) based library room monitoring system is an innovative solution that utilizes the latest technology to help monitor temperature, humidity, lighting levels and noise levels in library rooms. This system is designed to provide accurate and fast information to library managers. This system aims to make it easier for library managers to monitor library space. This system can be accessed via a mobile application, allowing library managers to monitor the library situation remotely. This system uses sensors connected to the internet to collect real-time data about the condition of the library room. These sensors are placed in the library reading room to monitor these parameters and send data to the database. The design of this monitoring system uses the ESP32 device as the main microcontroller which controls each sensor and internet connection and the ESP32CAM as the camera. The measurement of the relative error value is calculated based on the difference between the value from the actual tool and the value read by the sensor used. The value of the actual measuring instrument obtained will be used to calibrate each sensor so that the sensor results will be close to the value of the measurement results of the measuring instrument. Testing for each sensor is carried out 10 – 20 times to get more accurate test results. The relative error value for the DHT22 sensor temperature is 1.15% and the humidity is 5.12%. The relative error values for the BH1750 sensor when the lights are off and on are 2.84% and 2.10% respectively. The relative error values for the MAX 9814 sound sensor at a distance of 4 meters and 3 meters are 6.02% and 6.24% respectively. When noise occurs, the tool will respond in the form of a buzzer sound and take an image from the ESP32 CAM. The error values that appear on the BH 1750 and DHT 22 sensors are because the measuring instrument has the accuracy value of the measuring instrument, as well as the sensor accuracy, whereas in the MAX 9814 Sensor test it is due to deficiencies in the conversion of bit values to dB form and imperfect sensor calibration.
ABSTRAK: Sistem monitoring ruangan perpustakaan berbasis Internet of Things (IoT) merupakan solusi inovatif yang memanfaatkan teknologi terkini untuk membantu memonitoring suhu, kelembapan, tingkat pencahayaan dan tingkat kebisingan pada ruang perpustakaan. Sistem ini dirancang untuk memberikan informasi yang akurat dan cepat kepada pengelola perpustakaan. Sistem ini bertujuan untuk mempermudah pengelola perpustakaan dalam memantau ruang perpustakaan. Sistem ini dapat diakses melalui aplikasi mobile, memungkinkan pengelola perpustakaan untuk memantau situasi perpustakaan dari jarak jauh. Sistem ini menggunakan sensor yang terhubung dengan internet untuk mengumpulkan data secara real-time tentang kondisi ruangan perpustakaan. Sensor-sensor ini ditempatkan di bagian ruangan baca perpustakaan untuk memantau parameter-parameter tersebut dan mengirimkan data ke database. Perancangan sistem monitoring ini menggunakan perangkat ESP32 sebagai mikrokontroler utama yang mengendalikan setiap sensor dan koneksi internet dan ESP32CAM sebagai kameranya. Pengukuran nilai eror relatif dihitung berdasarkan perbedaan antara nilai dari alat aktual yang ada dengan nilai yang dibaca oleh sensor yang digunakan. Nilai dari alat ukur aktual yang didapatkan akan digunakan untuk kalibrasi dari setiap sensor agar hasil sensor nantinya mendekati nilai dari hasil pengukuran alat ukur. Pengujian tiap sensor dilakukan 10 – 20 kali untuk mendapatkan hasil pengujian yang lebih akurat. Nilai eror relatif suhu sensor DHT22 adalah 1,15% dan kelembapannya 5,12%. Nilai eror relatif pada sensor BH1750 pada saat lampu mati dan menyala masing masing 2,84% dan 2,10%. Nilai eror relatif pada sensor suara MAX 9814 pada jarak 4 meter dan 3 meter masing masing 6,02% dan 6,24%. Saat terjadi kebisingan, alat akan memberikan respon berupa bunyi buzzer dan pengambilan gambar dari ESP32 CAM. Nilai eror yang muncul pada sensor BH 1750 dan DHT 22 karena alat ukur memiliki nilai akurasi dari alat ukur, serta akurasi sensor sedangkan pada pengujian Sensor MAX 9814 adalah karena kekurangan dalam konversi nilai bit ke bentuk dB serta kalibrasi sensor yang kurang sempurna.Sistem monitoring ruangan perpustakaan berbasis Internet of Things (IoT) merupakan solusi inovatif yang memanfaatkan teknologi terkini untuk membantu memonitoring suhu, kelembapan, tingkat pencahayaan dan tingkat kebisingan pada ruang perpustakaan. Sistem ini dirancang untuk memberikan informasi yang akurat dan cepat kepada pengelola perpustakaan. Sistem ini bertujuan untuk mempermudah pengelola perpustakaan dalam memantau ruang perpustakaan. Sistem ini dapat diakses melalui aplikasi mobile, memungkinkan pengelola perpustakaan untuk memantau situasi perpustakaan dari jarak jauh. Sistem ini menggunakan sensor yang terhubung dengan internet untuk mengumpulkan data secara real-time tentang kondisi ruangan perpustakaan. Sensor-sensor ini ditempatkan di bagian ruangan baca perpustakaan untuk memantau parameter-parameter tersebut dan mengirimkan data ke database. Perancangan sistem monitoring ini menggunakan perangkat ESP32 sebagai mikrokontroler utama yang mengendalikan setiap sensor dan koneksi internet dan ESP32CAM sebagai kameranya. Pengukuran nilai eror relatif dihitung berdasarkan perbedaan antara nilai dari alat aktual yang ada dengan nilai yang dibaca oleh sensor yang digunakan. Nilai dari alat ukur aktual yang didapatkan akan digunakan untuk kalibrasi dari setiap sensor agar hasil sensor nantinya mendekati nilai dari hasil pengukuran alat ukur. Pengujian tiap sensor dilakukan 10 – 20 kali untuk mendapatkan hasil pengujian yang lebih akurat. Nilai eror relatif suhu sensor DHT22 adalah 1,15% dan kelembapannya 5,12%. Nilai eror relatif pada sensor BH1750 pada saat lampu mati dan menyala masing masing 2,84% dan 2,10%. Nilai eror relatif pada sensor suara MAX 9814 pada jarak 4 meter dan 3 meter masing masing 6,02% dan 6,24%. Saat terjadi kebisingan, alat akan memberikan respon berupa bunyi buzzer dan pengambilan gambar dari ESP32 CAM
Studi Analisis Pengaruh Sudut Kemiringan Terhadap Daya Keluaran Panel Surya di Kabupaten Karawang
Solar energy is a sustainable and most promising source of energy because the quantity is very large. Energy sources from the sun are expected to be a solution to the problem of energy needs, after many fossil energy sources are decreasing and causing environmental problems. Given Indonesia\u27s location on the equator, it allows sunlight to be received optimally in almost all parts of Indonesia throughout the year. To optimize the intensity of sunlight absorbed by solar panels, the system design requires a panel tilt angle that is most suitable for receiving the greatest solar radiation. The unstable position of the sun caused changes in the output power of the solar panel. Based on these problems, this research was conducted on the effect of tilt angle on the output power of solar panels in Karawang District. The research was conducted through direct data collection on the rooftop of Perum Pemda Sukaharja, Karawang District on October 5, 2023 from 07.00 to 16.00. Solar panels were faced north and given tilt angles of 10°, 20°, and 30°. The highest output power (P) was obtained at 12:00 and the lowest at 07:00. The conclusion of this test is that the solar panel facing north with an angle of 10° has the highest output power of 31.414 Watts with an average measurement result of 18.87 Watts. The 10° tilt angle is the most optimal angle recommendation for solar panels to be applied in Perum Pemda Sukaharja, Karawang District
ABSTRAK:
Energi surya merupakan sumber energi yang berkelanjutan dan paling menjanjikan karena kuantitasnya sangat besar. Sumber energi dari matahari diharapkan mampu menjadi solusi dari permasalahan kebutuhan energi, setelah banyaknya sumber energi fosil yang semakin berkurang dan menimbulkan permasalahan lingkungan. Mengingat letak Indonesia yang berada di garis khatulistiwa, memungkinkan sinar matahari diterima secara optimal hampir di seluruh wilayah Indonesia sepanjang tahun. Untuk mengoptimalkan intensitas sinar matahari yang diserap oleh panel surya, perancangan sistemnya memerlukan sudut kemiringan panel yang paling sesuai untuk menerima radiasi matahari terbesar. Posisi matahari yang tidak stabil menyebabkan perubahan daya keluaran panel surya. Berdasarkan permasalahan tersebut, dilakukan penelitian mengenai pengaruh sudut kemiringan terhadap daya keluaran panel surya di Kabupaten Karawang. Penelitian dilakukan melalui pengambilan data secara langsung di rooftop Perum Pemda Sukaharja Kabupaten Karawang pada tanggal 5 Oktober 2023 dari pukul 07.00 sampai 16.00. Panel surya dihadapkan ke arah utara serta diberikan sudut kemiringan 10°, 20°, dan 30°. Diperoleh hasil daya keluaran (P) paling tinggi pada pukul 12.00 dan paling rendah pada pukul 07.00. Kesimpulan dari pengujian ini adalah panel surya yang dihadapkan ke arah utara dengan sudut 10° memiliki daya keluaran tertinggi sebesar 31,414 Watt dengan rata-rata hasil pengukurannya adalah 18,87 Watt. Pada sudut kemiringan 10° merupakan rekomendasi sudut paling optimal bagi panel surya untuk diterapkan di Perum Pemda Sukaharja Kabupaten KarawangEnergi surya merupakan sumber energi yang berkelanjutan dan paling menjanjikan karena kuantitasnya sangat besar. Sumber energi dari matahari diharapkan mampu menjadi solusi dari permasalahan kebutuhan energi, setelah banyaknya sumber energi fosil yang semakin berkurang dan menimbulkan permasalahan lingkungan. Mengingat letak Indonesia yang berada di garis khatulistiwa, memungkinkan sinar matahari diterima secara optimal hampir di seluruh wilayah Indonesia sepanjang tahun. Untuk mengoptimalkan intensitas sinar matahari yang diserap oleh panel surya, perancangan sistemnya memerlukan sudut kemiringan panel yang paling sesuai untuk menerima radiasi matahari terbesar. Posisi matahari yang tidak stabil menyebabkan perubahan daya keluaran panel surya. Berdasarkan permasalahan tersebut, dilakukan penelitian mengenai pengaruh sudut kemiringan terhadap daya keluaran panel surya di Kabupaten Karawang. Penelitian dilakukan melalui pengambilan data secara langsung di rooftop Perum Pemda Sukaharja Kabupaten Karawang pada tanggal 5 Oktober 2023 dari pukul 07.00 sampai 16.00. Panel surya dihadapkan ke arah utara serta diberikan sudut kemiringan 10°, 20°, dan 30°. Diperoleh hasil daya keluaran (P) paling tinggi pada pukul 12.00 dan paling rendah pada pukul 07.00. Kesimpulan dari pengujian ini adalah panel surya yang dihadapkan ke arah utara dengan sudut 10° memiliki daya keluaran tertinggi sebesar 31,414 Watt dengan rata-rata hasil pengukurannya adalah 18,87 Watt. Pada sudut kemiringan 10° merupakan rekomendasi sudut paling optimal bagi panel surya untuk diterapkan di Kabupaten Karawang