TESLA Jurnal Teknik Elektro UNTAR
Not a member yet
297 research outputs found
Sort by
Pengembangan Sistem Monitoring Panel Surya dan Tanaman Hidroponik Berbasis Internet of Things Bertenaga Surya
In urban areas, agricultural land is virtually non-existent due to the lack of space for cultivating vegetables. Therefore, a hydroponic farming system can serve as an alternative for growing crops without soil and in minimal space. This study aims to design and develop a solar-powered Internet of Things (IoT)-based monitoring system to monitor solar panels and hydroponic plants and to determine whether a 50Wp solar panel can support hydroponic farming.The system utilizes an ESP32 microcontroller equipped with various sensors, including the DHT22 for temperature and humidity, the BH1750 for sunlight intensity, and the HC-SR04 ultrasonic sensor to detect the capacity of the control tank. Sensor data is stored in the Google Firebase database and can be accessed in real-time through an Android application.Testing results show that the system effectively monitors environmental conditions and can enhance efficiency and sustainability in hydroponic farming. The solar panel generates an average power output of approximately 34.65 watts, measured using the PZEM-017 sensor, which is sufficient to meet the energy requirements for operating the devices and water pumps. The intensity of sunlight significantly affects the solar panel\u27s power output. On November 20, 2024, at 11:50 AM WIB, sunlight intensity reached 7648 lux, resulting in a power output of 50.38 watts—this being the maximum power that the 50Wp solar panel can produce.
Pada daerah perkotaan lahan pertanian sudah tidak mungkin ditemukan karena minimnya lahan untuk membudidayakan sayuran, oleh karena itu sistem pertanian hidroponik dapat menjadi alternatif sebagai opsi berocok tanam tanpa menggunakan tanah dan dengan lahan yang minim. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan membangun sistem monitoring berbasis Internet of Things (IoT) yang bertenaga surya guna memantau panel surya dan tanaman hidroponik dan mengetahui apakah panel surya 50Wp dapat menjalankan sebuah budidaya hidroponik. Sistem ini menggunakan mikrokontroler ESP32 yang dilengkapi dengan berbagai sensor, termasuk DHT22 untuk suhu dan kelembapan, BH1750 untuk cahaya matahari, dan sensor ultrasonik HC-SR04 untuk mendeteksi kapasitas bak kontrol. Data dari sensor disimpan pada database Google Firebase dan dapat diakses secara real-time melalui aplikasi Android. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem ini dapat memonitor kondisi lingkungan secara efektif dan dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan dalam pertanian hidroponik. Energi listrik yang dihasilkan oleh panel surya didapatkan dengan rata rata sekitar 34,65 Watt yang diukur menggunakan sensor PZEM-017 dan angka tersebut sudah memenuhi kebutuhan energi listrik untuk mengoperasikan alat dan pompa air. Besaran nilai cahaya matahari sangat berpengaruh terhadap energi listrik yang dihasilkan panel surya, pada 20 November 2024 pukul 11:50 WIB cahaya matahari mencapai 7648 lux, daya yang dihasilkan adalah 50,38W angka ini merupakan daya listrik maksimum yang dapat dihasilkan oleh panel surya 50Wp.Pada daerah perkotaan lahan pertanian sudah tidak mungkin ditemukan karena minimnya lahan untuk membudidayakan sayuran, oleh karena itu sistem pertanian hidroponik dapat menjadi alternatif sebagai opsi berocok tanam tanpa menggunakan tanah dan dengan lahan yang minim. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan membangun sistem monitoring berbasis Internet of Things (IoT) yang bertenaga surya untuk memantau panel surya dan tanaman hidroponik. Sistem ini menggunakan mikrokontroler ESP32 yang dilengkapi dengan berbagai sensor, termasuk DHT22 untuk suhu dan kelembapan, BH1750 untuk intensitas cahaya, dan sensor ultrasonik HC-SR04 untuk mendeteksi kapasitas bak kontrol. Data dari sensor disimpan pada database Google Firebase dan dapat diakses secara real-time melalui aplikasi Android. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem ini dapat memonitor kondisi lingkungan secara efektif dan dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan dalam pertanian hidroponik. Energi listrik yang dihasilkan oleh panel surya didapatkan dengan rata rata sekitar 39,38 Watt yang diukur menggunakan sensor PZEM-017 dan angka tersebut sudah memenuhi kebutuhan energi listrik untuk mengoperasikan alat dan pompa air. Besaran nilai intensitas cahaya sangat berpengaruh terhadap energi listrik yang dihasilkan panel surya, pada 7 Juli 2024 pukul 11:50 WIB intensitas cahaya mencapai 7521 lux, daya yang dihasilkan adalah 50,94 W angka ini merupakan daya listrik maksimum yang dapat dihasilkan oleh panel surya 50Wp
IMPLEMENTATION OF ESP32-CAM AND TELEGRAM BOT FOR AUTOMATIC CUSTOMER ARRIVAL DETECTION SYSTEM
This study discusses the development of an automated system for detecting customer arrivals using the ESP32-CAM device integrated with a Telegram bot. The system is designed to detect movement through a PIR (Passive Infrared) sensor, which automatically triggers the ESP32-CAM to capture images when activity is detected. The captured images are then sent via the Telegram bot to the mobile devices of staff or business owners. The detection algorithm starts with the initialization of the PIR sensor to monitor movement, then the ESP32-CAM automatically takes pictures when movement is detected. These images are then sent through the Telegram bot to the mobile devices. Testing was performed repeatedly, with measurements of optimal detection range, notification delivery speed, and a user satisfaction survey regarding the system. The results of the tests show that the ESP32-CAM and PIR sensor have an optimal detection range of 1 to 7.5 meters. However, testing was not conducted beyond 7.5 meters as the maximum distance of the room at the location is 7.5 meters. Additionally, the survey results indicate that users find the system easy to use and very helpful in improving service productivity. The research methodology involved system design, with stages ranging from design to the implementation of the automated customer arrival detection system. The hardware used includes the ESP32-CAM and PIR sensor, while the software focuses on configuring the Telegram bot as the communication medium. Implementation was carried out by integrating the hardware and software so that the system could function properly. Further testing was done to evaluate the reliability of the system, particularly in detecting movement and sending notifications with images. The improvement and follow-up plan includes enhancing the detection range of the PIR sensor, testing the system under various environmental conditions such as low light and larger areas, as well as developing facial recognition integration to improve the accuracy of customer detection. The conclusion of this study shows that the system works as intended, with the ESP32-CAM and PIR sensor having an optimal detection range of 1 to 7.5 meters. The system effectively detects customer arrivals and automatically sends images to the Telegram bot, enabling business owners to monitor activities remotely without physical presence, thereby improving response times and the quality of customer service
Abstrak
Penelitian ini membahas pengembangan sistem otomatis untuk mendeteksi kedatangan pelanggan dengan menggunakan perangkat ESP32-CAM yang terintegrasi dengan bot Telegram. Sistem ini dirancang untuk mendeteksi pergerakan melalui sensor PIR (Passive Infrared), yang akan memicu ESP32-CAM secara otomatis untuk mengambil gambar saat ada aktivitas terdeteksi. Gambar yang diambil kemudian dikirimkan melalui bot Telegram ke perangkat seluler staf atau pemilik usaha. Algoritma deteksi dimulai dengan inisialisasi sensor PIR yang memantau pergerakan, lalu ESP32-CAM secara otomatis mengambil gambar saat gerakan terdeteksi. Gambar tersebut kemudian dikirim melalui bot Telegram ke perangkat seluler. Pengujian dilakukan secara berulang dengan data pengukuran jarak optimal, kecepatan pengiriman notifikasi, serta survei kepuasan pengguna terhadap sistem ini. Hasil pengujian dari penelitian ini menunjukkan bahwa ESP32-CAM dan sensor PIR memiliki jangkauan deteksi optimal pada rentang 1 hingga 7,5 m. Namun, untuk jarak lebih dari 7,5 m, tidak dilakukan pengujian lebih lanjut karena jarak maksimum dari ruangan di lokasi adalah 7,5 m. Selain itu, survei menunjukkan bahwa pengguna merasa sistem ini mudah digunakan dan sangat membantu dalam meningkatkan produktivitas pelayanan. Metodologi penelitian berupa perancangan sistem, yang mempunyai tahapan, yaitu mulai dari perancangan hingga implementasi sistem deteksi otomatisasi kedatangan pelanggan. Perangkat keras yang digunakan meliputi ESP32-CAM dan sensor PIR, sementara perangkat lunak berfokus pada konfigurasi bot Telegram sebagai media komunikasi. Implementasi dilakukan dengan mengintegrasikan perangkat keras dan perangkat lunak agar sistem dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Selanjutnya, pengujian dilakukan untuk mengevaluasi keandalan sistem, terutama dalam mendeteksi pergerakan dan mengirimkan notifikasi dengan gambar. Rencana perbaikan dan tindak lanjut meliputi peningkatan jangkauan deteksi sensor PIR, pengujian sistem pada berbagai kondisi lingkungan seperti pencahayaan rendah dan area yang lebih luas, serta pengembangan integrasi pengenalan wajah untuk meningkatkan akurasi deteksi pelanggan. Kesimpulan dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sistem bekerja sesuai dengan tujuan, dengan ESP32-CAM dan sensor PIR memiliki jangkauan optimal pada rentang 1 hingga 7,5 m. Sistem ini terbukti mendeteksi kedatangan pelanggan dan mengirimkan gambar secara otomatis ke bot Telegram, memungkinkan pemilik usaha untuk memantau aktivitas dari jarak jauh tanpa kehadiran fisik, sehingga meningkatkan respons dan kualitas layanan pelanggan
COMPARISON OF ACCURACY AND PRECISION OF DISTANCE READINGS ON HC-SR04, JSN-SR04T, AND A02YYUW ULTRASONIC SENSORS
Ultrasonic sensors were created to be able to detect distance with ultrasonic sound in the 40 kHZ frequency range. The principle of work is to reflect the signal to the intended object and the results of the reflection will be received by the sensor, then processed to provide readings. Ultrasonic sensors have various types in the market. The importance of accuracy and precision in reading results makes one way to select sensors before use. The purpose of this research is to compare three different types of ultrasonic sensors to determine the level of accuracy and precision of the HC-SR04, JSN-SR04T, and A02YYUW ultrasonic sensors in reading distance. The method used is experimental and previous literature with similar topics. Tests were carried out directly in the room with distance readings between 25-70 cm, each data variation was repeated 5 times. Each sensor tested has its own specifications, especially the JSN-SR04T and A02YYUW sensors can be applied to water or can be labeled waterproof sensors. The test results show that the HC-SR04 sensor has varied distance reading results with accurac
EFFECTS OF FLY ASH CONTAMINATION ON THE ELECTRICAL PROPERTIES OF CERAMIC INSULATOR SURFACES
The decrease in insulator performance due to environmental pollution, especially by fly ash produced from Steam Power Plants (PLTU). Fly ash contains conductive elements that have the potential to reduce the surface resistivity of insulators, so that it can accelerate insulation failure, especially in humid or wet conditions. Therefore, it is important to study in depth the effect of fly ash on the electrical parameters of insulators, such as surface conductivity and breakdown voltage. The main objective of this study was to determine how much impact the content of conductive elements in fly ash has on the decrease in surface resistivity of insulators. The methods used include analysis of chemical elements in fly ash, simulation of variations in pollutant solution concentration, and testing of leakage current and breakdown voltage in an AC high voltage laboratory. The results showed that fly ash from PLTU Anggrek contains conductive elements of Iron (Fe) of 1.595%, Magnesium (Mg) 0.44%, Sodium (Na) 1.45%, Calcium (Ca) 1.60%, and Sulfur (S) 0.085%. In addition, increasing the concentration of fly ash has been shown to increase the conductivity of the solution on the insulator surface and reduce the breakdown voltage, with the fastest breakdown voltage value being 38.45 kV and the leakage current reaching 0.318 mA on the wet polluted insulator surface.
Abstrak
Penurunan kinerja isolator akibat polusi lingkungan, khususnya oleh fly ash yang dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Fly ash mengandung unsur-unsur konduktif yang berpotensi menurunkan resistivitas permukaan isolator, sehingga dapat mempercepat kegagalan isolasi, terutama dalam kondisi lembap atau basah. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji secara mendalam pengaruh fly ash terhadap parameter kelistrikan isolator, seperti konduktivitas permukaan dan tegangan tembus. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar dampak kandungan unsur konduktif fly ash terhadap penurunan resistivitas permukaan isolator. Metode yang digunakan meliputi analisis unsur kimia fly ash, simulasi variasi konsentrasi larutan polutan, serta pengujian arus bocor dan tegangan tembus pada laboratorium tegangan tinggi AC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fly ash dari PLTU Anggrek mengandung unsur konduktif Besi (Fe) sebesar 1,595%, Magnesium (Mg) 0,44%, Natrium (Na) 1,45%, Kalsium (Ca) 1,60%, dan Sulfur (S) 0,085%. Selain itu, peningkatan konsentrasi fly ash terbukti meningkatkan konduktivitas larutan pada permukaan isolator serta menurunkan tegangan tembus, dengan nilai tegangan tembus tercepat sebesar 38,45 kV dan arus bocor mencapai 0,318 mA pada kondisi permukaan isolator yang terpolusi basa
RANCANG BANGUN MONITORING KETERSEDIAAN DATA ATIS MENGGUNAKAN RTL-SDR DENGAN APLIKASI BLYNK
In the era of digitalization and advances in information technology, the need for efficient and real-time monitoring systems is increasingly important, especially in flight navigation. Automatic Terminal Information Service (ATIS) provides pilots with important information about airport conditions, so monitoring the availability of ATIS data is crucial for smooth operations and flight safety. This research aims to design an ATIS data availability monitoring system using an RTL-SDR device integrated with the Blynk application, as a solution to improve monitoring efficiency at Perum LPPNPI Palangka Raya Branch. This system is expected to provide real-time notifications to technicians when there is a disruption or unavailability of ATIS data. The research methodology includes hardware and software design, where RTL-SDR is used to receive ATIS signals processed and analyzed using GNU Radio software. The processed data is sent to the Blynk app as a user interface, allowing real-time monitoring of ATIS data availability via mobile devices and notifications in case of disruptions. The results of the study show that this system is able to effectively monitor the availability of ATIS data and provide real-time notifications, so that its implementation at Perum LPPNPI Palangka Raya Branch can increase readiness and responsiveness to ATIS data interference, support smooth operations and flight safety.
Abstrak
Dalam era digitalisasi dan kemajuan teknologi informasi, kebutuhan akan sistem monitoring yang efisien dan real-time semakin penting, terutama dalam navigasi penerbangan. Automatic Terminal Information Service (ATIS) menyediakan informasi penting mengenai kondisi bandara kepada pilot, sehingga monitoring ketersediaan data ATIS sangat krusial untuk kelancaran operasional dan keselamatan penerbangan. Penelitian ini bertujuan merancang sistem monitoring ketersediaan data ATIS menggunakan perangkat RTL-SDR yang terintegrasi dengan aplikasi Blynk, sebagai solusi untuk meningkatkan efisiensi pemantauan di Perum LPPNPI Cabang Palangka Raya. Sistem ini diharapkan memberikan notifikasi real-time kepada teknisi saat terjadi gangguan atau ketidaktersediaan data ATIS. Metodologi penelitian mencakup perancangan perangkat keras dan lunak, di mana RTL-SDR digunakan untuk menerima sinyal ATIS yang diolah dan dianalisis menggunakan software GNU Radio. Data yang telah diproses dikirim ke aplikasi Blynk sebagai antarmuka pengguna, memungkinkan pemantauan ketersediaan data ATIS secara real-time melalui perangkat mobile dan notifikasi jika terjadi gangguan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem ini mampu memonitor ketersediaan data ATIS secara efektif dan memberikan notifikasi real-time, sehingga implementasinya di Perum LPPNPI Cabang Palangka Raya dapat meningkatkan kesiapan dan responsivitas terhadap gangguan data ATIS, mendukung kelancaran operasional dan keselamatan penerbanganDalam era digitalisasi dan kemajuan teknologi informasi, kebutuhan akan sistem monitoring yang efisien dan real-time semakin penting, terutama dalam navigasi penerbangan. Automatic Terminal Information Service (ATIS) menyediakan informasi penting mengenai kondisi bandara kepada pilot, sehingga monitoring ketersediaan data ATIS sangat krusial untuk kelancaran operasional dan keselamatan penerbangan. Penelitian ini bertujuan merancang sistem monitoring ketersediaan data ATIS menggunakan perangkat RTL-SDR yang terintegrasi dengan aplikasi Blynk, sebagai solusi untuk meningkatkan efisiensi pemantauan di Perum LPPNPI Cabang Palangka Raya. Sistem ini diharapkan memberikan notifikasi real-time kepada teknisi saat terjadi gangguan atau ketidaktersediaan data ATIS. Metodologi penelitian mencakup perancangan perangkat keras dan lunak, di mana RTL-SDR digunakan untuk menerima sinyal ATIS yang diolah dan dianalisis menggunakan software GNU Radio. Data yang telah diproses dikirim ke aplikasi Blynk sebagai antarmuka pengguna, memungkinkan pemantauan ketersediaan data ATIS secara real-time melalui perangkat mobile dan notifikasi jika terjadi gangguan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem ini mampu memonitor ketersediaan data ATIS secara efektif dan memberikan notifikasi real-time, sehingga implementasinya di Perum LPPNPI Cabang Palangka Raya dapat meningkatkan kesiapan dan responsivitas terhadap gangguan data ATIS, mendukung kelancaran operasional dan keselamatan penerbangan
DESIGN OF A MONITORING SYSTEM FOR SOLAR-POWERED PUBLIC STREET LIGHTING
Street lighting is an essential facility that ensures the comfort and safety of road users at night. PJU can utilize resources from PLN electricity, solar energy, or a combination of both (hybrid). Solar-Powered Street Lighting fully utilizes solar energy (off-grid) or partially (hybrid) for its energy needs. However, the efficiency of solar panels tends to decrease during operational periods due to negative temperature coefficients, mechanical loads, and weather conditions. Additionally, the lithium-ion batteries used in PJUTS degrade over time. Therefore, a monitoring system is needed to measure the performance of PJUTS, ensure timely maintenance for solar panels and batteries, and maintain the performance of the Solar Charge Controller during the battery charging and discharging cycles. The INA219 sensor is used to simultaneously read current and voltage. Data from this sensor (current and voltage of the solar panels, battery during charging, and battery during discharging) is sent to a web server via WiFi using the ESP32 microcontroller with the HTTP GET method. The data received by the web server is stored in a MySQL database. A web page then displays the real-time PJUTS data retrieved from the database, processed into graphs and tables that can be accessed based on specific dates. Testing shows that the INA219 sensor has a small deviation compared to the Fluke multimeter, with an average voltage deviation of 0.046V and an average current deviation of 0.93 mA
Abstrak
Penerangan jalan umum merupakan fasilitas penting yang memastikan kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan pada malam hari. PJU dapat menggunakan sumber daya dari listrik PLN, energi matahari, atau kombinasi keduanya (hybrid). Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya sepenuhnya memanfaatkan energi matahari (off-grid) atau sebagian (hybrid) untuk kebutuhan energinya. Namun, efisiensi panel surya cenderung menurun selama masa operasional akibat koefisien suhu negatif, beban mekanis, dan kondisi cuaca. Selain itu, baterai lithium-ion yang digunakan dalam PJUTS mengalami degradasi seiring waktu. Oleh karena itu, diperlukan sistem pemantauan untuk mengukur kinerja PJUTS, memastikan perawatan tepat waktu untuk panel surya dan baterai, serta menjaga kinerja Solar Charge Controller dalam siklus pengisian dan pemakaian baterai. Sensor INA219 digunakan untuk membaca arus dan tegangan secara bersamaan. Data dari sensor ini (arus dan tegangan panel surya, baterai saat pengisian, dan baterai saat pemakaian) dikirim ke server web melalui WiFi menggunakan mikrokontroler ESP32 dengan protokol HTTP metode GET. Data yang diterima server web disimpan dalam basis data MySQL. Halaman web kemudian menampilkan data real-time PJUTS yang diambil dari basis data, diolah menjadi grafik dan tabel yang dapat diakses berdasarkan tanggal tertentu. Pengujian menunjukkan bahwa sensor INA219 memiliki deviasi kecil terhadap multimeter Fluke, dengan rata-rata deviasi tegangan sebesar 0,046V dan rata-rata deviasi arus sebesar 0,93 m
ANALYSIS OF THE IMPACT OF VOLTAGE IMBALANCE ON THE PERFORMANCE OF A MICROCONTROLLER-BASED CAGE ROTOR INDUCTION MOTOR
The three-phase induction motor is the most widely used alternating current (AC) electric motor in industrial applications, particularly for driving large-capacity loads. Its flexibility, efficiency, and ability to operate reliably under harsh environmental conditions make it the preferred choice in manufacturing, processing, and mining sectors, with an estimated 70% share of all industrial electric machines. However, one common technical issue encountered in the field is three-phase supply voltage unbalance. Even a small percentage of voltage unbalance can lead to increased phase current, torque fluctuations, higher operating temperatures, reduced efficiency, and instability in the overall power system. This study aims to analyze the impact of voltage unbalance on the performance of a squirrel-cage induction motor using a microcontroller-based monitoring system. Laboratory experiments were conducted by varying the degree of voltage unbalance in accordance with the NEMA MG 1-1993 standard. The monitoring system was designed with a microcontroller integrated with voltage and current sensors, enabling real-time data acquisition. The measured parameters included current, speed, slip, torque, and efficiency. Experimental results indicate that increasing the voltage unbalance from 0.53% to 5.22% led to a 4–7-fold increase in current unbalance, a slip rise of approximately 2%, and a reduction in efficiency from 90% to 82%. These findings demonstrate a direct correlation between supply voltage quality and motor performance. The results emphasize that controlling voltage unbalance—whether through proper distribution system maintenance or the use of compensation devices—is essential to maintaining optimal performance and extending the service life of three-phase induction motors in industrial environments.
Motor induksi tiga fasa merupakan motor listrik arus bolak-balik (AC) yang paling banyak digunakan di industri, terutama sebagai penggerak beban berkapasitas besar. Fleksibilitas, efisiensi, dan ketahanannya terhadap kondisi lingkungan yang berat menjadikannya pilihan utama pada sektor manufaktur, pengolahan, dan pertambangan, dengan estimasi penggunaan mencapai 70% dari seluruh mesin listrik industri. Namun, salah satu permasalahan teknis yang sering ditemui di lapangan adalah ketidakseimbangan tegangan suplai tiga fasa. Ketidakseimbangan ini, meskipun hanya beberapa persen, dapat memicu kenaikan arus fasa, fluktuasi torsi, peningkatan suhu operasi, penurunan efisiensi, dan gangguan kestabilan sistem tenaga listrik. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak ketidakseimbangan tegangan terhadap performa motor induksi rotor sangkar menggunakan sistem monitoring berbasis mikrokontroler. Pengujian dilakukan di laboratorium dengan memvariasikan ketidakseimbangan tegangan sesuai standar NEMA MG 1-1993. Sistem monitoring dirancang menggunakan mikrokontroler yang terintegrasi dengan sensor tegangan dan arus, sehingga mampu merekam data secara real-time. Parameter yang diukur meliputi arus, kecepatan, slip, torsi, dan efisiensi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa peningkatan ketidakseimbangan tegangan dari 0,53% hingga 5,22% menyebabkan ketidakseimbangan arus hingga 4–7 kali lipat, kenaikan slip sekitar 2%, serta penurunan efisiensi dari 90% menjadi 82%. Dampak ini menunjukkan korelasi langsung antara kualitas tegangan suplai dan kinerja motor. Temuan ini menegaskan bahwa pengendalian ketidakseimbangan tegangan, baik melalui pemeliharaan sistem distribusi maupun penggunaan perangkat kompensasi, sangat penting untuk mempertahankan performa optimal dan memperpanjang umur pakai motor induksi tiga fasa di lingkungan industri
EVALUATION OF THE PERFORMANCE OF A 3-PHASE INDUCTION MOTOR IN A COOLING TOWER SYSTEM AT PT. POLYCHEM INDONESIA TBK
This study aims to evaluate the performance of three-phase induction motors used in cooling tower systems at PT. Polychem Indonesia Tbk. Cooling towers play an important role in maintaining production stability in the chemical industry, where motor reliability is essential to ensure continuous water circulation. This study uses a quantitative approach through an online inspection method with the main parameters measured including voltage, current, and temperature. Field observations are supplemented with literature studies and interviews with experienced technicians to strengthen the analysis. The measurement results show that the motor operates within safe limits, with voltage maintained stable below 400 V, current not exceeding the nominal current of 345 A, and operating temperature remaining below 75°C. Error analysis shows a relatively small average error percentage, namely 0.02% for voltage, 0.05% for temperature, and 0.16% for current. These values are well below the ±5% tolerance limit according to the IEC 13B-23 standard, thus proving the accuracy of the measurements and the reliability of the motor\u27s performance. These findings also indicate that a routine preventive maintenance program can minimize the risk of overvoltage, overcurrent, and overheating. Thus, it can be concluded that the GM-315 A three-phase induction motor is still operating reliably, efficiently, and safely in supporting the cooling tower system at PT. Polychem Indonesia Tbk
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja motor induksi 3 fasa yang digunakan pada sistem cooling tower di PT. Polychem Indonesia Tbk. Cooling tower berperan penting dalam menjaga kestabilan produksi pada industri kimia, di mana keandalan motor sangat dibutuhkan untuk memastikan sirkulasi air berjalan kontinu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melui metode on-line inspection dengan parameter utama yang diukur meliputi tegangan, arus, dan suhu. Observasi lapangan dilengkapi dengan studi literatur serta wawancara dengan teknisi berpengalaman guna memperkuat analisis. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa motor beroperasi dalam batas aman, dengan tegangan terjaga stabil di bawah 400 V, arus tidak melebihi arus nominal 345 A, dan suhu operasional tetap berada di bawah 75°C. analisis error menunjukkan nilai rata-rata persentase error yang relatif kecil, yaitu 0,02% untuk tegangan, 0,05% untuk suhu, dan 0,16% untuk arus. Nilai ini jauh di bawah batas toleransi ±5% sesuai standar IEC 13B-23, sehingga membuktikan tingkat akurasi pengukuran serta keandalan kinerja motor. Temuan ini juga mengindikasikan bahwa program pemeliharaan preventif yang dilakukan secara rutin mampu meminimalkan risiko terjadinya overvoltage, overcurrent, maupun overheating. Dengan demikian, motor induksi 3 fasa GM-315 A dapat disimpulkan masih bekerja dengan andal, efisien, dan aman dalam mendukung sistem cooling tower di PT. Polychem Indonesia Tb
COMPARATIVE ANALYSIS OF MOTHER WAVELET FOR VOLTAGE SAG AND SWELL CLASSIFICATION USING DISCRETE WAVELET TRANSFORM (DWT) AND RADIAL BASIS FUNCTION NEURAL NETWORK (RBFNN)
Power quality disturbances, such as voltage sag and swell, can lead to system instability and equipment damage. In this study, identification is defined as the process of detecting the presence and characteristics of these disturbances through time-frequency feature extraction using the Discrete Wavelet Transform (DWT). A Radial Basis Function Neural Network (RBFNN) is then employed as the classification method to determine the specific type of disturbance (sag or swell).The need for an automated identification and classification system arises because manual monitoring is slow and subjective, whereas industrial applications require rapid decisions based on measurable metrics. The disturbance dataset, specifically comprising voltage sag and voltage swell, was generated through modeling and simulation using MATLAB/Simulink. Features were extracted from the disturbance signals by decomposing them up to 7 levels with the DWT, using four different Mother Wavelets: Daubechies-4 (db4), Haar, Symlet-4 (sym4), and Coiflet-4 (coif4). These feature datasets were then normalized and divided into training, validation, and testing sets to train and evaluate the RBFNN model. Performance was assessed based on Mean Squared Error (MSE), classification accuracy, and the confusion matrix as objective success criteria. The results indicate that all models successfully achieved an MSE below 10-5 and 100% accuracy on the test data, signifying a very low error rate. The model utilizing the Haar wavelet demonstrated the best training efficiency, requiring the fewest epochs. Therefore, this combination is highly recommended for practical power quality monitoring applications
Abstrak
Gangguan kualitas daya , seperti Voltage Sag, dan Swell, dapat menyebabkan ketidakstabilan sistem dan kerusakan pada peralatan. Identifikasi pada penelitian ini didefenisikan sebagai proses mendeteksi keberadaan dan karakteristik gangguan melalui ekstraksi fitur waktu- frekuensi menggunakan Discrete Wavelet Transform (DWT) dan Radial Basis Function Neural Network (RBFNN) sebagai metode klasifikasi untuk proses menentukan jenis gangguan (sag dan swell). Kebutuhan akan sistem identifikasi dan klasifikasi otomatis diperlukan karena pemantauan manual bersifat lambat dan subjektif, sementara industri memerlukan keputusan cepat berbasis metrik yang terukur. Dataset gangguan, yang secara spesifik mencakup Voltage Sag dan Voltage Swell, dihasilkan melalui pemodelan dan simulasi dengan perangkat lunak MATLAB/Simulink. Fitur dari sinyal gangguan ini diekstraksi dari dekomposisi Discrete Wavelet Transform (DWT) hingga 7 level, dengan empat variasi Mother Wavelet (Daubechies-4, Haar, Symlet-4, dan Coiflet-4). Data fitur tersebut kemudian dinormalisasi dan dibagi menjadi data training, validation dan testing, untuk melatih dan menguji model RBFNN, yang kinerjanya dievaluasi berdasarkan Mean Squared Error (MSE), akurasi klasifikasi dan confusion matrix sebagai kriteria objektif keberhasilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua model berhasil mencapai MSE di bawah 10⁻⁵ dan akurasi 100% pada data uji, yang mengindikasikan tingkat kesalahan sangat rendah. Model berbasis wavelet Haar menunjukkan efisiensi pelatihan terbaik dengan jumlah epoch paling sedikit. Oleh karena itu, kombinasi ini sangat direkomendasikan untuk aplikasi pemantauan kualitas day